Manajemen Niat Ala NLP

Setiap amal itu tergantung pada niatnya.
Demikian ajaran agama menelusup dalam diri saya, yang juga begitu sering saya dengar dari banyak orang. Saya lansir, ia merupakan salah satu ajaran yang paling populer di kalangan orang awam. Meskipun, saya pun yakin bahwa makna aslinya banyak yang belum dipahami secara tepat.

Betapa tidak? Kalimat,”Yang penting kan niatnya baik” cukup sering saya dapati ketika seseorang berusaha menasihati orang lain, namun justru ditanggapi dengan kurang menyenangkan. Meski saya sepakat bahwa situasi seperti ini mungkin saja terjadi, seringkali saya pahami bahwa kesalahpaman ini terjadi lebih disebabkan oleh sang pemberi nasihat yang belum menggunakan cara yang tepat saja. Alhasil, alih-alih bermanfaat, nasihat baik ini malah mubazir.

Lalu, apa sebenarnya konteks yang tepat untuk menerapkan ajaran di atas?

Saya mohon maaf, sebab saya bukan ahli agama, maka penjelasan saya berikut ini tentu masih amat jauh dari layak untuk dianggap sebagai kebenaran. Namun sebab saya meyakini bahwa menyebarkan sebuah ilmu akan membukakan jalan pada ilmu baru, saya kuatkan diri saya untuk menuliskan jua pemahaman saya soal niat.

Niat dan State
Bagaimana ceritanya nih? Begini. Mari kita cermati kejadian berikut ini.
Anda adalah seorang manajer yang baru saja merekrut karyawan baru. Saat wawancara, Anda sudah menegaskan pertanyaan penting berikut ini, “Jadi, Anda betul-betul berniat untuk berkarir di bidang keuangan?”

Kontan, dengan senyum merekah, sang calon karyawan pun menjawab lugas, “Ya! Niat saya sudah bulat!”

Maka rangkaian wawancara pun Anda tutup dengan syukur, berharap Anda sudah menjatuhkan pilihan pada orang yang tepat.

Hari berikutnya, sang karyawan baru pun menjalani hari pertamanya. Ia penuh gairah, belajar dengan semangat, bertanya kesana dan kemari dengan wajah antusias. Setiap tugas yang Anda berikan ia lahap seketika, meski tak jarang ia mengalami beberapa kesulitan. Maklum, karyawan baru.

Berlalu 3 hari. Anda agak merasa aneh, sebab sang karyawan ini menunjukkan gelagat yang berbeda. Ya, baru tiga hari, dan Anda mendapati gairahnya menurun. Ia mulai kesulitan menjalankan instrukti Anda. Wajah yang sebelumnya ceria kini banyak murung. Tak sampai seminggu untuk mendapatinya sulit dicari di ruangan. Bahkan di minggu kedua, ia sempat bolos sehari tanpa izin dan alasan yang jelas.

Minggu ketiga, juga masih aneh. Sehari semangat, sehari loyo. Begitu terus berlangsung, hingga Anda sudah tak tahan lagi.

Nah, menghadapi kondisi seperti ini, apa kiranya yang Anda akan ucapkan tentang karyawan baru itu?

Ah, jika Anda sama seperti beberapa orang yang saya temui di negeri ini, kalimat ini mungkin sama—mungkin juga tidak—dengan Anda, “Gimana sih anak ini? Niat kerja nggak sih?”

Hehe… Anda boleh kok punya versi yang berbeda.
Nah, apa sebenarnya makna kata ‘niat’ pada kalimat di atas? Jelas bukan sesuatu yang diucapkan di depan saat wawancara, bukan?

Ya! Niat memang bukan sesuatu yang diucapkan dengan lisan semata. Maka bagi seorang Muslim, mengucapkan niat secara lisan dalam shalat bukan merupakan kewajiban. Niat dalam rangkaian shalat adalah perbuatan hati.

Kembali ke kata ‘niat’ yang diucapkan oleh Anda di atas, bukankah Anda sepakat bahwa ia lebih merupakan konsistensi daripada hanya sebuah kondisi hati yang sekali muncul sudah itu mati?

Aha! Maka jadi masuk akal jika agama pun mengajarkan kita untuk selalu meluruskan niat. Kok meluruskan ya? Berarti niat bisa bengkok atau melenceng donk?

Ya, memang demikian lah adanya. Niat adalah sebuah kondisi menyengaja dalam diri, yang sangat mungkin untuk berubah, dan karenanya harus senantiasa dipantau dan dikendalikan.

Maka menggunakan kerangka NLP, niat sejatinya adalah sebuah proses mengakses state alias kondisi pikiran-perasaan yang tepat untuk memunculkan perilaku yang diinginkan. Dan selayaknya sebuah state, ia jelas tidak statis, melainkan dinamis, keluar dari yang satu berganti menjadi yang lain.

Semisal, kita ingin bersedekah. Kita pun mengakses kondisi ikhlas, yakni kondisi dimana pikiran dan perasaan tertuju semata hanya mengharapkan ridha Allah. Jika terbersit sebuah keinginan untuk dilihat, baik itu dalam bentuk film dalam pikiran atau suara, kita pun segera mematikan atau menggantinya. Dengan demikian, perilaku sedekah kita pun menjadi bersih. Mengeluarkan uang terbaik yang kita miliki, lalu melakukannya dengan diam-diam.

Cukupkah?

Jelas tidak. Sebab sudah berperilaku seperti itu pun, seringkali niat ini berubah. Misalnya, ketika seseorang tiba-tiba melihat dan memuji apa yang kita lakukan. Sebuah suara barangkali muncul, “Wah, hebat juga ya, aku bersedekah seperti itu.” Jika kita jeli, seketika kita pun awas, dan segera mematikan suara tersebut, mengubah senyum bangga menjadi wajah penuh harap agar Allah masih sudi menerima sedekah kita tadi.

Demikianlah, Niat adalah sebuah State. Sebab ia state,maka ia menaungi rangkaian perilaku yang ada di dalamnya. State senang akan memunculkan perilaku senyum tulus dengan lebih mudah, dibanding state sedih. State percaya diri akan menghadirkan perilaku bicara meyakinkan dengan lebih cepat dibanding state ragu-ragu.

Ah, bukankah jadi lebih jelas mengapa agama ajarkan kita untuk memulai sesuatu dengan meluruskan niat? Sebab tanpa niat yang lurus, perilaku tulus pun sulit untuk muncul. Alih-alih tulus, yang ada adalah perilaku hitung-hitungan. Tidak memberi jika pujian sedikit. Tidak mengajar jika honor kecil. Dan seterusnya.

Sementara niat yang tulus, menghadirkan segenap pikiran hanya soal meraih ridha Allah, melahirkan segenap rasa yakin akan pembalasan Allah, akan menghadirkan perilaku yang murni, apapun respon yang didapat. Dicaci ketika menasihati, kita justru tersenyum, sebab yakin bahwa cacian kan berbuah pahala. Rugi ketika menerima kembali barang dagangan yang dikembalikan pembeli karena cacat, kita justru lega, sebab dihindarkan dari perhitungan di Hari Akhir kelak.

Dan berbekal NLP, ia adalah proses mengelola representasi internal alias film dalam pikiran, dan gerakan tubuh.

Ingin mendapat ilmu yang berlimpah? Niatkan untuk belajar dengan penuh takzim pada seorang guru.

Caranya?

Selidiki apa yang sedang diputar dalam pikiran. Dan ganti gambarnya dengan gambaran positif tentang sang guru, ilmunya yang luas, manfaatnya yang banyak. Putar suara dalam pikiran tentang nasihat untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Kecilkan suara-suara sumbang orang lain tentang sang guru, yang teringat. Dan rasakan diri ini begitu takzim, sehingga memudahkan ilmu baru masuk.

Takkan hadir ilmu, pada diri yang memelihara kesombongan.

Ingin bekerja dan mendapat rezeki berlimpah nan halal? Niatkan untuk bekerja tanpa pamrih.

Caranya?

Selidiki film yang kita putar dalam pikiran. Jika muncul pikiran tentang mendapat keuntungan lewat cara yang tidak halal, ganti segera! Munculkan ingatan tentang orang-orang jujur yang sukses, dan betapa berkah hidup mereka. Jika muncul bisikan-bisikan untuk bekerja seadanya, malas-malasan, kecilkan suaranya! Munculkan suara penyemangat, nasihat pembangkit inspirasi, hingga terasa semangat menggelora untuk persembahkan yang terbaik.

Selalu ada hasil, pada tiap kesungguhan.

Seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Ibnu Umar ra, pernah berujar, “Seandainya ada satu saja sujudku yang diterima, niscaya itu sudah cukup buatku.”

Wah, sahabat Nabi sekelas beliau saja tak yakin bahwa sujudnya yang buanyak itu diterima? Bagaimana dengan kita?

Inilah bukti bahwa niat harus terus diluruskan, dikelola. Ini pulalah sebab mengapa kita diajar untuk berdoa agar hati yang memang tabiatnya senang berbolak-balik ini senantiasa diteguhkan di jalan Tuhan.

Apa Itu STATE..??
State di kamus punya makna beragam. State bisa diartikan wilayah. Istilah state digunakan di kalangan psikologi pertama kali adalah dalam Transactional Analysis untuk menggambarkan keadaan pemikiran , perasaan dan kecenderungan untuk bertindak. Dalam NLP ,STATE atau lengkapnya STATE OF MIND adalah keadaan menyeluruh antara tubuh dengan keadaan neurologisnya yang berupa pikiran, perasaan dan kecenderungan untuk bertindak bahkan tindakan.

STATE ini akan saling mempengaruhi dengan Posisi Tubuh, Pikiran, Perasaan dan Tindakan yang dilakukan.

Perhatikanlah Kondisi Fisik (Raga) orang yang sedang gembira, kecewa, marah, menahan geram, sedih, menangis, putus asa. Setiap STATE ternyata mempunyai kapling raganya masing-masing. Karena itu para aktor dan aktris professional mudah untuk mendapatkan STATE tertentu hanya dengan mengubah dan meng-Olah Raga saja.

Mari kita bereksperimen mengenai STATE ini.
Experiment 1 :

  • Pikirkanlah pengalaman saat Anda bahagia . Lihatlah wajah Anda di cermin .
  • Pikirkanlah pengalaman saat Anda sedih. Lihatlah wajah Anda di cermin.

Experiment 2 :

  • Buatlah wajah Anda seperti yang terlihat di cermin saat Anda merasa bahagia. Lalu rasakanlah perasaan yang muncul
  • Buatlah wajah Anda seperti yang terlihat di cermin saat Anda merasa sedih. Lalu rasakanlah perasaan yang muncul.

Jadi……
Mengubah posisi tubuh akan mengubah STATE. Melakukan gerak akan mengubah STATE. Berolah raga mengubah STATE, Menari mengubah STATE, berjoget mengubah STATE, Yoga mengubah STATE, Meditasi mengubah STATE , Silat mengubah STATE , Berdoa dan Sholat mengubah STATE.

Mengatur pikiran akan mempengaruhi STATE. Memunculkan pikiran damai menghasilkan STATE . Memunculkan pikiran rusuh menelurkan STATE. Mengendalikan pikiran sama dengan mengendalikan STATE.

Terserah Anda mau mulai dari mana. Anda dapat mengubah State dengan merasakan perasaan , menciptakan pikiran atau melakukan gerak tertentu.

Di salah satu sekolah kepribadian yang mengajarkan membangkitkan rasa percaya diri. Latihannya justru bukan dengan mengelola pikiran peserta. Peserta dilatih berjalan santai, wajah menatap ke depan, nafas lancar dan energi mantap di seluruh tubuh dan beban terbagi imbang ke kaki kanan dan kiri. Latihan berulang-ulang. Dan ajaib, peserta jadi Pede abis.

Di ketentaraan , para calon prajurit dilatih pede, sigap dan cekatan dengan baris berbaris , hadap kiri , hadap kanan, jalan di tempat, maju jalan, serong kiri, serong kanan dan hormat .

Bagaimanakah State Anda saat ini ? 
Sadarilah gerak tubuh dan mimik wajah Anda.

Bagaimanakah gerak tubuh dan mimik wajah Anda saat ini? 
Sadarilah itulah State Anda.

by. Indonesia NLP Society

Kekuatan Kata-kata & Diam

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaْ :
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbicaralah yang baik atau diam.” (HR. Muslim no. 34)

Kekuatan Kata-kata
Modeling secara harfiah berartti meniru, yakni meniru-pola-pola tindakan orang lain atau lebih tepatnya meniru tokoh yang diidolakan. Bila Anda memodel seorang juara tennis misalnya, itu artinya sedang meniru pola-pola perilaku dari pola pikir dan pola tindakan khususnya teknik-teknik memukul dan menerima bola tenis dan seterusnya. Memodel secara serius sesungguhnya, seseorang sedang memahami dan memvisualisikan dalam pikirannya dan setelah jelas gambaran pola-polanya, ia mengendapkannya dalam alam bawah sadar menjadi file (program).

Sebenarnya teori yang mendasari modeling sangat sederhana: siapa saja meniru tindakan orang-orang sukses cenderung sukses; sebaliknya meniru orang gagal atau tepat meniru perilaku negatif ia cenderung menjadi gagal.

Meski sesimpel itu, modeling tidak akan bekerja secara efektif bila tingkat memodelnya hanya sampai dataran kognitif saja. Artinya, ia tahu persis secara konsep pola perilaku sampai cara-cara memodel pola perilaku orang-orang sukses, tetapi bila hanya tahu saja tidak sampai ke tingkat emosional untuk melakukannya secara sungguh-sungguh, modeling tidak akan berjalan efektif. Modeling mempersyaratkan adanya komitmen emosional untuk melakasanakannya.

Anatomi Modeling
Kalau saya tarik ke belakang, bagaimana seorang anak manusia lahir di muka bumi sampai tingkat peradabannya tidak lepas dari modeling. Dimulai dari budaya yang sangat sederhana pola makan dan pola (cara) berpakain tidak lepas dari hasil memodel budaya di lingkungannya. Kita bisa makan, minum dan bepakain dengan cara-cara yang sopan (paling tidak diterima oleh lingkungan) adalah hasil modeling atau meniru.

Sesungguhnya proses memodel tidaklah semudah yang kita bayangkan. Anda bisa membaca, menulis huruf dan merangkainya menjadi kata-kata misalnya, membutuhkan perjuangan keras dan waktu bertahun-tahun. Coba kita ingat ketika kita masih duduk di bangku sekolah dasar kelas (SD) satu dulu. Untuk paham lafal dan menulis huruf ”R” saja, berapa kali Anda menghafal dan melafalnya? Berapa kali Anda menirukan Bapak/Ibu Guru untuk melafal huruf ”R” sesuai mimik guru? Berapa kali Anda menulis dan menghapus huruf tersebut sehingga Anda secara mental hafal dan secara motorik bisa menulis huruf tersebut hingga dianggap benar? Berapa jumlah energi yang dikeluarkan dan sampai tingkat konsentrasi apa hingga Anda benar-benar hafal?

Kita tidak menyadarinya bahwa betapa berat perjuangan untuk bisa menghafal satu huruf saja. Ternyata otak kita untuk bisa menghafal satu huruf memerlukan pengulangan berkali-kali sehingga hafal betul! ”Hafal di luar kepala!”, begitu istilah yang sering kita dengar untuk memodel satu huruf (fenomena) saja. Sekarang saja Anda begitu otomatis menggunakan huruf dan kata karena sudah hafal di luar kepala.

Begitu pentingtnya menghafal/memodel huruf dalam kehidupan manusia sehingga Allah SWT dalam Al Qura’an surat Al Baqarah ayat 1 (satu) mengisyaratkan pentingnya huruf sebagai hal yang elementer dalam kehidupan manusia. Dalam surat itu hanya tediri 3 (tiga) huruf yakni: alif laam mim dan bukan kata-kata atau kalimat sebagaimana ayat-ayat Al Qur’an lainnya. Tentang tafsir ayat ini masih bervariasi dalam memaknaninya: ada yang mengatakan bahwa itu hanya Allah yang mengatauinya; ada pula yang menafsirkannya sebagai pembukaan bacaan yang menarik atau sebagai daya tarik dari bacaan Al Qur’an.

Bagi saya, huruf alif laam mim, bukan saja sebagai pertanda bahwa Al Qur’an sebagai ditulis dengan bahasa Arab yang indah, namun bermakna bahwa huruf merupakan simbol penting bagi manusia agar bisa memodel, meniru semua hal yang ada di dunia. Bahwa huruf dihafal (dimodel) di luar kepala sebagai bagian penting dan elementer dalam berkomunikasi melalui bahasa. Apa sebabnya?

Pertama, huruf harus dihafal agar kita bisa merangkai sebuah kata, baik kata benda, sifat maupun kata kerja. Semua hal di muka bumi ini pasti bisa diberi nama yang merupakan rangkaian huruf. Anda bisa merangkainya dalam bentuk kata (benda, sifat dan kerja) bila Anda hafal huruf-huruf yang membentuknya, yang Anda tahu, betapa sulitnya dulu saat saat masih duduk di sekolah dasar untuk menghafal/memodel huruf tersebut.

Kedua, huruf dan kata yang sudah kita model tadi, merupakan bahan membuat sebuah kalimat. Di dalam kalimat itulah Anda menemukan sebuah makna (meaning). Bagaimana Anda membuat makna? Anda mampu membuat makna juga tidak lepas dari modeling, Anda tahu makna akan sebuah kalimat karena Anda hafal akan makna setiap kata yang membentuknya. Bila tidak hafal satu kata saja Anda pasti sulit memaknainya.

Ketiga, rangkaian huruf menjadi sebuah kata, dan rangkaian beberapa kata menjadi sebuah kalimat yang di dalamnya mengandung makna, sesungguhnya Anda sedang berkomunikasi dengan apa yang disebut bahasa. Bahasa apa pun, pastinya terbentuk dari huruf dan kata berikut kaidah-kaidah kebahasaan sebagai pembentukannya. Sampai di sini saya ingin mengatakan bahwa peran bahasa dalam kehidupan dan peradaban manusia menduduki peran sentral. Bahwa manusia sangat mengandalkan bahasa dalam kehidupannya, apa pun fenomena, benda, situasi bahkan ilmu pengetahuan sangat tergantung kepada peran bahasa.

Apabila Anda hari ini mengusai bahasa tertentu tidak lepas dari usaha keras Anda dalam memodel/menghafal bahasa tersebut. Adakah seseorang yang dalam belajar bahasa yang langsung hafal tanpa menghafal dan mempraktikkannya terlebih dahulu setiap hari? Anda bisa berbahasa karena biasa, yakni biasa memodel/mengafal. Berapa kali Anda menhafal satu kata?

Linguistic Programming
Manusia menciptakan huruf, kata, kalimat dan bahasa bukan untuk sekedar sebagai alat komunikasi. Bukan sekedar alat ekspresi dari pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Dalam kaitannya dengan makna pada setiap kata dan kalimat, manusia menciptakan bahasa adalah dalam rangka mind programming (pemograman pikiran). Setiap makna yang terkandung dalam setiap kata dan kalimat bahasa tertentu (bahasa Indonesia, Jawa, Inggris, Perancis, Jerman dan lain-lain) mampu mempengaruhi pikiran seseorang yang setelah mengalami filter (cocok tidak cocok, bernilai atau tidak bernilai dengan belief dirinya) makna tersebut tersimpan secara baik di dalam benaknya (pikiran bawah sadar).

Makna dalam setiap kalimat adalah benih yang apabila benih itu terus terawat, tumbuh mengakar kuat, akan berkembang dan berbuah, yakni buah pikiran (ide-ide), buah konsep, hingga buah keterampilan yang bermanfaat bagi umat manusia. 

Contoh kalimat ”Aku adalah anak pandai dan ulet dalam situasi apa pun.” 
Makna dari kalimat ini adalah ”percaya diri dan pantang meyerah”. 

Apabila makna ini benar-benar tertanam kuat dalam pikiran bawah sadar seseorang maka sudah barang tentu banyak buah yang dapat dipetik. Percaya diri adalah pangkal sukses apa pun profesi seseorang. Bila ia adalah seorang yang bercita-cita jadi seorang entrepreneur, maka banyak buah-buah (produk/jasa) kreatif yang diciptakan; bila ia bercita-cita menjadi seorang karyawan, maka dengan percaya diri akan mengantarkan dirinya pada seorang pemimpin yang buah karyanya banyak dinanti anak buah dan masyarakatnya.

Sebuah makna yang tertanam kuat di dalam pikiran bawah sadar seseorang ibarat sebuah pohon subur yang siap berbuah di sepanjang musim. Seperti firman Allah SWT: ”Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seijin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya manusia ingat dan perumpamaan kalimat yang buruk adalah seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun” (QS, surat Ibrahim 24-26)

Kata-kata yang baik akan menghasilkan sebuah kalimat yang baik; kalimat yang baik akan menghasilkan makna yang baik; makna yang baik ibarat benih pohon yang baik dan kuat, yang siap berbuah pada sepanjang musim. Sebaliknya kata dan kalimat yang buruk akan menghasilkan makna dan buah (ide) yang buruk pula. Bila ide buruk tertanam dalam pikiran bawah sadar seseorang secara kokoh maka perilaku buruk yang diperoleh. Ibarat, pikirannya terserang virus/kangker yang hasilnya (buah) tidak dapat diharapkan. Bila itu diibaratkan sebuah pohon, maka pohon yang demikian itu seperti pohon yang telah dicabut akar-akarnya alias mati.

Apa yang Anda katakan pada orang lain adalah benih yang kau taburkan di benak orang lain. Bila yang Anda katakan adalah benih unggul maka akan berbuah (karya) unggul bagi kehidupan. Sepanjang buah tersebut bermanfaat bagi yang bersangkutan dan bagi masyarakat, Anda mendapatkan pahala yang terus mengalir; sebaliknya bila yang Anda katakan adalah kata-kata/kalimat kotor maka akan menghasilkan virus-virus yang mematikan. Bila yang Anda katakan ternyata menyesatkan sehingga yang bersangkutan hidupnya sesat alias tidak bisa berbuah (karya) maka Anda akan mendapatkan ”resikonya” sepanjang masa.

Berkatalah yang baik karena kata-katamu ibarat benih yang mampu menegakkan pohon pikiran berbuah (karya) sepanjang masa. Bila ini dilakukan niscaya pahala yang mengalir sampai akhir hayat.
by. Waidi Akbar [http://portalnlp.com/anatomi-modelling-and-programming/]

KEKUATAN DIAM
Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya, diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya “ruang”. Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomel.

Diam, yang sering kali dihubungkan dengan kepasifan, mempunyai kekuatan yang besar. Diam membantu kita untuk lebih berkonsentrasi, tenang, introspektif, dan bahkan lebih bijak. Dan, diam seringkali lebih dapat menyampaikan poin-poin kita dengan lebih efektif dari pada argumen-argumen.

Diam memberikan kesempatan kepada kita untuk mendengarkan diri kita sendiri. Kita bisa mendengarkan diri kita sendiri dengan cara yang baru dan lebih efektif, untuk mendengarkan apa yang suara batin kita ajarkan pada kita.

Penulis Parker Palmer menggambarkan hal itu dengan kata-kata sebagai berikut: “kita mendengarkan petunjuk dimana saja kecuali di dalam batin. Kita percaya, bahwa hanya karena kita telah mengatakan sesuatu, maka kita memahami maknanya. Tetapi sering kali tidak. Kita perlu mendengar apa yang sedang dikatakan oleh hidup kita dan mencatatnya, agar kita tidak lupa kebenaran kita sendiri.”

Di saat kita DIAM SEJENAK dalam KEHENINGAN maka akan menghasilkan kumpulan ENERGI yang luarbiasa besarnya yang memiliki KEKUATAN DOBRAK LUAR BIASA untuk membongkar ketertutupan pintu sukses kita selama ini.

Diam sangat penting untuk pembelajaran. Ketika kita berbicara, sangatlah sulit untuk belajar lebih dari apa yang sudah kita ketahui. Namun, ketika kita dengan tenang mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang lain, dunia baru sudah disiapkan untuk kita. Kita bisa memulai sesuatu dari perspektif orang lain, bisa lebih memahami pola fikir mereka dan kita bisa memiliki akses terhadap apa yang mereka ketahui.

Ketika kita mendengarkan masalah-masalah dan pendapat-pendapat orang lain, untuk sesaat kita terbebas dari kekhawatiran mengenai masalah kita sendiri dan kita dapat belajar sedikit seperti apa rasanya berada dalam keadaan orang lain. Mendengarkan dengan diam adalah kunci untuk merasakan hidup dengan lebih penuh, informatif, dan empati.

Ali bin Abi Thalib berkata, “Semua kebaikan terangkum dalam 3 kata: pandangan, diam, & bicara. Setiap pandangan yang tidak menghasilkan ibrah adalah kelalaian akal, setiap diam yang tidak mengandung pikiran berarti kelengahan, & setiap bicara yang tidak mencerminkan dzikir adalah perbuatan sia-sia. Berbahagialah orang-orang yang penglihatannya menambah ibrah, diamnya berarti pikir, bicaranya mencerminkan dzikir, menangisi kesalahan-kesalahannya, & membebaskan orang lain dari perbuatan jahatnya.”

Telur Busuk Bukanlah Manusia

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh….

Sahabat, ada sebuah pepatah. Bagaikan buah dalam sebuah pohon yang berbuah lebat, pasti ada satu dua yang busuk dan dimakan ulat. Bagaikan telur yang dierami induknya, biasanya juga ada satu dua yang busuk. Demikian juga membina murid dalam sebuah perguruan ataupun pesantren, biasanya ada satu dua murid yang gagal dan tidak lulus. Ada murid teladan, dan ada murid bergajulan.

Tiada Gading Yang tak retak, dan Tiada Manusia yang sempurna. Dan tiada sebuah ilmu yang terbaik, karena ilmu dan pengetahuan akan terus berkembang sesuai dengan zaman. Dan akan selalu ada sebuah cara yang lebih baik dari cara dan ilmu yang sudah ada dalam melakukan sesuatu.

Sahabat, sebagai manusia maka jadikanlah diri kita bersikap layaknya manusia. Manusia bukanlah benda mati ataupun telur yang busuk, yang tidak bisa berubah. Bila telur busuk, kemana-mana pasti menebarkan aroma yang busuk.

Namun manusia tidaklah seharusnya begitu, manusia adalah makhluk mulia yang dibekali dengan hati nurani dan akal. Maka manusia dapat belajar dari kesalahan dan kegagalannya untuk kemudian bertafakkur dan bermuhasabah [evaluasi dan introspeksi diri]. Sehingga langkahnya ke depan akan dapat diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya sehingga keberhasilan dan kesuksesan akan mudah untuk diraiih.

Allah berfirman ;
Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” QS. asy syam 91: 7-10

Sungguh, malang jiwa yang membelakangi bagai mana ia diciptakan, bagaimana seharusnya ia melewati dan mencapai penyempurnaannya. Jiwa yang disamarkan oleh nafsu fatamorgana, dan terhanyut oleh tipu daya dunia, yang gemerlapnya hanya sebuah pentas sementara. Jiwa yang terkunci oleh keinginan nafsu akan kemegahan, cinta semu, obsesi demi menjadi pusat dimana ia di elu-elukan dan menikmati kepuasan manakala ia mampu menciptakan keterpukauan manusia-manusia disekelilingnya.

Seharusnya dia menjadi kebanggaan dari penciptaannya, bukan hanya sebatas lakon yang harus dimainkan agar jiwa-jiwa yang lain dapat menarik pelajaran, apatah lagi jika hanya sebagai batu ujian bagi hamba-hamba Allah yang lain.

Sebagaimana fitrah kemanusiaannya, jiwa memiliki batasannya, ia bagaikan tanaman yang bergantung pada bagaimana akarnya mampu menyerap saripati dari tanah dan sinar matahari sebagai sumber hidupnya yang menyuburkan dan memberi manfaat bagi sekelilingnya. Jika saripati tanah itu tercemar, maka akar tanaman itu akan menyebar racun keseluruh pori-pori tubuhnya, hingga manfaatnya tak lagi serupa dengan tujuan awal penciptaannya. Demikianlah sifat jiwa, yang bergantung pada apa yang mengendalikannya yaitu, akal, hati nurani, panca indra, dan nafsu manusia, dimana Allah telah menjadikan empat potensi tersebut sebagai penyempurnaan awalnya. Beruntunglah bagi manusia yang menjadikan potensi itu sebagai media mensucikan jiwanya hingga sampai pada penyempurnaan utuhnya, yaitu INSAN KAMIL.

Seorang khalifatullah adalah manusia yang dimampukan oleh Allah untuk menyerap cahaya Allah  dan memantulkannya pada sekeliling dirinya. Semakin bersih dan suci jiwa seseorang, maka semakin beninglah cermin hatinya, sehingga Cahaya Allah dapat terserap dan terpantul secara optimal dan maksimal.

sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga),maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk”, [QS. al-Lail (92) : 4 – 12]

Sungguh mulia, bagi jiwa yang telah sampai pada tugas penyempurnaannya, melalui hidup dimana ujian memainkan jiwa manusia melaui cinta, harapan, obsesi, kekaguman, keinginana, dan dikali lain kesedihan, ketakutan, kelaparan, kebencian, kedengkian, ketidak puasan menjadi bagian pelengkap bagai mana jiwa dihadapkan kepada ujiannya.

Jiwa menjadi sempurna, ketika ia mampu menjadikan potensi yang diberikan oleh Allah untuk menyerap cahaya petunjuk yang secara verbal (Alqur’an), maupun melalui gerak dan bentuknya ( dari langit dan bumi, serta apa yang ada diantaranya dan apa yang ada pada dirinya sendiri). Bagaikan bulan purnama yang menyerap sinar matahari memberikan keindahan di antara gelap malam yang bersekat-sekat menyembunyikan gerak hidup manusia. Dan jiwa semakin mendekati sempurnanya, manakala ia mampu menjadikan setiap objek disekitarnya sebagai wejangan hidup yang terus berganti konteksnya.

Sebagai apapun peran setiap manusia, jiwa yang bersih akan membawanya pada nilai hakiki sebagai makhluk yang dimuliakan berkat perjuangnnya melebihi makhluk-makhluk Allah lainnya. Maka ketika setiap jiwa telah sampai pada batas perannya, ketika hari penghisaban sampai pada waktunya, dimana semua yang menjadi bagian dari tempat jiwa bersemayam menjadi saksi tanpa mampu dicegah, maka bertemulah jiwa dengan takdirnya.

Jiwa yang suci, yang telah dibersihkan oleh kesabaran, kerendahan hati akan pengakuan terhadap Allah yang menjadi sumber segala penciptaan, masuk dan bersemayam abadi dalam kemuliaan dan keagungan Alam Surgawi, serta terpenuhilah segala apa yang di inginkan oleh manusia dengan sifatnya.

Seorang muslim yang mu’min, mengikuti keimanannya dengan rasa syukur dan kepuasan tiada terperi. Duka dan peluh selama hidup telah tunai oleh Rahimnya Allah yang tak diberi batas, jiwa yang bersemayan dalam adn, tempat dimana segala keinginan telah ada sebelum sempat terfikirkan.

“Salamun ‘Alaikum bima Shabartum”

Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu.

Wassalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh….

BEBAS DARI PENJARA PIKIRAN MELALUI PINTU KESADARAN

“The human condition: lost in thought.” ~ Eckhart Tolle

Manusia pada umumnya, tanpa mereka sadari, hanya menjalani kehidupan dalam koridor penjara pikiran yang sempit yang dibatasi oleh tembok-tembok tinggi persepsi. Dengan bahasa yang lebih sederhana manusia hidup dalam realitas yang ditentukan oleh seperangkat aturan (baca: program pikiran) yang ada dalam pikirannya. Kita tidak melihat segala sesuatu apa adanya. Kita melihat sesuatu apa kita-nya.

Sang Buddha pernah berkata, “Pikiran itu sungguh sukar diawasi. Ia amat halus dan senang mengembara sesuka hati. Karena itu hendaklah orang bijaksana selalu menjaganya. Pikiran yang dijaga dengan baik akan membawa kebahagian. Pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap, sulit dijaga dan sulit dikuasai; namun orang bijaksana akan meluruskannya, bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panah.”

Salah satu kebutuhan dasar manusia yang sangat menonjol adalah kebutuhan akan konsistensi. Saat pikiran telah memutuskan untuk menerima sesuatu sebagai ”kebenaran” maka ia akan konsisten dengan ”kebenaran” itu. ”Kebenaran” ini belum tentu sejalan dengan ”kebenaran” yang kita setujui kebenarannya. ”Kebenaran” menurut pikiran sejalan dengan pemikiran pikiran itu sendiri yang didukung dengan berbagai pengalaman yang pernah kita alami.

Kebenaran” ini dikenal dengan istilah belief. Jadi, setelah pikiran mengadopsi suatu belief maka selanjutnya belief ini yang mengendalikan pikiran. Tanpa intervensi yang dilakukan secara sadar maka hidup kita sepenuhnya dikendalikan oleh berbagai belief yang telah kita adopsi dan yakini kebenarannya.

Saat kita percaya/belief akan kebenaran sesuatu maka kita tidak akan lagi mempertanyakan keabsahan data atau landasan pijak berpikir yang digunakan sebagai dasar penerimaan suatu belief. Belief kita selalu benar menurut kita. Yang benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Kita akan mati-matian mempertahankan belief kita karena kita yang memutuskan bahwa ”sesuatu” itu adalah hal yang benar. Masa kita meragukan kebenaran yang telah kita putuskan ”kebenarannya”?

Lalu, bagaimana caranya untuk bisa keluar dari perangkap penjara pikiran? Jalan kebebasannya adalah melalui pintu kesadaran. Nah, Anda mungkin akan bertanya, ”Mengapa harus melalui pintu kesadaran?”

Hanya melalui pintu kesadaran kita bisa menyadari bahwa kita bukanlah pikiran kita, kita bukanlah perasaan kita, kita bukanlah kebiasaan kita, dan yang lebih penting lagi adalah bahwa kita bukanlah belief kita. Kesadaran membuat kita mampu untuk melakukan disosiasi atau pemisahan yang jelas.

Dengan kesadaran kita mampu melakukan metakognisi atau berpikir mengenai pikiran. Dengan berpikir dan mengamati pikiran maka kita akhirnya mengenal ”sosok” pikiran kita. Kita akan tahu pola atau kebiasaan yang pikiran lakukan. Dengan kesadaran kita dapat memahami bahwa pikiran, walaupun merupakan piranti yang sangat luar biasa, tetap hanyalah sebagian kecil dari kesadaran itu sendiri.

Lalu, bagaimana cara untuk bisa mengamati pikiran?

Oh, caranya mudah sekali. Yang perlu kita lakukan adalah belajar untuk menjadi hening. Kita perlu membiasakan diri ”berjalan” di keheningan. Hanya dengan hening kita baru mampu mengamati pikiran kita dengan jelas.

Setiap hari, selama sekitar 30 menit sampai 60 menit, lakukan meditasi. Duduklah dengan tenang dan mulailah mengamati pikiran Anda. Bagi pemula Anda bisa melatih diri dengan melakukan meditasi 15 menit di pagi hari dan malam hari.

Pengamatan terhadap pikiran akan membawa kita pada pengenalan dan pemahaman mendalam yang kita namakan kebijaksanaan. Nah, kebijaksanaan inilah sebenarnya kunci pembuka pintu kebebasan kita.

Source from : Adi W. Gunawan (www.pembelajar.com)

“Ad-Dunya sijnul mukmin wa jannatul kafirin”. (HR Muslim)
Arti hadits di atas adalah dunia itu adalah penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir.
Suatu waktu, ketika Ibnu Hajar Al-Asqalani menjadi Qadi, dengan berkendaraan keledai, pakaian bagus dan penampilan yang meyakinkan, beliau melewati sebuah pasar.
Tiba tiba Yahudi pedagang minyak menghadangnya. Pakaiannya sangat kumal, lusuh dan kotor oleh minyaknya. Ia memegang tali keledai yang dikendarai oleh Ibnu Hajar, lalu berkata:
“Ya Syaikhul Islam, Anda menyatakan bahwa Nabi Anda mengatakan: Dunia itu penjara orang beriman dan surga orang kafir. Dengan penampilan Anda seperti ini, Anda di penjara seperti apa? Dan dengan keadaan saya seperti ini, Saya berada di surga seperti apa?”.
Ibnu Hajar menjawab: “Dengan kondisi seperti ini, Saya dibanding dengan kenikmatan yang Allah janjikan di akhirat, seperti di dalam penjara. Dan anda, dengan kondisi seperti ini, dibanding dengan siksa dan hukuman di akhirat, seolah anda sekarang di dalam surga”.
Mendengar jawaban tersebut, sang Yahudi langsung menyatakan masuk Islam.

Zero Mind Process – Bergerak Dari Titik Nol

Adakah yang lebih bening dari suara hati.?
Kala ia menegur kita tanpa suara.
Adakah yang lebih jujur dari nurani.?
Saat ia menyadarkan kita tanpa kata2.
Adakah yang lebih tajam dari mata hati.?
Ketika ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan alpa.
Ya, sebenarnya saat yang paling indah dari seluruh putaran kehidupan ini adalah saat kita mampu secara jujur dan tulus mendengar suara hati.

Bila kita ingin menciptakan kedamaian, maka anda harus mencapainya dengan cara yang penuh kedamaian. Karena anda tidak akan pernah memperoleh kedamaian dengan cara kekerasan, dengan kekerasan anda hanya akan memperoleh kekerasan yang lebih parah. Bila kita memulai kedamaian itu didalam diri kita, maka kita akan menuju kedamaian di dalam kehidupan kita, ini adalah benar-benar merupakan suatu kebenaran yang praktis. Cara hidup yang praktis, berdamai dengan diri kita sendiri, dan dengan orang lain.

God Spot (hati nurani) seringkali tertutup oleh berbagai belenggu yang menyebabkan orang menjadi buta hati. Hal ini mengakibatkan seseorang tidak mampu lagi mendengar informasi-informasi penting dari dalam suara hatinya sendiri, dimana hal ini akan mengakibatkan seseorang menjadi tidak mampu lagi untuk membaca lingkungan di luar dirinya, dalam berbagai belenggu dan tidak mampu untuk meanfaatkan potensi diri maupun potensi lingkungannya.

Pernyataan yang dilakukan secara berulang-ulang dengan segenap penghayatan hati, pikiran dan tindakan memiliki tujuan untuk menyucikan fitrah. Saat shalatlah sesungguhnya peringatan dini dan kesadaran diri akan arti pentingnya kejernihan hati dan pikiran itu mengemuka, karena kejernihan pikiran akan menjadi landasan penting bagi pembangunan kecerdasan emosi dan spiritual seseorang.

Proses kembali ke titik Nol di dalam inti diri (Qalbu) kita itulah yang dinamakan zero-mind process. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk zero-mind process bisa kita temukan dalam aktivitas seperti doa, sholat, yoga atau meditasi. Zero-mind process merupakan proses pembersihan alam bawah sadar dari belenggu-belenggu yang akan selalu datang seiring dengan pengalaman hidup manusia, hari demi hari, jam demi jam, bahkan detik demi detik.

Itu sebabnya, doa, sholat, yoga ataupun meditasi hanya akan berdampak apabila dilakukan berulang-ulang (the magic of repetition). Ketika mencapai tahap zero-mind, maka seseorang telah siap menerima Nur Ilahi dan mengeluarkan energi positif untuk kebaikan dirinya dan orang lain.

Zero-mind process adalah prosedur baku yang tidak bisa tidak, harus dilalui seseorang yang ingin mencapai kemurnian suara hati. Hasil akhir dari zero-mind process adalah seseorang terbebas dari belenggu-belenggu: prasangka negatif; prinsip-prinsip hidup yang menyesatkan; pengalaman yang mempengaruhi pikiran.

Apa itu “TITIK NOL” ?
“TITIK NOL”, menurut Morrnah, adalah sebuah kondisi saat kita menjadi “bersih” dan di mana segala sesuatunya berjalan dengan sempurna. Ini adalah saat kita merasa sangat dekat dengan Tuhan. Ketika kita berada di titik nol, segalanya menjadi jernih, inspirasi Sang Ilahi dapat masuk dan menghasilkan keajaiban. Dalam berbagai kisah spiritual, kondisi ini diibaratkan sebagai Surga, Taman Firdaus, Taman Eden, tempat Adam dan Hawa pada awal mulanya diciptakan dan hidup.

“TITIK NOL” adalah kondisi saat kita menjadi sempurna dan dapat mendengar suara Tuhan, mendapatkan suatu pencerahan. Sangat sulit bagi sebagian besar orang untuk mencapai kondisi “TITIK NOL” ini. Ya, sangat sedikit orang yang dapat mencapai “TITIK NOL” ini.

Titik Nol adalah kondisi meditatif ketika kesadaran nurani kita hadir secara penuh, tanpa dipengaruhi hasrat & ego. Di titik inilah kita beroperasi pada pusat mainframe kesadaran kita, keluar dari program kesadaran yang mengarahkan kesadaran kita. Mengevaluasi program-program itu serta mengupgrade & meng-up to date program kesadaran kita.

Mengapa Sangat Sulit bagi Kebanyakan Orang untuk Mencapai “TITIK NOL” ?
Sejak awal mula penciptaan hingga sekarang, memori terus terakumulasikan di dunia ini. Dengan demikian, sudah tidak terhitung lagi banyaknya memori di dunia ini. Semakin banyak memori yang terakumulasikan membuat kita semakin sulit untuk mencapai “TITIK NOL”. Ya, karena memori-memori ini selalu mengambang dan bergerak-gerak di sekitar kita sehingga membuat pikiran kita terus menerus bereaksi terhadapnya. Inilah yang biasanya menyebabkan kebanyakan orang sangat sulit untuk mencapai “TITIK NOL”.

Dr. Hew Len mengatakan “Masalah adalah kenangan yang bermunculan kembali. Kenangan adalah program.”

Kenangan itu tersimpan di subconscious kita. Bagi Anda yang baru mendengar istilah subconscious, itu adalah pikiran bawah sadar kita. Setiap orang memiliki kenangan atau program di subconsciousnya. Banyak dari kita terjebak di dalam program. Kita berkata, bereaksi dan bertindak biasanya otomatis sesuai dengan program yang ada di subconscious kita.

Ketika kita bertindak berdasarkan kenangan, biasanya akan ada masalah yang ditimbulkannya yang berasal dari kenangan yang menyakitkan. NAQS DNA Technique mengajarkan pada kita untuk membersihkan seluruh kenangan yang ada dengan melakukan meditasi kultivasi berulang-ulang agar kita bisa kembali ke titik nol. Ketika kita berada di titik nol, segalanya menjadi jernih, inspirasi Sang Ilahi dapat masuk dan menghasilkan keajaiban yang menuntun gerak dan langkah kita selanjutnya. Satu hal yang perlu diingat, proses ini membutuhkan komitmen untuk melakukannya. Jangan berharap sesuatu yang instant. Diperlukan ketekunan dan kedisiplinan dalam berlatih.

Ingat, saat kita berkultivasi artinya itu adalah saat Kita membersihkan & memurnikan diri dan bukan untuk mencapai hasil, namun untuk kembali ke batas nol. Kemudian, inspirasi akan masuk. Saat itu, tidak ada kebingungan, keraguan, kemarahan atau emosi negatif apapun lainnya. Jika inspirasi datang, maka yang ada hanyalah kedamaian, anugerah, kebahagiaan, cinta, rezeki dan kesehatan.

Seperti dijelaskan Dr. Hew Len, “Untuk membuka jalan agar kekayaan Ilahi mengalir masuk, pertama-tama diperlukan penghapusan kenangan. Selama kenangan (hambatan / batasan) hadir dalam Bawah Sadar, semua itu menghambat sang Ilahi memberi kita rezeki hari ini.”

Jadi, apa yang perlu Anda lakukan sekarang?

Bersihkan
Bersihkan
Bersihkan.

Menyenangkan bukan bahwa Anda dapat menciptakan kehidupan yang seperti itu. Saya yakin itu adalah kehidupan yang selalu diinginkan oleh Anda, tentu juga saya. Sekarang Anda mulai paham bahwa Anda hanya punya 2 pilihan untuk menjalani hidup, melalui Inspirasi Ilahi (Tuntunan & Hidayah Allah) atau Kenangan yang sebagian besar berisi program-program yang menghambat pertumbuhan & perubahan hidup anda untuk menjadi lebih baik akibat pola fikir dan perilaku yang salah di masa lalu karena tuntunan nafsu & syetan.

Ketika Anda menjalani hidup melalui Inspirasi Ilahi maka keajaiban-keajaiban lah yang akan terjadi. Hal-hal menakjubkan akan terjadi melebihi dari apa yang dapat Anda bayangkan.

Bersihkan,
Bersihkan,
Bersihkan

Inilah hakikat dari kalimah Laa ilaha Ilallah dan Laa haula wa laa quwwata illa billah di dalam kehidupan nyata, Ini sudah bukan lagi sekedar ucapan ataupun ungkapan hati. Namun ini adalah kondisi batin kita. zerokan diri dengan berlatih kultivasi secara terus menerus sehingga tercapai state atau kondisi TITIK NOL (Ikhlas) yang terus menerus maqom di kesadaran kita. Sehingga hanya Ispirasi Ilahi sajalah yang masuk dan menggerakkan hati dan kesadaran kita, menggerakkan kebiasaan kita, menggerakkan kehidupan kita, untuk akhirnya menggerakkan nasib kita secara utuh.

Mind Set (Pola Fikir) yang harus dikembangkan untuk mencapai Zero Mind adalah :

  1. Hindari prasangka buruk, dan selalu mengupayakan berprasangka baik ( positif thinking ).
  2. Tinggalkan prinsip hidup yang salah, berprinsiplah selalu kepada Allah Yang Maha Suci.
  3. Bebaskan diri dari pengalaman masa lalu yang membelenggu pikiran dan selalu berpikir merdeka.
  4. Dengarkan semua suara hati, berpikirlah melingkar ( circular thinking ) sebelum menentukan kepentingandan prioritas, dan jadilah bijaksana.
  5. Berpikirlah secara integrative dan holistic dengan melihat semua sudut pandang secara adil berdasarkan semua suara hati yang bersumber dari Asmaul Husna.
  6. Periksa pikiran kita terlebih dahulu sebelum menilai segala sesuatu.
  7. Ingatlah bahwa semua kebenaran bersumber dari Allah SWT, dan jangan terbelenggu.

Bagaimana dengan anda ?
Siapkah melaju pada kondisi Zero Mind ? Laa Ilaaha Illallah……..

Lompatan Kuantum Nasib

Beranjak lebih dalam lagi, kita akan memasuki sebuah dimensi yang sungguh amat menganggumkan. Kita akan mengunjungi sebuah bagian yang bernama “halte perenungan”. Dinamakan halte perenungan karena di sinilah kita merenung sejenak, memanfaatkan menit-menit sebelum jemputan yang ditunggu datang, tentang hakikat kebaradaan diri kita di antara miliran galaksi dan triliunan bintang-bintang.by Nurrahman Effendi

Pada halte ini juga Anda akan memutuskan bus mana yang hendak Anda tumpangi. Saran saya, jangan memasrahkan kepada penjual tiket untuk memilihkan bus untuk Anda. Pilihlah bus eksekutif yang cepat dan nyaman, jangan mau kalau dikasih tiket bus kelas ekonomi. Mumpung Anda masih punya kesempatan untuk memilih. Kenapa tidak digunakan sebaik-baiknya?

Kelihatan sepintas agak rumit untuk merumuskan tentang konsep nasib. Apalagi membawasertakan kuantum. Bagai menggabungkan minyak dengan air. Berpijak dari asumsi inilah, saya beranikan diri untuk menulis sesuatu yang “sukar” menurut perkiraan Anda itu. Suatu yang perlu kita ketahui, manusia memang doyan berpikir sufistik dan kompleks. Padahal ada cara lain yang lebih simpel dan renyah. Untuk apa berumit-rumit ria kalau ada rumus gampangnya.

Coba perhatikan apa yang ada di sekitar Anda. Adakah sesuatu yang dapat Anda pegang? Ya, tidak usah jauh-jauh. Pegang buku yang ada di genggaman Anda ini kuat-kuat. Buku ini adalah contoh yang baik. Karena Anda sudah memiliki dan menggenggamnya, tidak ada orang yang marah kalau Anda ingin memperlakukannya sesuka hati Anda. Kecuali jika Anda meminjamnya dari teman atau perpustakaan, itu baru memancing masalah.

Perhatikan baik-baik buku ini. Anda akan sependapat dengan saya, bahwa inilah contoh benda yang kasatmata, sesuatu yang dapat dilihat, dipegang dan dijatuhkan (asal jangan disobek). Kalau kita membayangkan sebuah piramida struktur materi, benda adalah berada pada bagian pangkalnya. Kemudian menyusul molekul (senyawa), atom dan partikel. Urutan dari benda sampai partikel adalah materi yang tampak, yang merupakan hardward.

Kalau bisa kita analogikan, benda sama dengan nasib. Maka secara jelas, nasib masing-masing orang pasti tidak sama. Nyatanya, kembali ke buku, ada buku yang super tebal ribuan halaman dan tipis belasan halaman, berukuran besar, sedang dan mungil, jenis kertanya juga tidak sama sesuai dengan seberapa besar uang yang Anda serahkan kepada kasir sewaktu membelinya. Begitu juga dengan nasib dari masing-masing kita.

Perbedaan ini didasarkan pada berbedanya bahan-bahan penyusun benda (nasib) tersebut. Dalam hal ini, kita akan mempertanyakan sejauh mana kekuatan ikatan molekulnya. Orang akan membayar mahal untuk kayu jati dan cendana, karena kualitasnya nomor satu. Tapi tidak untuk kayu akasia yang lunak dan tidak tahan air, harganya hampir menyentuh tanah, yang hanya cocok dijadikan kayu chip untuk bubur kertas. Di sinilah letak perbedaan karakter (analogi dari molekul) antara orang kelas A (mental juara) dengan level D atau E (orang-orang tipekal minderan dan pesimistik).

Senyawa atau molekul tadi sepenuhnya ditentukan oleh atom (unsur) penyusunnya. Karakter yang baik dibangun dari kebiasaan-kebiasaan yang positif. Senyawa mewakili karakter, sedangkan unsur adalah analogi dari kebiasaan. Orang yang berkarekter juara sudah terbiasa menerima kekalahkan, akrab dengan dinamisasi proses untuk mendapatkan cara yang lebih baik dan sering terjatuh sebelum mampu berdiri mantap di kedua kakinya sendiri. Sedangkan orang yang pesimistik adalah mereka yang tidak terbiasa menerima kekalahan atau takut kalah sebelum bertanding. Kebiasaan bersumber dari tindakan dan prilaku yang dilakukan secara konsisten. Orang yang selalu menggunakan tangan kanannya untuk melakukan pekerjaan apapun, maka kebiasaannya menyuap makanan juga menggunakan tangan kanan. Kebiasaan bisa dilatih, misalnya Anda begitu sulit untuk shalat tahajud (shalat malam). Coba disiplinkan diri Anda bangun jam 3.30 dini hari setiap hari. Pada bulan ketiga, Anda tidak akan berat lagi untuk mendirikan shalat tahajud karena sudah terbiasa.

Nasib, karakter, kebiasaan dan tindakan atau prilaku merupakan bagian yang tampak dari luar, kasatmata. Kita menyebutnya sebagai faktor indrawi, yang bisa teramati oleh pancaindra kita atau yang bersifat badaniah. Bagian badaniah ini, sebenarnya tidak terlalu dominan untuk merubah kehidupan seseorang secara mendasar, misalkan dari orang miskin menjadi kaya. Karena tubuh fisik kita gerakannya lambat, dan bukan ia yang menentukan segalanya. Ada bagian lain, yang lebih dalam dan halus, dari tubuh kita yang sebenarnya pengendalikan semua kerja mekanis badaniah kita itu. Itulah perangkat softward tubuh kita, yang di dalamnya terangkai segenap sistem operasional dari tubuh kita (hardward). Dialah pikiran, perasaan dan hati (jiwa). Bagian inilah yang terletak dalam ruang-ruang hampa kuanta. Bagian inilah yang tidak tampak itu, tapi kedudukannya sangat vital. Di sinilah energi kehidupan yang luar biasa hebatnya itu bersemayam. Tugas Anda adalah untuk menggerakannya, mengubahnya dari gelombang menjadi sesuatu yang nyata.

Kalau kita mampu mengubah dan menggerakan energi vibrasi ini, kemungkinan besar kita dapat merubah semua perilaku, kebiasaan, karakter dan nasib kita. Sebenarnya ada dua cara untuk dapat merubah energi vibrasi itu, dengan tangan kita sendiri atau mengikutsertakan campur tangan kekuasaan yang Maha Berkehendak, Tuhan.

Dengan tangan kita sendiri, sudah sangat jelas maksudnya. Kerja apa saja yang kita lakukan sesuai dengan profesi kita atau yang kini sedang kita geluti adalah masuk kategori yang dimaksudkan di sini. Tingkatan kerja yang kita lakukan ini akan sangat mempengaruhi sebesar apa energi vibrasi yang bisa kita ubah. Perhatikan lalu renungkan ayat berikut ini.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS Ar-Rad: 11)

Pada kalimat terakhir ayat di atas, bahwa sangat mudah bagi Allah untuk merubah keadaan suatu kaum (orang). Tapi posisi pertama tetap berada pada tangan orang yang bersangkutan, apakah dia ingin mengubah keadaan yang ada pada dirinya atau menerima saja apa yang ditakdirkan Allah atas hidupnya. Sama seperti seseorang yang menunggu di halte perenungan, apakah dia sendiri yang akan memilih bus atau dipilihkan oleh penjual tiket. Simpel saja, bukan?

Rumus sederhananya, jika Anda ingin mengubah nasib (realitas fisik) maka Anda harus mampu mengubah pikiran, perasaan dan hati (realitas kuantum) Anda terlebih dahulu. Pikiran, perasaan dan hati Andalah yang sebenarnya sebagai penyuplai energi yang tidak ada habisnya untuk mendukung kerja mekanis tubuh fisik Anda. Bukankah motivasi, optimisme, sensitifitas, emosional dan spiritualitas semuanya bersumber dari realitas kuantum ini?

Di sinilah letak bedanya antara seorang petani dengan salesman, seperti yang telah kita singgung pada bagian terdahulu. Seorang petani begitu sulit untuk kaya karena dalam pikirannya tertanam sebuah paradigma keliru, “Saya tidak mungkin kaya kalau cuma jadi petani.” Kenyataannya, apa yang terjadi persis sama dengan apa yang dia pikirkan. Ketika berpikir “tidak mungkin bisa”, maka energi vibrasi itu akan membentuk energi negatif sama persis dengan apa yang kita sketkan dalam pikiran kita.

Salesman tadi melihat dari sudut pandang yang berbeda, “Saya pasti bisa mencapai target penjualan.” Ketika dia berpikiran seperti itu, maka energi positif potensialnya akan bergerak ke arah sana. Kuanta akan mengubah dirinya menjadi optimisme sehingga mampu menggerakan anggota tubuh yang lain melakukan cara-cara kreatif untuk mendongkrak penjualan. Kuantanya lebih sensitif merasakan getaran vibrasi relasinya. Setiap kali dia hendak melakukan persentasi, selalu pada orang yang benar.

Sedangkan salesman yang tidak mampu memenuhi target, dia berpikiran tidak jauh beda dengan petani tadi, “Saya mungkin tidak bisa memenuhi target minggu ini.” Sehingga dia menjadi gugup dan tidak percaya diri. Dan mengambil langkah penyelamatan yang konyol, menawarkan produk kepada semua orang yang belum tentu berminat. Di sinilah, dia tidak dapat merasakan getaran kuantanya sendiri sehingga kesulitan menemukan pasangan gelombang kuanta pada orang lain (yang kemungkinan besar mau membeli produk yang ditawarkannya). Sedangkan mengenai pengemis tadi, sebentar lagi akan kita bincangkan di sini.

Ada sesuatu yang khas dari gelombang kuanta, dia akan berkecenderungan berkolaborasi dengan gelombang lain yang memiliki frekuensi yang sama. Realita yang tidak terbantahkan bahwa kita akan merasa nyaman ketika berada di dekat orang-orang yang memiliki kebiasaan, hobi, latar belakang, minat, cara pandang dan spiritualitas yang sama dengan kita. Sekarang urutkan nama-nama sahabat Anda, mulai dari paling akrab sampai cuma kenalan biasa. Semakin banyak kesamaan yang Anda miliki, maka semakin dekat persahabatan Anda dengan mereka. Rasulullah saw mengakatan bahwa ruh manusia (pada alam ruh) seperti tentara yang berbaris, dia akan mudah mengenali yang berbaju sama dengannya. Dan inilah sebuah fakta bahwa kita memiliki gelombang kuanta yang berfrekuensi sama dengan orang lain. Supaya pepatah lama mengatakan, birds with the same feathers flock together.

Sekarang kita akan ketuk pintu yang lain, pintu dari Sang Maha Berkehendak, Tuhan semesta alam. Ketika kita mengetuk pintu-Nya, Dia akan segera merespon apa yang kita inginkan. Tentunya ada trik tertentu yang harus kita lakukan. Pada tahapan ini, sebenarnya kita telah menyelam lebih dalam lagi. Setelah pikiran dan perasaan, sebenarnya ada lagi dimensi yang lebih halus dari itu, yakni hati (sumber spiritulitas tempat bersemayamnya God Spot). Kalau bisa dikatakan inilah bagian paling dalam dari bilik kuantum, yang menyimpan kebeningan dan juga kekeruhan sekaligus. Pemilahannya sepenuhnya berada di bawah kendali si empunya, yaitu Anda.

Rasulullah saw mengatakan bahwa hati inilah kunci penentu apakah seseorang baik atau tidak. Hati yang sehat akan mudah menangkap gelombang-gelombang ketauhidan. Sedangkan hati yang sakit, akan menjadi tumpul terhadap suara-suara kebaikan. Dan begitu sensitif untuk melakukan kemaksiatan dan dosa. Kalau saja Anda tidak menjaganya dengan baik, Anda akan kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam diri Anda.

Kalau bisa digambarkan secara sederhana, hati adalah radio transmiter yang mampu menangkap gelombang kuanta. Gelombang kuanta ini berada pada frekuensi 99,0 AH. Jika radio transmiter Anda baik, maka putarlah tuningnya pada frekuensi 99,0 AH. Anda akan dapat mendengarkan pancaran energi kuanta alam raya. Sebenarnya energi kuanta itu selalu memancar setiap saat, masalahnya apakah Anda memutar cannelnya atau tidak.

Mekanisme inilah yang bekerja saat kita berdoa. Karena itulah, Allah mengajarkan kepada kita ketika memohon kepada-Nya untuk selalu berada pada frekuensi 99,0 AH ini. Allah memiliki Asma’ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu. (QS. Al-Araaf: 180)

Pada saat kita berdoa, pikiran sadar dan bawah sadar kita akan menimbulkan vibrasi yang sangat kuat. Frekuensi getarannya itu sangat ditentukan dengan tingkat iman seseorang. Besarnya energi vibrasi tersebut bisa diukur dengan alat-alat tertentu dan digolongkan dalam fase beta, alfa, delta, dan gamma. Saat yang paling khusyuk berdoa, otak memasuki fase delta, di mana otak bawah sadar kita bekerja dan mengaktifkan gelombang kuanta tubuh yang lain. Sudah dibuktikan dengan berbagai eksperimen, ketika seseorang yang sedang berdoa, energi vibrasi yang ‘dipancarkan’ otaknya bisa masuk ke frekuensi 99,0 AH ini. Dalam saat yang bersamaan, akan ada respon balik. Maka, sudah jadi jaminan bahwa Allah akan mengabulkan setiap permintaan hamba yang memohon kepada-Nya.

Pada waktu-waktu tertentu, sepertiga malam terakhir, adalah waktu paling mustazab dikabulkannya doa. Pada waktu inilah, frekuensi 99,0 AH paling bening. Sangat dianjurkan Anda bangun pada waktu ini lalu bermohon kepada Tuhan pada frekuensi ini. Yakinlah, doa Anda akan segera mendapat respon dan Allah mengabulkannya. Doa yang Anda kirimkan ini adalah semacam gelombang pengumpan untuk mengubah bentuk kuanta yang ada dalam diri Anda. Tapi yang melakukannya bukan diri Anda lagi tapi kekuasaan dari Yang Maha Berkehendak.

Sebagian besar radio transmiter (hati) manusia, senantiasa bermasalah. Penghalang tidak terkabulnya doa, ada di sini penyebabnya, yaitu diri kita sendiri. Dalam bahasa psikologis penghalang ini disebut psychological reversal atau mental block. Kalau Al-Qur’an menyebutnya dengan istilah hati yang berpenyakit. Sedangkan Al-Ghazali mengidentifikasi sebagai hati yang hampir mati, kalau sudah mati maka dia akan menolak kebaikan dan mencintai segala macam kemasiatan. Satu solusi yang ditawarkan Al-Ghazali untuk hati yang sudah mati, ganti dengan hati yang baru. Bagaimana cara mengganti hati?

Jawaban simpel saja, operasi hati. Bagaimana caranya?
Anda harus memiliki keberanian lebih untuk mengoperasi hati Anda itu dengan banyak-banyak berzikir dan berdoa. Namun sebelumnya Anda harus mengamputasinya dengan tobat sebenar-benar tobat (tobat nasuha). Untuk selanjutnya, Anda biasakan untuk banyak berzikir, berdoa dan juga bersedekah. Sedakah juga bisa dijadikan sebagai terapi penyakit hati.

Cara lain untuk dapat menangkap frekuensi 99,0 AH adalah dengan banyak-banyak bersyukur. Pada setiap saat kita dianjurkan mengucapkan hamdalah (Alhamdulillah), secara otomatis otak kita akan masuk pada fase khusyuk. Hati kita menjadi tentram dan lapang sehingga geteran vibrasinya sangat kuat.

Begitu juga dengan sedekah, ini adalah sebuah mekanisme yang sangat mengagumkan untuk menambah potensial energi vibrasi kuanta kesuksesan Anda. Allah akan memberikan balasan yang teramat cepat dari setiap sedekah yang Anda keluarkan. Kuanta dari apa yang Anda sedekahkan itu sebenarnya tidak berkurang tapi malah bertambah. Tanpa Anda duga-duga, kuanta itu akan kembali kepada Anda dalam jumlah yang jauh lebih besar. Dengan kekuatan yang besar itu, sangat memungkinkan untuk merubah nasib Anda dalam waktu yang amat cepat. Inilah bukti kekuasaan Allah yang langsung dipertunjukkan di hadapan hidung Anda. Beberapa keajaiban sedekah ini akan saya sajikan dalam bab keempat dan kelima.
Buku ini saya dedikasikan untuk membuktikan sebuah “keajaiban” yang benar-benar ada itu. Dan, banyak orang yang telah mengalaminya termasuk saya sendiri. Sedekah adalah cara yang paling jitu untuk menggambarkan bahwa Tuhan turut serta mengubah takdir Anda melalui kekuatan energi kuanta yang luar biasa. Sejatinya sedekah itu adalah menambah energi kuanta Anda sendiri bukan menguranginya.

Dalam realitas kuantum, tak ada benda yang benar-benar padat (kita misalkan sebagai uang) semuanya hanya ruang hampa. Energi kuanta yang tak pernah diam itu akan bertambah besar bila volumenya diperbesar. Sedekah akan memperbesar volume kuanta yang Anda miliki. Dengan volume yang besar, tentunya di dapat mengubah apa saja termasuk nasib Anda. Sedekah adalah modal nyata untuk menumpuk kekayaan material dan spiritual dalam diri Anda. Ketika Anda membuka lembaran-lembaran setelah bab ini, Anda akan menemukan sesuatu yang mengagumkan, sesuatu yang dapat mengubah hidup Anda untuk selamanya. Dan sesuatu itu adalah nyata dalam realitas kuantum yang mengagumkan.

Dikuti dari buku Quantum Sedekah: Trik Jitu Melejitkan Kekayaan dan Spiritual, karya Nurrahman Effendi, Terbitan Grafindo, November 2008

Anda Tidak Harus Berubah

Entah sejak kapan, di Indonesia, para maha guru, motivator, inspirator ramai-ramai mengusung suatu tema yang sangat seksi “Change” atau perubahan. Seorang sahabat baik saya setiap saat setia menganjurkan: It’s time to change! Bagaimana Anda menyikapi change ini?

Saya pribadi menyetujui kalau perubahan itu penting, namun saya ingin menyikapi perubahan dengan hati-hati. Dengan kenaifan yang masih saya jaga sebaik-baiknya, saya bertanya kepada diri saya sendiri: Bukankah perubahan menyebabkan inkonsistensi? Lalu apa maksud para guru mengatakan: Perubahan itu harus! 

Sun-tzu, jenderal dari negeri Wu yang hidup sekitar 2.500 tahun yang lalu pernah mendapatkan pelajaran yang berharga dari paman raja, Ji Jia. Menurut bijaksana tersebut, perubahan merupakan bagian dari kehidupan, siang berubah menjadi malam dan sebaliknya terjadi berulang-ulang setiap 12 jam. Musim berubah setiap tiga bulan dan di daerah tropis berubah juga meskipun tidak seekstrem di daerah empat musim. Perubahan menciptakan problem sekaligus peluang. Jadi sebenarnya manusia tak perlu berubah, hanya menyesuaikan diri dengan perubahan sebaik-baiknya.

Legenda Jiang Taigong
Menurut legenda, pada masa negara-negara berperang di Tiongkok ada seorang pria bernama: Jiang Taigong (Khiong Taikung dalam dialek lainnya). Jiang Taigong sebenarnya seorang pemuda yang cerdas dan berbakat, sayangnya keluarganya tidak mampu membiayainya untuk mengikuti ujian negara di kota raja, sehingga ia terpaksa bertani untuk mencari nafkah.

Agaknya ia tidak mencapai kesuksesan di bidang tersebut, padi maupun tanaman lain yang diusahakannya dengan kerja keras dan dedikasi tinggi berkali-kali puso karena diserang berbagai macam hama tanaman. Jiang Taigong pernah memancing ikan di sungai dan selama tiga hari tiga malam tidak mendapatkan seekor ikan kecil sekalipun. Jiang Taigong pun berganti pekerjaan sebagai kuli angkut di kota. Tenaganya memang besar dan karena itu banyak orang yang menggunakan jasanya, sayangnya, upah sebagai buruh kasar tidak seberapa dan karena ia makannya banyak sekali, tidak ada sepeserpun sisa yang dapat dibawa pulang untuk keluarganya. Sekali lagi Jiang Taigong berganti pekerjaan, kali ini ia menjadi pedagang keliling. Tetapi tampaknya ia belum bernasib mujur juga, dagangannya berupa sayur-mayur dan ikan tidak laku dan bangkrutlah dia.

Ia harus berubah, sekali ini ia memutuskan untuk menjajakan garam, pikirnya garam tidak akan membusuk seperti sayuran dan ikan bila tidak terjual dalam sehari, masih dapat dilanjutkan hari berikutnya. Dan seperti yang diperkirakannya, dua keranjang garam yang dijajakannya tidak terjual habis dalam waktu seminggu, namun ia tidak berputus-asa dan meneruskan usahanya.

Suatu siang yang panas-terik, Jiang Taigong merasa penat dan ia lalu beristirahat di bawah sebatang pohon rindang di pinggir jalan desa. Angin sepoi-sepoi membuatnya mengantuk dan tertidur. Ketika itulah, seekor burung terbang melintas di atas keranjang garamnya. Burung itu membawa seekor ulat hijau di paruhnya, dan ketika tepat berada di atas keranjang garam Jiang Taigong, ulat tersebut terlepas dari jepitan paruhnya dan jatuh di atas garam. Tak lama kemudian Jiang Taigong terbangun dan mulai memikul garamnya tanpa menyadari apa yang telah terjadi. Ia menjajakannya di sebuah pasar. Saat itu kebetulan ada seorang nyonya kaya hendak membeli garam. Tampaknya untuk pertama kalinya, Jiang Taigong akan bernasib mujur, seandainya saja, nyonya yang kaya itu tidak memergoki ulat di atas garam yang hendak dibelinya itu. Ia segera berteriak histeris dan berlari pergi sambil berteriak: Garamnya berulat! Garamnya berulat! Peristiwa itu kemudian menjadi terkenal dan menjadi pepatah: Sialnya Jiang Taigong bangkrut jualan sayar-mayur, barangkali ia telah kualat pada langit, jual garam saja berulat.

Namun setelah peristiwa itu, Jiang Taigong mengubah cara berpikirnya, ia tak sudi lagi bergelut melawan problemnya atau keadaan yang selalu sial. Ia mulai memikirkan apa yang diinginkannya. Ia benar-benar menginginkan kesuksesan. Dan suatu malam ia bermimpi menjadi penasihat militer raja.

Ia tak peduli manusia sekolong langit menertawakannya dan istrinya meninggalkannya, Jiang Taigong segera pergi ke kota raja untuk melamar jadi prajurit kerajaan. Dan mulailah nasibnya berubah, dengan cepat ia naik pangkat menjadi perwira kemudian panglima besar yang memimpin selaksa tentara memadamkan pemberontakan-pemberontakan. Setelah keadaan negeri menjadi aman, Jiang Taigong pulang ke kampung halaman dengan segala kemuliaannya.

Tip:
Pertama teliti present state (keadaan sekarang) yang sedang Anda hadapi. Anda tidak dapat berpindah dari keadaan sekarang kecuali Anda menginginkan keadaan lain yang jauh lebih baik.

Kedua set outcome state atau desired state (keadaan yang Anda inginkan) sejelas-jelasnya sehingga memenuhi well-formedness sebelum Anda memutuskan untuk berganti pekerjaan, profesi atau pasangan Anda. Suatu outcome dikatakan well-formedness bila memenuhi hal-hal berikut ini:

  1. Spesifik, jelas dan menggunakan pernyataan positif.
  2. Ekologi dan kongruen; artinya tidak bertentangan dengan outcome/goals yang lebih kecil, dan mempertimbangkan “harga” atau pengorbanannya.
  3. Hambatan apa yang perlu diatasi atau disingkirkan? Dan sumber daya apa yang perlu ditambah/didapatkan?
  4. Amat penting bagi Anda untuk mencapainya, men-transformasi kehidupan Anda dan orang-orang yang Anda kasihi.
  5. Terbukti secara sensory, artinya Anda dapat merasakan, melihat dan mendengar saat ini seakan-akan Anda telah mencapai apa yang Anda inginkan.

Source : http://www.ernijulia.com