Teknik Iluminasi atau Meditasi pada Kedua Jantung 1

Tanpa meninggalkan rumah, orang mengetahui semua yang ada di surga dan di bumi. Tanpa mengintip dari jendela orang akan melihzt jalan surgawi. Mereka yang pergi keluar, semakin jauh perjalanannya semakin sedkit pengetahuannya. Karena itu orang bijaksana melihat semuanya tanpa pergi ke manapun, melihat semuanya tanpa melihat, tidak melakukan sesuatu namun mencapai (Tujuannya)!  (Tao Te Ching, Lao Tzu)

Meditasi harus diarahkan ke realisasi kebersatuan dengan Tuhan. Seluruh perhatian Anda harus diberikan kepada realisasi Tuhan, selalu mengingat bahwa kerajaan Tuhan ada dalam dirimu, bukan dimana-mana, melainkan dalam dirimu.  (Joel Goldsmith)

Teknik Iluminasi atau Meditasi pada Kedua Jantung adalah teknik mencapai kesadaran Budha atau kesadaran Kosmos atau iluminasi. Teknik ilumnasi juga merupakan bentuk pelayanan terhadap dunia karena dunia diharmoniskan hingga suatu tingkat tertentu dengan memberkati seluruh bumi dengan cinta-kasih.

Meditasi pada kedua jantung dilandasi prinsip bahwa beberapa cakra mayor adalah titik masuk atau pintu gerbang tingkat atau cakrawala kesadaran tertentu. Untuk mencapai iluminasi atau kesadaran kosmos, cakra mahkota perlu diaktifkan. Kedua jantung itu mengacu pada cakra jantung yang merupakan pusat emosional dan cakra mahkota yang merupakan pusat jantung surgawi.

Bila cakra mahkota cukup diaktifkan, kedua belas daun dalam membuka dan membalik keatas seperti sebuah cangkir emas, mahkota emas, bunga (teratai) emas untuk menerima energi spiritual yang dibagikan ke bagian tubuh lainnya. Ia juga dilambangkan sebagai Holy Grail (piala suci). Mahkota yang dipakai para raja dan ratu hanyalah tiruan atau simbol fisik yang jelek dari cakra mahkota gilang-gemilang yang tak tergambarkan dari orang sudah mengalami perkembangan spiritual sepenuhnya.

Mahkota emas yang berputar sangt cepat terlihat seperti cahaya yang gemerlap di puncak kepala seseorang. Ini dilambangkan dengan topi tinggi (mitre) yang dipakai oleh Paus, kardinal dan uskup.

Kalau cakra mahkota sangat aktif, akan tampak seperti halo di sekeliling kepala. Itulah sebabnya mengapa para orang kudus berbagai agama mempunyai halo di sekitar kepala mereka. Karena tingkat perkembangan spiritual berbeda-beda, maka ukuran besar dan kecermalangan halo pun bervariasi.

Bilamana seseorang bermeditasi pada kedua jantung, energi surgawi mengalir turun ke praktisi dan mengisinya dengan cahaya, kasih, dan kuasa surgawi. Praktisi kemudian menjadi saluran energi surgawi ini. Dalam Yoga aliran Taoisme, energi surgawi ini disebut “ki surgawi”. Dalam Kaballah disebut “tiang cahaya” mengacu pada apa yang dilihat oleh para pewaskita. Para yogi bangsa India menyebut tiang cahaya ini sebagai jembatan cahaya spiritual atau “antakharana”. Orang Kristen menyebutnya “turunnya Roh Kudus”, yang dilambangkan dengan tiang cahaya dan turunnya seekor burung merpati. Dalam kesenian Kristen, ini diperlihatkan dalam gambar-gambar Yesus atau para orang kudus dengan tiang cahaya putih diatas kepalanya disertai burung merpati putih yang terbang ke bawah. Ini melambangkan turunnya energi surgawi. Orang-orang yang mengembangkan kemampuan spiritualnya dan telah berlatih meditasi beberapa lama mungkin mengalami dikelilingi oleh cahaya yang menyilaukan atau kepalanya terisi dengan cahaya yang menyilaukan. Ini lazim dialami oleh para yogi tingkat lanjut serta orang kudus dari semua agama dan pengalaman mereka mirip satu dengan yang lain.

Cakra mahkota hanya dapat cukup teraktifkan bila cakra jantung sudah cukup diaktifkan terlebih dahulu. Cakra jantung adalah tiruan cakra mahkota. Bila Anda melihat cakra jantung, cakra tersebut tampak seperti cakra dalam dari cakra mahkota yang mempunyai dua belas daun emas. Cakra jantung merupakan persamaan yang lebih rendah dari cakra mahkota. Cakra mahkota adalah pusat iluminasi dan cinta surgawi atau persatuan dengan semua. Cakra jantung, merupakan pusat emosi yang lebih tinggi. Ia merupakan pusat perasaaan kasihan, kegembiraan, kasih sayang, perhatian, belas-kasihan, dan emosi halus yang lebih tinggi. Orang hanya dapat merasakan cinta surgawi dengan mengembangkan emosi halus yang lebih tinggi. Menerangkan cinta kasih dan iluminasi kepada orang biasa adalah seperti berusaha menerangkan warna pada orang buta.

Ada banyak cara mengaktifkan cakra jantung dan cakra mahkota. Anda dapat memakai gerakan fisik atau hatha yoga, tekni pernapasan yoga, mantra atau doa dan teknik visualisasi. Semua teknik ini efektif tetapi tidak cukup cepat. Salah satu cara yang paling efektif dan cepat untuk mengaktifkan cakra ini adalah melakukan meditasi berdasarkan cinta kasih atau memberkati seluruh bumi dengan dengan cinta kasih. Dengan memakai cakra jantung dan cakra mahkota untuk memberkati bumi dengan cinta kasih, kedua cakra tersebut menjadi saluran energi spiritual; karena itu diaktifkan dalam proses ini. Dengan memberkati bumi dengan cinta kasih, Anda melakukan suatu bentuk pelayanan dunia. Dan memberkati bumi dengan cinta kasih, Anda sebaliknya akan diberkati berlipat ganda. Dalam memberkati Anda diberkati. Dengan memberi maka Anda menerima. Itulah Hukumnya!

Seseorang dengan cakra mahkota yang tidak cukup aktif, tidak perlu mencapai iluminasi karena ia masih harus mempelajari cara menggiatkan cakra mahkota untuk mencapai iluminasi. Ini seperti memiliki komputer canggih tanpa mengetahui cara menggunakannya. Kalau cakra mahkota telah cukup digiatkan, maka Anda harus melakukan pada cakra tersebut, mantra Aum, dan pada jarak waktu antara dua Aum. Kosentrasi kuat harus dipusatkan tidak hanya pada mantra Aum namun terutama pada jarak antara dua Aum. Dengan kosentrasi penuh dan kuat pada cahaya dan jarak waktu (saat hening) antara dua Aum, iluminasi atau samadi tercapai!

Pada sebagian besar orang, cakra-cakra lain sangat teraktifkan. Cakra dasar, cakra seks, dan cakra solar-plexus teraktifkan pada hampir semua orang. Pada mereka, naluri untuk bertahan hidup, dorongan seks dan kecenderungan bereaksi dengan emosi-emosi lebih rendah sangat aktif. Dengan merasuknya pendidikan modern dan pekerjaan yang membutuhkan penggunaan kemampuan mental, cakra ajna dan cakra tenggorok berkembang dalam banyak orang. Apa yang tidak berkembang pada sebagian besar orang adalah cakra jantung dan cakra mahkota. Sayangnya, pendidikan cenderung lebih menekankan pada perkembangan cakra tenggorok dan cakra ajna atau perkembangan pikiran kongkret dan pikiran abstrak. Perkembangan jantung diabaikan. Karena itu, Anda dapat menjumpai orang-orang yang sangat pandai dan mungkin “berhasil”,  hubungan antar manusianya sangat buruk, hampir-hampir tidak berkawan dan berkeluarga. Dengan  melakukan meditasi pada dua jantung, seseorang menjadilebih simbang secara harmonis. Ini berarti cakra-cakra mayor berkembang kurang lebih seimbang.

Apakah pikiran abstrak atau pikiran kongkret dipakai secara konstruktif atau destruktif tergantung pada perkembangan cakra jantung. Bila cakra solar-plexus berkembang secara berlebihan dan cakra jantung kurang berkembang atau bila emosi yang lebih rendah aktif dan emosi yang lebih tinggi kurang berkembang, maka kemungkinan pikiran akan dipakai secara destruktif. Tanpa perkembangan jantung sebagian besar orang, kedamaian dunia merupakan impian semata. Itulah sebabnya perkembangan jantung harus ditekankan dalam sistem pendidikan.

Orang-orang yang berusia di bawah dari delapan belas tahun tidak boleh berlatih meditasi pada kedua jantung karena tubuh mereka belum dapat menahan terlalu banyak energi halus. Bahkan pada akhirnya mungkin dapat bermanifestasi sebagai kelumpuhan fisik. Orang yang menderita sakit jantung, hipertensi atau glaukoma, juga tidak boleh melakukan meditasi ini karena dapat memperburuk penyakitnya. Penting bahwa mereka yang ingin berlatih meditasi pada kedua jantung secara teratur harus berlatih pemurnian diri atau pembentukan karater melalui renungan batin setiap hari. Meditasi pada kedua jantung tidak hanya mengaktifkan cakra jantung dan cakra mahkota tetapi juga cakra-cakra lain. Karena itu, sifat-sifat positif maupun negatif orang akan akan diaktifkan atau diperbesar. Ini dengan mudah dapat diuji oleh praktisi sendiri dan melalui pengamatan waskita.

Sumber : Meditasi Pada Kedua Jantung ini juga dapat dibaca di buku Choa Kok Sui berjudul “Ilmu dan Seni Penyembuhan dengan Tenaga Prana – Sebuah Tuntunan Praktis” (terbitan PT. Elex Media Komputindo).

>Meditasi pada Kedua Jantung 3

>MENINGKATKAN KEKUATAN/DAYA PENYEMBUHAN SESEORANG

Bila orang berlatih Meditasi Pada Kedua Jantung setiap hari atau secara teratur, ukuran cakra mayor dan auranya akan bertambah, dan membuat tubuh energinya lebih dinamik dan kuat.

Anda dapat melakukan percobaan sederhana ini untuk membuktikan kebenarannya:

  1. Ajaklah seorang pakar meditasi atau yang telah berlatih meditasi selama paling sedikit dua atau tiga Minggu untuk melakukan percobaan ini bersama Anda.
  2. Telusuri cakra-cakra mayor, aura dalam dan aura luarnya sebelum melakukan mediatsi.
  3. Sementara orang itu bermeditasi, tunggulah tiga menit sebelum menelusuri cakra-cakra mayor, aura dalam dan aura luarnya. Perhatikan perbedaan ukuran sebelum dan selama meditasi.

Ketika menelusuri aura, secara bertahap melangkah liama meter atau lebih menjauhi subyek dan berusaha merasakan tubuh energinya. Anda akan merasa kesemutan atau sensasi ringan di tangan dan jari Anda. Orang lain mungkin merasakan semacam arus listrik ringan atau getaran.

Beberapa jam setelah meditasi, cakra dan aura secra bertahap akan kembali normal hampir keukuran semula. Akan tetapi, kalau meditasi ini dilakukan setiap hari selama setahun, ukuran setiap cakra akan meningkat dari bergaris tengah sebesar tiga atau empat inchi menjadi enam inci atau lebih sedangkan aura dalam akan membesar dari berjari-jari lima inchi menjadi satu meter atau lebih. Ini disebabkan pengaruh kumulatif dari meditasi yang dilakuan secara teratur.

Seorang penyembuh dengan cakra dan aura dalam yang besar akan sangat kuat dan dapat menyembuhkan penyakit ringan secara cepat dan seketika. Seorang penyembuh prana tingkat madya paling sedikit harus mempunyai jari-jari aura dalam sebesar satu meter sedangkan seoran penyembuh tingkat lanjut sekitar tiga meter. Seorang penyembuh prana master yang kuat dapat memiliki aura dalam jari-jari paling sedikit 50 meter. Orang dengan cakra dan aura dalam yang besar ibarat sebuah pompa yang besar sedangkan orang dengan cakra dan uara dalam yang kecil adlah seperti sebuah pompa mini. Jadi, sungguh bermanfaat untuk berlatih meditasi ini setiap hari atau secara teratur.

Tubuh energi yang kuat dan dinamik tidak hanya meningkatkan daya menyembuhkan melainkan juga meningkatkan efektivitas dan produktivitas kerja seseorang. Setelah mengajar banyak murid dan bertemunorang berhasil dan kaum eksekutif puncak biasanya mempunyai cakra yang lebih besar, yaitu kurang lebih lima atau enam inchi atau lebih dan aura dalam sekitar satu meter atau lebih. Orang yang memiliki kepribadian yang memikat atau berkarisma besar biasanya mempunyai cakra dan aura dalam yang lebih besar daripada oarng biasa dan cenderung mempunyai pengaruh yang kuat terhadap banyak orang.

Selanjutnya, orang yang bermeditasi secara teratur menjadi lebih cerdas dan intuitif. Bilamana ia menghadapi suatu msalah, ia akan mampu melihatnya secara langsung dan menemukan jalan keluar yang tepat.

Sumber : Meditasi Pada Kedua Jantung ini juga dapat dibaca di buku Choa Kok Sui berjudul “Ilmu dan Seni Penyembuhan dengan Tenaga Prana – Sebuah Tuntunan Praktis” (terbitan PT. Elex Media Komputindo).

>Meditasi pada Kedua Jantung 2

>

PROSEDUR

1. Membersihkan Tubuh Eterik dengan Latihan Fisik
Lakukan latihan fisik sekitar 5 menit untuk membersihkan dan memeberikan energi kepada tubuh eterik. Bahan keabu-abuan atau prana yang bekas pakai dikeluarkan dari tubuh eterik dengan latihan fisik. Latihan fisik juga memperkecil kemungkinan kongesti prana (penumpukan prana yang berefek negatif pada tubuh) karena meditasi ini mengumpulkan sejumlah besar energi halus di dalam tubuh eterik.

2. Memohon Berkat Surgawi. (Anda dapat membuat doa sendiri)

Ini adalah contoh yang biasanya dipakai oleh pengarang:

Tuhan, dengan rendah hati saya memohon rahmatMu!
Untuk perlindungan, bimbingan, bantuan dan iluminasi!
Terima ksaih dan dengan keyakinan penuh !

Memohon berkat Tuhan atau Pembimbing Spiritual sangat penting. Setiap orang yang secara serius mengembangkan kemampuan spiritulanya biasanya mempunyai Pembimbing Spiritual apakah ia menyadarinya atau tidak. Doa itu diperlukan untuk memperoleh perlindungan, bantuan dan bimbingan. Tanpa berdoa, melakukan teknik meditasi lanjut dapat berbahaya.

3. Mengaktifkan Cakra Jantung – Memberkati Seluruh Bumi dengan Cinta Kasih
Tekanlah cakra jantung depan dengan selama beberapa detik. Ini untuk mempermudah kosentrasi pada cakra jantung. Lakukan kosentrasi pada cakra jantung depan dan berkatilah bumi dengan cinta-kasih. Ketika memberkati, Anda dapat memvisualisasikan bumi sebagai sangat kecil di depan Anda. Pengarang biasanya melakukan pemberkatan berikut ini:

MEMBERKATI BUMI DENGAN CINTA KASIH

Dari Hati Tuhan,
Biarkan seluruh bumi diberkati dengan cinta kasih.
Biarkan seluruh bumi diberkati kegembiraan,
kebahagiaan dan damai surgawi
Biarkan seluruh bumi diberkati dengan pengertian,
keserasian, itikad baik dan kemauan berbuat baik.
Terjadilah!

Dari Hati Tuhan,
Biarkan hati semua makhluk berperasaan diisi dengan
cinta kasih dan kebaikan surgawi.
Biarkan hati semua makhluk berperasaan diisi dengan
kegembiraan, kebahagiaan dan damai surgawi
Biarkan hati semua makhluk berperasaan diisi dengan
Pengertian, keserasian, itikad baik dan
keinginan berbuat baik. Terima kasih,
Terjadilah!

Bagi para pemula, pemberkatan ini hanya dilakukan satu atau dua kali. Jangan melakukan pemberkatan ini secara berlebihan pada permulaan. Sebagian bahkan mungkin merasa kongesti prana ringan di sekitar daerah jantung. Ini karena tubuh eterik Anda tidak cukup bersih. Lakukan penyapuan setempat untuk menghilangkan kongesti tersebut.

Pemberkatan ini tidak boleh dilakukan secaa mekanis. Anda harus menghayati dan menyadari sepenuhnya pengertian tiap-tiap ucapan. Anda dapat pula menggunakan visualisasi. Bila memberkati bumi dengan cinta kasih, visualisasikan aura bumi menjadi berwarna merah muda kebiru-biruan yang mempesona. Bila memberkati bumi dengan kegembiraan, kebahagiaan dan damai; visualisasikan orang-orang yang bermasalah berat tersenyum, hati mereka terisi dengan kegembiraan, kepercayaan, harapan dan perdamaian. Visualisasikan masalah mereka menjadi lebih ringan dan wajah mereka lebih cerah. Bila memberkati bumi dengan keserasian , itikad baik dan kemauan berbuat baik; visualisasikan orang-orang atau negara-negara yang hampir berperang meletakkan senjata dan saling berpelukan. Visualisasikan mereka terisi dengan maksud baik dan berniat melaksanakan maksud baik tersebut. Pemberkatan ini dapat diarahkan ke suatu negara, keluarga atau sekelompok negara. Jangan mengarahkan pemberkatan kepada bayi, anak atau orang karena mereka dapat dibanjiri energi yang sangat kuat yang dihasilkan oleh meditasi ini.

4. Mengaktifkan Cakra Mahkota – Memberkati Bumi dengan Cinta Kasih
Tekan mahkota dengan jari Anda selama beberapa detik untuk mempermudah kosentrasi pada cakra mahkota dan berkati seluruh bumi dengan cinta kasih. Bila cakra mahkota cukup terbuka, sebagian antara Anda akan merasakan sesuatu sedang berkembang di puncak kepala atau merasa suatu tekanan pada mahkota. Setelah cakra mahkota diaktifkan, berkosentrasilah secara bersamaan pada cakra mahkota dan cakra jantung, dan berkati bumi dengan cinta kasih beberapa kali. Ini akan menggabungkan cakra jantung dan cakra mahkota; dengan demikian menjadikan berkat jauh lebih kuat.

5. Mencapai Iluminasi – Meditasi pada Cahaya, pada Aum dan jarak antara dua Aum
Untuk mencapai Iluminasi (perluasan kesadaran) visualisasikan suatu titik cahaya putih yang gemilang pada puncak kepala dan secara bersamaan mengucapkan mantra Aum dalam hati. Lakukan kosentrasi pada jarak waktu (saat hening) diantara dua Aum, sementara mempertahankan titik cahaya tersebut. Lakukan meditasi ini selama 10-15 menit. Kalau Anda dapat memusatkan pikiran sepenuhnya secara bersamaan pada titik cahaya dan jarak pada waktu antara dua Aum, Anda akan mengalami “ledakan cahaya didalam”. Seluruh tubuh Anda akan diisi dengan cahaya! Secara pertama kali! Untuk mengalami kesadaran Budha atau iluminasi adalah dengan mengalami dan mengerti makna yang dikatakan Yesus: “jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu” (Lukas 11:34). “sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada didalam kamu” (Lukas 17:21).

Bagi beberapa orang, dibutuhkan bertahun-tahun sebelum mereka mengalami iluminasi pertama sekilas pandangan atau kesadaran Budha. Orang lain mungkin hanya membutuhkan beberapa bulan sementara yang lian hanya beberapa Minggu. Bagi sedikit orang, mereka mencapai awal perluasan kesadaran pada beberapa usaha pertama. Ini biasanya dilakkukan dengan bantuan seorarng Tua atau fasilitator.

Ketika melakukan meditasi ini Anda harus netral. Tidak boleh merasa obsesi akan hasil atau terlalu banyak berharap. Jika tidak, ia sebenarnya bermeditasi pada harapan atau hasil yang diharapkan bukannya pada titik cahaya, Aum dan jarak waktu antara dua Aum.

6. Melepas Kelebihan Energi
Sesudah bermeditasi, kelebihan energi harus dilepaskan dengan memberkati bumi dengan Cahaya, Cinta, Damai dan Kemakmuran selama beberapa menit sampaianda merasa tubuh Anda menjadi nornal. Kalau tidak, tubuh eterik akan mengalami kongesti dan Anda akan mengalami sakit kepala dan nyari dada. Tubuh fisik lama-kelamaan rusak karena terlalu banyak energi. Kelompok esoterik lain melepas kelebihan energi dengan memvisualisasikan cakra-cakra menyalurkan keluar kelebihan energi dan cakra menjadi lebih kecil dan redup, tetapi cara ini tidak menggunakan kelebihan energi untuk pemakaian yang konstruktif.

7. Berterima Kasih
Setelah bermeditasi, selalu berterima kasihlah kepada Tuhan dan Pembimbing Spiritual atas berkat surgawi.

8. Melepaskan Energi Berlebihan Lagi dan Memperkuat Tubuh Fisik Malalui Pijatan dan Latihan Fisik Lagi
Sesudah bermeditasi, pijatlah tubuh Anda dan lakukan latihan fisik sekitar lima menit untuk mengeluarkan prana bekas pakai dari tubuh dan melepaskan energi berlebihan, membersihkan dan memperkuat tubuh fisik. Ini juga mempermudah asimilasi energi prana dan energi spiritual; dengan demikian meningkatkan keindahan dan kesehatan praktisi. Pemijatan dan latihan fisik sesudah bermeditasi akan mengurangi kongesti prana dibagian-bagian tubuh tertentu yang dapat menjadi penyakit. Anda juga dapat menyembuhkan diri dari beberapa penyakit secara bertahap dengan melakukan latihan fisik sesudah melakukan “ Meditasi Pada Kedua Jantung”. Melakukan latihan fisik sesudah meditasi sangat penting; kalau tidak tubuh fisik akan melemah. Walaupun tubuh eterik akan menjadi sangat terang dan kuat, tubuh fisik akan menjadi lemah karena tidak mampu menahan kelebihan energi yang dihasilkan meditasi ini dalam jangka lama. Anda harus mengalaminya sendiri supaya dapat menghargai sepenuhnya apa yang dikatakan Pengarang.

Beberapa orang mempunyai kecenderungan untuk tidak melakukan latihan fisik sesudah melakukan meditasi ini, melainkan terus menikmati keadaan bahagia tersebut. Kecenderungan ini harus ditanggulangi, kalau tidak kesehatan fisik Anda pada akhirnya akan terganggu.

Kadang-kadang bila seorang aspiran spiritual bermeditasi, ia dapat mengalami gerakan fisik yang tidak umum dalam jangka pendek. Ini sangat normal karena saluran eteriknya sedang dibersihkan.

Petunjuk yang diberikan tampaknya cukup panjang, namun meditasi ini sendiri sangat singkat, sederhana dan sangat efektif! Meditasi hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit diluar waktu yang dibutuhkan untuk latihan fisik.

Terdapat banyak tingkatan iluminasi. Seni “intuisi” atau “pengetahuan sintetik langsung” membutuhkan meditasi yang terus menerus untuk jangka waktu lama.

Memberkati bumi dengan cinta kasih dapat dilakukan secara berkelompok sebagai bentuk pelayanan dunia. Bila untuk tujuan tersebut dilakukan dalam kelompok, mula-mula berkati bumi bumi dengan cinta kasih melalui cakra jantung kemudian melalui cakra mahkota lalu melalui kedua cakra, mahkota dan jantung. Lepaskan kelebihan energi sesudah akhir meditasi. Bagian meditasi yang lain dihilangkan. Pemberkatan dapat diarahkan tidak hanya ke seluruh bumi melainkan juga ke suatu negara atau kelompok negara tertentu. Kekuatan pemberkatan ini meningkat berlipat ganda bila dilakukan dalam kelompok dibadingkan secara individual. Cara lain memberkati bumi dengan cinta kasih dalam kelompok adalah melalui siaran radio harian pada waktu yan sesuai bersama dengan beberapa atau banyak pendengar yang berpartisipasi.

Seperti halnya penyembuhan dengan prana dapat menyembuhkan penyakit sederhana dan berat secara “ajaib”, “meditasi pada kedua jantung” bila dilakukan sejumlah besar orang dapat menyembuhkan seluruh bumi secara ajaib; dengan demikian membuat seluruh bumi lebih serasi dan damai.

Sumber : Meditasi Pada Kedua Jantung ini juga dapat dibaca di buku Choa Kok Sui berjudul “Ilmu dan Seni Penyembuhan dengan Tenaga Prana – Sebuah Tuntunan Praktis” (terbitan PT. Elex Media Komputindo).

>Teknik Iluminasi atau Meditasi pada Kedua Jantung 1

>

Tanpa meninggalkan rumah, orang mengetahui semua yang ada di surga dan di bumi. Tanpa mengintip dari jendela orang akan melihzt jalan surgawi. Mereka yang pergi keluar, semakin jauh perjalanannya semakin sedkit pengetahuannya. Karena itu orang bijaksana melihat semuanya tanpa pergi ke manapun, melihat semuanya tanpa melihat, tidak melakukan sesuatu namun mencapai (Tujuannya)!  (Tao Te Ching, Lao Tzu)

Meditasi harus diarahkan ke realisasi kebersatuan dengan Tuhan. Seluruh perhatian Anda harus diberikan kepada realisasi Tuhan, selalu mengingat bahwa kerajaan Tuhan ada dalam dirimu, bukan dimana-mana, melainkan dalam dirimu.  (Joel Goldsmith)

Teknik Iluminasi atau Meditasi pada Kedua Jantung adalah teknik mencapai kesadaran Budha atau kesadaran Kosmos atau iluminasi. Teknik ilumnasi juga merupakan bentuk pelayanan terhadap dunia karena dunia diharmoniskan hingga suatu tingkat tertentu dengan memberkati seluruh bumi dengan cinta-kasih.

Meditasi pada kedua jantung dilandasi prinsip bahwa beberapa cakra mayor adalah titik masuk atau pintu gerbang tingkat atau cakrawala kesadaran tertentu. Untuk mencapai iluminasi atau kesadaran kosmos, cakra mahkota perlu diaktifkan. Kedua jantung itu mengacu pada cakra jantung yang merupakan pusat emosional dan cakra mahkota yang merupakan pusat jantung surgawi.

Bila cakra mahkota cukup diaktifkan, kedua belas daun dalam membuka dan membalik keatas seperti sebuah cangkir emas, mahkota emas, bunga (teratai) emas untuk menerima energi spiritual yang dibagikan ke bagian tubuh lainnya. Ia juga dilambangkan sebagai Holy Grail (piala suci). Mahkota yang dipakai para raja dan ratu hanyalah tiruan atau simbol fisik yang jelek dari cakra mahkota gilang-gemilang yang tak tergambarkan dari orang sudah mengalami perkembangan spiritual sepenuhnya.

Mahkota emas yang berputar sangt cepat terlihat seperti cahaya yang gemerlap di puncak kepala seseorang. Ini dilambangkan dengan topi tinggi (mitre) yang dipakai oleh Paus, kardinal dan uskup.

Kalau cakra mahkota sangat aktif, akan tampak seperti halo di sekeliling kepala. Itulah sebabnya mengapa para orang kudus berbagai agama mempunyai halo di sekitar kepala mereka. Karena tingkat perkembangan spiritual berbeda-beda, maka ukuran besar dan kecermalangan halo pun bervariasi.

Bilamana seseorang bermeditasi pada kedua jantung, energi surgawi mengalir turun ke praktisi dan mengisinya dengan cahaya, kasih, dan kuasa surgawi. Praktisi kemudian menjadi saluran energi surgawi ini. Dalam Yoga aliran Taoisme, energi surgawi ini disebut “ki surgawi”. Dalam Kaballah disebut “tiang cahaya” mengacu pada apa yang dilihat oleh para pewaskita. Para yogi bangsa India menyebut tiang cahaya ini sebagai jembatan cahaya spiritual atau “antakharana”. Orang Kristen menyebutnya “turunnya Roh Kudus”, yang dilambangkan dengan tiang cahaya dan turunnya seekor burung merpati. Dalam kesenian Kristen, ini diperlihatkan dalam gambar-gambar Yesus atau para orang kudus dengan tiang cahaya putih diatas kepalanya disertai burung merpati putih yang terbang ke bawah. Ini melambangkan turunnya energi surgawi. Orang-orang yang mengembangkan kemampuan spiritualnya dan telah berlatih meditasi beberapa lama mungkin mengalami dikelilingi oleh cahaya yang menyilaukan atau kepalanya terisi dengan cahaya yang menyilaukan. Ini lazim dialami oleh para yogi tingkat lanjut serta orang kudus dari semua agama dan pengalaman mereka mirip satu dengan yang lain.

Cakra mahkota hanya dapat cukup teraktifkan bila cakra jantung sudah cukup diaktifkan terlebih dahulu. Cakra jantung adalah tiruan cakra mahkota. Bila Anda melihat cakra jantung, cakra tersebut tampak seperti cakra dalam dari cakra mahkota yang mempunyai dua belas daun emas. Cakra jantung merupakan persamaan yang lebih rendah dari cakra mahkota. Cakra mahkota adalah pusat iluminasi dan cinta surgawi atau persatuan dengan semua. Cakra jantung, merupakan pusat emosi yang lebih tinggi. Ia merupakan pusat perasaaan kasihan, kegembiraan, kasih sayang, perhatian, belas-kasihan, dan emosi halus yang lebih tinggi. Orang hanya dapat merasakan cinta surgawi dengan mengembangkan emosi halus yang lebih tinggi. Menerangkan cinta kasih dan iluminasi kepada orang biasa adalah seperti berusaha menerangkan warna pada orang buta.

Ada banyak cara mengaktifkan cakra jantung dan cakra mahkota. Anda dapat memakai gerakan fisik atau hatha yoga, tekni pernapasan yoga, mantra atau doa dan teknik visualisasi. Semua teknik ini efektif tetapi tidak cukup cepat. Salah satu cara yang paling efektif dan cepat untuk mengaktifkan cakra ini adalah melakukan meditasi berdasarkan cinta kasih atau memberkati seluruh bumi dengan dengan cinta kasih. Dengan memakai cakra jantung dan cakra mahkota untuk memberkati bumi dengan cinta kasih, kedua cakra tersebut menjadi saluran energi spiritual; karena itu diaktifkan dalam proses ini. Dengan memberkati bumi dengan cinta kasih, Anda melakukan suatu bentuk pelayanan dunia. Dan memberkati bumi dengan cinta kasih, Anda sebaliknya akan diberkati berlipat ganda. Dalam memberkati Anda diberkati. Dengan memberi maka Anda menerima. Itulah Hukumnya!

Seseorang dengan cakra mahkota yang tidak cukup aktif, tidak perlu mencapai iluminasi karena ia masih harus mempelajari cara menggiatkan cakra mahkota untuk mencapai iluminasi. Ini seperti memiliki komputer canggih tanpa mengetahui cara menggunakannya. Kalau cakra mahkota telah cukup digiatkan, maka Anda harus melakukan pada cakra tersebut, mantra Aum, dan pada jarak waktu antara dua Aum. Kosentrasi kuat harus dipusatkan tidak hanya pada mantra Aum namun terutama pada jarak antara dua Aum. Dengan kosentrasi penuh dan kuat pada cahaya dan jarak waktu (saat hening) antara dua Aum, iluminasi atau samadi tercapai!

Pada sebagian besar orang, cakra-cakra lain sangat teraktifkan. Cakra dasar, cakra seks, dan cakra solar-plexus teraktifkan pada hampir semua orang. Pada mereka, naluri untuk bertahan hidup, dorongan seks dan kecenderungan bereaksi dengan emosi-emosi lebih rendah sangat aktif. Dengan merasuknya pendidikan modern dan pekerjaan yang membutuhkan penggunaan kemampuan mental, cakra ajna dan cakra tenggorok berkembang dalam banyak orang. Apa yang tidak berkembang pada sebagian besar orang adalah cakra jantung dan cakra mahkota. Sayangnya, pendidikan cenderung lebih menekankan pada perkembangan cakra tenggorok dan cakra ajna atau perkembangan pikiran kongkret dan pikiran abstrak. Perkembangan jantung diabaikan. Karena itu, Anda dapat menjumpai orang-orang yang sangat pandai dan mungkin “berhasil”,  hubungan antar manusianya sangat buruk, hampir-hampir tidak berkawan dan berkeluarga. Dengan  melakukan meditasi pada dua jantung, seseorang menjadilebih simbang secara harmonis. Ini berarti cakra-cakra mayor berkembang kurang lebih seimbang.

Apakah pikiran abstrak atau pikiran kongkret dipakai secara konstruktif atau destruktif tergantung pada perkembangan cakra jantung. Bila cakra solar-plexus berkembang secara berlebihan dan cakra jantung kurang berkembang atau bila emosi yang lebih rendah aktif dan emosi yang lebih tinggi kurang berkembang, maka kemungkinan pikiran akan dipakai secara destruktif. Tanpa perkembangan jantung sebagian besar orang, kedamaian dunia merupakan impian semata. Itulah sebabnya perkembangan jantung harus ditekankan dalam sistem pendidikan.

Orang-orang yang berusia di bawah dari delapan belas tahun tidak boleh berlatih meditasi pada kedua jantung karena tubuh mereka belum dapat menahan terlalu banyak energi halus. Bahkan pada akhirnya mungkin dapat bermanifestasi sebagai kelumpuhan fisik. Orang yang menderita sakit jantung, hipertensi atau glaukoma, juga tidak boleh melakukan meditasi ini karena dapat memperburuk penyakitnya. Penting bahwa mereka yang ingin berlatih meditasi pada kedua jantung secara teratur harus berlatih pemurnian diri atau pembentukan karater melalui renungan batin setiap hari. Meditasi pada kedua jantung tidak hanya mengaktifkan cakra jantung dan cakra mahkota tetapi juga cakra-cakra lain. Karena itu, sifat-sifat positif maupun negatif orang akan akan diaktifkan atau diperbesar. Ini dengan mudah dapat diuji oleh praktisi sendiri dan melalui pengamatan waskita.

Sumber : Meditasi Pada Kedua Jantung ini juga dapat dibaca di buku Choa Kok Sui berjudul “Ilmu dan Seni Penyembuhan dengan Tenaga Prana – Sebuah Tuntunan Praktis” (terbitan PT. Elex Media Komputindo).

Meditasi Orbit Semesta Bertasbih 4

Metode Meditasi Orbit Semesta adalah salah satu tekhnik meditasi yang ditawarkan oleh NAQS Methode. Tekhnik ini diberikan sebagai pelajaran Dasar Meditasi yang diberikan selain Meditasi Kultivasi, Meditasi Zero LI, & Meditasi Pernafasan Bioenergi NAQS ALAM.

Dengan berlatih Meditasi Orbit Semesta maka praktisi hakikatnya sedang menyelaraskan diri dengan Tasbih dari Alam Semesta Fisik dan Metafisik. Selaras dengan Tasbih Seluruh Makhluk, hamba-hamba Tuhan, dan Para Malaikat. Bergetar selaras dalam sebuah medan energi yang sama yang menghasilkan sebuah Harmoni Melodi yang indah dan dahsyat. Karena terhubung langsung dengan Sumber Getaran Yang Menciptakan dan Memelihara Alam Semesta, yaitu The God Al Mighty.

FIRMAN ALLAH DALAM QS.Al Ahzab ayat 41 – 48 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً
41. Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.
وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً
42. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيماً
43. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.
تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلَامٌ وَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْراً كَرِيماً
44. Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mu’min itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam ; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِداً وَمُبَشِّراً وَنَذِيراً
45. Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan,
وَدَاعِياً إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجاً مُّنِيراً
46. dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.
وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُم مِّنَ اللَّهِ فَضْلاً كَبِيراً
47. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mu’min bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.
وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ وَدَعْ أَذَاهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلاً
48. Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang- orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.( QS. An Nisaa 4:142 )

Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.( QS. Huud 11:41 )

Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.( QS. An Naml 27:30 )

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.( QS. Al Ahzab 33:21 )
Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar.
( QS. Al Haaqqah 69:52 )

Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya], bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.( QS. Al Baqarah 2:203 )

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.
( QS. Al Israa’ 17:44 )

maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya.( QS. Al Anbiyaa’ 21:79 )

Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya [1044], dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.( QS. An Nuur 24:41 )

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuk- nya,( QS. Saba’ 34:10 )

Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi,( QS. Shaad 38:18 )

Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-mmlaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.
( QS. Az-Zumar 39:75 )

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,
( QS. Al Mu’min 40:7 )

Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atas (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Penyayang.
( QS. Asy Syuura 42:5 )

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
( QS. Al Jumuah 62:1 )

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
( QS. Al Hasyr 59:24 )

Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
( QS. At Taghaabun 64:1 )

Kultivasi, Takhalli, Tahalli, & Tajalli

Proses Kultivasi adalah sebuah proses Tazkiyatun Nafs, yaitu sebuah proses penyucian jiwa & raga. Meningkatkan kualitas kemanusian kita dalam meraih derajat manusia mulya Insan Kamil. Ada 3 kekuatan yg berlangsung saat proses, yaitu Takhalli, Tahalli, & Tajalli. Pemurnian Energi, Transformasi Energi, & Munculnya Potensi.

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari golongan mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata”. (Al-Jumu’ah: 2).

Jiwa manusia sering menerima serangan dari berbagai penyakit hati yang mengakibatkan akhhlak manusia menjadi buruk, tidak sesuai dengan yang Allah gariskan dan Rasul-Nya contohkan. Bisa jadi orang yang terkena penyakit hati akan menjadi malas beribadah, pelaku maksiat, atau hamba dari hawa nafsunya.

Oleh karena itu, menyucikan dan membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs) dari berbagai penyakit hati merupakan suatu keharusan sebagaimana yang Allah serukan dalam Al-Qur’an, dan itu menjadi aktifitas yang tak terpisahkan dari keseharian orang muslim. Alah sangat menyukai hamba-hamba-Nya yang menyucikan jiwa dan sangat membenci hamba-hamba-Nya yang mengotori jiwa dengan kemaksiatan.

Dengan demikian, seseorang yang mengharapkan keridhaan Allah dan kebahagiaan abadi di hari akhir hendaknya benar-benar memberi perhatian khusus pada tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Ia harus berupaya agar jiwanya senantiasa berada dalam kondisi suci. Kedatangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ke dunia ini tak lain adalah untuk menyucikan jiwa manusia. Ini sangat terlihat jelas pada jiwa para sahabat antara sebelum memeluk Islam dan sesudahnya. Sebelum mengenal Al-Islam jiwa mereka dalam keadaan kotor oleh debu-debu syirik, ashabiyah (fanatisme suku), dendam, iri, dengki dan sebagainya. Namun begitu telah disibghah (diwarnai) oleh syariat Islam yang dibawa Rasulullah SAW, mereka menjadi bersih, bertauhid, ikhlas, sabar, ridha, zuhud dan sebagainya.

Keberuntungan dan kesuksesan seseorang, sangat ditentukan oleh seberapa jauh ia men-tazkiyah dirinya. Barangsiapa tekun membersihkan jiwanya maka sukseslah hidupnya. Sebaliknya yang mengotori jiwanya akan senantiasa merugi, gagal dalam hidup. Hal itu diperkuat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sumpahNya sebanyak sebelas kali berturut-turut, padahal dalam Al-Qur’an tidak dijumpai keterangan yang memuat sumpah Allah sebanyak itu secara berurutan. Marilah kita perhatikan firman Allah sebagai berikut:

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan malam bila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penciptaannya (yang sempurna), maka Allah mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”.(Asy-Syams: 1-10).

Dalam ayat yang lain juga disebutkan bahwa nantinya harta dan anak-anak tidak bermanfaat di akhirat. Tetapi yang bisa memberi manfaat adalah orang yang menghadap Allah dengan Qalbun Salim , yaitu hati yang bersih dan suci.

Firman Allah:

“yaitu di hari harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (Asy-Syu’araa’:88-89).

Hakekat Tazkiyatun Nafs
Secara umum aktivitas tazkiyatun nafs mengarah pada dua kecenderungan, yaitu

  1. Membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela, membuang seluruh penyakit hati.
  2. Menghiasi jiwa dengan sifat-sifat terpuji.

Kedua hal itu harus berjalan seiring, tidak boleh hanya dikerjakan satu bagian kemudian meninggalkan bagian yang lain. Jiwa yang cuma dibersihkan dari sifat tercela saja, tanpa dibarengi dengan menghiasi dengan sifat-sifat kebaikan menjadi kurang lengkap dan tidak sempurna. Sebaliknya, sekedar menghiasi jiwa dengan sifat terpuji tanpa menumpas penyakit-penyakit hati, juga akan sangat ironis. Tidak wajar. Ibaratnya seperti sepasang pengantin, sebelum berhias dengan beragam hiasan, mereka harus mandi terlebih dahulu agar badannya bersih. Sangat buruk andaikata belum mandi (membersihkan kotoran-kotoran di badan) lantas begitu saja dirias. Hasilnya tentu sebuah pemandangan yang mungkin saja indah tetapi bila orang mendekat akan tercium bau tak sedap.

Wasilah Tazkiyatun Nafs

Wasilah (sarana) untuk men-tazkiyah jiwa tidak boleh keluar dari patokan-patokan syar’i yang telah ditetapkan Allah dan rasulNya. Seluruh wasilah tazkiyatun nafs adalah beragam ibadah dan amal-amal shalih yang telah disyariatkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Sesungguhnya rangkaian ibadah yang diajarkan Allah dan RasulNya telah memuat asas-asas tazkiyatun nafs dengan sendirinya. Bahkan bisa dikatakan bahwa inti dari ibadah-ibadah seperti shalat, shaum, zakat, haji, dzikir dan lain-lain itu tidak lain adalah aspek-aspek tazkiyah.

Shalat misalnya, bila dikerjakan secara khusyu’, ikhlas dan sesuai dengan syariat, niscaya akan menjadi pembersih jiwa, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berikut:

Abu Hurairah radhiyallaahu anhu berkata: Saya telah mendengar Rasulullah n bersabda: “Bagaimanakah pendapat kamu kalau di muka pintu (rumah) salah satu dari kamu ada sebuah sungai, dan ia mandi daripadanya tiap hari lima kali, apakah masih ada tertinggal kotorannya? Jawab sahabat: Tidak. Sabda Nabi: “Maka demikianlah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus dengannya dosa-dosa“. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dari hadits di atas nampak sekali bahwa misi utama penegakan shalat adalah menyangkut tazkiyatun nafs. Artinya, dengan shalat secara benar (sesuai sunnah), ikhlas dan khusyu’, jiwa akan menjadi bersih, yang digambarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam seperti mandi di sungai lima kali. Sebuah perumpamaan atas terhapusnya kotoran-kotoran dosa dari jiwa. Secara demikian, bisa kita bayangkan kalau ibadah shalat ini ditambah dengan shalat-shalat sunnah. Tentu nilai kebersihan jiwa yang diraih lebih banyak lagi.

Demikian pula masalah shaum (puasa). Hakekat puasa yang paling dalam berada pada aspek tazkiyah. Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:

Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum“. (HR Al-Bukhari, Ahmad dan lainnya).

Dalam hadits yang lain disebutkan:

“Adakalanya orang berpuasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga”. (HR Ahmad).

Ini menunjukkan betapa soal-soal tazkiyatun nafs benar-benar mewarnai dalam ibadah puasa, sehingga tanpa membuat-buat syariat baru sesungguhnya apa yang datang dari syariat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bila diresapi secara mendalam benar-benar telah mencukupi.

Hal yang sama dijumpai pada ibadah qurban. Esensi utama qurban adalah ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berarti soal pembersihan jiwa dan bukan terbatas pada daging dan darah qurban.

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Daging-daging dan darahnya itu, sekali-kali tidak dapat mencapai derajat (keridhaan) Allah, tetapi keaqwaan daripada kamulah yang dapat mencapainya“.(Al-Hajj: 37).

Kalau diteliti lagi masih banyak sekali ibadah dalam syariat Islam yang muara akhirnya adalah pembersihan jiwa. Dengan mengikuti apa yang diajarkan syariat, niscaya seorang muslim telah mendapatkan tazkiyatun nafs. Contohnya adalah para sahabat Rasulullah. Mereka adalah generasi yang paling dekat dengan zaman kenabian dan masih bersih pemahaman agamanya, karenanya mereka memiliki jiwa-jiwa yang suci lantaran ber-ittiba’ pada sunnah Rasul dan tanpa menciptakan cara-cara bid’ah dalam tazkiyatun nafs. Mereka mendapatkan kesucian jiwa tanpa harus menjadi seorang sufi yang hidup dengan syariat yang aneh-aneh dan njlimet (rumit).

Bagi seorang muslim, ia harus berupaya menggapai masalah tazkiyatun nafs dari serangkaian ibadah yang dikerjakannya. Artinya, ibadah yang dilakukan jangan hanya menjadi gerak-gerak fisik yang kosong dari ruh keimanan dan taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, ibadah apapun yang kita kerjakan hendaknya juga bernuansa pembersihan jiwa. Dengan cara seperti inilah, insya Allah kita bisa mencapai keberuntungan.

Takhalli, Tahalli, & Tajalli
Manusia dilengkapi oleh Allah dua hal pokok, yaitu jasmani dan rohani. Dua hal ini memiliki keperluan masing-masing. Jasmani membutuhkan makan, minum, pelampiasan syahwat, keindahan, pakaian, perhiasan-perhiasan dan kemasyhuran. Rohani, pada sisi lain, membutuhkan kedamaian, ketenteraman, kasih-sayang dan cinta.

Para sufi menegaskan bahwa hakekat sesungguhnya manusia adalah rohaninya. Ia adalah muara segala kebajikan. Kebahagiaan badani sangat tergantung pada kebahagiaan rohani. Sedang, kebahagiaan rohani tidak terikat pada wujud luar jasmani manusia. Sebagai inti hidup, rohani harus ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi. Semakin tinggi rohani diletakkan, kedudukan manusia akan semakin agung. Jika rohani berada pada tempat rendah, hina pulalah hidup manusia. Fitrah rohani adalah kemuliaan, jasmani pada kerendahan. Badan yang tidak memiliki rohani tinggi, akan selalu menuntut pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rendah hewani. Rohani hendaknya dibebaskan dari ikatan keinginan hewani, yaitu kecintaan pada pemenuhan syahwat dan keduniaan. Hati manusia yang terpenuhi dengan cinta pada dunia, akan melahirkan kegelisahan dan kebimbangan yang tidak berujung. Hati adalah cerminan ruh. Kebutuhan ruh akan cinta bukan untuk dipenuhi dengan kesibukan pada dunia. Ia harus bersih.

Dalam rangkaian metode pembersihan hati, para sufi menetapkan dengan tiga tahap : Takhalli, Tahalli, dan Tajalli.

Takhalli, sebagai tahap pertama dalam mengurus hati, adalah membersihkan hati dari keterikatan pada dunia. Hati, sebagai langkah pertama, harus dikosongkan. Ia disyaratkan terbebas dari kecintaan terhadap dunia, anak, istri, harta dan segala keinginan duniawi.

Dunia dan isinya, oleh para sufi, dipandang rendah. Ia bukan hakekat tujuan manusia. Manakala kita meninggalkan dunia ini, harta akan sirna dan lenyap. Hati yang sibuk pada dunia, saat ditinggalkannya, akan dihinggapi kesedihan, kekecewaan, kepedihan dan penderitaan. Untuk melepaskan diri dari segala bentuk kesedihan, lanjut para saleh sufi, seorang manusia harus terlebih dulu melepaskan hatinya dari kecintaan pada dunia.

Tahalli, sebagai tahap kedua berikutnya, adalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan dengan isi yang lain, yaitu Allah (swt). Pada tahap ini, hati harus selalu disibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, melepas selain-Nya, akan mendatangkan kedamaian. Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari dalam hatinya. Hilangnya dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan mengecewakan. Waktunya sibuk hanya untuk Allah, bersenandung dalam dzikir. Pada saat tahalli, lantaran kesibukan dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, anggota tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya ikut bersenandung dzikir. Lidahnya basah dengan lafadz kebesaran Allah yang tidak henti-hentinya didengungkan setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran Tuhannya dalam berbuat. Begitu pula, mata, kaki, dan anggota tubuh yang lain. Pada tahap ini, hati akan merasai ketenangan. Kegelisahannya bukan lagi pada dunia yang menipu. Kesedihannya bukan pada anak dan istri yang tidak akan menyertai kita saat maut menjemput. Kepedihannya bukan pada syahwat badani yang seringkali memperosokkan pada kebinatangan. Tapi hanya kepada Allah. Hatinya sedih jika tidak mengingat Allah dalam setiap detik.

Setelah tahap ‘pengosongan’ dan ‘pengisian’, sebagai tahap ketiga adalah Tajalli. Yaitu, tahapan dimana kebahagian sejati telah datang. Ia lenyap dalam wilayah Jalla Jalaluh, Allah subhanahu wata’ala. Ia lebur bersama Allah dalam kenikmatan yang tidak bisa dilukiskan. Ia bahagia dalam keridho’an-Nya. Pada tahap ini, para sufi menyebutnya sebagai ma’rifah, orang yang sempurna sebagai manusia luhur.

Syekh Abdul Qadir Jaelani menyebutnya sebagai insan kamil, manusia sempurna. Ia bukan lagi hewan, tapi seorang malaikat yang berbadan manusia. Rohaninya telah mencapai ketinggian kebahagiaan. Tradisi sufi menyebut orang yang telah masuk pada tahap ketiga ini sebagai waliyullah, kekasih Allah. Orang-orang yang telah memasuki tahapan Tajalli ini, ia telah mencapai derajat tertinggi kerohanian manusia. Derajat ini pernah dilalui oleh Hasan Basri, Imam Junaidi al-Baghdadi, Sirri Singkiti, Imam Ghazali, Rabiah al-Adawiyyah, Ma’ruf al-Karkhi, Imam Qusyairi, Ibrahim Ad-ham, Abu Nasr Sarraj, Abu Bakar Kalabadhi, Abu Talib Makki, Sayyid Ali Hujweri, Syekh Abdul Qadir Jaelani, dan lain sebagainya. Tahap inilah hakekat hidup dapat ditemui, yaitu kebahagiaan sejati.

Wallahu a’lam

Meditasi Orbit Semesta Bertasbih 3

TASBIH (Menyucikan Allah Swt.)

Kata tasbih (تَسْبِيْح) adalah bentuk masdar dari sabbaha–yusabbihu–tasbihan (سَبَّحَ- يُسَبِّحُ- تَسْبِيْحًا), yang berasal dari kata sabh (سَبْح). Menurut Ibnu Faris, asal makna kata sabh ada dua. Pertama, sejenis ibadah. Kedua, sejenis perjalanan cepat. Pengertian kata tasbih (تَسْبِيْح) berasal dari pengertian pertama, yaitu menyucikan Allah Swt. dari setiap yang jelek (tanzihullahi min kulli su’in (تَنْزِيْهُ اللهِ مِنْ كُلِّ سُوْء ), sedangkan kata tanzih (تَنْزِيْه) berarti tab‘id (تَبْعِيْد = menjauhkan). Jadi, Allah jauh dari setiap yang jelek. Sementara itu, kata subbuhun (سُبُّوْحٌ) adalah suatu sifat bagi Allah, yang berarti Allah Maha Suci dari segala sesuatu yang tidak pantas bagi-Nya.

Ar-Ragib Al-Asfahani mengartikan kata as-sabh (السَّبْحُ) sebagai “berlari cepat di dalam air (berenang) atau di udara (terbang)”. Kata itu dapat dipergunakan untuk perjalanan bin­tang di langit, atau lari kuda yang cepat, atau kecepatan beramal. Dinamakan tasbih karena segera pergi untuk beramal dalam rangka menyembah Allah. Kata ini berlaku untuk melakukan kebaikan atau menjauhi kejahatan. Lebih lanjut Al-Asfahani menambahkan, tasbih bisa dalam wujud perkataan, perbuatan ataupun niat. Pengertian tasbih terakhir itu mengacu kepada pengertian isthilahi yang sudah berkembang sampai sekarang.

Kata tasbih dalam bentuk mashdar hanya disebutkan dua kali di dalam Alquran, yaitu di dalam S. Al-Isra’ [17]: 44 dan S. An-Nur [24]: 41. Di dalam bentuk fi’l madhi disebut empat kali, yaitu di dalam S. Al-Hadid [57]: 1, S. Al-Hasyr [59]: 1, S. Ash-Shaff [61]: 1, S. As-Sajadah [32]: 15. Di dalam bentuk fi‘l mu­dhari‘ disebut 20 kali, antara lain di dalam S. Al-Baqarah [2]: 30, S. Ar-Ra‘d [13]: 13, S. Al-Isra’ [17]: 44 (dua kali), S. Al-Anbiya’ [21]: 20 dan 79, S. An-Nur [24]: 36 dan 41, dan lain-lain. Dalam bentuk fi‘l amr disebut 18 kali, antara lain di dalam S. Ali ‘Imran [3]: 4, S. Al-Hijr [15]: 98, S. Maryam [19]: 11, S. Thaha [20]: 130 (dua kali), S. Al-Furqan [25]: 58, S. Al-Ahzab [33]: 42, dan lain-lain. Dalam bentuk Subhana, baik di-idhafah-kan atau tidak, disebut 41 kali, antara lain di dalam S. Yusuf [12]: 108, S. Al-Isra’ [17]: 1, 93, dan 108, S. Al-Anbiya’ [21]: 22, S. Al-Mu’minun [23]: 91, S. An-Naml [27]: 8, S. Al-Qashash [28]: 68, dan lain-lain. Dalam bentuk musabbihun, musabbihin disebut dua kali, yaitu di dalam S. Ash-Shaffat [37]: 143 dan 166.

Firman Allah di dalam S. Al-Isra’ [17]: 44 menjelaskan bahwa langit yang tujuh, bumi dan segala yang ada di dalamnya ber-tasbih kepada Allah, meskipun kita tidak mengetahui tasbih mereka. Muhammad Husain At-Thabathaba’i mengemukakan di dalam tafsirnya, tasbih di sini maksud­nya adalah tanzihun qauli (تَنْزِيْهٌ قَوْلِيٌّ = mensucikan Allah melalui ucapan). Hakikat kalam (كَلاَم) adalah mengungkapkan apa yang terdapat di dalam hati dengan bermacam-macam isyarat. Tatkala manusia tidak mendapatkan apa yang ditujunya melalui isyarat maka ia menggunakan lafaz, yaitu suara yang diperuntukkan bagi suatu pengertian. Dengan cara itu ia menunjukkan apa yang ada di dalam hatinya. Sering pula orang menggunakan isya­rat tangan, kepala dan lainnya untuk menyatakan maksudnya. Demikian juga halnya perbuatan yang menggunakan tulisan atau membuat tanda-tanda. Yang benar, demikian Husain menambahkan, tasbih semua makhluk itu adalah ucapan haqiqi; namun, tidak mesti dengan lafaz tertentu dan suara yang dibunyikan. Ditambahkannya, namun dikenal di kalangan Syi‘ah dan Ahli Sunnah, semua yang ada ini ber-tasbih kepada Allah.

Al-Qurthubi mengemukakan di dalam tafsirnya, terdapat perbedaan pendapat dalam memahami keumuman ayat ini, apakah di-takhshish atau tidak. Satu golongan ulama berpendapat, tidak di-takhshish dan tetap berlaku umum, yaitu semua makh­luk ciptaan Tuhan mengakui bahwa Allah ‘azza wa jalla adalah Maha Pencipta dan Maha Kuasa. Tasbih di sini merupa­kan tasbihud-dalalah (تَسْبِيْح الدَّلاَلَة), bukan tasbihul-haqiqah (تَسْبِيْح الْحَقِيْقَة); namun, kita tidak dapat mendengar dan memahami tasbih mereka. Ada lagi yang berpendapat, meskipun kata asy-syay’ (الشَّيْء) di dalam ayat ini bersifat umum; namun, maksudnya adalah khusus, yaitu ter­tentu pada makhluk hidup dan manusia, tidak mencakup benda-benda mati. Ini dikuatkan dengan adanya ucapan ‘Ikr­imah bahwa pohon kayu ber-tasbih, sedangkan benda mati tidak.

Sayyid Quthb di dalam tafsirnya lebih menekankan hikmah yang bisa diambil oleh manusia dari tasbih yang dilakukan oleh burung dan makhluk-makhluk lainnya yang ada di langit dan dibumi. Bila makhluk lain tersebut selalu ber-tasbih kepada Allah, maka manusia lebih pantas lagi untuk melaku­kannya dan tidak sewajarnya mereka lalai.

Kata tasbih yang ada di dalam Alquran ternyata obyeknya selalu nama Allah, yaitu mereka ber-tasbih memuji Allah, sedangkan subyek atau yang melakukannya bukan hanya manusia, tetapi juga makhluk lain, seperti malaikat, jin, gunung, burung, dan makhluk-makhluk lainnya. Setiap kata subhana (سُبْحَانَ) selalu dihubungkan dengan kata Allah, atau rabbi, rabbika dan al-ladzi. Umpamanya subhanallah (سُبْحَانَ اللهِ), subhana rabbika (سُبْحَانَ رَبِّكَ ), subhana rabbi (سُبْحَانَ رَبِّ), dan Subhana al-ladzi (سُبْحَانَ الَّذِيْ). (Hasan Zaini)

PUSAT STUDI AL-QUR’AN ~ http://www.psq.or.id/ensiklopedia_detail.asp?mnid=34&id=120

Apakah Maksud dari Bertasbihnya segala sesuatu di alam semesta?

Di dalam beberapa ayat Al-Qur’an disebutkan tasbih dan tahmîd (puja dan puji) seluruh makhluk semesta kepada Allah Swt. Barangkali yang paling gamblang dari ayat-ayat tersebut adalah firman Allah: “… dan tidak suatu pun melainkan bertasbih memuji kepada-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka ….” (QS. Al-Isra’ [17]: 44). Dalam ayat ini disebutkan bahwa seluruh makhluk alam memuji dan bertasbih kepada Allah Swt.

Dalam penafsiran hakikat tasbih dan pujian ini, terdapat perbedaan pendapat yang tidak sedikit di antara para ulama, filsuf dan mufassir.

Sebagian mereka beranggapan bahwa tasbih dan pujian seluruh makhluk adalah dengan bahasa wujud masing-masing. Dan sebagian yang lain berkeyakinan bahwa tasbih dan pujian mereka adalah bahasa lisan. Kesimpulan pendapat mereka yang dapat kita terima adalah di bawah ini:

a. Sebagian berkeyakinan bahwa seluruh partikel alam cipta ini, dari yang kita anggap berakal, atau tanpa ruh dan tidak berakal, memiliki satu jenis pengetahuan. Dan pada wujudnya masing-masing, mereka bertasbih dan memuji Allah Swt. Kendati demikian, kita tidak mampu memahami jenis pengetahuan mereka dan mendengarkan alunan tasbih dan pujian mereka. Ayat-ayat seperti, “… di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah ….” (QS.Al-Baqarah [2]: 74), dan, “… Lalu Ia berkata kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah Kamu berkedua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati dan taat kepada perintahMu.’” (QS.Fushshilat [33]: 11) atau ayat-ayat senada yang dapat dijadikan sebagai bukti atas akidah ini.

b. Mayoritas mufassirin (pakar dalam bidang tafsir) meyakini bahwa tasbih dan pujian adalah sesuatu yang kita kenal sebagai bahasa wujud, bermakbna hakiki, bukan figuratif; dalam bahasa wujud, bukan bahasa lisan. (Perhatikan baik-baik!).

Penjelasan

Ketika kita melihat seseorang sedang bersedih dan tampak kurang tidur, kita dapat mengatakan kepadanya, “Meskipun engkau tidak menceritakan kesedihanmu, matamu menunjukkan bahwa engkau tidak tidur semalam suntuk, dan raut wajahmu memberikan kesaksian bahwa engkau sakit.”

Bahasa wujud ini kerap sedemikian kuat dan energiknya sehingga ia dapat membuat bahasa lisan berada di bawah kekuatannya dan ia tidak dapat didustakan. Seorang pujangga bersyair,

Kuberkata dengan tipu dan kecoh, kututupi rahasia diri,
Tak tertutup darah berlalu dari pandanganku.

Untaian syair ini serupa dengan apa yang disampaikan oleh Imam Ali a.s. dalam ucapannya yang terkenal, “Seseorang tidak dapat menyembunyikan rahasia hatinya kecuali akan tersingkap dari kata-kata yang tersirat dan raut wajahnya.”[1]

Dari sisi lain, apakah seseorang dapat mengingkari sebuah papan yang amat indah sebagai tanda nilai seni yang tinggi (artistik) yang menjadi saksi atas kepandaian dan talenta seorang pelukis, lalu memuji dan memujanya? Apakah ia dapat mengingkari diwân (kumpulan bait) syair para pujangga besar dan ternama yang mengisahkan disposisi fitrah tinggi mereka, lalu senantiasa memujinya? Apakah dapat diingkari bahwa gedung-gedung tinggi dan pabrik-pabrik besar serta otak-otak rumit elektronika dan semisalnya adalah ungkapan lisan; tanpa wicara dari seorang pencipta dan perancangnya? tidakkah masing-masing sesuai dengan batas profesi dan karya mereka, pasti akan dipuji oleh orang-orang yang menyaksikannya?

Oleh karena itu, harus diterima bahwa keajaiban alam wujud dengan sistemnya yang menakjubkan, dengan rahasia dan misteri, dengan keagungan yang membawa kebaikan, dan dengan pekerjaan-pekerjaan sempurnanya akan sekalu bertasbih dan memuja Allah swt.

Bukankah tasbih tidak lain adalah penyucian dan pengudusan sesuatu dari segala aib dan noda? Bangunan dan sistem alam semesta yang dibuat oleh Penciptanya ini terbebas dari segala aib dan noda.

Bukankah pujian tidak lain adalah penjelasan atas kesempurnaan? Sistem penciptaan menyingkapkan kesempurnaan Tuhan; sistem yang bersumber dari ilmu dan kemahakuasaan-Nya yang Nir-batas, dari hikmah-Nya yang serba luas dan meliput.

Inilah makna tasbih dan pujian seluruh makhluk alam semesta secara umum, yang secara sempurna dapat kita pahami, dan tanpa kita perlu percaya bahwa seluruh atom-atom alam ini memiliki pengetahuan, lantaran kita tidak memiliki dalil pasti atas hal ini. Dan ayat-ayat yang disitir di atas juga memberikan kemungkinan besar bahwa yang dimaksudkan adalah bahasa wujud.

Akan tetapi, di sini masih tersisa pertanyaan. Yaitu, sekiranya maksud dari tasbih dan pujian itu hanyalah mengisahkan sistem penciptaan yang bersumber dari kesucian, keagungan dan kemahakuasaan Tuhan Yang Mahakuasa, dan menjelaskan sifat Salbiyah dan Tsubutiyah Allah Swt., lalu mengapa Al-Qur’an menyatakan bahwa Kamu tidak memahami tasbih dan pujian mereka? Kalau benar bahwa sebagian orang (awam) tidak memahaminya, setidaknya ulama dapat memahami ihwal tersebut!

Ada tiga jawaban atas pertanyaan ini:

Pertama, mayoritas manusia, khususnya musyrikin tidak mengerti, sementara para ulama tergolong minoritas. Maka, mereka masuk ke dalam pengecualian, karena pada hal yang bersifat umum terdapat pengecualian.

Kedua, apa yang kita ketahui tentang rahasia semesta dibandingkan dengan apa yang tidak kita ketahui ibarat setetes air di samudra dan sebiji atom di gunung raksasa. Sejenak saja benar-benar merenungkannya, kita tidak dapat melekatkan nama ilmu atau pengetahuan atasnya.

Hingga titik aku mengetahui ilmuku,
Kini aku tahu bahwa aku tidak tahu.

Oleh karena itu, sejatinya kita tidak dapat mendengarkan tasbih dan pujian wujud-wujud ini, betapapun kita adalah seorang ulama. Karena apa yang kita dengarkan hanyalah sebuah kalimat dari sebuah buku besar. Maka dari itu, dapat diasumsikan melalui sebuah hukum umum atas seluruh makhluk, bahwa Kamu tidak mampu mengetahui tasbih dan pujian seluruh makhluk yang memiliki bahasa wujud ini. Karena apa yang kita ketahui bukanlah sesuatu sehingga dapat diperhitungkan.

c. Sebagian mufassir juga memberikan kemungkinan bahwa tasbih dan pujian seluruh makhluk secara umum di sini merupakan sintesa dari bahasa wujud dan bahasa lisan. Dengan kata lain, tasbih takwînî dan tasbih tasyrî’î. Kerena, kebanyakan manusia dan seluruh malaikat -berdasarkan pengetahuan- memuji dan memuja-Nya dan seluruh partikel alam semesta juga dengan bahasa wujud memuja kebesaran dan keagungan-Nya.

Meski dua jenis pujian dan tasbih berbeda satu dengan yang lainnya, namun secara umum makna tasbih dan pujian dalam arti luas adalah sinonim.

Meski begitu, tampaknya tafsir yang kedua dengan elaborasi yang kami uraikan di atas lebih melegakan hati dibandingkan yang lain.[2]

[1] Nahjul Balâghah, Hikmah-hikmah Pendek, No. 26)
[2] Tafsir Nemûneh, jilid 12, hal. 134.
BY. http://www.telagahikmah.org/kalam/110/20.htm

Meditasi Orbit Semesta Bertasbih 2

MAKNA ARTI SEBUAH TASBIH
Sebuah tasbih adalah sebuah kehidupan. Berawal dan berakhir dtitik yg sama. Bukan tasbih namanya, jika hanya terdiri dari satu butir. Bukan kehidupan namanya jika hanya satu dimensi. Kehidupan akan sempurna dan indah bila telah melewati serangkaian untain butiran suka, duka, derita, bahagia, gembira, gagal sukses, pasang, surut.

Untuk melewati semua itu, dibutuhkan keberanian, kesabaran, kekuatan, dan perjuangan untuk terus meniti, berjalan, mendaki. Sebab, seperti tasbih yg melingkar, kehidupan pun demikian. Ke mana pun kita pergi dan berlari, tetap masih dalam lingkaran takdir Allah. Dari-Nya, kehidupan dimulai dan kepada-Nya akan berakhir

Mungkin itukah yg kemudian tasbih identik dengan dzikir, mengingat Allah. Tasbih menjadi tanda kesalehan, kedekatan hamba pada Allah. Namun, Sebenarnya tasbih juga penanda perjuangan dan semangat. Gambaran kehidupan sejati.

juga cinta. Akal manusia terlalu picik jika mengira tasbih hanya cocok untuk mereka yg dekat dengan maut. Salah. Dalam kehidupan di dunia yg sesungguhnya, tasbih adalah wakil jiwa yg selalu bergerak, tidak pernah berhenti, pantang menyerah, tidak mengenal putus asa, untuk meraih yg lebih tinggi, bahwa hidup adalah karunia paling berharga untuk mahkluk yg bernama manusia. Maka, jangan pernah mengharap cinta, bila engkau tidak memiliki keberanian. Jangan memeluk cinta, bila takut gagal, kecewa, dan sakit hati. Semua itu adalah paket yg akan ditemukan oleh siapapun dalam meraih cinta.

Cinta. Bisakah aku memahami cinta melalui benda ini? Mengapa tidak. Cinta adalah sisi lain yg tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Tasbih adalah keutuhan yg diikat pada sebuah simpul. Hal itu dilakukan agar butiran butiran kecil dapat menyatu, saling tertautan, seimbang, dan bila dilihat tampak indah. Cinta juga akan menjadi indah jika diterima sebagai keutuhan. Mencintai adalah aktivitas berat yg membutuhkan keberanian untuk menerima yg dicintai dengan utuh. Sisi kelebihan, sudah pasti mudah menerimanya. Tapi, bagaimana sisi lainnya yg pasti ada: kekurangan, kelemahan. Semudah itukah menerimanya?

Agar cinta juga menjadi abadi dan kuat, dibutuhkan kesediaan dua ujungnya untuk diikat dalam satu simpul yg kokoh. Tanpa ikatan, tanpa simpul, cinta akan terburai menjadi butiran butiran egoisme yg tercerai berai. Bila demikian, bisakah cinta dipandang sebagai sebuah keindahan? Bahkan, apakah bisa disebut cinta, bila untuk saling berdekatan hati saja, sudah tidak mampu?

>Meditasi Orbit Semesta Bertasbih 4

>

Metode Meditasi Orbit Semesta adalah salah satu tekhnik meditasi yang ditawarkan oleh NAQS Methode. Tekhnik ini diberikan sebagai pelajaran Dasar Meditasi yang diberikan selain Meditasi Kultivasi, Meditasi Zero LI, & Meditasi Pernafasan Bioenergi NAQS ALAM.

Dengan berlatih Meditasi Orbit Semesta maka praktisi hakikatnya sedang menyelaraskan diri dengan Tasbih dari Alam Semesta Fisik dan Metafisik. Selaras dengan Tasbih Seluruh Makhluk, hamba-hamba Tuhan, dan Para Malaikat. Bergetar selaras dalam sebuah medan energi yang sama yang menghasilkan sebuah Harmoni Melodi yang indah dan dahsyat. Karena terhubung langsung dengan Sumber Getaran Yang Menciptakan dan Memelihara Alam Semesta, yaitu The God Al Mighty.

FIRMAN ALLAH DALAM QS.Al Ahzab ayat 41 – 48 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً
41. Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.
وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً
42. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيماً
43. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.
تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلَامٌ وَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْراً كَرِيماً
44. Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mu’min itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam ; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِداً وَمُبَشِّراً وَنَذِيراً
45. Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan,
وَدَاعِياً إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجاً مُّنِيراً
46. dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.
وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُم مِّنَ اللَّهِ فَضْلاً كَبِيراً
47. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mu’min bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.
وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ وَدَعْ أَذَاهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلاً
48. Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang- orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.( QS. An Nisaa 4:142 )

Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.( QS. Huud 11:41 )

Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.( QS. An Naml 27:30 )

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.( QS. Al Ahzab 33:21 )
Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar.
( QS. Al Haaqqah 69:52 )

Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya], bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.( QS. Al Baqarah 2:203 )

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.
( QS. Al Israa’ 17:44 )

maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya.( QS. Al Anbiyaa’ 21:79 )

Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya [1044], dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.( QS. An Nuur 24:41 )

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuk- nya,( QS. Saba’ 34:10 )

Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi,( QS. Shaad 38:18 )

Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-mmlaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.
( QS. Az-Zumar 39:75 )

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,
( QS. Al Mu’min 40:7 )

Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atas (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Penyayang.
( QS. Asy Syuura 42:5 )

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
( QS. Al Jumuah 62:1 )

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
( QS. Al Hasyr 59:24 )

Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
( QS. At Taghaabun 64:1 )

>Kultivasi, Takhalli, Tahalli, & Tajalli

>

Proses Kultivasi adalah sebuah proses Tazkiyatun Nafs, yaitu sebuah proses penyucian jiwa & raga. Meningkatkan kualitas kemanusian kita dalam meraih derajat manusia mulya Insan Kamil. Ada 3 kekuatan yg berlangsung saat proses, yaitu Takhalli, Tahalli, & Tajalli. Pemurnian Energi, Transformasi Energi, & Munculnya Potensi.

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari golongan mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata”. (Al-Jumu’ah: 2).

Jiwa manusia sering menerima serangan dari berbagai penyakit hati yang mengakibatkan akhhlak manusia menjadi buruk, tidak sesuai dengan yang Allah gariskan dan Rasul-Nya contohkan. Bisa jadi orang yang terkena penyakit hati akan menjadi malas beribadah, pelaku maksiat, atau hamba dari hawa nafsunya.

Oleh karena itu, menyucikan dan membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs) dari berbagai penyakit hati merupakan suatu keharusan sebagaimana yang Allah serukan dalam Al-Qur’an, dan itu menjadi aktifitas yang tak terpisahkan dari keseharian orang muslim. Alah sangat menyukai hamba-hamba-Nya yang menyucikan jiwa dan sangat membenci hamba-hamba-Nya yang mengotori jiwa dengan kemaksiatan.

Dengan demikian, seseorang yang mengharapkan keridhaan Allah dan kebahagiaan abadi di hari akhir hendaknya benar-benar memberi perhatian khusus pada tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Ia harus berupaya agar jiwanya senantiasa berada dalam kondisi suci. Kedatangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ke dunia ini tak lain adalah untuk menyucikan jiwa manusia. Ini sangat terlihat jelas pada jiwa para sahabat antara sebelum memeluk Islam dan sesudahnya. Sebelum mengenal Al-Islam jiwa mereka dalam keadaan kotor oleh debu-debu syirik, ashabiyah (fanatisme suku), dendam, iri, dengki dan sebagainya. Namun begitu telah disibghah (diwarnai) oleh syariat Islam yang dibawa Rasulullah SAW, mereka menjadi bersih, bertauhid, ikhlas, sabar, ridha, zuhud dan sebagainya.

Keberuntungan dan kesuksesan seseorang, sangat ditentukan oleh seberapa jauh ia men-tazkiyah dirinya. Barangsiapa tekun membersihkan jiwanya maka sukseslah hidupnya. Sebaliknya yang mengotori jiwanya akan senantiasa merugi, gagal dalam hidup. Hal itu diperkuat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sumpahNya sebanyak sebelas kali berturut-turut, padahal dalam Al-Qur’an tidak dijumpai keterangan yang memuat sumpah Allah sebanyak itu secara berurutan. Marilah kita perhatikan firman Allah sebagai berikut:

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan malam bila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penciptaannya (yang sempurna), maka Allah mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”.(Asy-Syams: 1-10).

Dalam ayat yang lain juga disebutkan bahwa nantinya harta dan anak-anak tidak bermanfaat di akhirat. Tetapi yang bisa memberi manfaat adalah orang yang menghadap Allah dengan Qalbun Salim , yaitu hati yang bersih dan suci.

Firman Allah:

“yaitu di hari harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (Asy-Syu’araa’:88-89).

Hakekat Tazkiyatun Nafs
Secara umum aktivitas tazkiyatun nafs mengarah pada dua kecenderungan, yaitu

  1. Membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela, membuang seluruh penyakit hati.
  2. Menghiasi jiwa dengan sifat-sifat terpuji.

Kedua hal itu harus berjalan seiring, tidak boleh hanya dikerjakan satu bagian kemudian meninggalkan bagian yang lain. Jiwa yang cuma dibersihkan dari sifat tercela saja, tanpa dibarengi dengan menghiasi dengan sifat-sifat kebaikan menjadi kurang lengkap dan tidak sempurna. Sebaliknya, sekedar menghiasi jiwa dengan sifat terpuji tanpa menumpas penyakit-penyakit hati, juga akan sangat ironis. Tidak wajar. Ibaratnya seperti sepasang pengantin, sebelum berhias dengan beragam hiasan, mereka harus mandi terlebih dahulu agar badannya bersih. Sangat buruk andaikata belum mandi (membersihkan kotoran-kotoran di badan) lantas begitu saja dirias. Hasilnya tentu sebuah pemandangan yang mungkin saja indah tetapi bila orang mendekat akan tercium bau tak sedap.

Wasilah Tazkiyatun Nafs

Wasilah (sarana) untuk men-tazkiyah jiwa tidak boleh keluar dari patokan-patokan syar’i yang telah ditetapkan Allah dan rasulNya. Seluruh wasilah tazkiyatun nafs adalah beragam ibadah dan amal-amal shalih yang telah disyariatkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Sesungguhnya rangkaian ibadah yang diajarkan Allah dan RasulNya telah memuat asas-asas tazkiyatun nafs dengan sendirinya. Bahkan bisa dikatakan bahwa inti dari ibadah-ibadah seperti shalat, shaum, zakat, haji, dzikir dan lain-lain itu tidak lain adalah aspek-aspek tazkiyah.

Shalat misalnya, bila dikerjakan secara khusyu’, ikhlas dan sesuai dengan syariat, niscaya akan menjadi pembersih jiwa, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berikut:

Abu Hurairah radhiyallaahu anhu berkata: Saya telah mendengar Rasulullah n bersabda: “Bagaimanakah pendapat kamu kalau di muka pintu (rumah) salah satu dari kamu ada sebuah sungai, dan ia mandi daripadanya tiap hari lima kali, apakah masih ada tertinggal kotorannya? Jawab sahabat: Tidak. Sabda Nabi: “Maka demikianlah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus dengannya dosa-dosa“. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dari hadits di atas nampak sekali bahwa misi utama penegakan shalat adalah menyangkut tazkiyatun nafs. Artinya, dengan shalat secara benar (sesuai sunnah), ikhlas dan khusyu’, jiwa akan menjadi bersih, yang digambarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam seperti mandi di sungai lima kali. Sebuah perumpamaan atas terhapusnya kotoran-kotoran dosa dari jiwa. Secara demikian, bisa kita bayangkan kalau ibadah shalat ini ditambah dengan shalat-shalat sunnah. Tentu nilai kebersihan jiwa yang diraih lebih banyak lagi.

Demikian pula masalah shaum (puasa). Hakekat puasa yang paling dalam berada pada aspek tazkiyah. Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:

Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum“. (HR Al-Bukhari, Ahmad dan lainnya).

Dalam hadits yang lain disebutkan:

“Adakalanya orang berpuasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga”. (HR Ahmad).

Ini menunjukkan betapa soal-soal tazkiyatun nafs benar-benar mewarnai dalam ibadah puasa, sehingga tanpa membuat-buat syariat baru sesungguhnya apa yang datang dari syariat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bila diresapi secara mendalam benar-benar telah mencukupi.

Hal yang sama dijumpai pada ibadah qurban. Esensi utama qurban adalah ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berarti soal pembersihan jiwa dan bukan terbatas pada daging dan darah qurban.

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Daging-daging dan darahnya itu, sekali-kali tidak dapat mencapai derajat (keridhaan) Allah, tetapi keaqwaan daripada kamulah yang dapat mencapainya“.(Al-Hajj: 37).

Kalau diteliti lagi masih banyak sekali ibadah dalam syariat Islam yang muara akhirnya adalah pembersihan jiwa. Dengan mengikuti apa yang diajarkan syariat, niscaya seorang muslim telah mendapatkan tazkiyatun nafs. Contohnya adalah para sahabat Rasulullah. Mereka adalah generasi yang paling dekat dengan zaman kenabian dan masih bersih pemahaman agamanya, karenanya mereka memiliki jiwa-jiwa yang suci lantaran ber-ittiba’ pada sunnah Rasul dan tanpa menciptakan cara-cara bid’ah dalam tazkiyatun nafs. Mereka mendapatkan kesucian jiwa tanpa harus menjadi seorang sufi yang hidup dengan syariat yang aneh-aneh dan njlimet (rumit).

Bagi seorang muslim, ia harus berupaya menggapai masalah tazkiyatun nafs dari serangkaian ibadah yang dikerjakannya. Artinya, ibadah yang dilakukan jangan hanya menjadi gerak-gerak fisik yang kosong dari ruh keimanan dan taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, ibadah apapun yang kita kerjakan hendaknya juga bernuansa pembersihan jiwa. Dengan cara seperti inilah, insya Allah kita bisa mencapai keberuntungan.

Takhalli, Tahalli, & Tajalli
Manusia dilengkapi oleh Allah dua hal pokok, yaitu jasmani dan rohani. Dua hal ini memiliki keperluan masing-masing. Jasmani membutuhkan makan, minum, pelampiasan syahwat, keindahan, pakaian, perhiasan-perhiasan dan kemasyhuran. Rohani, pada sisi lain, membutuhkan kedamaian, ketenteraman, kasih-sayang dan cinta.

Para sufi menegaskan bahwa hakekat sesungguhnya manusia adalah rohaninya. Ia adalah muara segala kebajikan. Kebahagiaan badani sangat tergantung pada kebahagiaan rohani. Sedang, kebahagiaan rohani tidak terikat pada wujud luar jasmani manusia. Sebagai inti hidup, rohani harus ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi. Semakin tinggi rohani diletakkan, kedudukan manusia akan semakin agung. Jika rohani berada pada tempat rendah, hina pulalah hidup manusia. Fitrah rohani adalah kemuliaan, jasmani pada kerendahan. Badan yang tidak memiliki rohani tinggi, akan selalu menuntut pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rendah hewani. Rohani hendaknya dibebaskan dari ikatan keinginan hewani, yaitu kecintaan pada pemenuhan syahwat dan keduniaan. Hati manusia yang terpenuhi dengan cinta pada dunia, akan melahirkan kegelisahan dan kebimbangan yang tidak berujung. Hati adalah cerminan ruh. Kebutuhan ruh akan cinta bukan untuk dipenuhi dengan kesibukan pada dunia. Ia harus bersih.

Dalam rangkaian metode pembersihan hati, para sufi menetapkan dengan tiga tahap : Takhalli, Tahalli, dan Tajalli.

Takhalli, sebagai tahap pertama dalam mengurus hati, adalah membersihkan hati dari keterikatan pada dunia. Hati, sebagai langkah pertama, harus dikosongkan. Ia disyaratkan terbebas dari kecintaan terhadap dunia, anak, istri, harta dan segala keinginan duniawi.

Dunia dan isinya, oleh para sufi, dipandang rendah. Ia bukan hakekat tujuan manusia. Manakala kita meninggalkan dunia ini, harta akan sirna dan lenyap. Hati yang sibuk pada dunia, saat ditinggalkannya, akan dihinggapi kesedihan, kekecewaan, kepedihan dan penderitaan. Untuk melepaskan diri dari segala bentuk kesedihan, lanjut para saleh sufi, seorang manusia harus terlebih dulu melepaskan hatinya dari kecintaan pada dunia.

Tahalli, sebagai tahap kedua berikutnya, adalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan dengan isi yang lain, yaitu Allah (swt). Pada tahap ini, hati harus selalu disibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, melepas selain-Nya, akan mendatangkan kedamaian. Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari dalam hatinya. Hilangnya dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan mengecewakan. Waktunya sibuk hanya untuk Allah, bersenandung dalam dzikir. Pada saat tahalli, lantaran kesibukan dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, anggota tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya ikut bersenandung dzikir. Lidahnya basah dengan lafadz kebesaran Allah yang tidak henti-hentinya didengungkan setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran Tuhannya dalam berbuat. Begitu pula, mata, kaki, dan anggota tubuh yang lain. Pada tahap ini, hati akan merasai ketenangan. Kegelisahannya bukan lagi pada dunia yang menipu. Kesedihannya bukan pada anak dan istri yang tidak akan menyertai kita saat maut menjemput. Kepedihannya bukan pada syahwat badani yang seringkali memperosokkan pada kebinatangan. Tapi hanya kepada Allah. Hatinya sedih jika tidak mengingat Allah dalam setiap detik.

Setelah tahap ‘pengosongan’ dan ‘pengisian’, sebagai tahap ketiga adalah Tajalli. Yaitu, tahapan dimana kebahagian sejati telah datang. Ia lenyap dalam wilayah Jalla Jalaluh, Allah subhanahu wata’ala. Ia lebur bersama Allah dalam kenikmatan yang tidak bisa dilukiskan. Ia bahagia dalam keridho’an-Nya. Pada tahap ini, para sufi menyebutnya sebagai ma’rifah, orang yang sempurna sebagai manusia luhur.

Syekh Abdul Qadir Jaelani menyebutnya sebagai insan kamil, manusia sempurna. Ia bukan lagi hewan, tapi seorang malaikat yang berbadan manusia. Rohaninya telah mencapai ketinggian kebahagiaan. Tradisi sufi menyebut orang yang telah masuk pada tahap ketiga ini sebagai waliyullah, kekasih Allah. Orang-orang yang telah memasuki tahapan Tajalli ini, ia telah mencapai derajat tertinggi kerohanian manusia. Derajat ini pernah dilalui oleh Hasan Basri, Imam Junaidi al-Baghdadi, Sirri Singkiti, Imam Ghazali, Rabiah al-Adawiyyah, Ma’ruf al-Karkhi, Imam Qusyairi, Ibrahim Ad-ham, Abu Nasr Sarraj, Abu Bakar Kalabadhi, Abu Talib Makki, Sayyid Ali Hujweri, Syekh Abdul Qadir Jaelani, dan lain sebagainya. Tahap inilah hakekat hidup dapat ditemui, yaitu kebahagiaan sejati.

Wallahu a’lam

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.