Dunia Tanpa Batas

Pada tahun 1982 terjadi suatu peristiwa yang menarik. Di Universitas Paris, sebuah tim peneliti dipimpin oleh Alain Aspect melakukan suatu eksperimen yang mungkin merupakan eksperimen yang paling penting di abad ke-20. Anda tidak mendapatkannya dalam berita malam. Malah, kecuali Anda biasa membaca jurnal-jurnal ilmiah, Anda mungkin tidak pernah mendengar nama Aspect, sekalipun sementara orang merasa temuannya itu mungkin akan mengubah wajah sains.

Aspect bersama timnya menemukan bahwa dalam lingkungan tertentu partikel-partikel subatomik, seperti elektron, mampu berkomunikasi dengan seketika satu sama lain tanpa tergantung pada jarak yang memisahkan mereka. Tidak ada bedanya apakah mereka terpisah 10 kaki atau 10 milyar km satu sama lain.

Entah bagaimana, tampaknya setiap partikel selalu tahu apa yang dilakukan oleh partikel lain. Masalah yang ditampilkan oleh temuan ini adalah bahwa hal itu melanggar prinsip Einstein yang telah lama dipegang, yakni bahwa tidak ada komunikasi yang mampu berjalan lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Oleh karena berjalan melebihi kecepatan cahaya berarti menembus dinding waktu, maka prospek yang menakutkan ini menyebabkan sementara ilmuwan fisika mencoba menyusun teori yang dapat menjelaskan temuan Aspect. Namun hal itu juga mengilhami sementara ilmuwan lain untuk menyusun teori yang lebih radikal lagi.

Pakar fisika teoretik dari Universitas London, David Bohm, misalnya, yakin bahwa temuan Aspect menyiratkan bahwa realitas obyektif itu tidak ada; bahwa sekalipun tampaknya pejal [solid], alam semesta ini pada dasarnya merupakan khayalan, suatu hologram raksasa yang terperinci secara sempurna. Untuk memahami mengapa Bohm sampai membuat pernyataan yang mengejutkan ini, pertama-tama kita harus memahami sedikit tentang hologram. Sebuah hologram adalah suatu potret tiga dimensional yang dibuat dengan sinar laser. Untuk membuat hologram, obyek yang akan difoto mula-mula disinari dengan suatu sinar laser. Lalu sinar laser kedua yang dipantulkan dari sinar pertama ditujukan pula kepada obyek tersebut, dan pola interferensi yang terjadi (bidang tempat kedua sinar laser itu bercampur) direkam dalam sebuah pelat foto)

Ketika pelat itu dicuci, gambar terlihat sebagai pusaran-pusaran garis-garis terang dan gelap. Tetapi ketika foto itu disoroti oleh sebuah sinar laser lagi, muncullah gambar tiga dimensional dari obyek semula di situ. Sifat tiga dimensi dari gambar seperti itu bukan satu-satunya sifat yang menarik dari hologram. Jika hologram sebuah bunga mawar dibelah dua dan disoroti oleh sebuah sinar laser, masing-masing belahan itu ternyata masih mengandung gambar mawar itu secara lengkap (tetapi lebih kecil).

Bahkan, jika belahan itu dibelah lagi, masing-masing potongan foto itu ternyata selalu mengandung gambar semula yang lengkap sekalipun lebih kecil. Berbeda dengan foto yang biasa, setiap bagian sebuah hologram mengandung semua informasi yang ada pada hologram secara keseluruhan. Sifat “keseluruhan di dalam setiap bagian” dari sebuah hologram, memberikan kepada kita suatu cara pemahaman yang sama sekali baru terhadap organisasi dan order. Selama sebagian besar sejarahnya, sains Barat bekerja di bawah prinsip yang bias, yakni bahwa cara terbaik untuk memahami fenomena fisikal –baik seekor katak atau sebuah atom– adalah dengan memotong-motongnya dan meneliti bagian – bagiannya. Sebuah hologram mengajarkan bahwa beberapa hal dari alam semesta ini mungkin tidak akan terungkap dengan pendekatan itu. Jika kita mencoba menguraikan sesuatu yang tersusun secara holografik, kita tidak akan mendapatkan bagian-bagian yang membentuknya, melainkan kita akan mendapatkan keutuhan yang lebih kecil.

Pencerahan ini menuntun Bohm untuk memahami secara lain temuan Aspect. Bohm yakin bahwa alasan mengapa partikel-partikel subatomik mampu berhubungan satu sama lain tanpa terpengaruh oleh jarak yang memisahkan mereka adalah bukan karena mereka mengirimkan isyarat misterius bolak-balik di antara satu sama lain, melainkan oleh karena keterpisahan mereka adalah ilusi. Bohm berkilah, bahwa pada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, partikel-partikel seperti itu bukanlah entitas-entitas individual, melainkan merupakan perpanjangan [extension] dari sesuatu yang esa dan fundamental.

Agar khalayak lebih mudah membayangkan apa yang dimaksudkannya, Bohm memberikan ilustrasi berikut: Bayangkan sebuah akuarium yang mengandung seekor ikan. Bayangkan juga bahwa Anda tidak dapat melihat akuarium itu secara langsung, dan bahwa pengetahuan Anda tentang akuarium itu beserta apa yang terkandung di dalamnya datang dari dua kamera televisi: yang sebuah ditujukan ke sisi depan akuarium, dan yang lain ditujukan ke sisinya. Ketika Anda menatap kedua layar televisi, Anda mungkin menganggap bahwa ikan yang ada pada masing-masing layar itu adalah dua ikan yang berbeda. Bagaimana pun juga, karena kedua kamera diarahkan dengan sudut yang berbeda, masing-masing gambar ikan itu sedikit berbeda satu sama lain. Tetapi sementara Anda terus memandang kedua ikan itu, akhirnya Anda akan menyadari bahwa ada hubungan tertentu di antara kedua ikan itu.

Kalau yang satu berbelok, yang lain juga membuat gerakan yang berbeda tapi sesuai; jika yang satu menghadap kamera, yang lain menghadap ke suatu sisi. Jika Anda tidak menyadari seluruh situasinya, Anda mungkin menyimpulkan bahwa kedua ikan itu saling berkomunikasi secara seketika, tetapi jelas bukan demikian halnya.

Menurut Bohm, inilah sesungguhnya yang terjadi di antara artikel-partikel subatomik dalam eksperimen Aspect itu. Menurut Bohm, hubungan yang tampaknya “lebih cepat dari cahaya” di antara partikel-partikel subatomik sesungguhnya mengatakan kepada kita bahwa ada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, yang selama ini tidak kita kenal, suatu dimensi yang lebih rumit di luar dimensi kita, dimensi yang beranalogi dengan akuarium itu. Tambahnya, kita memandang obyek-obyek seperti partikel-partikel subatomik sebagai terpisah satu sama lain oleh karena kita hanya memandang satu bagian dari realitas sesungguhnya.

Partikel-partikel seperti itu bukanlah “bagian-bagian” yang terpisah, melainkan faset-faset dari suatu kesatuan (keesaan) yang lebih dalam dan lebih mendasar, yang pada akhirnya bersifat holografik dan tak terbagi-bagi seperti gambar mawar di atas. Dan oleh karena segala sesuatu dalam realitas fisikal terdiri dari apa yang disebut “eidolon-eidolon” ini, maka alam semesta itu sendiri adalah suatu proyeksi, suatu hologram. Di samping hakekatnya yang seperti bayangan, alam semesta itu memiliki sifat-sifat lain yang cukup mengejutkan. Jika keterpisahan yang tampak di antara partikel-partikel subatomik itu ilusif, itu berarti pada suatu tingkat realitas yang lebih dalam segala sesuatu di alam semesta ini saling berhubungan secara tak terbatas.

Elektron-elektron didalam atom karbon dalam otak manusia berhubungan dengan partikel-partikel subatomik yang membentuk setiap ikan salem yang berenang, setiap jantung yang berdenyut, dan setiap bintang yang berkilauan di angkasa. Segala sesuatu meresapi segala sesuatu; dan sekalipun sifat manusia selalu mencoba memilah-milah, mengkotak-kotakkan dan membagi-bagi berbagai fenomena di alam semesta, semua pengkotakan itu mau tidak mau adalah artifisial, dan segenap alam semesta ini pada akhirnya merupakan suatu jaringan tanpa jahitan.

Di dalam sebuah alam semesta yang holografik, bahkan waktu dan ruang tidak dapat lagi dipandang sebagai sesuatu yang fundamental. Oleh karena konsep-konsep seperti lokasi’ runtuh di dalam suatu alam semesta yang di situ tidak ada lagi sesuatu yang terpisah dari yang lain, maka waktu dan ruang tiga dimensional –seperti gambar-gambar ikan pada layar-layar TV di atas– harus dipandang sebagai proyeksi dari order yang lebih dalam lagi.

Pada tingkatan yang lebih dalam, realitas merupakan semacam superhologram yang di situ masa lampau, masa kini, dan masa depan semua ada (berlangsung) secara serentak. Ini mengisyaratkan bawah dengan peralatan yang tepat mungkin di masa depan orang bisa menjangkau ke tingkatan realitas superholografik itu dan mengambil adegan-adegan dari masa lampau yang terlupakan.

Apakah ada lagi yang terkandung dalam superhologram itu merupakan pertanyaan terbuka. Bila diterima –dalam diskusi ini– bahwa superhologram itu merupakan matriks yang melahirkan segala sesuatu dalam alam semesta kita, setidak-tidaknya ia mengandung setiap partikel subatomik yang pernah ada dan akan ada — setiap konfigurasi materi dan energi yang mungkin, dari butiran salju sampai quasar, dari ikan paus biru sampai sinar gamma. Itu bisa dilihat sebagai gudang kosmik dari “segala yang ada”.

Sekalipun Bohm mengakui bahwa kita tidak mempunyai cara untuk mengetahui apa lagi yang tersembunyi di dalam superhologram itu, ia juga mengatakan bahwa kita tidak mempunyai alasan bahwa superhologram itu tidak mengandung apa-apa lagi. Atau, seperti dinyatakannya, mungkin tingkat realitas superholografik itu “sekadar satu tingkatan”, yang di luarnya terletak “perkembangan lebih lanjut yang tak terbatas.”

Bohm bukanlah satu-satunya peneliti yang menemukan bukti-bukti bahwa alam semesta ini merupakan hologram. Dengan bekerja secara independen di bidang penelitian otak, pakar neurofisiologi Karl Pribram dari Universitas stanford, juga menerima sifat holografik dari realitas.

Pribram tertarik kepada model holografik oleh teka-teki bagaimana dan di mana ingatan tersimpan di dalam otak. Selama puluhan tahun berbagai penelitian menunjukkan bahwa alih-alih tersimpan dalam suatu lokasi tertentu, ingatan tersebar di seluruh bagian otak.

Dalam serangkaian penelitian yang bersejarah pada tahun 1920-an, ilmuwan otak Karl Lashley menemukan bahwa tidak peduli bagian mana dari otak tikus yang diambilnya, ia tidak dapat menghilangkan ingatan untuk melakukan tugas-tugas rumit yang pernah dipelajari tikus itu sebelum dioperasi. Masalahnya ialah tidak seorang pun dapat menjelaskan mekanisme ponyimpanan ingatan yang bersifat “semua di dalam setiap bagian” yang aneh ini.

Lalu pada tahun 1960-an Pribram membaca konsep holografi dan menyadari bahwa ia telah menemukan penjelasan yang telah lama dicari-cari oleh para ilmuwan otak. Pribram yakin bahwa ingatan terekam bukan di dalam neuron-neuron (sel-sel otak), melainkan di dalam pola-pola impuls saraf yang merambah seluruh otak, seperti pola-pola interferensi sinar laser yang merambah seluruh wilayah pelat film yang mengandung suatu gambar holografik. Dengan kata lain, Pribram yakin bahwa otak itu sendiri merupakan sebuah hologram!

Teori Pribram juga menjelaskan bagaimana otak manusia dapat menyimpan begitu banyak ingatan dalam ruang yang begitu kecil. Pernah diperkirakan bahwa otak manusia mempunyai kapasitas mengingat sekitar 10 milyar bit informasi selama masa hidup manusia rata-rata (atau kira-kira sebanyak informasi yang terkandung dalam lima set Encyclopaedia Britannica).

Demikian pula telah ditemukan bahwa di samping sifat-sifatnya yang lain, hologram mempunyai kapasitas untuk menyimpan informasi — hanya dengan mengubah sudut kedua sinar laser itu jatuh pada permukaan pelat film, dimungkinkan untuk merekam banyak gambar berbeda pada permukaan yang sama. Telah dibuktikan bahwa satu sentimeter kubik pelat film dapat menyimpan sebanyak 10 milyar bit informasi.

Kemampuan mengagumkan dari manusia untuk mengambil informasi yang diperlukan dari gudang ingatan yang amat besar itu dapat lebih dipahami jika otak berfungsi menurut prinsip-prinsip holografik.Jika seorang teman minta Anda mengatakan apa yang terlintas dalam pikiran ketika ia menyebut “zebra”, Anda tidak perlu tertatih-tatih melakukan sorting dan mencari dalam suatu file alfabetis raksasa dalam otak untuk sampai kepada suatu jawaban. Alih-alih, berbagai asosiasi seperti “bergaris-garis”, “macam kuda”, dan “binatang dari Afrika” semua muncul dikepala Anda dengan seketika.

Sesungguhnya, salah satu hal paling mengherankan tentang proses berpikir manusia adalah bahwa setiap butir informasi tampaknya dengan seketika berkorelasi-silang dengan setiap butir informasi lain– ini merupakan sifat intrinsik dari hologram. Oleh karena setiap bagian dari hologram saling berhubungan secara tak terbatas satu sama lain, ini barangkali merupakan contoh terbaik dari alam tentang suatu sistem yang saling berkorelasi.

Penyimpanan ingatan bukan satu-satunya teka-teki neurofisiologis yang lebih dapat dijelaskan dengan model otak holografik Pribram. Teka-teki lain adalah bagaimana otak mampu menerjemahkan serbuan frekuensi-frekuensi yang diterimanya melalui pancaindra (frekuensi cahaya, frekuensi suara, dan sebagainya) menjadi dunia konkrit dari persepsi manusia. Merekam dan menguraikan kembali frekuensi adalah sifat terunggul dari sebuah hologram. Seperti hologram berfungsi sebagai semacam lensa, alat yang menerjemahkan frekuensi-frekuensi kabur yang tak berarti menjadi suatungambar yang koheren, Pribram yakin bahwa otak juga merupakan sebuah lensa yang menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk secara matematis mengubah frekuensi-frekuensi yang diterimanya melalui pancaindra menjadi persepsi di dalam batin kita.

Sejumlah bukti yang mengesankan mengisyaratkan bahwa otak menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk menjalankan fungsinya. Sesungguhnya, teori Pribram makin diterima di kalangan pakar neurofisiologi. Peneliti argentina-Italia, Hugo Zucarelli, baru-baru ini memperluas model holografik ke dalam fenomena akustik. Menghadapi teka-teki bahwa manusia dapat menetapkan sumber suara tanpa menggerakkan kepalanya, bahkan jika mereka hanya memiliki pendengaran pada satu telinga saja, Zucarelli menemukan prinsip-prinsip holografik dapat menjelaskan kemampuan ini.

Zucarelli juga mengembangkan teknologi suara holofonik, suatu teknik perekaman yang mampu mereproduksi suasana akustik dengan realisme yang mengagumkan.

Keyakinan Pribram bahwa otak kita secara matematis membangun realitas “keras” dengan mengandalkan diri pada masukan dari suatu domain frekuensi juga telah mendapat dikungan sejumlah eksperimen.

Telah ditemukan bahwa masing-masing indra kita peka terhadap suatu bentangan frekuensi yang jauh lebih lebar daripada yang dianggap orang sebelum ini. Misalnya, para peneliti telah menemukan bahwa sistem penglihatankita peka terhadap frekuensi suara, bahwa indra penciuman kita sebagian bergantung pada apa yang sekarang dinamakan “frekuensi osmik”, dan bahkan sel-sel tubuh kita peka terhadap suatu bentangan luas frekuensi. Temuan-temuan seperti itu menandakan bahwa hanya di dalam domain kesadaran holografik saja frekuensi- frekuensi seperti itu dipilah-pilah dan dibagi-bagi menjadi persepsi konvensional.

Tetapi aspek yang paling membingungkan dari model otak holografik Pribram adalah apa yang terjadi apabila model itu dipadukan dengan teori Bohm. Oleh karena, bila kekonkritan alam semesta ini hanyalah realitas sekunder dan bahwa apa yang ada “di luar sana” sesungguhnya hanyalah kekaburan frekuensi holografik, dan jika otak juga sebuah hologram dan hanya memilih beberapa saja dari frekuensi-frekuensi yang kabur dan secara matematis mengubahnya menjadi persepsi sensorik, apa jadinya dengan realitas yang obyektif?

Secara sederhana, realitas obyektif itu tidak ada lagi. Seperti telah lama dinyatakan oleh agama-agama dari Timur, dunia materi ini adalah Maya, suatu ilusi, dan sekalipun kita mungkin berpikir bahwa kita ini makhluk fisikal yang bergerak di dalam dunia fisikal, ini juga suatu ilusi.

Kita ini sebenarnya adalah “pesawat penerima” yang mengambang melalui suatu lautan frekuensi kaleidoskopik, dan apa yang kita ambil dari lautan ini dan terjemahkan menjadi realitas fisikal hanyalah satu channel saja dari sekian banyak yang diambil dari superhologram itu.

Gambaran realitas yang baru dan mengejutkan ini, yakni sintesis antara pandangan Bohm dan Pribram, dinamakan paradigma holografik, dan sekalipun banyak ilmuwan memandangnya secara skeptik, paradigma itu menggairahkan sementara ilmuwan lain. Suatu lingkungan kecil ilmuwan –yang jumlahnya makin  bertambah– percaya bahwa paradigma itu merupakan model realitas yang paling akurat yang pernah dicapai sains. Lebih dari itu, sementara kalangan percaya bahwa itu dapat memecahkan beberapa misteri yang selama ini belum dapat dijelaskan oleh sains, dan bahkan dapat menegakkan hal-hal paranormal sebagai bagian dari alam. Banyak peneliti, termasuk Bohm dan Pribram, mencatat bahwa banyak fenomena para-psikologis menjadi lebih dapat dipahami dalam kerangka paradigma holografik.

Dalam suatu alam semesta yang di situ otak individu sesungguhnya adalah bagian yang tak terbagi dari hologram yang lebih besar dan segala sesuatu saling berhubungan secara tak terbatas, maka telepati mungkin tidak lebih dari sekadar mengakses tingkat holografik itu. Jelas itu jauh lebih mudah dapat memahami bagaimana informasi dapat berpindah dari batin individu A kepada batin individu B yang berjauhan, dan memahami sejumlah teka-teki yang belum terpecahkan dalam psikologi. Khususnya, Grof merasa bahwa paradigma holografik menawarkan model untuk memahami banyak fenomena membingungkan yang dialami orang dalam keadaan “kesadaran yang berubah” [altered states of consciousness].

Pada tahun 1950-an, ketika melakukan penelitian terhadap anggapan bahwa LSD adalah alat penyembuhan psikoterapi, Grof mempunyai seorang pasien wanita yang tiba-tiba merasa yakin bahwa dia mempunyai identitas seekor reptil betina prasejarah. Selama halusinasinya, dia tidak hanya menguraikan secara amat mendetail tentang bagaimana rasanya terperangkap dalam wujud seperti itu, melainkan juga mengatakan bahwa bagian anatomi binatang jantan adalah sepetak sisik berwarna pada sisi kepalanya.

Yang mengejutkan Grof ialah bahwa, sekalipun wanita itu sebelumnya tidak mempunyai pengetahuan tentan hal-hal itu, suatu percakapan dengan seorang ahli zoologi belakangan menguatkan bahwa pada beberapa spesies reptilia tertentu bagian-bagian berwarna dari kepala memainkan peran penting untuk membangkitkan birahi.

Pengalaman wanita itu bukan sesuatu yang unik. Selama penelitiannya, Grof bertemu dengan pasien-pasien yang mengalami regresi dan mengenali dirinya sebagai salah satu spesies dalam deretan evolusi. Tambahan pula, ia mendapati bahwa pengalaman-pengalaman seperti itu sering kali mengandung informasi zoologis yang jarang diketahui yang belakangan ternyata akurat.

Regresi ke dalam dunia binatang bukanlah satu-satunya fenomena psikologis yang menjadi teka-teki yang ditemukan Grof. Ia juga mempunyai pasien-pasien yang tampak dapat memasuki alam bawah sadar kolektif atau rasial. Orang-orang yang tidak terdidik tiba-tiba memberikan gambaran yang terperinci tentang praktek penguburan Zoroaster dan adegan-adegan dari mitologi Hindu. Jenis pengalaman yang lain adalah orang-orang yang emberikan uraian yang meyakinkan tentang perjalanan di luar tubuh, atau melihat sekilas masa depan yang akan terjadi, atau regresi ke dalam inkarnasi dalam salah satu kehidupan lampau.

Dalam riset-riset lebih lanjut, Grof menemukan bentangan fenomena yang sama muncul dalam sesi-sesi terapi yang tidak menggunakan obat-obatan [psikotropika]. Oleh karena unsur yang sama dalam pengalaman-pengalaman seperti itu tampaknya adalah diatasinya kesadaran individu yang biasanya dibatasi oleh ego dan/atau dibatasi oleh ruang dan waktu, Grof menyebut fenomena itu sebagai “pengalaman transpersonal”, dan pada akhir tahun 1960-an ia membantu mendirikan cabang psikologi yang disebut “psikologi transpersonal” yang sepenuhnya mengkaji pengalaman-pengalaman seperti itu.

Sekalipun perhimpunan yang didirikan oleh Grof, Perhimpunan Psikologi Transpersonal [Association of Transpersonal Psychology], menghimpun sekelompok profesional yang jumlahnya semakin bertambah, dan telah menjadi cabang psikologi yang terhormat [di kalangan sains], selama bertahun-tahun Grof maupun rekan-rekannya tidak dapat memberikan suatu mekanisme yang dapat menjelaskan berbagai fenomena psikologis aneh yang mereka aksikan. Tetapi semua itu berubah dengan lahirnya paradigma holografik.

Sebagaimana dicatat Grof baru-baru ini, jika batin memang bagian dari suatu kontinuum, suatu labirin yang berhubungan bukan hanya dengan setiap batin lain yang ada dan yang pernah ada, melainkan berhubungan pula dengan setiap atom, organisme, dan wilayah di dalam ruang dan waktu yang luas itu sendiri, maka fakta bahwa batin kadang-kadang bisa menjelajah ke dalam labirin itu dan mengalami hal-hal transpersonal tidak lagi tampak begitu aneh.

Paradigma holografik juga mempunyai implikasi bagi sains-sains “keras” seperti biologi. Keith Floyd, seorang psikolog di Virginia Intermont College, mengatakan bahwa jika realitas yang konkrit tidak lebih dari sekadar ilusi holografik, maka tidak benar lagi pernyataan yang mengklaim bahwa otak menghasilkan kesadaran. Alih-alih, justru kesadaranlah yang menciptakan perwujudan dari otak — termasuk juga tubuh dan segala sesuatu di sekitar kita yang kita tafsirkan sebagai fisikal.

Pembalikan cara melihat struktur-struktur biologis seperti itu menyebabkan para peneliti mengatakan bahwa ilmu kedokteran dan pemahaman kita mengenai proses penyembuhan juga dapat mengalami transformasi berkat paradigma holografik ini. Jika struktur yang tampaknya fisikal dari badan ini tidak lain daripada proyeksi holografik dari kesadaran, maka jelas bahwa asing-masing dari kita jauh lebih bertanggung-jawab bagi kesehatan diri kita daripada yang dinyatakan oleh pengetahuan kedokteran masa kini. Apa yang sekarang kita lihat sebagai penyembuhan penyakit yang bersifat “mukjizat” mungkin sesungguhnya disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam kesadaran yang pada gilirannya mempengaruhi perubahan-perubahan dalam hologram badan jasmani.

Demikian pula, teknik-teknik penyembuhan baru yang kontroversial, seperti visualisasi, mungkin berhasil baik oleh karena dalam domain pikiran yang holografik gambar-gambar pada akhirnya sama nyatanya dengan “realitas”.

Bahkan berbagai visiun dan pengalaman yang menyangkut realitas yang “tidak biasa” dapat dijelaskan dengan paradigma holografik. Dalam bukunya “Gifts of Unknown Things”, pakar biologi Lyall Watson menceritakan pertemuannya dengan seorang dukun perempuan Indonesia yang, dengan melakuan semacam tarian ritual, mampu melenyapkan sekumpulan pepohonan. Watson mengisahkan, sementara ia dan seorang pengamat lain terus memandang perempuan itu dengan takjub, ia membuat pepohonan itu muncul kembali, lalu melenyapkannya dan memunculkannya lagi beberapa kali berturut – turut.

Sekalipun pemahaman saintifik masa kini tidak mampu menjelaskan peristiwa-peristiwa seperti itu, berbagai pengalaman seperti ini menjadi lebih mungkin jika realitas “keras” tidak lebih dari sekadar proyeksi holografik.

Mungkin kita sepakat tentang apa yang “ada” atau “tidak ada” oleh karena apa yang disebut “realitas konsensus” itu dirumuskan dan disahkan di tingkat bawah sadar manusia, yang di situ semua batin saling berhubungan tanpa terbatas.

Jika ini benar, maka ini adalah implikasi paling dalam dari paradigma holografik, oleh karena hal itu berarti bahwa pengalaman-pengalaman sebagaimana dialami oleh Watson adalah tidak lazim hanya oleh karena kita tidak memprogram batin kita dengan kepercayaan-kepercayaan yang membuatnya lazim. Di dalam alam semesta yang holografik, tidak ada batas bagaimana kita dapat mengubah bahan-bahan realitas.

Yang kita lihat sebagai ‘realitas’ hanyalah sebuah kanvas yang menunggu kita gambari dengan gambar apa pun yang kita inginkan. Segala sesuatu adalah mungkin, mulai dari melengkungkan sendok dengan kekuatan batin sampai peristiwa-peristiwa fantastik yang dialami oleh Castaneda selama pertemuannya dengan dukun Indian bangsa Yaqui, Don Juan, oleh karena sihir adalah hak asasi kita, tidak lebih dan tidak kurang adikodratinya daripada kemampuan kita menghasilkan realitas yang kita inginkan etika kita bermimpi.

Sesungguhnya, bahkan paham-paham kita yang paling mendasar tentang realitas patut dipertanyakan, oleh karena di dalam alam semesta holografik, sebagaimana ditunjukkan oleh Pribram, bahkan perisitiwa yang terjadi secara acak [random] harus dilihat sebagai berdasarkan prinsip holografik dan oleh karena itu bersifat determined. ‘Sinkronisitas’ atau peristiwa-peristiwa kebetulan yang bermanfaat, tiba-tiba masuk akal, dan segala sesuatu dalam realitas harus dilihat sebagai metafora, oleh karena bahkan peristiwa yang paling kacau mengungkapkan suatu simetri tertentu yang mendasarinya.

Apakah paradigma holografik Bohm dan Pribram akan diterima oleh sains atau tenggelam begitu saja masih akan kita lihat, tetapi pada saat ini agaknya dapat dikatakan bahwa paradigma itu telah berpengaruh terhadap pemikiran sejumlah ilmuwan. Dan bahkan jika kelak terbukti bahwa model holografik tidak memberikan penjelasan terbaik bagi komunikasi seketika yang tampaknya berlangsung bolak-balik di antara partikel-partikel subatomik, setidak-tidaknya, sebagaimana dinyatakan oleh Basil Hiley, seorang pakar fisika di Birbeck College di London, temuan Aspect “menunjukkan bahwa kita harus siap mempertimbangkan paham-paham baru yang radikal mengenai realitas.”

Terjemahan dari artikelnya Michael Talbot
The Universe as a Hologram: Does Objective Reality Exist, or is the Universe a Phantasm?
Michael Talbot adalah Pengarang buku The Holographic Universe

Komentar Red:
setelah memosting dan membaca ulang artikel ini Gue teringat bahwa orang-orang tempoe doeloe (para nabi, buddha, para kudus dan avatara-avatara) telah berbicara mengenai konsep ini. Kita adalah puzzle kecil yang menyusun alam semesta itu sendiri. Rumi juga pernah mengatakan jika sesungguhnya kita ini seperti tumbuhan air yang di permukaan nampak berbeda-beda tapi ketika ditilik di kedalaman, maka semuanya adalah satu, berakar satu, berasal dari sumber yang sama. Keterpisahan yang dirasakan oleh tiap mahluk sesungguhnya merupakan ilusi. sumber: http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/message/6582

Iklan

Re-code Your Change DNA

* Judul Buku: Re-code Your Change DNA
* Pengarang: Rhenald Kasali
* Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2007
* Jumlah halaman: 270
* Penulis Resensi: Meisia Chandra

Setelah cHaNgE!, Rhenald Kasali kembali dengan buku yang semakin dalam mengurai proses perubahan.

Re-code Your Change DNA adalah buku yang harus dibaca siapa pun yang ingin melakukan perubahan dalam hidupnya. Untuk beranjak dari satu titik tempat kita sedang berada ke tempat yang kita inginkan, maka kita harus berubah. Apa yang diperlukan dalam proses perubahan itu?

Berdasarkan pengalamannya, perjalanannya, buku-buku dan riset yang dipelajarinya, Rhenald Kasali yang saat ini adalah staf pengajar UI dan menjabat Ketua Program Magister (MM) universitas yang sama menyusun sebuah teori tentang bagaimana terjadinya sebuah perubahan.

Dengan teori yang diajukannya –dari Re-code individu, Re-code leader, Re-code pikiran, Re-code organisasi, hingga Re-code the critical mass– Rhenald sepertinya akan kembali berkeliling dari seminar ke seminar, dan dari organisasi ke organisasi, untuk mengajarkan langsung teorinya itu. Sebelumnya, hal yang sama terjadi setelah cHaNge! terbit dan mendapat sambutan yang sangat baik dari pembaca.

Menurut Rhenald, agar tetap unggul dalam dunia bisnis yang kompetitif, setiap organisasi harus adaptif terhadap perubahan. Organisasi yang adaptif didukung oleh SDM dengan kadar Change DNA yang tinggi. Change DNA adalah sifat-sifat dasar yang membentuk diri seseorang sehingga ia mampu melihat dan bergerak melakukan perubahan.

Unsur-unsur pembentuk sifat perubahan (Change DNA) itu dapat disingkat menjadi OCEAN, yang terdiri dari Openness to experience, Conscientiousness, Extroversion, Agreeableness, dan Neuroticism. Buku ini juga menyediakan tes untuk mengukur kadar OCEAN Anda, sehingga Anda bisa mengetahui bagian mana yang perlu Anda benahi untuk menjadi seorang penggerak perubahan.

Rhenald memberi ilustrasi beberapa individu yang dianggapnya mempunya Change DNA yang unggul, yaitu Muhammad Yunus yang mendirikan bank untuk pengemis, Paul Otellini yang membuat perubahan besar-besaran di Intel, Sheikh Mohammed Bin Rashid Al Maktoum yang mengubah Dubai dari sebuah padang pasir menjadi Hongkong-nya Timur Tengah, dan juga Martin Luther King yang memperjuangkan hak-hak kaum kulit hitam.

Cerita-cerita di atas disampaikan dengan cara yang menarik dan sangat inspiratif. Tidak ketinggalan, disertai juga foto-foto yang menarik, yang mewarnai seluruh buku ini. Buku ini adalah buku manajemen yang disampaikan dengan cara yang “ngepop”. Setiap bab dilengkapi dengan foto, ilustrasi, kutipan, kesimpulan, komentar penulis, dan bahkan foto-foto penulis sendiri dalam berbagai ekspresi.

Tidak hanya cerita tentang tokoh-tokoh dunia seperti disebutkan di atas, dalam buku ini juga terdapat cerita dari organisasi-organisasi di Indonesia, seperti Citibank, BCA, dan terutama dalam pemerintahan kita. Betapa Rhenald sang guru ingin melihat perubahan dalam bangsa ini. Perubahan itu harus dimulai dengan adanya pemimpin yang memiliki Change DNA unggul. Karena itu dalam buku ini juga diuraikan banyak teori tentang kepemimpinan.

Bila Anda ingin organisasi Anda berubah, maka mulailah dengan me-re-code Change DNA Anda sendiri.

DNA – Tuhan Dalam Gen Kita

Judul asli: Inochi no Angou
Terjemahan Indonesia diambil dari edisi Inggris: The Divine Code of Life: Awaken Your Genes & Discover Hidden Talents (2006)

Penulis: Kazuo Murakami, Ph.D.
Penerjemah: Winny Prasetyowati
Penyunting: Andityas Prabantoro
Proofreader: Eti Rohaeti
Penerbit terjemahan Indonesia: Mizan, Cetakan V: April 2008 (Cetakan I: Maret 2007)

Gen atau DNA (deoxyribonucleic acid) berisi semua informasi yang diperlukan untuk membentuk kehidupan. Gen menentukan fungsi dari sel dan terdapat di nukleus sel makhluk hidup. Kode genetik adalah kumpulan instruksi untuk membentuk protein. Protein bersama dengan air adalah salah satu zat terpenting dalam tubuh kita. Protein juga ditemukan dalam enzim-enzim yang penting untuk reaksi-reaksi kimia yang berlangsung dalam tubuh kita. Dengan kata lain, protein adalah dasar dari fenomena yang kita sebut sebagai kehidupan.

Struktur DNA ditemukan pada tahun 1953 dan sekarang kita dapat membaca cetak biru yang tertulis pada DNA–kode genetik dari bakteri, hewan, dan bahkan manusia. Kode genetik manusia tersusun dari lebih dari tiga milliar “huruf-huruf kimia’ yang tersimpan dalam untai-untai mikroskopik yang memiliki berat hanya satu per 200 miliar gram dan lebar hanya 1/500.000 milimeter, namun jika direnggangkan memiliki panjang sekitar tiga meter. Wow.. betapa kecilnya!

Walaupun gen diperlengkapi dengan begitu banyak informasi, namun tidak seluruh informasi itu digunakan. Gen dalam nukleus ditranskripsikan kepada setiap RNA (ribonucleic acid) bila diperlukan. RNA dalam sel dengan segera diterjemahkan menjadi protein dan enzim, yang merupakan zat-zat paling penting bagi aktivitas sel. Namun, pada saat yang sama, mereka juga mencegah dibacanya informasi yang tidak perlu. Seperti mekanisme nyala padam pada peralatan listrik. Berdasarkan penemuan ini, penulis buku ini–Kazuo Murakami, Ph.D., ahli genetika terkemuka di dunia, pemenang Max Planck Research Award (1990) dan Japan Academy Prize (1996)– meyakini bahwa kita dapat mengaktifkan gen-gen kita yang bermanfaat dan menjadikan mereka berguna bagi kita, dan sebaliknya menonaktifkan gen-gen yang tidak bermanfaat.

Ada tiga faktor yang terlibat dalam aktivasi gen, yaitu gen itu sendiri, lingkungan, dan pikiran. Banyak orang percaya bahwa ciri-ciri yang diwariskan tidak pernah berubah. Sesuatu kemampuan (misal: kecerdasan atau atletik) memang berkaitan dengan gen. Namun tidak berarti bahwa seseorang sama sekali tidak memiliki kemampuan tersebut. Kemampuan itu ada tetapi belum dinyalakan. Jika kita menghilangkan semua hambatan dan menyediakan lingkungan yang sesuai, maka potensi kita untuk berkembang akan tidak terbatas. Kemudian, berpikir positif–teruatama ketika mengalami kesulitan atau mengalami saat-saat buruk– dapat menyalakan gen, merangsang otak dan tubuh untuk memproduksi hormon yang bermanfaat. Hal ini berarti mengembangkan kemampuan untuk mencari makna bahkan dalam kesulitan yang paling buruk, untuk memandang apa yang terjadi pada kita sebagai sebuah pesan atau hadiah. Segala sesuatu yang terjadi kepada kita memang perlu terjadi, baik maupun buruk.

Di buku ini juga ditulis mengenai teori lain mengenai evolusi yang diajukan Lynn Margulis pada era 1960-an, yang dikenal sebagai Teori Endosimbiotik. Berbeda dengan teori evolusi Darwin, bahwa kita berevolusi melalui seleksi alam dan mutasi dan hanya yang paling layaklah yang dapat bertahan, Teori Endosimbiotik didasarkan pada ide bahwa kehidupan berevolusi melalui kerja sama mutualisme. Proses evolusi dimulai dari organisme bersel satu tanpa nukleus. Penggabungan antara beberapa sel sederhana atau bagian sel yang bekerja bersama untuk membentuk jenis sel baru membawa evolusi ke tingkatan berikutnya, yaitu sel yang memiliki nukleus.

Motoo Kimura, seorang ahli genetik yang terkenal dengan teori evolusi netral, menyatakan bahwa kemungkinan sesosok makhluk hidup dapat dilahirkan sama dengan kemungkinan satu orang memenangi lotre $100 juta berturut-turut selama satu juta kali. Bahwa kita lahir saja adalah suatu prestasi yang ajaib! (yang karenanya harus disyukuri)

Selama puluhan tahun meneliti gen yang sangat mikro, Kazuo Murakami yakin bahwa kode genetik tidak terjadi secara kebetulan, bahwa ada yang menuliskan cetak biru tersebut. Kazuo Murakami memiliki tiga saran yang dianggapnya sangat berguna dalam hidupnya. Saran-saran tersebut adalah

  1. miliki niat yang mulia,
  2. hidup dengan rasa terima kasih, dan
  3. berpikir positif.

>Re-code Your Change DNA

>

* Judul Buku: Re-code Your Change DNA
* Pengarang: Rhenald Kasali
* Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2007
* Jumlah halaman: 270
* Penulis Resensi: Meisia Chandra

Setelah cHaNgE!, Rhenald Kasali kembali dengan buku yang semakin dalam mengurai proses perubahan.

Re-code Your Change DNA adalah buku yang harus dibaca siapa pun yang ingin melakukan perubahan dalam hidupnya. Untuk beranjak dari satu titik tempat kita sedang berada ke tempat yang kita inginkan, maka kita harus berubah. Apa yang diperlukan dalam proses perubahan itu?

Berdasarkan pengalamannya, perjalanannya, buku-buku dan riset yang dipelajarinya, Rhenald Kasali yang saat ini adalah staf pengajar UI dan menjabat Ketua Program Magister (MM) universitas yang sama menyusun sebuah teori tentang bagaimana terjadinya sebuah perubahan.

Dengan teori yang diajukannya –dari Re-code individu, Re-code leader, Re-code pikiran, Re-code organisasi, hingga Re-code the critical mass– Rhenald sepertinya akan kembali berkeliling dari seminar ke seminar, dan dari organisasi ke organisasi, untuk mengajarkan langsung teorinya itu. Sebelumnya, hal yang sama terjadi setelah cHaNge! terbit dan mendapat sambutan yang sangat baik dari pembaca.

Menurut Rhenald, agar tetap unggul dalam dunia bisnis yang kompetitif, setiap organisasi harus adaptif terhadap perubahan. Organisasi yang adaptif didukung oleh SDM dengan kadar Change DNA yang tinggi. Change DNA adalah sifat-sifat dasar yang membentuk diri seseorang sehingga ia mampu melihat dan bergerak melakukan perubahan.

Unsur-unsur pembentuk sifat perubahan (Change DNA) itu dapat disingkat menjadi OCEAN, yang terdiri dari Openness to experience, Conscientiousness, Extroversion, Agreeableness, dan Neuroticism. Buku ini juga menyediakan tes untuk mengukur kadar OCEAN Anda, sehingga Anda bisa mengetahui bagian mana yang perlu Anda benahi untuk menjadi seorang penggerak perubahan.

Rhenald memberi ilustrasi beberapa individu yang dianggapnya mempunya Change DNA yang unggul, yaitu Muhammad Yunus yang mendirikan bank untuk pengemis, Paul Otellini yang membuat perubahan besar-besaran di Intel, Sheikh Mohammed Bin Rashid Al Maktoum yang mengubah Dubai dari sebuah padang pasir menjadi Hongkong-nya Timur Tengah, dan juga Martin Luther King yang memperjuangkan hak-hak kaum kulit hitam.

Cerita-cerita di atas disampaikan dengan cara yang menarik dan sangat inspiratif. Tidak ketinggalan, disertai juga foto-foto yang menarik, yang mewarnai seluruh buku ini. Buku ini adalah buku manajemen yang disampaikan dengan cara yang “ngepop”. Setiap bab dilengkapi dengan foto, ilustrasi, kutipan, kesimpulan, komentar penulis, dan bahkan foto-foto penulis sendiri dalam berbagai ekspresi.

Tidak hanya cerita tentang tokoh-tokoh dunia seperti disebutkan di atas, dalam buku ini juga terdapat cerita dari organisasi-organisasi di Indonesia, seperti Citibank, BCA, dan terutama dalam pemerintahan kita. Betapa Rhenald sang guru ingin melihat perubahan dalam bangsa ini. Perubahan itu harus dimulai dengan adanya pemimpin yang memiliki Change DNA unggul. Karena itu dalam buku ini juga diuraikan banyak teori tentang kepemimpinan.

Bila Anda ingin organisasi Anda berubah, maka mulailah dengan me-re-code Change DNA Anda sendiri.

>DNA – Tuhan Dalam Gen Kita

>

Judul asli: Inochi no Angou
Terjemahan Indonesia diambil dari edisi Inggris: The Divine Code of Life: Awaken Your Genes & Discover Hidden Talents (2006)

Penulis: Kazuo Murakami, Ph.D.
Penerjemah: Winny Prasetyowati
Penyunting: Andityas Prabantoro
Proofreader: Eti Rohaeti
Penerbit terjemahan Indonesia: Mizan, Cetakan V: April 2008 (Cetakan I: Maret 2007)

Gen atau DNA (deoxyribonucleic acid) berisi semua informasi yang diperlukan untuk membentuk kehidupan. Gen menentukan fungsi dari sel dan terdapat di nukleus sel makhluk hidup. Kode genetik adalah kumpulan instruksi untuk membentuk protein. Protein bersama dengan air adalah salah satu zat terpenting dalam tubuh kita. Protein juga ditemukan dalam enzim-enzim yang penting untuk reaksi-reaksi kimia yang berlangsung dalam tubuh kita. Dengan kata lain, protein adalah dasar dari fenomena yang kita sebut sebagai kehidupan.

Struktur DNA ditemukan pada tahun 1953 dan sekarang kita dapat membaca cetak biru yang tertulis pada DNA–kode genetik dari bakteri, hewan, dan bahkan manusia. Kode genetik manusia tersusun dari lebih dari tiga milliar “huruf-huruf kimia’ yang tersimpan dalam untai-untai mikroskopik yang memiliki berat hanya satu per 200 miliar gram dan lebar hanya 1/500.000 milimeter, namun jika direnggangkan memiliki panjang sekitar tiga meter. Wow.. betapa kecilnya!

Walaupun gen diperlengkapi dengan begitu banyak informasi, namun tidak seluruh informasi itu digunakan. Gen dalam nukleus ditranskripsikan kepada setiap RNA (ribonucleic acid) bila diperlukan. RNA dalam sel dengan segera diterjemahkan menjadi protein dan enzim, yang merupakan zat-zat paling penting bagi aktivitas sel. Namun, pada saat yang sama, mereka juga mencegah dibacanya informasi yang tidak perlu. Seperti mekanisme nyala padam pada peralatan listrik. Berdasarkan penemuan ini, penulis buku ini–Kazuo Murakami, Ph.D., ahli genetika terkemuka di dunia, pemenang Max Planck Research Award (1990) dan Japan Academy Prize (1996)– meyakini bahwa kita dapat mengaktifkan gen-gen kita yang bermanfaat dan menjadikan mereka berguna bagi kita, dan sebaliknya menonaktifkan gen-gen yang tidak bermanfaat.

Ada tiga faktor yang terlibat dalam aktivasi gen, yaitu gen itu sendiri, lingkungan, dan pikiran. Banyak orang percaya bahwa ciri-ciri yang diwariskan tidak pernah berubah. Sesuatu kemampuan (misal: kecerdasan atau atletik) memang berkaitan dengan gen. Namun tidak berarti bahwa seseorang sama sekali tidak memiliki kemampuan tersebut. Kemampuan itu ada tetapi belum dinyalakan. Jika kita menghilangkan semua hambatan dan menyediakan lingkungan yang sesuai, maka potensi kita untuk berkembang akan tidak terbatas. Kemudian, berpikir positif–teruatama ketika mengalami kesulitan atau mengalami saat-saat buruk– dapat menyalakan gen, merangsang otak dan tubuh untuk memproduksi hormon yang bermanfaat. Hal ini berarti mengembangkan kemampuan untuk mencari makna bahkan dalam kesulitan yang paling buruk, untuk memandang apa yang terjadi pada kita sebagai sebuah pesan atau hadiah. Segala sesuatu yang terjadi kepada kita memang perlu terjadi, baik maupun buruk.

Di buku ini juga ditulis mengenai teori lain mengenai evolusi yang diajukan Lynn Margulis pada era 1960-an, yang dikenal sebagai Teori Endosimbiotik. Berbeda dengan teori evolusi Darwin, bahwa kita berevolusi melalui seleksi alam dan mutasi dan hanya yang paling layaklah yang dapat bertahan, Teori Endosimbiotik didasarkan pada ide bahwa kehidupan berevolusi melalui kerja sama mutualisme. Proses evolusi dimulai dari organisme bersel satu tanpa nukleus. Penggabungan antara beberapa sel sederhana atau bagian sel yang bekerja bersama untuk membentuk jenis sel baru membawa evolusi ke tingkatan berikutnya, yaitu sel yang memiliki nukleus.

Motoo Kimura, seorang ahli genetik yang terkenal dengan teori evolusi netral, menyatakan bahwa kemungkinan sesosok makhluk hidup dapat dilahirkan sama dengan kemungkinan satu orang memenangi lotre $100 juta berturut-turut selama satu juta kali. Bahwa kita lahir saja adalah suatu prestasi yang ajaib! (yang karenanya harus disyukuri)

Selama puluhan tahun meneliti gen yang sangat mikro, Kazuo Murakami yakin bahwa kode genetik tidak terjadi secara kebetulan, bahwa ada yang menuliskan cetak biru tersebut. Kazuo Murakami memiliki tiga saran yang dianggapnya sangat berguna dalam hidupnya. Saran-saran tersebut adalah

  1. miliki niat yang mulia,
  2. hidup dengan rasa terima kasih, dan
  3. berpikir positif.

Aktifkan DNA Tuhan

Dalam setiap training-training motivasi, sering kita mendengar tentang “positive thinking”, “energi positif” atau jika kita berpikir bisa, maka kita pasti bisa !. Jadi sebenarnya benarkah pikiran bisa mempengaruhi keberhasilan? Hm…ternyata …that’s right…hasil riset secara ilmiah menunjukkan bahwa pikiran positif mempengaruhi nyalanya gen-gen positif yang mungkin gen-gen tersebut awalnya dalam keadaan dorman atau tidak aktif, yang tentu saja akan mempengaruhi mekanisme kerja tubuh kita sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Penjelasan lebih detail tentang hal ini bisa dibaca di dalam buku “The Divine Message of the DNA” karya Kazuo Murakami, Ph.D (ahli genetika Jepang terkemuka, pemenang Max Planck Research Award (1990) dan Japan Academy Prize (1996).

sebuah buku yang sangat mengagumkan, menjelaskan bagaimana peranan dan fungsi sebuah gen dengan materi-materi dalam tubuh manusia yang menunjukan kekuasaan yang maha dahsyat diluar kemampuan manusia berdasarkan sebuah riset yang panjang yang dilakukan sang penulis.

Buku ini mengupas banyak tentang sistem materi dalam tubuh manusia. namun uniknya buku ini, juga menjelaskan bagaimana peranan lingkungan diluar materi manusia yang dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kerja sistem materi manusia. dibagian awal penulis menjelaskan tentang gen, dna, enzim, dll.

selain itu juga, sang penulis memberikan contoh-contoh berdasarkan pengalamannya untuk menjelaskan bagaimana hubungan antara materi dalam tubuh manusia dengan potensi-potensi manusia untuk menjadi sosok yang sukses dalam kehidupan.

Kazuo Murokami, peneliti dari jepang yang dengan luar biasa mampu menjelaskan hal-hal tersebut diatas dengan buah karya tulisannya ini, sehingga mampu diserap dengan mudah oleh pembaca.

Dengan membaca buku karya nya ini, kita akan mengerti bagaimana kerja materi dalam tubuh kita memiliki hubungan erat dengan materi diluar tubuh kita, yaitu lingkungan selam kita menjalani kehidupan. dan kita juga akan tersadarkan bahwa dalam diri setiap manusia memiliki potensi-potensi yang sangat mengagumkan yang dapat kita aktifasi sehingga menjadi sesuatu yang berguna bagi diri kita maupun orang lain.

Hasil karya ini menceritakan bagaimana penulis berkutat di tengah-tengah eksperimennya sehingga berhasil mencapai kesuksesan, ia mengungkapkan segala kesan yang ditemui seperti ketakjuban meneliti DNA yang begitu luar biasa hingga membawanya menuju perenungan-perenungan filosofis.

Buku ini berbicara tentang pengalaman-pengalaman dan pelajaran terdalam dari kekuatan manusia yang kerap terabaikan, sangat sarat dengan makna dan mampu membangunkan potensi yang selama ini jauh dari pikiran.

Berdasarkan penelitiannya, Murakami berkali-kali menekankan kalau manusia dilahirkan untuk membuat keajaiban, tergantung dari keinginannya untuk mengaktifkan gen-gen yang positif dan memadamkan gen-gen negatif. Manusia bisa menjadi lebih superior selama ia mau memanfaatkan potensi-potensi yang tersembunyi didalam gennya sendiri.

Lalu ? Bagaimana caranya mengaktifkan dan memadamkan gen ?

Dipaparkan pendapat seperti terus berfikir positif, mengambil sisi-sisi kebaikan dari setiap kejadian, merasa tergerak dan terinspirasi secara mendalam, melatih memberi dan memberi serta membiarkan diri terdesak terbukti mampu menyalakan gen-gen manusia yang memiliki potensi besar.

Lingkungan juga digolongkan sebagai faktor yang berpengaruh kuat, disaat seseorang berada dalam lingkungan yang penuh dengan kompetisi, gen-gen didalam diri yang tadinya berorientasi pada sifat-sifat malas mau tidak mau mesti berubah sesuai komunitasnya bila tidak ingin tersingkir dalam persaingan.

Banyak pelajaran bisa diambil dari buku ini, terutama pengetahuan tentang kecerdasan, intuisi, bakat dan kemampuan dasar manusia untuk memotivasi hidup agar lebih bermakna.

Jika mengacu pada referensi yang lainnya, boleh dikatakan setali tiga uang jika dibaca bersambung dengan Quantum Learning dan RE-Code Your Change Dna nya Rhenald Kasali yang membahas lebih mendalam tentang perubahan gen manusia.

Bukti bahwa terdapat gen-gen dorman (padam) yang baru akan nyala (aktif) jika dirangsang oleh pikiran dan lingkungan adalah hasil penelitian Francois Jacob dan Jacques Monod, dua orang ilmuwan yang bekerja di Institut Pasteur di Paris. Meeka menemukan sebuah fungsi yang mirip dengan tombol nyala padam saat bereksperimen dengan E. coli, bakteri yang biasa hidup di dalam usus.

Bakteri E. coli pada umumnya mengkonsumsi glukosa. Dalam lingkungan yang memiliki baik laktosa maupun glukosa, bakteri ini hanya akan memilih glukosa. Dalam eksperimen tersebut,bakteri ini sama sekali tidak bereaksi terhadap laktosa saat zat tersebut diberikan bersamaan dengan glukosa. Dalam langkah berikutnya mereka hanya diberi laktosa. Pada awalnya bakteri-bakteri tersebut tidak makan apapun, namun dalam waktu singkat, mereka mulai mengkonsumsi laktosa dan mulai berkembang biak.

Bagi seorang awam hal ini mungkin wajar, namun bagi ilmuwan ini adalah pencerahan. Dari eksperimen tersebut, Jacob dan Monod berharap dapat menentukan apakah kemampuan mencerna laktosa baru didapat setelah bakteri-bakteri tersebut mulai menerima laktosa atau sudah ada sejak awal. Setelah penyelidikan yang mendalam, mereka menyimpulkan bahwa kemampuan tersebut telah ada sejak awal dan bukan didapat belakangan. Dengan kata lain, bakteri E.coli paa dasarnya telah memiliki kemampuan untuk memproduksi enzim pengurai laktosa (lactase). Bila glukosa ditemukan alam lingkungan itu, maka gen yang memproduksi enzim tersebut pun dipadamkan, namun saat hanya laktosa yang tersedia maka bakteri tersebut harus mencernanya agar dapat bertahan hidup, dan gen tersebut diaktifkan. Maka ini bukanlah sebuah kemampuan yang sebelumnya tidak ada lalu muncul secara spontan, melainkan sebuah kemampuan yang memang sudah ada tetapi dalam keadaan dorman (padam).

Fakta bahwa beberapa kemampuan tertentu tidak muncul secara spontan melainkan tersimpan secara laten di dalam gen kita adalah sebuah penemuan yang revolusioner. Untuk menjelaskan fenomena ini, Jacob dan Monod mengajukan sebuah hipotesis bahwa ada gen struktural yang membentuk protein dan gen regulator yang menyalakan atau memadamkan gen tersebut, yang kemudian dikenal dengan teori operon….untuk lebih jelasnya silakan baca bukunya.

Jadi jangan jadikan bakat sebagai alasan untuk tidak menjadi apa yang kita mau. Siapa bilang penulis berangkat dari bakat, siapa bilang bicara di depan umum berangkat dari bakat, siapa bilang jadi politisi berangkat dari bakat, siapa bilang jadi pengusaha berangkat dari bakat. Jika kita mau, ternyata kita punya kesempatan yang sama untuk mengaktifkan gen-gen yang mungkin masih dorman, dan hanya kita sendiri yang mampu mengaktifkannya. Ingat !!! Allah memberi modal berupa potensi dan waktu yang sama untuk kita, yang membuat beda hasilnya adalah bagaimana kita mengelola modal itu. Terlepas apapun kekurangan kita sebagai manusia, ternyata Allah juga menciptakan kelebihan tertentu untuk kita, dan seperti kata Harun Yahya, tak ada satupun yang kebetulan di dunia ini, termasuk ketika Allah menciptakan setiap kita dengan keunikannya masing-masing. Selamat berjuang untuk menunjukkan siapa dirimu di hadapan dunia.

>Aktifkan DNA Tuhan

>

Dalam setiap training-training motivasi, sering kita mendengar tentang “positive thinking”, “energi positif” atau jika kita berpikir bisa, maka kita pasti bisa !. Jadi sebenarnya benarkah pikiran bisa mempengaruhi keberhasilan? Hm…ternyata …that’s right…hasil riset secara ilmiah menunjukkan bahwa pikiran positif mempengaruhi nyalanya gen-gen positif yang mungkin gen-gen tersebut awalnya dalam keadaan dorman atau tidak aktif, yang tentu saja akan mempengaruhi mekanisme kerja tubuh kita sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Penjelasan lebih detail tentang hal ini bisa dibaca di dalam buku “The Divine Message of the DNA” karya Kazuo Murakami, Ph.D (ahli genetika Jepang terkemuka, pemenang Max Planck Research Award (1990) dan Japan Academy Prize (1996).

sebuah buku yang sangat mengagumkan, menjelaskan bagaimana peranan dan fungsi sebuah gen dengan materi-materi dalam tubuh manusia yang menunjukan kekuasaan yang maha dahsyat diluar kemampuan manusia berdasarkan sebuah riset yang panjang yang dilakukan sang penulis.

Buku ini mengupas banyak tentang sistem materi dalam tubuh manusia. namun uniknya buku ini, juga menjelaskan bagaimana peranan lingkungan diluar materi manusia yang dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kerja sistem materi manusia. dibagian awal penulis menjelaskan tentang gen, dna, enzim, dll.

selain itu juga, sang penulis memberikan contoh-contoh berdasarkan pengalamannya untuk menjelaskan bagaimana hubungan antara materi dalam tubuh manusia dengan potensi-potensi manusia untuk menjadi sosok yang sukses dalam kehidupan.

Kazuo Murokami, peneliti dari jepang yang dengan luar biasa mampu menjelaskan hal-hal tersebut diatas dengan buah karya tulisannya ini, sehingga mampu diserap dengan mudah oleh pembaca.

Dengan membaca buku karya nya ini, kita akan mengerti bagaimana kerja materi dalam tubuh kita memiliki hubungan erat dengan materi diluar tubuh kita, yaitu lingkungan selam kita menjalani kehidupan. dan kita juga akan tersadarkan bahwa dalam diri setiap manusia memiliki potensi-potensi yang sangat mengagumkan yang dapat kita aktifasi sehingga menjadi sesuatu yang berguna bagi diri kita maupun orang lain.

Hasil karya ini menceritakan bagaimana penulis berkutat di tengah-tengah eksperimennya sehingga berhasil mencapai kesuksesan, ia mengungkapkan segala kesan yang ditemui seperti ketakjuban meneliti DNA yang begitu luar biasa hingga membawanya menuju perenungan-perenungan filosofis.

Buku ini berbicara tentang pengalaman-pengalaman dan pelajaran terdalam dari kekuatan manusia yang kerap terabaikan, sangat sarat dengan makna dan mampu membangunkan potensi yang selama ini jauh dari pikiran.

Berdasarkan penelitiannya, Murakami berkali-kali menekankan kalau manusia dilahirkan untuk membuat keajaiban, tergantung dari keinginannya untuk mengaktifkan gen-gen yang positif dan memadamkan gen-gen negatif. Manusia bisa menjadi lebih superior selama ia mau memanfaatkan potensi-potensi yang tersembunyi didalam gennya sendiri.

Lalu ? Bagaimana caranya mengaktifkan dan memadamkan gen ?

Dipaparkan pendapat seperti terus berfikir positif, mengambil sisi-sisi kebaikan dari setiap kejadian, merasa tergerak dan terinspirasi secara mendalam, melatih memberi dan memberi serta membiarkan diri terdesak terbukti mampu menyalakan gen-gen manusia yang memiliki potensi besar.

Lingkungan juga digolongkan sebagai faktor yang berpengaruh kuat, disaat seseorang berada dalam lingkungan yang penuh dengan kompetisi, gen-gen didalam diri yang tadinya berorientasi pada sifat-sifat malas mau tidak mau mesti berubah sesuai komunitasnya bila tidak ingin tersingkir dalam persaingan.

Banyak pelajaran bisa diambil dari buku ini, terutama pengetahuan tentang kecerdasan, intuisi, bakat dan kemampuan dasar manusia untuk memotivasi hidup agar lebih bermakna.

Jika mengacu pada referensi yang lainnya, boleh dikatakan setali tiga uang jika dibaca bersambung dengan Quantum Learning dan RE-Code Your Change Dna nya Rhenald Kasali yang membahas lebih mendalam tentang perubahan gen manusia.

Bukti bahwa terdapat gen-gen dorman (padam) yang baru akan nyala (aktif) jika dirangsang oleh pikiran dan lingkungan adalah hasil penelitian Francois Jacob dan Jacques Monod, dua orang ilmuwan yang bekerja di Institut Pasteur di Paris. Meeka menemukan sebuah fungsi yang mirip dengan tombol nyala padam saat bereksperimen dengan E. coli, bakteri yang biasa hidup di dalam usus.

Bakteri E. coli pada umumnya mengkonsumsi glukosa. Dalam lingkungan yang memiliki baik laktosa maupun glukosa, bakteri ini hanya akan memilih glukosa. Dalam eksperimen tersebut,bakteri ini sama sekali tidak bereaksi terhadap laktosa saat zat tersebut diberikan bersamaan dengan glukosa. Dalam langkah berikutnya mereka hanya diberi laktosa. Pada awalnya bakteri-bakteri tersebut tidak makan apapun, namun dalam waktu singkat, mereka mulai mengkonsumsi laktosa dan mulai berkembang biak.

Bagi seorang awam hal ini mungkin wajar, namun bagi ilmuwan ini adalah pencerahan. Dari eksperimen tersebut, Jacob dan Monod berharap dapat menentukan apakah kemampuan mencerna laktosa baru didapat setelah bakteri-bakteri tersebut mulai menerima laktosa atau sudah ada sejak awal. Setelah penyelidikan yang mendalam, mereka menyimpulkan bahwa kemampuan tersebut telah ada sejak awal dan bukan didapat belakangan. Dengan kata lain, bakteri E.coli paa dasarnya telah memiliki kemampuan untuk memproduksi enzim pengurai laktosa (lactase). Bila glukosa ditemukan alam lingkungan itu, maka gen yang memproduksi enzim tersebut pun dipadamkan, namun saat hanya laktosa yang tersedia maka bakteri tersebut harus mencernanya agar dapat bertahan hidup, dan gen tersebut diaktifkan. Maka ini bukanlah sebuah kemampuan yang sebelumnya tidak ada lalu muncul secara spontan, melainkan sebuah kemampuan yang memang sudah ada tetapi dalam keadaan dorman (padam).

Fakta bahwa beberapa kemampuan tertentu tidak muncul secara spontan melainkan tersimpan secara laten di dalam gen kita adalah sebuah penemuan yang revolusioner. Untuk menjelaskan fenomena ini, Jacob dan Monod mengajukan sebuah hipotesis bahwa ada gen struktural yang membentuk protein dan gen regulator yang menyalakan atau memadamkan gen tersebut, yang kemudian dikenal dengan teori operon….untuk lebih jelasnya silakan baca bukunya.

Jadi jangan jadikan bakat sebagai alasan untuk tidak menjadi apa yang kita mau. Siapa bilang penulis berangkat dari bakat, siapa bilang bicara di depan umum berangkat dari bakat, siapa bilang jadi politisi berangkat dari bakat, siapa bilang jadi pengusaha berangkat dari bakat. Jika kita mau, ternyata kita punya kesempatan yang sama untuk mengaktifkan gen-gen yang mungkin masih dorman, dan hanya kita sendiri yang mampu mengaktifkannya. Ingat !!! Allah memberi modal berupa potensi dan waktu yang sama untuk kita, yang membuat beda hasilnya adalah bagaimana kita mengelola modal itu. Terlepas apapun kekurangan kita sebagai manusia, ternyata Allah juga menciptakan kelebihan tertentu untuk kita, dan seperti kata Harun Yahya, tak ada satupun yang kebetulan di dunia ini, termasuk ketika Allah menciptakan setiap kita dengan keunikannya masing-masing. Selamat berjuang untuk menunjukkan siapa dirimu di hadapan dunia.