Sukses Dengan Tawakal

“Tetaplah bergerak, sebab di balik frustasi ada prestasi, dan di balik masalah ada solusi. Biarkan kakimu melangkah menuju kesuksesan hakiki”.

Allah berfirman :
“ Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal”. Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 160.

Bertawakal yang baik tidak hanya diekspresikan setelah kita berusaha, tetapi meliputi keseluruhannya baik ketika AKAN, SEDANG, maupun SETELAH berusaha.

Allah berfirman :
“ . . . . . apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” : Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 159.

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. . . .” : Q.S. Ath-Talaq [65] ayat 3.

Firman Allah : ” Wa tawakkal ‘Alallahi wakafaa billahi wakilla ” (Dan bertawakallah kepada Allah dan cukup Allah sebagai pemelihara segala urusan) A.Q.S. 3:3.

Sabda Rasulullah : ” Ikatlah untamu dan bertawakallah ” ( R. Ibnu Hibban ).

Jadi, yang namanya tawakal itu sudah dimulai sejak kita membulatkan tekad, yaitu sejak kita menetapkan impian-impian kita. Dan senantiasa bertawakal ketika kita sedang berusaha mengejar impian-impian itu, maupun setelah berusaha.

TAWAKAL ADALAH PERINTAH ALLAH
Ber-tawakal kepada Allah ( tawakkal ‘Alallah ), merupakan perintah yang banyak terdapat dalam Al-Qur’an, di samping perintah-perintah lainnya seperti bertaqwa, bersabar, beristiqomah, ikhlas dan beribadah, ridho dalam menerima ketetapan Tuhan, berlaku adil, berjihad pada jalan-Nya, berkurban dan lain-lain.

Di antara perintah-perintah yang terpokok dan terutama sekali adalah perintah untuk ber-IBADAH kepada-Nya. Oleh karena itulah maka TUGAS POKOK manusia di dunia ini tidak lain beribadah kepada-Nya sebagai mana ditegaskan oleh-Nya : ” Wamaa kholaktul jinna wal insa illa liya’buduuni ” ( Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan semata-mata supaya mereka menyembah-Ku/beribadah kepada-Ku ) A.Q.S. 51:56.

ARTI DAN MAKNA TAWAKAL
Tawakal artinya BERSERAH DIRI DAN BERPEGANG TEGUH KEPADA ALLAH. Di sini terdapat dua unsur pokok yaitu, pertama berserah diri dan kedua berpegang teguh. Kedua-duanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tidak dapat dikatakan tawakal kalau belum berserah diri secara ikhlas. Tidak dapat pula dikatakan tawakal kalau belum berpegang kepada-Nya, belum kokoh atau belum bulat pada tingkat haqqul yakin kepada kekuasaan-Nya yang tidak terbatas, keadilan-Nya, kebijaksanaan-Nya, kasih sayang-Nya untuk mengatur segala sesuatu dengan sesempurna-sempurnanya.

Jalan meraih sukses dengan pasti adalah dengan bertakwa dan bertawakkal pada Allah subhanahu wa ta’ala. Ayat yang bisa menjadi renungan bagi kita bersama adalah firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

Hakekat Tawakkal
Tawakkal berasal dari kata “wukul”, artinya menyerahkan/ mempercayakan. Seperti dalam kalimat disebutkan “وَكَّلْت أَمْرِي إِلَى فُلَان”, aku menyerahkan urusanku pada fulan. Sedangkan yang dimaksud dengan tawakkal adalah berkaitan dengan keyakinan.[1]

Berdasarkan keterangan dari Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah, hakekat tawakkal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘Azza wa Jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata’.[2]

Keutamaan Tawakkal
Pertama: Tawakkal sebab diperolehnya rizki
Ibnu Rajab mengatakan, ”Tawakkal adalah seutama-utama sebab untuk memperoleh rizki”.[2] Sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).

Kedua: Diberi kecukupan oleh Allah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca surat Ath Tholaq ayat 3 kepada Abu Dzar Al Ghifariy. Lalu beliau berkata padanya,

لَوْ أَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَخَذُوْا بِهَا لَكَفَتْهُمْ

“Seandainya semua manusia mengambil nasehat ini, itu sudah akan mencukupi mereka.”[3] Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakkal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka.[4]

Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah ketika menjelaskan surat Ath Tholaq ayat 3 mengatakan, “Barangsiapa yang bertakwa pada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menyandarkan hatinya pada-Nya, maka Allah akan memberi kecukupan bagi-Nya.”[5]

Al Qurtubhi rahimahullah menjelaskan pula tentang surat Ath Tholaq ayat 3 dengan mengatakan, “Barangsiapa yang menyandarkan dirinya pada Allah, maka Allah akan beri kecukupan pada urusannya.”[6]

Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan, “Barangsiapa menyerahkan urusannya pada Allah, maka Allah akan berikan kecukupan pada urusannya.”[7]

Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan pula, “Barangsiapa yang menyandarkan diri pada Allah dalam urusan dunia maupun agama untuk meraih manfaat dan terlepas dari kemudhorotan, dan ia pun menyerahkan urusannya pada Allah, maka Allah yang akan mencukupi urusannya. Jika urusan tersebut diserahkan pada Allah Yang Maha Mencukupi (Al Ghoni), Yang Maha Kuat (Al Qowi), Yang Maha Perkasa (AL ‘Aziz) dan Maha Penyayang (Ar Rohim), maka hasilnya pun akan baik dari cara-cara lain. Namun kadang hasil tidak datang saat itu juga, namun diakhirkan sesuai dengan waktu yang pas.”[8] Masya Allah suatu keutamaan yang sangat luar biasa sekali dari orang yang bertawakkal.

Ketiga: Masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab
Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِى سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ ، هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak beranggapan sial dan mereka selalu bertawakkal pada Rabbnya.”[9]

Merealisasikan Tawakkal
“Dalam merealisasikan tawakkal tidaklah menafikan melakukan usaha dengan melakukan berbagai sebab yang Allah Ta’ala tentukan. Mengambil sunnah ini sudah menjadi sunnatullah (ketetapan Allah yang mesti dijalankan). Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan usaha disertai dengan bertawakkal pada-Nya,” demikian penuturan Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah selanjutnya[10].

Jadi intinya, dari penjelasan beliau ini dalam merealisasikan tawakkal haruslah terpenuhi dua unsur:

  1. Bersandarnya hati pada Allah.
  2. Melakukan usaha.

Inilah cara merealisasikan tawakkal dengan benar. Tidak sebagaimana anggapan sebagian orang yang menyangka bahwa tawakkal hanyalah menyandarkan hati pada Allah, tanpa melakukan usaha atau melakukan usaha namun tidak maksimal. Tawakkal tidaklah demikian.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Usaha dengan anggota badan dalam melakukan sebab adalah suatu bentuk ketaatan pada Allah. Sedangkan bersandarnya hati pada Allah adalah termasuk keimanan.”[11]

Tawakkal Haruslah dengan Usaha
Berikut di antara dalil yang menunjukkan bahwa tawakkal tidak mesti meninggalkan usaha, namun haruslah dengan melakukan usaha yang maksimal.

Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً
“Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”[12]

Al Munawi mengatakan, ”Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rizki, yang memberi rizki adalah Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa tawakkal tidak harus meninggalkan usaha. Tawakkal haruslah dengan melakukan berbagai usaha yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rizki dengan usaha. Sehingga hal ini menuntunkan pada kita untuk mencari rizki.”[13]

Ibnu ‘Allan mengatakan bahwa As Suyuthi mengatakan, “Al Baihaqi mengatakan dalam Syu’abul Iman:

Hadits ini bukanlah dalil untuk duduk-duduk santai, enggan melakukan usaha untuk memperoleh rizki. Bahkan hadits ini merupakan dalil yang memerintahkan untuk mencari rizki karena burung tersebut pergi di pagi hari untuk mencari rizki. Jadi, yang dimaksudkan dengan hadits ini –wallahu a’lam-: Seandainya mereka bertawakkal pada Allah Ta’ala dengan pergi dan melakukan segala aktivitas dalam mengais rizki, kemudian melihat bahwa setiap kebaikan berada di tangan-Nya dan dari sisi-Nya, maka mereka akan memperoleh rizki tersebut sebagaimana burung yang pergi pagi hari dalam keadaan lapar, kemudian kembali dalam keadaan kenyang. Namun ingatlah bahwa mereka tidak hanya bersandar pada kekuatan, tubuh, dan usaha mereka saja, atau bahkan mendustakan yang telah ditakdirkan baginya. Karena ini semua adanya yang menyelisihi tawakkal.”[14]

Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Orang yang duduk-duduk tersebut pernah berkata, ”Aku tidak mengerjakan apa-apa. Rizkiku pasti akan datang sendiri.” Imam Ahmad lantas mengatakan, ”Orang ini sungguh bodoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda,

إِنَّ اللَّه جَعَلَ رِزْقِي تَحْت ظِلّ رُمْحِي
”Allah menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku.”[15]

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang”. Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. Para sahabat pun berdagang. Mereka pun mengolah kurma. Yang patut dijadikan qudwah (teladan) adalah mereka (yaitu para sahabat).[16]

Allah subhanahu wa ta’ala dalam beberapa ayat juga menyuruh kita agar tidak meninggalkan usaha sebagaimana firman-Nya,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ


”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.”
(QS. Al Anfaal: 60).

Juga firman-Nya,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah.” (QS. Al Jumu’ah: 10). Dalam ayat-ayat ini terlihat jelas bahwa kita dituntut untuk melakukan usaha.

Meraih Sukses dengan Menempuh Sebab yang Benar
Sahl At Tusturi rahimahullah mengatakan, ”Barangsiapa mencela usaha (meninggalkan sebab) maka dia telah mencela sunnatullah (ketentuan yang Allah tetapkan). Barangsiapa mencela tawakkal (tidak mau bersandar pada Allah) maka dia telah meninggalkan keimanan.”[17]

Dari keterangan Sahl At Tusturi ini menunjukkan bahwa jangan sampai kita meninggalkan sebab. Namun dengan catatan kita tetap bersandar pada Allah ketika mengambil sebab dan tidak boleh bergantung pada sebab semata.

Oleh karena itu, perlu diperhatikan bahwa dalam mengambil sebab ada tiga kriteria yang mesti dipenuhi. Satu kriteria berkaitan dengan sebab yang diambil. Dua kriteria lainnya berkaitan dengan orang yang mengambil sebab.

Kriteria pertama: Berkaitan dengan sebab yang diambil. Yaitu sebab yang diambil haruslah terbukti secara syar’i atau qodari.

Secara syar’i, maksudnya adalah benar-benar ditunjukkan dengan dalil Al Qur’an atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contoh: Dengan minum air zam-zam, seseorang bisa sembuh dari penyakit. Sebab ini adalah sebab yang terbukti secara syar’i artinya ada dalil yang menunjukkannya yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut air zam-zam,

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ
“Sesungguhnya air zam-zam adalah air yang diberkahi, air tersebut adalah makanan yang mengenyangkan.”[18]

Ditambahkan dalam riwayat Abu Daud (Ath Thoyalisiy) dengan sanad jayyid (bagus) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

وَشِفَاءُ سُقْمٍ
“Air zam-zam adalah obat dari rasa sakit (obat penyakit).”[19]

Begitu pula disebutkan dalam hadits lainnya, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ
“Khasiat air zam-zam sesuai keinginan orang yang meminumnya.”[20]

Secara qodari, maksudnya adalah secara sunnatullah, pengalaman dan penelitian ilmiah itu terbukti sebagai sebab memperoleh hasil. Dan sebab qodari di sini ada yang merupakan cara halal dan ada pula yang haram.

Contoh: Dengan belajar giat seseorang akan berhasil dalam menempuh UAS (Ujian Akhir Semester). Ini adalah sebab qodari dan dihalalkan.

Namun ada pula sebab qodari dan ditempuh dengan cara yang haram. Misalnya menjalani ujian sambil membawa kepekan (contekan). Ini adalah suatu bentuk penipuan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى
“Barangsiapa menipu, maka ia tidak termasuk golonganku.”[21]

Misalnya lagi, memperoleh harta dengan cara korupsi. Ini adalah cara yang haram. Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, Buraidah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ

“Siapa saja yang kami pekerjakan lalu telah kami beri gaji maka semua harta yang dia dapatkan di luar gaji (dari pekerjaan tersebut, pent) adalah harta yang berstatus ghulul (baca:korupsi)”.[22]

Kriteria kedua: Berkaitan dengan orang yang mengambil sebab, yaitu hendaklah ia menyandarkan hatinya pada Allah dan bukan pada sebab. Hatinya seharusnya merasa tenang dengan menyandarkan hatinya kepada Allah, dan bukan pada sebab. Di antara tanda seseorang menyandarkan diri pada sebab adalah di akhir-akhir ketika tidak berhasil, maka ia pun menyesal.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

“Barangsiapa menggantungkan diri pada sesuatu, niscaya Allah akan menjadikan dia selalu bergantung pada barang tersebut.”[23] Artinya, jika ia bergantung pada selain Allah, maka Allah pun akan berlepas diri darinya dan membuat hatinya tergantung pada selain Allah.

Kriteria ketiga: Berkaitan dengan orang yang mengambil sebab, yaitu meyakini takdir Allah. Seberapa pun sebab atau usaha yang ia lakukan maka semua hasilnya tergantung pada takdir Allah (ketentuan Allah).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”[24]

Beriman kepada takdir, inilah landasan kebaikan dan akan membuat seseorang semakin ridho dengan setiap cobaan. Ibnul Qayyim mengatakan, “Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.” [25] [26]

Tawakkal yang Keliru
Dari penjelasan di atas kita dapat merinci beberapa bentuk tawakkal yang keliru:

  1. Pertama: Menyandarkan hati pada Allah, namun tidak melakukan usaha dan mencari sebab. Perilaku semacam ini berarti mencela sunnatullah sebagaimana dikatakan oleh Sahl At Tusturi di atas.
  2. Kedua: Melakukan usaha, namun enggan menyandarkan diri pada Allah dan menyandarkan diri pada sebab, maka ini termasuk syirik kecil. Seperti memakai jimat, agar dilancarkan dalam urusan atau bisnis.
  3. Ketiga: Sebab yang dilakukan adalah sebab yang haram, maka ini termasuk keharaman. Misalnya, meraih dengan jalan korupsi.
  4. Keempat: Meyakini bahwa sebab tersebut memiliki kekuatan sendiri dalam menentukan hasil, maka ini adalah syirik akbar (syirik besar). Keyakinan semacam ini berarti telah menyatakan adanya pencipta selain Allah. Misalnya, memakai pensil ajaib yang diyakini bisa menentukan jawaban yang benar ketika mengerjakan ujian. Jika diyakini bahwa pensil tersebut yang menentukan hasil, maka ini termasuk syirik akbar.

Ketika Mendapat Kegagalan
Ketika itu sudah berusaha dan menyandarkan diri pada Allah, maka ternyata hasil yang diperoleh tidak sesuai yang diinginkan maka janganlah terlalu menyesal dan janganlah berkata “seandainya demikian dan demikian” dalam rangka menentang takdir.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”[27]

Demikian sedikit pembahasan kami tentangt tawakkal. Semoga bermanfaat. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Footnote :
[1] Lihat Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/305, Darul Ma’rifah, 1379.
[2] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 516, Darul Muayyid, cetakan pertama, tahun 1424 H.
[3] HR. Ahmad, Ibnu Majah, An Nasa-i dalam Al Kubro. Dalam sanad hadits ini terdapat inqitho’ (terputus) sehingga hadits ini adalah hadits yang lemah (dho’if). Syaikh Al Albani dalam Dho’if Al Jami’ no. 6372 mengatakan bahwa hadits tersebut dho’if. Namun makna hadits ini shahih (benar) karena memiliki asal dari ayat al Qur’an dan hadits shahih.
[4] Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 516.
[5] Tafsir Ath Thobari (Jami’ Al Bayan fii Ta’wili Ayil Qur’an), Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari, 23/46, Dar Hijr.
[6] Tafsir Al Qurtubhi (Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an), Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Al Qurtubhi, 18/161, Mawqi’ Ya’sub.
[7] Fathul Qodir, Asy Syaukani, 7/241, Mawqi’ At Tafasir.
[8]
[9] HR. Bukhari no. 6472 dan Muslim no. 218.
[10] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 517.
[11] Idem.
[12] HR. Ahmad (1/30), Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ibnu Hibban no. 402. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310 mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam Shohih Al Musnad no. 994 mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[13] Lihat Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jaami’ At Tirmidzi, 7/7-8, Asy Syamilah
[14] Dalilul Falihin, Ibnu ‘Alan Asy Syafi’i, 1/335, Asy Syamilah
[15] HR. Ahmad, dari Ibnu ‘Umar. Sanad hadits ini shahih sebagaimana disebutkan Al ‘Iroqi dalam Takhrij Ahaditsil Ihya’, no. 1581. Dalam Shahih Al Jaami’ no. 2831, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[16] Fathul Bari, Ibnu Hajar ‘Al Asqolani, 11/305, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379.
[17] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 517.
[18] HR. Muslim dalam Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab Keutamaan Abu Dzar, no. 4520.
[19] HR. Abu Daud Ath Thoyalisiy dalam musnadnya no. 459. Dikeluarkan pula oleh Al Haitsamiy dalam Majma’ Az Zawa-id, 3/286 dan Al Hindiy dalam Kanzul ‘Ummal, 12/34769, 3480.
[20] HR. Ibnu Majah, 2/1018. Lihat Al Maqosid Al Hasanah, As Sakhowiy hal. 359. [Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1165]
[21] HR. Muslim no. 102, dari Abu Hurairah.
[22] HR Abu Daud no 2943, Dalam Kaifa hal 11, Syeikh Abdul Muhsin al Abbad mengatakan, ‘Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih dan dinilai shahih oleh al Albani’.
[23] HR. Tirmidzi no. 2072. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[24] HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash.
[25] Al Fawaid, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 94, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1425 H.
[26] Penjelasan ini adalah faedah dari pemaparan guru kami “Ustadz Abu Isa hafizhohullah” dalam buku beliau Mutiara Faedah Kitab Tauhid, hal. 64-66, Pustaka Muslim, cetakan pertama, 1428 H.
[27] HR. Muslim no. 2664

Referensi :
Gus Rumahsyo
Website Tawakal

Iklan
Ditulis dalam Islam. Leave a Comment »

Dahsyatnya Otak Kanan Manusia

Mengungkap Rahasia Dahsyatnya Otak Kanan Manusia
Seseorang yang pernah juara Olympiade Matematika dan Fisika bukan jaminan untuk bisa memiliki pribadi yang unggul dan sukses. Karena mereka hanya mengandalkan otak kiri saja, bukan otak kanan. Pantas, bila bangsa kita kalah dengan bangsa lain. Itu akibat, otak kanan yang tidak terasah.”

Demikian dikatakan Arman Andi Amirullah, Direktorat Pembinaan TK & SD Departemen Pendidikan Nasional Pusat, dalam Seminar Sehari “Mengungkap Rahasia Otak Kanan Anak” di aula Kelurahan Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Rabu (19/1/2011) lalu. Pembicara lain dalam seminar ini adalah Dra Dhauharah Bawazir, Psi, M.Pd, praktisi pendidikan yang juga seorang dosen psikologi dan bimbingan konseling Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Menurut Arman, ternyata tidak semua orang tahu perihal kehebatan dan rahasia otak kanan manusia. Uniknya, berbagai macam respon timbul ketika mendengar informasi tentang otak kanan. Ada yang menganggap biasa-biasa saja, ada yang sama sekali tidak pernah mendengar, ada yang tidak percaya bahwa otak kanan terbagi dalam dua bagian dengan fungsinya masing-masing.

Respon lain, ada yang menganggap bahwa otak kanan berfungsi atau aktif secara otomatis, apabila organ tubuh bagian kiri sedang bergerak, bahkan ada anggapan tidak ada pembagian otak kiri, otak kanan, maupun otak tengah. Yang mereka percayai, otak manusia hanya satu.

Karena mereka hanya mengandalkan otak kiri saja, bukan otak kanan. Pantas, bila bangsa kita kalah dengan bangsa lain. Itu akibat, otak kanan yang tidak terasah….

“Maka pantaslah jika Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara lain, Karena tidak tahu kehebatan otak kanannya. Ketika manusia tidak mengetahui rahasia otak kanannya, bisa dipastikan dirinya bukanlah orang kreatif, kurang peduli, kurang inovasi, kurang kreasi, tidak sungguh-sungguh, dan kurang ikhlas,” ujar Arman.

Otak kanan yang tidak pernah diasah, lanjut Arman, juga bisa mengakibatkan seseorang kehabisan ide, kurang rasa ingin tahunya, kurang disiplin, kurang tanggungjawab, kurang menghargai orang lain, kurang menghargai keindahan, kurang menghargai kekuatan hati, kekuatan cinta dan sebagainya. “Maka apakah kita masih mau menunda-nunda untuk mengaktifkan otak kanan anak-anak bangsa?” kata Arman prihatin.


Islam dan Otak Kanan
Lebih jauh Arman menjelaskan, Islam adalah agama merangsang otak kanan manusia menjadi berfungsi. Betapa tidak, ketika kita mencoba memahami bagaimana pergantian malam dan siang terjadi, seperti dijelaskan dalam Al Qur’an, tentu diperlukan daya imajinasi untuk bisa merasakan kebesaran Tuhan dalam menciptakan alam semesta, menumbuhkan aneka tumbuhan, dan bagaimana Sang Khaliq menurunkan hujan.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Qs. Ali Imran 190-191).

“Tanpa bantuan imajinasi, kita tidak sanggup melihat dan merasakan langsung tanda-tanda yang dimaksud, dan tidak sanggup memikirkan penciptaan langit dan bumi,” ungkap Arman.

Bahkan dalam hadits Nabi dikatakan: “Sembahlah Tuhan-Mu seakan-akan engkau melihatnya, dan apabila kamu tidak sanggup melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah melihat kamu.

Sangat jelas dalam hadits ini, perintah untuk seolah-olah melihat Allah dalam shalat adalah pekerjaan imajinasi atau kemampuan “membayangkan.” Seperti diketahui, ayat-ayat suci Al Quran banyak menggunakan kata perumpamaan: seakan-akan, seperti, yang tentunya membutuhkan daya imajinasi yang kuat. “Tahukah Anda kalau daya imajinasi adalah tanggung jawab otak kanan?” kata Amran.

Hasil Penelitian Mutakhir
Tahukah Anda, bahwa kemampuan otak kanan itu memiliki kapasitas 90% dan otak kiri hanya 10-12%. Hasil penelitian mutakhir di AS menyebutkan, peran logika dalam membuat orang menjadi sukses hanya 4-6%, sedangkan 94-96% adalah tanggungjawab otak kanan yang banyak berhubungan dengan inovasi, kreativitas, naluri, intuisi, daya cipta, kejujuran, keuletan, tanggungjawab, kesungguhan, spirit, kedisiplinan, etika, empati dan lain-lain.

Sedangkan tugas otak kiri adalah yang selalu berhubungan dengan angka-angka, bahasa analisa, logika, intelektual, ilmu pengetahuan. Adapun otak kanan bertanggungjawab dalam hal imajinasi, kreativitas, seni, music, inovasi, daya cipta, intuisi, otak bawah sadar, keikhlasan, kebahagiaan, spirit, keuletan, kejujuran, keindahan dan lain-lain. Selain diurusi oleh otak kiri maka menjadi urusan otak kanan.

Otak kanan dapat merekam dengan cepat dan tersimpan selamanya dalam memori otak. Sel-sel darah manusia dapat menjadi cadangan tempat penyimpanan memori manakala memori otak kita penuh. Kapasitas kemampuan otak kanan dalam menyimpan memori mencapai 10 pangkat 5 juta kilometer.

Dikatakan Arman, otak kanan, sesungguhnya dapat merekam dengan cepat dan tersimpan selamanya dalam memori otak. Sel-sel darah manusia dapat menjadi cadangan tempat penyimpanan memori manakala memori otak kita penuh. Perlu diketahui, kapasitas kemampuan otak kanan dalam menyimpan memori mencapai 10 pangkat 5 juta kilometer, yang kalau dihitung deretan angka nol di belakangnya adalah sebanding dengan jarak antara bumi dan bulan 14 kali pulang pergi.

Lalu apa pentingnya imajinasi? Lebih jauh, Arman memberi contoh, Albert Einstein menemukan teori relativitas karena kekuatan imajinasinya. Kemudian sewaktu duduk di bangku sekolah, gurunya mengajari Einstein tentang kekuatan daya imajinasi.

Ingat..salah satu rahasia kecerdasan orang Yahudi adalah kekuatan imajinasi, mereka menganggap imajinasi lebih kuat dari kenyataan.

Andrea Hirata, penulis buku Laskar Pelangi bisa sukses, bukan karena ilmu finance yang mereka pelajari di Sorbonne Prancis, akan tetapi karena kemampuan daya imajinasi seorang Andrea, kreatif meramu perjalanan hidupnya menjadi suatu cerita yang menarik, lalu ditulislah kedalam bentuk Novel Tetralogi Laskar Pelangi—sekarang menjadi novel berkelas dunia karena sudah dialihbahasakan ke dalam berbagai bahasa. Novelnya kemudian difilmkan dan sukses di pasaran.

Salah satu orang yang bisa membiayai untuk berwisata ke luar angkasa adalah pembuat game computer dari Amerika Serikat (AS), keahlian untuk merancang game komputer, tentunya membutuhkan kemampuan imajinasi yang tinggi.

Bahkan orang terkaya di dunia, Billy Gates, pemilik Microsoft adalah seorang yang drop out dari perguruan tinggi. Tapi jangan ditanya soal tekad dan daya imajinasi yang tinggi, sehingga mampu mendirikan perusahaan Microsoft yang dibangun dengan modal tekad yang kuat.

Bahkan, Matshushitya Konoshuke, pemilik perusahaan elektronik Jepang “Panasonic” adalah mantan penjaga toko sepeda. Termasuk motivator sekaligus penulis buku terkenal Andri Wongso adalah anak dari keluarga miskin di Malang yang tidak tamat sekolah dasar, tapi karena keberaniannya bermimpi (daya imajinasi) akhirnya menjadi bintang film di Hongkong serta membuat kata-kata mutiara yang ditulis di kertas pembatas buku bernama Harvest. Itu artinya, cerdas saja tidak cukup, tapi diperlukan kreativitas dengan selalu mengasah imajinasi, dalam hal ini merangsang otak kanannya.

God Spot
Peneliti “Neuorolog” Michael Persinger di awal tahun 1990-an dan VS. Ramachandran bersama timnya di Universitas California. Barat pernah meneliti, adanya titik Tuhan (God Spot) dalam otak manusia. Ternyata, pusat spiritual yang terpasang ini terletak di antara hubungan-hubungan syaraf dalam cuping-cuping temporal otak. Melalui pengamatan terhadap otak dengan topografi emisi, positron, dan area-area syaraf tersebut akan bersinar manakala subjek penelitian diarahkan untuk mendiskusikan topic spiritual atau agama.( Berguru Kepada Allah, Abu Sangkan,2009)

Menurut ahli syaraf, syaraf ini memiliki gejala yang unik, karena tidak teraliri oleh darah sepanjang hari, namun tidak mati. Syaraf ini butuh darah hanya 2-4 detik saja sebanyak 5 kali sehari. Syaraf ini diyakini sebagai chip atau modem yang ditanam oleh Allah ke dalam otak manusia agar mampu mendeteksi hal-hal yang berhubungan dengan spiritual dan ilmu yang datangnya langsung dari Sang Pencipta melalui ilham.

Sebaliknya, apabila syaraf ini tidak aktif, maka orang tersebut sulit untuk menerima hal-hal yang berbau moral/etika, apalagi spiritual. Mungkin pula syaraf ini yang tidak aktif pada anak kita, sehingga sulit untuk membentuk karakter anak yang pada akhirnya nyaris gagal membangun karakter bangsa ini.

Otak kanan memiliki kemampuan dalam hal rasa empati, kemampuan berkolaborasi dengan hati, dan kemampuan daya kreatif.

“Otak kanan memiliki kemampuan dalam hal rasa empati atau kepedulian yang tinggi. Otak kanan juga memiliki kemampuan berkolaborasi dengan hati, memiliki kemampuan daya kreatif dan seni yang tinggi. Keistimewaan otak kanan juga memiliki gelombang otak bernama gelombang alfa. Gelombang ini yang bisa merasakan keikhlasan, kebahagiaan, ketenangan, kekhusyukan, relaxi, hening, kepuasan, imajinatif dan seterusnya.

Praktisi pendidikan Djauharah Bawazir menambahkan, untuk memfungsikan otak kanan anak, perlu merubah metode dan paradigma guru dan pendidikan kearah pembelajaran yang lebih baik dan efesien. “Pendidik harus focus. Setelah merubah paradigma, lalu ditanamkan kesadaran, disiapkan mental berjuang dan pengorbanannya. Ingat, guru itu digugu dan ditiru,” kata Djauharah yang juga Dosen PGTK Bunyan.

Kata Djauharah, ketika paradigma diubah, maka seorang pendidik akan diikuti anak didiknya tanpa paksaan, disegani tapi dicintai, menjadi teladan, mengarahkan, membangun semangat, mengembangkan cita-cita, dan memotivasi. Ketika pola didik dilakukan secara maksimal, maka terbentuklah karakter manusia yang berilmu, bertakwa, ikhlas, santun, tanggungjawab dan sabar.

“Seorang pendidik ketika memberikan hukuman kepada anak didiknya, bukanlah pelampiasan kekesalan, tapi untuk kebaikan anak didiknya. Jangan buat anak susah, ketakutan, dan tertekan di kelas, sehingga menyebabkan anak tidak kreatif. Pendidik yang sukses adalah ketika anak didiknya selalu senang dan bersemangat pergi ke sekolah dan ingin sekali bertemu dengan gurunya,” tandas penulis buku Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) itu. [by. Desastian]

DOWNLOAD SERIAL OTAK KANAN 7 KEAJAIBAN REZEKI. KLIK DI SINI…

Terimalah Kebenaran Walau dari Orang Kafir dan Ahli Bid’ah

Tanya:
Apakah pendapat orang kafir—juga ahli bid`ah—harus ditolak secara mutlak? Bolehkah mengambil kebenaran dari mereka?

Jawab:
Allah Ta’ālā berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Māidah)

Termasuk keadilan yang sangat utama adalah mengatakan kebenaran sebagai kebenaran dan menerimanya. Dari manapun datangnya. Sekalipun dari musuh dan orang yang dibenci. Serta mengatakan kesalahan sebagai kesalahan dan menolaknya. Dari manapun datangnya. Sekalipun dari sahabat dan orang yang dicintai. Demikianlah manhaj dan sunnah Nabi ` beserta para Sahabat. Inilah keadilan yang mungkin sangat sulit direalisasikan pada zaman ini, dimana semangat fanatisme kelompok (hizbiyyah) tengah melanda banyak kaum muslimin.

Disebutkan bahwa Yahudi mendatangi Nabi ` dan berkata, “Kalian melakukan kesyirikan dan menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah!” Nabi ` bertanya, “Mengapa bisa demikian?” Yahudi menjawab, “Kalian berkata, ‘Demi Ka’bah!’ Dan kalian juga berkata, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak Fulan!’” Maka Nabi ` memerintahkan kepada para Sahabat apabila bersumpah agar mengucapkan: ‘Demi Rabb Ka’bah!’ Serta agar mereka mengatakan: ‘Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu.”” [Riwayat an-Nasā’i VII/6/3773 dan lain-lain. Dinyatakan valid oleh Syaikh al-Albāni]

Disebutkan pula bahwa seorang rahib Yahudi pernah mendatangi Nabi ` dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kami mendapati bahwa Allah menjadikan (dalam riwayat lain: menahan) seluruh langit atas satu jari, seluruh bumi atas satu jari, pepohonan atas satu jari, air dan tanah atas satu jari, dan seluruh makhluk atas satu jari, lalu Dia berkata, ‘Akulah Sang Raja!’” Maka tertawalah Nabi ` sampai tampak geraham beliau karena membenarkan ucapan rahib tadi. Kemudian beliau membaca firman Allah:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Dia lagi maha tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS.Az-Zumar: 67) [Riwayat al-Bukhāri IV/1812/4553, dari Ibn Mas’ūd]

Demikian pula terdapat kisah masyhur dari Abū Hurairah yang diajari oleh setan untuk membaca Ayat Kursi sebelum tidur agar mendapat penjagaan dari Allah sampai pagi hari. Ketika ia menyampaikan hal tersebut kepada Nabi `, beliau berkata, “Dia jujur mengabarkan kebenaran kepadamu, padahal ia (setan itu) adalah pendusta.” [Riwayat al-Bukhari secara mu’allaq II/812/2187, dan disambungkan oleh an-Nasā’i, al-Ismā’ili dan Abū Nu’aim, sebagaimana disebutkan oleh Ibn Hajar dalam Fathu’l Bārī. Lihat: Mafātīhu’l Fiqh fi’d Dīn hal. 99]

Diriwayatkan dari ‘Ali Ibn Abī Thālib, bahwa beliau berkata,

لاَ تَعْرِفِ الْحَقَّ بِالرِّجَالَ اعْرِف الْحَقّ تَعْرِفْ أَهْلَه

“Janganlah mengenal kebenaran itu berdasarkan individu-individu tertentu. Kenalilah kebenaran itu niscaya engkau akan mengenal pemiliknya.” [Ihyā’ ‘Ulūmi’d Dīn, vol. I, hal. 53]

Dari Ibn Mas’ūd, beliau berkata,

مَنْ جَاءَكَ بِالْحَقِّ فَاقْبَلْ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا بَغِيْضًا وَمَنْ جَاءَكَ بِالْبَاطِلِ فَارْدُدْ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ حَبِيْبًا قَرِيْبًا



“Barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebenaran maka terimalah kebenaran itu darinya, meskipun ia adalah orang yang jauh dan dibenci. Dan barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebatilan maka tolaklah, meskipun ia adalah orang yang dicintai dan dekat.” [Lihat: Shifah ash-Shafwah, vol. I, hal. 419; dan al-Fawā’id, hal. 148]

Beliau juga berkata,

الْحَقّ ثَقِيْلٌ مَرِيْءٌ وَالْبَاطِلُ خَفِيْفٌ وَبِيْءٌ

“Kebenaran itu berat namun berakibat baik, sedangkan kebatilan itu ringan namun berakibat buruk.” [Shifah ash-Shafwah, vol. I, hal. 419-420]

Imam asy-Syāfi`i berkata, “Tidaklah seseorang bersikeras menentangku dan menolak kebenaran melainkan ia jatuh dalam pandanganku, sedangkan tidaklah seseorang menerima kebenaran tersebut melainkan aku menghormatinya dan yakin untuk mencintainya.” [Siyar A’lām an-Nubalā’, vol. X, hal. 33]

Syaikh Ibn `Utsaimin berkata, “Apa yang dikatakan oleh Syaikhu’l Islām adalah benar, yakni bahwa kita (harus) menerima kebenaran dari kelompok manapun, baik dari Mutashawwifah (kaum Sufi), pelajar fiqh maupun ulama syariah. Adapun kita tidak menerima apapun dari mereka dan mengatakan bahwa segala sesuatu yang mereka lakukan adalah kesalahan, maka hal ini tidak benar. Dahulu, Imam Ahmad (terkadang) duduk kepada sebagian kaum Sufi untuk melembutkan hati beliau. Artinya, pada kaum Sufi terdapat hal-hal berupa pelembutan hati dan keberpalingan dari dunia yang tidak terdapat pada selain mereka…. Ambillah kebenaran dari insan manapun itu, baik dari kaum Sufi, pelajar fiqh atau selain mereka!

Kemiripan sebagian umat ini terhadap Yahudi dan Nasrani adalah, bahwa ulama syariah memandang kaum Sufi tidak ada apa-apanya, sementara kaum Sufi juga memandang bahwa ulama syariah tidak ada apa-apanya.

Mengenai perkara belajar dan berguru (ta`līm) kepada kaum Sufi, maka bisa jadi hal itu membuat mereka (semakin) terperosok dan menjadikan mereka terus bertahan di atas hal-hal (kesalahan) yang mereka lakukan, dan sekaligus juga dapat membuat orang lain terperdaya dan berkata, “Fulan (saja) belajar dan mengambil ilmu dari Sufi….”

Adapun menerima kebenaran, maka terimalah kebenaran dari insan manapun, bahkan dari Yahudi, Nasrani, setan atau orang-orang musyrik sekalipun.”

Sekian kutipan dari Syaikh. [Lihat Fathu’l Mu`īn fi’t Ta`līq `alā Iqtidhā’ish Shirāthi’l Mustaqīm, hal. 32.]

Menolak kebenaran termasuk kesombongan (kibr). Padahal, sekecil dzarrah dari kesombongan menyebabkan pelakunya tidak masuk surga. Nabi ` bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قالَ رَجلٌ: إنَّ الرّجلَ يُحبُّ أنْ يَكوْنَ ثوْبُه حسنًا ونَعْلَه حَسَنَةُ. قال: إنّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبّ الجَمالَ، الْكِبْر بَطَرُ الْحَقّ وَغَمْطُ النّاس

“Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya memiliki semisal dzarrah dari kesombongan.” Ada yang bertanya, “Sesungguhnya ada orang yang suka mengenakan baju dan pakaian yang bagus.” Nabi ` menjawab, “Sesungguhnya Allah itu maha indah dan menyukai keindahan. (Yang dimaksud dengan) kesombongan adalah menolak kebenaran dan melecehkan manusia.” [Riwayat Muslim I/93/91, Abū Dāwūd II/457/4092, dan lain-lain]

Kesombongan inilah yang menyebabkan Iblis dikeluarkan dari surga karena menolak perintah sujud kepada Adam. Iblis menolak kebenaran bahwa Adam diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan (QS. At-Tīn: 4) dan justru melecehkan Adam melalui ucapannya:

أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

“Aku lebih baik darinya; Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah!” (QS. Al-A’rāf: 12 dan Shād: 76)

Pada umumnya, tidaklah seseorang itu menolak kebenaran melainkan karena ia melecehkan atau berburuk sangka. Ia menganggap bahwa dirinya lebih dari orang lain, baik dari sisi kecerdasan, kedudukan, harta dan sebagainya, atau ia merasa bahwa orang lain hanyalah penebar kesesatan dan syubhat sementara dirinya lebih mendapat hidayah dalam perkara kebenaran yang ditolaknya. WaLlāhu’l musta’ān.

Dijawab oleh Ustadz Adni Kurniawan, Lc.
Artikel : Salafiyunpad.wordpress.com

Mengenal Meditasi Vipassana

Shiddarta Gautama Budha

Setiap orang mencari damai dan harmonis, karena inilah yang kurang dalam kehidupan kita. Dari saat ke saat kita mengalami kegelisahan, kejengkelan, ketidak harmonisan, penderitaan. Saat seorang gelisah, ia juga menyebarkan penderitaan tersebut kepada orang lain – kegelisahan merembes keluar dari orang yang menderita ke sekelilingnya. Sehingga setiap orang yang berhubungan dengannya ikut menjadi jengkel dan gelisah. Tentu ini bukan cara hidup yang baik.

Seorang harus hidup damai dgn dirinya sendiri dan juga dengan yang lain .Bagaimanapun manusia adalah makluk sosial, ia hrs hidup dan berhubungan dengan masyarakat. Bagaimana kita bisa hidup damai, bisa tetap harmonis dengan diri sendiri dan juga masyarakat sekitarnya, sehingga yang lain bisa hidup damai dan harmonis ?

Seseorang sedang gelisah. Untuk keluar dari kegelisahan, seorang harus mengetahui alasan dasarnya, sebab dari penderitaan. Bila ia menyelidiki masalah tersebut, akan jelas bahwa saat ia mulai membangkitkan kekotoran dalam batin, ia pasti menjadi gelisah. Suatu negatifitas dalam batin dan batin yang tidak murni, tidak bisa hadir bersamaan dengan kedamaian dan keharmonisan.

Bagaimana seorang membangkitkan kekotoran batin? Sekali lagi dengan menyelidiki. Menjadi jelas, saya menjadi tidak senang saat melihat seorang berkelakuan dengan cara yang tidak saya sukai, atau sesuatu terjadi tidak seperti apa yang saya inginkan, atau sesuatu yang saya harapkan tidak terjadi. Dan saya membuat ketegangan dalam diri saya. Sepanjang hidup, hal yang tidak diharapkan selalu terjadi, hal yang diharapkan bisa terjadi bisa tidak. Setiap reaksi yang dibangkitkan terhadap kejadian-kejadian tersebut membuat simpul-simpul baru – simpul-simpul Gordian – dalam batin yang membuat seluruh struktur mental dan jasmani menjadi tegang, penuh negatifitas, yang membuat hidup menderita.

Satu cara untuk menyelesaikan masalah adalah mengatur agar hal yang tidak diharapkan tidak terjadi dan semuanya terjadi seperti apa yang saya inginkan. Maka saya harus mengembangkan kesaktian atau orang lain yang mempunyai kesaktian atas permintaan bisa datang membantu saya agar sesuatu yang tak kuingini tidak terjadi, dan agar semua yang kuingini dapat terjadi. Tapi ini tidak mungkin. Tidak ada seorang -pun di dunia ini yang keinginannya bisa selalu terpenuhi, bahwa sepanjang hidup orang itu, semuanya terjadi sesuai dengan keinginannya, tanpa ada suatupun yang tak diingini terjadi padanya. Terus menerus saja terjadi hal-hal yang berlawanan dengan harapan dan keinginan kita. Jadi timbul pertanyaan bagaimana agar saya tidak bereaksi buta terhadap hal-2 yang tidak saya sukai ? Bagaimana agar saya tidak membuat ketegangan ? Bagaimana menjaga tetap damai dan harmoni ?

Di India, juga negara lain, para bijaksana telah mempelajari masalah ini – masalah penderitaan manusia – dan menemukan solusinya: Bila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dan seorang mulai bereaksi dengan membangkitkan kemarahan, ketakutan atau negatifitas apa saja, secepatnya ia harus mengalihkan perhatiannya ke hal-hal lain. Misalnya, berdiri, mengambil segelas air, mulai minum. Kemarahannya tidak akan berlipatganda dan ia akan keluar dari kemarahan. Atau Ia boleh mulai menghitung: satu, dua, tiga, empat. Atau mengulang-ulang sebuah kata, kalimat atau mantra, mungkin mengulang nama-nama dewa dewi yang dipujanya maka pikiran akan dapat dialihkan dan dalam batas tertentu anda akan dapat keluar dari negatifitas, keluar dari kemarahan.

Solusi ini dapat membantu. Ia berjalan dan akan tetap berjalan. Dengan mempraktekkan ini, batin merasa bebas dari kegelisahan. Tapi sebenarnya solusi ini hanya bekerja pada lapisan sadar. Sesungguhnya dengan mengalihkan perhatian seseorang menekan negatifitas jauh ke dalam alam bawah-sadar dan pada lapisan ini ia terus membangkitkan dan menggandakan kekotoran yang sama. Pada permukaan terdapat lapisan ketenangan dan harmonis, tapi pada kedalaman batin terdapat gunung berapi yang tertidur berisi negatifitas-negatifitas yang tertekan itu yang cepat atau lambat akan meletus dengan hebat.

Sebagian penjelajahi kebenaran batin yang lain melanjutkan pencariannya : Dengan mengalami realita dari batin-materi dalam diri mereka. Mereka mendapatkan bahwa mengalihkan perhatian hanyalah menghindari diri dari masalah. Menghindar bukanlah solusi: orang harus menghadapinya. Saat negatifitas timbul dalam batin, amati saja, hadapi saja. Segera setelah seseorang mulai mengamati kekotoran mentalnya, kekotoran mentalnya mulai kehilangan kekuatannya. Dengan perlahan kekotoran batin akan layu dan tercabut.

Ini solusi yang baik : Ia menghindari baik kebebasan bereaksi atau penekanan yang ekstrim. Menyimpan kekotoran di dalam alam bawah-sadar tidak akan mengikisnya dan membiarkannya menjelma dalam bentuk tindakan fisik atau vokal hanya akan menimbulkan masalah lebih banyak. Tapi bila seorang hanya mengamati, maka kekotoran akan berlalu dan negatifitas tercabut. Ia terbebas dari kekotoran batin.

Ini kedengarannya bagus, tapi apakah ini benar-benar praktis ? Untuk rata-rata manusia biasa, apakah mudah menghadapi kekotoran batin? Saat kemarahan timbul, begitu cepat ia menguasai kita sehingga tidak sempat memperhatikannya. Dikuasai oleh kemarahan, kita akan melakukan tindakan-tindakan tertentu, baik fisik maupun vocal yang merugikan kita dan orang lain. Kemudian saat amarah telah berlalu, kita mulai menyesal, meminta ampun dari orang ini dan itu atau dari Tuhan: “Oh, saya telah membuat kesalahan, mohon ampuni saya !” Tapi saat berikutnya, kita berada dalam situasi yang sama, sekali lagi kita bereaksi dengan cara yang sama. Semua penyesalan-penyesalan itu sama sekali tidak menolong.

Kesulitannya adalah saya tidak menyadari saat kekotoran timbul. Itu dimulai dari jauh di dalam tingkat bawah-sadar pikiran dan saat ia mencapai tingkat pikiran sadar, ia telah mendapatkan kekuatan yang begitu besar yang bisa menguasai saya dan saya tidak dapat mengamatinya.

Jadi saya harus mempunyai seorang sekretaris pribadi sehingga saat kemarahan timbul, dia akan berkata ‘Lihat Tuan, kemarahan timbul !’.Karena saya tidak tahu kapan amarah timbul,saya harus punya tiga sekretaris pribadi untuk berjaga bergantian selama 24-jam !. Umpama saya mampu melakukannya, saat amarah timbul dan segera sekretarisku mengatakan: ‘Tuan lihat, kemarahan timbul ‘, hal pertama yang akan saya lakukan adalah menamparnya dan memakinya: ‘Bodoh kamu ! Apakah kamu dibayar untuk mengajari aku ‘? “Saya sudah dikuasai oleh kemarahan, tidak ada nasihat yang baik yang bisa membantu.

Bahkan umpama kebijaksanaan menang dan saya tidak menamparnya, sebaliknya saya berkata :’Terima kasih banyak’. Sekarang saya harus duduk dan mengamati kemarahanku.” Namun apakah itu mungkin ? Segera setelah saya pejamkan mata saya dan mencoba mengamati kemarahan, segera objek kemarahan masuk ke pikiran saya – orang atau kejadian yang membuatku marah-. Jadi saya tidak mengamati kemarahan itu sendiri, saya hanya mengamati rangsangan luar dari emosi. Ini hanya akan menggandakan kemarahan. Ini bukan solusi. Adalah sangat sulit untuk mengamati negatifitas serta emosi yang abstrak, terpisah dari objek luar yang menyebabkannya .

Bagaimanapun jua seseorang yang telah mencapai kebenaran ultima telah menemukan solusi yang nyata. Beliau mendapatkan bahwa pada saat suatu kotoran timbul di dalam batin, secara bersamaan dua hal terjadi pada tingkat fisik. Yang pertama adalah nafas kehilangan iramanya yang normal. Kita mulai bernafas cepat saat negatifitas masuk dalam batin. Ini mudah diamati. Pada tingkat yang lebih halus, semacam reaksi biokimia terjadi didalam tubuh – semacam sensasi. Setiap kekotoran akan membangkitkan satu dan lain sensasi pada satu bagian tubuh atau lainnya.

Ini adalah solusi yang praktis. Orang awam tidak bisa mengamati kekotoran batin yang abstrak- katakutan, kemarahan atau emosi yang abstrak. Tapi dengan latihan dan praktek yang tepat, adalah mudah untuk mengamati pernafasan dan sensasi tubuh – keduanya langsung berhubungan dengan kekotoran batin.

Pernafasan dan sensasi tubuh akan membantu saya dalam dua hal. Pertama sebagaimana layaknya sekretaris pribadi. Segera setelah kekotoran timbul dalam batin saya, nafas saya akan berubah tidak normal. Ia akan mulai berteriak ‘Lihat ada sesuatu yang salah ‘. Saya tidak bisa menampar nafasku ; saya harus menerima “peringatan” tersebut. Demikian pula, sensasi-sensasi tubuh memberitahu saya bahwa sesuatu ada yang salah. Kemudian setelah menerima peringatan-peringatan tersebut, saya mulai mengamati nafas saya dan sensasi tubuh saya dan saya segera mendapatkan kekotoran berlalu.

Fenomena materi-batin ini seperti dua sisi dari sebuah mata uang logam. Pada satu sisi adalah apapun pikiran atau emosi yang timbul didalam batin. Sisi lainnya adalah nafas dan sensasi-sensasi dalam tubuh. Setiap pikiran atau emosi, setiap kekotoran mental mewujudkan diri dalam nafas dan sensasi tubuh pada saat itu. Jadi dengan mengamati nafas atau sensasi tubuh, saya sebetulnya sedang mengamati kekotoran batin. Sebaliknya daripada menghindari diri dari masalah, saya menghadapi kenyataan sebagaimana adanya. Kemudian saya mendapatkan bahwa kekotoran kehilangan kekuatannya. Saya tidak lagi bisa dikuasai seperti dulu. Bila saya bertahan, kekotoran akhirnya lenyap seluruhnya dan saya tetap damai dan bahagia.

Dengan cara ini, teknik pengamatan diri memperlihatkan kepada kita kenyataan dalam dua aspek : yaitu di dalam dan di luar. Sebelumnya, orang selalu melihat dengan mata terbuka lebar, melewatkan kebenaran di dalam. Saya selalu melihat keluar untuk mencari sebab dari ketidakbahagiaanku, saya selalu menyalahkan dan mencoba merubah realitas di luar. Karena ketidaktahuan saya akan realita di dalam, saya tidak pernah mengerti bahwa penyebab dari penderitaan berada di dalam, di dalam reaksi buta saya terhadap sensasi-sensasi tubuh yang menyenangkan dan tidak menyenangkan.

Sekarang dengan berlatih, saya bisa melihat sisi lain dari mata uang. Saya bisa sadar akan nafas saya dan juga apa yang terjadi di dalam diri saya. Apakah itu nafas atau sensasi tubuh, saya belajar hanya mengamatinya tanpa kehilangan keseimbangan batin. Saya berhenti bereaksi, berhenti memperbanyak penderitaan., sebaliknya saya biarkan kekotoran mewujudkan diri dan berlalu.

Semakin sering seseorang berlatih teknik ini, semakin cepat ia keluar dari negatifitas. Secara berangsur batin akan bersih dari kekotoran dan menjadi murni. Batin yang murni selalu penuh dengan cinta – kasih yang tanpa pamrih- untuk semuanya ; penuh kasih sayang kepada penderitaan orang lain ; penuh kegembiraan atas sukses dan kebahagiaan orang lain ; penuh keseimbangan dalam menghadapi segala situasi.

Saat seseorang mencapai tahap ini, seluruh pola kehidupannya mulai berubah. Tak mungkin lagi ia melakukan tindakan fisik atau vokal yang akan mengganggu kedamaian serta kebahagiaan orang lain. Sebaliknya batin yang seimbang tidak saja membuatnya damai dalam dirinya, tapi juga membantu orang lain menjadi damai. Atmosfir sekeliling orang itu akan terisi dengan Damai dan harmoni, dan ini akan mulai mempengaruhi orang-orang lain di sekelilingnya.

Dengan belajar tetap seimbang dalam menghadapi semua yang dialami dalam tubuhnya, orang akan juga mampu mengembangkan ketidakmelekatan terhadap semua situasi eksternal yang ia jumpai. Bagaimanapun, ketidakmelekatan ini bukanlah malarikan diri atau sikap tak peduli terhadap masalah duniawi. Seorang meditator Vipassana menjadi lebih sentitif terhadap penderitaan orang lain, dan berusaha sebisanya untuk meringankan penderitaan mereka – tidak dengan kegelisahan tapi dengan batin yang penuh cinta kasih, kasih sayang dan keseimbangan. Ia belajar ketidakmelekatan suci yakni bagaimana dapat terlibat penuh dalam membantu orang lain, sambil pada saat bersamaan menjaga keseimbangan batinnya. Dengan cara ini ia tetap damai dan bahagia, sewaktu bekerja untuk kedamaian dan kebahagiaan orang lain.

Inilah yang diajarkan oleh Sang Buddha : suatu Seni Hidup. Beliau tidak pernah membentuk atau mengajarkan suatu agama atau aliran. Beliau tidak pernah memerintahkan pengikutnya melakukan ritus atau ritual suatu formalitas kosong atau buta. Sebaliknya beliau hanya mengajarkan untuk mengamati alam sebagaimana adanya dengan mengamati realita di dalam tubuh. Karena ketidaktahuan, orang selalu bereaksi dengan cara-cara yang membahayakan dirinya dan juga orang lain. Tapi saat kebijaksanaan timbul – kebijaksanaan mengamati realita sebagai mana adanya – ia keluar dari kebiasaan bereaksi ini. Saat seorang berhenti bereaksi secara buta, ia mampu bertindak benar – tindakan yang keluar dari batin yang seimbang, batin yang melihat dan mengerti kebenaran. Tindakan demikian hanya bisa positif, kreatif, membantu dirinya dan juga orang lain.

Apa yang diperlukan sekarang adalah mengenal diri Anda sendiri – demikian nasihat para bijaksana. Seorang harus mengenal diri sendiri tidak hanya pada tingkat intelek, tingkat wacana dan teori, bukan juga pada tingkat emosi ataupun kebaktian yang hanya menerima secara buta apa yang didengar atau dibaca. Pengetahuan yang demikian tidak cukup. Seorang harus mengenal realita pada tingkat nyata. Orang harus mengalami langsung realita dari fenomena materi-batin ini. Hanya ini yang akan membantu kita keluar dari kekotoran, keluar dari penderitaan.

Pengalaman langsung atas realita dalam diri seseorang, teknik mengamati diri sendiri inilah yang disebut ‘Meditasi Vipassana’.Dalam bahasa India pada masa Sang Buddha , passana berarti melihat dengan mata terbuka seperti biasa, vipassana adalah mengamati sesuatu sebagai mana adanya, tidak sebagai apa yang terlihat. Kebenaran yang terlihat harus ditembus sampai seorang mencapai kebenaran akhir dari seluruh struktur materi-batin. Saat seorang mengalami kebenaran ini, ia akan berhenti bereaksi secara buta, berhenti menimbulkan kekotoran-kekotoran – dan secara alami, kekotoran lama akan berangsur tercabut. Orang itu akan keluar dari semua penderitaan dan merasakan kebahagiaan.

Terdapat tiga langkah dalam Kursus Meditasi Vipassana. 
Pertama tidak melakukan tindakan fisik atau ucapan yang mengganggu kedamaian serta keharmonisan orang lain. Seseorang tidak bisa membebaskan diri dari kekotoran batinnya bila ia terus melakukan perbuatan-perbuatan yang hanya memperbanyak kekotoran. Jadi aturan moral ini adalah penting sebagai langkah awal dari latihan. Kemudian orang berjanji tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berhubungan sex, tidak berbohong dan tidak mabuk. Dengan mematuhi aturan-aturan tersebut di atas dan menghindari diri dari perbuatan-perbuatan tersebut di atas, seseorang bisa menenangkan batinnya untuk melakukan tugas-tugas selanjutnya.

Langkah berikutnya adalah mengembangkan penguasaan atas pikiran yang liar dengan melatih untuk fokus tetap pada satu objek : Pernafasan. Seseorang mencoba memusatkan perhatian pada pernafasan selama mungkin. Ini bukanlah latihan pernafasan nafas : orang tidak mengatur pernafasan, sebaliknya nafas yang alami diamati sebagaimana adanya sewaktu nafas masuk dan keluar. Dengan cara ini pikiran/batin ditenangkan sehingga tidak lagi dapat dikuasai oleh negatifitas yang ganas. Pada waktu yang sama, pikiran dipusatkan, membuatnya menjadi tajam dan menembus, mampu untuk melakukan tugas-tugas pencerahan ke dalam diri.

Dua langkah pertama, yakni kehidupan yang bermoral dan penguasaan pikiran, adalah sangat penting dan bermanfaat. Tapi keduanya hanya akan membawa pada penekanan diri, kecuali jika seseorang mengambil langkah ketigamemurnikan pikiran dari kotoran dengan mengembangkan pencerahan ke dalam diri seseorang. Ini adalah Vipassana : mengalami realita diri sendiri melalui pengamatan yang tenang dan sistimatis dari fenomena materi-batin yang selalu berubah yang terwujud sebagai sensasi-sensasi yang timbul dalam tubuh. Ini adalah puncak dari ajaran Sang Buddha: pemurnian diri melalui pengamatan diri.

Ini bisa dilakukan oleh semua orang. Setiap orang mengalami penderitaan, itu adalah penyakit universal yang memerlukan pengobatan universal. Bukan pengobatan sektarian. Bila seseorang menderita karena kemarahan, ini bukan kemarahan milik Buddhis, Hindu atau Kristen. Kemarahan adalah kemarahan ketika seseorang teragitasi sebagai akibat dari kemarahannya, maka agitasi tidaklah memandang apakah ia Kristen, Hindu atau Buddhist. Penyakit ini adalah universal. Obatnyapun harus universal.

Vipassana adalah obat yang dimaksud. Tak akan ada orang yang berkeberatan dengan Tata Tertib menjalani Hidup yang menghormati kedamaian dan keharmonisan orang lain. Tak kan ada yang berkeberatan dengan pengembangan penguasaan terhadap pikiran, tak kan ada pula yang berkeberatan terhadap pengembangan pencerahan ke dalam diri sendiri, yang memungkinkan seseorang untuk membebaskan pikiran dari negatifitas-negatifitas.

Vipassana adalah jalan universal.
Mengamati realita sebagai mana adanya melalui pengamatan kebenaran dalam tubuh – ini adalah mengenal diri sendiri pada tingkat kenyataan dan tingkat pengalaman. Dengan berlatih seseorang dapat keluar dari penderitaan yang diakibatkan oleh kekotoran batin. Dimulai dari kebenaran yang kasar, eksternal dan kasat mata, orang mulai menembus kepada kebenaran akhir dari materi-batin, kemudian orang akan dapat meningkatkan diri sedemikian rupa sehingga ia akan mengalami suatu kebenaran yang melampaui materi-batin, melampaui ruang dan waktu ; melampaui bidang kenisbian yang terkondisi : Suatu kebenaran dari pembebasan total atas semua kekotoran, semua ketidakmurnian dan semua penderitaan. Nama apapun yang diberikan pada kebenaran ultima ini tidaklah relevan ; ini adalah tujuan akhir dari semua orang.

Semoga semua mengalami kebenaran akhir ini.Semoga semua orang keluar dari kekotorannya, penderitaannya. Semoga mereka menikmati kebahagian sejati, kedamaian sejati, keharmonisan sejati.

SEMOGA SEMUA MAHLUK BERBAHAGIA

Text diatas adalah berdasarkan ceramah yang diberikan oleh Mr. S.N. Goenka di Berne, Switzerland.
Source : http://www.indonesian.dhamma.org/art.htm

Haqqul Yakin Sukses

BELIEF
Pepatah lama menyatakan : dengan seni hidup menjadi indah, dengan Ilmu hidup menjadi mudah, melalui agama hidup menjadi terarah, sedangkan melalui olah raga akan membuat hidup menjadi bergairah (EY, Dir EWS Telkom). Agar hidup bergairah kita harus punya Belief.

Belief adalah penerimaan akan kebenaran sesuatu ; penerimaan oleh pikiran bahwa sesuatu adalah benar atau nyata, sering kali didasari perasaan pasti yang bersifat emosional atau spiritual. Keyakinan bahwa seseorang atau sesuatu bersifat baik atau akan efektif (Ensiklopedia Encarta, belief Memberikan makna dari sesuatu (kejadian atau event)‏ Bagaimana kita melihat, mengalami, mempersepsi dan meyakini apa penyebab dari sesuatu tersebut

  • Your beliefs become your thoughts (Belief anda menjadi pikiran anda)‏
  • Your thoughts become your words (Pikiran anda menjadi kata kata anda)‏
  • Your words become your actions (Kata kata anda menjadi tindakan anda)‏
  • Your actions become your habits (Tindakan menjadi kebiasaan)‏
  • Your habits become your values (Kebiasaan menjadi nilai)‏
  • Your values become your destiny (Nilai menjadi nasib)‏

BELIEF ADALAH POTENSI DIRI.
Belief system memainkan peran sama penting bahkan lebih penting dari pada kemampuan berpikir logis dalam membentuk pola pikir seseorang , mengenali, mengembangkan dan memanfaatkannya, kita akan mengalami transformasi dan revolusi di segala aspek kehidupan kita. Membuka potensi adalah merubah belief negatif kita menjadi positif belief.

Setiap orang pasti ingin Sukses !!!!
Namun banyak orang merasakan hidupnya seperti berputar dalam lingkaran atau berjalan ditempat tak tentu arah ? Seolah betapapun kerasnya usaha yang kita keluarkan & betapapun positifnya kita berpikir, banyak target yg tidak tercapai termasuk di tempat kerja, hidup yang lebih baik tetap jauh dari kenyataan. Hidup menjadi sebuah peruntungan yang sulit ditebak & jauh dari sukses …

“Apa yang kita lihat dan dengar adalah apa yang kita pikirkan. Apa yang kita pikirkan adalah apa yang kita rasakan. Apa yang kita rasakan mempengaruhi reaksi kita. Reaksi menjadi kebiasaan dan kebiasaan menentukan nasib kita (Bob Gass)

Quatum manusia di pengaruhui oleh 6 faktor yaitu Perasaan yang mempengarui pikiran, pikiran akan merancang tindakan yang akan menimbulkan kebiasaan dan karakter kita yang akan menentukan menentukan hasil yang diperoleh. Manusia mempunyai kemampuan yang luar biasa, manusia punya 100 milyar sel otak ditambah dengan 900 milyar sel pemberi makan. Sejak lahir dan berkembang melalui proses belajar secara alami dengan kecepatan 3 milyard sambungan perdetik. Persoalannya: Bagaimana kita memanfaatkan kemampuan itu secara secara optimal ?

Potensi otak manusia dapat mengeluarkan 4 gelombang yaitu Beta (13 – 28 cps), Alpa (7 – 13 cps),gamma (3.5 – 7 cps) dan tetta (0.5 – 3.5 cps) gelombang otak yang terakhir inilah yang bila dioptimalkan akan menyebabkan badan Istirahat total, Pertumbuhan sel-sel baru dan penyembuhan alamiah.

Ternyata Kekuatan pikiran bawah sadar manusia itu adalh 88%, ini adalah kekuatan yang sangat dasyat, sisanya 12 % adalah pikiran sadar kita, makanya kadang kita dapat mengingat dam membayang kembali bagai mana bentuk wajah pacar kita, bagaimana bentuk batang rambutan halaman rumah anda ? memori itu ternyata tersimpaan dalam pikiran bawah sadar dan kita dapat mengambilnya kembali dengan mengingat yang berarti membangkitkan kembali pikiran bawah sadar kita..

Bahasa Pikiran Bawah Sadar terdiri dari 5 P yaitu :

  1. Privacy : Menganggap segala sesuatu secara personal
  2. Persistence : Memerlukan pengulangan sampai habits terbentuk
  3. Positives : Tidak memproses negatives
  4. Present : Menyimpan & mengorganisir memori dan tidak mengenal waktu (kemarin atau besok)‏
  5. Passion : Menyimpan memori dengan mudah pada puncak emosi

Referensi : SWITCHING TECHNICAL SUPPORT ZONE

Lingkaran Sukses 7 Keajaiban Rezeki

Ippho Santosa adalah pelopor otak kanan, penulis mega bestseller dan sudah mendapat penghargaan MURI Award. Dalam buku ini, beliau berbagi pengalaman tentang bagaimana ia dapat meraih predikat tersebut. Semua yang ditulis sudah pernah ia buktikan sendiri dan hasilnya menakjubkan.Sudah tentu ini semua tidak lepas dari lingkungan sekitar. Beliau menyebutnya lingkar pengaruh , yaitu :

  1. Lingkar diri
  2. Lingkar keluarga
  3. Lingkar sesama 
  4. Lingkar Semesta
  5. Lingkar pencipta

Beliau menggolongkan lingkar pengaruh ini kedalam 7 keajaiban rezeki yang dipaparkan secara sistematis, humoris, sehingga si pembaca akan menggangguk angguk membacanya, pertanda setuju dengan tulisan beliau. Inilah tujuh keajaiban rezeki yang beliau paparkan. Silahkan Anda simak .

  1. Sidik Jari Kemenangan (Lingkar Diri)
    Setiap manusia yang terlahir memiliki keunikan tersendiri seperti halnya sidik jari seseorang akan berbeda dengan sidik jari orang lain. Begitu pula dengan kesuksesan, setiap orang memiliki kantong kesuksesan yang berbeda, dan dicapai dengan cara yang berbeda pula. Seseorang yang dapat meraih kesuksesan dengan caranya sendiri itulah yang dinamakan pemenang. Maka beliau menyebut sidik jari ini, sebagai sidik jari kemenangan.
  2. Sepasang Bidadari (Lingkar Keluarga)
    Jika impian Anda tidak selaras dengan orang sekitar maka impian Anda tidak cepat terwujud. Buku ini akan memperkenalkan Anda kepada sepasang bidadari yang sangat besar pengaruhnya , yang dapat membuat impian Anda menjadi bersayap dan cepat terwujud.
  3. Golongan Kanan ( Lingkar Diri)
    Dengan otak kanan Anda akan berpikir lebih jauh , mencari makna yang tersirat dari setiap kejadian yang dialami. Sehingga, Anda bisa memperbaiki diri Anda menjadi lebih baik . Tentu hal ini tidak lepas dari pengaruh sepasang bidadari sehingga Anda dapat mencapai kesuksesan. Orang yang kuat otak kanannya inilah yang disebut dengan golongan kanan.
  4. Simpul Perdagangan ( Lingkar Sesama)
    “Berdaganglah engkau karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki berada diperdagangan.” Inilah yang dinamakan Pareto Rezeki. Anda dapat sukses dalam perdagangan jika menggunakan otak kanan. Karena Anda dapat mencari peluang , sehingga menjadikan Anda pedagang yang besar.
  5. Perisai Langit ( Lingkar Diri )
    Perisai langit disebut juga dengan amal-amal yang melipatgandakan rezeki. Ada lima ruas perisai langit yang dapat mempercepat rezeki kita, diantaranya Sholat, perbuatan, pemberian, perkataan, dan sikap.
  6. Pembeda Abadi (Lingkar Diri)
    Jika Anda sudah memahami 5 poin yang telah dibahas. Lalu, tingkatkan kekuatan yang Anda miliki. Sehingga Anda akan terlihat beda dari yang lain, Perbaiki kekuatan yang ada . Dengan memperbaiki kekuatan yang dimiliki, maka Anda akan merasakan semacam panggilan jiwa sehingga Anda dapat dengan senang hati melakukannya. Jadilah Anda beda dari yang kebanyakan. Perbedaan itu adalah rahmat dari Tuhan, agar orang dapat mengenali diri Anda.
  7. Pelangi Ikhtiar ( Lingkar Diri )
    Pelangi ikhtiar dihiasi oleh tujuh bias yaitu impian, tindakan, kecepatan keyakinan, pembelajaran, kepercayaan, dan keikhlasan. Dengan menyelaraskan ketujuh bias tersebut maka Anda akan menjadi pemenang.

Sebaik baiknya ilmu adalah ilmu yang diamalkan. Menurut Pak Ippho jika Anda memahami dan mengamalkan apa yang telah dipaparkan dalam bukunya, maka hanya dalam waktu 99 hari rezeki Anda bertambah, nasib berubah. Beliau telah membuktikannya sendiri.

MEMPERBESAR LINGKAR PENGARUH
Jika Anda ingin menjadi orang besar, maka berbuatlah sesuatu yang dapat membuat Anda besar. Jangan selalu melakukan yang biasa-biasa saja, atau bahkan yang itu-itu saja, karena jika Anda menanam pohon ceremai, maka yang akan Anda panen buah ceremai. Tapi jika Anda menanam pohon durian, maka Anda akan memanen buah yang ukurannya puluhan kali lipat lebih besar dari buah ceremai itu.

Perbesar lingkar pengaruh Anda dengan cara memberikan kontribusi yang lebih banyak dari yang selama ini Anda berikan, dan mengambil tanggung jawab yang lebih besar dari tanggung jawab Anda sekarang. Untuk ini, Anda tak perlu merebut pekerjaan orang, tapi tingkatkan kinerja Anda, dan capai hasil yang lebih baik, sehingga dengan demikian semua orang, termasuk pimpinan Anda, akan memperhatikan Anda. Jika setiap bulan hasil kerja Anda terus meningkat, perusahaan pasti akan memperhitungkannya, dan bukan mustahil promosi jabatan telah menanti di depan mata.

Memperbesar lingkar pengaruh juga dapat dilakukan dengan melakukan sesuatu bagi orang lain. Dengan mudah kita dapat berpaling dari setiap masalah dengan mengatakan itu bukan urusan saya, ini bukan tanggung jawab saya dan lain sebagainya. Jika kita sering menghindar dari masalah-masalah disekitar kita, justru hal ini akan mengkerdilkan diri dan peran kita di lingkungan tersebut. Dengan mudahnya orang dapat menghujat dan mencela lingkaran di luar dirinya, mencela orang lain, orang tua, saudara, pemerintah, dunia, dll. Tetapi orang besar justru akan memilih untuk bertindak atas masalah yang sebenarnya diluar tanggung jawab pribadinya. Justru hal inilah yang meningkatkan lingkar pengaruhnya sehingga meluas dan mendunia. Begitu pula dengan Anda yang selalu punya pilihan untuk bertindak atau hanya sekedar menghujat atas semua ketidakberesan yang terjadi di sekitar kita. Pilihan di tangan Anda.

Orang menjadi besar karena melakukan hal yang besar. Karenanya, tinggalkan kebiasaan melakukan sesuatu yang sepele, tidak penting, & tidak bermanfaat agar Anda tidak termasuk dalam jajaran orang yang biasa-biasa saja, tidak penting, & tidak bermanfaat. Karena, hasil akhir yang berkualitas dimulai dari implementasi yang berkualitas.


Salam NAQS.