Getaran Gelombang Hati Lebih Kuat Dari Gelombang Otak

Perasaan adalah hal yang abstrak, agaknya benar. Tetapi, apakah karenanya lantas tidak bisa diukur? Eh, kayaknya nanti dulu. Karena, upaya untuk mengukur perasaan itu kini semakin menunjukkan hasil. Meskipun upaya itu masih terus berproses menuju kualitas yang lebih baik.

Bagaimana cara mengukur perasaan? Tentu saja tidak bisa langsung. Melainkan harus diterjemahkan dulu ke bahasa alat. Mirip dengan mengukur gelombang radio atau televisi misalnya. Kita tidak pernah bisa melihat gelombang radio dan televisi itu dalam bentuk yang sesungguhnya dengan mata dan telinga. Tetapi, kita lantas bisa melihat dan mendengarnya ketika sudah dilewatkan alat terlebih dahulu.

Tenyata, penelitian mutakhir semakin mengarah kepada kemampuan untuk mengukur perasaan itu. Asal muasalnya, disebabkan oleh munculnya zat-zat biokimiawi yang diproduksi oleh otak seiring dengan berubahnya perasaan seseorang. Namanya neurotransmitter. Ada sangat banyak jenis neurotransmitter, yang ternyata sangat khas terkait dengan jenis-jenis perasaan yang terjadi. Neurotransmitter untuk kemarahan berbeda dengan kesedihan, berbeda dengan kegembiraan, berbeda dengan kemalasan, berbeda dengan kecemasan dan sebagainya.

Nah dengan memanfaatkan zat-zat yang diproduksi oleh sel-sel otak itu, kini perasaan semakin bisa didefinisikan, dan bahkan kemudian diukur kualitas maupun besarnya. Perasaan gembira misalnya, ternyata adalah identik dengan diproduksinya neurotransmitter bernama enkefalin oleh sel-sel otak. Sedangkan rasa cemas, identik dengan keluarnya adrenalin yang membuat jantung berdebar-debar dan berkeringat dingin. Dan, perasaan malas disebabkan oleh munculnya neurotransmitter GABA dan Serotonin.

Proses ini bisa berlaku sebaliknya. Yakni, jika seseorang diinjeksi dengan zat-zat tersebut, yang tadinya tidak gembira bisa menjadi gembira. Yang tadinya tidak cemas bisa menjadi cemas. Yang tadinya tidak malas bisa menjadi malas. Yang tadinya penakut, bisa menjadi pemberani. Yang tadinya sedih bisa menjadi tertawa terus menerus. Dan seterusnya. Wah, ternyata perasaan mulai bisa dikuantifikasi dengan peralatan…

Sebagian zat itu terkandung di dalam Narkoba. Karena itu, para pemakai narkoba bisa menjadi seperti orang gila dan berperilaku aneh dikarenakan zat-zat yang terkandung di dalamnya mempengaruhi kerja otaknya. Ada yang terus menerus tertawa, padahal tidak ada yang lucu dari apa yang dilihatnya. Ada yang menjadi tidak punya rasa takut. Ada yang menjadi tenang berlebihan. Ada pula yang menjadi beringas. Dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, ternyata perasaan bisa dikonversi menjadi zat-zat neurotransmitter. Dan sebaliknya, zat-zat tersebut bisa dikonversi kembali menjadi perasaan. Dengan demikian, ini bisa dijadikan sebagai media untuk mengukur perasaan. Bukan hanya pada kualitasnya, melainkan juga pada dosisnya secara kuantitatif.

Pengukuran yang lebih maju adalah yang dilakukan secara elektromagnetik. Saya termasuk yang melakukan pengukuran dengan alat semacam itu, yakni menggunakan kamera aura. Dengan mengobservasi getaran tubuh seseorang, ternyata kita bisa mengukur suasana hati alias perasaannya. Yaitu, setelah diterjemahkan terlebih dahulu menjadi warna-warna cahaya. Tinggi rendahnya frekuensi pada diri seseorang ternyata menggambarkan seberapa besar tingkat emosinya.

Jika emosinya sedang tinggi, maka jantung sebagai Hati Luar akan bergejolak, berdegup-degup tidak beraturan. Getaran jantung itu merembet ke seluruh tubuh, bisa sampai menyebabkan tangan seseorang gemetaran, bibirnya juga bergetar, dan seluruh tubuhnya menggeletar. Jika dalam kondisi demikian, badan orang itu dihubungkan ke sensor kamera aura, maka bisa dipastikan warna auranya akan merah.

Derajat warna merah itu bermacam-macam, mulai dari yang gelapsampai yang terang. Dan bisa menunjukkan seberapa besar tingkat kemarahannya. Bahkan alat di klinik aura kami, di Surabaya, bisa merekam secara video dalam kurun waktu tertentu. Sehingga akan terlihat perubahan warnanya secara realtime. Pada saat orang tersebut bisa mengendalikan emosinya, warna merahnya memudar, kemudian berganti menjadi warna-warna yang lebih sejuk. Misalnya, hijau, biru, nila, ungu, sampai putih.

Getaran jantung, getaran perasaan di Otak, dan warna-warna aura yang dihasilkan selalu sinkron secara konsisten. Ini menunjukkan, bahwa perasaan di otak yang sangat abstrak itu setelah ditransfer ke jantung menjadi desiran elektromagnetik yang bisa diukur kualitas dan besarnya. Dengan memahami ilmu warna aura, kita lantas bisa menerjemahkan makna warna itu secara psikologis kembali, bahwa seseorang itu sedang berada dalam pengaruh perasaan tertentu.

Sebagai perbandingan, Anda bisa melihat hasil penelitian yang dilakukan oleh pakar-pakar Brain-Heart dari Institute of HeartMath. Bahwa gelombang jantung dan otak itu ternyata sangat riil hubungannya sehingga bisa diukur langsung dengan menggunakan Electro Cardio Graph (ECG) dan Electro Encephalog Graph (EEG).

Pancaran gelombang perasaan yang berasal dari otak yang masih lemah, akan menjadi berlipat kali lebih kuat ketika getarannya sudah diresonansikan ke jantung. Ini karena kuat medan jantung berlipat-lipat kali lebih besar dibandingkan otak. Sehingga seperti masuk ke dalam amplifier saja layaknya. Dan kemudian bisa menebar keluar dirinya.

Dalam penelitian itu bisa digambarkan Kuat Medan Elektromagnetik yang muncul dari getaran jantung seseorang. Radiasinya bisa diukur sampai jarak 1 meter lebih dari tubuhnya. Sehingga, bisa mengimbas kepada orang-orang yang berada di dekatnya. Inilah penjelasannya, kenapa berdekatan dengan orang yang emosional, Anda akan ikut-ikutan emosional. Dan berdekatan dengan orang-orang yang sabar, Anda akan terimbas menjadi sabar pula. Ternyata getaran jantung (Qalb) Anda teresonansi oleh getaran jantung (Qalb) seseorang yang ada di dekat Anda itu.

Bukan hanya kuat medannya, ternyata pola gelombangnya pun bisa menjadi sinkron ketika perasaan kita dengan seseorang itu sepaham dan saling mengerti. Disana juga digambarkan gelombang otak dan gelombang jantung orang yang bersalaman. Ketika belum bersalaman, gelombang otak si A berbeda dengan gelombang jantung si B (tentu saja). Tetapi, ketika bersalaman, gelombang otak si A sinkron dengan gelombang jantung si B, dalam bentuk gelombang yang harmonis.

Maka, apa kesimpulannya…?
Ternyata, manusia memancar-mancarkan gelombang elektromagnetik yang berporos pada mekanisme Otak-Jantung yang kita kenal sebagai bahasa Qalbu. Pancaran itu bisa bersifat internal ~ dalam diri sendiri antara dada & kepala ~ maupun eksternal yang mengimbas orang lain di sekitarnya. Perasaan lembut akan menularkan kelembutan, perasaan kasar akan menularkan suasana emosional yang membuat orang di sekitarnya tidak betah, dan kemudian pergi menjauhinya..!

QS. Ali Imran (3): 159
Maka disebabkan perasaan penuh kasih (rahmat) dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…

Wallahu a’lam bishshawab

~ salam ~

Oleh: Agus Mustofa

Iklan

Meresonansi Jiwa Dengan Sifat Ilahiah

Barangkali tulisan ini akan menjadi penutup serial note tentang Hati dan Diri manusia yang telah kita bahas berhari-hari. Saya yakin, masih sangat banyak pertanyaan yang bergelayutan di benak Anda, tentang eksistensi manusia terkait perjalanan spiritualnya. Tetapi, rupanya kita harus membatasi pembahasan karena beberapa alasan. Diantaranya agar tidak membosankan. Selain itu, saya memang mau izin untuk beberapa hari ke depan tidak aktif dalam forum diskusi ini, karena ada agenda lain yang harus saya selesaikan.

Dalam kesempatan ini saya ingin merangkum pembahasan yang sudah kita lakukan, sambil memberikan poin pentingnya dalam perjalanan spiritual seorang muslim.

1. Bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang luar biasa, sehingga disebut sebagai ciptaan terbaik alias ahsanu taqwim. Selain itu, dalam berbagai ayat Qur’an kita juga bisa menemui firman-firman Allah yang mengangkat manusia dalam derajat sedemikian tingginya. Sehingga, malaikat dan iblis pun diperintahkan untuk bersujud kepadanya. Meskipun, kemudian Iblis menolak, dan hanya malaikat yang bersujud.

2. Manusia diciptakan mengikuti fitrah Allah, QS. 30: 30, dibentuk dengan badan & jiwa yang ditiupi ruh ilahiah, sehingga menjadi hidup. Badan manusia adalah benda mati yang tersusun dari zat-zat biokimiawi, dengan struktur dan desain luar biasa canggih. Yang, sampai sekarang masih menyisakan misteri dahsyat bagi ilmu pengetahuan modern. Bahkan, saya yakin, sampai berakhirnya dunia sekalipun.

Jiwa manusia adalah badan halus yang berada di balik badan fisik. Ia tersusun dari energi, yang dalam ilmu kedokteran jiwa disebut sebagai bioplasma. Badan energi kita itu memiliki bentuk seperti badan materi yang meliputinya. Ia punya tangan energial, punya kaki energial, punya kepala energial, otak energial, mata, telinga, hidung, dan seluruh organ energial. Karena itu, jika organ materialnya mengalami kerusakan, jiwanya juga akan mengalami gangguan energial. Terutama, adalah jika otak materialnya mengalami kerusakan, maka otak energialnya pun terganggu. Dalam ilmu kedokteran disebut sebagai mengalami penyakit jiwa.

Selain badan dan jiwa, manusia memiliki ruh. Yakni, daya hidup yang berasal dari Sang Pencipta. Inilah sifat-sifat Tuhan yang diresonansikan kepada badan dan jiwa saat penciptaan di dalam rahim seorang ibu. Karena ditiupi sebagian ruh Allah, maka badan dan jiwa yang tadinya mati menjadi hidup. Teresonansi oleh Sifat Maha Hidup Allah. Selain itu, badan dan jiwa itu menjadi memiliki kehendak, karena teresonansi oleh sifat Allah yang Maha Berkehendak. Juga menjadi terimbas sifat-sifat lainnya seperti mendengar, melihat, berkata-kata, berkreasi, berbuat, dan lain sebagainya, yang merupakan sifat-sifat Allah.

3. Jiwa menempati posisi sentral dalam kehidupan seorang manusia. Dialah yang bertanggungjawab atas segala perbuatan manusia. Dia juga yang bisa merasakan suka, duka, sedih, bahagia, marah, kecewa, dendam, benci, cinta, ikhlas, sabar, ingkar dan berserah diri. Bukan badan, dan bukan ruh. Sebab, badan hanya alat saja bagi jiwa. Sedangkan ruh hanya daya hidup yang ditularkan Allah kepada manusia.

Maka, berpuluh ayat di dalam al Qur’an menganjurkan kita untuk meningkatkan kualitas jiwa. Kutubnya ada dua, yaitu badan dan ruh. Jiwa bakal menuju kualitas terendahnya ketika terseret kepada hal-hal yang bersifat materialistik badaniyah semata, sehingga lupa kepada nilai-nilai ketuhanan yang ada di dalam ruhnya. Kehidupannya hanya mengurusi kebutuhan dan kesenangan badaniyah belaka. Tiap hari yang dipikirkan cuma makan, minum, pakaian, harta benda, jabatan, seksualitas, popularitas, dan sebagainya yang bertumpu pada kepentingan ego semata. Orang yang demikian bakal terjebak pada keserakahan yang melalaikannya terhadap tujuan dan misi hidup yang lebih penting sebagai makhluk mulia.

Sebaliknya, ia akan mencapai derajat tertinggi jika memanfaatkan seluruh potensinya untuk melakukan hal-hal yang menuju nilai-nilai ruhiyah. Nilai-nilai ketuhanan yang diajarkan oleh agama. Yakni, yang terangkum dalam mekanisme hablum minallah dan hablum minannas untuk menuju visi tatanan hidup yang rahmatan lil alamin, bermanfaat buat seluruh makhluk Allah.

4. Di dalam al Qur’an, manusia diajari untuk meningkatkan kualitas jiwanya seiring dengan akal kecerdasan. Dimana ini sangat terkait dengan fungsi otak manusia beserta segala mekanismenya. Meningkatkan kemampuan otak, sama saja dengan meningkatkan kualitas jiwa. Karena itu, umat Islam harus melatih fungsi otaknya untuk mencapai jiwa berkualitas tinggi.
Mekanisme otak itu melibatkan dua fungsi dasar yang membentuk akal, yakni kecerdasan intelektual yang bekerja secara ilmiah lewat rasio, logika dan analisa, serta kecerdasan emosional yang bekerja pada sistem limbik dengan memanfaatkan Hipocampus sebagai memori rasional dan Amygdala sebagai memori emosional. Seorang manusia harus melatih diri agar fungsi Hipocampus dan Amygdalanya bekerja secara seimbang, sehingga menghasilkan emosi yang rasional atau rasio yang emosional. Sebab, di sistem limbik inilah terjadinya pertarungan antara kecerdasan rasional dan emosional. Dan seringkali rasionalitas kalah oleh emosi yang cenderung tanpa perhitungan.

5. Mekanisme sistem limbik tecermin pada getaran jantung. Jika sistem limbik sedang dalam kondisi emosi yang tidak rasional, maka jantung akan bergetar tidak stabil, sehingga mengalami disharmoni dengan frekuensi otak. Ini menyebabkan ketidakseimbangan di seluruh tubuh. Baik yang bekerja secara sarafi maupun hormonal. Sebaliknya, jika sistem limbik sedang dalam keadaan emosi yang rasional, maka jantung akan bergetar lembut dan menghasilkan frekuensi yang sinkron dengan otak. Saat itu, seluruh tubuh akan ikut harmonis.

Maka, kelembutan getaran jantung bisa dijadikan tolok ukur bagi optimal tidaknya kerja sistem limbik di dalam otak. Sekaligus, menunjukkan keseimbangan kondisi kejiwaan seseorang. Disinilah terjadi sinkronisasi antara fungsi badan dan fungsi jiwa. Badannya sehat, jiwanya tenteram. Sebaliknya, jika tidak sinkron, akan memunculkan penyakit yang dalam istilah kedokteran disebut sebagai psychosomatis. Yaitu, penyakit tubuh yang disebabkan oleh jiwa yang sakit.

Selain itu, kini juga berkembang ilmu yang disebut Psycho-neuro-imunology. Yaitu, ilmu yang menjelaskan eratnya hubungan antara fungsi jiwa, fungsi sarafi, dan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Ternyata orang-orang yang menata hidupnya secara religius menuju kepada nilai-nilai spiritual memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dan hidup lebih sehat sampai ajal datang menjemputnya.

6. Dalam ranah spiritual, jiwa digambarkan memiliki ‘arsy atau tingkatan energi yang semakin halus untuk mencapai kualitas tertingginya. Dimulai dari ‘arsy material berupa pengalaman fisikal sehari-hari, dilanjutkan ke ‘arsy energial yang memunculkan pengalaman-pengalaman kejiwaan yang khas, sampai ‘arsy ruhiyah yang memunculkan pengalaman spiritual tertinggi dalam hubungannya dengan Allah.

Pencapaian ‘arsy yang lebih tinggi itu terjadi seiring dengan penghalusan sifat alias akhlaknya. Semakin tinggi akhlaknya, semaki tinggi pula perjalanan spiritualnya. Kenapa bisa demikan? Karena, sesungguhnya perjalanan spiritual adalah sebuah perjalanan menuju Sifat-Sifat Allah, yang telah diimbaskan dalam bentuk ruh ke dalam diri manusia.

Maka, semakin tinggi tingkat spiritual seorang hamba, akan terlihat dari semakin tingginya akhlak yang dijalaninya. Akhlak adalah emosi rasional yang sudah tertanam sebagai sifat dan kebiasaan. Itu pula yang ditunjukkan oleh para Nabi. Semakin tinggi akhlaknya, semakin tinggi tingkat spiritualnya, dan semakin dekat ia dengan Sang Maha Penyantun, Allah Azza wajalla…

Akhlak mulia adalah sifat-sifat ilahiah yang merembes ke dalam jiwa seorang manusia bersumber dari sifat-sifat Allah di dalam ruhnya. Resonansi itu terjadi disebabkan adanya sinkronisasi getaran antara badan, jiwa dan ruh. Semakin sinkron semakin harmonilah frekuensinya, dan secara energial tergambar di poros jantung-otak yang semakin lembut.

7. Maka, secara sederhana, proses pencapaian tingkat spiritual yang tinggi bisa dilakukan dengan cara menata akhlak. Melatih kejujuran, melatih kesabaran, melatih keikhlasan, melatih ketaatan, melatih sifat pengorbanan, dan melatih sifat berserah diri hanya kepada Allah. Jika ini sukses, maka dengan sendirinya, Arsy jiwa kita akan naik tingkat mendekati sifat-sifat ilahiah yang ada di dalam ruh kita sendiri.Apa yang kita lakukan sehari-hari adalah cerminan dari sifat-sifat ilahiah tersebut…!

Bagaimana prakteknya? Cobalah mulai melakukan dengan melatih kejujuran. Inilah akhlak dasar yang dipersyaratkan oleh Rasulullah kepada seseorang yang ingin menjalankan agama Islam secara substansial. Cobalah menjadi orang dengan kepribadian terbuka. Baik terhadap diri sendiri, terhadap orang lain dan terhadap Allah. Cobalah berkata tanpa kepura-puraan.

Apa yang ada di mulut, sinkronkan dengan yang ada di hati (pikiran dan perasaan), sinkron dengan perbuatan sehari-hari. Jangan mengatakan sesuatu yang tidak sama dengan yang ada di hati. Lebih-lebih, jangan berbuat sesuatu yang berbeda dengan bisikan hati. Jika Anda bisa melakukan ini selama setahun saja, insya Allah Anda sudah akan naik kelas ke tingkat yang lebih tinggi.

Setelah itu, cobalah untuk mengendalikan amarah. Menjadi orang yang sulit marah, tapi gampang memaafkan. Karena, ini menjadi tanda-tanda orang yang bertakwa, QS. 3: 133-135. Bukan menahan amarah, melainkan mengendalikan amarah. Seseorang bisa mengendalikan amarah, hanya jika ia mampu menata sistem limbiknya menjadi bersifat emosi yang rasional. Jika tidak, maka yang ada hanyalah menahan amarah, sehingga bakal meledak di waktu yang lain saja.

Jika Anda mampu menajalaninya setahun saja, maka Anda bisa melanjutkan dengan melatih sifat ikhlas. Yaitu, berkorban sebanyak-banyaknya untuk kepentingan orang lain. Merendahkan ego, meninggikan kemaslahatan bersama.

Berikutnya, jika sudah semakin ikhlas, Anda bisa melatih sifat sabar. Yakni, tidak tergesa-gesa dalam mencapai suatu tujuan, serta tahan menghadapi ujian. Yang ini, juga cukup setahun saja secara terus menerus alias istiqomah. Dan setelah itu yang terakhir adalah latihan untuk taat kepada Allah.

Bukan ketaatan yang ditaat-taatkan, melainkan ketaatan yang penuh kejujuran, keikhlasan dalam pengorbanan, dan kesabaran dalam menjalankan segala perintah Allah. Jika Anda bisa melakukan ini sinkron antara bisikan ruh, jiwa, dan perbuatan, maka insya Allah, Anda sudah berada di level tertinggi di dalam Islam, yaitu: berserah diri hanya kepada Allah semata. Anda telah menjadi muslim yang paripurna. Dan bakal menjadi kesayangan Allah, sebagaimana Nabi ibrahim sang khalilullah..!

QS. An Nisaa (4): 125
Dan siapakah orang yang paling baik agamanya daripada orang yang ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.

Wallahu a’lam bishshawab

~ salam ~

Oleh: Agus Mustofa

Hati Dalam

Setelah beberapa tulisan terdahulu membahas Hati Luar yang bersemayam di jantung, di dalam dada, maka kini kita mulai membahas Hati Dalam. Yakni, hati yang bersemayam di OTAK. Jika Hati Luar disebut al Qur’an dengan istilah Qalb, maka Hati Dalam disebut dengan Fuad.

QS. As Sajdah (32): 9
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya sebagian Ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan HATI (Fuad); sedikit sekali kamu bersyukur.

Perhatikanlah ayat di atas. Fuad (Af-idah – jamak) disetarakan dengan pendengaran dan penglihatan. Dan munculnya adalah seiring dengan peniupan Ruh. Karena memang, pendengaran dan penglihatan itu adalah sifat-sifat Allah yang ditularkan kepada manusia melalui Ruh. Bukan mata dan telinga sebagai benda, melainkan pendengaran dan penglihatan sebagai fungsi.

Ini berbeda dengan Qalb yang disetarakan dengan telinga dan mata, QS. 7:179. Pendengaran dan penglihatan terjadi di OTAK, sebagaimana telah kita bahas di Notes sebelumnya. Maka, fungsi pemahaman oleh Hati Dalam bukan berada di jantung melainkan berada di otak. Antara Qalb dan Fuad tidak bisa dipisahkan, karena sesungguhnya Qalb hanyalah kepanjangan tangan bagi Fuad.

Karena penglihatan tidak terjadi di mata melainkan di Otak, maka pusat pemahaman akan perasaan yang berdesir di jantung pun sebenarnya berada di otak. Yakni di sebuah daerah otak tengah yang dikenal sebagai Sistem Limbik. Dalam ilmu jiwa, sistem ini dikenal sebagai pusat Fungsi Luhur manusia. Disinilah pertarungan hal-hal yang rasional dan emosional terjadi.

Sistem Limbik tersusun dari beberapa bagian otak yang saling mempengaruhi. Diantaranya adalah bagian yang disebut Hipocampus, yang berfungsi sebagai pusat memori rasional. Yang kedua, adalah Amygdala yang menjadi pusat memori emosional alias perasaan universal manusia. Selebihnya, ada bagian lain yang bernama Thalamus, Gyrus Cingulata, Nucleus Basal, dan Prefrontal Cortex.

Empat bagian yang terakhir ini tidak kita bahas disini, karena akan menjadi sangat teknis dan melebar. Tetapi, jika Anda ingin memperoleh informasi lebih detil, silakan membaca buku serial ke-4 yang berjudul MENYELAM KE SAMUDERA JIWA & RUH. Dalam artikel yang sangat pendek ini, saya cuma ingin menunjukkan kepada Anda, bahwa Hati Dalam itu berpusat di Sistem Limbik, yang melibatkan fungsi perasaan emosional sekaligus pikiran rasional.

Sesungguhnya perasaan sedih, gembira, marah, benci, malas, sombong, rendah hati, sabar, dan lain sebagainya itu sudah tersimpan di dalam Amygdala sebagai sebuah memori universal. Karena itu, umat manusia di seluruh dunia memiliki rasa yang sama terhadap sifat-sifat tersebut.

Anda tidak perlu mengajari seorang anak tentang rasa gembira, misalnya, karena di dalam memori Amygdalanya sudah ada. Bahkan perasaan gembira bagi orang Indonesia adalah sama dengan orang Eropa, Amerika, Arab, Yahudi, China, dan sebagainya. Yang berbeda hanya pemicunya saja. Misalnya, lucunya lawakan Kartolo Cs dari Surabaya, belum tentu dianggap lucu oleh orang Eropa. Tetapi, perasaan lucu itu sendiri sama, yakni sesuatu yang mendorong seseorang ingin tertawa. Perasaan universal ini adalah program bawaan yang sudah ada di otak mereka. Pusatnya di Amygdala.

Maka, kita tidak perlu mengajari bangsa mana pun untuk tertawa ketika gembira dan menangis ketika bersedih, mereka pasti sudah bisa dengan sendirinya, karena sudah punya rasa itu di dalam otaknya. Tinggal kadarnya saja yang berbeda-beda. Aktif-tidaknya Amygdala hanya tinggal menunggu sinyal dari luar otak.

Sinyal itu berasal dari panca indera dan indera ke enamnya. Semuanya berupa sinyal-sinyal elektromagnetik, yang masuk ke tempurung kepala. Ada yang lewat saraf ada yang memapar secara radiasi. Tetapi, ujung-ujungnya akan dirujukkan ke Amygdala untuk memunculkan rasa, dan setelah diolah di Sistem Limbik, lantas di-feed-back ke seluruh badan lewat mekanisme sarafi, hormonal, dan radiatif. Rasa itulah yang lantas muncul di jantung sebagai desiran yang khas…! (Bersambung)

Wallahu a’lam bishshawab

~ salam ~

Oleh: Agus Mustofa

Indera Ke Enam : Sistem Radar Qalbu & Otak

JADI, ada istilah Hati Dalam dan Hati Luar ya ..??
Hati Luar bersemayam di jantung, Hati Dalam bersemayam di otak.
Lantas, bagaimana mekanismenya? Berikut ini penjelasannya.

QALB alias Hati Luar adalah indera keenam manusia. Posisinya ada di jantung, di dalam dada. Sedangkan yang lima indera lainnya adalah: mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Posisinya ada di sekitar kepala, dan sekujur permukaan tubuh. Setiap indera memiliki mekanisme kerja yang berbeda. Tetapi semuanya berpusat ke otak lewat mekanisme sarafi. Tujuan utamanya adalah untuk MEMAHAMI kondisi di luar otak, termasuk di luar tubuh manusia.

Mata bekerja berdasar gelombang cahaya yang masuk ke bola mata. Ringkasnya, lensa mata bakal meneruskan bayangan benda sampai ke retina, kemudian diubah menjadi sinyal listrik yang diteruskan ke otak oleh kabel-kabel saraf ke pusat penglihatan. Maka kita bisa melihat benda tersebut. Jadi, yang melihat itu sebenarnya bukan mata, melainkan otak. Mata hanya menjadi alat, semacam kamera saja. Karena itu, jika mata kita rusak, kelak akan bisa diganti dengan sejenis kamera buatan yang meniru cara kerja mata manusia, yang kemudian disambungkan ke otak. Hasilnya kurang lebih sama.

Telinga bekerja berdasar gelombang suara. Ringkasnya, suara yang berupa gelombang itu masuk ke lubang telinga, kemudian sampai ke membran tipis yang dikenal sebagai gendang telinga. Lantas getaran itu diubah menjadi sinyal listrik yang diteruskan ke otak. Maka, kita pun bisa mendengar. Jadi, yang mendengar itu sebenarnya bukan telinga melainkan otak. Jika dikarenakan sesuatu hal sistem di bagian dalam telinga rusak, maka kini sudah bisa dibuatkan sistem telinga buatan, yang kemudian disambungkan ke pusat pendengaran di otak. Maka, hasilnya pun bisa mendengar.

Penciuman, lidah, dan peraba, bekerja berdasar mekanisme sarafi yang berhubungan dengan zat-zat penebar aroma, rasa, dan tingkat kekasaran dan suhu. Rangsangan pada ujung-ujung saraf itu pun diteruskan ke otak, maka kita bisa merasakan sensasi aroma, rasa dan kasar-halus ataupun panas dingin. Sekali lagi, pelaku utamanya adalah otak.

Sedangkan jantung adalah indera keenam yang bekerja secara getaran elektromagnetik. Bukan lewat cahaya, suara, ataupun ujung-ujung saraf sensorik. Inilah satu-satunya organ di dalam tubuh manusia yang memiliki sistem Pembangkit Listrik secara mandiri. Sehingga, karenanya, jantung bisa berdegup dan berdenyut sepanjang usia kita. Melayani kebutuhan sirkulasi darah, dan mengirim sinyal-sinyal elektromagnetik yang terkait dengan perubahan perasaan seorang manusia.

Di jantung ada jaringan sel yang secara terus menerus membangkitkan listrik dengan getaran bolak-balik pada frekuensi 72 getaran per menit. Posisi pusat kelistrikan itu berada di atrium kanan jantung. Dekat dengan muara vena cava superior dan inferior. Getaran ini menghasilkan mekanisme pemompaan darah yang menyirkulasi ke seluruh tubuh. Tetapi, sekaligus menyebabkan munculnya medan elektromagnetik sebesar 5×10^(-11) Tesla. Atau sekitar 1 miliar kali medan kemagnetan Bumi. Medan magnet jantung itu bisa diukur dengan menggunakan Magneto Cardio Graph (MCG).

Sementara itu Otak manusia dalam kondisi terjaga memancarkan medan magnet sebesar 10^(-13) Tesla. Atau hanya sekitar seperlimaratus kemagnetan jantung. Juga bisa diukur dengan Magneto Encephalo Graph (MEG). Secara organik hubungan otak dengan jantung itu diatur di batang otak oleh bagian yang disebut kawasan Formasi Retikularis. Disinilah kondisi terjaga dan koma alias tak sadar diatur. Banyak yang menyebut daerah ini sebagai pintu gerbang antara alam sadar dan alam bawah sadar.

Yang menarik, medan elektromagnetik antara Otak-Jantung ini terhubung secara terus menerus secara dinamis lewat informasi yang disebut sebagai aliran perasaan, baik dalam kondisi sadar maupun tidak sadar. Jika otak memancarkan gelombang sadar Beta, yakni diatas 14 Hz, maka jantung pun akan berdenyut dinamis mengikuti kondisi badan yang beraktifitas secara sadar. Tanpa kita perintah. Karena perintahnnya langsung diatur oleh otak. Dan jika otak bekerja di frekuensi Delta yang lebih rendah dari 4 Hz, maka jantung pun secara otomatis akan bergetar mengikutinya. Bukan hanya secara mekanistis, melainkan juga secara psikologis.

Pada saat otak menangkap persepsi marah misalnya, jantung akan berdenyut lebih kencang menghasilkan medan gelombang yang membesar. Demikian pula ketika menangis, terharu, bersedih, atau senang, gembira, bahagia, dendam, iri, dengki, sabar, tawadhu, dan lain sebagainya. Pancaran gelombangnya akan mengubah sistem keseimbangan Otak-Jantung. Bukan hanya pada sirkulasi darahnya, melainkan juga getaran frekuensi dan kuat medannya. Selain itu, perlu dicermati, di dalam paparan gelombang itu juga terkandung informasi perasaan yang menumpang di pola gelombangnya.

Ringkas kata, sistem frekuensi yang berporos pada Otak-Jantung menjadi sistem radar yang bisa menangkap sinyal-sinyal perasaan yang bertebaran di sekitarnya. Baik yang berasal dari luar ataupun dari dalam. Pada orang-orang yang kehilangan fungsi panca indera misalnya, mereka tetap bisa memahami situasi dan kondisi di luar dirinya dengan menggunakan sistem radar Otak-Jantung itu. Dan biasanya indra keenam tersebut lebih peka, karena memang terlatih secara langsung.

Jantung sebagai hati luar akan memberikan sinyal-sinyal yang bisa kita rasakan langsung dalam bentuk desir frekuensi. Sedangkan otak berfungsi sebagai organ yang memahami makna. Karena sesungguhnyalah kita tidak bisa merasakan dengan otak. Yang merasakan adalah jantung yang berada di dalam dada. Sangat nyata rasanya. Kadang dada terasa sesak, kadang pula terasa lapang. Di lain waktu terasa pedih, di waktu lainnya lagi terasa lega. Di satu saat terasa panas, di lain waktu terasa dingin. Dan seterusnya. Itu sebenarnya adalah gejolak frekuensi elektromagnetik belaka. Dengan dibantu mekanisme hormonal tertentu.

Maka, memahami jantung sebagai fungsi HATI, memang tidak bisa berdiri sendiri. Sebagaimana juga kita tidak bisa memahami fungsi penglihatan hanya dengan memahami mata. Harus dipahami sebagai PAKET antara alat pengindera dan pusat penginderaannya, yakni OTAK. Misalnya: Mata-Otak, Telinga-Otak, Hidung-Otak, Lidah-Otak, Kulit-Otak, dan Jantung-Otak.

Dengan demikian, kita pun bisa memperoleh gambaran lebih jelas tentang mekanisme Hati tersebut. Meskipun belum jelas betul, karena ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab, termasuk fungsi Hati Dalam yang belum dibahas. Karena itu, bersambung…. 🙂

Wallahu a’lam bishshawab

~ salam ~
Oleh: Agus Mustofa

>Getaran Gelombang Hati Lebih Kuat Dari Gelombang Otak

>

Perasaan adalah hal yang abstrak, agaknya benar. Tetapi, apakah karenanya lantas tidak bisa diukur? Eh, kayaknya nanti dulu. Karena, upaya untuk mengukur perasaan itu kini semakin menunjukkan hasil. Meskipun upaya itu masih terus berproses menuju kualitas yang lebih baik.

Bagaimana cara mengukur perasaan? Tentu saja tidak bisa langsung. Melainkan harus diterjemahkan dulu ke bahasa alat. Mirip dengan mengukur gelombang radio atau televisi misalnya. Kita tidak pernah bisa melihat gelombang radio dan televisi itu dalam bentuk yang sesungguhnya dengan mata dan telinga. Tetapi, kita lantas bisa melihat dan mendengarnya ketika sudah dilewatkan alat terlebih dahulu.

Tenyata, penelitian mutakhir semakin mengarah kepada kemampuan untuk mengukur perasaan itu. Asal muasalnya, disebabkan oleh munculnya zat-zat biokimiawi yang diproduksi oleh otak seiring dengan berubahnya perasaan seseorang. Namanya neurotransmitter. Ada sangat banyak jenis neurotransmitter, yang ternyata sangat khas terkait dengan jenis-jenis perasaan yang terjadi. Neurotransmitter untuk kemarahan berbeda dengan kesedihan, berbeda dengan kegembiraan, berbeda dengan kemalasan, berbeda dengan kecemasan dan sebagainya.

Nah dengan memanfaatkan zat-zat yang diproduksi oleh sel-sel otak itu, kini perasaan semakin bisa didefinisikan, dan bahkan kemudian diukur kualitas maupun besarnya. Perasaan gembira misalnya, ternyata adalah identik dengan diproduksinya neurotransmitter bernama enkefalin oleh sel-sel otak. Sedangkan rasa cemas, identik dengan keluarnya adrenalin yang membuat jantung berdebar-debar dan berkeringat dingin. Dan, perasaan malas disebabkan oleh munculnya neurotransmitter GABA dan Serotonin.

Proses ini bisa berlaku sebaliknya. Yakni, jika seseorang diinjeksi dengan zat-zat tersebut, yang tadinya tidak gembira bisa menjadi gembira. Yang tadinya tidak cemas bisa menjadi cemas. Yang tadinya tidak malas bisa menjadi malas. Yang tadinya penakut, bisa menjadi pemberani. Yang tadinya sedih bisa menjadi tertawa terus menerus. Dan seterusnya. Wah, ternyata perasaan mulai bisa dikuantifikasi dengan peralatan…

Sebagian zat itu terkandung di dalam Narkoba. Karena itu, para pemakai narkoba bisa menjadi seperti orang gila dan berperilaku aneh dikarenakan zat-zat yang terkandung di dalamnya mempengaruhi kerja otaknya. Ada yang terus menerus tertawa, padahal tidak ada yang lucu dari apa yang dilihatnya. Ada yang menjadi tidak punya rasa takut. Ada yang menjadi tenang berlebihan. Ada pula yang menjadi beringas. Dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, ternyata perasaan bisa dikonversi menjadi zat-zat neurotransmitter. Dan sebaliknya, zat-zat tersebut bisa dikonversi kembali menjadi perasaan. Dengan demikian, ini bisa dijadikan sebagai media untuk mengukur perasaan. Bukan hanya pada kualitasnya, melainkan juga pada dosisnya secara kuantitatif.

Pengukuran yang lebih maju adalah yang dilakukan secara elektromagnetik. Saya termasuk yang melakukan pengukuran dengan alat semacam itu, yakni menggunakan kamera aura. Dengan mengobservasi getaran tubuh seseorang, ternyata kita bisa mengukur suasana hati alias perasaannya. Yaitu, setelah diterjemahkan terlebih dahulu menjadi warna-warna cahaya. Tinggi rendahnya frekuensi pada diri seseorang ternyata menggambarkan seberapa besar tingkat emosinya.

Jika emosinya sedang tinggi, maka jantung sebagai Hati Luar akan bergejolak, berdegup-degup tidak beraturan. Getaran jantung itu merembet ke seluruh tubuh, bisa sampai menyebabkan tangan seseorang gemetaran, bibirnya juga bergetar, dan seluruh tubuhnya menggeletar. Jika dalam kondisi demikian, badan orang itu dihubungkan ke sensor kamera aura, maka bisa dipastikan warna auranya akan merah.

Derajat warna merah itu bermacam-macam, mulai dari yang gelapsampai yang terang. Dan bisa menunjukkan seberapa besar tingkat kemarahannya. Bahkan alat di klinik aura kami, di Surabaya, bisa merekam secara video dalam kurun waktu tertentu. Sehingga akan terlihat perubahan warnanya secara realtime. Pada saat orang tersebut bisa mengendalikan emosinya, warna merahnya memudar, kemudian berganti menjadi warna-warna yang lebih sejuk. Misalnya, hijau, biru, nila, ungu, sampai putih.

Getaran jantung, getaran perasaan di Otak, dan warna-warna aura yang dihasilkan selalu sinkron secara konsisten. Ini menunjukkan, bahwa perasaan di otak yang sangat abstrak itu setelah ditransfer ke jantung menjadi desiran elektromagnetik yang bisa diukur kualitas dan besarnya. Dengan memahami ilmu warna aura, kita lantas bisa menerjemahkan makna warna itu secara psikologis kembali, bahwa seseorang itu sedang berada dalam pengaruh perasaan tertentu.

Sebagai perbandingan, Anda bisa melihat hasil penelitian yang dilakukan oleh pakar-pakar Brain-Heart dari Institute of HeartMath. Bahwa gelombang jantung dan otak itu ternyata sangat riil hubungannya sehingga bisa diukur langsung dengan menggunakan Electro Cardio Graph (ECG) dan Electro Encephalog Graph (EEG).

Pancaran gelombang perasaan yang berasal dari otak yang masih lemah, akan menjadi berlipat kali lebih kuat ketika getarannya sudah diresonansikan ke jantung. Ini karena kuat medan jantung berlipat-lipat kali lebih besar dibandingkan otak. Sehingga seperti masuk ke dalam amplifier saja layaknya. Dan kemudian bisa menebar keluar dirinya.

Dalam penelitian itu bisa digambarkan Kuat Medan Elektromagnetik yang muncul dari getaran jantung seseorang. Radiasinya bisa diukur sampai jarak 1 meter lebih dari tubuhnya. Sehingga, bisa mengimbas kepada orang-orang yang berada di dekatnya. Inilah penjelasannya, kenapa berdekatan dengan orang yang emosional, Anda akan ikut-ikutan emosional. Dan berdekatan dengan orang-orang yang sabar, Anda akan terimbas menjadi sabar pula. Ternyata getaran jantung (Qalb) Anda teresonansi oleh getaran jantung (Qalb) seseorang yang ada di dekat Anda itu.

Bukan hanya kuat medannya, ternyata pola gelombangnya pun bisa menjadi sinkron ketika perasaan kita dengan seseorang itu sepaham dan saling mengerti. Disana juga digambarkan gelombang otak dan gelombang jantung orang yang bersalaman. Ketika belum bersalaman, gelombang otak si A berbeda dengan gelombang jantung si B (tentu saja). Tetapi, ketika bersalaman, gelombang otak si A sinkron dengan gelombang jantung si B, dalam bentuk gelombang yang harmonis.

Maka, apa kesimpulannya…?
Ternyata, manusia memancar-mancarkan gelombang elektromagnetik yang berporos pada mekanisme Otak-Jantung yang kita kenal sebagai bahasa Qalbu. Pancaran itu bisa bersifat internal ~ dalam diri sendiri antara dada & kepala ~ maupun eksternal yang mengimbas orang lain di sekitarnya. Perasaan lembut akan menularkan kelembutan, perasaan kasar akan menularkan suasana emosional yang membuat orang di sekitarnya tidak betah, dan kemudian pergi menjauhinya..!

QS. Ali Imran (3): 159
Maka disebabkan perasaan penuh kasih (rahmat) dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…

Wallahu a’lam bishshawab

~ salam ~

Oleh: Agus Mustofa

>Meresonansi Jiwa Dengan Sifat Ilahiah

>

Barangkali tulisan ini akan menjadi penutup serial note tentang Hati dan Diri manusia yang telah kita bahas berhari-hari. Saya yakin, masih sangat banyak pertanyaan yang bergelayutan di benak Anda, tentang eksistensi manusia terkait perjalanan spiritualnya. Tetapi, rupanya kita harus membatasi pembahasan karena beberapa alasan. Diantaranya agar tidak membosankan. Selain itu, saya memang mau izin untuk beberapa hari ke depan tidak aktif dalam forum diskusi ini, karena ada agenda lain yang harus saya selesaikan.

Dalam kesempatan ini saya ingin merangkum pembahasan yang sudah kita lakukan, sambil memberikan poin pentingnya dalam perjalanan spiritual seorang muslim.

1. Bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang luar biasa, sehingga disebut sebagai ciptaan terbaik alias ahsanu taqwim. Selain itu, dalam berbagai ayat Qur’an kita juga bisa menemui firman-firman Allah yang mengangkat manusia dalam derajat sedemikian tingginya. Sehingga, malaikat dan iblis pun diperintahkan untuk bersujud kepadanya. Meskipun, kemudian Iblis menolak, dan hanya malaikat yang bersujud.

2. Manusia diciptakan mengikuti fitrah Allah, QS. 30: 30, dibentuk dengan badan & jiwa yang ditiupi ruh ilahiah, sehingga menjadi hidup. Badan manusia adalah benda mati yang tersusun dari zat-zat biokimiawi, dengan struktur dan desain luar biasa canggih. Yang, sampai sekarang masih menyisakan misteri dahsyat bagi ilmu pengetahuan modern. Bahkan, saya yakin, sampai berakhirnya dunia sekalipun.

Jiwa manusia adalah badan halus yang berada di balik badan fisik. Ia tersusun dari energi, yang dalam ilmu kedokteran jiwa disebut sebagai bioplasma. Badan energi kita itu memiliki bentuk seperti badan materi yang meliputinya. Ia punya tangan energial, punya kaki energial, punya kepala energial, otak energial, mata, telinga, hidung, dan seluruh organ energial. Karena itu, jika organ materialnya mengalami kerusakan, jiwanya juga akan mengalami gangguan energial. Terutama, adalah jika otak materialnya mengalami kerusakan, maka otak energialnya pun terganggu. Dalam ilmu kedokteran disebut sebagai mengalami penyakit jiwa.

Selain badan dan jiwa, manusia memiliki ruh. Yakni, daya hidup yang berasal dari Sang Pencipta. Inilah sifat-sifat Tuhan yang diresonansikan kepada badan dan jiwa saat penciptaan di dalam rahim seorang ibu. Karena ditiupi sebagian ruh Allah, maka badan dan jiwa yang tadinya mati menjadi hidup. Teresonansi oleh Sifat Maha Hidup Allah. Selain itu, badan dan jiwa itu menjadi memiliki kehendak, karena teresonansi oleh sifat Allah yang Maha Berkehendak. Juga menjadi terimbas sifat-sifat lainnya seperti mendengar, melihat, berkata-kata, berkreasi, berbuat, dan lain sebagainya, yang merupakan sifat-sifat Allah.

3. Jiwa menempati posisi sentral dalam kehidupan seorang manusia. Dialah yang bertanggungjawab atas segala perbuatan manusia. Dia juga yang bisa merasakan suka, duka, sedih, bahagia, marah, kecewa, dendam, benci, cinta, ikhlas, sabar, ingkar dan berserah diri. Bukan badan, dan bukan ruh. Sebab, badan hanya alat saja bagi jiwa. Sedangkan ruh hanya daya hidup yang ditularkan Allah kepada manusia.

Maka, berpuluh ayat di dalam al Qur’an menganjurkan kita untuk meningkatkan kualitas jiwa. Kutubnya ada dua, yaitu badan dan ruh. Jiwa bakal menuju kualitas terendahnya ketika terseret kepada hal-hal yang bersifat materialistik badaniyah semata, sehingga lupa kepada nilai-nilai ketuhanan yang ada di dalam ruhnya. Kehidupannya hanya mengurusi kebutuhan dan kesenangan badaniyah belaka. Tiap hari yang dipikirkan cuma makan, minum, pakaian, harta benda, jabatan, seksualitas, popularitas, dan sebagainya yang bertumpu pada kepentingan ego semata. Orang yang demikian bakal terjebak pada keserakahan yang melalaikannya terhadap tujuan dan misi hidup yang lebih penting sebagai makhluk mulia.

Sebaliknya, ia akan mencapai derajat tertinggi jika memanfaatkan seluruh potensinya untuk melakukan hal-hal yang menuju nilai-nilai ruhiyah. Nilai-nilai ketuhanan yang diajarkan oleh agama. Yakni, yang terangkum dalam mekanisme hablum minallah dan hablum minannas untuk menuju visi tatanan hidup yang rahmatan lil alamin, bermanfaat buat seluruh makhluk Allah.

4. Di dalam al Qur’an, manusia diajari untuk meningkatkan kualitas jiwanya seiring dengan akal kecerdasan. Dimana ini sangat terkait dengan fungsi otak manusia beserta segala mekanismenya. Meningkatkan kemampuan otak, sama saja dengan meningkatkan kualitas jiwa. Karena itu, umat Islam harus melatih fungsi otaknya untuk mencapai jiwa berkualitas tinggi.
Mekanisme otak itu melibatkan dua fungsi dasar yang membentuk akal, yakni kecerdasan intelektual yang bekerja secara ilmiah lewat rasio, logika dan analisa, serta kecerdasan emosional yang bekerja pada sistem limbik dengan memanfaatkan Hipocampus sebagai memori rasional dan Amygdala sebagai memori emosional. Seorang manusia harus melatih diri agar fungsi Hipocampus dan Amygdalanya bekerja secara seimbang, sehingga menghasilkan emosi yang rasional atau rasio yang emosional. Sebab, di sistem limbik inilah terjadinya pertarungan antara kecerdasan rasional dan emosional. Dan seringkali rasionalitas kalah oleh emosi yang cenderung tanpa perhitungan.

5. Mekanisme sistem limbik tecermin pada getaran jantung. Jika sistem limbik sedang dalam kondisi emosi yang tidak rasional, maka jantung akan bergetar tidak stabil, sehingga mengalami disharmoni dengan frekuensi otak. Ini menyebabkan ketidakseimbangan di seluruh tubuh. Baik yang bekerja secara sarafi maupun hormonal. Sebaliknya, jika sistem limbik sedang dalam keadaan emosi yang rasional, maka jantung akan bergetar lembut dan menghasilkan frekuensi yang sinkron dengan otak. Saat itu, seluruh tubuh akan ikut harmonis.

Maka, kelembutan getaran jantung bisa dijadikan tolok ukur bagi optimal tidaknya kerja sistem limbik di dalam otak. Sekaligus, menunjukkan keseimbangan kondisi kejiwaan seseorang. Disinilah terjadi sinkronisasi antara fungsi badan dan fungsi jiwa. Badannya sehat, jiwanya tenteram. Sebaliknya, jika tidak sinkron, akan memunculkan penyakit yang dalam istilah kedokteran disebut sebagai psychosomatis. Yaitu, penyakit tubuh yang disebabkan oleh jiwa yang sakit.

Selain itu, kini juga berkembang ilmu yang disebut Psycho-neuro-imunology. Yaitu, ilmu yang menjelaskan eratnya hubungan antara fungsi jiwa, fungsi sarafi, dan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Ternyata orang-orang yang menata hidupnya secara religius menuju kepada nilai-nilai spiritual memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dan hidup lebih sehat sampai ajal datang menjemputnya.

6. Dalam ranah spiritual, jiwa digambarkan memiliki ‘arsy atau tingkatan energi yang semakin halus untuk mencapai kualitas tertingginya. Dimulai dari ‘arsy material berupa pengalaman fisikal sehari-hari, dilanjutkan ke ‘arsy energial yang memunculkan pengalaman-pengalaman kejiwaan yang khas, sampai ‘arsy ruhiyah yang memunculkan pengalaman spiritual tertinggi dalam hubungannya dengan Allah.

Pencapaian ‘arsy yang lebih tinggi itu terjadi seiring dengan penghalusan sifat alias akhlaknya. Semakin tinggi akhlaknya, semaki tinggi pula perjalanan spiritualnya. Kenapa bisa demikan? Karena, sesungguhnya perjalanan spiritual adalah sebuah perjalanan menuju Sifat-Sifat Allah, yang telah diimbaskan dalam bentuk ruh ke dalam diri manusia.

Maka, semakin tinggi tingkat spiritual seorang hamba, akan terlihat dari semakin tingginya akhlak yang dijalaninya. Akhlak adalah emosi rasional yang sudah tertanam sebagai sifat dan kebiasaan. Itu pula yang ditunjukkan oleh para Nabi. Semakin tinggi akhlaknya, semakin tinggi tingkat spiritualnya, dan semakin dekat ia dengan Sang Maha Penyantun, Allah Azza wajalla…

Akhlak mulia adalah sifat-sifat ilahiah yang merembes ke dalam jiwa seorang manusia bersumber dari sifat-sifat Allah di dalam ruhnya. Resonansi itu terjadi disebabkan adanya sinkronisasi getaran antara badan, jiwa dan ruh. Semakin sinkron semakin harmonilah frekuensinya, dan secara energial tergambar di poros jantung-otak yang semakin lembut.

7. Maka, secara sederhana, proses pencapaian tingkat spiritual yang tinggi bisa dilakukan dengan cara menata akhlak. Melatih kejujuran, melatih kesabaran, melatih keikhlasan, melatih ketaatan, melatih sifat pengorbanan, dan melatih sifat berserah diri hanya kepada Allah. Jika ini sukses, maka dengan sendirinya, Arsy jiwa kita akan naik tingkat mendekati sifat-sifat ilahiah yang ada di dalam ruh kita sendiri.Apa yang kita lakukan sehari-hari adalah cerminan dari sifat-sifat ilahiah tersebut…!

Bagaimana prakteknya? Cobalah mulai melakukan dengan melatih kejujuran. Inilah akhlak dasar yang dipersyaratkan oleh Rasulullah kepada seseorang yang ingin menjalankan agama Islam secara substansial. Cobalah menjadi orang dengan kepribadian terbuka. Baik terhadap diri sendiri, terhadap orang lain dan terhadap Allah. Cobalah berkata tanpa kepura-puraan.

Apa yang ada di mulut, sinkronkan dengan yang ada di hati (pikiran dan perasaan), sinkron dengan perbuatan sehari-hari. Jangan mengatakan sesuatu yang tidak sama dengan yang ada di hati. Lebih-lebih, jangan berbuat sesuatu yang berbeda dengan bisikan hati. Jika Anda bisa melakukan ini selama setahun saja, insya Allah Anda sudah akan naik kelas ke tingkat yang lebih tinggi.

Setelah itu, cobalah untuk mengendalikan amarah. Menjadi orang yang sulit marah, tapi gampang memaafkan. Karena, ini menjadi tanda-tanda orang yang bertakwa, QS. 3: 133-135. Bukan menahan amarah, melainkan mengendalikan amarah. Seseorang bisa mengendalikan amarah, hanya jika ia mampu menata sistem limbiknya menjadi bersifat emosi yang rasional. Jika tidak, maka yang ada hanyalah menahan amarah, sehingga bakal meledak di waktu yang lain saja.

Jika Anda mampu menajalaninya setahun saja, maka Anda bisa melanjutkan dengan melatih sifat ikhlas. Yaitu, berkorban sebanyak-banyaknya untuk kepentingan orang lain. Merendahkan ego, meninggikan kemaslahatan bersama.

Berikutnya, jika sudah semakin ikhlas, Anda bisa melatih sifat sabar. Yakni, tidak tergesa-gesa dalam mencapai suatu tujuan, serta tahan menghadapi ujian. Yang ini, juga cukup setahun saja secara terus menerus alias istiqomah. Dan setelah itu yang terakhir adalah latihan untuk taat kepada Allah.

Bukan ketaatan yang ditaat-taatkan, melainkan ketaatan yang penuh kejujuran, keikhlasan dalam pengorbanan, dan kesabaran dalam menjalankan segala perintah Allah. Jika Anda bisa melakukan ini sinkron antara bisikan ruh, jiwa, dan perbuatan, maka insya Allah, Anda sudah berada di level tertinggi di dalam Islam, yaitu: berserah diri hanya kepada Allah semata. Anda telah menjadi muslim yang paripurna. Dan bakal menjadi kesayangan Allah, sebagaimana Nabi ibrahim sang khalilullah..!

QS. An Nisaa (4): 125
Dan siapakah orang yang paling baik agamanya daripada orang yang ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.

Wallahu a’lam bishshawab

~ salam ~

Oleh: Agus Mustofa

>Hati Dalam

>

Setelah beberapa tulisan terdahulu membahas Hati Luar yang bersemayam di jantung, di dalam dada, maka kini kita mulai membahas Hati Dalam. Yakni, hati yang bersemayam di OTAK. Jika Hati Luar disebut al Qur’an dengan istilah Qalb, maka Hati Dalam disebut dengan Fuad.

QS. As Sajdah (32): 9
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya sebagian Ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan HATI (Fuad); sedikit sekali kamu bersyukur.

Perhatikanlah ayat di atas. Fuad (Af-idah – jamak) disetarakan dengan pendengaran dan penglihatan. Dan munculnya adalah seiring dengan peniupan Ruh. Karena memang, pendengaran dan penglihatan itu adalah sifat-sifat Allah yang ditularkan kepada manusia melalui Ruh. Bukan mata dan telinga sebagai benda, melainkan pendengaran dan penglihatan sebagai fungsi.

Ini berbeda dengan Qalb yang disetarakan dengan telinga dan mata, QS. 7:179. Pendengaran dan penglihatan terjadi di OTAK, sebagaimana telah kita bahas di Notes sebelumnya. Maka, fungsi pemahaman oleh Hati Dalam bukan berada di jantung melainkan berada di otak. Antara Qalb dan Fuad tidak bisa dipisahkan, karena sesungguhnya Qalb hanyalah kepanjangan tangan bagi Fuad.

Karena penglihatan tidak terjadi di mata melainkan di Otak, maka pusat pemahaman akan perasaan yang berdesir di jantung pun sebenarnya berada di otak. Yakni di sebuah daerah otak tengah yang dikenal sebagai Sistem Limbik. Dalam ilmu jiwa, sistem ini dikenal sebagai pusat Fungsi Luhur manusia. Disinilah pertarungan hal-hal yang rasional dan emosional terjadi.

Sistem Limbik tersusun dari beberapa bagian otak yang saling mempengaruhi. Diantaranya adalah bagian yang disebut Hipocampus, yang berfungsi sebagai pusat memori rasional. Yang kedua, adalah Amygdala yang menjadi pusat memori emosional alias perasaan universal manusia. Selebihnya, ada bagian lain yang bernama Thalamus, Gyrus Cingulata, Nucleus Basal, dan Prefrontal Cortex.

Empat bagian yang terakhir ini tidak kita bahas disini, karena akan menjadi sangat teknis dan melebar. Tetapi, jika Anda ingin memperoleh informasi lebih detil, silakan membaca buku serial ke-4 yang berjudul MENYELAM KE SAMUDERA JIWA & RUH. Dalam artikel yang sangat pendek ini, saya cuma ingin menunjukkan kepada Anda, bahwa Hati Dalam itu berpusat di Sistem Limbik, yang melibatkan fungsi perasaan emosional sekaligus pikiran rasional.

Sesungguhnya perasaan sedih, gembira, marah, benci, malas, sombong, rendah hati, sabar, dan lain sebagainya itu sudah tersimpan di dalam Amygdala sebagai sebuah memori universal. Karena itu, umat manusia di seluruh dunia memiliki rasa yang sama terhadap sifat-sifat tersebut.

Anda tidak perlu mengajari seorang anak tentang rasa gembira, misalnya, karena di dalam memori Amygdalanya sudah ada. Bahkan perasaan gembira bagi orang Indonesia adalah sama dengan orang Eropa, Amerika, Arab, Yahudi, China, dan sebagainya. Yang berbeda hanya pemicunya saja. Misalnya, lucunya lawakan Kartolo Cs dari Surabaya, belum tentu dianggap lucu oleh orang Eropa. Tetapi, perasaan lucu itu sendiri sama, yakni sesuatu yang mendorong seseorang ingin tertawa. Perasaan universal ini adalah program bawaan yang sudah ada di otak mereka. Pusatnya di Amygdala.

Maka, kita tidak perlu mengajari bangsa mana pun untuk tertawa ketika gembira dan menangis ketika bersedih, mereka pasti sudah bisa dengan sendirinya, karena sudah punya rasa itu di dalam otaknya. Tinggal kadarnya saja yang berbeda-beda. Aktif-tidaknya Amygdala hanya tinggal menunggu sinyal dari luar otak.

Sinyal itu berasal dari panca indera dan indera ke enamnya. Semuanya berupa sinyal-sinyal elektromagnetik, yang masuk ke tempurung kepala. Ada yang lewat saraf ada yang memapar secara radiasi. Tetapi, ujung-ujungnya akan dirujukkan ke Amygdala untuk memunculkan rasa, dan setelah diolah di Sistem Limbik, lantas di-feed-back ke seluruh badan lewat mekanisme sarafi, hormonal, dan radiatif. Rasa itulah yang lantas muncul di jantung sebagai desiran yang khas…! (Bersambung)

Wallahu a’lam bishshawab

~ salam ~

Oleh: Agus Mustofa