Evolusi Spiritual eps : INSAN KAMIL 2

Setiap agama mewajibkan umatnya untuk selalu menjalankan semua aturan main yang jelas, baku , dan bahkan cukup kaku yang tersusun pasti dalam apa yang disebut dengan “Kitab Suci” atau ayat-ayat qauliyah dari Tuhan. Pengakuan keimanan terhadap suatu agama menuntut sang pemilik iman untuk selalu menjadikan aturan main itu sebagai praktik hidupnya menuju Kehadirat-Nya.

Namun agama juga memberikan ruang yang lebih longgar ketika ia mengharap dari setiap umatnya untuk terus menggali dan mengeksplorasi alam semesta (makrokosmos) dan diri (mikrokosmos) yang merupakan ayat-ayat kauniyah dari Tuhan. Yang kedua ini tentunya bersifat lebih universal, karena semesta ini bukanlah monopoli satu keyakinan agama.

Para ilmuwan, terutama para fisikawan, percaya bahwa alam memiliki satuan fundamentalnya sebagai building block bagi struktur keseluruhan alam semesta. Mereka selalu menyebut satuan fundamental alam ini sebagai atom yang diyakini sebagai satuan terkecil yang tak dapat dibagi-bagi lagi. Dengan demikian, mereka menyakini bahwa komponen dunia paling dasar bersifat materi (fisik), berupa atom. Mereka sama sekali tak memberikan ruang bagi realitas-realitas spiritual (metafisik) untuk dipercaya keberadaanya, karena tidak dapat diobservasi secara indrawi.

Namun penelitian-penelitian di bidang fisika quantum telah menggugat pandangan materialistik tersebut. Dikatakan bahwa dalam setiap atom memiliki ruang yang luas dan kosong nonmateri yang terbentang antara inti atom dan orbitnya.

Jadi, ketika kita berbicara tentang keilmiahan metode N-AQS, maka itu berarti kita sedang berbicara dengan sudut pandang yang menyatakan bahwa ternyata semesta tidak hanya berdimensi tunggal, namun di balik dunia materi ini terbentang dunia nonmateri yang lebih luas. Dan, N-AQS akan lebih banyak bermain di ranah tersebut.

Kembali kepada pembahasan ayat-ayat Tuhan yang qauliyah dan yang kauniyah. Dengan pemetaan yang jelas terhadap kapling keduanya, maka dapat saya katakan bahwa secara subtansi (begitu pun dengan detail praktiknya) metode N-AQS tidak dapat dan memang tidak perlu dipertentangkan dengan agama. Sebagai metode pengembangan diri berbasis semesta, N-AQS tidak menyalahi aturan main agama mana pun. N-AQS juga bukan agama dan tidak terkait secara eksklusif dengan agama tertentu. Meskipun jika kita mau mencari basis teologisnya, maka kita dapat menemukan akarnya pada setiap agama, yang mana telah memberikan kita kesempatan untuk terus menggali dan mengungkap lebih jauh rahasia semesta dan diri kita sendiri dan mengembangkannya ke arah yang lebih positif agar kita dapat mengenal (makrifat) Tuhan dengan lebih baik. Siapa yang mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhanya.

Jelas sekali bahwa pengenalan diri secara sempurna dapat menjadi sarana untuk mengenal-Nya. Ini tentu terkait dengan hakikat manusia sempurna yang akan saya coba paparkan secara detail dari sudut pandang teologis mulai dari pembahasan struktur manusia, Insan Ilahi, dan Iblis sebagai musuh nyata. Selanjutnya, konsep-konsep yang saya sebut teologis tersebut akan saya bandingkan dengan konsep N-AQS sebagai wujud dari penggalian dan pengembangan diri dan ayat semesta.

Komposisi dan Struktur Manusia

“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menurut citra-Nya” (H.R. Bukhari dan Ahmad)

Struktur manusia adalah struktur berbagai alam dan bagian-bagiannya. Tentu saja hal ini tidak dalam bentuk penampakannya, tapi lebih pada unsur-unsur penyusunnya, interrelasinya, dan mekanisme hukum yang berlaku di dalamnya di mana alam yang dimaksud tidak hanya meliputi alam fisik indrawi tapi juga alam-alam atas (dimensi halus).

Dalam garis besarnya, struktur manusia terdiri dari tiga aspek: Ruh, Jiwa/Nafsu, dan Jasmani.

Jasmani manusia terbentuk dari berbagai komponen dan unsur yang sanggup ‘membawa’ dan mempertahankan ruh dan jiwanya, yang kemudian menjadi suatu tubuh berpostur yang memiliki wajah, dua tangan dan kaki, serta bisa beraktivitas. Unsur-unsur jasmani tersebut adalah unsur yang sama dengan unsur makrokosmos yaitu air, udara, api dan tanah. Hal ini terlihat dari proses penciptaan jasmani Nabi Adam as yang dilukiskan melalui tahapan ath-thiin (tanah liat kering) dan shalshal (lumpur hitam) di mana kedua jenis tanah liat tersebut merupakan hasil dari perubahan empat unsur tanah, air, udara dan api. (Q.S. Al-Hijr [15]: 28) Bagi anak-cucu Nabi Adam as, proses tersebut tidak transparan lagi karena jasmani mereka terbentuk dalam rahim ibu melalui tahapan-tahapan nuthfah (sperma), ‘alaqah (segumpal darah) dan mudhghah (segumpal daging). (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 12-14) Meski begitu secara hakiki jasmani anak-cucu Adam tetap berasal dari empat unsur tersebut dan akan kembali ke bentuk unsur dasar itu.

Baca selengkapnya »

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: