Peranan Pemikiran Sufistik Sunan Bonang

DI kalangan ulama tertentu mungkin peranan Sunan Bonang dianggap tidak begitu menonjol dibanding wali-wali Jawa yang lain. Tetapi apabila kita mencermati manuskrip-manuskrip Jawa lama peninggalan zaman Islam yang terdapat di Museum Leiden dan Museum Batavia (sekarang dipindah ke Perpustakaan Nasional), justru Sunan Bonang yang meninggalkan warisan karya tulis paling banyak, berisi pemikiran keagamaan dan budaya bercorak sufistik. Putra Raden Rahmat alias Sunan Ampel, dan cucu Maulana Malik Ibrahim, yang nenek moyangnya berasal dari Samarkand ini, masih bersaudara dengan Sunan Giri, wali yang paling berpengaruh di Jawa Timur. Kedua bersaudara ini diperkirakan lahir pada pertengahan abad ke-15 M, pada saat Kerajaan Majapahit sedang di ambang keruntuhan. Sunan Bonang (nama sebenarnya Makhdum Ibrahim bergelar Khalifah Asmara) wafat sekitar tahun 1530 M di Tuban, tempat kegiatannya terakhir dan paling lama, pada masa jayanya Kerajaan Demak Darussalam.

Kedua wali itu dikenal sebagai pendakwah Islam yang gigih. Keduanya sama-sama belajar di Malaka dan Pasai, baru kemudian menunaikan ibadah haji di Mekah. Bedanya, jika Sunan Giri lebih condong pada ilmu fiqih, syariah, teologi, dan politik; Sunan Bonang –tanpa mengabaikan ilmu-ilmu Islam yang lain– lebih condong pada tasawuf dan kesusastraan. Sumber-sumber sejarah Jawa, termasuk suluk-suluknya sendiri menyatakan bahwa ia sangat aktif dalam kegiatan sastra, mistik, seni lakon, dan seni kriya. Dakwah melalui seni dan aktivitas budaya merupakan senjatanya yang ampuh untuk menarik penduduk Jawa memeluk agama Islam.

Sebagai musikus dan komponis terkemuka, konon Sunan Bonang menciptakan beberapa komposisi (gending), di antaranya Gending Dharma. Gending ini dicipta berdasarkan wawasan estetik sufi, yang memandang alunan bunyi musik tertentu dapat dijadikan sarana kenaikan menuju alam kerohanian. Gending Darma, konon, apabila didengar orang dapat menghanyutkan jiwa dan membawanya ke alam meditasi (tafakkur). Penabuhan gending ini pernah menggagalkan rencana perampokan gerombolan bandit di Surabaya. Manakala gending ini ditabuh oleh Sunan Bonang, para perampok itu terhanyut ke alam meditasi dan lupa akan rencananya melakukan perampokan. Keesokannya pemimpin bandit dan anak buahnya menghadap Sunan Bonang, dan menyatakan diri memeluk Islam.

Sunan Bonang bersama Sunan Kalijaga dan lain-lain, jelas bertanggung jawab bagi perubahan arah estetika Gamelan. Musik yang semula bercorak Hindu dan ditabuh berdasarkan wawasan estetik Sufi. Tidak mengherankan gamelan Jawa menjadi sangat kontemplatif dan meditatif, berbeda dengan gamelan Bali yang merupakan warisan musik Hindu. Warna sufistik gamelan Jawa ini lalu berpengaruh pada gamelan Sunda dan Madura.

Sunan Bonang juga menambahkan instrumen baru pada gamelan. Yaitu bonang (diambil dari gelarnya sebagai wali yang membuka pesantren pertama di Desa Bonang). Bonang adalah alat musik dari Campa, yang dibawa dari Campa sebagai hadiah perkawinan Prabu Brawijaya dengan Putri Campa, yang juga saudara sepupu Sunan Bonang. Instrumen lain yang ditambahkan pada gamelan ialah rebab, alat musik Arab yang memberi suasana syahdu dan harus apabila dibunyikan. Rebab, yang tidak ada pada gamelan Bali, sangat dominan dalam gamelan Jawa, bahkan didudukkan sebagai raja instrumen.

Sebagai Imam pertama Masjid Demak, Sunan Bonang bersama wali lain, terutama murid dan sahabat karibnya Sunan Kalijaga, sibuk memberi warna lokal pada upacara-upacara keagamaan Islam seperti Idul Fitri, perayaan Maulid Nabi, peringatan Tahun Baru Islam (1 Muharram atau 1 Asyura) dan lain-lain. Dengan memberi warna lokal maka upacara-upacara itu tidak asing dan akrab bagi masyarakat Jawa.

Syair Islam pun akan mulus dan ajaran Islam mudah diresapi.Toh, menurut Sunan Bonang, kebudayaan Islam tidak mesti kearab-araban. Menutupi aurat tidak mesti memakai baju Arab, tetapi cukup dengan memakai kebaya dan kerudung.

Di antara upacara keagamaan yang diberi bungkus budaya Jawa, yang sampai kini masih diselenggarakan ialah upacara Sekaten dan Grebeg Maulid. Beberapa lakon carangan pewayangan yang bernapas Islam juga digubah oleh Sunan Bonang bersama-sama Sunan Kalijaga. Di antaranya Petruk Jadi Raja dan Layang Kalimasada.

Setelah berselisih paham dengan Sultan Demak I, yaitu Raden Patah, Sunan Bonang mengundurkan diri sebagai Imam Masjid Kerajaan. Ia pindah ke desa Bonang, dekat Lasem, sebuah desa yang kering kerontang dan miskin. Di sini ia mendirikan pesantren kecil, mendidik murid-muridnya dalam berbagai keterampilan di samping pengetahuan agama. Di sini pula Sunan Bonang banyak mendidik para mualaf menjadi pemeluk Islam yang teguh. Suluk-suluknya seperti Suluk Wujil, menyebutkan bahwa ia bukan saja mengajarkan ilmu fikih dan syariat serta teologi, melainkan juga kesenian, sastra, seni kriya, dan ilmu tasawuf. Tasawuf diajarkan kepada siswa-siswanya yang pandai, jadi tidak diajarkan kepada sembarangan murid.

Keahliannya di bidang geologi dipraktekkan dengan menggali banyak sumber air dan sumur untuk perbekalan air penduduk dan untuk irigasi pertanian lahan kering. Sunan Bonang juga mengajarkan cara membuat terasi, karena di Bonang banyak terdapat udang kecil untuk pembuatan terasi. Sampai kini terasi Bonang sangat terkenal, dan merupakan sumber penghasilan penduduk desa yang cukup penting.

Karya dan Ajaran
Karya Sunan Bonang, puisi dan prosa, cukup banyak. Di antaranya sebagaimana disebut B Schrieke (1913), Purbatjaraka (1938), Pigeaud (1967), Drewes (1954, 1968 dan 1978) ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Regok, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Ing Aewuh, Suluk Pipiringan, Suluk Jebeng dan lain-lain. Satu-satunya karangan prosanya yang dijumpai ialah Wejangan Seh Bari. Risalah tasawufnya yang ditulis dalam bentuk dialog antara guru tasawuf dan muridnya ini telah ditranskripsi, mula-mula oleh Schrieke dalam buku Het Boek van Bonang (1913) disertai pembahasan dan terjemahan dalam bahasa Belanda, kemudian disunting lagi oleh Drewes dan disertai terjemahan dalam bahasa Inggris yakni The Admonition of Seh Bari (1969).

Sedangkan Suluk Wujil ditranskripsi Purbatjaraka dengan pembahasan ringkas dalam tulisannya “Soeloek Woedjil: De Geheime leer van Soenan Bonang” (majalah Djawa no. 3-5, 1938). Melalui karya-karyanya itu kita dapat memetik beberapa ajarannya yang penting dan relevan. Seluruh ajaran Tasawuf Sunan Bonang, sebagai ajaran Sufi yang lain, berkenaan dengan metode intuitif atau jalan cinta (isyq) pemahaman terhadap ajaran Tauhid; arti mengenal diri yang berkenaan dengan ikhtiar pengendalian diri, jadi bertalian dengan masalah kecerdasan emosi; masalah kemauan murni dan lain-lain.

Cinta menurut pandangan Sunan Bonang ialah kecenderungan yang kuat kepada Yang Satu, yaitu Yang Mahaindah. Dalam pengertian ini seseorang yang mencintai tidak memberi tempat pada yang selain Dia. Ini terkandung dalam kalimah syahadah La ilaha illa Llah. Laba dari cinta seperti itu ialah pengenalan yang mendalam (makrifat) tentang Yang Satu dan perasaan haqqul yaqin (pasti) tentang kebenaran dan keberadaan-nya. Apabila sudah demikian, maka kita dengan segala gerak-gerik hati dan perbuatan kita, akan senantiasa merasa diawasi dan diperhatikan oleh-Nya. Kita menjadi ingat (eling) dan waspada.

Cinta (Mahabbatullah) merupakan, baik keadaan rohani (hal) maupun peringkat rohani (maqam). Sebagai keadaan rohani ia diperoleh tanpa upaya, karena Yang Satu sendiri yang menariknya ke hadirat-Nya dengan memberikan antusiasme ketuhanan ke dalam hati si penerima keadaan rohani itu. Sedangkan sebagai maqam atau peringkat rohani, cinta dicapai melalui ikhtiar terus-menerus, antara lain dengan memperbanyak ibadah dan melakukan mujahadah, yaitu perjuangan batin melawan kecenderungan buruk dalam diri disebabkan ulah hawa nafsu. Ibadah yang sungguh-sungguh dan latihan kerohanian dapat membawa seseorang mengenal kehadiran rahasia Yang Satu dalam setiap aspek kehidupan.

Kemauan murni, yaitu kemauan yang tidak dicemari sikap egosentris atau mengutamakan kepentingan hawa nafsu, timbul dari tindakan ibadah. Kita harus menjadikan diri kita masjid yaitu, tempat bersujud dan menghadap kiblat-Nya, dan segala perbuatan kita pun harus dilakukan sebagai ibadah. Kemauan mempengaruhi amal perbuatan dan perilaku kita. Kemauan baik datang dari ingatan (zikir) dan pikiran (pikir) yang baik dan jernih tentang-Nya. Dalam Suluk Wujil, yang memuat ajaran Sunan Bonang kepada Wujil pelawak cebol terpelajar dari Majapahit yang berkat asuhan Sunan Bonang memeluk agama Islam sang — wali bertutur:

Jangan terlalu jauh mencari keindahan
Keindahan ada dalam diri
Malah jagat raya terbentang dalam diri
Jadikan dirimu Cinta
Supaya dapat kau melihat dunia (dengan jernih)

Pusatkan pikiran, heningkan cipta
Siang malam, waspadalah!
Segala yang terjadi di sekitarmu
Adalah akibat perbuatanmu juga
Kerusakan dunia ini timbul, Wujil!
Karena perbuatanmu

Kau harus mengenal yang tidak dapat binasa
Melalui pengetahuan tentang Yang Sempurna
Yang langgeng tidak lapuk
Pengetahuan ini akan membawamu menuju keluasan
Sehingga pada akhirnya mencapai Tuhan

Sebab itu, Wujil! 
Kenali dirimu
Hawa nafsumu akan terlena
Apabila kau menyangkalnya
Mereka yang mengenal diri
Nafsunya terkendali Kelemahan dirinya akan tampak
Dan dapat memperbaikinya

Dengan menyatakan `jagat terbentang dalam diri` Sunan Bonang ingin menyatakan betapa pentingnya manusia memperhatikan potensi kerohaniannya. Adalah yang spiritual yang menentukan yang material, bukan sebaliknya. Tetapi karena pikiran manusia kacau, ia menyangka yang material semata-mata yang menentukan hidupnya. Karena potensi kerohaiannya inilah manusia diangkat menjadi khalifah Tuhan di bumi.

Dalam Suluk Kaderesan, Sunan Bonang menulis:
Jangan meninggikan diri
Berlindunglah kepada-Nya
Ketahuilah tempat sebenarnya jasad ialah roh
Jangan bertanya
Jangan memuja para nabi dan wali-wali
Jangan kau mengaku Tuhan.

Dalam Suluk Ing Aewuh ia menyatakan:
Perkuat dirimu dengan ikhtiar dan amal
Teguhlah dalam sikap tak mementingkan dunia
Namun jangan jadikan pengetahuan rohani sebagai tujuan
Renungi dalam-dalam dirimu agar niatmu terkabul
Kau adalah pancaran kebenaran ilahi
Jalan terbaik ialah tidak mamandang selain Dia.

Relevansi dan Pengaruh
Jelas sekali bahwa Sunan Bonang mengajarkan tasawuf positif dengan menekankan pentingnya ikhtiar dan kemauan (kehendak) dalam mencapai cita-cita.

Pengaruh ajaran ini juga terasa pula pada pandangan hidup dan budaya masyarakat muslim pesisir, khususnya di Jawa Timur dan Madura. Penduduk muslim Jawa Timur dan Madura sejak lama ialah pengikut madzab Syafii yang patuh dengan kecenderungan tasawuf yang kuat. Namun mereka juga memiliki etos kerja keras dan akrab dengan budaya dagang.

Tasawuf yang diresapi dan dipahami ternyata bukan tasawuf yang eskapis dan pasif. Sebaliknya yang dihayati ialah tasawuf yang aktif dan militan; aktif dan militan dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik, dan juga dalam kehidupan agama dan kebudayaan.

Pengaruh penting lain ajaran Sunan Bonang ialah pada pemikiran kebudayaan termasuk dalam seni atau wawasan estetik. Sunan Bonang berpendapat bahwa agama apa pun, termasuk Islam, dapat tersebar cepat dan mudah diresapi oleh masyarakat, apabila unsur-unsur penting budaya masyarakat setempat dapat diserap dan diintegrasikan ke dalam sistem nilai dan pandangan hidup agama bersangkutan.

Dr Abdul Hadi WM, Pengajar Universitas Paramadina-Mulya, Jakarta.

Iklan

Menembus Langit Dengan Energi SULTHONAN NASHIROH

إِنَّ وَلِيِّـيَ اللّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
Sesungguhnya Waliku adalah Allah, dan Dia mentarbiyah (memberikan Walayah) kepada orang-orang yang sholeh”.  (QS. al-A’raaf; 7/196)**

Allah s.w.t  menantang masyarakat jin dan manusia supaya mereka mau dan mampu bergerak maju dan berkarya. Mereka tidak boleh tinggal diam hanya berpangku tangan tetapi mengharapkan keberuntungan. Mereka bahkan ditantang untuk menembus gugusan langit dan gugusan bumi. Diundang untuk datang ke Istana-Nya, dipersilahkan memasuki haribaan-Nya, menikmati hidangan yang tersedia, namun itu dengan syarat, terlebih dahulu mereka harus mampu menguasai ilmu dan teknologi yang berkaitan dengannya atau dengan istilah Qur’ani disebut “sulthon”. Allah s.w.t berfirman:

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

Hai masyarakat jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus gugusan langit dan gugusan bumi, maka tembuslah, kalian tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan “Sulthon” (QS. ar-Rahman; 55/33)

Sulthon dari kata sallatho artinya menguasai, kalau dikaitkan dengan ayat di atas berarti penguasaan. Kadang-kadang Sulthon juga berarti Penguasa atau Raja. Maka maksud ayat ialah: “Kalian tidak akan mampu menembus gugusan langit dan gugusan bumi, sebelum kalian terlebih dahulu mampu menguasai Ilmu pengetahuan dan teknologinya”. Sedangkan lafad “aqthor” adalah kata jamak dari lafad qithrun, artinya gugusan. Jadi “aqthor”, artinya beberapa gugusan. Sedangkan tantangan yang dimaksud adalah menembus gugusan langit dan gugusan bumi yang ada di alam semesta.

Kalau orang mencari makna ‘gugusan langit’ dalam ayat di atas, barangkali mereka masih berpikir untuk menafsirkan ayat tersebut dengan langit bumi yang ada di atas kepala. Langit yang bisa dilihat dengan mata, yang ada mataharinya, ada bulan dan bintangnya. Coba kalau ayat tersebut dikaji lebih luas dan lebih dalam lagi. Di manakah letak gugusan bumi itu? Padahal bumi yang kita pijak hanya satu dan terdiri dari tanah dan batu. Kalau demikian: Bagaimana cara orang bisa menembusnya? Dengan alat apa orang mampu menggali lubang tembus itu? Siapa pula yang pernah berhasil melakukannya?

Padahal Allah s.w.t juga berfirman di dalam QS. ath-Thalaq Ayat 12, bahwa Allah s.w.t menciptakan tujuh langit dan bumi sepertinya. Oleh karena itu, pasti yang dimaksud gugusan langit dan gugusan bumi di dalam ayat tersebut bukan langit dan bumi yang lahir saja, akan tetapi juga gugusan-gugusan langit dan bumi batin yang terletak di dalam keajaiban-keajaiban ciptaan Tuhan yang ada dalam jiwa manusia. Allah s.w.t berfirman:

وَفِي الْأَرْضِ آَيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ (20) وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
Dan di bumi terdapat tanda-tanda (Kekuasaan Allah) bagi orang yang telah yakin -Dan juga pada jiwamu, apakah kamu tidak melihat?”.
(QS. Adz-Dzariyaat; 51/20-21)

Jika orang sudah memaklumi bahwa penguasaan ilmu dan teknologi menjadikan syarat utama bagi terwujudnya kemudahan-kemudahan hidup di dunia, maka demikian pula untuk kehidupan manusia di alam ruhaniah. Tidak bisa tidak, seorang hamba harus menguasainya pula untuk memenuhi tantangan Tuhannya bagi pengembaraan ruhaniahnya. Dalam arti menembus belenggu hawa nafsu, mendobrak barak-barak setan yang ada di dalam hati, mencuci hati dan menyepuh ruhani dengan jalan melaksanakan ibadah dan pengabdian di jalan Allah.

Ilmu pengetahuannya adalah mutiara-mutiara wahyu yang teruntai di dalam al-Qur’an maupun al-Hadits Nabi sedangkan teknologinya adalah sunnatullah yang sudah tersedia dalam jiwa manusia itu sendiri. Manusia tinggal menghidupkan kembali teknologi itu dengan melaksanakan pengembaraan ruhaniah yang terbimbing. Pertama adalah usaha yang kuat dan tepat dari seorang hamba untuk menolong di jalan Allah, selanjutnya adalah datangnya pertolongan Allah s.w.t —sebagai buah ibadah yang dijalani itu, guna terpenuhi segala maksud dan segala kebutuhan yang diharapkan.

Yang di luar adalah alam besar dan yang di dalam jiwa manusia adalah alam kecil. Masing-masing alam tersebut penuh dengan rahasia dan misteri. Manakala seorang hamba bermaksud mencari Tuhannya, mengadakan pengembaraan ruhaniah untuk wushul dengan Allah s.w.t. Pencarian itu tidaklah harus dilakukan di alam yang luar, tapi di alam yang dalam. Yaitu dengan melaksanakan mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah s.w.t. Merontokkan hijab-hijab basyariah yang menyelimuti hati dengan dzikir dan fikir kepada Tuhannya. Mengekang kendali hawa nafsu dengan kendali ibadah supaya setan tidak mampu memanfaatkannya untuk membelokkan arah perjalanan.

Adapun pelaksanaan tawasul secara ruhaniah di dalam pelaksanaan ibadah tersebut berfungsi untuk mencari penerang jalan yang dilalui. Seperti ketika purnama sedang menampakkan mukanya yang rupawan, ke mana saja sang musafir melangkahkan kaki, dengan senang hati bulan dan bintang selalu mengiringi perjalanan. Seperti itulah gambaran orang bertawasul kepada guru ruhaniah, rahasia ‘nur tawasul’ itu akan setia mengiringi perjalanan sehingga seorang musafir selalu mendapat bimbingan. Sang salik akan selamat sampai tujuan meski setan selalu menghadang dengan segala jebakan di tengah jalan.

by. Malfiali

►LAMPIRAN CATATAN◄

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.”( QS. Ar Rahmaan : 33 )

وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَاناً نَّصِيراً

“Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”( QS. Al Israa’ : 80)

قُلْ أَتُحَآجُّونَنَا فِي اللّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ

“Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati,” ( QS. Al Baqarah 2:139 )

وَقُلْ جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقاً

“Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”
( QS. Al Israa’ : 81-82)

** al-Ghunyah – Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani R.A

Ditulis dalam Sunan Bonang. 2 Comments »

>Menembus Langit Dengan Energi SULTHONAN NASHIROH

>

إِنَّ وَلِيِّـيَ اللّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
Sesungguhnya Waliku adalah Allah, dan Dia mentarbiyah (memberikan Walayah) kepada orang-orang yang sholeh”.  (QS. al-A’raaf; 7/196)**

Allah s.w.t  menantang masyarakat jin dan manusia supaya mereka mau dan mampu bergerak maju dan berkarya. Mereka tidak boleh tinggal diam hanya berpangku tangan tetapi mengharapkan keberuntungan. Mereka bahkan ditantang untuk menembus gugusan langit dan gugusan bumi. Diundang untuk datang ke Istana-Nya, dipersilahkan memasuki haribaan-Nya, menikmati hidangan yang tersedia, namun itu dengan syarat, terlebih dahulu mereka harus mampu menguasai ilmu dan teknologi yang berkaitan dengannya atau dengan istilah Qur’ani disebut “sulthon”. Allah s.w.t berfirman:

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

Hai masyarakat jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus gugusan langit dan gugusan bumi, maka tembuslah, kalian tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan “Sulthon” (QS. ar-Rahman; 55/33)

Sulthon dari kata sallatho artinya menguasai, kalau dikaitkan dengan ayat di atas berarti penguasaan. Kadang-kadang Sulthon juga berarti Penguasa atau Raja. Maka maksud ayat ialah: “Kalian tidak akan mampu menembus gugusan langit dan gugusan bumi, sebelum kalian terlebih dahulu mampu menguasai Ilmu pengetahuan dan teknologinya”. Sedangkan lafad “aqthor” adalah kata jamak dari lafad qithrun, artinya gugusan. Jadi “aqthor”, artinya beberapa gugusan. Sedangkan tantangan yang dimaksud adalah menembus gugusan langit dan gugusan bumi yang ada di alam semesta.

Kalau orang mencari makna ‘gugusan langit’ dalam ayat di atas, barangkali mereka masih berpikir untuk menafsirkan ayat tersebut dengan langit bumi yang ada di atas kepala. Langit yang bisa dilihat dengan mata, yang ada mataharinya, ada bulan dan bintangnya. Coba kalau ayat tersebut dikaji lebih luas dan lebih dalam lagi. Di manakah letak gugusan bumi itu? Padahal bumi yang kita pijak hanya satu dan terdiri dari tanah dan batu. Kalau demikian: Bagaimana cara orang bisa menembusnya? Dengan alat apa orang mampu menggali lubang tembus itu? Siapa pula yang pernah berhasil melakukannya?

Padahal Allah s.w.t juga berfirman di dalam QS. ath-Thalaq Ayat 12, bahwa Allah s.w.t menciptakan tujuh langit dan bumi sepertinya. Oleh karena itu, pasti yang dimaksud gugusan langit dan gugusan bumi di dalam ayat tersebut bukan langit dan bumi yang lahir saja, akan tetapi juga gugusan-gugusan langit dan bumi batin yang terletak di dalam keajaiban-keajaiban ciptaan Tuhan yang ada dalam jiwa manusia. Allah s.w.t berfirman:

وَفِي الْأَرْضِ آَيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ (20) وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
Dan di bumi terdapat tanda-tanda (Kekuasaan Allah) bagi orang yang telah yakin -Dan juga pada jiwamu, apakah kamu tidak melihat?”.
(QS. Adz-Dzariyaat; 51/20-21)

Jika orang sudah memaklumi bahwa penguasaan ilmu dan teknologi menjadikan syarat utama bagi terwujudnya kemudahan-kemudahan hidup di dunia, maka demikian pula untuk kehidupan manusia di alam ruhaniah. Tidak bisa tidak, seorang hamba harus menguasainya pula untuk memenuhi tantangan Tuhannya bagi pengembaraan ruhaniahnya. Dalam arti menembus belenggu hawa nafsu, mendobrak barak-barak setan yang ada di dalam hati, mencuci hati dan menyepuh ruhani dengan jalan melaksanakan ibadah dan pengabdian di jalan Allah.

Ilmu pengetahuannya adalah mutiara-mutiara wahyu yang teruntai di dalam al-Qur’an maupun al-Hadits Nabi sedangkan teknologinya adalah sunnatullah yang sudah tersedia dalam jiwa manusia itu sendiri. Manusia tinggal menghidupkan kembali teknologi itu dengan melaksanakan pengembaraan ruhaniah yang terbimbing. Pertama adalah usaha yang kuat dan tepat dari seorang hamba untuk menolong di jalan Allah, selanjutnya adalah datangnya pertolongan Allah s.w.t —sebagai buah ibadah yang dijalani itu, guna terpenuhi segala maksud dan segala kebutuhan yang diharapkan.

Yang di luar adalah alam besar dan yang di dalam jiwa manusia adalah alam kecil. Masing-masing alam tersebut penuh dengan rahasia dan misteri. Manakala seorang hamba bermaksud mencari Tuhannya, mengadakan pengembaraan ruhaniah untuk wushul dengan Allah s.w.t. Pencarian itu tidaklah harus dilakukan di alam yang luar, tapi di alam yang dalam. Yaitu dengan melaksanakan mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah s.w.t. Merontokkan hijab-hijab basyariah yang menyelimuti hati dengan dzikir dan fikir kepada Tuhannya. Mengekang kendali hawa nafsu dengan kendali ibadah supaya setan tidak mampu memanfaatkannya untuk membelokkan arah perjalanan.

Adapun pelaksanaan tawasul secara ruhaniah di dalam pelaksanaan ibadah tersebut berfungsi untuk mencari penerang jalan yang dilalui. Seperti ketika purnama sedang menampakkan mukanya yang rupawan, ke mana saja sang musafir melangkahkan kaki, dengan senang hati bulan dan bintang selalu mengiringi perjalanan. Seperti itulah gambaran orang bertawasul kepada guru ruhaniah, rahasia ‘nur tawasul’ itu akan setia mengiringi perjalanan sehingga seorang musafir selalu mendapat bimbingan. Sang salik akan selamat sampai tujuan meski setan selalu menghadang dengan segala jebakan di tengah jalan.

by. Malfiali

►LAMPIRAN CATATAN◄

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.”( QS. Ar Rahmaan : 33 )

وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَاناً نَّصِيراً

“Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”( QS. Al Israa’ : 80)

قُلْ أَتُحَآجُّونَنَا فِي اللّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ

“Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati,” ( QS. Al Baqarah 2:139 )

وَقُلْ جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقاً

“Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”
( QS. Al Israa’ : 81-82)

** al-Ghunyah – Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani R.A

Ditulis dalam Sunan Bonang. 2 Comments »

Meluruskan Konsep Manunggaling Kawulo Gusti

Membicarakan Konsep Manunggaling Kawulo-Gusti ini bagaikan membicarakan seks. Seks adalah halal dan pasti benar jika dilakukan oleh orang yang telah berhak melakukannya. Seks benar jika dilakukan dan dibicarakan oleh pasangan suami istri. Namun seks menjadi tidak benar jika dibicarakan apalagi dilakukan oleh anak-anak. Bukan seks-nya yang salah, tetapi pelakunya yang salah.

Tema tentang Konsep Manunggaling Kawulo-Gusti (MKG) atau manunggalnya hamba dengan Tuhan ini adalah konsep yang sudah lama sekali dalam sejarah keagamaan, khususnya Islam. Ada yang menyebut bahwa konsep ini adalah pengejawantahan dari konsep aliran Wahdatul Wujud. Saya sendiri kurang tahu tentang wahdatul wujud jadi tidak hendak mengomentari konsep kepercayaan tersebut.

Tentang konsep Manunggaling Kawulo-Gusti inipun saya tidak tahu apakah konsep saya sama persis dengan konsep para tokoh yang dianggap pelopor ajaran MKG ini, misalnya Kanjeng Waliyullah Syeh Siti Jenar atau misalnya dengan Kiyahi Burhan alias Raden Ngabehi Ronggowarsito. Jadi saya tidak hendak membandingkan konsep saya dengan mereka, karena saya tentu ‘bukan apa-apa’ dibandingkan mereka. Apalagi menilai ajaran mereka, wow nggak berani, takut kualat.

Bagi saya, konsep MKG adalah merasa diri fana, tidak ada apa-apanya dan bukan siapa-siapa. Sekedar hamba Allah, makhluk Allah yang tiada berdaya, yang kebetulan menyandang amanah sebagai ‘khalifah’ (wakil) Allah untuk memakmurkan bumi ini. Itu bukanlah tugas yang ringan. Tugas yang berbanding lurus dengan kewajiban ‘ibadah’ (“Tidaklah Aku cipta jin dan manusia kecuali untuk beribadah”). Juga tugas yang berbanding lurus dengan perintah “mengenal-Nya” ( “Aku mencipta makhluk supaya mereka mengenal-Ku”- hadist Qudsi ).

Justru karena yakin akan kebenaran “Laa haula wa laa quwata illa billah” maka sang diri merasa fana tiada berdaya. Bukan diri ini yang bisa melihat, namun Allah Yang Maha Melihat yang meminjamkan atau mengalirkan daya penglihatan kepada diri ini. Bukan diri ini yang mampu mendengar namun Dia yang meminjamkan pendengaran ini. Bukan diri ini yang bisa berjalan namun Dia yang mengalirkan kekuatan untuk berjalan. Bukan diri ini yang bisa sembahyang dan berdoa namun karena welas asihNya yang menuntun (dengan hidayahNya) dan memberi kekuatn diri untu beribadah.

Kalau MKG dimaknai bahwa tiada daya dan upaya melainkan pertolonganNya maka pasti itu benar. Kalau MKG dimaknai bahwa segala kebaikan adalah milikNya maka pasti itu benar. Kalau MKG dimaknai bahwa hidup ini pada hakekatnya adalah milikNya maka harus kita kembalikan, kita persembahkan kembali untukNya maka pengertian itu pasti itu benar. Kalau MKG dimaknai bahwa kita harus meneruskan misi rasulullah bahwa kita harus menebarkan ‘rahmah’ atau kasih sayang kepada alam semesta ( makhluk semuanya ) maka pasti itu benar. Kalau MKG dimaknai bahwa apapun yang kita lakukan ini dalam rangka mengemban amanah-Nya untuk menjadi khalifah-Nya untuk mengatur dan memakmurkan kehidupan ini untuk mencapau ridlo-Nya maka makna ini pasti benar.

Kalau MKG dimaknai bahwa Allah itu Maha Dekat (Al-Qoriib) maka itu benar. Jikapun dimaknai bahwa Dia yang menentukan kehidupan kita (Al Qodir wal muktadir) itupun benar. Kalu MKG dimaknai bahwa dalam setiap tarikan nafas kita kita harus senantiasa mengingat-Nya maka itu adalah pengertian yang bukan hanya benar namun sangat terpuji.

Kenapa benar makna-makna tersebut ? Karena sesuai dengan ajaran Quran dan Rasulullah serta sesuai dengan fitrah kemanusiaan kita. Lalu kenapa konsep MKG ini selalu menghebohkan ? Bahkan untuk menyebutnya pun orang takut ? Tentu tidak lain adalah stigma negatif yang melekat pada konsep ini.

Membicarakan Konsep MKG ini bagaikan membicarakan seks. Seks adalah halal dan pasti benar jika dilakukan oleh orang yang telah berhak melakukannya. Seks benar jika dilakukan dan dibicarakan oleh pasangan suami istri. Namun seks menjadi tidak benar jika dibicarakan apalagi dilakukan oleh anak-anak. Bukan seks-nya yang salah, tetapi pelakunya yang salah. Begitu juga dengan konsep MKG ini. Tidak dipungkiri bahwa mungkin ada beberapa pengertian-pengertian atau makna – makna lain tentang konsep MKG ini yang selain yang diatas, yang bisa jadi saya dan Anda tidak sependapat (belum tentu salah lho ! ) Namun, apapun itu salah ataupun benarnya bukan saya atau Anda yang berhak memutuskan. Biarlah Allah sendiri yang memberi keputusan. Insya Allah jika pencarian jiwa itu adalah dalam rangka mengenal-Nya dan mencari ridlo-Nya maka Dia sendiri yang akan menuntun dan membetulkannya.

Wallahu a’lam.
by. Tiknan Tasmaun

Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah SWT berfirman:
Barangsiapa yang memusuhi para wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang kepadanya. Dan tidaklah hambaku mendekati-Ku (taqarrub) dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada apa yang telah Aku wajibkan. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekati Aku dengan ibadah sunah (nawafil), sehingga Aku mencintainya, maka ketika Aku telah mencintainya, niscaya Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Seandainya ia meminta kepada-Ku niscaya akan Aku berikan kepadanya, dan seandainya ia memohon perlindungan-Ku, pasti Aku akan melindunginya’.” (HR. Bukhari)

>Meluruskan Konsep Manunggaling Kawulo Gusti

>

Membicarakan Konsep Manunggaling Kawulo-Gusti ini bagaikan membicarakan seks. Seks adalah halal dan pasti benar jika dilakukan oleh orang yang telah berhak melakukannya. Seks benar jika dilakukan dan dibicarakan oleh pasangan suami istri. Namun seks menjadi tidak benar jika dibicarakan apalagi dilakukan oleh anak-anak. Bukan seks-nya yang salah, tetapi pelakunya yang salah.

Tema tentang Konsep Manunggaling Kawulo-Gusti (MKG) atau manunggalnya hamba dengan Tuhan ini adalah konsep yang sudah lama sekali dalam sejarah keagamaan, khususnya Islam. Ada yang menyebut bahwa konsep ini adalah pengejawantahan dari konsep aliran Wahdatul Wujud. Saya sendiri kurang tahu tentang wahdatul wujud jadi tidak hendak mengomentari konsep kepercayaan tersebut.

Tentang konsep Manunggaling Kawulo-Gusti inipun saya tidak tahu apakah konsep saya sama persis dengan konsep para tokoh yang dianggap pelopor ajaran MKG ini, misalnya Kanjeng Waliyullah Syeh Siti Jenar atau misalnya dengan Kiyahi Burhan alias Raden Ngabehi Ronggowarsito. Jadi saya tidak hendak membandingkan konsep saya dengan mereka, karena saya tentu ‘bukan apa-apa’ dibandingkan mereka. Apalagi menilai ajaran mereka, wow nggak berani, takut kualat.

Bagi saya, konsep MKG adalah merasa diri fana, tidak ada apa-apanya dan bukan siapa-siapa. Sekedar hamba Allah, makhluk Allah yang tiada berdaya, yang kebetulan menyandang amanah sebagai ‘khalifah’ (wakil) Allah untuk memakmurkan bumi ini. Itu bukanlah tugas yang ringan. Tugas yang berbanding lurus dengan kewajiban ‘ibadah’ (“Tidaklah Aku cipta jin dan manusia kecuali untuk beribadah”). Juga tugas yang berbanding lurus dengan perintah “mengenal-Nya” ( “Aku mencipta makhluk supaya mereka mengenal-Ku”- hadist Qudsi ).

Justru karena yakin akan kebenaran “Laa haula wa laa quwata illa billah” maka sang diri merasa fana tiada berdaya. Bukan diri ini yang bisa melihat, namun Allah Yang Maha Melihat yang meminjamkan atau mengalirkan daya penglihatan kepada diri ini. Bukan diri ini yang mampu mendengar namun Dia yang meminjamkan pendengaran ini. Bukan diri ini yang bisa berjalan namun Dia yang mengalirkan kekuatan untuk berjalan. Bukan diri ini yang bisa sembahyang dan berdoa namun karena welas asihNya yang menuntun (dengan hidayahNya) dan memberi kekuatn diri untu beribadah.

Kalau MKG dimaknai bahwa tiada daya dan upaya melainkan pertolonganNya maka pasti itu benar. Kalau MKG dimaknai bahwa segala kebaikan adalah milikNya maka pasti itu benar. Kalau MKG dimaknai bahwa hidup ini pada hakekatnya adalah milikNya maka harus kita kembalikan, kita persembahkan kembali untukNya maka pengertian itu pasti itu benar. Kalau MKG dimaknai bahwa kita harus meneruskan misi rasulullah bahwa kita harus menebarkan ‘rahmah’ atau kasih sayang kepada alam semesta ( makhluk semuanya ) maka pasti itu benar. Kalau MKG dimaknai bahwa apapun yang kita lakukan ini dalam rangka mengemban amanah-Nya untuk menjadi khalifah-Nya untuk mengatur dan memakmurkan kehidupan ini untuk mencapau ridlo-Nya maka makna ini pasti benar.

Kalau MKG dimaknai bahwa Allah itu Maha Dekat (Al-Qoriib) maka itu benar. Jikapun dimaknai bahwa Dia yang menentukan kehidupan kita (Al Qodir wal muktadir) itupun benar. Kalu MKG dimaknai bahwa dalam setiap tarikan nafas kita kita harus senantiasa mengingat-Nya maka itu adalah pengertian yang bukan hanya benar namun sangat terpuji.

Kenapa benar makna-makna tersebut ? Karena sesuai dengan ajaran Quran dan Rasulullah serta sesuai dengan fitrah kemanusiaan kita. Lalu kenapa konsep MKG ini selalu menghebohkan ? Bahkan untuk menyebutnya pun orang takut ? Tentu tidak lain adalah stigma negatif yang melekat pada konsep ini.

Membicarakan Konsep MKG ini bagaikan membicarakan seks. Seks adalah halal dan pasti benar jika dilakukan oleh orang yang telah berhak melakukannya. Seks benar jika dilakukan dan dibicarakan oleh pasangan suami istri. Namun seks menjadi tidak benar jika dibicarakan apalagi dilakukan oleh anak-anak. Bukan seks-nya yang salah, tetapi pelakunya yang salah. Begitu juga dengan konsep MKG ini. Tidak dipungkiri bahwa mungkin ada beberapa pengertian-pengertian atau makna – makna lain tentang konsep MKG ini yang selain yang diatas, yang bisa jadi saya dan Anda tidak sependapat (belum tentu salah lho ! ) Namun, apapun itu salah ataupun benarnya bukan saya atau Anda yang berhak memutuskan. Biarlah Allah sendiri yang memberi keputusan. Insya Allah jika pencarian jiwa itu adalah dalam rangka mengenal-Nya dan mencari ridlo-Nya maka Dia sendiri yang akan menuntun dan membetulkannya.

Wallahu a’lam.
by. Tiknan Tasmaun

Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah SWT berfirman:
Barangsiapa yang memusuhi para wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang kepadanya. Dan tidaklah hambaku mendekati-Ku (taqarrub) dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada apa yang telah Aku wajibkan. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekati Aku dengan ibadah sunah (nawafil), sehingga Aku mencintainya, maka ketika Aku telah mencintainya, niscaya Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Seandainya ia meminta kepada-Ku niscaya akan Aku berikan kepadanya, dan seandainya ia memohon perlindungan-Ku, pasti Aku akan melindunginya’.” (HR. Bukhari)

NAQS DNA ; Persaudaraan Ruhani Muslim

“Ruh-ruh itu adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, yang telah saling mengenal maka ia (bertemu dan) menyatu, sedang yang tidak maka akan saling berselisih (dan saling mengingkari)”. (HR. Muslim)

Inilah karakter ruh dan jiwa manusia, ia adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, kesatuaannya adalah kunci kekuatan, sedang perselisihannya adalah sumber bencana dan kelemahan. Jiwa adalah tentara Allah yang sangat setia, ia hanya akan dapat diikat dengan kemuliaan Yang Menciptakanya,. Allah berfirman yang artinya:

Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelajakan semua (kekayaan) yang berada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 8:63)

Dan tiada satupun ikatan yang paling kokoh untuk mempertemukannya selain ikatan akidah dan keimanan. Imam Syahid Hasan Al Banna berkata:“Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan semulia-mulianya. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembarnya kekufuran”. (Risalah Ta’lim, 193)

Sebab itu, hanya dengan kasih mengasihi karena Allah, hati akan bertemu, hanya dengan membangun jalan ketaatan hati akan menyatu, hanya dengan meniti di jalan dakwah ia akan berpadu dan hanya dengan berjanji menegakkan kalimat Allah dalam panji-panji jihad fi sabilillah ia akan saling erat bersatu. Maka sirami taman persaudaraan ini dengan sumber mata air kehidupan sebagai berikut:

1. Sirami dengan mata Air Cinta dan Kasih sayang

Kasih sayang adalah fitrah dakhil dalam jiwa setiap manusia, siapapun memilikinya sungguh memiliki segenap kebaikan dan siapapun yang kehilangannya sungguh ditimpa kerugian. Ia menghiasi yang mengenakan, dan ia menistakan yang menanggalkan. Demikianlah pesan-pesan manusia yang agung akhlaqnya menegaskan. Taman persaudaraan ini hanya akan subur oleh ketulusan cinta, bukan sikap basa basi dan kemunafikan. Taman ini hanya akan hidup oleh kejujuran dan bukan sikap selalu membenarkan. Ia akan tumbuh berkembang oleh suasana nasehat menasehati dan bukan sikap tidak peduli, ia akan bersemi oleh sikap saling menghargai bukan sikap saling menjatuhkan, ia hanya akan mekar bunga-bunga tamannya oleh budaya menutup aib diri dan bukan saling menelanjangi. Hanya ketulusan cinta yang sanggup mengalirkan mata air kehidupan ini, maka saringlah mata airnya agar tidak bercampur dengan iri dan dengki, tidak keruh oleh hawa nafsu, egoisme dan emosi, suburkan nasihatnya dengan bahasa empati dan tumbuhkan penghargaannya dengan kejujuran dan keikhlasan diri. Maka niscaya ia akan menyejukkan pandangan mata yang menanam dan menjengkelkan hati orang-orang kafir (QS.48: 29).

2. Sinari dengan cahaya dan petunjuk jalan

Bunga-bunga tamannya hanya akan mekar merekah oleh sinar mentari petunjuk-Nya dan akan layu karena tertutup oleh cahaya-Nya. Maka bukalah pintu hatimu agar tidak tertutup oleh sifat kesombongan, rasa kagum diri dan penyakit merasa cukup. Sebab ini adalah penyakit umat-umat yang telah Allah binasakan. Dekatkan hatimu dengan sumber segala cahaya (Alquran) niscaya ia akan menyadarkan hati yang terlena, mengajarkan hati yang bodoh, menyembuhkan hati yang sedang sakit dan mengalirkan energi hati yang sedang letih dan kelelahan. Hanya dengan cahaya, kegelapan akan tersibak dan kepekatan akan memudar hingga tanpak jelas kebenaran dari kesalahan, keikhlasan dari nafsu, nasehat dari menelanjangi, memahamkan dari mendikte, objektivitas dari subjektivitas, ilmu dari kebodohan dan petunjuk dari kesesatan. Sekali lagi hanya dengan sinar cahaya-Nya, jendela hati ini akan terbuka. “Maka apakah mereka tidak merenungkan Al Quran ataukah hati mereka telah terkunci”. (QS. 47:24)

3. Bersihkan dengan sikap lapang dada

Minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar ( mementingkan orang lain dari diri sendiri) demikian tegas Hasan Al Banna. Kelapangan dada adalah modal kita dalam menyuburkan taman ini, sebab kita akan berhadapan dengan beragam tipe dan karakter orang, dan “siapapun yang mencari saudara tanpa salah dan cela maka ia tidak akan menemukan saudara” inilah pengalaman hidup para ulama kita yang terungkap dalam bahasa kata untuk menjadi pedoman dalam kehidupan. Kelapang dada akan melahirkan sikap selalu memahami dan bukan minta dipahami, selalu mendengar dan bukan minta didengar, selalu memperhatikan dan bukan minta perhatian, dan belumlah kita memiliki sikap kelapangan dada yang benar bila kita masih selalu memposisikan orang lain seperti posisi kita, meraba perasaan orang lain dengan radar perasaan kita, menyelami logika orang lain dengan logika kita, maka kelapangan dada menuntut kita untuk lebih banyak mendengar dari berbicara, dan lebih banyak berbuat dari sekedar berkata-kata. “Tidak sempurna keimanan seorang mukmin hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya”. ( HR. Bukhari Muslim)

4. Hidupkan dengan Ma’rifat

Hidupkan bunga-bunga di taman ini dengan berma’rifat kepada Allah dengan sebenar-benar ma’rifat, ma’rifat bukanlah sekedar mengenal atau mengetahui secara teori, namun ia adalah pemahaman yang telah mengakar dalam hati karena terasah oleh banyaknya renungan dan tadabbur, tajam oleh banyaknya dzikir dan fikir, sibuk oleh aib dan kelemahan diri hingga tak ada sedikitpun waktu tersisa untuk menanggapi ucapan orang-orang yang jahil terlebih menguliti kesalahan dan aib saudaranya sendiri, tak ada satupun masa untuk menyebarkan informasi dan berita yang tidak akan menambah amal atau menyelesaikan masalah terlebih menfitnah atau menggosip orang. Hanya hati-hati yang disibukkan dengan Allah yang tidak akan dilenakan oleh Qiila Wa Qaala (banyak bercerita lagi berbicara) dan inilah ciri kedunguan seorang hamba sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah apabila ia lebih banyak berbicara dari berbuat, lebih banyak bercerita dari beramal, lebih banyak berangan-angan dan bermimpi dari beraksi dan berkontribusi. “Diantara ciri kebaikan Keislaman seseorang adalah meninggalkan yang sia-sia”. ( HR. At Tirmidzi).

5. Tajamkan dengan cita-cita Kesyahidan

“Pasukan yang tidak punya tugas, sangat potensial membuat kegaduhan” inilah pengalaman medan para pendahulu kita untuk menjadi sendi-sendi dalam kehidupan berjamaah ini. Kerinduan akan syahid akan lebih banyak menyedot energi kita untuk beramal dari berpangku tangan, lebih berkompetisi dari menyerah diri, menyibukkan untuk banyak memberi dari mengoreksi, untuk banyak berfikir hal-hal yang pokok dari hal-hal yang cabang. “Dan barang siapa yang meminta kesyahidan dengan penuh kejujuran, maka Allah akan menyampaikanya walaun ia meninggal diatas tempat tidurnya”. ( HR. Muslim)

MASYARAKAT DZIKRULLAH

Salah satu tujuan sosial Thariqatullah adalah mengembangkan sebuah masyarakat madani (civil society) yang warga-warganya sangat rukun dan kuat silaturahminya, mantap keimanannya, hidupnya taat syari’at, kreatif dan produktif, tegas dalam prinsip tetapi luwes penerapannya, pencinta ilmu dan mau belajar, senang beribadah dan beramal saleh serta senantiasa menggalakkan dzikrullah dan amalan-amalan nawafil lainnya. Masyarakat madani ini kita namakan Masyarakat Dzikrullah yang karakteristiknya digambarkan dalam Al-Qur’an antara lain sebagai berikut:

Orang Muslim cinta sekali kepada Allah (S.2: 165),
mereka senantiasa bersama Allah dan tak pernah bercerai-cerai dari padaNya (S.2: 194),
dan mereka beriman kepada semua nabi (S.2: 136).
Mereka adalah orang-orang yang setia pada janji (S.2: 177; S.5: 1),
bantu membantu dalam kebajikan dan bukan dalam kejahatan (S.5: 2),
bersikap adil walaupun harus merugikan diri sendiri dan golongannya (S.4: 135),
saling menghormati dengan sesama muslim (S.49: 11-12),
bersikap jujur sekalipun terhadap lawan (S.5: 2),
bersatu (3: 102),
mendapat rizki yang baik (S.2: 172),
dan hidup secara wajar (S.2: 62; S.3: 112),
terhadap kafir sikapnya tegas dan keras, sebaliknya dengan sesama muslim saling mengasihi (S.48: 29).

Masyarakat madani ini dengan ringkas digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai masyarakat yang kokoh solidaritasnya.

Kaum muslimin seperti satu tubuh dalam kasih sayang dan perasaan satu sama lain, sehingga jika ada bagian tubuh tertentu tidak enak, maka bagian-bagian lain turut merasakannya dengan demam dan tidak dapat tidur”.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Masyarakat Dzikrullah adalah masyarakat yang satu sama lain dan sarat kasih sayang, memiliki loyalitas kuat, derajat keakraban mendalam, terhormat, bersikap lugas dan berprestasi tinggi. Hal ini hanya mungkin terjadi karena warga masyarakatnya diikat dan dipersatukan hatinya oleh keimanan yang mantap, sehingga kokohnya hubungan antara sesama (hablun minannas) benar-benar dilandasi oleh mantapnya hubungan dengan Tuhan (hablun minallah), dan sebaliknya pelaksanaan hablun minallah hanya mungkin berlangsung sempurna dalam kondisi hablun minannas yang tenteram dan kondusif. Layak sekali bila masyarakat yang berpredikat Baldatun tayibbatun warabbun ghafur itu menjadi idaman dan tujuan sosial para pengamal dzikrullah. Mudahkah itu?

Menyatukan Hati

Allah SWT sendiri menunjukkan betapa sulitnya memadukan (hati) kaum mukminin satu sama lain seperti terungkap dalam S. al-Anfaal (8): 63.

(Dialah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Ayat itu memberikan isyarat bahwa keberhasilan mengembangkan masyarakat dzikrullah tidak cukup dengan semata-mata mengandalkan ilmu dan teknologi tinggi, dukungan finansial yang besar, kemahiran berdakwah yang memukau dan upaya-upaya manusia lainnya. Hal-hal itu tentu saja perlu, tetapi ternyata tidak cukup. Dalam hal ini campur-tangan Tuhan mutlak diperlukan dalam mengembangkan masyarakat muslim yang pada hakikatnya adalah menyatukan hati kaum muslimin sendiri. Tanpa rahmat Tuhan ini upaya pengembangan masyarakat dzikrullah hanya sampai pada taraf kata-kata belaka, dan tidak pernah menjadi realita.

Sehubungan dengan itu tampaknya sudah saatnya para pengamal dzikrullah dengan penuh kesadaran melakukan upaya intensifying ibadah, seperti memantapkan niat, berdoa memohon petunjukNya dan mendoakan masyarakat sekitarnya, meningkatkan kekhusyu’an shalat wajib dan sunnah (istikharah, tahajud), bersedekah dan ibadah-ibadah lainnya sebelum, sewaktu dan sesudah melaksanakan tugas kemasyarakatan.

Pembinaan Kerukunan Masyarakat Muslim

Sekalipun membina kerukunan masyarakat muslim/madani itu tidak mudah, tetapi Rasulullah SAW secara rinci dan praktis telah mengungkapkan hal-hal benar-benar dapat dilakukan dalam membina kerukunan masyarakat madani:

Seorang muslim harus menolong saudara seagamanya dari kekeliruan-kekeliruannya, mengasihinya dalam kesulitan-kesulitannya, menjaga rahasianya, mengabaikan kesalahan-kesalahannya, menerima maafnya, membelanya dari orang-orang jahat dan pencari-pencari kesalahan, bertindak sebagai penasihat baginya, dan memelihara hubungan persahabatan dengannya,. Jika saudara seagamanya itu sakit, ia harus menjenguknya. Ia harus menerima pemberiannya, dan membalas pemberiannya itu secara timbal balik, mengucapkan terima kasih untuk kebaikan-kebaikannya, bicara baik dengannya dan bersikap ramah terhadap teman-temannya, tidak meninggalkannya dalam kesulitan, mengharapkan baginya apa yang diharapkan bagi dirinya sendiri, dan tidak memperlakukannya seperti yang ia tidak suka orang lain perlakukan terhadap dirinya sendiri”.

Membiasakan diri melakukan hal-hal nyata dan penerapannya pun tak terlalu sulit seperti diungkapkan hadits tersebut merupakan langkah-langkah praktis menuju Masyarakat Dzikrullah yang dicita-citakan. Insya Allah.

STRATEGI PEMBINAAN KERUKUNAN MASYARAKAT DZIKRULLAH

Secara keseluruhan Strategi Pembinaan Kerukunan Masyarakat Dzikrullah meliputi: Landasan, Sikap Dasar, Tujuan, Langkah-langkah, dan Semboyan.

Landasan: 
Ikatan ruhani yang kuat bersumber dari kesamaan pembimbing (Mursyid), metode (Thariqatullah), washilah (Nuurun alan nuurin), amalan (Dzikrullah) dan motivasi (Ilahi anta maqsyudi wa ridhaka mathlubi).

Tujuan :

  1. Mengembangkan dan meneladankan ahlak terpuji (akhlaqul karimah) berdasarkan pemahaman Islam secara keseluruhan (kaffah);
  2. Menjaga persaudaran muslim (Ukhuwah Islamiyah) atas dasar Hablun minallah dan Hablun minannas dengan tidak melanggar adat istiadat, etika sosial, hukum negara, dan hukum syara’;
  3. Mewujudkan masyarakat dzikrullah yang berpredikat Baldatun thayibbatun wa rabbun ghafur;
  4. Menjaga kemuliaan Guru (Al Mursyid) dan keluarganya.

Sikap dasar:

  1. Hadap dan setia;
  2. Pengabdian yang tulus;
  3. Berlomba-lomba dalam kebajikan;
  4. Tabah dan gigih;
  5. Berkarya dan Berdoa.

Langkah-langkah:

  1. Mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan terdekat, dan masyarakat sekitar;
  2. Menyadari potensi pribadi dan lingkungan, kemudian merealisasikannya;
  3. Menghargai prestasi dan menjaga kehormatan diri dan orang lain;
  4. Menjalin silaturahmi dengan saling kunjung dalam saat kegembiraan dan kedukaan;
  5. Memberi bantuan sejauh kemampuan;
  6. Menampilkan budi pekerti terpuji;
  7. Mengajak masyarakat mengamalkan dzikrullah sebagai inti ibadah.

Semboyan:

  1. Berprinsip sebagai pengabdi;
  2. Berabdi sebagai pejuang;
  3. Berjuang sebagai prajurit;
  4. Berkarya sebagai pemilik;
  5. Beribadah sebagai Nabi beribadah.

SALAMAN RUHANI
Semoga salaman rohani dan sambungan rohani ini tidak akan pernah terlepas selama-lamanya. Kalau bersalaman jasad hanya sebentar saja kemudian lepas, tetapi tidak dengan salaman rohani, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

اَلْأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ مَا تَعَرَّفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اِخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu bagaikan tentara yang berkelompok-kelompok, yang saling mengenal akan saling mendekat, dan yang saling bertengkar akan saling menjauh.”

Maka kelompok ruh yang di dunia itulah kelompok ruh yang di akhirat kelak, jika kita telah berkelompok disini maka ruh kita telah bersatu meskipun tidak saling bersalaman satu sama lain, kelak di akhirah kita akan bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, amin allahumma amin.

Ya Rahman Ya Rahiim, kami bermunajat memohon kehadirat-Mu kemuliaan, keluhuran dan segala kenikmatan, limpahkan untuk kami cahaya kebahagiaan, limpahkan kepada kami cahaya keluhuran, terangi kami dengan cahaya di depan kami, di belakang kami, diatas dan dibawah kami, di kanan dan kiri kami dengan cahaya keindahan, dengan cahaya kebahagiaan, dengan cahaya keluhuran, dengan cahaya kesucian, dengan cahaya khusyu’, dengan cahaya sujud, dengan cahaya doa dan munajat, dengan cahaya dzikir dan shalawat, dengan cahaya istighfar, dengan cahaya taubat, dengan cahaya ibadah, dengan cahaya cinta kepada-Mu, dengan cahaya rindu kepada-Mu, dengan cahaya rindu kepada-Mu, dan jadikan kami semua makmur di dunia dan akhirah, limpahkan kekayaan kepada kami di dunia dan akhirah, pastikan seluruh wajah ini dalam 5 atau 10 tahun lagi dilimpahi kekayaan yang berlimpah sehingga semakin luas dakwah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalaly wal Ikram…

>NAQS DNA ; Persaudaraan Ruhani Muslim

>

“Ruh-ruh itu adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, yang telah saling mengenal maka ia (bertemu dan) menyatu, sedang yang tidak maka akan saling berselisih (dan saling mengingkari)”. (HR. Muslim)

Inilah karakter ruh dan jiwa manusia, ia adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, kesatuaannya adalah kunci kekuatan, sedang perselisihannya adalah sumber bencana dan kelemahan. Jiwa adalah tentara Allah yang sangat setia, ia hanya akan dapat diikat dengan kemuliaan Yang Menciptakanya,. Allah berfirman yang artinya:

Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelajakan semua (kekayaan) yang berada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 8:63)

Dan tiada satupun ikatan yang paling kokoh untuk mempertemukannya selain ikatan akidah dan keimanan. Imam Syahid Hasan Al Banna berkata:“Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan semulia-mulianya. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembarnya kekufuran”. (Risalah Ta’lim, 193)

Sebab itu, hanya dengan kasih mengasihi karena Allah, hati akan bertemu, hanya dengan membangun jalan ketaatan hati akan menyatu, hanya dengan meniti di jalan dakwah ia akan berpadu dan hanya dengan berjanji menegakkan kalimat Allah dalam panji-panji jihad fi sabilillah ia akan saling erat bersatu. Maka sirami taman persaudaraan ini dengan sumber mata air kehidupan sebagai berikut:

1. Sirami dengan mata Air Cinta dan Kasih sayang

Kasih sayang adalah fitrah dakhil dalam jiwa setiap manusia, siapapun memilikinya sungguh memiliki segenap kebaikan dan siapapun yang kehilangannya sungguh ditimpa kerugian. Ia menghiasi yang mengenakan, dan ia menistakan yang menanggalkan. Demikianlah pesan-pesan manusia yang agung akhlaqnya menegaskan. Taman persaudaraan ini hanya akan subur oleh ketulusan cinta, bukan sikap basa basi dan kemunafikan. Taman ini hanya akan hidup oleh kejujuran dan bukan sikap selalu membenarkan. Ia akan tumbuh berkembang oleh suasana nasehat menasehati dan bukan sikap tidak peduli, ia akan bersemi oleh sikap saling menghargai bukan sikap saling menjatuhkan, ia hanya akan mekar bunga-bunga tamannya oleh budaya menutup aib diri dan bukan saling menelanjangi. Hanya ketulusan cinta yang sanggup mengalirkan mata air kehidupan ini, maka saringlah mata airnya agar tidak bercampur dengan iri dan dengki, tidak keruh oleh hawa nafsu, egoisme dan emosi, suburkan nasihatnya dengan bahasa empati dan tumbuhkan penghargaannya dengan kejujuran dan keikhlasan diri. Maka niscaya ia akan menyejukkan pandangan mata yang menanam dan menjengkelkan hati orang-orang kafir (QS.48: 29).

2. Sinari dengan cahaya dan petunjuk jalan

Bunga-bunga tamannya hanya akan mekar merekah oleh sinar mentari petunjuk-Nya dan akan layu karena tertutup oleh cahaya-Nya. Maka bukalah pintu hatimu agar tidak tertutup oleh sifat kesombongan, rasa kagum diri dan penyakit merasa cukup. Sebab ini adalah penyakit umat-umat yang telah Allah binasakan. Dekatkan hatimu dengan sumber segala cahaya (Alquran) niscaya ia akan menyadarkan hati yang terlena, mengajarkan hati yang bodoh, menyembuhkan hati yang sedang sakit dan mengalirkan energi hati yang sedang letih dan kelelahan. Hanya dengan cahaya, kegelapan akan tersibak dan kepekatan akan memudar hingga tanpak jelas kebenaran dari kesalahan, keikhlasan dari nafsu, nasehat dari menelanjangi, memahamkan dari mendikte, objektivitas dari subjektivitas, ilmu dari kebodohan dan petunjuk dari kesesatan. Sekali lagi hanya dengan sinar cahaya-Nya, jendela hati ini akan terbuka. “Maka apakah mereka tidak merenungkan Al Quran ataukah hati mereka telah terkunci”. (QS. 47:24)

3. Bersihkan dengan sikap lapang dada

Minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar ( mementingkan orang lain dari diri sendiri) demikian tegas Hasan Al Banna. Kelapangan dada adalah modal kita dalam menyuburkan taman ini, sebab kita akan berhadapan dengan beragam tipe dan karakter orang, dan “siapapun yang mencari saudara tanpa salah dan cela maka ia tidak akan menemukan saudara” inilah pengalaman hidup para ulama kita yang terungkap dalam bahasa kata untuk menjadi pedoman dalam kehidupan. Kelapang dada akan melahirkan sikap selalu memahami dan bukan minta dipahami, selalu mendengar dan bukan minta didengar, selalu memperhatikan dan bukan minta perhatian, dan belumlah kita memiliki sikap kelapangan dada yang benar bila kita masih selalu memposisikan orang lain seperti posisi kita, meraba perasaan orang lain dengan radar perasaan kita, menyelami logika orang lain dengan logika kita, maka kelapangan dada menuntut kita untuk lebih banyak mendengar dari berbicara, dan lebih banyak berbuat dari sekedar berkata-kata. “Tidak sempurna keimanan seorang mukmin hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya”. ( HR. Bukhari Muslim)

4. Hidupkan dengan Ma’rifat

Hidupkan bunga-bunga di taman ini dengan berma’rifat kepada Allah dengan sebenar-benar ma’rifat, ma’rifat bukanlah sekedar mengenal atau mengetahui secara teori, namun ia adalah pemahaman yang telah mengakar dalam hati karena terasah oleh banyaknya renungan dan tadabbur, tajam oleh banyaknya dzikir dan fikir, sibuk oleh aib dan kelemahan diri hingga tak ada sedikitpun waktu tersisa untuk menanggapi ucapan orang-orang yang jahil terlebih menguliti kesalahan dan aib saudaranya sendiri, tak ada satupun masa untuk menyebarkan informasi dan berita yang tidak akan menambah amal atau menyelesaikan masalah terlebih menfitnah atau menggosip orang. Hanya hati-hati yang disibukkan dengan Allah yang tidak akan dilenakan oleh Qiila Wa Qaala (banyak bercerita lagi berbicara) dan inilah ciri kedunguan seorang hamba sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah apabila ia lebih banyak berbicara dari berbuat, lebih banyak bercerita dari beramal, lebih banyak berangan-angan dan bermimpi dari beraksi dan berkontribusi. “Diantara ciri kebaikan Keislaman seseorang adalah meninggalkan yang sia-sia”. ( HR. At Tirmidzi).

5. Tajamkan dengan cita-cita Kesyahidan

“Pasukan yang tidak punya tugas, sangat potensial membuat kegaduhan” inilah pengalaman medan para pendahulu kita untuk menjadi sendi-sendi dalam kehidupan berjamaah ini. Kerinduan akan syahid akan lebih banyak menyedot energi kita untuk beramal dari berpangku tangan, lebih berkompetisi dari menyerah diri, menyibukkan untuk banyak memberi dari mengoreksi, untuk banyak berfikir hal-hal yang pokok dari hal-hal yang cabang. “Dan barang siapa yang meminta kesyahidan dengan penuh kejujuran, maka Allah akan menyampaikanya walaun ia meninggal diatas tempat tidurnya”. ( HR. Muslim)

MASYARAKAT DZIKRULLAH

Salah satu tujuan sosial Thariqatullah adalah mengembangkan sebuah masyarakat madani (civil society) yang warga-warganya sangat rukun dan kuat silaturahminya, mantap keimanannya, hidupnya taat syari’at, kreatif dan produktif, tegas dalam prinsip tetapi luwes penerapannya, pencinta ilmu dan mau belajar, senang beribadah dan beramal saleh serta senantiasa menggalakkan dzikrullah dan amalan-amalan nawafil lainnya. Masyarakat madani ini kita namakan Masyarakat Dzikrullah yang karakteristiknya digambarkan dalam Al-Qur’an antara lain sebagai berikut:

Orang Muslim cinta sekali kepada Allah (S.2: 165),
mereka senantiasa bersama Allah dan tak pernah bercerai-cerai dari padaNya (S.2: 194),
dan mereka beriman kepada semua nabi (S.2: 136).
Mereka adalah orang-orang yang setia pada janji (S.2: 177; S.5: 1),
bantu membantu dalam kebajikan dan bukan dalam kejahatan (S.5: 2),
bersikap adil walaupun harus merugikan diri sendiri dan golongannya (S.4: 135),
saling menghormati dengan sesama muslim (S.49: 11-12),
bersikap jujur sekalipun terhadap lawan (S.5: 2),
bersatu (3: 102),
mendapat rizki yang baik (S.2: 172),
dan hidup secara wajar (S.2: 62; S.3: 112),
terhadap kafir sikapnya tegas dan keras, sebaliknya dengan sesama muslim saling mengasihi (S.48: 29).

Masyarakat madani ini dengan ringkas digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai masyarakat yang kokoh solidaritasnya.

Kaum muslimin seperti satu tubuh dalam kasih sayang dan perasaan satu sama lain, sehingga jika ada bagian tubuh tertentu tidak enak, maka bagian-bagian lain turut merasakannya dengan demam dan tidak dapat tidur”.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Masyarakat Dzikrullah adalah masyarakat yang satu sama lain dan sarat kasih sayang, memiliki loyalitas kuat, derajat keakraban mendalam, terhormat, bersikap lugas dan berprestasi tinggi. Hal ini hanya mungkin terjadi karena warga masyarakatnya diikat dan dipersatukan hatinya oleh keimanan yang mantap, sehingga kokohnya hubungan antara sesama (hablun minannas) benar-benar dilandasi oleh mantapnya hubungan dengan Tuhan (hablun minallah), dan sebaliknya pelaksanaan hablun minallah hanya mungkin berlangsung sempurna dalam kondisi hablun minannas yang tenteram dan kondusif. Layak sekali bila masyarakat yang berpredikat Baldatun tayibbatun warabbun ghafur itu menjadi idaman dan tujuan sosial para pengamal dzikrullah. Mudahkah itu?

Menyatukan Hati

Allah SWT sendiri menunjukkan betapa sulitnya memadukan (hati) kaum mukminin satu sama lain seperti terungkap dalam S. al-Anfaal (8): 63.

(Dialah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Ayat itu memberikan isyarat bahwa keberhasilan mengembangkan masyarakat dzikrullah tidak cukup dengan semata-mata mengandalkan ilmu dan teknologi tinggi, dukungan finansial yang besar, kemahiran berdakwah yang memukau dan upaya-upaya manusia lainnya. Hal-hal itu tentu saja perlu, tetapi ternyata tidak cukup. Dalam hal ini campur-tangan Tuhan mutlak diperlukan dalam mengembangkan masyarakat muslim yang pada hakikatnya adalah menyatukan hati kaum muslimin sendiri. Tanpa rahmat Tuhan ini upaya pengembangan masyarakat dzikrullah hanya sampai pada taraf kata-kata belaka, dan tidak pernah menjadi realita.

Sehubungan dengan itu tampaknya sudah saatnya para pengamal dzikrullah dengan penuh kesadaran melakukan upaya intensifying ibadah, seperti memantapkan niat, berdoa memohon petunjukNya dan mendoakan masyarakat sekitarnya, meningkatkan kekhusyu’an shalat wajib dan sunnah (istikharah, tahajud), bersedekah dan ibadah-ibadah lainnya sebelum, sewaktu dan sesudah melaksanakan tugas kemasyarakatan.

Pembinaan Kerukunan Masyarakat Muslim

Sekalipun membina kerukunan masyarakat muslim/madani itu tidak mudah, tetapi Rasulullah SAW secara rinci dan praktis telah mengungkapkan hal-hal benar-benar dapat dilakukan dalam membina kerukunan masyarakat madani:

Seorang muslim harus menolong saudara seagamanya dari kekeliruan-kekeliruannya, mengasihinya dalam kesulitan-kesulitannya, menjaga rahasianya, mengabaikan kesalahan-kesalahannya, menerima maafnya, membelanya dari orang-orang jahat dan pencari-pencari kesalahan, bertindak sebagai penasihat baginya, dan memelihara hubungan persahabatan dengannya,. Jika saudara seagamanya itu sakit, ia harus menjenguknya. Ia harus menerima pemberiannya, dan membalas pemberiannya itu secara timbal balik, mengucapkan terima kasih untuk kebaikan-kebaikannya, bicara baik dengannya dan bersikap ramah terhadap teman-temannya, tidak meninggalkannya dalam kesulitan, mengharapkan baginya apa yang diharapkan bagi dirinya sendiri, dan tidak memperlakukannya seperti yang ia tidak suka orang lain perlakukan terhadap dirinya sendiri”.

Membiasakan diri melakukan hal-hal nyata dan penerapannya pun tak terlalu sulit seperti diungkapkan hadits tersebut merupakan langkah-langkah praktis menuju Masyarakat Dzikrullah yang dicita-citakan. Insya Allah.

STRATEGI PEMBINAAN KERUKUNAN MASYARAKAT DZIKRULLAH

Secara keseluruhan Strategi Pembinaan Kerukunan Masyarakat Dzikrullah meliputi: Landasan, Sikap Dasar, Tujuan, Langkah-langkah, dan Semboyan.

Landasan: 
Ikatan ruhani yang kuat bersumber dari kesamaan pembimbing (Mursyid), metode (Thariqatullah), washilah (Nuurun alan nuurin), amalan (Dzikrullah) dan motivasi (Ilahi anta maqsyudi wa ridhaka mathlubi).

Tujuan :

  1. Mengembangkan dan meneladankan ahlak terpuji (akhlaqul karimah) berdasarkan pemahaman Islam secara keseluruhan (kaffah);
  2. Menjaga persaudaran muslim (Ukhuwah Islamiyah) atas dasar Hablun minallah dan Hablun minannas dengan tidak melanggar adat istiadat, etika sosial, hukum negara, dan hukum syara’;
  3. Mewujudkan masyarakat dzikrullah yang berpredikat Baldatun thayibbatun wa rabbun ghafur;
  4. Menjaga kemuliaan Guru (Al Mursyid) dan keluarganya.

Sikap dasar:

  1. Hadap dan setia;
  2. Pengabdian yang tulus;
  3. Berlomba-lomba dalam kebajikan;
  4. Tabah dan gigih;
  5. Berkarya dan Berdoa.

Langkah-langkah:

  1. Mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan terdekat, dan masyarakat sekitar;
  2. Menyadari potensi pribadi dan lingkungan, kemudian merealisasikannya;
  3. Menghargai prestasi dan menjaga kehormatan diri dan orang lain;
  4. Menjalin silaturahmi dengan saling kunjung dalam saat kegembiraan dan kedukaan;
  5. Memberi bantuan sejauh kemampuan;
  6. Menampilkan budi pekerti terpuji;
  7. Mengajak masyarakat mengamalkan dzikrullah sebagai inti ibadah.

Semboyan:

  1. Berprinsip sebagai pengabdi;
  2. Berabdi sebagai pejuang;
  3. Berjuang sebagai prajurit;
  4. Berkarya sebagai pemilik;
  5. Beribadah sebagai Nabi beribadah.

SALAMAN RUHANI
Semoga salaman rohani dan sambungan rohani ini tidak akan pernah terlepas selama-lamanya. Kalau bersalaman jasad hanya sebentar saja kemudian lepas, tetapi tidak dengan salaman rohani, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

اَلْأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ مَا تَعَرَّفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اِخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu bagaikan tentara yang berkelompok-kelompok, yang saling mengenal akan saling mendekat, dan yang saling bertengkar akan saling menjauh.”

Maka kelompok ruh yang di dunia itulah kelompok ruh yang di akhirat kelak, jika kita telah berkelompok disini maka ruh kita telah bersatu meskipun tidak saling bersalaman satu sama lain, kelak di akhirah kita akan bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, amin allahumma amin.

Ya Rahman Ya Rahiim, kami bermunajat memohon kehadirat-Mu kemuliaan, keluhuran dan segala kenikmatan, limpahkan untuk kami cahaya kebahagiaan, limpahkan kepada kami cahaya keluhuran, terangi kami dengan cahaya di depan kami, di belakang kami, diatas dan dibawah kami, di kanan dan kiri kami dengan cahaya keindahan, dengan cahaya kebahagiaan, dengan cahaya keluhuran, dengan cahaya kesucian, dengan cahaya khusyu’, dengan cahaya sujud, dengan cahaya doa dan munajat, dengan cahaya dzikir dan shalawat, dengan cahaya istighfar, dengan cahaya taubat, dengan cahaya ibadah, dengan cahaya cinta kepada-Mu, dengan cahaya rindu kepada-Mu, dengan cahaya rindu kepada-Mu, dan jadikan kami semua makmur di dunia dan akhirah, limpahkan kekayaan kepada kami di dunia dan akhirah, pastikan seluruh wajah ini dalam 5 atau 10 tahun lagi dilimpahi kekayaan yang berlimpah sehingga semakin luas dakwah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalaly wal Ikram…