Perisai Hati

Radar Perbuatan
Pernahkah kita sejenak merenung…bahwa didalam diri ini terdapat sesuatu yang selalu memberi tahu pada kita bahwa yang kita perbuat itu benar atau salah ??? Pernahakah kita mencoba berpikir tiba-tiba kita merasakan perasaan gelisah, resah, senang, bahagia dalam hidup ini ???

Ternyata semua itu dikerjakan oleh ‘hati‘. Sebuah maha karya Sang Pencipta..yang menciptakan manusia begitu sempurna. Selain melengkapinya dengan akal pikiran, manusia diciptakan Allah dengan perlengkapan ‘tempur’ yang memiliki fungsi memindai, menscan setiap amal perbuatan…, ya itulah qolbu atau hati.

Hati bagai sebuah perlengkapan ‘tempur’, ia akan memberitahukan pada pemiliknya bahwa apa yang ia lakukan itu salah dengan memberikan sinyal rasa kegelisahan, keresahan, kegalauan…sehingga sang pemilik hati itu waspada dan segera merubah strategi agar memperbaiki sehingga rasa itu teratasi. Ia akan akan memberikan sinyal rasa senang, bahagia, tentram dan damai pada pemiliknya sehingga pemiliknya itu tahu bahwa strateginya sudah tepat.

Teringat sabda Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasalallam, “Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal daging, yang apabila daging itu baik maka baik pula seluruh anggota badannya, sebaliknya apabila daging itu rusak maka kotor dan rusak pula anggota badannya. Dan daging yang dimaksud adalah hati

Hati itu radar yang ajaib, ia akan memberi sinyal positif dan negatif, baik dan buruk. Apabila kita berbuat tidak baik atau dosa, apa yang kita rasakan ??? Kegelisahan, cemas, tertekan dan berdebar2 kan ???

Bersyukurlah jika demikian. Berarti hati kita belum mati, sehingga kita lebih waspada dan berhati-hati. Sinyal itu hadir dengan tujuan agar kita segera kembali pada Allah ketika kita berbuat dosa. Ingatlah karena Allah selalu memperhatikan dan tidak pernah meninggalkan kita. Allahu Akbar.

Radar Semesta
Perasaan-perasaan kita adalah suatu mekanisme umpan balik bagi kita mengenai apakah kita sedang berada di jalan yang benar atau tidak, apakah kita sedang berada di dalam jalur atau di luar jalur.

Ingatlah bahwa pikiran-pikiran Anda adalah penyebab utama dari segala sesuatu. Jadi, ketika Anda memikirkan sebuah pikiran secara terus-menerus, pikiran tersebut segera dikirim ke Semesta. Pikiran itu secara magnetis akan merekatkan diri ke frekuensi serupa, dan kemudian dalam hitungan detik mengirim nilai frekuensi itu kembali ke Anda melalui perasaan-perasaan Anda. Dengan kata lain, perasaan-perasaan Anda adalah komunikasi yang dikirim kembali ke Anda oleh Semesta, yang memberitahu frekuensi di mana Anda saat ini berada. Perasaan Anda adalah mekanisme umpan balik frekuensi Anda!

Ketika Anda merasakan perasaan-perasaan yang baik, perasaan itu adalah pantulan komunikasi dari Semesta yang mengatakan, “Anda sedang memikirkan pikiran-pikiran yang baik”. Begitu pula ketika Anda merasa buruk, Anda menerima pantulan komunikasi dari Semesta yang mengatakan, “Anda sedang memikirkan pikiran-pikiran yang buruk.”

Jadi, ketika Anda merasa buruk, ini adalah komunikasi dari Semesta yang berkata,
Peringatan! Ubah pikiran sekarang juga. Tercatat frekuensi negatif. Ubah frekuensi. Mulai menghitung mundur untuk perwujudan. Peringatan!

Lain kali, ketika Anda merasa buruk atau merasakan emosi negatif, dengarkan sinyal yang Anda terima dari Semesta. Pada saat itu juga Anda akan menghalangi kebaikan mendekati Anda karena Anda sedang berada di suatu frekuensi negatif. Ubahlah pikiran Anda dan pikirkan sesuatu yang baik. Ketika perasaan-perasaan yang baik mulai datang, Anda akan mengetahuinya karena Anda sudah memindahkan diri ke suatu frekuensi yang baru, dan Semesta telah mengukuhkannya dengan perasaan yang lebih baik.

Ketika suatu permasalahan muncul, maka secara otomatis radar emosi atau fungsi otak limbik, otak emosional atau amydala akan merespon, tetapi respon itu seringkali tidak terkendali. Respon bisa bersifat positif atau bisa juga bersifat negatif. Tujuan dari pengendalian diri adalah menjaga agar posisi emosi selalu dalam posisi nol, atau pada posisi stabil. Hukum yang berlaku disini adalah rumus “aksi min reaksi”. Artinya, apabila rangsangan luar memberi energi +3, maka radar hati akan memberi respon (tanggapan) sebesar -3. Begitu juga sebaliknya, apabila ada tekanan (tarikan) sebesar -3, maka radar hati akan menanggapi sebesar +3. Tujuan mekanisme ini, agar radar emosi selalu tetap berada pada posisi netral, sehingga IQ dan SQ bisa bekerja secara optimal. Nol adalah lambing sebuah keadaan yang seimbang atau sebagai unsur keseimbangan.

SQ bekerja normal ketika emosi pada amygdale berada dalam pada posisi netral atau nol, ketika emosi berada pada posisi stabil (netral) atau nol, maka God Spot akan bekerja dengan baik. Jadi, ketika rangsangan terjadi, kita harus bekerja untuk membantu radar emosi agar tetap stabil suhunya. Karena pada umumnya, apabila ada rangsangan luar yang sebenarnya hanya -1, seringkali energi yang kita berikan tidak +1, dan besaran angkanya berlebihan (missal +10). Akibatnya, kelebihan energi -9. Kelebihan energi inilah yang kemudian merembet pada amygdale, sehingga menimbulkan kemarahan. Kemudian jika amygdale di tambah -9 lagi sehingga menjadi -18, maka energi negatif sebesar -18 ini langsung mendominasi dan membelenggu God Spot. Maka “sang minus 18” inilah yang kemudian memonopoli untuk mengambil alih komando. Ia, “si energi negatif ini”, memerintah otak untuk bertindak dengan tindakan yang negatif. Inilah mekanisme setan dalam keprofesionalannya bekerja mengganggu dan merusak spiritual manusia, agar senantiasa bertindak negatif dan membuat kerusakan di muka bumi, dengan cara yang paling efektif yaitu dengan “membutakan hati”.

Untuk mengatasi rangsangan agar kita senantiasa pada posisi normal, maka kita perlu mengidentifikasi jenis-jenis rangsangan emosi kita sekaligus obat penawarnya.

Inilah 6 Tablet Ampuh Pengubah Frekwensi Hati & Fikiran kembali ke Frekwensi Ilahi, 
antara lain :
  1. Marah, ucapkanlah Istigfhar, Astagfirullah.
  2. Kehilangan dan sedih, ucapkan Innalillahi wa inna ilaihi raa’jiuun.
  3. Bahagia, ucapkan Alhamdulillah.
  4. Kagum, ucapkan subhanallah.
  5. Takut, ucapkan Allahu Akbar.

>Perisai Hati

>

Radar Perbuatan
Pernahkah kita sejenak merenung…bahwa didalam diri ini terdapat sesuatu yang selalu memberi tahu pada kita bahwa yang kita perbuat itu benar atau salah ??? Pernahakah kita mencoba berpikir tiba-tiba kita merasakan perasaan gelisah, resah, senang, bahagia dalam hidup ini ???

Ternyata semua itu dikerjakan oleh ‘hati‘. Sebuah maha karya Sang Pencipta..yang menciptakan manusia begitu sempurna. Selain melengkapinya dengan akal pikiran, manusia diciptakan Allah dengan perlengkapan ‘tempur’ yang memiliki fungsi memindai, menscan setiap amal perbuatan…, ya itulah qolbu atau hati.

Hati bagai sebuah perlengkapan ‘tempur’, ia akan memberitahukan pada pemiliknya bahwa apa yang ia lakukan itu salah dengan memberikan sinyal rasa kegelisahan, keresahan, kegalauan…sehingga sang pemilik hati itu waspada dan segera merubah strategi agar memperbaiki sehingga rasa itu teratasi. Ia akan akan memberikan sinyal rasa senang, bahagia, tentram dan damai pada pemiliknya sehingga pemiliknya itu tahu bahwa strateginya sudah tepat.

Teringat sabda Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasalallam, “Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal daging, yang apabila daging itu baik maka baik pula seluruh anggota badannya, sebaliknya apabila daging itu rusak maka kotor dan rusak pula anggota badannya. Dan daging yang dimaksud adalah hati

Hati itu radar yang ajaib, ia akan memberi sinyal positif dan negatif, baik dan buruk. Apabila kita berbuat tidak baik atau dosa, apa yang kita rasakan ??? Kegelisahan, cemas, tertekan dan berdebar2 kan ???

Bersyukurlah jika demikian. Berarti hati kita belum mati, sehingga kita lebih waspada dan berhati-hati. Sinyal itu hadir dengan tujuan agar kita segera kembali pada Allah ketika kita berbuat dosa. Ingatlah karena Allah selalu memperhatikan dan tidak pernah meninggalkan kita. Allahu Akbar.

Radar Semesta
Perasaan-perasaan kita adalah suatu mekanisme umpan balik bagi kita mengenai apakah kita sedang berada di jalan yang benar atau tidak, apakah kita sedang berada di dalam jalur atau di luar jalur.

Ingatlah bahwa pikiran-pikiran Anda adalah penyebab utama dari segala sesuatu. Jadi, ketika Anda memikirkan sebuah pikiran secara terus-menerus, pikiran tersebut segera dikirim ke Semesta. Pikiran itu secara magnetis akan merekatkan diri ke frekuensi serupa, dan kemudian dalam hitungan detik mengirim nilai frekuensi itu kembali ke Anda melalui perasaan-perasaan Anda. Dengan kata lain, perasaan-perasaan Anda adalah komunikasi yang dikirim kembali ke Anda oleh Semesta, yang memberitahu frekuensi di mana Anda saat ini berada. Perasaan Anda adalah mekanisme umpan balik frekuensi Anda!

Ketika Anda merasakan perasaan-perasaan yang baik, perasaan itu adalah pantulan komunikasi dari Semesta yang mengatakan, “Anda sedang memikirkan pikiran-pikiran yang baik”. Begitu pula ketika Anda merasa buruk, Anda menerima pantulan komunikasi dari Semesta yang mengatakan, “Anda sedang memikirkan pikiran-pikiran yang buruk.”

Jadi, ketika Anda merasa buruk, ini adalah komunikasi dari Semesta yang berkata,
Peringatan! Ubah pikiran sekarang juga. Tercatat frekuensi negatif. Ubah frekuensi. Mulai menghitung mundur untuk perwujudan. Peringatan!

Lain kali, ketika Anda merasa buruk atau merasakan emosi negatif, dengarkan sinyal yang Anda terima dari Semesta. Pada saat itu juga Anda akan menghalangi kebaikan mendekati Anda karena Anda sedang berada di suatu frekuensi negatif. Ubahlah pikiran Anda dan pikirkan sesuatu yang baik. Ketika perasaan-perasaan yang baik mulai datang, Anda akan mengetahuinya karena Anda sudah memindahkan diri ke suatu frekuensi yang baru, dan Semesta telah mengukuhkannya dengan perasaan yang lebih baik.

Ketika suatu permasalahan muncul, maka secara otomatis radar emosi atau fungsi otak limbik, otak emosional atau amydala akan merespon, tetapi respon itu seringkali tidak terkendali. Respon bisa bersifat positif atau bisa juga bersifat negatif. Tujuan dari pengendalian diri adalah menjaga agar posisi emosi selalu dalam posisi nol, atau pada posisi stabil. Hukum yang berlaku disini adalah rumus “aksi min reaksi”. Artinya, apabila rangsangan luar memberi energi +3, maka radar hati akan memberi respon (tanggapan) sebesar -3. Begitu juga sebaliknya, apabila ada tekanan (tarikan) sebesar -3, maka radar hati akan menanggapi sebesar +3. Tujuan mekanisme ini, agar radar emosi selalu tetap berada pada posisi netral, sehingga IQ dan SQ bisa bekerja secara optimal. Nol adalah lambing sebuah keadaan yang seimbang atau sebagai unsur keseimbangan.

SQ bekerja normal ketika emosi pada amygdale berada dalam pada posisi netral atau nol, ketika emosi berada pada posisi stabil (netral) atau nol, maka God Spot akan bekerja dengan baik. Jadi, ketika rangsangan terjadi, kita harus bekerja untuk membantu radar emosi agar tetap stabil suhunya. Karena pada umumnya, apabila ada rangsangan luar yang sebenarnya hanya -1, seringkali energi yang kita berikan tidak +1, dan besaran angkanya berlebihan (missal +10). Akibatnya, kelebihan energi -9. Kelebihan energi inilah yang kemudian merembet pada amygdale, sehingga menimbulkan kemarahan. Kemudian jika amygdale di tambah -9 lagi sehingga menjadi -18, maka energi negatif sebesar -18 ini langsung mendominasi dan membelenggu God Spot. Maka “sang minus 18” inilah yang kemudian memonopoli untuk mengambil alih komando. Ia, “si energi negatif ini”, memerintah otak untuk bertindak dengan tindakan yang negatif. Inilah mekanisme setan dalam keprofesionalannya bekerja mengganggu dan merusak spiritual manusia, agar senantiasa bertindak negatif dan membuat kerusakan di muka bumi, dengan cara yang paling efektif yaitu dengan “membutakan hati”.

Untuk mengatasi rangsangan agar kita senantiasa pada posisi normal, maka kita perlu mengidentifikasi jenis-jenis rangsangan emosi kita sekaligus obat penawarnya.

Inilah 6 Tablet Ampuh Pengubah Frekwensi Hati & Fikiran kembali ke Frekwensi Ilahi, 
antara lain :
  1. Marah, ucapkanlah Istigfhar, Astagfirullah.
  2. Kehilangan dan sedih, ucapkan Innalillahi wa inna ilaihi raa’jiuun.
  3. Bahagia, ucapkan Alhamdulillah.
  4. Kagum, ucapkan subhanallah.
  5. Takut, ucapkan Allahu Akbar.

>Sampaikan walau satu ayat

>

Hidup merupakan proses evolusi, dapat dibuktikan dengan melihat bahwa hidup hari ini menentukan hidup besok. Sifat evolusi secara umum adalah ada yang tersingkir dan ada yang maju terus.

Kita sebagai komunitas spiritual dapat membantu jiwa-jiwa lain untuk menuju tatanan spiritual yang tahap awalnya di dalam komunitas kita adalah melalui proses inisiasi. Kadang kita setelah inisiasi hanya berhenti sampai tahap tersebut (hanya mementingkan kepentingan diri-sendiri). Perjalanan yang benar tidak boleh bersifat mementingkan diri sendiri, Kita dapat membantu terjadinya evolusi spiritual manusia secara meluas hingga ke seluruh dunia.

Cara peningkatan kesadaran bersama ini akan lebih efektif jika masing-masing individu merasakan kebutuhan untuk peningkatan kesadaran, sehingga terhubung ke intuisi yang lebih luhur hingga frekuensi kita lebih tinggi.  Meditasi/Berdzikir akan mempertinggi frekuensi kita. Tindakan keseharian kita dapat mempengaruhi frekuensi (kesadaran) kita, komunitas tempat kita berada juga dapat mempengaruhi frekwensi kita. Oleh karena itu kita harus dapat mempertahankan tingkat kesadaran kita tiap saat. Dan merubah lingkungan agar selaras dengan frekwensi kita, minimal energi negatif dan jahat yang berada di lingkungan kita akan terkultivasi.

Kita dapat membantu meningkatkan kesadaran lingkungan kita melalui meditasi yang kita lakukan. Caranya adalah dengan merasakan keilahian kita (misalanya setelah on line/meditasi), rasakanlah dengan sesadar-sadarnya lalu alirkan ke seluruh tubuh kita dan selanjutnya alirkan ke arah luar( dunia). Alirkan energi ilahiah itu keluar atau membagi rasa dengan alam sekitar kita, lingkungan kita, dan orang-orang di sekitar kehidupan kita. Kita jangan selalu terpaku pada imej buruk orang lain, seharusnya kita berpikiran bahwa itu bukan jati diri yang sesungguhnya sehingga kita harus membantunya. Dalam hal ini kita harus menyadari pikiran (imej) kita terhadap seseorang.

Ada beberapa hal yang harus difahami, yakni:

  1. Orang akan berbuat kepada kita seperti yang kita pikirkan
  2. Berbuatlah kepada orang lain seperti mereka berbuat baik kepadamu
  3. Doa yang kita kirimkan keluar cenderung membawa mereka seperti apa yang kita harapkan
  4. Tingkatkan dari apa adanya menjadi apa seharusnya

Dalam hal ini berarti bahwa orang yang level vibrasinya tinggi tidak perlu menurunkan levelnya, tapi level vibrasi yang rendahlah yang terangkat. Tugas manusia adalah untuk menuju masyarakat spiritual. Dalam hal ini evolusi spiritual berarti tidak ada yang tersingkir, melainkan semua menang.

Berkontribusilah…
Sudah saatnya setiap muslim menjadi da’i yang menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. Lakukan apa yang bisa kita lakukan, Berdakwah dengan kapasitas yang kita miliki. Ajaklah teman dan saudara untuk berbincang masalah hati dan iman. Sudah sebaik apa mereka memperhatikan imannya. Sudah sejauh apa perbaikan yang selama ini mereka lakukan. Ajak dan teruslah mengajak. Karena dengan begitu mereka akan mulai sadar dan memperhatikan kondisi iman mereka.

Anda yang bekerja di kantor, ajaklah teman kantor anda untuk selalu shalat pada waktunya. Anda yang menjadi guru, ajaklah murid-murid anda untuk selalu menjaga shalatnya. Sedangkan anda yang berprofesi sebagai pengusaha, ajaklah pelanggan anda untuk selalu memperhatikan shalatnya. Karena shalat tiang agama. Dengungkan syariat dan nasehat baik di mana pun kita berada. Karena seribu dimulai dari satu. Kalau satu saja tidak dilakukan, maka bagaimana kita bisa menghasilkan seribu?

Sebagaimana yang disabdakan oleh baginda Rasulullah SAW, “Sampaikanlah dariku, walaupun hanya satu ayat.

Barangsiapa membunuh satu jiwa… maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa menghidupkan satu jiwa, ia bagaikan menghidupkan seluruh jiwa manusia.” (Q. S. Al-Maa’idah [5] : 32)

Menghidupkan jiwa’, secara batin juga berarti membebaskan jiwa manusia dari timbunan sifat jasadiyah keduniaannya sendiri dan membebaskan manusia dari timbunan masalah yang memberati kehidupannya.

“Demi masa”.
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian”
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” QS Al ‘Ashr [103] : 1-3

Rasulullah SAW juga bersabda :

Wahai Ali, sungguh sekiranya Allah memberi hidayah kepada seseorang karena dakwahmu, itu lebih baik bagimu daripada onta merah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ketahuilah wahai saudaraku saudaraku dan mari kita saling menyadari bahwa hidayah Allah SWT, tidaklah ternilai harganya walau kita bandingkan dengan onta merah pada zaman Rasululloh dan mobil mewah pada zaman sekarang.

Sampaikan walau satu ayat”, Di dalam membahas sebuah konsep spiritual tidak semata-mata dari pembahasan rangkaian ayat. Tetapi bisa dalam bentuk apapun. Di dalam sebuah komunitas maka tata bahasa adalah sebuah wahana dan kata-kata adalah media, lebih dari semua itu hikmah dan intisarinyalah yang menjadi tujuan akhirnya.

JADILAH AGEN PERUBAHAN

Agen Perubahan adalah sebutan untuk pelaku yang melaksanakan Perubahan. Inti dari perubahan adalah adanya proses yang bertahap, jika perubahan yang terjadi berhubungan dengan orang banyak. Ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan saat kita ingin menjalankan manajemen perubahan dengan baik :

  1. Berusaha secara perlahan-lahan menjelaskan tujuan perubahan, untuk menghapus keraguan atas manfaat perubahan itu.
  2. Selalu melibatkan orang yang mau dirubah dalam proses perubahan, seperti mengajak diskusi, latihan bersama, sholat bersama, dll.
  3. Harus ada keuntungan langsung yang dirasakan.

Perubahan pada hakekatnya adalah ketetapan Allah (sunnatullah) yang berlangsung konstan (ajek), tidak pernah berubah, serta tidak bisa dilawan, sebagai bukti dari wujud dan kuasa-Nya. Namun, perubahan yang dikehendaki, yaitu perubahan menuju kemajuan, tidak datang dari langit (given) atau datang secara cuma-cuma (taken for granted). Hal ini, karena Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri mengubah diri mereka sendiri (QS. Al-Ra`d [13]: 11).

Untuk mencapai kemajuan, setiap orang harus merencanakan perubahan, dan perubahan itu harus datang dan dimulai dari diri sendiri. Perubahan sejatinya tidak dapat dipaksakan dari luar, tetapi merupakan revolusi kesadaran yang lahir dari dalam. Itu sebabnya, kepada orang yang bertanya soal hijrah dan jihad, Nabi berpesan. Kata beliau, Ibda’ bi nafsik, faghzuha” (mulailah dari dirimu sendiri, lalu berperanglah!). (HR. al-Thayalisi dari Abdullah Ibn `Umar).

Seperti diharapkan Nabi SAW dalam riwayat di atas, perubahan dari dalam dan dari diri sendiri merupakan pangkal segala perubahan, dan sekaligus merupakan kepemimpinan dalam arti yang sebenarnya. Hakekat kepemimpinan adalah kepemimpinan atas diri sendiri. Dikatakan demikian, karena seorang tak mungkin memimpin dan mengubah orang lain, bila ia tak sanggup memimpin dan mengubah dirinya sendiri.

Perubahan dalam diri manusia dimulai dari perubahan cara pandang atau perubahan paradigma pikir (mindset). Manusia tak mungkin mengubah hidupnya, bilamana ia tak mampu mengubah paradigma pikirnya. Karena itu, kita disuruh mengubah pikiran kita agar kita dapat mengubah hidup kita (Change Our Thinking Change Our Life).

Selanjutnya, perubahan paradigma harus disertai dengan perubahan dalam penguasaan ilmu dan keterampilan. Perubahan yang satu ini memerlukan pembelajaran dan pembiasaan (learning habits) yang perlu terus diasah.

Akhirnya, perubahan diri itu, menurut Imam al-Ghazali, membutuhkan tindakan nyata (al-Af`al). Ilmu hanya menjadi kekuatan jika ia benar-benar dikelola menjadi program dan tindakan nyata yang mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Pada tahap ini, tindakan menjadi faktor pamungkas, dan menjadi satu-satunya kekuatan yang bisa mengubah cita-cita (harapan) menjadi realita (kenyataan).

Kebaikan dalam kata-kata menciptakan kepercayaan diri. Kebaikan dalam pikiran menciptakan keagungan. Sementara, kebaikan dalam pemberian, menciptakan cinta.
~ L ao Tzu ~


Ketika aku berteman dengan mereka yang memusuhiku dan bahkan menjadikan mereka temanku, bukankah itu berarti aku telah “mengalahkan musuh-musuhku” tersebut?
~ A braham Lincoln ~


Cinta tumbuh karena kita bersedia memberikannya kepada orang lain. Cinta yang kita berikan itulah satu-satunya cinta yang kita miliki. Hanya satu cara untuk mempertahankan cinta, yaitu dengan memberikannya.
~ E lbert Hubbard ~


Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu lain lagi terbuka. Tetapi, sayangnya, kita sering menatap terlalu lama pintu yang telah tertutup tadi sehingga kita tidak melihat pintu lain yang telah dibukakan untuk kita sebagai gantinya.
~ H elen Keller ~


Seringkali kita meremehkan kekuatan sebuah sentuhan, seulas senyuman, seuntai kata yang baik, kesediaan mendengarkan, pujian yang tulus, atau tindakan-tindakan kecil lainnya yang menunjukkan kepedulian. Padahal, semua itu sebenarnya mempunyai potensi untuk mengubah hidup seseorang.
~ L eo Buscaglia ~


Apa yang kita pikirkan akan keluar sebagai kata-kata.
Kata-kata kita akan mewarnai tindakan kita.
Semua tindakan kita membentuk sebuah kebiasaan.
Kebiasaan mengeras menjadi sebuah watak.
Maka, berhati-hatilah selalu dengan apa yang kau pikirkan.
Hanya pikirkan hal-hal yang muncul atas nama cinta, yang lahir atas dasar kepedulian kita terhadap sesama.
~ B uddha ~

N-Generation | CERMIN HATI

Tanggalkan kekhawatiranmu
dan jadilah bersih hati,
bagaikan permukaan sebuah cermin
yang tiada ada bercaknya.

Bila ‘kau dambakan cermin yang bening,
lihatlah kepada dirimu sendiri,
dan tengoklah kebenaran apa adanya,
yang dipantulkan oleh cermin.

Bila besi bisa digosok
hingga berkilau bagai cermin
gerangan penggosok macam apa
yang cermin hatimu butuhkan ?

Antara cermin dan hati
ada satu perbedaan nyata:
hati menyimpan rahasia
sedangkan cermin tidak.

…. di bawah ini adalah interpretasi dan terjemah saya terhadap salah satu bab dari buku ‘The Secret of Secrets‘ yang adalah interpretasi dan terjemah Syaikh Tosun Bayrak al-Jerrahi al-Halveti ke bahasa Inggris terhadap kitab Sirr Al-Asraar yang ditulis oleh Syaikh Abd’ al-Qadir al-Jilany ra. yang mashur itu.

Selamat membaca dan semoga bermanfaat bagi sahabat.

DITUJUKAN KEPADA PARA PEMBACA
Kutipan dari Sepucuk Surat Hadrat Abd’ al-Qadir al-Jilany ra.

Hati [qalb] -mu adalah sebuah cermin yang berkilau. Engkau harus membersihkannya dari debu dan kotoran yang telah terkumpul dan melekat di permukaannya karena sesungguhnya ia ditakdirkan untuk memantulkan cahaya ‘Rahasia-Rahasia Ilaahiyyah’.

Manakala cahaya dari … Allah (Yang) adalah cahaya petala langit dan bumi … mulai menerpa seluruh bagian dari hati-mu, pelita hatimu akan mulai menyala. Pelita hati itu … berada di dalam kaca [az-zujajah], dan kaca itu seakan-akan kaukabun [1] yang berkilau …

Selanjutnya di dalam hati-mu itu, sambaran-sambaran petir dan kilat Pengetahuan Ilahiyyah akan dimulai. Sambaran-sambaran ini datang dari awan-awan yang mengandung hujan sebagai makna dari … yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat … dan menerangi pohon pemahaman, cahayanya sangat murni, jernih dan … menerangi walaupun tidak disentuh api [2].

Selanjutnya pelita di hati-mu itu akan menyala dengan sendirinya karena apakah mungkin ada sesuatu yang akan tetap tidak menyala manakala Cahaya dari Rahasia-Rahasia Allah Ta’ala telah menerpanya.

Hanya jika cahaya Rahasia Ilaahiyyah telah menerpanya, kegelapan malam dari Rahasia-Rahasia akan diterangi oleh ribuan bintang yang berkilau … dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk [3] … Bukan bintang itu yang memandu perjalanan melainkan Cahaya itu lah yang memandu. Sebagaimana … Allah telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang [4]… Manakala Pelita Rahasia Ilaahiyyah telah menyala di dalam jiwa mu maka yang selebihnya akan datang, apakah kesemuanya datang secara bersama atau sedikit demi sedikit. Sebagiannya ada yang telah kalian mengerti dan sedangkan yang belum kalian mengerti akan dijelaskan disini.

Bacalah, perhatikanlah, cobalah untuk mengerti.

Kegelapan langitmu oleh sebab ketiadaan pengetahuanmu akan sirna dengan adanya ‘Kehadiran Ilaahiyyah’ dan kedamaian dan keindahan cahaya purnama, yang terbit dari ufuk dan menyalakan … cahaya di atas cahaya [5], merayap di langit mengikuti garis-edarnya sebagaimana yang telah Allah Ta’ala tetapkan [6], sampai kepada puncak kejayaannya di tengah-tengah langit, membubarkan segala kemalasan dan ketidakacuhan. … (Aku bersumpah) demi malam apabila telah sunyi [7] … demi waktu matahari sepenggalah naik [8] … gelapnya malam akibat dari keterlenaanmu akan segera berganti dengan siang hari yang cerah.

Selanjutnya engkau akan menghirup harumnya kesadaran dan pengetahuan akan Allah Ta’ala dan bermohon ampun di waktu sahur [9] atas keterlenaanmu selama ini dan menyesali hidupmu yang telah engkau lalui hanya dengan terlena yang seperti tertidur. Engkau juga akan menikmati lantunan kidung pagi hari dan mendengar mereka mendendangkan:

Mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar [10]….. Allah membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki [11]

Selanjutnya dari kaki-langit ‘Pengetahuan Ilahiyyah’ engkau akan menemukan matahari hikmah yang mulai terbit. Dan itu adalah matahari untukmu sebab engkau adalah yang dipilih dan … ditunjuki (oleh) Allah dan engkau … berada di jalan yang benar dan bukan termasuk golongan orang-orang … yang dibiarkan-Nya sesat [12].

Selanjutnya engkau akan memahami rahasia bahwa:

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya [13]

Sampai akhirnya, belenggu yang membelitmu akan terurai sebagaimana … Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu [14] dan kerak-kerak dirimu akan luruh, kepompong yang melingkupimu akan tersingkap untuk menampilkan kehalusan yang selama ini tersembunyi di balik jasadmu; selanjutnya kebenaran sejati [al-haqq] akan menampakkan wajahnya.

Awal dari semuanya ini adalah saat dimana cermin hatimu telah terbersihkan. Cahaya dari ‘Rahasia-Rahasia Ilaahiyyah’ akan menerpanya, sejalan dengan kemauanmu, dan sejalan dengan permohonanmu kepada-Nya karena bersumber hanya dari Dia Ta’ala semata, jika dan hanya jika engkau bersama-Nya.

Catatan Kaki :

1. Kata kaukabun, sering di-alih-bahasa-kan sebagai ‘bintang’ atau ‘bintang-bintang’ akan tetapi sesungguhnya secara pengertian berbeda. Bintang adalah benda langit yang menjadi sumber cahaya sedangkan kaukabun adalah benda langit yang tidak memiliki cahaya sendiri. Ia berpendar karena memantulkan cahaya yang diterimanya dari benda langit lainnya, dengan demikian kaukabun adalah seperti sebuah planet. Sedangkan bintang dalam bahasa arab adalah an-najm dan gugusan bintang-bintang adalah al-buruj. Bulan adalah al-qamar dan matahari adalah asy-syam.
2. Ayat Cahaya, QS.[24]:35
3. QS.[16]:16
4. QS.[37]:6
5. QS.[24]:35
6. QS.[36]:39
7. QS.[93]:2
8. QS.[93]:1
9. QS.[3]:17
10. QS.[51]:17-18
11. QS.[24]:35
12. QS.[7]:178
13. QS.[36]:40
14. QS.[24]:35

Bandung, 20 April 2009 – update 19 Juni 2009
Sumber: The Secrets of Secrets, an interpretation by Syaikh Tosun Bayrak al-Jerrahi al-Halveti of Hadrat Abd’ al-Qadir al-Jilany’s “Sirr Al-Asraar”, The Islamic Text Society, Cambridge, 1992. BY.berandasuluk.blogsome.com

>N-Generation | CERMIN HATI

>

Tanggalkan kekhawatiranmu
dan jadilah bersih hati,
bagaikan permukaan sebuah cermin
yang tiada ada bercaknya.

Bila ‘kau dambakan cermin yang bening,
lihatlah kepada dirimu sendiri,
dan tengoklah kebenaran apa adanya,
yang dipantulkan oleh cermin.

Bila besi bisa digosok
hingga berkilau bagai cermin
gerangan penggosok macam apa
yang cermin hatimu butuhkan ?

Antara cermin dan hati
ada satu perbedaan nyata:
hati menyimpan rahasia
sedangkan cermin tidak.

…. di bawah ini adalah interpretasi dan terjemah saya terhadap salah satu bab dari buku ‘The Secret of Secrets‘ yang adalah interpretasi dan terjemah Syaikh Tosun Bayrak al-Jerrahi al-Halveti ke bahasa Inggris terhadap kitab Sirr Al-Asraar yang ditulis oleh Syaikh Abd’ al-Qadir al-Jilany ra. yang mashur itu.

Selamat membaca dan semoga bermanfaat bagi sahabat.

DITUJUKAN KEPADA PARA PEMBACA
Kutipan dari Sepucuk Surat Hadrat Abd’ al-Qadir al-Jilany ra.

Hati [qalb] -mu adalah sebuah cermin yang berkilau. Engkau harus membersihkannya dari debu dan kotoran yang telah terkumpul dan melekat di permukaannya karena sesungguhnya ia ditakdirkan untuk memantulkan cahaya ‘Rahasia-Rahasia Ilaahiyyah’.

Manakala cahaya dari … Allah (Yang) adalah cahaya petala langit dan bumi … mulai menerpa seluruh bagian dari hati-mu, pelita hatimu akan mulai menyala. Pelita hati itu … berada di dalam kaca [az-zujajah], dan kaca itu seakan-akan kaukabun [1] yang berkilau …

Selanjutnya di dalam hati-mu itu, sambaran-sambaran petir dan kilat Pengetahuan Ilahiyyah akan dimulai. Sambaran-sambaran ini datang dari awan-awan yang mengandung hujan sebagai makna dari … yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat … dan menerangi pohon pemahaman, cahayanya sangat murni, jernih dan … menerangi walaupun tidak disentuh api [2].

Selanjutnya pelita di hati-mu itu akan menyala dengan sendirinya karena apakah mungkin ada sesuatu yang akan tetap tidak menyala manakala Cahaya dari Rahasia-Rahasia Allah Ta’ala telah menerpanya.

Hanya jika cahaya Rahasia Ilaahiyyah telah menerpanya, kegelapan malam dari Rahasia-Rahasia akan diterangi oleh ribuan bintang yang berkilau … dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk [3] … Bukan bintang itu yang memandu perjalanan melainkan Cahaya itu lah yang memandu. Sebagaimana … Allah telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang [4]… Manakala Pelita Rahasia Ilaahiyyah telah menyala di dalam jiwa mu maka yang selebihnya akan datang, apakah kesemuanya datang secara bersama atau sedikit demi sedikit. Sebagiannya ada yang telah kalian mengerti dan sedangkan yang belum kalian mengerti akan dijelaskan disini.

Bacalah, perhatikanlah, cobalah untuk mengerti.

Kegelapan langitmu oleh sebab ketiadaan pengetahuanmu akan sirna dengan adanya ‘Kehadiran Ilaahiyyah’ dan kedamaian dan keindahan cahaya purnama, yang terbit dari ufuk dan menyalakan … cahaya di atas cahaya [5], merayap di langit mengikuti garis-edarnya sebagaimana yang telah Allah Ta’ala tetapkan [6], sampai kepada puncak kejayaannya di tengah-tengah langit, membubarkan segala kemalasan dan ketidakacuhan. … (Aku bersumpah) demi malam apabila telah sunyi [7] … demi waktu matahari sepenggalah naik [8] … gelapnya malam akibat dari keterlenaanmu akan segera berganti dengan siang hari yang cerah.

Selanjutnya engkau akan menghirup harumnya kesadaran dan pengetahuan akan Allah Ta’ala dan bermohon ampun di waktu sahur [9] atas keterlenaanmu selama ini dan menyesali hidupmu yang telah engkau lalui hanya dengan terlena yang seperti tertidur. Engkau juga akan menikmati lantunan kidung pagi hari dan mendengar mereka mendendangkan:

Mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar [10]….. Allah membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki [11]

Selanjutnya dari kaki-langit ‘Pengetahuan Ilahiyyah’ engkau akan menemukan matahari hikmah yang mulai terbit. Dan itu adalah matahari untukmu sebab engkau adalah yang dipilih dan … ditunjuki (oleh) Allah dan engkau … berada di jalan yang benar dan bukan termasuk golongan orang-orang … yang dibiarkan-Nya sesat [12].

Selanjutnya engkau akan memahami rahasia bahwa:

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya [13]

Sampai akhirnya, belenggu yang membelitmu akan terurai sebagaimana … Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu [14] dan kerak-kerak dirimu akan luruh, kepompong yang melingkupimu akan tersingkap untuk menampilkan kehalusan yang selama ini tersembunyi di balik jasadmu; selanjutnya kebenaran sejati [al-haqq] akan menampakkan wajahnya.

Awal dari semuanya ini adalah saat dimana cermin hatimu telah terbersihkan. Cahaya dari ‘Rahasia-Rahasia Ilaahiyyah’ akan menerpanya, sejalan dengan kemauanmu, dan sejalan dengan permohonanmu kepada-Nya karena bersumber hanya dari Dia Ta’ala semata, jika dan hanya jika engkau bersama-Nya.

Catatan Kaki :

1. Kata kaukabun, sering di-alih-bahasa-kan sebagai ‘bintang’ atau ‘bintang-bintang’ akan tetapi sesungguhnya secara pengertian berbeda. Bintang adalah benda langit yang menjadi sumber cahaya sedangkan kaukabun adalah benda langit yang tidak memiliki cahaya sendiri. Ia berpendar karena memantulkan cahaya yang diterimanya dari benda langit lainnya, dengan demikian kaukabun adalah seperti sebuah planet. Sedangkan bintang dalam bahasa arab adalah an-najm dan gugusan bintang-bintang adalah al-buruj. Bulan adalah al-qamar dan matahari adalah asy-syam.
2. Ayat Cahaya, QS.[24]:35
3. QS.[16]:16
4. QS.[37]:6
5. QS.[24]:35
6. QS.[36]:39
7. QS.[93]:2
8. QS.[93]:1
9. QS.[3]:17
10. QS.[51]:17-18
11. QS.[24]:35
12. QS.[7]:178
13. QS.[36]:40
14. QS.[24]:35

Bandung, 20 April 2009 – update 19 Juni 2009
Sumber: The Secrets of Secrets, an interpretation by Syaikh Tosun Bayrak al-Jerrahi al-Halveti of Hadrat Abd’ al-Qadir al-Jilany’s “Sirr Al-Asraar”, The Islamic Text Society, Cambridge, 1992. BY.berandasuluk.blogsome.com

Lembutkanlah Hati

Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa setiap amaliah bergantung kepada niatnya. Jika niatnya jelek, maka jelek pula amaliahnya. Dan jika niatnya baik, maka baik pula amaliahnya. Kedua pelajaran ini sebetulnya mengajarkan hal yang sama, bahwa kualitas keagamaan kita sebagai muslim bisa dilihat dari niat hati kita pada saat melakukan perbuatan itu.

Hati adalah ‘cermin’ dari segala perbuatan kita. Setiap kita melakukan perbuatan, maka hati kita akan mencerminkan niat yang sesungguhnya dari perbuatan itu. Katakanlah, kita memberi uang kepada seorang miskin. Kelihatannya itu adalah perbuatan mulia. Tetapi jika niatan kita untuk menyombongkan diri kepada orang lain bukan karena belas kasihan kepada si miskin maka perbuatan itu sebenarnya tidak mulia lagi. Jadi, hati lebih menggambarkan kualitas yang sesungguhnya dari perbuatan kita. Sedangkan amaliah, lebih sulit untuk dinilai kualitasnya.

Meskipun kita memiliki watak yang keras, kita tetap harus bisa berempati dan simpati terhadap orang lain. Tidak hanya bersimpati dan berempati, hati yang lembut pun dapat tercermin dari tangisan kita kepada Sang Khalik di malam hari, saat kita mengakui dan memohon ampun atas segala kesalahan yang telah kita perbuat.

Mungkin kita dapat belajar dari Para Sahabat Rasululloh yang ketika di siang hari mereka sangat keras, gagah, dan tangguh dalam berperang untuk membela Islam. Namun, di malam hari, mereka tak segan untuk meneteskan air mata dan memohon ampun kepada Rabb mereka atas segala kesalahan yang pernah mereka perbuat. Hal itu membuktikan bahwa meskipun para sahabat memiliki sifat yang keras, namun mereka mimiliki hati yang sungguh sangat lembut.

Sekeras apapun karakter kita, jangan sampai hati kita pun ikut menjadi keras. Karena jika hati telah menjadi keras, maka kita akan sulit menerima kebaikan dari luar.

Karena itu, N-AQS Methode lebih condong ‘menggarap’ hati daripada perbuatan. Kalau hatinya sudah baik, maka perbuatannya pasti baik. Sebaliknya meski perbuatannya kelihatan ‘baik’, belum tentu hatinya baik. Bisa saja ada niat jelek yang tersembunyi.

Seluruh jenis peribadatan yang diajarkan Rasulullah kepada kita sebenarnya dimaksudkan untuk menggarap hati kita agar menjadi baik. Sebutlah puasa. Puasa ini tujuan akhirnya adalah kemampuan mengendalikan diri. Atau disebut Takwa dalam terminologi Islam. Takwa adalah kualitas hati. Orang yang bertakwa memiliki keteguhan hati untuk selalu berbuat baik dan menjauhi yang jelek.

Demikian juga shalat. Tujuan utama shalat adalah membuka kepekaan hati. Orang yang shalatnya baik, memiliki kepekaan hati untuk membedakan mana yang baik, mana yang buruk Mana yang bermanfaat, mana yang membawa mudharat. Karena itu, shalat yang baik bisa menyebabkan kita jauh dari hal hal yang keji dan munkar.

Juga zakat. Tujuan utama zakat adalah melatih hati kita untuk peduli kepada orang-orang yang lemah dan tidak berdaya. Hidup harus saling menolong, supaya tidak terjadi ketimpangan yang menyebabkan terjadinya kejahatan. Itu secara sosial. Tetapi secara pribadi, kebiasaan menolong orang lain dengan zakat akan menyebabkan hati kita menjadi lembut dan penyantun.

Demikianlah, seluruh aktifitas ibadah kita termasuk haji, semuanya menuju kepada pelembutan hati kita. Kenapa hati yang lembut ini perlu?

Karena hati yang lembut itulah yang akan menyelamatkan kita ketika hidup di akhirat nanti. Hati yang lembut adalah hati yang terbuka dan tanggap terhadap sekitarnya. Sedangkan hati yang kasar dan keras adalah hati yang tertutup terhadap sekitarnya. Allah berfirman dalam firman Alah berikut ini.

QS. Al Israa (17) : 72
“Dan barangsiapa di dunia ini buta hatinya, maka di akbirat nanti juga akan buta, dan lebih sesat lagi jalannya.”

Ayat tersebut di atas memberikan gambaran yang sangat jelas kepada kita bahwa hati menjadi sasaran utama peribadatan kita. Karena itu Al Quran memberikan informasi yang sangat banyak tentang hati ini. Tidak kurang dari 188 kali informasi tentang hati ini diulang-ulang oleh Allah di dalam Al Quran.

Ada beberapa tingkatan kualitas hati yang diinformasikan Allah di dalam Quran. Hati yang jelek dikategorikan dalam 5 tingkatan.

Yang pertama adalah hati yang berpenyakit. 
Orang-orang yang di hatinya ada rasa iri, benci, dendam, pembohong, munafik, kasar, pemarah dan lain sebagainya, disebut memiliki hati yang berpenyakit, sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat diantaranya,

QS. Al Baqarah (2) : 10
“Di dalam hati mereka ada Penyakit, lala ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta”

QS Al Hajj (22) : 53
“Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleb setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar batinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar benar dalam permusuhan yang sangat.”

Tingkatan kedua hati yang jelek adalah hati yang mengeras. 
Hati yang berpenyakit, jika tidak segera diobati akan menjadi mengeras. Mereka yang terbiasa melakukan kejahatan, hatinya tidak lagi peka terhadap kejelekan perbuatannya. Mereka menganggap bahwa apa yang mereka kerjakan adalah benar adanya.

QS. Al An’aam (6) : 43
“Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.

Tingkatan ketiga, adalah hati yang membatu. 
Hati yang keras kalau tidak segera disadari akan meningkat kualitas keburukannya. Al Quran menyebutnya sebagai hati yang membatu alias semakin mengeras dari sebelumnya.

QS. Al Baqarah (2) : 74
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”

Tingkatan keempat, adalah hati yang tertutup. 
Pada bagian berikutnya akan kita bahas, bahwa hati kita itu bagaikan sebuah tabung resonansi. Jika tertutup, maka hati kita tidak bisa lagi menerima getaran petunjuk dari luar. Allah mengatakan hal itu di dalam firmanNya.

QS Al Muthaffiffin : 14
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.”

Dan yang kelima, adalah hati yang dikunci mati. 
Jika hati sudah tertutup, maka tingkatan berikutnya adalah hati yang terkunci mati. Sama saja bagi mereka diberi petunjuk atau tidak. Hal ini diungkapkan Allah berikut ini.

Al Baqarah : 6-7
“Sesungguhnya orang-orang kafir itu, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglibatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.”

Sebaliknya hati yang baik adalah hati yang gampang bergetar, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam

QS. Al Hajj (22) : 35
“(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rizkikan kepada mereka.”

Hati orang-orang yang demikian itu lembut adanya. Mereka gampang iba melihat penderitaan orang lain. Suka menolong. Tidak suka kekerasan. Penyantun dan penuh kasih sayang kepada siapapun. Itulah nabi Ibrahim yang dijadikan teladan oleh Allah serta menjadi kesayangan Allah. Sebagaimana diinformasikan dalam firman berikut.

At Taubah (9) : 114
“Dan Permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diirarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”

Sifat lembut hati merupakan salah satu akhlak mulia dari Nabi S AW seperti yang dikatakan Abdullah bin Umar: “Sesungguhnya, saya menemukan sifat Rasulullah SAW dalam kitab-kitab terdahulu itu demikian : Sesungguhnya tutur katanya tidak kasar, hatinya tidak keras, tidak suka berteriak-teriak dipasar-pasar, dan tidak suka membalas kejahatan orang dengan kejahatan lagi, namun dia memaafkan dan mengampuninya. ” (Tafsir Ibnu Katsir II, hl.608)

Pangkal Kesabaran

Kelembutan hati Nabi SAW tidak hanya ditujukan kepada para sahabat yang telah paham dengan aturan agama, namun kepada orang awam yang belum memahami aturan agama pun beliau bersikap lembut dan santun.

Suatu hari ketika beberapa sahabat sedang khusyuk mendengarkan nasihat Nabi SAW di masjid Nabawi, tiba-tiba seorang Arab Badui masuk masjid dan tanpa basa-basi dia langsung buang air kecil di salah satu pojok masjid. Para sahabat yang melihatnya terkejut dan segera berdiri untuk memukul orang itu dan mengusirnya.

Melihat hal ini Nabi SAW segera mencegah tindakan para sahabat. Para sahabat pun lalu membiarkan Arab Badui tadi menuntaskan buang hajatnya. Setelah benar-benar selesai, Nabi SAW memerintahkan seorang sahabat mengambil seember air untuk mengguyur tempat Arab Badui buang hajatnya.

Tanpa rasa marah dan kesal Nabi SAW menghampiri orang itu dan mengatakan: “Sesungguhnya masjid itu tidak layak dikencingi dan dikotori. Sesungguhnya masjid itu tempat untuk shalat, berdzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an” (HR. Muslim).

Nabi SAW memahami ketidak-tahuan si Arab Badui tersebut, sehingga kelembutan hati beliau bisa mengalahkan amarah beliau. Kalau hal itu terjadi di saat sekarang, mungkin si Arab Badui itu telah babak belur di “Vermak” oleh para jamaah masjid.

Sifat lembut hati, santun, ramah dan tidak cepat marah tidak hanya akan membuat manusia menaruh simpati kepada kita, tetapi Allah SWT-pun mencintainya. “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan Mencintai kelembutan ” (HR.Muslim).

Dengan modal kelembutan hati, seorang da’i pasti dengan mudah menarik simpati orang, seorang suami pasti disayang oleh keluarga dan jika seorang pemimpin pasti dicintai rakyatnya.

Rasa sakinah pun akan hadir dalam keluarga ketika kelembutan dan sikap santun menjadi perhiasannya. Nabi SAW bersabda: “Apabila Allah Azza wa Jalla menghendaki kebaikan suatu keluarga, Allah akan memasukkan kelembutan atas mereka ” (HR. Ahmad).

Kesaksian Sahabat

Dan ini telah dicontohkan oleh Nabi SAW dengan sikap beliau yang lembut, tidak pernah marah kepada pembantu rumah tangganya. Anas bin Malik, sebagaimana diriwayatkan Imam Mulim, Anas bin Malik berkata: “Aku menjadi pembantu Rasulullah selama sepuluh tahun. Belum pemah beliau berkata kasar kepadaku. Dan selama sepuluh tahun itu belum pernah beliau berkata kepadaku: ‘Mengapa kamu melakukan ini?’ Dan belum pernah beliau berkata: ‘Mengapa kau tidak lakukan sesuatu sepeninggalku?’ “.

Sepuluh tahun bukanlah sebentar dan selama itu Anas bin Malik belum pernah sekalipun dimarahi Nabi SAW. Coba bandingkan dengan keadaan sekarang, pembantu dianggap sebagai orang kecil yang bisa diperlakukan semena-mena oleh sang majikan, bahkan sudah tidak “dimanusiakan” lagi.

Sudah menjadi berita sebari-hari tentang perlakuan kasar majikan terhadap PRT (pembantu rumah tangga) mulai dari dipukuli sampai kehilangan nyawa akibat disiksa oleh majikan.

Inilah akibat tidak adanya kelembutan hati di dalam diri seseorang, sehingga rasa kesal, rasa marah mudah terlampiaskan, tidak terkontrol lagi dan di saat seperti itulah syetan dengan mudah memprovokasi untuk melakukan perbuatan yang tidak manusiawi.

Sikap lembut hati disertai rasa empati Nabi SAW kepada pembantunya tersirat pula dalam doa beliau, ketika Ibu Anas bin Malik memohon agar Nabi SAW mau mendoakan anaknya. Doa Nabi SAW : “Ya Allah, berilah dia harta dan anak yang banyak. Dan berkatilah atas apa yang Engkau beri “ (HR.Bukhari).

Marilah mulai dari sekarang kita semai benih kelembutan hati dalam diri kita. Cobalah untuk mengendalikan diri kita sendiri dari sikap keras hati, gampang kesal atau marah dan berlaku kasar terhadap orang lain. Sikap santun dan lembut hati Nabi SAW perlu kita teladani, agar semua urusan kita menjadi mudah, indah dan membawa berkah di dunia dan akhirat.

>Lembutkanlah Hati

>

Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa setiap amaliah bergantung kepada niatnya. Jika niatnya jelek, maka jelek pula amaliahnya. Dan jika niatnya baik, maka baik pula amaliahnya. Kedua pelajaran ini sebetulnya mengajarkan hal yang sama, bahwa kualitas keagamaan kita sebagai muslim bisa dilihat dari niat hati kita pada saat melakukan perbuatan itu.

Hati adalah ‘cermin’ dari segala perbuatan kita. Setiap kita melakukan perbuatan, maka hati kita akan mencerminkan niat yang sesungguhnya dari perbuatan itu. Katakanlah, kita memberi uang kepada seorang miskin. Kelihatannya itu adalah perbuatan mulia. Tetapi jika niatan kita untuk menyombongkan diri kepada orang lain bukan karena belas kasihan kepada si miskin maka perbuatan itu sebenarnya tidak mulia lagi. Jadi, hati lebih menggambarkan kualitas yang sesungguhnya dari perbuatan kita. Sedangkan amaliah, lebih sulit untuk dinilai kualitasnya.

Meskipun kita memiliki watak yang keras, kita tetap harus bisa berempati dan simpati terhadap orang lain. Tidak hanya bersimpati dan berempati, hati yang lembut pun dapat tercermin dari tangisan kita kepada Sang Khalik di malam hari, saat kita mengakui dan memohon ampun atas segala kesalahan yang telah kita perbuat.

Mungkin kita dapat belajar dari Para Sahabat Rasululloh yang ketika di siang hari mereka sangat keras, gagah, dan tangguh dalam berperang untuk membela Islam. Namun, di malam hari, mereka tak segan untuk meneteskan air mata dan memohon ampun kepada Rabb mereka atas segala kesalahan yang pernah mereka perbuat. Hal itu membuktikan bahwa meskipun para sahabat memiliki sifat yang keras, namun mereka mimiliki hati yang sungguh sangat lembut.

Sekeras apapun karakter kita, jangan sampai hati kita pun ikut menjadi keras. Karena jika hati telah menjadi keras, maka kita akan sulit menerima kebaikan dari luar.

Karena itu, N-AQS Methode lebih condong ‘menggarap’ hati daripada perbuatan. Kalau hatinya sudah baik, maka perbuatannya pasti baik. Sebaliknya meski perbuatannya kelihatan ‘baik’, belum tentu hatinya baik. Bisa saja ada niat jelek yang tersembunyi.

Seluruh jenis peribadatan yang diajarkan Rasulullah kepada kita sebenarnya dimaksudkan untuk menggarap hati kita agar menjadi baik. Sebutlah puasa. Puasa ini tujuan akhirnya adalah kemampuan mengendalikan diri. Atau disebut Takwa dalam terminologi Islam. Takwa adalah kualitas hati. Orang yang bertakwa memiliki keteguhan hati untuk selalu berbuat baik dan menjauhi yang jelek.

Demikian juga shalat. Tujuan utama shalat adalah membuka kepekaan hati. Orang yang shalatnya baik, memiliki kepekaan hati untuk membedakan mana yang baik, mana yang buruk Mana yang bermanfaat, mana yang membawa mudharat. Karena itu, shalat yang baik bisa menyebabkan kita jauh dari hal hal yang keji dan munkar.

Juga zakat. Tujuan utama zakat adalah melatih hati kita untuk peduli kepada orang-orang yang lemah dan tidak berdaya. Hidup harus saling menolong, supaya tidak terjadi ketimpangan yang menyebabkan terjadinya kejahatan. Itu secara sosial. Tetapi secara pribadi, kebiasaan menolong orang lain dengan zakat akan menyebabkan hati kita menjadi lembut dan penyantun.

Demikianlah, seluruh aktifitas ibadah kita termasuk haji, semuanya menuju kepada pelembutan hati kita. Kenapa hati yang lembut ini perlu?

Karena hati yang lembut itulah yang akan menyelamatkan kita ketika hidup di akhirat nanti. Hati yang lembut adalah hati yang terbuka dan tanggap terhadap sekitarnya. Sedangkan hati yang kasar dan keras adalah hati yang tertutup terhadap sekitarnya. Allah berfirman dalam firman Alah berikut ini.

QS. Al Israa (17) : 72
“Dan barangsiapa di dunia ini buta hatinya, maka di akbirat nanti juga akan buta, dan lebih sesat lagi jalannya.”

Ayat tersebut di atas memberikan gambaran yang sangat jelas kepada kita bahwa hati menjadi sasaran utama peribadatan kita. Karena itu Al Quran memberikan informasi yang sangat banyak tentang hati ini. Tidak kurang dari 188 kali informasi tentang hati ini diulang-ulang oleh Allah di dalam Al Quran.

Ada beberapa tingkatan kualitas hati yang diinformasikan Allah di dalam Quran. Hati yang jelek dikategorikan dalam 5 tingkatan.

Yang pertama adalah hati yang berpenyakit. 
Orang-orang yang di hatinya ada rasa iri, benci, dendam, pembohong, munafik, kasar, pemarah dan lain sebagainya, disebut memiliki hati yang berpenyakit, sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat diantaranya,

QS. Al Baqarah (2) : 10
“Di dalam hati mereka ada Penyakit, lala ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta”

QS Al Hajj (22) : 53
“Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleb setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar batinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar benar dalam permusuhan yang sangat.”

Tingkatan kedua hati yang jelek adalah hati yang mengeras. 
Hati yang berpenyakit, jika tidak segera diobati akan menjadi mengeras. Mereka yang terbiasa melakukan kejahatan, hatinya tidak lagi peka terhadap kejelekan perbuatannya. Mereka menganggap bahwa apa yang mereka kerjakan adalah benar adanya.

QS. Al An’aam (6) : 43
“Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.

Tingkatan ketiga, adalah hati yang membatu. 
Hati yang keras kalau tidak segera disadari akan meningkat kualitas keburukannya. Al Quran menyebutnya sebagai hati yang membatu alias semakin mengeras dari sebelumnya.

QS. Al Baqarah (2) : 74
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”

Tingkatan keempat, adalah hati yang tertutup. 
Pada bagian berikutnya akan kita bahas, bahwa hati kita itu bagaikan sebuah tabung resonansi. Jika tertutup, maka hati kita tidak bisa lagi menerima getaran petunjuk dari luar. Allah mengatakan hal itu di dalam firmanNya.

QS Al Muthaffiffin : 14
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.”

Dan yang kelima, adalah hati yang dikunci mati. 
Jika hati sudah tertutup, maka tingkatan berikutnya adalah hati yang terkunci mati. Sama saja bagi mereka diberi petunjuk atau tidak. Hal ini diungkapkan Allah berikut ini.

Al Baqarah : 6-7
“Sesungguhnya orang-orang kafir itu, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglibatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.”

Sebaliknya hati yang baik adalah hati yang gampang bergetar, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam

QS. Al Hajj (22) : 35
“(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rizkikan kepada mereka.”

Hati orang-orang yang demikian itu lembut adanya. Mereka gampang iba melihat penderitaan orang lain. Suka menolong. Tidak suka kekerasan. Penyantun dan penuh kasih sayang kepada siapapun. Itulah nabi Ibrahim yang dijadikan teladan oleh Allah serta menjadi kesayangan Allah. Sebagaimana diinformasikan dalam firman berikut.

At Taubah (9) : 114
“Dan Permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diirarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”

Sifat lembut hati merupakan salah satu akhlak mulia dari Nabi S AW seperti yang dikatakan Abdullah bin Umar: “Sesungguhnya, saya menemukan sifat Rasulullah SAW dalam kitab-kitab terdahulu itu demikian : Sesungguhnya tutur katanya tidak kasar, hatinya tidak keras, tidak suka berteriak-teriak dipasar-pasar, dan tidak suka membalas kejahatan orang dengan kejahatan lagi, namun dia memaafkan dan mengampuninya. ” (Tafsir Ibnu Katsir II, hl.608)

Pangkal Kesabaran

Kelembutan hati Nabi SAW tidak hanya ditujukan kepada para sahabat yang telah paham dengan aturan agama, namun kepada orang awam yang belum memahami aturan agama pun beliau bersikap lembut dan santun.

Suatu hari ketika beberapa sahabat sedang khusyuk mendengarkan nasihat Nabi SAW di masjid Nabawi, tiba-tiba seorang Arab Badui masuk masjid dan tanpa basa-basi dia langsung buang air kecil di salah satu pojok masjid. Para sahabat yang melihatnya terkejut dan segera berdiri untuk memukul orang itu dan mengusirnya.

Melihat hal ini Nabi SAW segera mencegah tindakan para sahabat. Para sahabat pun lalu membiarkan Arab Badui tadi menuntaskan buang hajatnya. Setelah benar-benar selesai, Nabi SAW memerintahkan seorang sahabat mengambil seember air untuk mengguyur tempat Arab Badui buang hajatnya.

Tanpa rasa marah dan kesal Nabi SAW menghampiri orang itu dan mengatakan: “Sesungguhnya masjid itu tidak layak dikencingi dan dikotori. Sesungguhnya masjid itu tempat untuk shalat, berdzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an” (HR. Muslim).

Nabi SAW memahami ketidak-tahuan si Arab Badui tersebut, sehingga kelembutan hati beliau bisa mengalahkan amarah beliau. Kalau hal itu terjadi di saat sekarang, mungkin si Arab Badui itu telah babak belur di “Vermak” oleh para jamaah masjid.

Sifat lembut hati, santun, ramah dan tidak cepat marah tidak hanya akan membuat manusia menaruh simpati kepada kita, tetapi Allah SWT-pun mencintainya. “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan Mencintai kelembutan ” (HR.Muslim).

Dengan modal kelembutan hati, seorang da’i pasti dengan mudah menarik simpati orang, seorang suami pasti disayang oleh keluarga dan jika seorang pemimpin pasti dicintai rakyatnya.

Rasa sakinah pun akan hadir dalam keluarga ketika kelembutan dan sikap santun menjadi perhiasannya. Nabi SAW bersabda: “Apabila Allah Azza wa Jalla menghendaki kebaikan suatu keluarga, Allah akan memasukkan kelembutan atas mereka ” (HR. Ahmad).

Kesaksian Sahabat

Dan ini telah dicontohkan oleh Nabi SAW dengan sikap beliau yang lembut, tidak pernah marah kepada pembantu rumah tangganya. Anas bin Malik, sebagaimana diriwayatkan Imam Mulim, Anas bin Malik berkata: “Aku menjadi pembantu Rasulullah selama sepuluh tahun. Belum pemah beliau berkata kasar kepadaku. Dan selama sepuluh tahun itu belum pernah beliau berkata kepadaku: ‘Mengapa kamu melakukan ini?’ Dan belum pernah beliau berkata: ‘Mengapa kau tidak lakukan sesuatu sepeninggalku?’ “.

Sepuluh tahun bukanlah sebentar dan selama itu Anas bin Malik belum pernah sekalipun dimarahi Nabi SAW. Coba bandingkan dengan keadaan sekarang, pembantu dianggap sebagai orang kecil yang bisa diperlakukan semena-mena oleh sang majikan, bahkan sudah tidak “dimanusiakan” lagi.

Sudah menjadi berita sebari-hari tentang perlakuan kasar majikan terhadap PRT (pembantu rumah tangga) mulai dari dipukuli sampai kehilangan nyawa akibat disiksa oleh majikan.

Inilah akibat tidak adanya kelembutan hati di dalam diri seseorang, sehingga rasa kesal, rasa marah mudah terlampiaskan, tidak terkontrol lagi dan di saat seperti itulah syetan dengan mudah memprovokasi untuk melakukan perbuatan yang tidak manusiawi.

Sikap lembut hati disertai rasa empati Nabi SAW kepada pembantunya tersirat pula dalam doa beliau, ketika Ibu Anas bin Malik memohon agar Nabi SAW mau mendoakan anaknya. Doa Nabi SAW : “Ya Allah, berilah dia harta dan anak yang banyak. Dan berkatilah atas apa yang Engkau beri “ (HR.Bukhari).

Marilah mulai dari sekarang kita semai benih kelembutan hati dalam diri kita. Cobalah untuk mengendalikan diri kita sendiri dari sikap keras hati, gampang kesal atau marah dan berlaku kasar terhadap orang lain. Sikap santun dan lembut hati Nabi SAW perlu kita teladani, agar semua urusan kita menjadi mudah, indah dan membawa berkah di dunia dan akhirat.