Teori Kuantum, Telepati, & Teleportasi

Energi Ambang
Elektron terletak dalam orbital-orbital tertentu. Sebagaimana Postulat Bohr.

Elektron memerlukan energi ambang tertentu agar dapat berpindah lintasan. Energi ambang adalah energi minimal yang diperlukan elektron untuk naik menuju orbital yang lebih tinggi. Energi itu tidak kontinum, melainkan diskrit, artinya terkuantifikasi. Paket-paket energi yang terkuantifikasi ini dalam bentuk radiasi atau gelombang disebut kuanta energi. Menurut Max Planck, besarnya energi tersebut adalah h f dengan h adalah konstanta planck yang besarnya 6,63 x 10^{-34} joule detik.

Elektron hanya bisa punya energi dalam kelipatan bulat kuanta ini. Tidak hanya pada elektron tetapi juga foton dan semua zarah renik di tingkat subatom. Inilah asal-usul nama kuantum pada fisika kuantum yang kita pelajari ini. Fisika kuantum mempelajari perilaku zarah-zarah subatomik, dinamika dan interaksinya, serta relasinya dengan medan yang memengaruhinya.”

Teori Kuantum
Teori kuantum dari Max Planck mencoba menerangkan radiasi karakteristik yang dipancarkan oleh benda mampat. Radiasi inilah yang menunjukan sifat partikel dari gelombang. Radiasi yang dipancarkan setiap benda terjadi secara tidak kontinyu (discontinue) dipancarkan dalam satuan kecil yang disebut kuanta (energi kuantum).

Max Planck
Planck berpendapat bahwa kuanta yang berbanding lurus dengan frekuensi tertentu dari cahaya, semuanya harus berenergi sama dan energi ini E berbanding lurus dengan.

Jadi :
E = h.V
E = Energi kuantum
h = Tetapan Planck = 6,626 x 10-34 J.s
V = Frekuensi

Planck menganggap hawa energi elektromagnetik yang diradiasikan oleh benda, timbul secara terputus-putus walaupun penjalarannya melalui ruang merupakan gelombang elektromagnetik yang kontinyu.

Einstein
Einstein mengusulkan bukan saja cahaya yang dipancarkan menurut suatu kuantum pada saat tertentu tetapi juga menjalar menurut kuanta individual. Hipotesis ini menerangkan efek fotolistrik, yaitu elektron yang terpancar bila frekuensi cahaya cukup tinggi, terjadi dalam daerah cahaya tampak dan ultraungu.

Hipotesa dari Max Planck dan Einstein menghasilkan rumusan empiris tentang efek fotolistrik yaitu :

hV = Kmaks + hVo
hV = Isi energi dari masing-masing kuantum cahaya datang
Kmaks = Energi fotoelektron maksimum
hVo = Energi minimum yang diperlukan untuk melepaskan sebuah elektron dari permukaan logam yang disinari

Tidak semua fotoelektron mempunyai energi yang sama sekalipun frekuensi cahaya yang digunakan sama. Tidak semua energi foton (hv) bisa diberikan pada sebuah elektron. Suatu elektron mungkin akan hilang dari energi awalnya dalam interaksinya dengan elektron lainnya di dalam logam sebelum ia lenyap dari permukaan. Untuk melepaskan elektron dari permukaan logam biasanya memerlukan separuh dari energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron dari atom bebas dari logam yang bersangkutan.

Penafsiran Einstein mengenai fotolistrik dikuatkan dengan emisi termionik. Dalam emisi foto listrik, foton cahaya menyediakan energi yang diperlukan oleh elektron untuk lepas, sedangkan dalam emisi termionik kalorlah yang menyediakannya.

Usul Planck bahwa benda memancarkan cahaya dalam bentuk kuanta tidak bertentangan dengan penjalaran cahaya sebagai gelombang. Sementara Einstein menyatakan cahaya bergerak melalui ruang dalam bentuk foton. Kedua hal ini baru dapat diterima setelah eksperimen Compton. Eksperimen ini menunjukan adanya perubahan panjang gelombang dari foton yang terhambur dengan sudut (f) tertentu oleh partikel bermassa diam (mo). Perubahan ini tidak bergantung dari panjang gelombang foton datang (l).

Hasil pergeseran compton sangat kecil dan tidak terdeteksi. Hal ini terjadi karena sebagian elektron dalam materi terikat lemah pada atom induknya dan sebagian lainnya terikat kuat. Jika elektron d timbulkan oleh foton, seluruh atom bergerak, bukan hanya elektron tunggalnya.

Untuk lebih memahami tinjauan teori kuantum dan teori gelombang yang saling melengkapi, marilah kita amati riak yang menyebar dari permukaan air jika kita menjatuhkan batu ke permukaan air.
Pernahkan Anda perhatikan hal ini?

Riak yang menyebar pada permukaan air akan hilang dengan masuknya batu ke dasar.

Analogi ini dapat menjelaskan energi yang dibawa cahaya terdistribusi secara kontinyu ke seluruh pola gelombang. Hal ini menurut tinjauan teori gelombang sedangkan menurut teori kuantum, cahaya menyebar dari sumbernya sebagai sederetan konsentrasi energi yang teralokalisasi masing-masing cukup kecil sehingga dapat diserap oleh sebuah elektron.

Teori gelombang cahaya menjelaskan difraksi dan interferensi yang tidak dapat dijelaskan oleh teori kuantum. Sedangkan teori kuantum menjelaskan efek fotolistrik yang tidak dapat dijelaskan oleh teori gelombang.

  • a) Teori gelombang cahaya menjelaskan difraksidan interferensi yang tidak dapat dijelaskan oleh teori kuantum.
  • b) Teori kuantum menjelaskan efek fotolistrik yang tidak dapat di jelaskan oleh teori gelombang.

Bila cahaya melalui celah-celah, cahaya berlalu sebagai gelombang, ketika tiba di layar cahaya berlalu sebagai partikel.

Berdasarkan data tersebut, dilakukan eksperimen lanjutan yang meneliti sifat dualisme gelombang dan partikel.

Telepati dan Teleportasi
Sebagai rumusan dasar dalam ilmu sains, rumusan Newton, F=m.a, memberikan pengaruh dan kegunaan yang cukup besar. Kehadiran rumusan hukum kekekalan energi dan momentum, misalnya, tidak lain dikembangkan dari rumus dasar Newton.Berdasarkan rumusan Newton pula maka berkembang ilmu optika klasik, mekanika, dan mesin-mesin. Buah dari karya besar Newton itu antara lain termanifestasi dalam peradaban mesin-mesin industri. Sir Issac Newton dapat diakui sebagai ilmuwan besar abad 17 hingga abad 20.

Akan tetapi, dengan berawal dari ketidakpuasan para ilmuwan terhadap rumusan Newton untuk menjelaskan dinamika elektron-struktur atomik-maka berkembanglah teori baru. Berawal dari tesis Albert Einstein melalui rumusan E= mc2, lebih lanjut menjadi arahan bagi para ilmuwan untuk dapat memodelkan dinamika elektron dengan lebih tepat. Dari rumusan Einstein, ternyata terbukti bahwa rumusan Newton pada dasarnya merupakan pendekatan dari rumusan E=mc2. Hal ini terjadi karena dinamika gerak partikel masif adalah << (baca: jauh lebih kecil dari) kecepatan cahaya, c. Dengan kata lain, rumusan F=m.a adalah pendekatan dari E=mc2. Namun, kehadiran rumusan Einstein tidak secara otomatis meniadakan hukum-hukum yang dikembangkan berdasarkan Newton.

Seiring dengan pembuktian Einstein dan kawan-kawan dalam bidang fisika ini, maka berkembanglah cabang ilmu Fisika Kuantum. Dari namanya kuantum diambil dari kuanta-energi yang dipancarkan oleh loncatan elektron. Lebih lanjut, Scrodinger berhasil memberikan rumusan peluang elektron untuk dapat melakukan terobosan pada suatu dinding penghalang. Lebih lanjut, kuantum ini dimodelkan melalui sumur-sumur kuantum. Pada sumur itu digambarkan elektron yang hendak menembus dinding sumur pembatas dengan probabilitas tertentu.

Telepati dan teleportasi

Jika 14 abad yang lalu umat Islam meyakini peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, maka teori kuantum memberikan arahan yang berarti untuk menjelaskan fenomena aneh itu. Bahkan untuk fenomena telepati, sihir, pengobatan jarak jauh, dan teleportasi.

Meditasi Anand Krisna, misalnya, jika kita perhatikan tidak lain mengikuti konsep kuantum. Dengan melakukan penenangan batin serta diikuti ritme goyangan tubuh berirama, seseorang akan mengalami “kepuasan” tertentu. Teknik ini juga sering dilakukan pada penyembuhan alternatif dengan menggunakan energi prana, chi. Jika kita melihat sebentar pada pondok-pondok salaf, kita perhatikan para santri yang berzikir sambil goyang kepala. Juga dikisahkan, para waliullah dan kiai dapat terbang dengan kecepatan kilat.

Apa sesungguhnya yang sedang terjadi? Di manakah kuantum itu terjadi? Teori kuantum menjelaskan fenomena loncatan elektron (kuanta-kuanta energi) suatu partikel yang mengalami eksitasi, yang diakibatkan oleh pengaruh getaran, pemanasan, atau pemancaran. Efek fotolistrik dan Compton menjelaskan hal ini. Pada kasus logam yang dipanasi, ia dapat memancarkan elektron. Logam yang disinari, terjadi kuantum. Hal ini menyebabkan perubahan struktur atomik suatu partikel tertentu. Perubahan itu melibatkan pemindahan elektron yang sekaligus memancarkan energi foton. Pendek kata, fenomena di atas terjadi karena transfer energi elektromagnetik.

Richard Feyman, ilmuwan Amerika Serikat yang berhasil memenangkan Nobel Fisika atas temuannya, membuktikan bahwa suatu partikel masih dapat dipindahkan menembus batas dinding partikel tanpa mengalami kerusakan. Pada kesempatan yang lain, Dr Ivan Geiver (pemenang Nobel Fisika) dari Amerika juga semakin menguatkan khazanah ilmu kuantum ini.

Temuan Feyman dan Geiver ini memberikan pengertian kepada kita bahwa teleportasi-perpindahan fisik seseorang yang menembus ruang pembatas-adalah rasional. Begitu pula dengan Isra’ Mi’raj. Jika seseorang sudah dapat melakukan suatu perlakuan khusus terhadap dirinya sampai batas energi ambang, maka orang tersebut memungkinkan mengalami derajat emanasi, eksitasi, atau kuantum. Sama persis dengan energi ambang yang dibutuhkan suatu logam untuk dapat melakukan kuantum.

Manifestasi dari kuantum ini adalah memungkinkan seseorang ini mengirimkan sinyal jarak jauh, sinyal yang berupa medan elektromagnetik. Jika dapat mengubah partikel diri seolah menjadi susunan-susunan elektron yang tereksitasi, maka terjadilah loncatan secepat cahaya. Maka, tukar informasi-telepati-terjadi. Lihat juga peristiwa kirim energi melalui televisi pada acara mingguan Dedy Corbuzier. Jika kejadian ini sampai melibatkan pemindahan fisik tubuhnya, maka orang ini mencapai derajat teleportasi.

Dari sudut pandang teori kuantum ini maka jelaslah bahwa tabir Isra’ Mi’raj, telepati, teleportasi; sudah mendapatkan penjelasan fisik. Artinya, sebagian besar orang yang tidak mengakui fenomena ini-karena alasan tidak ada bukti fisiknya-dewasa ini sudah terbantahkan. Hal yang dulu dianggap metafisika dan gaib, berdasarkan teori kuantum telah mendapatkan pembenaran fisik. Senada dengan teori kuantum, maka teknik goyang ritmis berirama pada ritual meditasi, zikir, serta pengobatan alternatif.

Teknik goyangan tubuh berirama pada dasarnya merupakan cara untuk memicu eksitasi eletron tubuh kita agar dapat memancarkan gelombang cahaya dengan frekuensi tertentu. Jika teknik goyangan ini cukup kuat dan kontinu sampai derajad energi ambang terlampui.

Dari sudut pandang ilmiah, maka kita semakin meyakini bahwa ilmu-ilmu fisik (fisika) dewasa ini sudah menyatu dengan dimensi gaib dan spiritualitas. Jika kita sempat membaca tulisan Frictof Capra pada bukunya Titik Balik Peradaban, terang sudah bahwasanya khazanah ilmu barat dan timur dewasa ini sudah dalam tahap penyatuan. Khazanah barat yang unggul dalam riset, eksperimentasi, dan rasionalitas; serta timur yang lebih dominan dalam aspek spiritualitas.

Oleh karena itu, era pasca-Einstein telah menjadi pembuka tabir penyatuan paradigma timur dan barat. Dan, kuantum adalah laksana jembatan antara peradaban timur dan barat. Kuantum yang secara empiris ditemukan pada abad 20, maka di dunia timur sudah mengakar cukup kuat sejak peradaban Cina Kuno dan India Kuno, 25 abad yang lalu. Dunia timur mengenal hukum paradoks lebih awal. Kita tahu, salah satu hukum dalam teori kuantum adalah hukum paradoks.

Iklan

>Lompatan Kuantum Nasib

>

Beranjak lebih dalam lagi, kita akan memasuki sebuah dimensi yang sungguh amat menganggumkan. Kita akan mengunjungi sebuah bagian yang bernama “halte perenungan”. Dinamakan halte perenungan karena di sinilah kita merenung sejenak, memanfaatkan menit-menit sebelum jemputan yang ditunggu datang, tentang hakikat kebaradaan diri kita di antara miliran galaksi dan triliunan bintang-bintang.by Nurrahman Effendi

Pada halte ini juga Anda akan memutuskan bus mana yang hendak Anda tumpangi. Saran saya, jangan memasrahkan kepada penjual tiket untuk memilihkan bus untuk Anda. Pilihlah bus eksekutif yang cepat dan nyaman, jangan mau kalau dikasih tiket bus kelas ekonomi. Mumpung Anda masih punya kesempatan untuk memilih. Kenapa tidak digunakan sebaik-baiknya?

Kelihatan sepintas agak rumit untuk merumuskan tentang konsep nasib. Apalagi membawasertakan kuantum. Bagai menggabungkan minyak dengan air. Berpijak dari asumsi inilah, saya beranikan diri untuk menulis sesuatu yang “sukar” menurut perkiraan Anda itu. Suatu yang perlu kita ketahui, manusia memang doyan berpikir sufistik dan kompleks. Padahal ada cara lain yang lebih simpel dan renyah. Untuk apa berumit-rumit ria kalau ada rumus gampangnya.

Coba perhatikan apa yang ada di sekitar Anda. Adakah sesuatu yang dapat Anda pegang? Ya, tidak usah jauh-jauh. Pegang buku yang ada di genggaman Anda ini kuat-kuat. Buku ini adalah contoh yang baik. Karena Anda sudah memiliki dan menggenggamnya, tidak ada orang yang marah kalau Anda ingin memperlakukannya sesuka hati Anda. Kecuali jika Anda meminjamnya dari teman atau perpustakaan, itu baru memancing masalah.

Perhatikan baik-baik buku ini. Anda akan sependapat dengan saya, bahwa inilah contoh benda yang kasatmata, sesuatu yang dapat dilihat, dipegang dan dijatuhkan (asal jangan disobek). Kalau kita membayangkan sebuah piramida struktur materi, benda adalah berada pada bagian pangkalnya. Kemudian menyusul molekul (senyawa), atom dan partikel. Urutan dari benda sampai partikel adalah materi yang tampak, yang merupakan hardward.

Kalau bisa kita analogikan, benda sama dengan nasib. Maka secara jelas, nasib masing-masing orang pasti tidak sama. Nyatanya, kembali ke buku, ada buku yang super tebal ribuan halaman dan tipis belasan halaman, berukuran besar, sedang dan mungil, jenis kertanya juga tidak sama sesuai dengan seberapa besar uang yang Anda serahkan kepada kasir sewaktu membelinya. Begitu juga dengan nasib dari masing-masing kita.

Perbedaan ini didasarkan pada berbedanya bahan-bahan penyusun benda (nasib) tersebut. Dalam hal ini, kita akan mempertanyakan sejauh mana kekuatan ikatan molekulnya. Orang akan membayar mahal untuk kayu jati dan cendana, karena kualitasnya nomor satu. Tapi tidak untuk kayu akasia yang lunak dan tidak tahan air, harganya hampir menyentuh tanah, yang hanya cocok dijadikan kayu chip untuk bubur kertas. Di sinilah letak perbedaan karakter (analogi dari molekul) antara orang kelas A (mental juara) dengan level D atau E (orang-orang tipekal minderan dan pesimistik).

Senyawa atau molekul tadi sepenuhnya ditentukan oleh atom (unsur) penyusunnya. Karakter yang baik dibangun dari kebiasaan-kebiasaan yang positif. Senyawa mewakili karakter, sedangkan unsur adalah analogi dari kebiasaan. Orang yang berkarekter juara sudah terbiasa menerima kekalahkan, akrab dengan dinamisasi proses untuk mendapatkan cara yang lebih baik dan sering terjatuh sebelum mampu berdiri mantap di kedua kakinya sendiri. Sedangkan orang yang pesimistik adalah mereka yang tidak terbiasa menerima kekalahan atau takut kalah sebelum bertanding. Kebiasaan bersumber dari tindakan dan prilaku yang dilakukan secara konsisten. Orang yang selalu menggunakan tangan kanannya untuk melakukan pekerjaan apapun, maka kebiasaannya menyuap makanan juga menggunakan tangan kanan. Kebiasaan bisa dilatih, misalnya Anda begitu sulit untuk shalat tahajud (shalat malam). Coba disiplinkan diri Anda bangun jam 3.30 dini hari setiap hari. Pada bulan ketiga, Anda tidak akan berat lagi untuk mendirikan shalat tahajud karena sudah terbiasa.

Nasib, karakter, kebiasaan dan tindakan atau prilaku merupakan bagian yang tampak dari luar, kasatmata. Kita menyebutnya sebagai faktor indrawi, yang bisa teramati oleh pancaindra kita atau yang bersifat badaniah. Bagian badaniah ini, sebenarnya tidak terlalu dominan untuk merubah kehidupan seseorang secara mendasar, misalkan dari orang miskin menjadi kaya. Karena tubuh fisik kita gerakannya lambat, dan bukan ia yang menentukan segalanya. Ada bagian lain, yang lebih dalam dan halus, dari tubuh kita yang sebenarnya pengendalikan semua kerja mekanis badaniah kita itu. Itulah perangkat softward tubuh kita, yang di dalamnya terangkai segenap sistem operasional dari tubuh kita (hardward). Dialah pikiran, perasaan dan hati (jiwa). Bagian inilah yang terletak dalam ruang-ruang hampa kuanta. Bagian inilah yang tidak tampak itu, tapi kedudukannya sangat vital. Di sinilah energi kehidupan yang luar biasa hebatnya itu bersemayam. Tugas Anda adalah untuk menggerakannya, mengubahnya dari gelombang menjadi sesuatu yang nyata.

Kalau kita mampu mengubah dan menggerakan energi vibrasi ini, kemungkinan besar kita dapat merubah semua perilaku, kebiasaan, karakter dan nasib kita. Sebenarnya ada dua cara untuk dapat merubah energi vibrasi itu, dengan tangan kita sendiri atau mengikutsertakan campur tangan kekuasaan yang Maha Berkehendak, Tuhan.

Dengan tangan kita sendiri, sudah sangat jelas maksudnya. Kerja apa saja yang kita lakukan sesuai dengan profesi kita atau yang kini sedang kita geluti adalah masuk kategori yang dimaksudkan di sini. Tingkatan kerja yang kita lakukan ini akan sangat mempengaruhi sebesar apa energi vibrasi yang bisa kita ubah. Perhatikan lalu renungkan ayat berikut ini.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS Ar-Rad: 11)

Pada kalimat terakhir ayat di atas, bahwa sangat mudah bagi Allah untuk merubah keadaan suatu kaum (orang). Tapi posisi pertama tetap berada pada tangan orang yang bersangkutan, apakah dia ingin mengubah keadaan yang ada pada dirinya atau menerima saja apa yang ditakdirkan Allah atas hidupnya. Sama seperti seseorang yang menunggu di halte perenungan, apakah dia sendiri yang akan memilih bus atau dipilihkan oleh penjual tiket. Simpel saja, bukan?

Rumus sederhananya, jika Anda ingin mengubah nasib (realitas fisik) maka Anda harus mampu mengubah pikiran, perasaan dan hati (realitas kuantum) Anda terlebih dahulu. Pikiran, perasaan dan hati Andalah yang sebenarnya sebagai penyuplai energi yang tidak ada habisnya untuk mendukung kerja mekanis tubuh fisik Anda. Bukankah motivasi, optimisme, sensitifitas, emosional dan spiritualitas semuanya bersumber dari realitas kuantum ini?

Di sinilah letak bedanya antara seorang petani dengan salesman, seperti yang telah kita singgung pada bagian terdahulu. Seorang petani begitu sulit untuk kaya karena dalam pikirannya tertanam sebuah paradigma keliru, “Saya tidak mungkin kaya kalau cuma jadi petani.” Kenyataannya, apa yang terjadi persis sama dengan apa yang dia pikirkan. Ketika berpikir “tidak mungkin bisa”, maka energi vibrasi itu akan membentuk energi negatif sama persis dengan apa yang kita sketkan dalam pikiran kita.

Salesman tadi melihat dari sudut pandang yang berbeda, “Saya pasti bisa mencapai target penjualan.” Ketika dia berpikiran seperti itu, maka energi positif potensialnya akan bergerak ke arah sana. Kuanta akan mengubah dirinya menjadi optimisme sehingga mampu menggerakan anggota tubuh yang lain melakukan cara-cara kreatif untuk mendongkrak penjualan. Kuantanya lebih sensitif merasakan getaran vibrasi relasinya. Setiap kali dia hendak melakukan persentasi, selalu pada orang yang benar.

Sedangkan salesman yang tidak mampu memenuhi target, dia berpikiran tidak jauh beda dengan petani tadi, “Saya mungkin tidak bisa memenuhi target minggu ini.” Sehingga dia menjadi gugup dan tidak percaya diri. Dan mengambil langkah penyelamatan yang konyol, menawarkan produk kepada semua orang yang belum tentu berminat. Di sinilah, dia tidak dapat merasakan getaran kuantanya sendiri sehingga kesulitan menemukan pasangan gelombang kuanta pada orang lain (yang kemungkinan besar mau membeli produk yang ditawarkannya). Sedangkan mengenai pengemis tadi, sebentar lagi akan kita bincangkan di sini.

Ada sesuatu yang khas dari gelombang kuanta, dia akan berkecenderungan berkolaborasi dengan gelombang lain yang memiliki frekuensi yang sama. Realita yang tidak terbantahkan bahwa kita akan merasa nyaman ketika berada di dekat orang-orang yang memiliki kebiasaan, hobi, latar belakang, minat, cara pandang dan spiritualitas yang sama dengan kita. Sekarang urutkan nama-nama sahabat Anda, mulai dari paling akrab sampai cuma kenalan biasa. Semakin banyak kesamaan yang Anda miliki, maka semakin dekat persahabatan Anda dengan mereka. Rasulullah saw mengakatan bahwa ruh manusia (pada alam ruh) seperti tentara yang berbaris, dia akan mudah mengenali yang berbaju sama dengannya. Dan inilah sebuah fakta bahwa kita memiliki gelombang kuanta yang berfrekuensi sama dengan orang lain. Supaya pepatah lama mengatakan, birds with the same feathers flock together.

Sekarang kita akan ketuk pintu yang lain, pintu dari Sang Maha Berkehendak, Tuhan semesta alam. Ketika kita mengetuk pintu-Nya, Dia akan segera merespon apa yang kita inginkan. Tentunya ada trik tertentu yang harus kita lakukan. Pada tahapan ini, sebenarnya kita telah menyelam lebih dalam lagi. Setelah pikiran dan perasaan, sebenarnya ada lagi dimensi yang lebih halus dari itu, yakni hati (sumber spiritulitas tempat bersemayamnya God Spot). Kalau bisa dikatakan inilah bagian paling dalam dari bilik kuantum, yang menyimpan kebeningan dan juga kekeruhan sekaligus. Pemilahannya sepenuhnya berada di bawah kendali si empunya, yaitu Anda.

Rasulullah saw mengatakan bahwa hati inilah kunci penentu apakah seseorang baik atau tidak. Hati yang sehat akan mudah menangkap gelombang-gelombang ketauhidan. Sedangkan hati yang sakit, akan menjadi tumpul terhadap suara-suara kebaikan. Dan begitu sensitif untuk melakukan kemaksiatan dan dosa. Kalau saja Anda tidak menjaganya dengan baik, Anda akan kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam diri Anda.

Kalau bisa digambarkan secara sederhana, hati adalah radio transmiter yang mampu menangkap gelombang kuanta. Gelombang kuanta ini berada pada frekuensi 99,0 AH. Jika radio transmiter Anda baik, maka putarlah tuningnya pada frekuensi 99,0 AH. Anda akan dapat mendengarkan pancaran energi kuanta alam raya. Sebenarnya energi kuanta itu selalu memancar setiap saat, masalahnya apakah Anda memutar cannelnya atau tidak.

Mekanisme inilah yang bekerja saat kita berdoa. Karena itulah, Allah mengajarkan kepada kita ketika memohon kepada-Nya untuk selalu berada pada frekuensi 99,0 AH ini. Allah memiliki Asma’ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu. (QS. Al-Araaf: 180)

Pada saat kita berdoa, pikiran sadar dan bawah sadar kita akan menimbulkan vibrasi yang sangat kuat. Frekuensi getarannya itu sangat ditentukan dengan tingkat iman seseorang. Besarnya energi vibrasi tersebut bisa diukur dengan alat-alat tertentu dan digolongkan dalam fase beta, alfa, delta, dan gamma. Saat yang paling khusyuk berdoa, otak memasuki fase delta, di mana otak bawah sadar kita bekerja dan mengaktifkan gelombang kuanta tubuh yang lain. Sudah dibuktikan dengan berbagai eksperimen, ketika seseorang yang sedang berdoa, energi vibrasi yang ‘dipancarkan’ otaknya bisa masuk ke frekuensi 99,0 AH ini. Dalam saat yang bersamaan, akan ada respon balik. Maka, sudah jadi jaminan bahwa Allah akan mengabulkan setiap permintaan hamba yang memohon kepada-Nya.

Pada waktu-waktu tertentu, sepertiga malam terakhir, adalah waktu paling mustazab dikabulkannya doa. Pada waktu inilah, frekuensi 99,0 AH paling bening. Sangat dianjurkan Anda bangun pada waktu ini lalu bermohon kepada Tuhan pada frekuensi ini. Yakinlah, doa Anda akan segera mendapat respon dan Allah mengabulkannya. Doa yang Anda kirimkan ini adalah semacam gelombang pengumpan untuk mengubah bentuk kuanta yang ada dalam diri Anda. Tapi yang melakukannya bukan diri Anda lagi tapi kekuasaan dari Yang Maha Berkehendak.

Sebagian besar radio transmiter (hati) manusia, senantiasa bermasalah. Penghalang tidak terkabulnya doa, ada di sini penyebabnya, yaitu diri kita sendiri. Dalam bahasa psikologis penghalang ini disebut psychological reversal atau mental block. Kalau Al-Qur’an menyebutnya dengan istilah hati yang berpenyakit. Sedangkan Al-Ghazali mengidentifikasi sebagai hati yang hampir mati, kalau sudah mati maka dia akan menolak kebaikan dan mencintai segala macam kemasiatan. Satu solusi yang ditawarkan Al-Ghazali untuk hati yang sudah mati, ganti dengan hati yang baru. Bagaimana cara mengganti hati?

Jawaban simpel saja, operasi hati. Bagaimana caranya?
Anda harus memiliki keberanian lebih untuk mengoperasi hati Anda itu dengan banyak-banyak berzikir dan berdoa. Namun sebelumnya Anda harus mengamputasinya dengan tobat sebenar-benar tobat (tobat nasuha). Untuk selanjutnya, Anda biasakan untuk banyak berzikir, berdoa dan juga bersedekah. Sedakah juga bisa dijadikan sebagai terapi penyakit hati.

Cara lain untuk dapat menangkap frekuensi 99,0 AH adalah dengan banyak-banyak bersyukur. Pada setiap saat kita dianjurkan mengucapkan hamdalah (Alhamdulillah), secara otomatis otak kita akan masuk pada fase khusyuk. Hati kita menjadi tentram dan lapang sehingga geteran vibrasinya sangat kuat.

Begitu juga dengan sedekah, ini adalah sebuah mekanisme yang sangat mengagumkan untuk menambah potensial energi vibrasi kuanta kesuksesan Anda. Allah akan memberikan balasan yang teramat cepat dari setiap sedekah yang Anda keluarkan. Kuanta dari apa yang Anda sedekahkan itu sebenarnya tidak berkurang tapi malah bertambah. Tanpa Anda duga-duga, kuanta itu akan kembali kepada Anda dalam jumlah yang jauh lebih besar. Dengan kekuatan yang besar itu, sangat memungkinkan untuk merubah nasib Anda dalam waktu yang amat cepat. Inilah bukti kekuasaan Allah yang langsung dipertunjukkan di hadapan hidung Anda. Beberapa keajaiban sedekah ini akan saya sajikan dalam bab keempat dan kelima.
Buku ini saya dedikasikan untuk membuktikan sebuah “keajaiban” yang benar-benar ada itu. Dan, banyak orang yang telah mengalaminya termasuk saya sendiri. Sedekah adalah cara yang paling jitu untuk menggambarkan bahwa Tuhan turut serta mengubah takdir Anda melalui kekuatan energi kuanta yang luar biasa. Sejatinya sedekah itu adalah menambah energi kuanta Anda sendiri bukan menguranginya.

Dalam realitas kuantum, tak ada benda yang benar-benar padat (kita misalkan sebagai uang) semuanya hanya ruang hampa. Energi kuanta yang tak pernah diam itu akan bertambah besar bila volumenya diperbesar. Sedekah akan memperbesar volume kuanta yang Anda miliki. Dengan volume yang besar, tentunya di dapat mengubah apa saja termasuk nasib Anda. Sedekah adalah modal nyata untuk menumpuk kekayaan material dan spiritual dalam diri Anda. Ketika Anda membuka lembaran-lembaran setelah bab ini, Anda akan menemukan sesuatu yang mengagumkan, sesuatu yang dapat mengubah hidup Anda untuk selamanya. Dan sesuatu itu adalah nyata dalam realitas kuantum yang mengagumkan.

Dikuti dari buku Quantum Sedekah: Trik Jitu Melejitkan Kekayaan dan Spiritual, karya Nurrahman Effendi, Terbitan Grafindo, November 2008

>Teori Kuantum, Telepati, & Teleportasi

>Energi Ambang
Elektron terletak dalam orbital-orbital tertentu. Sebagaimana Postulat Bohr.

Elektron memerlukan energi ambang tertentu agar dapat berpindah lintasan. Energi ambang adalah energi minimal yang diperlukan elektron untuk naik menuju orbital yang lebih tinggi. Energi itu tidak kontinum, melainkan diskrit, artinya terkuantifikasi. Paket-paket energi yang terkuantifikasi ini dalam bentuk radiasi atau gelombang disebut kuanta energi. Menurut Max Planck, besarnya energi tersebut adalah h f dengan h adalah konstanta planck yang besarnya 6,63 x 10^{-34} joule detik.

Elektron hanya bisa punya energi dalam kelipatan bulat kuanta ini. Tidak hanya pada elektron tetapi juga foton dan semua zarah renik di tingkat subatom. Inilah asal-usul nama kuantum pada fisika kuantum yang kita pelajari ini. Fisika kuantum mempelajari perilaku zarah-zarah subatomik, dinamika dan interaksinya, serta relasinya dengan medan yang memengaruhinya.”

Teori Kuantum
Teori kuantum dari Max Planck mencoba menerangkan radiasi karakteristik yang dipancarkan oleh benda mampat. Radiasi inilah yang menunjukan sifat partikel dari gelombang. Radiasi yang dipancarkan setiap benda terjadi secara tidak kontinyu (discontinue) dipancarkan dalam satuan kecil yang disebut kuanta (energi kuantum).

Max Planck
Planck berpendapat bahwa kuanta yang berbanding lurus dengan frekuensi tertentu dari cahaya, semuanya harus berenergi sama dan energi ini E berbanding lurus dengan.

Jadi :
E = h.V
E = Energi kuantum
h = Tetapan Planck = 6,626 x 10-34 J.s
V = Frekuensi

Planck menganggap hawa energi elektromagnetik yang diradiasikan oleh benda, timbul secara terputus-putus walaupun penjalarannya melalui ruang merupakan gelombang elektromagnetik yang kontinyu.

Einstein
Einstein mengusulkan bukan saja cahaya yang dipancarkan menurut suatu kuantum pada saat tertentu tetapi juga menjalar menurut kuanta individual. Hipotesis ini menerangkan efek fotolistrik, yaitu elektron yang terpancar bila frekuensi cahaya cukup tinggi, terjadi dalam daerah cahaya tampak dan ultraungu.

Hipotesa dari Max Planck dan Einstein menghasilkan rumusan empiris tentang efek fotolistrik yaitu :

hV = Kmaks + hVo
hV = Isi energi dari masing-masing kuantum cahaya datang
Kmaks = Energi fotoelektron maksimum
hVo = Energi minimum yang diperlukan untuk melepaskan sebuah elektron dari permukaan logam yang disinari

Tidak semua fotoelektron mempunyai energi yang sama sekalipun frekuensi cahaya yang digunakan sama. Tidak semua energi foton (hv) bisa diberikan pada sebuah elektron. Suatu elektron mungkin akan hilang dari energi awalnya dalam interaksinya dengan elektron lainnya di dalam logam sebelum ia lenyap dari permukaan. Untuk melepaskan elektron dari permukaan logam biasanya memerlukan separuh dari energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron dari atom bebas dari logam yang bersangkutan.

Penafsiran Einstein mengenai fotolistrik dikuatkan dengan emisi termionik. Dalam emisi foto listrik, foton cahaya menyediakan energi yang diperlukan oleh elektron untuk lepas, sedangkan dalam emisi termionik kalorlah yang menyediakannya.

Usul Planck bahwa benda memancarkan cahaya dalam bentuk kuanta tidak bertentangan dengan penjalaran cahaya sebagai gelombang. Sementara Einstein menyatakan cahaya bergerak melalui ruang dalam bentuk foton. Kedua hal ini baru dapat diterima setelah eksperimen Compton. Eksperimen ini menunjukan adanya perubahan panjang gelombang dari foton yang terhambur dengan sudut (f) tertentu oleh partikel bermassa diam (mo). Perubahan ini tidak bergantung dari panjang gelombang foton datang (l).

Hasil pergeseran compton sangat kecil dan tidak terdeteksi. Hal ini terjadi karena sebagian elektron dalam materi terikat lemah pada atom induknya dan sebagian lainnya terikat kuat. Jika elektron d timbulkan oleh foton, seluruh atom bergerak, bukan hanya elektron tunggalnya.

Untuk lebih memahami tinjauan teori kuantum dan teori gelombang yang saling melengkapi, marilah kita amati riak yang menyebar dari permukaan air jika kita menjatuhkan batu ke permukaan air.
Pernahkan Anda perhatikan hal ini?

Riak yang menyebar pada permukaan air akan hilang dengan masuknya batu ke dasar.

Analogi ini dapat menjelaskan energi yang dibawa cahaya terdistribusi secara kontinyu ke seluruh pola gelombang. Hal ini menurut tinjauan teori gelombang sedangkan menurut teori kuantum, cahaya menyebar dari sumbernya sebagai sederetan konsentrasi energi yang teralokalisasi masing-masing cukup kecil sehingga dapat diserap oleh sebuah elektron.

Teori gelombang cahaya menjelaskan difraksi dan interferensi yang tidak dapat dijelaskan oleh teori kuantum. Sedangkan teori kuantum menjelaskan efek fotolistrik yang tidak dapat dijelaskan oleh teori gelombang.

  • a) Teori gelombang cahaya menjelaskan difraksidan interferensi yang tidak dapat dijelaskan oleh teori kuantum.
  • b) Teori kuantum menjelaskan efek fotolistrik yang tidak dapat di jelaskan oleh teori gelombang.

Bila cahaya melalui celah-celah, cahaya berlalu sebagai gelombang, ketika tiba di layar cahaya berlalu sebagai partikel.

Berdasarkan data tersebut, dilakukan eksperimen lanjutan yang meneliti sifat dualisme gelombang dan partikel.

Telepati dan Teleportasi
Sebagai rumusan dasar dalam ilmu sains, rumusan Newton, F=m.a, memberikan pengaruh dan kegunaan yang cukup besar. Kehadiran rumusan hukum kekekalan energi dan momentum, misalnya, tidak lain dikembangkan dari rumus dasar Newton.Berdasarkan rumusan Newton pula maka berkembang ilmu optika klasik, mekanika, dan mesin-mesin. Buah dari karya besar Newton itu antara lain termanifestasi dalam peradaban mesin-mesin industri. Sir Issac Newton dapat diakui sebagai ilmuwan besar abad 17 hingga abad 20.

Akan tetapi, dengan berawal dari ketidakpuasan para ilmuwan terhadap rumusan Newton untuk menjelaskan dinamika elektron-struktur atomik-maka berkembanglah teori baru. Berawal dari tesis Albert Einstein melalui rumusan E= mc2, lebih lanjut menjadi arahan bagi para ilmuwan untuk dapat memodelkan dinamika elektron dengan lebih tepat. Dari rumusan Einstein, ternyata terbukti bahwa rumusan Newton pada dasarnya merupakan pendekatan dari rumusan E=mc2. Hal ini terjadi karena dinamika gerak partikel masif adalah << (baca: jauh lebih kecil dari) kecepatan cahaya, c. Dengan kata lain, rumusan F=m.a adalah pendekatan dari E=mc2. Namun, kehadiran rumusan Einstein tidak secara otomatis meniadakan hukum-hukum yang dikembangkan berdasarkan Newton.

Seiring dengan pembuktian Einstein dan kawan-kawan dalam bidang fisika ini, maka berkembanglah cabang ilmu Fisika Kuantum. Dari namanya kuantum diambil dari kuanta-energi yang dipancarkan oleh loncatan elektron. Lebih lanjut, Scrodinger berhasil memberikan rumusan peluang elektron untuk dapat melakukan terobosan pada suatu dinding penghalang. Lebih lanjut, kuantum ini dimodelkan melalui sumur-sumur kuantum. Pada sumur itu digambarkan elektron yang hendak menembus dinding sumur pembatas dengan probabilitas tertentu.

Telepati dan teleportasi

Jika 14 abad yang lalu umat Islam meyakini peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, maka teori kuantum memberikan arahan yang berarti untuk menjelaskan fenomena aneh itu. Bahkan untuk fenomena telepati, sihir, pengobatan jarak jauh, dan teleportasi.

Meditasi Anand Krisna, misalnya, jika kita perhatikan tidak lain mengikuti konsep kuantum. Dengan melakukan penenangan batin serta diikuti ritme goyangan tubuh berirama, seseorang akan mengalami “kepuasan” tertentu. Teknik ini juga sering dilakukan pada penyembuhan alternatif dengan menggunakan energi prana, chi. Jika kita melihat sebentar pada pondok-pondok salaf, kita perhatikan para santri yang berzikir sambil goyang kepala. Juga dikisahkan, para waliullah dan kiai dapat terbang dengan kecepatan kilat.

Apa sesungguhnya yang sedang terjadi? Di manakah kuantum itu terjadi? Teori kuantum menjelaskan fenomena loncatan elektron (kuanta-kuanta energi) suatu partikel yang mengalami eksitasi, yang diakibatkan oleh pengaruh getaran, pemanasan, atau pemancaran. Efek fotolistrik dan Compton menjelaskan hal ini. Pada kasus logam yang dipanasi, ia dapat memancarkan elektron. Logam yang disinari, terjadi kuantum. Hal ini menyebabkan perubahan struktur atomik suatu partikel tertentu. Perubahan itu melibatkan pemindahan elektron yang sekaligus memancarkan energi foton. Pendek kata, fenomena di atas terjadi karena transfer energi elektromagnetik.

Richard Feyman, ilmuwan Amerika Serikat yang berhasil memenangkan Nobel Fisika atas temuannya, membuktikan bahwa suatu partikel masih dapat dipindahkan menembus batas dinding partikel tanpa mengalami kerusakan. Pada kesempatan yang lain, Dr Ivan Geiver (pemenang Nobel Fisika) dari Amerika juga semakin menguatkan khazanah ilmu kuantum ini.

Temuan Feyman dan Geiver ini memberikan pengertian kepada kita bahwa teleportasi-perpindahan fisik seseorang yang menembus ruang pembatas-adalah rasional. Begitu pula dengan Isra’ Mi’raj. Jika seseorang sudah dapat melakukan suatu perlakuan khusus terhadap dirinya sampai batas energi ambang, maka orang tersebut memungkinkan mengalami derajat emanasi, eksitasi, atau kuantum. Sama persis dengan energi ambang yang dibutuhkan suatu logam untuk dapat melakukan kuantum.

Manifestasi dari kuantum ini adalah memungkinkan seseorang ini mengirimkan sinyal jarak jauh, sinyal yang berupa medan elektromagnetik. Jika dapat mengubah partikel diri seolah menjadi susunan-susunan elektron yang tereksitasi, maka terjadilah loncatan secepat cahaya. Maka, tukar informasi-telepati-terjadi. Lihat juga peristiwa kirim energi melalui televisi pada acara mingguan Dedy Corbuzier. Jika kejadian ini sampai melibatkan pemindahan fisik tubuhnya, maka orang ini mencapai derajat teleportasi.

Dari sudut pandang teori kuantum ini maka jelaslah bahwa tabir Isra’ Mi’raj, telepati, teleportasi; sudah mendapatkan penjelasan fisik. Artinya, sebagian besar orang yang tidak mengakui fenomena ini-karena alasan tidak ada bukti fisiknya-dewasa ini sudah terbantahkan. Hal yang dulu dianggap metafisika dan gaib, berdasarkan teori kuantum telah mendapatkan pembenaran fisik. Senada dengan teori kuantum, maka teknik goyang ritmis berirama pada ritual meditasi, zikir, serta pengobatan alternatif.

Teknik goyangan tubuh berirama pada dasarnya merupakan cara untuk memicu eksitasi eletron tubuh kita agar dapat memancarkan gelombang cahaya dengan frekuensi tertentu. Jika teknik goyangan ini cukup kuat dan kontinu sampai derajad energi ambang terlampui.

Dari sudut pandang ilmiah, maka kita semakin meyakini bahwa ilmu-ilmu fisik (fisika) dewasa ini sudah menyatu dengan dimensi gaib dan spiritualitas. Jika kita sempat membaca tulisan Frictof Capra pada bukunya Titik Balik Peradaban, terang sudah bahwasanya khazanah ilmu barat dan timur dewasa ini sudah dalam tahap penyatuan. Khazanah barat yang unggul dalam riset, eksperimentasi, dan rasionalitas; serta timur yang lebih dominan dalam aspek spiritualitas.

Oleh karena itu, era pasca-Einstein telah menjadi pembuka tabir penyatuan paradigma timur dan barat. Dan, kuantum adalah laksana jembatan antara peradaban timur dan barat. Kuantum yang secara empiris ditemukan pada abad 20, maka di dunia timur sudah mengakar cukup kuat sejak peradaban Cina Kuno dan India Kuno, 25 abad yang lalu. Dunia timur mengenal hukum paradoks lebih awal. Kita tahu, salah satu hukum dalam teori kuantum adalah hukum paradoks.