Ilmu Hipnotis

Sebuah ilmu pengetahuan adalah bersifat netral, baik buruknya sebuah ilmu tergantung dari si pemakai ilmu. Hipnotis & NLP adalah sebuah ilmu yang ilmiah. Merupakan bagian dari ilmu yang mempelajari psikologi manusia dan terkait dengan pemrograman Fikiran dan Perilaku. Untuk membentengi diri dan keluarga dari kejahatan yang diakibatkan oleh penyimpangan ilmu ini, maka kita juga harus mengerti tentang ilmu ini. Paling tidak kita faham dasar-dasar dari prinsip kerjanya. Sehingga dapat mengantisipasinya. Dibawah ini saya sajikan sekilas tentang ilmu hipnotis.

Hipnosis (Inggris: hypnosis) adalah teknik atau praktik dalam mempengaruhi orang lain secara sengaja untuk masuk ke dalam kondisi yang menyerupai tidur, dimana seseorang yang terhipnotis bisa menjawab pertanyaan yang diajukan, serta menerima sugesti dengan tanpa perlawanan. Teknik ini sering dilakukan untuk menjelajahi alam bawah sadar.

Baca selengkapnya »

Hipnoterapi : Ego State Therapy [Memahami Kepribadian Lain Dalam Diri]

by. Adi W. Gunawan
Dalam hipnoterapi ada sangat banyak teknik intervensi klinis yang bisa digunakan untuk membantu klien mengatasi masalah mereka. Dari sekian banyak teknik, salah satunya yang sangat efektif adalah Ego State Therapy.

Ego State Therapy adalah terapi yang dilakukan pada Ego State. Untuk memahaminya kita perlu memahami Ego State. Apa sih Ego State itu?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas ijinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan pada anda. Pernahkah anda mengalami hal berikut:

  1. Sewaktu bangun di pagi hari anda merasa ada dua bagian dari diri anda yang “ribut”. Satu bagian ingin anda segera bangun dan yang satu lagi ingin anda melanjutkan tidur.
  2. Saat anda harus memilih atau membuat keputusan anda bingung karena ada beberapa bagian dari diri anda yang saling tidak setuju dengan keputusan anda.
  3. Anda merasa tidak nyaman atau ada perasaan bersalah setelah melakukan suatu tindakan. Padahal saat melakukannya anda merasa sangat yakin dengan tindakan anda.

Pembaca, bila anda mengalami salah satu saja dari tiga hal di atas maka sebenarnya ada telah mengalami Ego State. Dengan kata lain, Ego State sebenarnya adalah bagian dari diri kita yang aktif atau mengendalikan diri kita pada suatu saat tertentu.

Ego State, menurut Watkins dan Watkins, adalah sebuah sistem perilaku dan pengalaman yang terorganisir yang elemen-elemennya saling terhubung melalui beberapa prinsip yang sama tetapi saling dipisahkan oleh batas-batas yang dapat ditembus (permeabilitas) hingga derajat kedalaman dan fleksibilitas tertentu.

Ada berapa banyak Ego State dalam diri kita?
Tidak ada satupun pakar yang bisa menentukan secara pasti. Ini juga bergantung pada teori masing-masing pakar itu. Tansactional Analysis (TA) yang dikembangkan oleh Eric Berne mengatakan dalam diri kita ada lima ”diri”. Gestalt Therapy, yang dikembangkan oleh Frederick Perls berdasar Psychodrama-nya Jacob Moreno, tidak menetapkan suatu jumlah tertentu. Voice Dialogue dan Psychosynthesis mengatakan kita punya banyak ”diri”. Carl Jung juga mengatakan hal yang sama, tidak diketahui secara pasti ada berapa banyak ”diri” dalam diri kita.

Namun untuk lebih mudah memahami maka saya akan mengutip apa yang dikatakan oleh Rowan. Menurut Rowan kita punya antara empat sampai sembilan ”diri” atau ”bagian” yang masing-masing adalah tema besar yang menaungi ”sub-diri”. Masing-masing ”diri” mempunyai kehidupan, fungsi, kepribadian, dan tugas masing-masing. Mereka saling terhubung antara satu dengan yang lain.

Nah, itu sekilas tentang beberapa teori yang mirip dengan Ego State. Sekarang mari kita bahas sejarah dan perkembangan Ego State Therapy.

Orang pertama yang menulis tentang Ego State adalah Paul Federn, rekan sejawat Freud. Menurut teori yang dikembangkannya Federn mengatakan bahwa kepribadian seseorang tersusun atas sekelompok bagian yang ia sebut sebagai Ego State. Ego State yang aktif pada suatu saat tertentu menentukan kepribadian orang itu.

Walaupun Federn (1952) menetapkan dan menyusun teori tentang Ego State, ia tidak mengembangkan teknik terapi menggunakan dasar teori kepribadian ini. Federn melakukan praktik terapi psikoanalisa sejalan dengan orientasi terapi yang populer pada jamannya.

Sementara itu, di tahun 1957, Eloardo Weiss, seorang Italia yang sedang dalam proses menyelesaikan pendidikannya untuk menjadi seorang psikoanalis, belajar ke Paul Federn. Federn menceritakan pandangannya tentang kepribadian kepada Weiss.

Selanjutnya John Waktins mendapat pengetahuan ini pada saat belajar di bawah bimbingan Weiss sebagai bagian dari proses pendidikannya untuk menjadi seorang psikoanalis. Dari sinilah Ego State Therapy berkembang.

Dalam praktiknya sebagai psikolog utama di Welsh Convalescent Center membantu tentara yang kembali dari perang dunia kedua Waktins menemukan bahwa tentara yang diterapi dengan menggunakan hipnosis mengalami pertukaran kondisi emosi tertentu. Pada saat itu Watkins belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada tentara yang ia tangani. Barulah pada saat ia belajar ke Weiss dan mendapatkan informasi mengenai Ego State akhirnya Watkins bisa memahami dasar teori dari apa yang ia temukan.

Di pertengahan tahun 1970, Hilgard dan Hilgard menemukan bagian dari diri manusia yang mereka sebut dengan Hidden Observer atau Pengamat Tersembunyi. Mereka menemukan adanya Hidden Observer melalui eksperimen fenomena trance seperti negative auditory hallucination dan anesthesia.

Dalam eksperimen ini subjek penelitian seakan tidak bisa mendengar atau merasakan sakit namun ternyata ada bagian dari diri subjek yang sesungguhnya tetap mendengar dan merasakan semua ini.

John Waktins mengenali Hidden Observer sama dengan Ego State yang dikatakan oleh Federn dan Weiss. Untuk memastikan hal ini, John Watkins dan istrinya, Helen Watkins, mengulang eksperimen Hilgard dan menemukan bukti yang memvalidasi pemikiran mereka.

Sejak awal tahun 1970an John dan Helen Watkins mulai mempublikasikan hasil riset mereka mengenai Ego State di berbagai jurnal dan artikel. Dan pada tahun 1997 mereka menerbitkan buku dengan judul Ego States: Theory and Therapy.

Beberapa pakar yang juga menulis tentang Ego State Therapy dan dipublikasikan dalam bentuk artikel jurnal dan buku: Maggie Phillips, Clare Frederick, Shirley McNeal, Moshe Torem, Waltermade Hartman, Gordon Emmerson, Hunter, George Fraser, dan Michael Gainer. Di tahun 2003 diselenggarakan kongres dunia pertama Ego State Therapy di Bad Orb, satu kota dekat Frankfurt.

Bagaimana Ego State Terbentuk?

Menurut Watkins Ego State terbentuk karena tiga hal. 

  1. Pertama melalui normal differentiation yaitu anak belajar membedakan satu hal dengan yang lainnya, misalnya makanan yang ia suka dan tidak suka, orang yang baik dan tidak baik terhadap dirinya.
  2. Kedua adalah introjection of significant others yaitu anak menyerap energi positif atau negatif dari orang “penting” di sekitar anak, misalnya orangtua, guru, teman, atau siapa saja yang dianggap penting oleh anak, dan energi ini termanifestasi dalam diri anak dalam bentuk “Bagian Diri” yang dinamakan Introject. Dengan kata lain introject adalah manifestasi/perwujudan suatu figur yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan seseorang yang diadopsi/tersimpan dan “hidup” di dalam ingatan/mental/pikiran bawah sadar orang tersebut. Contoh introject antara lain sosok atau figur dari ayah, ibu, suami, istri, saudara, anak, tokoh agama, guru spiritual, dan lain-lain.
  3. Ketiga, Part atau bagian diri yang terbentuk akibat pengalaman traumatik. Saat anak mengalami suatu pengalaman traumatik dan tidak ada Ego State dalam dirinya yang mampu menangani trauma ini maka akan muncul atau tercipta Ego State baru yang khusus berfungsi menangani trauma ini.

Sedangkan menurut teori perkembangan otak, Ego State terbentuk sebagai akibat dari pengalaman atau kejadian yang dialami anak yang bersifat berkesinambungan atau berulang. Misalnya pada masa kecil seorang anak dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kasih sayang dan mendukungnya maka akan muncul Ego State yang mempunyai sifat kasih sayang. Ego

State ini muncul karena anak mengalami pengalaman secara berulang (baca: stimulasi) sehingga di otak anak terjadi pembentukan jalur saraf yang terdiri dari koneksi axon dan dendrite yang mewakili pengalaman ini. Demikan pula bila anak dibesarkan dalam lingkungan yang keras maka akan muncul atau tercipta Ego State dengan sifat yang keras.

Klasifikasi Ego State

Surface dan Underlying Ego State
Dilihat dari seberapa sering suatu Ego State muncul atau aktif maka kita mengenal ada dua jenis Ego State yaitu Surface dan Underlying Ego State. Surface Ego State adalah Ego State yang sering muncul atau digunakan dalam menjalani hidup dan berinteraksi dengan lingkungan. Sedangkan Underlying Ego State adalah Ego State yang jarang muncul atau digunakan.

Saat seseorang mengalami suatu pengalaman hidup dengan menggunakan Ego State tertentu maka Ego State ini disebut sebagai Ego State yang executive atau yang memegang kendali. Secara umum dalam keseharian Surface Ego State yang aktif berkisar antara empat hingga lima.

Seseorang yang sedang mengendarai mobil menuju ke kantor atau tempat kerjanya menggunakan satu Surface Ego State. Sedangkan saat bekerja di kantor ia menggunakan Ego State lain. Saat ia membaca buku atau bermain bisa jadi ia menggunakan Ego State yang lain lagi.

Ego State saling berkomunikasi satu dengan yang lain. Umumnya yang paling mudah diajak berkomunikasi adalah Surface Ego State karena mereka mudah untuk berbagi informasi. Bisa juga terjadi ada Underlying Ego State yang tidak berkomunikasi dengan Surface Ego State. Bila demikian kondisinya kita tidak bisa mengakses informasi yang ada pada Underlying Ego State ini dengan menggunakan cara biasa.

Ego State dan Alter
Bila dilihat dari jalur komunikasinya maka kita mengenal dua jenis Ego State yaitu normal Ego State dan Alter. Normal Ego State mampu berkomunikasi dengan baik dengan Ego State lainnya. Sedangkan Alter adalah Ego State yang jalinan komunikasinya sangat buruk atau (hampir) terputus dengan Ego State lainnya.

Putusnya komunikasi ini mengakibatkan apabila Alter ini sedang executive maka apa yang ia lakukan tidak diketahui oleh Ego State lainnya. Kondisi ini dikenal dengan nama DID atau Dissociative Identity Disorder atau dulunya lebih terkenal dengan MPD (Multiple Personality Disorder). Alter terjadi karena anak mengalami pengalaman yang sangat traumatik (severe and chronic abuse) sehingga mekanisme pertahanan diri pikiran bawah sadar membuat anak “lupa” pada kejadian itu dengan cara memutus jalur komunikasi antara Alter (Ego State yang mengalami trauma) dan Ego State lainnya yang “sehat”.

Dari beberapa penelitian MPD (Kluft, Greaves, Bliss, Putnam, Lienhart, Schreiber, Loewenstein) yang saya pelajari dan dalami ternyata ada minimal 16 (enam belas) kelompok alter. Penanganan alter menggunakan strategi yang berbeda dengan penanganan Ego State.

Ego State Berdasar Sifat Dan Fungsinya

Ego State yang berfungsi normal, non-patologis, mempunyai peran yang konstruktif demi kemajuan Ego State lain dan juga si individu. Selain Ego State yang bekerja dan berfungsi normal, juga ada yang bersifat patologis yang dikenal dengan Ego State yang bersifat vaded, retro-functioning, conflicting, dan malevolent.

Vaded Ego State adalah Ego State yang tidak bisa lagi menjalankan fungsi mereka yang seharusnya karena mengalami trauma atau pengalaman yang negatif. Saat Ego State jenis ini tampil dan aktif atau executive maka individu akan mengalami kembali emosi negatif yang berhubungan dengan trauma. Kondisi ini yang oleh Freud disebut dengan situational neurosis. Vaded Ego State tidak selalu tampil dan aktif. Untuk bisa membuatnya berfungsi normal kembali maka Ego State ini harus dibuat tampil dan aktif sehingga emosi yang berhubungan dengan trauma yang ia alami dapat diproses tuntas.

Retro-functioning Ego State adalah Ego State yang menjalankan peran lama yang bertentangan dengan Ego State lainnya atau tidak mendukung kemajuan individu. Ego State jenis ini antara lain menampilkan simtom berupa kemarahan yang tidak terkendali, kebiasaan berbohong yang kronis, atau berbagai gejala psikosomatis. Untuk mengatasi hal ini bisa dilakukan negosiasi sehingga Retro-functioning Ego State bersedia menjalankan peran baru yang lebih positif dan konstruktif. Ego State bisa bersifat vaded dan retro-functioning.

Conflicting Ego State mempunyai tujuan yang positif bagi individu namun mengalami konflik kepentingan dan tujuan dengan Ego State lainnya. Contoh seseorang mengalami Conflicting Ego State adalah saat ia ingin melakukan sesuatu tetapi mendapat pertentangan dari dalam dirinya. Misalnya seseorang ingin berhenti merokok namun tidak bisa karena ada bagian dari dirinya yang sangat suka merokok. Dalam hal ini terdapat dua Ego State yang saling bertentangan. Konflik ini juga bisa muncul saat seseorang ingin diet namun tidak bisa menahan keinginan makannya.

Malevolent Ego State adalah Ego State yang bersifat keras, ganas, dan bahkan bisa sangat kejam, baik terhadap Ego State lain, diri individu, maupun orang lain. Ego State jenis ini yang biasanya membuat seseorang memukul atau menyiksa dirinya sendiri, bahkan bisa sampai mengakibat seseorang melakukan tindakan bunuh diri.

Dalam konteks terapi Malevolent Ego State adalah jenis Ego State yang paling sulit untuk bisa diajak berkomunikasi, negosiasi, bekerja sama, atau ditundukkan. Ego State ini jugalah yang selalu menghambat dan menghalangi proses terapi. Teknik terapi konvensional yang hanya mengandalkan pemberian sugesti pada klien tidak akan bisa berhasil selama Ego State ini belum berhasil ditundukkan.

Ego State Menurut Gender dan Usia
Ego State umumnya tercipta saat seseorang masih kecil atau di usia muda. Namun dalam diri klien juga bisa ditemukan Ego State janin, bayi, anak kecil, remaja, dewasa, atau orang tua. Ego State juga mempunyai jenis kelamin pria dan wanita.

Ego State ini bisa ada dalam diri baik klien pria maupun wanita. Dengan kata lain, dalam diri seorang wanita bisa ada Ego State berjenis kelamin baik pria maupun wanita, mulai yang usia muda hingga yang tua. Demikian juga dalam diri seorang pria.

Masing-masing Ego State biasanya mempunyai nama atau panggilan yang digunakan untuk berkomunikasi baik dengan sesama Ego State, dalam bentuk komunikasi internal,maupun dengan pihak luar melalui komunikasi eksternal.

Ego State dan Fisiologi
Setiap Ego State berperan sebagai “manusia” kecil di dalam diri seseorang. Ego State mempunyai karakter, logika berpikir, sikap, sifat, perilaku, memori, emosi, kebutuhan, dan tujuan sendiri.

Pada aspek fisik, saat satu Ego State tampil dan aktif maka individu akan mengalami perubahan fisik yang nyata. Bila Ego State mempunyai sifat percaya diri maka saat ia tampil dan aktif individu juga akan tampil percaya diri, berdiri tegak, berbicara dengan suara yang tegas, dan pandangan mata penuh keyakinan. Bila Ego State mengidap suatu penyakit tertentu maka saat ia tampil dan aktif penyakitnya akan muncul di fisik si individu.

Michael Gainer (1993) melaporkan bahwa seorang wanita yang mengidap penyakit reflex sympathetic dystrophy tidak menunjukkan gejala penyakit ini saat tiga Ego State lainnya tampil dan aktif. Dari temuan ini Grainer selanjutnya menggunakan Ego State Therapy dan berhasil menemukan Ego State, yang mengalami trauma, yang menyebabkan sakit pada wanita ini. Setelah trauma berhasil diselesaikan wanita ini sembuh total dari penyakit yang dideritanya.

Emmerson dan Farmer (1996) melakukan Ego State Therapy terhadap para wanita yang menderita menstrual migraine kronis dan berhasil mengurangi rata-rata jumlah hari migraine per bulan dari 12,2 menjai 2,5. Subjek penelitian juga menunjukkan berkurangnya depresi dan kemarahan secara signifikan.

Lokasi Ego State
Ego State bisa menempati lokasi di luar tubuh atau di dalam tubuh. Di luar tubuh bisa di depan, di atas, di bawah, atau di belakang. Sedangkan kalau di dalam tubuh bisa di satu lokasi tertentu, misalnya di dada, kepala, hati, tangan, punggung, perut, atau kaki, dan bisa juga menempati seluruh tubuh secara merata.

Apa Beda Ego State dan Introject?
Ego State dan Introject walaupun sama-sama disebut sebagai Part atau Bagian Diri namun berbeda menurut sumber terciptanya. Ego State berasal dari dalam diri individu sedangkan Introject berasal dari luar.

Introject adalah persepsi tentang seseorang yang terinternalisasi ke dalam pikiran bawah sadar. Dengan demikian bisa terdapat sangat banyak Introject dalam diri seseorang.

Dalam proses terapi, khususnya saat menggunakan teknik Ego State Therapy, untuk bisa memproses trauma, maka Ego State yang mengalami trauma perlu diaktifkan agar emosi yang tersimpan dalam Ego State ini bisa diproses.

Dalam upaya ini seringkali melibatkan Introject yang ada dalam diri klien. Dialog dengan Introject ini yang seringkali salah dimengerti oleh orang awam. Apalagi bila Introject ini adalah Part yang merupakan internalisasi persepsi terhadap orang yang telah meninggal. Mereka yang tidak mengerti mengira yang diajak bicara adalah roh orang yang telah meninggal.

Lebih jelasnya begini. Saat anak masih kecil muncul Introject, atau biasa sering disebut sebagai figur, Ayah dalam diri anak. Selama anak masih hidup, mulai kecil hingga usia tua, Introject ini akan terus “hidup” di dalam diri anak.

Misalnya setelah anak beranjak dewasa, si ayah meninggal dunia. Yang meninggal adalah si ayah yang sesungguhnya, namun Introject Ayah dalam diri anak tetap hidup atau ada. Sehingga pada saat proses Ego State Therapy dilakukan terhadap Introject Ayah, dalam diri anak, akan terjadi dialog seakan-akan terapis berbicara dengan si Ayah. Tujuan dialog ini untuk memproses emosi negatif yang masih tersisa dalam diri anak terhadap ayahnya atau sebaliknya.

Saya pernah membantu klien wanita, 37 tahun, yang melakukan aborsi hingga lima kali. Aborsi pertama dilakukan saat klien berusia 25 tahun. Saat membantu klien mengatasi berbagai emosi negatif yang berhubungan dengan aborsi yang ia lakukan, salah satu teknik yang saya gunakan adalah memproses emosi yang berhubungan Introject Janin yang ia gugurkan. Saat itu muncul lima Introject Janin yang digugurkan. Dan yang luar biasa lagi Introject dari janin yang pertama digugurkan, yang dipanggil dengan nama Michael, telah tumbuh dan besar, di dalam pikiran klien tentunya, hingga usia 11 tahun. Bila anda perhatikan usia klien saat melakukan aborsi, masa kehamilan sekitar 9 – 10 bulan, dan saat ia bertemu saya untuk terapi maka usia Introject Michael adalah benar 11 tahun.

Kasus menarik lainnya yang pernah ditangani murid saya adalah kasus wanita yang “kerasukan”. Wanita ini, katanya, “dirasuki” oleh “makhluk” halus dan tubuhnya menjadi kaku dan lumpuh.

Oleh murid saya, “makhluk” ini diajak bicara dan ditanya apa maunya. “Makhluk” ini minta diberi nama. Ternyata “makhluk” ini sebenarnya adalah Introject dari janin wanita ini yang keguguran. Setelah “makhluk” ini diberi nama, wanita ini langsung sembuh, bisa bangkit berdiri dan jalan normal.

Fenomena ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang bersifat metafisis. Yang terjadi adalah Introject janin (baca: anak) wanita ini muncul dan minta nama. Tubuh wanita yang menjadi kaku dan lumpuh sebenarnya adalah indikasi bahwa ia berada dalam kondisi trance sangat dalam yang disebut dengan level Catatonic, dua level di bawah Profound Somnambulism.

Contoh lain lagi, biar lebih jelas mengenai Introject, saya pernah bertukar peran dengan seorang peserta seminar saya. Peserta ini, sebut saja Agung, saya sugestikan menjadi diri saya. Dan langsung Agung mengaku bernama Adi W. Gunawan. “Adi” ini lalu saya minta untuk melanjutkan presentasi saya (Adi yang asli) dan ia melakukannya dengan sangat baik. Yang terjadi adalah Introject Adi di dalam diri Agung tampil dan aktif dan berperan sebagai Adi melalui diri Agung.

Saat saya bertanya pada “Adi”, “Pak Adi, Bapak sudah menulis berapa buku?”

Pak “Adi” menjawab, “Saya sudah menulis delapan buku.”

Dari sini saya tahu kalau data jumlah buku yang telah ditulis pada Introject Adi belum diupdate. Saat itu saya, Adi yang asli, telah menulis 12 buku. Dan pola pikir “Adi” tentunya berbeda dengan saya, Adi yang asli. Pola pikir “Adi” atau Introject Adi adalah pola pikir berdasarkan persepsi Agung terhadap diri saya.

Obat Antidepresan dan Ego State
Klien yang mengalami depresi biasanya diberi obat antidepresan agar bisa tenang. Pemberian obat antidepresan sampai pada taraf tertentu sangat membantu klien untuk bisa stabil dan berinteraksi dengan lingkungannya walaupun masalah yang dialami klien belum diatasi.

Yang sesungguhnya terjadi adalah obat ini memblok atau menekan Ego State yang mengalami depresi sehingga tidak bisa muncul, dari surface menjadi underlying, dan klien merasa tidak ada masalah atau baik-baik saja, selama obatnya terus diminum. Jika klien berhenti minum obat maka kondisinya akan kembali menjadi tidak stabil karena Ego State yang tadinya tertekan kini muncul kembali dan aktif.

Saya pernah menangani klien yang sempat depresi karena pasangannya selingkuh. Klien selama 8 tahun minum obat dan merasa dirinya baik-baik saja. Dalam kondisi sadar normal klien mengatakan bahwa ia telah sembuh. Buktinya, ia sudah tidak lagi marah pada pasangannya. Bahkan saat bertemu dengan selingkuhan pasangannya ia juga biasa-biasa saja. Saya yakin kondisi klien yang tenang dan “sembuh” ini adalah karena pengaruh obat yang masih ia minum.

Selanjutnya saya melakukan pemeriksaan langsung ke pikiran bawah sadarnya, ternyata klien masih menyimpan perasaan terluka, marah, benci, dan dendam kepada pasangannya. Selama Ego State yang menyimpan emosi ini tidak diproses maka klien akan selalu bergantung obat untuk bisa tenang.

Kondisi ideal, bila memungkinkan, sebaiknya sebelum diberi obat klien dibantu dengan Ego State Therapy. Dalam kondisi ini klien dan terapis dapat mengakses Ego State yang mengalami depresi dan memproses emosinya dengan cepat dan tuntas sehingga klien tidak perlu harus minum obat.

Cara Mengakses Ego State
Dalam kondisi normal kita hanya bisa mengakses Surface Ego State. Namun bila kita ingin mengakses Underlying Ego State yang menyimpan trauma tertentu maka dibutuhkan teknik yang spesifik dengan prasyarat khusus.

Ada dua cara untuk mengakses Underlying Ego State. Pertama, dengan menggunakan rileksasi pikiran dan kedua, tanpa rileksasi pikiran. Umumnya buku atau literatur tentang Ego State Therapy mensyaratkan rileksasi pikiran sebagai sarana untuk mengakses Underlying Ego State. Dengan kondisi pikiran yang rileks dan penggunaan teknik yang tepat akan dicapai hasil terapi yang sangat luar biasa dalam waktu yang relatif singkat.

Level kedalaman rileksasi pikiran yang umumnya digunakan untuk bisa mengakses Underlying Ego State adalah profound somnambulism. Bila kurang dalam atau lebih dalam dari profound somnambulism, Ego State Therapy biasanya akan kurang efektif.

Dari eksperimen dan pengalaman praktik saya menemukan bahwa kita bisa mengakses Underlying Ego State tanpa harus merilekskan pikiran sama sekali. Hasil terapi yang dicapai juga sama efektifnya.

Masing-masing cara mengakses Underlying Ego State mempunyai kelebihan masing-masing dan digunakan dalam situasi yang berbeda.

Manfaat Ego State Therapy

Ego State Therapy bila dipelajari dengan mendalam, cermat, dan dikuasai dengan baik akan memberikan manfaat terapeutik yang sungguh sangat luar biasa. Dalam praktik profesional sebagai hipnoterapis, dengan menggunakan Ego State Therapy, saya berhasil membantu klien mengatasi masalah, antara lain:
•phobia
•trauma/luka batin
•tidak percaya diri
•kesulitan diet
•takut sukses
•takut gagal
•insomnia
•migraine
•masalah seks
•kecemasan
•stress
•depresi
•takut berbicara di depan umum
•konflik diri (inner conflict)
•pencapaian prestasi hidup rendah
•perilaku obsessive/compulsive
•perilaku adiktif
•berbagai penyakit psikosomatis
•sabotase diri
•dan masih banyak lagi.

LINK ; http://www.adiwgunawan.com/awg.php?co=p5&mode=detil&ID=260

Memahami Fenomena Kesurupan Dengan Ilmu Hipnoterapi

by. Adi W. Gunawan
Dalam setiap pelatihan, baik itu Quantum Life Transformation (QLT) maupun Quantum Hypnosis Indonesia (QHI), saya selalu mendapat satu pertanyaan yang cukup menggelitik rasa ingin tahu, “Apa sih sebenarnya kesurupan itu?”

Pertanyaan ini bisa dilihat dari dua kaca mata berbeda; dari sudut pandang metafisika dan dari sudut pandang ilmu hipnoterapi yang membahas mengenai pikiran, khususnya pikiran bawah sadar.

Dalam artikel ini saya tidak membahas kesurupan dari sudut pandang metafisika karena ini di luar ranah keilmuan saya. Kali ini saya khusus membahas kesurupan dari sudut ilmu hipnoterapi.

Menurut pemahaman masyarakat bila seseorang sedang kesurupan maka ia akan bertindak atau berperilaku bukan seperti dirinya yang biasa. Seakan-akan ada pribadi atau makhluk lain yang sedang menguasai orang ini. Pribadi atau mahkluk ini ada yang bisa diajak komunikasi. Ada juga yang tidak bisa. Ada yang punya nama dan ada juga yang tidak.

Biasanya akan terjadi perubahan yang jelas pada aspek fisik. Misalnya cara bicara, suara, bahasa tubuhnya berbeda dari biasanya. Sering terjadi, saat kesurupan, orang bisa berbicara dengan bahasa yang biasanya tidak pernah ia gunakan.

Fenomena kesurupan dalam ilmu hipnoterapi adalah suatu kondisi yang biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Yang terjadi pada diri seseorang yang kesurupan, sekali lagi ini dari sudut pandang ilmu hipnoterapi, adalah pada saat itu sebenarnya ia sedang deep trance dan ada satu, dua, atau lebih Ego State atau Part yang aktif dan mengendalikan kesadarannya.

Lho, apa itu Ego State atau Part? Kok bisa muncul?

Sebelum saya teruskan saya perlu menjelaskan terlebih dahulu apa itu trance atau kondisi hipnosis. Setiap hari sebenarnya kita beberapa kali masuk dan keluar kondisi hipnosis atau trance baik secara sadar maupun tidak. Semuanya terjadi secara alamiah. Ada yang bisa masuk ke kondisi deep trance dengan mudah. Ada juga yang membutuhkan upaya ekstra untuk bisa masuk trance.

Kondisi hipnosis bisa juga terjadi saat seseorang berada dalam tekanan mental yang melampaui ambang batas toleransi yang diijinkan pikiran bawah sadarnya. Saat seseorang berada di dalam tekanan mental, mengalami suatu peristiwa dengan muatan emosi negatif yang tinggi, maka pada saat itu hanya ada dua pilihan; fight (lawan) atau flight (lari).

Saat seseorang tegang maka adrenalin akan dipompa masuk ke dalam darah dan menyiapkan fisiknya untuk siap melakukan perlawanan. Hal ini bisa dirasakan dengan jantung yang berdegup semakin kencang, otot-otot tubuh menjadi kaku, dan seluruh sistem diri siap untuk menghadapi dan mengatasi bahaya atau sesuatu yang dipersepsikan sebagai bahaya.

Bahaya yang saya maksudkan di sini bisa berupa bahaya yang mengancam secara fisik maupun mental. Bila tekanan atau ancaman terlalu besar dan tidak mampu dilawan (fight) maka secara reflek pikiran akan memilih opsi kedua yaitu flight atau lari. Lari dalam hal ini bisa sungguh-sungguh melarikan diri, mengambil langkah seribu, atau bisa juga “melarikan diri” ke dalam. Saat seseorang lari ke dalam dirinya maka pada saat itu ia masuk ke kondisi trance atau hipnosis. Seringkali orang bisa masuk ke kondisi deep trance atau bahkan very deep trance.

Saya pernah menangani seorang klien wanita yang saat masih di SMP dan SMA seringkali pingsan. Dan kalau sudah pingsan sadarnya lama sekali. Berbagai cara sudah dilakukan untuk membangunkan klien ini tapi tidak berhasil. Bahkan sampai dibawa ke orang pintar dan dibacakan doa tetap nggak bisa bangun atau sadar. Nanti sadarnya terjadi tiba-tiba.

Mendengar kisah ini saya langsung berkata pada klien ini, “Sebenarnya anda tidak pingsan. Yang terjadi adalah anda mengalami begitu banyak tekanan mental, baik dari keluarga maupun dari sekolah, yang membuat anda tidak tahan, dan akhirnya anda memutuskan untuk lari dari keadaan ini. Benar atau tidak?”

“Benar. Lho, Pak Adi kok tahu kalau saat itu saya mengalami banyak tekanan?” jawab si klien.

“Lha iya lah…apa yang anda alami ini sebenarnya sesuatu yang sangat alamiah. Nah, saat anda “pingsan” anda tetap masih mendengar suara orang di sekitar anda, kan?” tanya saya lagi.

“Ya, Pak” jawab klien.

“Mengapa anda tidak mau keluar dari kondisi “pingsan” padahal anda mendengar orang-orang di sekitar anda memanggil-manggil nama anda?” kejar saya.

“Soalnya saat “pingsan” itu saya merasakan begitu nikmat, tenang, dan perasaan bahagia yang tidak terlukiskan. Sekarang saja kalau saya mau saya bisa masuk kembali ke kondisi ini” jawab klien saya.

Nah, pembaca, tahukah anda bahwa klien ini bukannya pingsan tapi ia berada dalam kondisi trance yang sangat-sangat dalam yang dikenal dengan level Esdaile atau Hypnotic Coma?

Saat seseorang masuk ke kondisi ini maka yang ia rasakan adalah suatu perasaan euphoria, bahagia yang luar biasa, tidak terlukiskan, sangat nyaman, dan orang biasanya tidak mau keluar dari kondisi ini. Inilah yang sebenarnya dialami oleh klien saya. Jadi ia bukannya pingsan tapi, karena tidak kuat melawan tekanan mental/psikis, memutuskan untuk flight (lari) dan masuk ke dalam dirinya sendiri, dan trance.

Di salah satu sesi terapi yang saya lakukan pada klien ini benar ia tidak mau keluar dari kondisi ini. Saya akhirnya menggunakan teknik tertentu untuk membuat ia keluar dan berhasil.

Pemahaman ini juga yang saya gunakan saat membangunkan atau menyadarkan 2 siswi SMA di Malang yang pingsan saat mengikuti pelatihan yang saya selenggarakan. Bayangkan, bagaimana nggak pingsan, lha aula diisi oleh lebih dari 1.500 orang peserta, semuanya siswa/siswi kelas 3 SMA/SMK, dan tidak ada AC (air conditioner). Yang dipake AC hemat listrik yaitu Angin Cendela…he…he. Bisa dibayangkan bagaimana panasnya.

Siswi pertama pingsan karena ketakutan saat saya mengeluarkan ular mainan yang biasa saya gunakan untuk demo mengatasi emosi dengan teknik Hypno-EFT. Begitu melihat ular saya, ular mainan maksud saya, anda jangan berpikir yang lain lho, siswi ini langsung pucat dan “memutuskan” untuk pingsan.

Berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk menyadarkan mereka berdua? Tidak lama. Masing-masing hanya butuh waktu sekitar 2 sampai 3 menit saja. Nggak pake doa, baca-baca, atau ritual tertentu.

Apa yang saya lakukan?

Ya, saya panggil nama mereka dan saya minta mereka bangun. Saya tahu mereka masih tetap bisa mendengar suara saya. Saya tahu bahwa mereka tidak benar-benar tidak sadarkan diri. Mereka hanya masuk ke kondisi deep trance. Jadi, ya saya bimbing mereka keluar dari kondisi trance seperti saat saya selesai menerapi orang. Mudah, kan?

Nah, kembali ke Ego State atau Part. Pada saat dalam kondisi deep trance ini bisa muncul banyak fenomena. Salah satunya adalah munculnya satu atau lebih Ego State/Part yang mengendalikan kesadaran seseorang.

Pertanyaanya sekarang, “Apa sih Ego State atau Part itu?”

Penjelasan agak detil bisa anda dapatkan dengan membaca artikel saya yang berjudul “Kita Punya Banyak Diri” (bisa dilihat di http://www.adiwgunawan.com) .

Singkatnya begini. Di dalam diri kita ada banyak “diri”. Masing-masing diri ini mempunyai kepribadian, karakter, nama, sikap, pola pikir, kebiasaan, memori, dan emosi. Jika anda bingung dengan hal ini coba anda ingat-ingat. Pernahkah, saat ingin memutuskan sesuatu, anda ragu atau bingung? Yang anda rasakan adalah ada dua atau lebih “Bagian” dari diri anda yang ribut sendiri. Akibatnya anda menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Nah, “Bagian” inilah yang disebut dengan Ego State atau Part.

Anda jelas sekarang?

Untuk lebih mudah memahami Ego State caranya begini. Di komputer mental kita, yaitu pikiran, khususnya pikiran bawah sadar, ada banyak folder. Setiap folder berisi data-data tertentu. Nah, saat folder ini aktif atau diakses dengan teknik tertentu, tentunya dalam kondisi trance, maka isi folder akan keluar. Pada saat inilah isi folder masuk ke pikiran sadar dan aktif. Ego State adalah folder ini.

Saya pernah, saat memberikan seminar di UGM, mensugestikan seorang peserta bahwa dia adalah saya, Adi W. Gunawan. Selanjutnya saya bertanya, “Bapak namanya siapa?”

“Adi W. Gunawan” jawabnya mantap.

“Bapak lagi ngapain di sini?” tanya saya lagi.

“Lagi kasih seminar” jawabnya tegas.

“Pak Adi, bisa tolong diteruskan seminarnya?” tanya saya.

Apa yang terjadi setelah itu?

Peserta ini langsung memegang mic dan bicara dengan mantap seperti saya. Ia memberikan seminar dan motivasi sangat mirip dengan yang saya lakukan.

Saat saya bertanya kepada peserta ini, “Pak Adi, anda punya berapa orang anak?”

“Tiga. Semuanya perempuan” jawabnya.

“Bapak sudah menulis berapa buku?” tanya saya lagi.

“Sudah delapan buku best seller” jawabnya mantap.

Nah, di sini saya tahu bahwa data jumlah buku di folder “Adi W. Gunawan” di dalam komputer mentalnya ternyata belum di-update. Delapan buku adalah data yang lama karena total buku yang sudah saya tulis semuanya dua belas.

Anda jelas sekarang?

Bagaimana Ego State bekerja dan apa yang perlu dilakukan untuk bisa berkomunikasi dengan Ego State saya ajarkan di kelas pelatihan hipnoterapi 100 jam QHI. Saya juga memberikan demonstrasi dengan live therapy di kelas sehingga peserta pelatihan bisa benar-benar mengerti apa itu Ego State.

Biasanya untuk menyelesaikan suatu masalah yang dialami klien minimal ada 2 Ego State yang kita panggil keluar dan diajak berkomunikasi. Masing-masing Ego State punya nama dan peran yang spesifik untuk diri klien. Bahkan ada Ego State yang tidak bisa berbahasa Indonesia.

Seorang peserta pelatihan yang berasal dari Palembang, yang kebetulan berprofesi sebagai seorang healer, setelah mengerti mengenai Ego State, sekarang kalau menangani kasus kesurupan, selalu menggunakan teknik Ego State Therapy. Dan hasilnya lebih cespleng. Dulu ia harus pake air putih dan baca doa tertentu.

Ok, kalau begitu, pertanyaannya, “Bagaimana dengan kesurupan masal yang sering diberitakan di media masa?”
Oh, ini jawabannya sama seperti penjelasan di atas. Coba anda amati. Yang seringkali mengalami kesurupan adalah murid kelas 3 SMP atau kelas 3 SMA dan biasanya wanita.

Mengapa kelas 3 SMP atau 3 SMA?

Ya, karena mereka takut dan sangat tertekan dengan tingginya beban akademis, jam pelajaran yang sangat panjang yang melelahkan fisik dan mental, muatan pelajaran dengan tingkat kesulitan yang tinggi, dan ditambah lagi adanya UN atau Ujian Nasional.

Mereka semua ketakutan. Mereka secara terus menerus mengalami tekanan mental. Hingga pada satu saat, karena sudah melebihi ambang batas toleransi, murid-murid ini, karena tidak bisa melawan (fight), akhirnya memilih lari (flight). Begitu ada satu orang kesurupan maka secara cepat menyebar ke rekan-rekannya. Ini sebenarnya bentuk histeria masal.

Saat “kesurupan” ini, yang sebenarnya kondisi deep trance, maka terjadilah abreaction atau keluarnya emosi yang selama ini tertekan (repressed emotion).

Dari berita-berita di media massa diketahui bahwa kebanyakan pelajar yang mengalami kesurupan adalah pelajar wanita. Dugaan itu didukung kenyataan serupa, berdasar penelitian Gaw, Ding, Levine, dan Gaw (1998) di Tiongkok.

Sejauh ini anda pasti sudah cukup jelas dan mengerti kesurupan dari sudut pandang ilmu hipnoterapi.

Sebagai penutup saya ingin anda berpikir mengenai fenomena yang terjadi di sekitar anda. Saya yakin anda pasti pernah mendengar atau melihat langsung bagaimana seseorang yang “kesurupan” roh Harimau dan berperilaku persis seperti si Harimau.

Pertanyaannya adalah mengapa kok Harimau? Belum pernah kan anda membaca seseorang yang kesurupan Panda, Kuda Nil, atau Kanguru?

Demikian juga, kalau di desa, biasanya ada yang kesurupan Gatot Koco. Nggak pernah ada yang mengalami kesurupan Spiderman atau Hulk.

LINK ; http://www.adiwgunawan.com/awg.php?co=p5&mode=detil&ID=190

Hipnosis, Membongkar Rahasia Kekuatan Supranatural

Pertama ada baiknya kita pisahkan dunia supranatural dalam dua kategori,

  1. pertama adalah olah kekuatan supranatural / linuwih dari orang yang dianggap memiliki intuisi, perasaan peka, cenayang dan lainnya.
  2. kedua, adalah penggunaan kekuatan ’pinjaman’ dari mahluk lain tanpa wujud. 

Namun, disini kita hanya membahas yang pertama saja, ilmu-ilmu linuwih itu. Ilmu tersebut biasanya diperoleh dengan suatu lelaku atau diberikan oleh orang lain atau bakat yang ada pada seseorang. Semua teknik bisa dilihat dari states management (mengelola kondisi pikiran). Dalam dunia supranatural, cara states management ini dilakukan melalui puasa mutih, tirakat, meditasi ditempat yang sepi dan ritual lainnya.

Dalam hipnosis kita mengakses state ini dengan cara lain yang lebih modern, misalnya dengan anchor. Anchor merupakan pengkondisian seseorang mengalami kondisi mental tertentu, dengan pencetus simbol – simbol yang dibuatnya. Sebagai contoh, seseorang dapat membuat simbol gerakan menyilangkan jari tengah dan telunjuk, dan ia langsung mengalami perasaan tenang, damai dan bahagia. Hal seperti itu sering digunakan oleh hipnosis modern. Sedangkan pada hipnosis tradisional, hal ini dilakukan dengan, contohnya memakai ”jimat” yang dianggap keramat yang apabila ia memilikinya maka usahanya akan menjadi laris. Sama halnya dengan ”lelaku”, apabila ia melakukan ritual atau lelaku tertentu, maka kondisi mentallah yang terbentuk untuk memerintahkan pikirannya memfokuskan pada apa yang diinginkannya. Sehingga dari fokus pikiran dengan kondisi mental yang tepat maka apapun yang dipikirkan akan menjadi kenyataan dalam kehidupannya.

Pada dasarnya ilmu yang tak bisa dirumuskan secara logis itu akan terjelaskan dengan pola hipnosis dan bisa diduplikasikan dengan lebih mudah dengan cara meniru beberapa kemampuannya tanpa menggunakan ritual, mantra, puasa dan apapun caranya. Inti dari proses tersebut adalah pemfokusan pikiran dan kondisi mental yang tepat.

Sebagai contoh, sebut saja seorang teman (paranormal) jika mau menolong membantu menyembuhkan orang lain. Beliau bilang awalnya cuma dengan membayangkan sosok Sunan Kalijaga. Ketika sudah terbayang jelas dan beliau merasa menjadi Sunan Kalijaga, tiba-tiba kemampuan tersebut keluar dengan sendirinya.

Namun, bisa jadi ketika kita menerapkan itu ternyata tidak bisa, karena Sunan Kalijaga bukan tokoh favorit yang bermakna apapun bagi kita. Setelah kita kaji, maka terlihat disini bahwa Sunan Kalijaga itu hanyalah anchor atau pemicu untuk membangkitkan state of mind (kondisi mental) tertentu. Begitu beliau membayangkan Sunan Kalijaga, maka beliau bilang Sunan Kalijaga itu menimbulkan state : yaitu rasa welas-asih yang tak terbatas.

Di sini berarti kita harus mencari simbol lain yang lebih cocok. Suatu simbol yang jika kita bayangkan akan meng-generate rasa welas asih. Dalam memahami hipnosis, harus disadari yang sakti bukanlah si penghipnotisnya. Yang sakti itu imajinasi orang-orang yang dihipnosis karena berhasil berkonsentrasi dan membayangkan pembangkitan kemampuannya. Penghipnosis pada dasarnya hanyalah sebagai fasilitator. Saat seseorang menghipnosis kita, yang terjadi adalah bahwa seseorang tersebut memfasilitasi proses internal kita. Begitu proses berjalan, kita menghipnosis diri kita sendiri. Jadi yang namanya hipnosis itu tidak ada, yang ada self hypnotic. Si penghipnotis memfasilitasi proses internal kita untuk sampai terhipnosis. Artinya tanpa beliau, kita bisa menghipnosis diri sendiri. Dan sekilas hipnosis itu memang lebih mudah dibantu orang lain, melalui kepercayaan yang dibentuk pada orang lain.

Yang kita bicarakan adalah pola hipnosis yang merupakan kemampuan internal seseorang. Ini termasuk agar punya kemampuan yang dimiliki kaum ”linuwih” yang sebenarnya adalah soal cracking atau unlocking (mengaktualisasikan potensi yang terpendam pada diri manusia). Bagaimana nge-crack bakat metafisiknya. Jadi sebenarnya adalah mengetahui bagaimana sesuatu itu diketahui pola dan cara kerjanya. Intinya itu. Begitu ketahuan polanya ya selesai. Semua orang bisa mempunyai kemampuan metafisik itu, dan sebenarnya hal tersebut ilmiah. Namun banyak kalangan belum menyebut ilmiah, karena belum bisa dijelaskan secara logis.

pustaka ; annunaki.wordpress.com

Hipnoterapi Dan Transformasi Diri (Indonesian Hypnosis Society & Quantum Tranceformasi NAQS DNA)

Indonesian Hypnosis Society Quantum Tranceformasi NAQS DNA

Dari Kiri Ke kanan :
(Jas Hitam)►Al amin Ibnu Fajar – President Of Indonesian Hypnosis Society
(Jaket merah) ► Mas Edi Sugianto – Founder Of Quantum Tranceformasi NAQS DNA
(Baju garis-garis) ► Bobby Febryanto – Founder Of Indonesian Hypnosis Society

Hipnoterapi adalah terapi pikiran untuk masalah yang terkait dengan pikiran, perasan, kepribadian dan perilaku. Hipnoterapi tidak hanya untuk orang yang punya masalah, orang normal dan sehat pun banyak yang mengikuti hipnoterapi untuk memaksimalkan kemampuannya dalam segala bidang kehidupan. karena ilmu ini sangat luar biasa dan bermanfaat sekali.

Pada tahun 1734-1815 seorang dokter berkebangsaan Inggris memperkenalkan metode pengobatan medical hipnosis atau yang sekarang lebih dikenal hipnoterapi. Terapi ini diterapkan untuk psikoterapi, mencegah timbulnya ganguan kesehatan (prevention of diseases), peningkatan taraf kesehatan (health promotion) serta untuk upaya rehabilitasi lainnya.

Di Indonesia, hipnosis sudah diakui sebagai salah satu alternatif penyembuhan yang telah teruji kebenarannya. Bahkan hipnosis kedoteran sudah menjadi seminar resmi bagi calon psikiater di FKUI. Sedangkan di RSPAD Gatot Subroto sebagai pusat hipnosis kedokteran pertama, menerapkan hipnodonsi (dental Hypnosis) untuk dokter gigi serta para psikiaternya. Jadi, jangan takut untuk mencoba manfaat hipnoterapi.

Hipnoterapi Bukan Gendam
Anggapan masarakat terhadap hipnoterapi sering diasumsikan sama dengan metode gendam yang sering digunakan untuk praktek kejahatan, keduanya memang sama menggunakan gelombang elektromanetik dan energi dalam tubuh manusia, namun ada perbedaan mendasar dalam penerapannya. Menurut Dr. Erwin, hipnoterapi bukanlah gendam atau ilmu sihir. Seperti yang banyak digunakan dalam kasus kejahatan, korban dibuat tidak sadar dan menyerahkan apa yang dimilikinya. Dalam hipnoterapi, si pasen dijadikan subjek aktif yang dipandu secara sadar dan mau menerima apa yang di lakukan terapis sehingga melakukan energinya sendiri untuk penyembuhan dimaksud. Sedangkan dalam gendam yang terjadi adalah proses magnetisme, yaitu si korban/pasien menjadi obyek pasif dan secara tidak sadar dipengaruhi energi dari si pelaku kejahatan.

Cara Kerja Hipnoterapi
Istilah hipnoterapi mengacu dari kata “Hypno” bahasa Yunani berarti tidur. Memang terapi penyembuhan hipnoterapi diawali dengan mengkondisikan pasien dalam fase relaksasi (seperti orang tertidur) sebelum dilakukan terapi inti. Hipnoterapi bekerja pada jiwa bawah sadar (alpha state) manusia. Untuk membangkitkan jiwa bawah sadarnya, pasien dalam kondisi relaksasi atau atau mengistirahatkan jiwa sadarnya. Saat jiwa sadarnya beristirahat maka jiwa bawah sadarnya akan muncul. Dalam kondisi ini rekaman bawah sadarnya seperti gangguan kesehatan yang dirasakan akan diketahui. Rekaman bawah sadar yang salah atau keliru akan diperbaharui dengan memberikan sugesti-sugesti positif oleh terapis melalui hipnoterapi. Sugesti ini diberikan secara terus menerus hingga keadaan dimana rekaman bawah sadar yang keliru menghilang dan digantikan oleh sugesti positif . Jadi cara Kerja hipnoterapi “bermain” di “piranti lunak” atau badan halus/roh dalam tubuh manusia, papar Dr. Erwin.

Dari pengalaman praktek Dr. Erwin, tingkat keberhasilannya sugesti positif pada pasien berbeda masing-masing orang. Tergantung ganguan berat-ringanya penyakit yang diderita serta kemauan untuk sembuh dari dalam diri pasien. Hipnoterapi tidak bisa langsung menyembuhkan dalam satu atau dua kali terapi, seperti kasus kecanduan narkoba atau pasien ingin berhenti merokok. Jika kecanduan narkoba atau merokok sudah sangat berat, untuk sembuh total proses terapi bisa selama dua tahun. Untuk mempercepat kesembuhan, pasien juga harus proaktif dan mempunyai kemauan yang kuat untuk sembuh. Dalam hipnoterapi, terapis hanya berperan sebagai fasilitator, pasien harus kooperatif dan sebagai subyek aktif. Agar proses terapi tepat sasaran, pasien harus benar-benar memahami betul maksud dan tujuan hipnoterapi. Harus ada kesepakatan antara pasien dan terapis, karena pasienlah sebenarnya yang paling tau apa yang dideritanya, tutur dokter yang praktek di Klinik Prorevital di daerah Cempaka Putih dan RSPAD Jakarta.

Sembuhkan Stres, Depresi dan Fobia
Hipnoterapi lebih efektif digunakan untuk mengobati ganguan kesehatan yang sifatnya fungsional. Ganguan kesehatan karena defisiensi organik dalam tubuh maupun defisiensi zat dari luar tubuh tidak bisa disembuhkan. Seperti kasus kekurangan zat gizi tertentu, dehidrasi atau ganguan penyakit kulit, tetap harus diobati dengan pengobatan medis yang lain, tidak bisa dengan hipnoterapi. Begitu juga kasus trauma fisik seperti patah tulang, tandas Dr. Erwin. Dalam prakteknya, Dr.Erwin lebih banyak menangani penyakit akibat ganguan neurosis, seperti stres, depresi, fobia, atau rasa cemas yang berlebihan.

Ganguan kejiwaan seperti stres lebih mudah disembuhkan dengan hipnoterapi, dengan memberikan sugesti, pasien bisa ditenangkan. Kebanyakan orang melakukan tindakan fisik untuk pencegahan dan penyembuhan penyakit kejiwaan. Penyakit jenis ini lebih tepat diobati dengan hipnoterapi, karena yang sakit bukan fisiknya namun jiwanya. Ganguan bioplasmik juga bisa disembuhkan dengan hipnoterapi. Ganguan bioplasmik biasanya ditandai dengan menurunnya ketahanan fisik dan mental.

Self Healing
Selain dilakukan oleh terapis, hipnoterapi juga bisa dilakukan untuk penyembuhan diri sendiri atau self healing. Sebenarnya beberapa penyakit sumbernya dari pikiran kita. Ramalan diri sendiri atau sugesti hipnosis seringkali menjadi nyata karena pikiran kita yang memasukan sugesti dalam proses pemikiran. Seperti saat kita kehujanan, di dalam pikiran kita akan tersugesti, saya akan sakit kepala atau pusing karena kehujanan. Akibatnya tubuh benar-benar mengalami sakit kepala. Padahal jika ditanamkan sugesti saya akan sehat dan tidak akan terjadi apa-apa maka sakitpun tidak akan datang. Fenomena seperti ini yang disebut oleh pengobatan memdis barat sebagai efek plasebo.

Banyak penyakit bisa disembuhkan dengan autohipnosis, berdasarkan pengalaman praktek Dr. Erwin, penyakit seperti ketergantungan narkoba, stres, vertigo, insomnia, fobia, migrain, hingga menguruskan bebrat badan bisa disembuhkan dengan autohipnosis. Pada kondisi orang sehat, autohipnosis juga bisa digunakan untuk menghindari rekaman negatif, mencegah timbulnya penyakit dan meningkatkan daya tahan tubuh. Ketika tercapai kondisi badan yang sehat, daya tahan tubuh juga meningkat dan badan menjadi tidak mudah sakit. Kemampuan melakukan autohipnosis bisa dipelajari dengan kursus hipnoterapi, dengan 20 kali pertemuan, biasanya Anda sudah bisa melakukan autohipnosis.

Kelebihan hipnoterapi adalah murah, karena bisa dilakukan sendiri. Hipnoterapi juga relatif lebih efektif menghilangkan rasa nyeri dibandingkan pengobatan analgesik, termasuk morfin sekalipun. Hipnoterapi juga aman tanpa efek negatif seperti efek ketergantungan.

Hipnosis Alat Bantu Transformasi diri
Perlu diketahui bahwa semua keyakinan, perilaku dan perasaan Anda, tersimpan di alam bawah sadar menjadi sebuah rekaman pengalaman tentang realitas, baik yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan.

Banyak orang, dengan berbagai cara dan metode berusaha mengubah keyakinan, perilaku dan perasaan yang tidak menyenangkan. Tetapi, usaha mereka sia-sia, atau jika pun bisa, hanya bersifat sementara.

Ini terjadi karena Anda berusaha mengubahnya di level pikiran sadar dengan motivasi dan kemauan. Ketika motivasi dan kemauan Anda untuk berubah menurun, anda menemukan diri Anda kembali seperti dulu.

Anda kembali ke diri Anda yang dulu ketika kemauan dan motivasi Anda sedang turun atau rendah. Untuk membuat perubahan-perubahan yang efektif dan permanen seperti yang Anda inginkan maka Anda perlu memasuki level pikiran bawah sadar.

Jika Anda memasuki pikiran bawah sadar maka membuat perubahan yang Anda inginkan jauh lebih mudah dibandingkan jika Anda hanya menggunakan kekuatan motivasi di pikiran sadar yang sifatnya hanya sementara. Namun, bisa jadi sekarang Anda bertanya-tanya, “Bagaimana saya bisa masuk ke dalam pikiran bawah sadar saya untuk membuat perubahan?”

Di sinilah hipnosis dan hipnoterapi menjadi jawaban pertanyaan Anda. Hipnosis merupakan jembatan yang menuju pikiran bawah sadar Anda. Dengan adanya jembatan ini membuat Anda bisa mengakses bagian-bagian pikiran Anda yang biasanya tidak bisa Anda akses.

Dengan hipnosis dan hipnoterapi, Anda bisa mempelajari cara-cara baru dalam berpikir, merasa dan berperilaku di level pikiran bawah sadar. Betapa luar biasa, karena semua proses pembelajaran hanya terjadi di level pikiran bawah sadar!

Di bawah ini adalah beberapa masalah yang biasa ditangani dengan hipnoterapi:

  • Minder , kurang percaya diri.
  • Menurunkan berat badan tanpa diet dan tanpa olah raga.
  • Fobia atau rasa takut yang tidak wajar.
  • Melahirkan normal tanpa rasa sakit, mengatasi rasa takut melahirkan.
  • Menghilangkan gagap dan grogi ketika bicara.
  • Stress , terlalu banyak beban pikiran.
  • Depresi , tidak bahagia padahal punya segalanya.
  • Bangkit dari kesedihan.
  • Pengendalian diri , mengendalikan rasa marah yang mudah meluap.
  • Patah Hati , Menyembuhkan sakit hati.
  • Menghilangkan rasa marah , dendam, sebel, kecewa terhadap seseorang.
  • Trauma , selalu terbayang pengalaman buruk.
  • Merasa cemas atau ketakutan tanpa alasan.
  • Melupakan masa lalu / pengalaman buruk.
  • Menghilangkan pikiran negatif.
  • Berhenti merokok selamanya.
  • Kecanduan belanja , perjudian, seks, alkohol, coklat, dsb.
  • Menghilangkan berbagai kebiasaan buruk.
  • Tidak mampu menahan kencing atau mengompol di waktu tidur.
  • Menghilangkan latah (bicara ngawur ketika kaget).
  • Panic Attack, Tiba-tiba merasa ketakutan, cemas dan panik tanpa sebab.
  • Suka menggigit kuku atau mencabuti bulu dan rambut sendiri.
  • Berlebihan dalam kebersihan atau bersuci dari najis.
  • Bolak-balik memeriksa kunci pintu rumah , mobil atau sesuatu yang perlu dikunci.
  • Takut terkena penyakit, selalu terbayang penyakit atau kematian.
  • Schizophrenia, apapun gejalanya. Selama penderita masih bisa diajak komunikasi dengan lancar, semua gangguan mental bisa disembuhkan total.
  • Pikiran tiba-tiba kosong, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
  • Mudah tersinggung atau sangat sensitif terhadap kata-kata atau sikap orang lain.
  • Perasaan yang datar, tidak mampu merasa senang ataupun sedih. Tidak bisa mengekspresikan perasaan dengan menangis ataupun tertawa.
  • Paranoid. Suatu ketakutan atau kecurigaan bahwa orang lain berencana untuk mencelakakan dirinya. Merasa dirinya selalu dalam bahaya.
  • Sering pingsan, berteriak-teriak tanpa sadar, dan pergi tanpa arah.
  • Amnesia, tidak tahu jati dirinya, tidak mengenal anggota keluarga.
  • Sering melihat, mendengar atau merasakan sesuatu yang tidak nyata.
  • Kecemasan, tegang, grogi, atau tidak bisa konsentrasi saat ujian.
  • Meningkatkan konsentras i, daya ingat, dan kreativitas.
  • Meningkatkan kemampuan menghafal.
  • Mampu fokus dalam belajar atau pekerjaan.
  • Bisa khusyuk (merasakan kedamaian) dalam ibadah.
  • Motivasi untuk meningkatkan prestasi belajar atau kerja.
  • Menghancurkan mental block , meningkatkan penghasilan.
  • Menghilangkan kebiasaan menunda-nunda.
  • Meningkatkan kemampuan public speaking.
  • Bisa mengendalikan diri dan mengontrol emosi.
  • Membangun kepribadian seperti yang Anda inginkan.
  • Menemukan barang hilang karena lupa atau terjatuh.
  • Membongkar memori yang terlupakan.
  • Mengobati Psikosomatis, yaitu penyakit fisik yang disebabkan oleh perasaan.
  • Sakit maag karena banyak pikiran, stress, kecemasan atau ketakutan.
  • Insomnia , sulit tidur, mimpi buruk, imajinasi menyeramkan.
  • Menghilangkan sakit kepala dan migren yang sering kambuh.
  • Kesulitan melupakan mantan kekasih.
  • Takut jatuh cinta lagi karena takut disakiti.
  • Kurang percaya diri dalam mendekati lawan jenis.
  • Membangkitkan gairah cinta antar pasangan.
  • Mengatasi rasa bosan dalam pernikahan (terapi suami-istri).
  • Menyembuhkan alergi dan asma untuk selamanya.
  • Menambah nafsu makan tanpa obat , menambah berat badan.
  • Mengatasi impotensi dan ejakulasi dini non-organis.
  • Mengatasi frigiditas dan kesulitan orgasme.
  • Lesbianism, perempuan menyukai perempuan.
  • Dan masih banyak lagi…. Semua penyakit “aneh” yang berhubungan dengan pikiran bisa disembuhkan dengan hipnoterapi.

Syarat Klien Hipnoterapi:

  1. Klien harus punya keinginan dari diri sendiri untuk sembuh/berubah. Jika Anda punya teman/keluarga yang bermasalah tetapi dia menolak untuk mengikuti terapi, maka kami tidak berhak membantunya.
  2. Klien bisa diajak komunikasi dengan lancar. Hipnoterapi tidak bisa diterapkan kepada anak kecil yang belum bisa berbicara lancar atau orang dengan gangguan mental parah sehingga tidak nyambung kalau diajak bicara.

Quantum Tranceformasi NAQS DNA
Sebuah metode Transformasi diri Dengan mendaya gunakan dan mengoptimalkan sebuah anugerah Allah swt yang ada di dalam diri manusia itu sendiri, yaitu Potensi Hati Nurani, Mind Power, & Kekuatan Alam Bawah sadar. Untuk mencapai Insan Mulia yang Rahmatan Lil ‘Alamin Sukses Mulia Dunia Akhirat.

Untuk mencapai kemajuan, setiap orang harus merencanakan perubahan, dan perubahan itu harus datang dan dimulai dari diri sendiri. Perubahan sejatinya tidak dapat dipaksakan dari luar, tetapi merupakan revolusi kesadaran yang lahir dari dalam. Itu sebabnya, kepada orang yang bertanya soal hijrah dan jihad, Nabi berpesan. Kata beliau, “Ibda’ bi nafsik, faghzuha” (mulailah dari dirimu sendiri, lalu berperanglah!). (HR. al-Thayalisi dari Abdullah Ibn `Umar).

Namun, perubahan yang dikehendaki, yaitu perubahan menuju kemajuan, tidak datang dari langit (given) atau datang secara cuma-cuma (taken for granted). Hal ini, karena Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri mengubah diri mereka sendiri (QS. Al-Ra`d [13]: 11).”Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Jika Anda ingin mengubah nasib (realitas fisik) maka Anda harus mampu mengubah pikiran, perasaan dan hati (realitas kuantum) Anda terlebih dahulu. Pikiran, perasaan dan hati Andalah yang sebenarnya sebagai penyuplai energi yang tidak ada habisnya untuk mendukung kerja mekanis tubuh fisik Anda. Bukankah motivasi, optimisme, sensitifitas, emosional dan spiritualitas semuanya bersumber dari realitas kuantum ini?

Rasulullah bersabda :
“Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semuanya, dan apabila segumpal daging itu jelek, maka akan jeleklah semuanya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

“Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hati kami dalam agamamu” 
(Yaa Muqollibal quluubi Tsabbit Qalbii ‘Alaa Diinik).

Wali Wolu Songo Pinutup (Ternyata Kita Punya 9 Kembaran Diri)

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, paham “sedulur papat limo pancer” sangat kental. Yang dimaksud dengan sedulur papat limo pancer yaitu saudara yang menemani sang jabang bayi saat lahir. Ketika seorang jabang bayi lahir ke dunia dari rahim ibu, maka semua unsur-unsur itu keluar dari tubuh si ibu. Unsur-unsur itulah yang oleh Gusti Allah ditakdirkan untuk menjaga setiap manusia yang ada di muka bumi ini. Maka bila masyarakat Kejawen hingga kini mengenal adanya doa yang menyebut saudara yang tak tampak mata itu secara lengkap yaitu :

“KAKANG KAWAH, ADHI ARI-ARI, GETIH, PUSER, KALIMO PANCER”.

Pancer
Lalu siapakah yang disebut dengan istilah Pancer? Yang disebut dengan istilah Pancer itu adalah si jabang bayi itu sendiri. Artinya, sebagai jabang bayi yang berwujud manusia, maka dialah pancer dari semua ‘saudara-saudara’nya yang tak tampak itu.

Siapa saja Sedulur Papat itu? Sedulur papat yang dikenal masyarakat yang memahami Kejawen adalah:

  1. Kakang Kawah (Air Ketuban)
  2. Adhi Ari-Ari (Ari-ari)
  3. Getih (Darah)
  4.  Puser (Pusar)

Namun ternyata kembaran diri kita ternyata tidak hanya berjumlah empat, paparan Bpk Adi di bawah ini menyatakan bahwa ternyata kembaran diri kita ada 9. Dan menurut penuturan sahabat saya :: Sdr. Al amin Ibnu :: President Of Indonesian Hypnosis Society . Dia menyatakan bahwa kita mempunyai pecahan diri yang berjumlah hingga 32, nah lho…? hal ini membuat saya teringat dengan kisah para wali yang waktu itu sedang mencari calon Wali Ke sembilan, yang akhirnya wali ke sembilan ini berhasil ditemukan oleh Sunan Bonang. Beliau adalah Sunan Kalijogo yang merupakan wali penutup dari sembilan wali. Wali Wolu Songo Pinutup.

Kita Punya Banyak Diri
I am not who I think I am
I am not who you think I am
I am who I think you think I am

Pembaca, pernahkah anda mengalami saat bangun pagi dan masih mengantuk ternyata diri anda “terpecah” menjadi dua bagian. Satu bagian berkata, “Hei… bangun. Sudah pagi. Sudah waktunya bangun dan berangkat kerja”. Satu bagian lagi berkata, “Nggak usah bangun dulu ah. Masih enak nih kalo diterusin sedikit. Lima menit lagi…lah.”

Atau di lain waktu anda mungkin pernah berada dalam posisi sulit untuk memutuskan sesuatu. Saat anda berpikir keras apa yang harus anda lakukan, eh, ternyata ada beberapa “orang” di dalam diri anda yang saling berdialog, berdebat, bahkan mungkin saling bertengkar. Masing-masing dengan argumentasi sendiri. Masing-masing ingin pendapatnya yang diterima dan dijalankan. Dan anda, karena bingung harus mendengarkan suara yang mana, akhirnya malah tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pernah mengalami seperti ini?

Apa yang terjadi? Apakah dalam diri kita ada banyak kepribadian? Apakah kita ”kerasukan”? Lha, kok bisa ada ”orang lain” yang berdialog dalam pikiran kita?

Pembaca, jangan khawatir. Apa yang terjadi, seperti yang saya jelaskan di atas, adalah hal yang normal. Yang nggak normal adalah kalau kita, yang telah sering mengalami hal seperti ini, tetap nggak sadar dan tidak mencari tahu apa sih sebenarnya yang terjadi.

Sebenarnya ada berapa ”diri” dalam diri kita?

Jawabannya bisa macam-macam. Tansactional Analysis (TA) yang berawal dari hasil kerja Paul Federn yang selanjutnya dikembangkan oleh Eric Berne mengatakan dalam diri kita ada lima ”diri”. Ego State Therapy, yang awalnya dikembangkan oleh John Watkins, mengatakan tidak ada jumlah yang pasti. Gestalt Therapy, yang dikembangkan oleh Frederick Perls berdasar Psychodrama-nya Jacob Moreno, tidak menetapkan suatu jumlah tertentu. Voice Dialogue dan Psychosynthesis mengatakan kita punya banyak ”diri”. Carl Jung juga mengatakan hal yang sama, tidak diketahui secara pasti ada berapa banyak ”diri” dalam diri kita.

Namun untuk lebih mudah memahami maka saya akan mengutip apa yang dikatakan oleh Rowan. Menurut Rowan kita punya antara empat sampai sembilan ”diri” atau ”bagian” yang masing-masing adalah tema besar yang menaungi ”sub-diri”. Masing-masing ”diri” mempunyai kehidupan, fungsi, kepribadian, dan tugas masing-masing. Mereka saling terhubung antara satu dengan yang lain.

Oh ya, perlu saya luruskan terlebih dahulu bahwa yang saya jelaskan di artikel ini bukan kepribadian ganda atau Dissociative Identity Disorder (DID) atau Multiple Personality Disorder (MPD).

Jika kita merasa ada lebih dari sembilan ”diri” dalam diri kita maka yang selebihnya itu biasanya merupakan ”aspek” lain dari salah satu dari sembilan ”diri” kita. Jika kurang dari empat maka yang terjadi adalah kita kurang memperhatikan sehingga tidak mengetahui adanya ”diri” lain dalam diri kita.

Siapa saja sembilan ”diri” atau ”bagian” dalam diri kita?

Ada ”diri” yang berperan sebagai Pelindung. Bagian ini melindungi kelemahan kita. Bagian ini yang membuat ”diri” lainnya tersembunyi dan tidak tampak. Bagian ini bisa bergabung dengan Pengkritik.

Ada yang sebagai Pengkritik yang memberitahu kita apa yang salah dan yang benar. Bagian ini sangat suka menggunakan kekuatannya. Ia bisa bergabung atau bekerja sama dengan ”diri” yang lain.

Ada yang sebagai Pendorong yang mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang seharusnya kita lakukan, namun kita tunda. Bagian ini kesannya mendukung diri kita karena selalu mengingatkan kita akan hal-hal yang mungkin lupa kita lakukan. Namun dalam kenyataannya ”diri” ini juga yang membuat kita selalu merasa kurang melakukan kerja atau usaha walaupun kita telah melakukan sangat banyak tugas dan pekerjaan.

”Diri” Perfeksionis menetapkan standar yang tinggi untuk diri kita. Bagian ini tampak sangat mendukung kita. Namun bila kita tidak hati-hati justru ia yang membuat kita ”down” karena kita merasa belum melakukan yang terbaik. ”Diri” ini bisa bergabung dan bekerja sama dengan Pengkritik.

”Diri” Pusat Kendali bertugas mengendalikan ”diri” yang lainnya. Dalam diri orang tertentu ”bagian” ini bisa terlalu mendominasi. Ada juga orang yang ”Diri” Pusat Kendali-nya lemah sehingga yang mengendalikan dirinya adalah ”Diri” Pengkritik atau ”diri” yang lain. ”Diri” Pusat Kendali akan sangat membantu kita bila ia dapat berperan secara seimbang dan proporsional.

”Diri” Anak Dalam atau Inner Child bisa muncul dalam beberapa bentuk sifat dan karakter. Selama ini banyak buku atau pembahasan mengenai Inner Child. Namun sayangnya kebanyakan orang menganggap bahwa hanya ada satu macam Inner Child.

Berikut adalah beberapa sub-diri dari Inner Child :

  • Anak Penurut – anak yang selalu ingin disukai dan akan melakukan apa saja demi mendapat persetujuan dari hampir semua orang. Jika tidak hati-hati maka ia akan menjadi bagian yang mendorong seseorang untuk selalu menjadi ”Yes Man” demi menyenangkan orang lain.
  • Anak Bebas – anak yang spontan dan tahu bagaimana bersenang-senang dan menikmati hidup.
  • Profesor Cilik – anak yang selalu menginginkan jawaban untuk segala sesuatu dan membuat kesimpulan tanpa didasarkan pada fakta atau data yang akurat.
  • Anak Dependen – anak yang sangat bergantung pada orang lain.
  • Anak Kritis – anak yang mengkritik apa saja tanpa didasari pengetahuan yang cukup, sering dapat masalah.
  • Anak Pendendam – anak yang tujuan utamanya adalah balas dendam, namun tidak punya banyak ide bagaimana mewujudkan keinginannya ini, dan tidak bersedia mengakui jika ia bermaksud melakukan balas dendam.
  • Anak Pelindung Diri Sendiri – anak yang selalu cari aman atau selamat. Anak ini bisa menggunakan cara yang tidak baik demi mencapai tujuannya. Rasa panik yang tinggi menunjukkan adanya trauma di awal masa kehidupan.

Ada bagian yang beperan sebagai ”Diri” Orangtua Yang Peduli atau Sang Bijaksana. Bagian ini bertanggung jawab untuk memberikan dukungan, cinta tanpa syarat, perhatian, pujian, dan penguatan yang bersifat positif. Bagian ini biasanya disebut dengan Guardian Angel atau Protecting Parent. Bagian ini berfungsi melindungi diri kita dan menginginkan kita bahagia.

Ada lagi ”Diri” Pemberontak yang mengurusi kekuasaan, ambisi, dominasi, uang, dan sifat mementingkan diri sendiri. Semua ini tampak seperti ”diri” yang terpisah. Namun bila kita amati dengan saksama maka semua ”diri” ini mempunyai satu tema sentral yang sama. Seringkali ”Diri” Pemberontak menutupi ”diri” lain yang lemah.

Yang kesembilan adalah ”Diri” Bayangan yang merupakan citra diri negatif kita. Ini adalah ”orang” yang kita tidak ingin menjadi.

Setelah membaca sejauh ini anda mungkin bertanya, ”Dari mana sumber ”diri” yang dijelaskan di atas? Bagaimana proses pembentukan ”diri”?”

Ada enam hal yang mempengaruhi pembentukan ”diri” dalam diri kita.

Pertama adalah peran yang kita mainkan. Peran, kalau dalam kehidupan sehari-hari, adalah profesi atau pekerjaan kita. Misalnya peran sebagai hakim, guru, pimpinan perusahaan, atau peran yang lain.

Seringkali seseorang begitu larut dalam perannya dan sebagai akibatnya ia tidak bisa memainkan peran lainnya. Misalnya ia adalah seorang wanita yang memimpin suatu perusahaan besar. Nah, sudah tentu perannya di perusahaan berbeda dengan peran di rumah tangga. Jika wanita ini tidak hati-hati maka ia akan menjalankan rumah tangganya seperti perusahaan. Dan sudah tentu ia akan menempatkan suaminya sebagai bawahannya.

Kedua adalah lingkungan. Lingkungan, lebih tepatnya orang-orang di sekitar kita, akan mempengaruhi kita dan bisa membuat kita menjadi baik atau buruk. Semua bergantung pengkondisian yang kita alami sejak kecil.

Contohnya begini. Ada anak yang tadinya periang, ramah, pemberani, dan suka tantangan. Namun karena salah asuh, salah proses pendidikan di rumah atau di sekolah, akhirnya anak ini menjadi tidak percaya diri, pemalu, rendah diri, tidak berani mengambil keputusan, takut berbuat salah, merasa diri bodoh, dan masih banyak atribut negatif lainnya.

Ketiga adalah konflik internal yang kita alami. Konflik internal ini sebenarnya adalah konflik di antara ”diri” yang ada dalam diri kita. Bila tidak terjadi resolusi atau kompromi atau penyelesaian maka yang akan muncul adalah ”diri” yang lain yang berperan memainkan peran lain. Dengan demikian kepentingan ”pihak” yang konflik dapat diredam namun ini sebenarnya tidak menyelesaikan masalah.

Bingung?

Contohnya begini. Misalnya setiap kali anda ingin membuat keputusan penting, anda mengalami konflik diri yang hebat. Akibatnya anda seringkali tidak bisa membuat keputusan. Kalaupun anda akhirnya bisa membuat keputusan, hasilnya seringkali mengecewakan anda. Nah, akhirnya anda tidak lagi mau membuat keputusan karena khawatir kecewa atau gagal seperti pengalaman anda sebelumnya.

Cara keempat kita bisa membentuk ”diri” atau bagian dalam diri kita adalah melalui pengalaman pribadi kita, mulai dari masa kecil.

Pada umumnya kita akan tahu ada dua ”bagian” atau ”diri” yang saling berkomunikasi. Proses ini kita kenal dengan nama dialog internal. Masalah muncul jika terjadi perbedaan pendapat atau konflik di antara ”diri”. Konflik internal ini harus segera dibereskan agar kita bisa maju dan berkembang.

Satu hal yang perlu kita sadari adalah bahwa meskipun terjadi konflik dan ”ribut” di antara ”diri” yang berselisih pendapat namun tujuan tertinggi dari setiap ”diri” itu adalah selalu baik untuk kita.

Bagaimana caranya menyelesaikan perbedaan pendapat atau konflik di antara ”diri”?

Ada banyak teknik yang bisa digunakan. Salah satunya dengan menggunakan Six Step Reframing dalam NLP. Salah duanya adalah dengan menggunakan Parts Therapy dalam hipnoterapi. Untuk lebih jelas mengenai teknik Parts Therapy anda bisa membacanya di buku Hypnotherapy : The Art of Subconscious Restructuring. Ada lagi dengan Ego State Therapy. Selain itu bisa dengan terapi kursi atau Gestalt Therapy.

Namun secara prinsip proses menyelesaikan konflik di antara “diri” terdiri dari lima langkah. Langkah pertama adalah mengenali keberadaan “diri”. Setelah itu menerima keberadaan, sikap, karakter, atau kepribadian dari “diri”. Langkah ketiga adalah koordinasi. Pada tahap ini kita mencari tahu hubungan antara masing-masing “diri” yang konflik. Langkah keempat adalah integrasi. Pada tahap ini kita membantu “diri” yang konflik untuk bisa menemukan resolusi, atau paling tidak melakukan kompromi, sehingga mereka dapat bekerja sama dengan baik. Dan langkah terakhir adalah sintesis yang merupakan proses harmonisasi menuju penemuan Diri Transpersonal. Pada tahap ini kita menyadari siapa diri kita yang sesungguhnya.

Satu hal yang perlu diwaspadai saat kita berusaha mendamaikan dua bagian atau “diri” yaitu kita hanya berperan sebagai mediator. Jika konflik ringan terjadi dalam diri kita maka kita dapat melakukan mediasinya sendiri. Bila konfliknya cukup berat maka perlu meminta bantuan orang lain sebagai operator.

Apakah penting untuk menyelesaikan konflik di antara ”diri” dalam diri kita?

Oh, sangat penting. Baru-baru ini, saat membantu peserta Supercamp Becoming a Money Magnet meng-instal program pikiran mengenai masa depan, ada seorang peserta mengalami konflik diri yang cukup hebat.

Ceritanya begini. Peserta ini ingin sukses di masa depan. Ia dibimbing untuk meng-instal program sukses di pikiran bawah sadarnya. Pada tahap awal semuanya berjalan mulus. Namun saat ia menginstal program untuk mendukung keberhasilan yang besar dalam hidupnya, nah, saat ini muncul penolakan dari ”diri” yang lain.

Satu ”diri” ingin peserta ini sukses. Sedangkan ada satu ”diri” lainnya menolak. Terjadi dialog internal yang intens. Bagian yang menolak berkata, ”Hei.. saya tidak mau anda kerja keras seperti itu. Saya khawatir anda sakit. Saya adalah bagian yang mengurusi kesehatan anda. Kalau anda tetap memaksa mau mencapai hasil seperti yang anda inginkan, dan saya tahu itu butuh perjuangan yang tidak sedikit, kerja keras, ditambah lagi usia anda yang sudah agak tua, maka saya akan menghambat dan membuat anda tidak bisa bekerja”.

Apa yang terjadi setelah ini?

Ternyata peserta ini mengabaikan pesan dari ”diri” yang menolak. Ia tetap berusaha menginstal program pikiran yang mendukung ia mencapai sukses besar.

Akibatnya?

Secara tiba-tiba peserta ini merasakan pinggang sebelah kiri sangat sakit. Semakin ia memaksa menginstal program maka sakitnya semakin menjadi-jadi. Akhirnya ia memutuskan menunda menginstal programnya. Begitu ia berhenti menginstal program maka berhenti pula rasa sakit di pinggang sebelah kirinya. Rasa sakit ini adalah manifestasi dalam bentuk realita fisik dari penolakan yang dilakukan ”diri” yang tidak setuju dengan keinginan peserta ini.

Nah, bagaimana cara mengatasi penolakan atau sabotase ini?

Kita perlu mencari tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh ”diri” yang menolak. Lakukan dialog dengan tenang dan netral. Tidak boleh memihak atau menghakimi. Dapatkan resolusi. Atau paling tidak, ciptakan kompromi sehingga bagian atau ”diri” yang menolak bisa memaklumi atau menerima serta tidak melakukan sabotase. Syukur-syukur ia bersedia mendukung kita untuk sukses.

Ada peserta yang bertanya pada saya, ”Apa boleh kita membekukan atau men-deactivate atau menon-aktifkan bagian yang ”nakal”, bagian yang menghambat kemajuan kita?

Tidak boleh. Jangan sekali-kali melakukan hal ini karena akan sangat berbahaya. Apapun yang diinginkan oleh ”diri” yang menghambat kita, ini semua demi kebaikan kita. Dan kita tidak tahu apa peran lainnya dari ”diri” yang menghambat kita.

Maksudnya begini. Ada kasus di mana ada satu ”diri” atau bagian dari klien yang tidak mau diajak berunding untuk menyelesaikan masalah. Karena jengkel si terapis, yang kurang paham dengan teknik parts therapy atau terapi bagian atau ”diri” dalam diri seseorang, akhirnya mengambil langkah mudah, jalan pintas, yaitu membekukan atau menonaktifkan bagian ini.

Apakah masalah terselesaikan?

Sekilas pandang, ya. Namun ternyata bagian yang dibekukan ini juga adalah bagian atau ”diri” yang menangani rasa percaya diri, kemampuan berpikir kritis, dan membuat keputusan dengan cepat, dan efektif.

Akibatnya?

Klien ini akhirnya menjadi bingung dan tidak bisa beroperasi secara normal sebagai seorang manusia. Ia merasa ada bagian dari pikirannya yang lumpuh. Ia menjadi bingung, rasa percaya dirinya drop, dan tidak bisa membuat keputusan.

Dibutuhkan bantuan terapis lainnya yang benar-benar handal dan mengerti mengenai seluk beluk dan cara kerja ”diri” atau bagian untuk bisa membantu klien ini. Prosesnya tidak mudah karena ”diri” ini terlanjur marah, ngambek, dan tidak mau berkomunikasi karena telah dibekukan oleh terapis sebelumnya.

Setelah terjadi resolusi, klien ini bisa berubah dan semakin berkembang hidupnya karena konflik ”diri” yang ia alami sebelumnya dapat diselesaikan dengan baik.

Nah, pembaca mulai sekarang, saran saya, perhatikanlah internal dialog yang terjadi dalam diri anda di antara ”diri”dalam diri anda.

PUSTAKA : http://www.adiwgunawan.com

Magnetisme, Gendam, Dan Hipnotisme

Gendam & Magnetis
Hipnotis tradisional atau bisa disebut hipnotis timur yang berkembang pada masyarakat awam adalah hipnotis yang lahir dari “rahim mistik”. Walau identik dengan metafisis, hipnotis tradisional pada bagian tertentu memiliki kesamaan dengan hipnotis modern, khususnya untuk “mempengaruhi”.

Mistik, apapun alirannya percaya dibalik fisik manusia tersimpan energi misterius. Otak manusia terdiri dari bermilyar sel syaraf yang menghasilkan arus listrik lemah memancarkan gelombang elektromagnetik sangat halus. Karena itu, otak yang terlatih memiliki kekuatan gelombang yang sangat kuat yang dapat mempengaruhi sekitarnya.

Proses kekuatan gendam masih ada bagian yang belum terjangkau oleh logika. Namun jika diamati, prosesnya identik dengan hipnotis modern. Yaitu, diawali dengan menciptakan “pra induksi” yang harus disesuaikan dengan kondisi dan pola pikir subjek (sasaran yang dituju), kemudian melakukan “induksi” dilanjutkan dengan trance level test dengan melihat respon subjek terhadap induksi yang dilancarkan, baru kemudian memberikan sugesti atau saran-saran sesuai kehendak.

ENERGI TIMBUL DARI DISILIN DIRI
Sebuah ritual diyakini menimbulkan kekuatan mistis. Proses penggalian energi batin itu dilakukan dengan menanamkan “hipnotis diri” (autosugesti) secara rutin. Melalui bacaan-bacaan tertentu, wirid, mantra, doa dan sebagainya hingga mampu menimbulkan sugesti yang sangat kuat.

Proses sebuah ritual magis menghasilkan tenaga magnetis,
yaitu dasar dari kekuatan supranatural
yang nantinya dapat diaktualisasikan untuk berbagai aktivitas,
tergantung program yang mengolahnya.

Dengan demikian, proses dari wirid, doa atau mantra itu ditinjau dari sisi yang lebih ilmiah adalah konsep penanaman induksi dan motivasi ke alam bawah sadar hingga dalam kondisi tertentu, seseorang dapat melakukan aktivitas yang sering tidak disadarinya, semacam gerak reflek yang oleh sebagian orang disebut non aktifnya sang aku pribadi. Kondisi itu juga disebut proses kalenggahan karena hadirnya energi non pribadi yang mengendalikan jiwa raga.

Maka, orang-orang yang tekun mengolah jiwanya sering tidak menyadari “prestasi-prestasi” yang dilakukannya bahkan menurut pengalaman penulis, saat energi itu bekerja, terasa kesadaran berkurang baik pada pelaku atau orang lain yang kita pengaruhi. Intinya, sama-sama “mengantuk” dan tahu-tahu … beres.
Hipnotis pada sebagian masyarakat awam dikonotasikan negatif. Asumsi orang akan tertuju pada seseorang dengan mata melotot sedang mempengaruhi orang lain yang kemudian menyerahkan perhiasan dan isi dompetnya.

Dalam hal mempengaruhi atau “menundukkan” orang lain, antara hipnotis modern dengan yang tradisional memiliki perbedaan. Hipnotis modern lebih positif karena hanya mampu mempengaruhi orang yang ingin dipengaruhi (kepentingan terapi) sedangkan hipnotis tradisional diprogram untuk mampu mempengaruhi orang yang ingin menolak sekalipun.

SISI POSITIF HIPNOTIS TRADISIONAL
Tapi tidak selamanya hipnotis tradisional itu negatif. Dilihat dari sisi positifnya, eksistensinya adalah sebuah konsep pemanfaatan energi metafisis sebagai alternatif bagaimana menundukkan hati yang keras. Maka hipnotis tradisional pun efektif untuk menanangani kasus-kasus :

  • Memberikan nasihat agar lebih mudah masuk ke hati.
  • Proteksi/perisai dari niat jahat.
  • Meluluhkan orang yang keras, kalap, pelit (dalam kasus menagih) dll.
  • Memberikan keyakinan dan sugesti pada orang yang sedang secara psikis maupun fisik hingga bangkit rasa percaya dirinya.

Sebagai penunjang induksi hipnotis ilmiah. Penulis sering menggunakan hipnotis tradisional untuk mempengaruhi pasien/subjek yang sulit menerima induksi hipnotis modern.

Pemanfaatan hipnotis tradisional untuk tindak kejahatan walau sering kita dengar, tapi yang terjadi dijalanan itu sesungguhnya adalah bentuk dari penyalahgunaan ilmu, dan bukan tujuan dari ilmu itu diciptakan.
Ilmu bagai sebilah pisau yang dapat digunakan untuk menolong maupun menodong. Tergantung siapa yang memegangnya.

MANTRA, DOA SEBAGAI AUTOSUGESTI
Posisi mantra atau jenis bacaan tertentu oleh seseorang yang menggali olah batinnya, menempatkan mantra sebagai “alat bantu”. Dengan kesimpulan itu berarti bukan mantra atau bacaan-bacaan yang menimbulkan kekuatan, melainkan program atau niat ketika bacaan itu dilakukan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, “kata-katamu adalah doamu”. Artinya, ucapan lisan yang terprogram adalah kekuatan insaniah yang dapat menghasilkan kekuatan Ilahiyah. Kaidah ini dalam hipnotis modern disebut autosugesti.

Jika hipnotis modern lebih tertumpu pada teknik “sapa” atau verbal, Hipnotis tradisional mempengaruhi subyek (sasaran) lebih tertumpu pada energi batinnya melalui tatapan mata, gelombang suara dan energi lembut yang memancar dari badan halusnya. Para ahli hipnotis tradisional pada umumnya mempelajari ilmu metafisika yang “berkarakter meluluhkan”. Ilmu semacam itu dapat digali dari berbagai unsur, tergantung selera pribadi dan harus disesuaikan dengan latar belakang budayanya.

Kunci sukses dari mengolah sisi supranatural harus disesuaikan tahap spiritual seseorang. Orang yang nuraninya lebih dekat pada animisme – dinamisme dalam mengolah sisi batinnya harus melakukan ritual yang “aneh-aneh”, orang modern dengan metode yang lebih bisa diterima akal sehatnya, (tekhnik pernapasan, konsentrasi), sedangkan orang religius mengolah sisi batin itu melalui wirid atau doa.

Mistik yang berkembang pada masyarakat pada umumnya memiliki tahapan :

  • Japa Mantra (pemujaan pada alam, tokoh sakti & menguatkan ego / keakuan).
  • Riyadhah sebagai bentuk disiplin diri, mengurangi kenikmatan duniawi melalui puasa, melek malam, doa, wirid dsb.
  • Mantra Religius (kombinasi antara mantra konvensional dengan religi) Aurad (berupa rangkuman doa ciptaan orang-orang suci, jaljalut, hizb, asmak atau rangkuman ayat-ayat suci) Doa, Religi Murni (bersumber dari hadis dan alquran)

PROSES KERJA ENERGI
Beberapa kali penulis diundang dalam sebuah pelatihan hipnotis sebagai instruktur tamu yang membahas hipnotis tradisional. Informasi tentang “hipnotis magis” itu ternyata banyak mengusik kalangan ilmuwan.
Kepada yang meragukan adanya unsur supranatural itu, dan meyakini bahwa gendam yang terjadi dijalanan itu karena faktor kelihaian komunikasi dan memanfaatkan kebodohan korban saja, saya memberikan argumentasi, ketika ada anak yang sudah seharusnya tidak menyusu tetapi masih tetap menyusu, orang tuanya lalu memanfaatkan jasa “orang pintar”.

Dalam tradisi Jawa, memisah jalinan hati itu disebut sapeh. Metodenya cukup memberikan makan atau minuman yang sudah diberi energi. Maka yang terjadi kemudian, anak itu tiba-tiba mogok menyusu karena takut saat melihat puting susu Ibunya.

Pertanyaannya adalah? Kenapa balita itu tiba-tiba menjadi tidak lagi mau menyusu? Padahal ia tidak dibujuk-bujuk, tidak di induksi (dalam istilah hipnotis modern). Nah, jika hanya dengan “tiupan” saja dapat mempengaruhi prilaku anak-anak (juga orang dewasa), itu menunjukkan bahwa energi supranatural itu benar-benar ada dan dapat mempengaruhi kepribadian manusia.

LEBIH JAUH TENTANG GENDAM
Walau istilah gendam konotasinya negatif, hakikatnya gendam itu sebuah ilmu yang netral dan bebas nilai. Gendam tidak termasuk ilmu hitam. Posisinya seperti sirep, ilmu untuk menidurkan yang semula diciptakan untuk menidurkan bayi rewel agar segera tertidur, namun ketika sirep itu dipegang orang jahat lalu digunakan menidurkan calon korban. Dalam kasus ini, sirepnya tidak salah. Yang salah adalah orang yang memegang ilmu itu.

Ilmu sejenis gendam, khususnya untuk menggagalkan niat jahat, di Jawa Tengah disebut Aji Prembanyu / Pembayun. Sedangkan gendam itu sendiri lebih fokus pada ilmu meluluhkan untuk tujuan komunikasi.

Ilmu gendam terbagi dalam 3 jenis. Yaitu :

  1. Gendam fisik (murni teknik komunikasi, tapi pada umumnya mengekploitasi mistis. Aktivitas ini termasuk “keajaiban jasmani”)
  2. Gendam Kombinasi (perpaduan teknik komunikasi dengan “andalan” batin).
  3. Gendam Magis (100% magis. Termasuk keajaiban ruhani). Rumusnya “belum ketemu” tapi fenomenanya tidak dapat dipungkiri.

BAGAIMANA MENGUASAI GENDAM?
Mempelajari gendam tidaklah rumit. Kuncinya harus yakin dan tekun mengasah dan sebagai penunjang, wawasan harus diperluas. Tentang berat ringannya proses latihan tergantung jenis yang diinginkan. Dan bagi yang nuraninya tidak bisa menerima konsep olah batin yang berbau budaya, karena khawatir bid’ah dan sebagainya, dapat melalui aktivitas religius. Yaitu, melalui jalur aurad, doa, hizb, jaljalud dsb.

Konsep penggalian energi peluluh itu beragam. Ada yang dengan melakukan kungkum dengan membaca mantra-mantra tertentu, ada yang dengan puasa dan membaca bacaan yang diyakini mengandung kekuatan gaib.

Konsep mistik yang religius bersandar pada doa dengan kaidah : Dengan menyebut asma Tuhan (asma al-husna) engkau dapat “menyerap” sifat-sifat Tuhan. Dan pasti, Tuhan Maha Lembut, Maha Menundukkan, Maha Perkasa. Maka, bermohonlah kelembutan, daya penunduk dan keperkasaan kepada-Nya.

Hipnotis versus gendam dan penjelasannya

  1. Kalo hipnotis biasanya dengan kekuatan sugesti sehingga otak memberikan sinyal agar ikut dalam perintah si pelaku hipnotis
  2. Gendam melakukan penyusupan perintah dengan menangkap sinyal dan nalar manusia sehingga menjadi tidak sadar dan mengikuti perintah pelaku gendam

Biasanya hipnotis, harus melakukan dengan sepengetahuan si pelaku, sedangkan si pemilik gendam harus melakukan secara diam diam…

Contoh …
Seseorang yg turun dari bis atau menunggu bis di sebuah halte kadang otaknya berpikir, ingin segara berangkat dari halte tersebut atau berkonsentrasi melihat angkutannya tiba. Peristiwa ini di sebut single focus mind (tertuju pada satu pusat pemikiran). Saat si penunggu angkutan berpikir dengan SFM (single focus mind) yg bekerja adalah otak sebelah kiri, yang berhubungan dengan indra penglihatan dengan indra pendengaran. Keadaan ini lah yg di gunakan si pelaku gendam untuk menyusupkan perintah dengan cara masuk ke dalam pikiran orang tersebut untuk mematuhi perintah.

Namun otak pada saat itu belum tersadar. Saat di tepuk dari belakang, perintah otak yg masuk tadi berhadapan dengan pemikiran logika bertanya”siapakah orang ini”, tapi pelaku gendam biasa langsung memberikan sinyal bahwa dia mengenal si korban dengan jawaban “apa kabar”.

Hasilnya? Ya tau sendiri, si pikiran yang secara tidak sengaja terjawab nalar yg telah di susupi mulai ikut terkendali oleh si pelaku gendam. Biasa pelaku gendam paling suka memilih korban wanita. karena si korban di anggap lebih mudah di susupi pemikirannya dari pada pria. Makanya pas di halte atau di mana pun tetep bergerak. Jangan diam-diam aja. Soalnya otak kiri sama kanan harus balance klo ga mau di gendam.
Joki atau biasanya pelaku gendam beroperasi 5 orang. Mereka itu adalah; 1 orang sebagai penyapa, 1 orang sebagai pensusup pikiran, 1 orang pelindung, 1 orang nunggu di atm, 1 orang memantau dari jauh.

PUSTAKA : BLOG SURUWANGI [holistic1610.wordpress.com]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.