>Kemerdekaan Spiritual

>

“Hai kaumku, ingatlah ni’mat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”. ( QS. Al Maidah 5:20 )
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” ( QS. Ar Ruum 30:30 )
“Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. (Q.S. 48 : 23)”

Definisi Merdeka Menurut Kajian Ulama

Makna kemerdekaan menurut kajian agama yang digagas para ulama senafas dengan semangat HAM, Pancasila dan Undang-undang Dasar.

Menelisik makna kemerdekaan versi ulama sangat menarik. Setidaknya ada empat kata yang senafas dengan makna kemerdekaan yang akan dibahas dalam artikel ini: Dua kata diambil dari Al Qur’an, satu dari Hadits dan terakhir berasal dari makna budaya. Dari keempatnya itu masuk dalam konsep Pancasila dan UUD 45 dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Pertama, Kemerdekaan adalah bebas dari tekanan atau penindasan dari pihak lain. Makna ini diambil dari kata “Itqun Minannar”. Kata ini diambiil dari hadits Nabi yang sering dikaitkan dengan keutamaan bulan ramadhan: “… awaluhu rahmah, wausatuhu maghfiroh, wa akhiruhu itqun minannar.” (…. puasa ramadhan itu awalnya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalha pembebasan dari api neraka).

Konteks dari kata tersebut adalah bahwa kemerdekaan itu bisa tercipta manakala bisa terbebas dari penindasan, ancaman, intimidasi dari pihak-pihak lain. Misalnya rakyat Indonesia dikatakan merdeka, manakala tidak ada yang memaksa, tidak ada yang mengancam, tidak ada yang mengintimidasi, inilah makna hakikat “merdeka”. Jika masih ada ancaman, intimidasi penekanan pihak satu dengan pihak lain itu artinya belum merdeka. Itulah makna “merdeka” yang diambil dari kata “itqun minannaar”, yang berarti terbebas dari siksaan.

Kedua, Kemerdekaan berarti menghilangkan kelas-kelas sosial dalam masyarakat, menciptakan tatanan masyaarakat yang sederajat. Memuliakan antara satu sama lain, kesetaraan, tidak ada kelas dalam masyarakat, masing-masing memiliki hak sebagai bangsa tanpa membedakan kultur dan kelasnya.

Makna itu terambil dari kata “Fatahriru Roqobah”. Kata ini cukup banyak terdapat dalam al Quran. misalnya dalam satu ayat pada Annisa: 92 saja ada tiga kata. Kata “tahrir” dan “khurriyah” dalam bahasa Arab artinya “merdeka”.

Makna “merdeka” yang diambil dari ungkapan al quran itu adalah: “asyrofuhum, yuqolu huwa hurriyatu min qoumih.” Artinya, memuliakan masyarakat satu dengan yang lain, itulah makna merdeka yang sesungguhnya. Merdeka berarti jika seseorang itu menjadi mulia, tidak ada kelas di dalam kehidupan manusia; tidak ada kasta, tidak ada “nomor satu”, tidak “nomor dua”, tidak ada ningrat, tidak ada suku yang merasa unggul.

Lebih mudahnya, konteks di Indonesia sesuai dengan Pancasila dan UUD 45, setiap warga negara sederajat tidak ada ras, agama dan apapun yang merasa nomor satu atau nomor dua, tetapi masing-masing menghormati, memuliakan satu sama lain. Dalam tatanan dunia ada HAM yang juga senafas dengan ungkapan ini, bahwa setiap manusia sederajat. Bukankah juga dalam quran pun menyebutkan bahwa manusia di hadapan tuhan sama.

Dengan jelas al quran yang menyebutkan “Inna akromakum ‘indallahi atqoqum.” Sesungguhnya yang mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Jika masih ada yang merasa “tuan”, atau masih ada yang menganggap “itu anak buah saya”, berarti secara pribadi belum ada kemerdekaan dalam dirinya. Padahal pengertian manusia semuanya sama di hadapan Allah. Tidak ada budak, tidak ada kelas.

Kolonialisme zaman dulu menganggap bangsa Indonesia dikategorikan bangsa kelas dua, sementara kelas satunya orang Belanda. Karenanya kata “hurriyah” tidak berlaku saat itu. Bangsa kita dahulu belum merdeka. Namun sekarang, jika dikatakan merdeka, maka mesti merujuk pada kata “hurriyah”, di mana tidak lagi ada kelas-kelas dan merasa nomor satu, baru dikatakan merdeka.

Ketiga, merdeka diambil dari kata Fakku roqobah. Artinya, melepaskan budak dari perbudakan. Diambil dari ayat Al Qur’an “Wamaa adroka mal ‘aqobah, fakku roqobah” (Al Balad: 12-13). Kata “fakku” di sini pengertianya “merdeka“. Lebih lengkapnya, para ulama mendefinisikan kata fakku dengan إبطال الرق والعبودية (ibtlolur roqqi wal ‘ubudiyah) atau أبان بعضه عن بعض (Abaana ba’dhuhu ‘an ba’d).

Lebih jelasnya, kemerdekaan itu bisa tercapai, manakala bisa tampil bersama-sama antara satu individu dengan individu lain, atau antar kelompok satu dengan lainnya. Sehingga bukannya kelompok satu tampil yang lainnya tidak boleh tampil (disembunyikan) gara-gara dianganggap kelas dua, atau karena dianggap tidak sejajar, atau dianggapnya tidak berarti. Kalau saja hal tersebut masih berlaku di negeri kita, atau di negeri lain, bahkan bisa terjadi dalam diri kita, berarti belum ada “merdeka”. Contoh yang sering kita dengar: “sudah, lenyapkan saja dia!”, “kita saja yang maju, jangan sampai dia tampil”, dan lain-lain.

Dalam praktek hukum maka mestinya masing-masing komponen bangsa tidak pandang bulu. Jika hukum masih bersembunyi di belakang layar, sedangkan yang tampil adalah “uang”, ini berarti belum “merdeka”. Sebab hukum tidak pandang bulu, di mata hukum semuanya sama.

Orang yang bersalah mestinya bebas bukan sebaliknya. Yang salah tetap salah, yang benar secara hukum harus dibela. Jika bangsa disebut merdeka, maka tidak ada lagi istilah intimidasi, diskriminasi, character assanisation, mengancam pihak lain, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam masyarakat, dan lain sebagainya.

Keempat, merdeka diambil dari kata Istiqlal. (Masjid Istiqlal = masjid merdeka). Pengertian istiqlal menurut para ulama adalah, تفرد به ولم يشرك فيه (taffarroda bihi walam yusyrik fiih) Artinya: Mandiri. Tidak mau dicampur tangani oleh pihak lain. Sebuah bangsa yang “merdeka” (istiqlal) berarti tidak bisa dicampurtangani negara lain. Negara merdeka berarti negara itu mandiri, memanaj diri sendiri, bukan negara boneka, bukan negara yang diatur oleh negara lain. Kalau saja masih ada intervensi negara lain artinya belum merdeka.

Demikian juga bila makna istiqlal bagi individu artinya, seorang individu dikatakan merdeka jika sudah terbebas dari pengaruh “duniawi”, masih dipengaruhi oleh jabatan atau oleh macam-macam rayuan dan godaan lainnya, itupun belum dikatakan mandiri namanya, alias belum merdeka.

Kesimpulannya,

  1. Merdeka adalah “Itqun Minannar”, bebas dari tekanan atau penindasan dari pihak lain. negara dikatakan merdeka jika bebas dari intimidasi. Merdeka dari rasa ketakutan. Sebab betapa banyak negara yang ditakut-takuti oleh pihak lain. 
  2. Merdeka adalah hurriyah artinya tidak ada kelas-kelasan
  3. Merdeka adalah fakku roqobah, tidak ada tukar-tukaran maksudnya merdeka dari hukum. 
  4. Merdeka diambil dari kata Istiqlal, merdeka berarti tidak ada campur tangan dengan pihak lain alias mandiri.

Dalam konsep agama orang yang masuk syurga adalah mereka yang “merdeka”,  bukan hamba sahaya. Kenapa dikatakan merdeka, karena bagi si hamba akan merdeka jika hidupnya murni hanya kepada Allah; tidak merasa takut kecuali kepada Allah; tidak merasa cinta kecuali kepada Allah; tidak melakukan penyembahan kecuali kepada Allah. Itulah yang sebenar-benarnya yang merdeka dalam konsep para ulama.

KEMERDEKAAN SPIRITUAL
Spiritualitas manusia berpusat pada qalbu, dan di dalam qalbu manusia sudah ada potensi-potensi spiritual yang merupakan format dasar kemanusiaan. Hakekat diri manusia adalah diri yang ruhaniah/spiritual yang sudah tercipta sebelum adanya tubuh biologis (basyar). Ketika manusia masih dalam wujud ruh di alam lahut, ruh merupakan wujud pertama manusia dalam proses penciptaannya sebelum diturunkan ke bumi dan dimasukkan ke dalam tubuh jismaniah (basyar). Allah mempersiapkan basyar (tubuh biologis kebinatangan) hanya sebagai cangkang/wadah bagi si manusia ruhaniah itu.

Inti ruh yang menjadi pusat diri manusia adalah qalbu. Di dalam Bahasa Arab dikenal ada 2 macam qalbu; qalbu jismaniah berupa gumpalan daging yaitu jantung, dan qalbu ruhaniah yang dalam Bahasa Indonesia disebut hati nurani. Di dalam qalbu ruhaniah inilah terletak fithrah (sifat-sifat asli dari Tuhan) berupa kesadaran, perasaan, kecerdasan, iman dan iradah. Jadi, sejak diturunkan dari sisi Allah, si manusia ruhaniah itu qalbunya tidak kosong. Karena di dalam qalbu itu Allah SWT sudah menempatkan potensi-potensi dasar spiritual (fithrah), bibit iman, moralitas, ilmu dan kemerdekaan.

Tinggallah engkau & isterimu di dalam kebun ini dan makanlah segala yang tersedia berlimpah, yang mana saja yang kamu kehendaki…”,(QS. Al-Baqarah, 2:35-38)

Artinya sejak saat itu kepada Adam diberikan masyi’ah / kebebasan berkehendak. You are free to make your own choice, kamu bebas menentukan kehendakmu sendiri.

Seberapa besar kebebasan yang Allah berikan kepada Adam? 
Kebebasan yang sebebas-bebasnya

Apakah kebebasan itu hanya untuk Adam dan Hawa saja? 
Sepanjang di dalam kebun itu saja?
Tidak, kebebasan yang Allah berikan adalah kebebasan yang seluas-luasnya, sedemikian luas sampai-sampai seluruh manusia di muka bumi ini bebas bahkan untuk membangkang Allah sekali pun.

“Kalau saja Tuhanmu menghendaki, Dia bisa membuat semua yang ada dimuka bumi beriman kepada Dia…”,(QS. Yunus, 10:99)

Tidak ada paksaan untuk dalam beragama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus…”,(QS. Al-Baqarah, 2:256)

Muncul pertanyaan, mengapa Allah memberikan kebebasan yang begitu luas kepada manusia sampai-sampai manusia bebas untuk membangkang kepada Allah sehingga manusia berbuat jahat dimuka bumi?

Sebagai wakil Allah yang akan memimpin kehidupan di muka bumi, manusia akan banyak menghadapi problem. Supaya bisa menyelesaikan problem-problem itu maka manusia haruslah merupakan makhluk yang kreatif. Maka supaya bisa kreatif itulah Allah berikan ilmu dan kebebasan karena ilmu dan kebebasan adalah dua bahan baku untuk munculnya kreatifitas.

Kreatifitas, yang berangkat dari ilmu pengetahuan dan kemerdekaan, adalah salah satu dari hal-hal yang paling awal Allah berikan kepada manusia. Dengan ilmu manusia akan menjadi cerdas dan banyak tahu, dan dipadu dengan kemerdekaan kecerdasan berubah menjadi daya cipta yang dahsyat yang menyebabkan peradaban manusia berkembang progressif.

Yang Merusak Fithrah Manusia
1. Hawa Nafsu
2. Iblis, syetan, & Agen Dakwahnya (Wali Syetan)

Wahai Adam, maukah engkau kutunjukkan pada Pohon Keabadian (Status Quo) dan Kejayaan Tanpa Batas (Keserakahan).”(At-Thaahaa, 20:120)

Iblis menyusup ke kebun kelimpahruahan (jannah) dan mengiming-imingi Adam (manusia pertama di bumi) dengan janji Keabadian dan Kejayaan Tanpa Batas dengan cara memakan buah Pohon Terlarang. Rupanya Adam tergiur untuk mendapatkan keabadian dan kejayaan tanpa batas, maka Adam pun memakan buah pohon terlarang itu. Lalu apa yang terjadi?

“…maka nampaklah ‘kemaluan’ mereka berdua, dan keduanya mencari-cari alat untuk menutupinya dengan dedaunan di kebun; Adam telah membelakangi Tuhannya dan sesatlah ia.” (At-Thaahaa, 20:121)

Ketika manusia memperturutkan hawa nafsunya yang berupa hasrat keabadian dan keserakahannya maka akan nampaklah segala hal yang memalukan dari dirinya, terkuaklah segala aib yang menghinakannya. Manusia menjadi telanjang dan pakaiannya rontok. Pakaian adalah simbol keberadaban, simbol martabat dan status sosial, yang tiada lagi berguna ketika manusia memperturutkan hasrat keabadian dan keserakahan dengan mengabaikan fithrahnya.

Ketika Allah SWT melarang Adam untuk mendekati pohon terlarang itu bukan karena Allah takut akan tersaingi keabadian dan kejayaanNya, tetapi Allah, dengan teknik learning by doing, sedang memberi pelatihan kepada Adam tentang:

1. Suatu kebebasan bukanlah tanpa batas, harus dikendalikan.
2. Titik lemah manusia adalah hasrat keabadian & keserakahan.
3. Iblis adalah musuh yang nyata.

Adam bertaubat dan memohon ampun, Allah menerima taubat dan mengampuni Adam. Lalu Adam dikeluarkan dari “kebun pelatihan” untuk turun ke bumi relitas untuk menjalani missinya sebagai hamba Allah sekaligus khalifah Allah.

Perbudakan Spiritual oleh Jin & Manusia.
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS Fathir ayat 6)

Supaya setan jin dapat melancarkan tipudaya dengan mudah maka manusia harus terlebih dahulu dikuasai kesadarannya. Namun ironisnya, upaya setan jin itu justru difasilitasi sendiri oleh manusia. Yaitu dengan berkolaborasi dengan Jin demi memuaskan keinginan hatinya untuk menjadi manusia linuwih (dalam tanda kutip yang negatif, yaitu ingin menguasai manusia lain).

Mengamalkan ilmu bathin, ghaib, dll. yang dilandasi oleh dorongan hawa nafsu yang semacam ini atau dilandasi oleh ketidak sabarannya dalam menempuh laku spiritual yang dijalankan sehingga memunculkan sebuah pemaksaan kehendak kepada Tuhan agar disegerakan turunnya karunia Tuhan kepadanya, meminta disegerakannya datang yang kesannya dipaksakan itu, para spiritualis itu tanpa sadar justru mengundang jin untuk menguasai kesadaran mereka sendiri, para jin itu datang dengan menawarkan beragam paket ilmu dan kesaktian seperti yang diangankan dan di impikan oleh para spiritualis tersebut.

Mestinya, kesadaran adalah bagian yang paling utama yang harus mendapat penjagaan dengan bersungguh-sungguh. Ia jangan dipertaruhkan dengan apa saja, lebih-lebih dengan alasan yang tidak pasti. Yang pasti adalah kesadaran itu, apabila dirasakan sehat, berarti tidak ada jin di dalamnya. Kalau ada jin di dalamnya, berarti orang tersebut menjadi budak jin.

Dengan adanya kesadaran itu, supaya manusia dapat ingat kepada Allah Ta’ala dan selanjutnya dapat bersyukur atas segala anugerah dan kenikmatan. Dengan kesadaran yang dikuasai jin berarti manusia tidak dapat melakukan ibadah dengan sempurna. Serta perkembangangan ruhaninya menjadi mandeg serta Ruh Sucinya (Ruh Al-Quds) menjadi terhijab dari dirinya. Sehingga jalan untuk mencapai makrifatullah terputuslah sudah.

Padahal di dalam Ruh al-Quds itulah terdapat DNA Energi Ilahi yang berisi program, informasi, & instruksi energi untuk membentuk seorang manusia supaya bisa menjadi makhluk yang terbaik (li ahsani Takwim) yang berderajat mulia Al-Insan Kamil. Ruh al-Quds dicipta langsung oleh Allah SWT dan didalamnya terkandung disain serta program-program (rencana-rencana) Allah, juga sifat-sifat Allah, yang sifatnya sangat misterius (sirri). Maka Ruh al-Quds disebut juga Sirr (rahasia). Al-Insaanu Sirri wa Ana Sirruhu. Artinya : Manusia itu adalah Rahasi-Ku dan Akulah yang menjadi rahasianya. Sirrullah = Rahasia Allah.

Sesungguhnya jin dapat bebas keluar masuk ke dalam tubuh manusia, baik sekedar memberi informasi maupun mengadakan tipudaya bahkan langsung melalui hatinya. (QS. An-Nas ayat 5-6)

Rasulullah bersabda . “Sesungguhnya setan berjalan di tubuh anak adam pada peredaran darah, aku khawatir setan itu melontarkan kejahatan di hati kamu berdua , sehingga timbul prasangka yang buruk.“ (Bukhori 4:240,Muslim 2174-2175)

Oleh karena itulah saya melalui NAQS DNA selalu menyarankan agar manusia menjauhi perbuatan bekerja sama dengan makhlub ghaib apapun itu namanya. Walaupun dia mengaku sebagai Jin Muslim atau malaikat sekalipun. Karena malaikat hanya tunduk pada perintah Allah, yang artinya tidak bisa dijadikan suruhan manusia. Walaupun malaikat sujud dan hormat pada manusia yang berderajat mulia tidak berarti malaikat bisa disuruh-suruh untuk melakukan kepentingan manusia. Bantuan tentara malaikat kepada manusia adalah atas dasar komando dari Allah, dan bukan atas dasar komando dari manusia. Oleh karena itulah, kalau kita meminta pertolongan haruslah langsung kepada Allah, dan bukan pada malaikat Allah.

Oleh karena itu kalau ada orang yag mengaku punya khodam malaikat dan bisa disuruh sekehendak hatinya, maka menurut saya itu bukanlah makhluk Allah dari jenis malaikat. Namun dari jenis yang lain yang mengaku-aku sebagai malaikat.

Kembali kepada masalah perbudakan spiritual, selain perbudakan oleh bangsa jin. Juga ada perbudakan spiritual oleh manusia kepada manusia lainnya dengan perantaraan ilmu ghaib. Biasanya ini dilakukan oleh orang yang berilmu ghaib yang berhati kotor dan dikuasai nafsu syetannya, sehingga dia secara otomatis sadar atau tidak sadar telah berkolaborasi dengan kekuatan non pribadi semacam Syetan jin, dll. Dan dia telah menjadi Wali Syetan.

Contohnya ilmu Gendam, Di masyarakat kita seringkali ada orang yang melancarkan sebuah ilmu gendam untuk menguasai kesadaran orang lain sehingga dengan mudah orang tersebut dapat dikuasainya dan diperintah sekehendak hatinya.

Juga ilmu pelet, yang biasanya digunakan untuk menundukkan hati lawan jenisnya. Pernah ada sebuah fenomena di negara kita ini, ada orang yang punya istri 10 orang dan ditempatkan dalam satu rumah tapi rukun semua tanpa sekalipun cekcok, biasanya hal ini terjadi karena fihak laki-laki mempunyai pegangan ilmu pelet yang berfungsi untuk menguasai kesadaran hati para istrinya sehingga mau saja diperlakukan dengan tidak terhormat seperti itu.

Contoh lain, adalah beredarnya para petualang cinta di dunia maya semacam fesbuk dan situs jejaring sosial lainnya yang berbekal ilmu pelet dan gendam dan digunakan untuk menebar ranjau cinta di internet. Sehingga siapapun yang terkena ranjau cinta mereka, maka akan hilanglah kesadarannnya dan menuruti apa saja maunya, termasuk di ajak minggat atau di culik, atau ditipu dan dikuras hartanya, dll. seperti yang sering terjadi dan diberitakan di televisi. Oleh karena itu berhati-hatilah ketika anda bergaul di dunia maya ini, banyak penipu, pemerkosa, pencoleng, dan maling berkeliaran…

Juga ada yang disebut ilmu penunduk massa, yang biasanya dipegang oleh para pimpinan organisasi, guru spiritual, dll. Ciri khas dari manusia yang terkena efek ilmu semacam itu adalah hilangnya kesadaran logika dan rasionalnya serta tumpulnya hati nuraninya. Dan ada kecenderungan untuk mengisolasi diri dari masyarakat sekitarnya terutama yang berasal dari luar kelompoknya. Atau disebut juga fanatisme berlebihan yang disertai dengan eksklusifisme kelompok.

Seorang guru spiritual yang benar dan berhati bersih tidak akan menimbulkan efek seperti disebutkan di atas kepada anggotanya, Sang guru justru menuntun manusia untuk mencapai kemerdekaan spiritualnya, serta menuntunnya untuk menggali segala potensi diri yang berada di dalam diri manusia tersebut, Baik potensi lahir maupun potensi bathinnya. Serta meningkatkan kecerdasan IQ, EQ, SQ, kesadaran dan kemandirian pribadi sang murid. Serta menuntun sang murid untuk menemukan jati dirinya yang sejati.

Jadi berhati-hatilah dalam berguru ilmu bathin, karena ada guru spiritual yang membebaskan spiritual kita dan ada guru spiritual yang malah mengebiri spiritualitas dan kemajuan atau kesuksesan lahir bathin kita….

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” ( QS. Ali Imran : 14 )

اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” ( QS. Ali Imran : 26 )

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. ( QS. Ali Imran : 8 )

Wallahu a’lam bis showab…
Wassalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh…
Salam M E R D E K A

Kemerdekaan Spiritual

“Hai kaumku, ingatlah ni’mat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”. ( QS. Al Maidah 5:20 )
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” ( QS. Ar Ruum 30:30 )
“Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. (Q.S. 48 : 23)”

Definisi Merdeka Menurut Kajian Ulama

Makna kemerdekaan menurut kajian agama yang digagas para ulama senafas dengan semangat HAM, Pancasila dan Undang-undang Dasar.

Menelisik makna kemerdekaan versi ulama sangat menarik. Setidaknya ada empat kata yang senafas dengan makna kemerdekaan yang akan dibahas dalam artikel ini: Dua kata diambil dari Al Qur’an, satu dari Hadits dan terakhir berasal dari makna budaya. Dari keempatnya itu masuk dalam konsep Pancasila dan UUD 45 dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Pertama, Kemerdekaan adalah bebas dari tekanan atau penindasan dari pihak lain. Makna ini diambil dari kata “Itqun Minannar”. Kata ini diambiil dari hadits Nabi yang sering dikaitkan dengan keutamaan bulan ramadhan: “… awaluhu rahmah, wausatuhu maghfiroh, wa akhiruhu itqun minannar.” (…. puasa ramadhan itu awalnya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalha pembebasan dari api neraka).

Konteks dari kata tersebut adalah bahwa kemerdekaan itu bisa tercipta manakala bisa terbebas dari penindasan, ancaman, intimidasi dari pihak-pihak lain. Misalnya rakyat Indonesia dikatakan merdeka, manakala tidak ada yang memaksa, tidak ada yang mengancam, tidak ada yang mengintimidasi, inilah makna hakikat “merdeka”. Jika masih ada ancaman, intimidasi penekanan pihak satu dengan pihak lain itu artinya belum merdeka. Itulah makna “merdeka” yang diambil dari kata “itqun minannaar”, yang berarti terbebas dari siksaan.

Kedua, Kemerdekaan berarti menghilangkan kelas-kelas sosial dalam masyarakat, menciptakan tatanan masyaarakat yang sederajat. Memuliakan antara satu sama lain, kesetaraan, tidak ada kelas dalam masyarakat, masing-masing memiliki hak sebagai bangsa tanpa membedakan kultur dan kelasnya.

Makna itu terambil dari kata “Fatahriru Roqobah”. Kata ini cukup banyak terdapat dalam al Quran. misalnya dalam satu ayat pada Annisa: 92 saja ada tiga kata. Kata “tahrir” dan “khurriyah” dalam bahasa Arab artinya “merdeka”.

Makna “merdeka” yang diambil dari ungkapan al quran itu adalah: “asyrofuhum, yuqolu huwa hurriyatu min qoumih.” Artinya, memuliakan masyarakat satu dengan yang lain, itulah makna merdeka yang sesungguhnya. Merdeka berarti jika seseorang itu menjadi mulia, tidak ada kelas di dalam kehidupan manusia; tidak ada kasta, tidak ada “nomor satu”, tidak “nomor dua”, tidak ada ningrat, tidak ada suku yang merasa unggul.

Lebih mudahnya, konteks di Indonesia sesuai dengan Pancasila dan UUD 45, setiap warga negara sederajat tidak ada ras, agama dan apapun yang merasa nomor satu atau nomor dua, tetapi masing-masing menghormati, memuliakan satu sama lain. Dalam tatanan dunia ada HAM yang juga senafas dengan ungkapan ini, bahwa setiap manusia sederajat. Bukankah juga dalam quran pun menyebutkan bahwa manusia di hadapan tuhan sama.

Dengan jelas al quran yang menyebutkan “Inna akromakum ‘indallahi atqoqum.” Sesungguhnya yang mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Jika masih ada yang merasa “tuan”, atau masih ada yang menganggap “itu anak buah saya”, berarti secara pribadi belum ada kemerdekaan dalam dirinya. Padahal pengertian manusia semuanya sama di hadapan Allah. Tidak ada budak, tidak ada kelas.

Kolonialisme zaman dulu menganggap bangsa Indonesia dikategorikan bangsa kelas dua, sementara kelas satunya orang Belanda. Karenanya kata “hurriyah” tidak berlaku saat itu. Bangsa kita dahulu belum merdeka. Namun sekarang, jika dikatakan merdeka, maka mesti merujuk pada kata “hurriyah”, di mana tidak lagi ada kelas-kelas dan merasa nomor satu, baru dikatakan merdeka.

Ketiga, merdeka diambil dari kata Fakku roqobah. Artinya, melepaskan budak dari perbudakan. Diambil dari ayat Al Qur’an “Wamaa adroka mal ‘aqobah, fakku roqobah” (Al Balad: 12-13). Kata “fakku” di sini pengertianya “merdeka“. Lebih lengkapnya, para ulama mendefinisikan kata fakku dengan إبطال الرق والعبودية (ibtlolur roqqi wal ‘ubudiyah) atau أبان بعضه عن بعض (Abaana ba’dhuhu ‘an ba’d).

Lebih jelasnya, kemerdekaan itu bisa tercapai, manakala bisa tampil bersama-sama antara satu individu dengan individu lain, atau antar kelompok satu dengan lainnya. Sehingga bukannya kelompok satu tampil yang lainnya tidak boleh tampil (disembunyikan) gara-gara dianganggap kelas dua, atau karena dianggap tidak sejajar, atau dianggapnya tidak berarti. Kalau saja hal tersebut masih berlaku di negeri kita, atau di negeri lain, bahkan bisa terjadi dalam diri kita, berarti belum ada “merdeka”. Contoh yang sering kita dengar: “sudah, lenyapkan saja dia!”, “kita saja yang maju, jangan sampai dia tampil”, dan lain-lain.

Dalam praktek hukum maka mestinya masing-masing komponen bangsa tidak pandang bulu. Jika hukum masih bersembunyi di belakang layar, sedangkan yang tampil adalah “uang”, ini berarti belum “merdeka”. Sebab hukum tidak pandang bulu, di mata hukum semuanya sama.

Orang yang bersalah mestinya bebas bukan sebaliknya. Yang salah tetap salah, yang benar secara hukum harus dibela. Jika bangsa disebut merdeka, maka tidak ada lagi istilah intimidasi, diskriminasi, character assanisation, mengancam pihak lain, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam masyarakat, dan lain sebagainya.

Keempat, merdeka diambil dari kata Istiqlal. (Masjid Istiqlal = masjid merdeka). Pengertian istiqlal menurut para ulama adalah, تفرد به ولم يشرك فيه (taffarroda bihi walam yusyrik fiih) Artinya: Mandiri. Tidak mau dicampur tangani oleh pihak lain. Sebuah bangsa yang “merdeka” (istiqlal) berarti tidak bisa dicampurtangani negara lain. Negara merdeka berarti negara itu mandiri, memanaj diri sendiri, bukan negara boneka, bukan negara yang diatur oleh negara lain. Kalau saja masih ada intervensi negara lain artinya belum merdeka.

Demikian juga bila makna istiqlal bagi individu artinya, seorang individu dikatakan merdeka jika sudah terbebas dari pengaruh “duniawi”, masih dipengaruhi oleh jabatan atau oleh macam-macam rayuan dan godaan lainnya, itupun belum dikatakan mandiri namanya, alias belum merdeka.

Kesimpulannya,

  1. Merdeka adalah “Itqun Minannar”, bebas dari tekanan atau penindasan dari pihak lain. negara dikatakan merdeka jika bebas dari intimidasi. Merdeka dari rasa ketakutan. Sebab betapa banyak negara yang ditakut-takuti oleh pihak lain. 
  2. Merdeka adalah hurriyah artinya tidak ada kelas-kelasan
  3. Merdeka adalah fakku roqobah, tidak ada tukar-tukaran maksudnya merdeka dari hukum. 
  4. Merdeka diambil dari kata Istiqlal, merdeka berarti tidak ada campur tangan dengan pihak lain alias mandiri.

Dalam konsep agama orang yang masuk syurga adalah mereka yang “merdeka”,  bukan hamba sahaya. Kenapa dikatakan merdeka, karena bagi si hamba akan merdeka jika hidupnya murni hanya kepada Allah; tidak merasa takut kecuali kepada Allah; tidak merasa cinta kecuali kepada Allah; tidak melakukan penyembahan kecuali kepada Allah. Itulah yang sebenar-benarnya yang merdeka dalam konsep para ulama.

KEMERDEKAAN SPIRITUAL
Spiritualitas manusia berpusat pada qalbu, dan di dalam qalbu manusia sudah ada potensi-potensi spiritual yang merupakan format dasar kemanusiaan. Hakekat diri manusia adalah diri yang ruhaniah/spiritual yang sudah tercipta sebelum adanya tubuh biologis (basyar). Ketika manusia masih dalam wujud ruh di alam lahut, ruh merupakan wujud pertama manusia dalam proses penciptaannya sebelum diturunkan ke bumi dan dimasukkan ke dalam tubuh jismaniah (basyar). Allah mempersiapkan basyar (tubuh biologis kebinatangan) hanya sebagai cangkang/wadah bagi si manusia ruhaniah itu.

Inti ruh yang menjadi pusat diri manusia adalah qalbu. Di dalam Bahasa Arab dikenal ada 2 macam qalbu; qalbu jismaniah berupa gumpalan daging yaitu jantung, dan qalbu ruhaniah yang dalam Bahasa Indonesia disebut hati nurani. Di dalam qalbu ruhaniah inilah terletak fithrah (sifat-sifat asli dari Tuhan) berupa kesadaran, perasaan, kecerdasan, iman dan iradah. Jadi, sejak diturunkan dari sisi Allah, si manusia ruhaniah itu qalbunya tidak kosong. Karena di dalam qalbu itu Allah SWT sudah menempatkan potensi-potensi dasar spiritual (fithrah), bibit iman, moralitas, ilmu dan kemerdekaan.

Tinggallah engkau & isterimu di dalam kebun ini dan makanlah segala yang tersedia berlimpah, yang mana saja yang kamu kehendaki…”,(QS. Al-Baqarah, 2:35-38)

Artinya sejak saat itu kepada Adam diberikan masyi’ah / kebebasan berkehendak. You are free to make your own choice, kamu bebas menentukan kehendakmu sendiri.

Seberapa besar kebebasan yang Allah berikan kepada Adam? 
Kebebasan yang sebebas-bebasnya

Apakah kebebasan itu hanya untuk Adam dan Hawa saja? 
Sepanjang di dalam kebun itu saja?
Tidak, kebebasan yang Allah berikan adalah kebebasan yang seluas-luasnya, sedemikian luas sampai-sampai seluruh manusia di muka bumi ini bebas bahkan untuk membangkang Allah sekali pun.

“Kalau saja Tuhanmu menghendaki, Dia bisa membuat semua yang ada dimuka bumi beriman kepada Dia…”,(QS. Yunus, 10:99)

Tidak ada paksaan untuk dalam beragama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus…”,(QS. Al-Baqarah, 2:256)

Muncul pertanyaan, mengapa Allah memberikan kebebasan yang begitu luas kepada manusia sampai-sampai manusia bebas untuk membangkang kepada Allah sehingga manusia berbuat jahat dimuka bumi?

Sebagai wakil Allah yang akan memimpin kehidupan di muka bumi, manusia akan banyak menghadapi problem. Supaya bisa menyelesaikan problem-problem itu maka manusia haruslah merupakan makhluk yang kreatif. Maka supaya bisa kreatif itulah Allah berikan ilmu dan kebebasan karena ilmu dan kebebasan adalah dua bahan baku untuk munculnya kreatifitas.

Kreatifitas, yang berangkat dari ilmu pengetahuan dan kemerdekaan, adalah salah satu dari hal-hal yang paling awal Allah berikan kepada manusia. Dengan ilmu manusia akan menjadi cerdas dan banyak tahu, dan dipadu dengan kemerdekaan kecerdasan berubah menjadi daya cipta yang dahsyat yang menyebabkan peradaban manusia berkembang progressif.

Yang Merusak Fithrah Manusia
1. Hawa Nafsu
2. Iblis, syetan, & Agen Dakwahnya (Wali Syetan)

Wahai Adam, maukah engkau kutunjukkan pada Pohon Keabadian (Status Quo) dan Kejayaan Tanpa Batas (Keserakahan).”(At-Thaahaa, 20:120)

Iblis menyusup ke kebun kelimpahruahan (jannah) dan mengiming-imingi Adam (manusia pertama di bumi) dengan janji Keabadian dan Kejayaan Tanpa Batas dengan cara memakan buah Pohon Terlarang. Rupanya Adam tergiur untuk mendapatkan keabadian dan kejayaan tanpa batas, maka Adam pun memakan buah pohon terlarang itu. Lalu apa yang terjadi?

“…maka nampaklah ‘kemaluan’ mereka berdua, dan keduanya mencari-cari alat untuk menutupinya dengan dedaunan di kebun; Adam telah membelakangi Tuhannya dan sesatlah ia.” (At-Thaahaa, 20:121)

Ketika manusia memperturutkan hawa nafsunya yang berupa hasrat keabadian dan keserakahannya maka akan nampaklah segala hal yang memalukan dari dirinya, terkuaklah segala aib yang menghinakannya. Manusia menjadi telanjang dan pakaiannya rontok. Pakaian adalah simbol keberadaban, simbol martabat dan status sosial, yang tiada lagi berguna ketika manusia memperturutkan hasrat keabadian dan keserakahan dengan mengabaikan fithrahnya.

Ketika Allah SWT melarang Adam untuk mendekati pohon terlarang itu bukan karena Allah takut akan tersaingi keabadian dan kejayaanNya, tetapi Allah, dengan teknik learning by doing, sedang memberi pelatihan kepada Adam tentang:

1. Suatu kebebasan bukanlah tanpa batas, harus dikendalikan.
2. Titik lemah manusia adalah hasrat keabadian & keserakahan.
3. Iblis adalah musuh yang nyata.

Adam bertaubat dan memohon ampun, Allah menerima taubat dan mengampuni Adam. Lalu Adam dikeluarkan dari “kebun pelatihan” untuk turun ke bumi relitas untuk menjalani missinya sebagai hamba Allah sekaligus khalifah Allah.

Perbudakan Spiritual oleh Jin & Manusia.
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS Fathir ayat 6)

Supaya setan jin dapat melancarkan tipudaya dengan mudah maka manusia harus terlebih dahulu dikuasai kesadarannya. Namun ironisnya, upaya setan jin itu justru difasilitasi sendiri oleh manusia. Yaitu dengan berkolaborasi dengan Jin demi memuaskan keinginan hatinya untuk menjadi manusia linuwih (dalam tanda kutip yang negatif, yaitu ingin menguasai manusia lain).

Mengamalkan ilmu bathin, ghaib, dll. yang dilandasi oleh dorongan hawa nafsu yang semacam ini atau dilandasi oleh ketidak sabarannya dalam menempuh laku spiritual yang dijalankan sehingga memunculkan sebuah pemaksaan kehendak kepada Tuhan agar disegerakan turunnya karunia Tuhan kepadanya, meminta disegerakannya datang yang kesannya dipaksakan itu, para spiritualis itu tanpa sadar justru mengundang jin untuk menguasai kesadaran mereka sendiri, para jin itu datang dengan menawarkan beragam paket ilmu dan kesaktian seperti yang diangankan dan di impikan oleh para spiritualis tersebut.

Mestinya, kesadaran adalah bagian yang paling utama yang harus mendapat penjagaan dengan bersungguh-sungguh. Ia jangan dipertaruhkan dengan apa saja, lebih-lebih dengan alasan yang tidak pasti. Yang pasti adalah kesadaran itu, apabila dirasakan sehat, berarti tidak ada jin di dalamnya. Kalau ada jin di dalamnya, berarti orang tersebut menjadi budak jin.

Dengan adanya kesadaran itu, supaya manusia dapat ingat kepada Allah Ta’ala dan selanjutnya dapat bersyukur atas segala anugerah dan kenikmatan. Dengan kesadaran yang dikuasai jin berarti manusia tidak dapat melakukan ibadah dengan sempurna. Serta perkembangangan ruhaninya menjadi mandeg serta Ruh Sucinya (Ruh Al-Quds) menjadi terhijab dari dirinya. Sehingga jalan untuk mencapai makrifatullah terputuslah sudah.

Padahal di dalam Ruh al-Quds itulah terdapat DNA Energi Ilahi yang berisi program, informasi, & instruksi energi untuk membentuk seorang manusia supaya bisa menjadi makhluk yang terbaik (li ahsani Takwim) yang berderajat mulia Al-Insan Kamil. Ruh al-Quds dicipta langsung oleh Allah SWT dan didalamnya terkandung disain serta program-program (rencana-rencana) Allah, juga sifat-sifat Allah, yang sifatnya sangat misterius (sirri). Maka Ruh al-Quds disebut juga Sirr (rahasia). Al-Insaanu Sirri wa Ana Sirruhu. Artinya : Manusia itu adalah Rahasi-Ku dan Akulah yang menjadi rahasianya. Sirrullah = Rahasia Allah.

Sesungguhnya jin dapat bebas keluar masuk ke dalam tubuh manusia, baik sekedar memberi informasi maupun mengadakan tipudaya bahkan langsung melalui hatinya. (QS. An-Nas ayat 5-6)

Rasulullah bersabda . “Sesungguhnya setan berjalan di tubuh anak adam pada peredaran darah, aku khawatir setan itu melontarkan kejahatan di hati kamu berdua , sehingga timbul prasangka yang buruk.“ (Bukhori 4:240,Muslim 2174-2175)

Oleh karena itulah saya melalui NAQS DNA selalu menyarankan agar manusia menjauhi perbuatan bekerja sama dengan makhlub ghaib apapun itu namanya. Walaupun dia mengaku sebagai Jin Muslim atau malaikat sekalipun. Karena malaikat hanya tunduk pada perintah Allah, yang artinya tidak bisa dijadikan suruhan manusia. Walaupun malaikat sujud dan hormat pada manusia yang berderajat mulia tidak berarti malaikat bisa disuruh-suruh untuk melakukan kepentingan manusia. Bantuan tentara malaikat kepada manusia adalah atas dasar komando dari Allah, dan bukan atas dasar komando dari manusia. Oleh karena itulah, kalau kita meminta pertolongan haruslah langsung kepada Allah, dan bukan pada malaikat Allah.

Oleh karena itu kalau ada orang yag mengaku punya khodam malaikat dan bisa disuruh sekehendak hatinya, maka menurut saya itu bukanlah makhluk Allah dari jenis malaikat. Namun dari jenis yang lain yang mengaku-aku sebagai malaikat.

Kembali kepada masalah perbudakan spiritual, selain perbudakan oleh bangsa jin. Juga ada perbudakan spiritual oleh manusia kepada manusia lainnya dengan perantaraan ilmu ghaib. Biasanya ini dilakukan oleh orang yang berilmu ghaib yang berhati kotor dan dikuasai nafsu syetannya, sehingga dia secara otomatis sadar atau tidak sadar telah berkolaborasi dengan kekuatan non pribadi semacam Syetan jin, dll. Dan dia telah menjadi Wali Syetan.

Contohnya ilmu Gendam, Di masyarakat kita seringkali ada orang yang melancarkan sebuah ilmu gendam untuk menguasai kesadaran orang lain sehingga dengan mudah orang tersebut dapat dikuasainya dan diperintah sekehendak hatinya.

Juga ilmu pelet, yang biasanya digunakan untuk menundukkan hati lawan jenisnya. Pernah ada sebuah fenomena di negara kita ini, ada orang yang punya istri 10 orang dan ditempatkan dalam satu rumah tapi rukun semua tanpa sekalipun cekcok, biasanya hal ini terjadi karena fihak laki-laki mempunyai pegangan ilmu pelet yang berfungsi untuk menguasai kesadaran hati para istrinya sehingga mau saja diperlakukan dengan tidak terhormat seperti itu.

Contoh lain, adalah beredarnya para petualang cinta di dunia maya semacam fesbuk dan situs jejaring sosial lainnya yang berbekal ilmu pelet dan gendam dan digunakan untuk menebar ranjau cinta di internet. Sehingga siapapun yang terkena ranjau cinta mereka, maka akan hilanglah kesadarannnya dan menuruti apa saja maunya, termasuk di ajak minggat atau di culik, atau ditipu dan dikuras hartanya, dll. seperti yang sering terjadi dan diberitakan di televisi. Oleh karena itu berhati-hatilah ketika anda bergaul di dunia maya ini, banyak penipu, pemerkosa, pencoleng, dan maling berkeliaran…

Juga ada yang disebut ilmu penunduk massa, yang biasanya dipegang oleh para pimpinan organisasi, guru spiritual, dll. Ciri khas dari manusia yang terkena efek ilmu semacam itu adalah hilangnya kesadaran logika dan rasionalnya serta tumpulnya hati nuraninya. Dan ada kecenderungan untuk mengisolasi diri dari masyarakat sekitarnya terutama yang berasal dari luar kelompoknya. Atau disebut juga fanatisme berlebihan yang disertai dengan eksklusifisme kelompok.

Seorang guru spiritual yang benar dan berhati bersih tidak akan menimbulkan efek seperti disebutkan di atas kepada anggotanya, Sang guru justru menuntun manusia untuk mencapai kemerdekaan spiritualnya, serta menuntunnya untuk menggali segala potensi diri yang berada di dalam diri manusia tersebut, Baik potensi lahir maupun potensi bathinnya. Serta meningkatkan kecerdasan IQ, EQ, SQ, kesadaran dan kemandirian pribadi sang murid. Serta menuntun sang murid untuk menemukan jati dirinya yang sejati.

Jadi berhati-hatilah dalam berguru ilmu bathin, karena ada guru spiritual yang membebaskan spiritual kita dan ada guru spiritual yang malah mengebiri spiritualitas dan kemajuan atau kesuksesan lahir bathin kita….

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” ( QS. Ali Imran : 14 )

اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” ( QS. Ali Imran : 26 )

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. ( QS. Ali Imran : 8 )

Wallahu a’lam bis showab…
Wassalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh…
Salam M E R D E K A

Manusia Bergerak Ke Arah Kesempurnaan 3 – KESADARAN

Kemampuan Akal
Akal adalah salah satu karunia Tuhan sebagai berkat kepada manusia. Tuhan berkata dalam Al-Qur’anul Karim,
Katakanlah, Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (supaya kamu bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya). [Tetapi] amat sedikit kamu bersyukur. ” (QS. al-Mulk: 23)

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata,
Akal adalah milik manusia yang paling berharga, karena ia menyimpan kehormatan setelah ia dihina, mengangkatnya apabila ia jatuh, membimbingnya apabila ia tersesat, dan meluruskan bicaranya apabila ia bicara.[27]

Dalam ajaran Islam, akal dipandang sebagai ‘nabi’ dari batin manusia, dan membimbingnya dan sebagai ayat (‘bukti’) Tuhan. Imam Musa al-Kazhim as berkata,

Tuhan telah menunjuk dua jenis bimbingan kepada manusia. Yang satu lahiriah dan nyata, yang lainnya di dalam dan tersembunyi. Bukti yang nyata adalah para nabi, rasul dan para imam suci. Bukti yang tersembunyi adalah akal.[28]

Karena kemampuan akal manusia tidak sama tingkatan dan berbeda dalam derajatnya, pada Hari Pengadilan setiap orang akan dituntut tanggung jawabnya sesuai dengan kemampuan akalnya. Imam Baqir as berkata,

Di Hari Pengadilan Tuhan akan memeriksa rekaman peri-laku makhluk-makhluk-Nya (dengan kekerasan) yang sebanding dengan kemampuan akalnya di dunia.[29]

Di zaman ini manusia sangat terpukau oleh capaian akal yang menakjubkan berupa temuan-temuan ilmiah, dengan menganggap-nya sebagai tujuan akhir kehidupan. Keterpukauan ini telah memberikan pukulan yang hampir tak dapat dipercaya pada peran akal dan tempatnya dalam kehidupan manusia. Hal itu telah menyebabkan manusia melupakan dan mengabaikan kekuatan dan daya kemampuan yang berhubungan langsung dengan adikodrati dan Sumber kehidupan. Sekiranya orang yang terpesona itu melihat cakrawala yang jauh dan lebih luas ke panorama adi-kodrati, ia akan tidak mau berhenti pada manifestasi-manifestasi akal yang memukau. Islam sepenuhnya mengenal nilai dan kemam-puan akal yang sesungguhnya serta luasnya bidang kegiatannya. Atas dasar pengetahuan itulah maka Islam memberikan demikian banyak kepedulian pada latihan dan pertumbuhan akal, agar ia dapat memandang realitas kehidupan dengan kepedulian yang penuh pikiran. Al-Qur’an meminta akal supaya tidak berpegang pada apa pun yang tidak terbukti dengan pasti dan tanpa keraguan. Ia meminta akal supaya tidak menerima sesuatu sebelum ada bukti yang jelas dan pasti untuk membenarkan penerimaan seperti itu.

Dan janganlah kamu mengikuti apayangkamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. al-Israa':36)

Peringatan gamblang ini menekankan perluanya penyelidikan seperlunya sebelum menerima sesuatu sebagai kebenaran. Demi-kian pula, Al-Qur’an menunjukkan watak menyeleweng dari orang-orang yang tidak mendasarkan kepercayaan mereka pada kepastian dan hanya mengikuti dugaan dan sangka-sangka mereka. Al-Qur’an berkata tentang mereka,

Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran. (QS. an-Najm: 28)

Berdasarkan itu, dengan mengambil pendekatan yang kokoh berdasarkan penalaran yang tak tergoyahkan, ia menghancurkan fondasi intelektual dari peniruan membuta dan dugaan-dugaan. Ia memperingatkan para pengikut buta yang tanpa selidik meniru keyakinan dan kepercayaan nenek moyang. Al-Qur’an berkata tentang mereka,

Mereka hanya mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tidak berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.(QS. an-Najm: 28)

Karena itu, dengan mengambil pendekatan yang kokoh berdasarkan penalaran yang tak tergoyahkan, Islam membongkar fondasi peniruan dan dugaan membuta. Islam memperingatkan para pengikut buta yang meniru keyakinan dan kepercayaan nenek moyang mereka bahwa pendekatan mereka hanyalah kebodohan semata-mata.

Mereka mengatakan, “Tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari [perbuatan] nenek moyang kami. (QS. al-Baqarah: 170)

Seruan ini dimaksudkan untuk mengembangkan pikiran kritis dan meletakkan kembali akal pada perannya yang sebenarnya dengan menolak mengikuti dugaan dan persangkaan. Dengan ini Islam hendak membiasakan akal untuk penyelidikan yang ber-disiplin dan kritis pada bidang tindakannya, sehingga dengan demikian ia dapat mengatur berbagai daya kemampuan dan menertibkan gagasan-gagasan dan konsepss-konsepsi ke bawah dominionnya. Jenis pemikiran yang dituntut Islam bukanlah jenis abstrak yang tersisih dari realitas-realitas kongkret yang mengambil bentuk spekulasi filosofls. Dengan memanggil perhatian kepada tanda-tanda (ayat) penciptaan Islam berusaha membangunkan akal supaya manusia dapat menggunakan kemampuan kesadarannya untuk merenungkan secara mendalam Keagungan dan Kebijaksana-an Tuhan yang terwujud dalam sistem penciptaan. Itulah pemikiran yang bebas dari fantasi, bebas dan reseptif terhadap realitas, bukan yang hilang dalam keliaran gelapnya fantasi. Itu pemikiran yang menghubungkan manusia, dengan pikiran dan pengertiannya, kepada Ruh Ilahi yang melingkupi seluruh dunia wujud, dan ini adalah keutamaan tertinggi akal.

Spinoza, menulis,
Yang tertinggi yang dapat dipahami akal adalah Tuhan, yakni Wujud Mutlak yang tak terbatas dan yang tanpa Dia tak akan ada apa pun dan tak ada yang dapat dipikirkan, dan oleh karena itu apa yang sangat menguntungkan bagi pikiran, atau yang merupakan kebaikan tertinggi bagi pikiran, adalah pengetahuan tentang Tuhan. Lagi, pikiran hanya bertindak sejauh ia mengerti dan hanya sejauh ia dapat dikatakan secara mutlak sebagai bertindak sesuai dengan kebajikan. Oleh karena itu, memahami adalah kebajikan mutlak pikiran. Tetapi hal tertinggi yang dapat dimengerti pikiran ialah Tuhan (sebagai-mana telah kami tunjukkan), dan oleh karena itu kebajikan pikiran yang tertinggi ialah memahami atau mengenal Tuhan.[30]

Maksud terakhir dari pikiran dan penyelidikan Islam Islam ialah mengobati hati manusia dan meletakkan fondasi kehidupan pada kebenaran dan keadilan. Ketika seseorang sampai kepada suatu kesimpulan tertentu melalui pemikiran dan menyadari implikasi-implikasinya secara mendalam, ia menerapkannya pada tindakan dan kehidupan. Sekali keyakinan dinamis itu memberi-tahukan kepada akal, perilaku dan daya tanggapnya, ia siap melakukan perjuangan sengit melawan setiap hal yang tak pantas yang berkompromi dengan nilai manusia yang sesungguhnya.

Walaupun akal adalah penuntun terbaik dan sumber penge-nalan yang terbesar, ia kehilangan cerlangnya sebagai akibat tirai hasrat dan hawa nafsu yang menabiri akal dan menghalangi cahayanya. Maka akal pun kehilangan kemampuan bimbingannya. Al-Qur’an merujuk peran menyesatkan dari hasrat dan hawa nafsu dengan kata-kata-kata berikut.

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). (QS. al-Qashash: 50)

Tetapi orang-orang yang lalim mengikuti hawa najsunya tanpa ilmu pengetahuan. (QS. ar-Ruum: 29)
Andaikata kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini. (QS. al-Mu’minuun: 71)
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya… ? (QS. al-Jaatsiyah: 23)

Tiada ragu, mengatasi dan mengendalikan hawa nafsu dan dorongan-dorongan negatif adalah tugas yang sangat sulit. Hanya dengan—usaha dan latihan yang sungguh-sungguh orang dapat mengekang hawa nafsu pemberontak dan menundukkannya kembali kepada pertimbangan akal. Ini cara mengatasi tirani hawa nafsu dan mengambil manfaat darinya secara tepat dan patut. Nabi saw pada suatu ketika berkata kepada sekelompok mujahid dari suatu pertempuran,

‘Selamat datang bagi mereka yang menunaikan jihad kecil dan yang masih akan melakukan jihad besar.’ Beliau ditanyai, ‘Ya Rasul Allah, apakah jihad besar itu?’ Beliau menjawab, ‘Itulah jihad melawan hawa nafsu.’[31]

Orang yang mendapat berkat dan kedekatan dengan Tuhan adalah orang yang waspada terhadap dorongan-dorongan hawa nafsu yang garang dan berbahaya dan yang tidak mengizinkan motif-motif hawa nafsu menguasai akalnya dan memalingkannya kepada hal-hal yang haram dan menyimpang.

Dan adapun arang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa najsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. (QS. an-Nazi’aat; 40-41)

Apakah Kesadaran Produk Terlarang yang Dibatinkan?
Suatu alat pelunak lainnya terhadap naluri dan impuls jiwa manusia ialah kesadaran moral. Sejak awal kemunculan manusia di muka bumi hingga hari ini, abad-abad panjang telah berlalu, dan selama itu manusia cenderung kepada kebaikan dan membenci kejahatan. Manusia selalu mendengar suara moral batin memanggil dari dalam yang disebut “kesadaran” atau “hati nurani”. Kehidupan rasionalnya sepanjang zaman berada di samping kehidupan kesadaran

Bilamana manusia dapat membedakan antara duri dan bunga, menjauhi duri dan menikmati bunga, ketika ia dapat membedakan antara yang kotor dengan yang bersih, tentulah ia tidak mencapur-adukkan kebajikan dan kejahatan. Watak mendasar dari kesadaran merupakan salah satu fenomena penciptaan yang paling menarik.

Manusia, dalam keadaan imbang, tertarik kepada kejujuran dan keadilan, dan menolak kecurangan dan kelaliman. Sebenarnya, keyakinan moral lebih tegas daripada keyakinan rasional, yang mempunyai nilai yang pasti untuk menentukan fakta-fakta. Karena, pikiran sangat menyadari bahwa pengetahuan tentang obyek-obyek lahiriah yang ditangkapnya, yang membawa stempel keyakinan yang diletakkan padanya oleh akal, mengenai realitas yang terpisah dan di luar pikiran, sedang kepastian yang diciptakan oleh kesadaran hati nurani berada di atas jenis kepastian menurut persepsi dan pengamatan. Dalam hal keyakinan moral, obyek itu terasa sebagai bagian dari subyek.

Sebagian psikoanalis, seperti Freud dan para pengikutnya, menyangkal bahwa kesadaran moral itu adalah bawaan dalam diri manusia. Mereka percaya bahwa keinginan-keinginan yang tertekan dan larangan-larangan sosial yang tersimpan dalam pikiran bawah-sadar membentuk apa yang dinamakan ‘kesadaran’. Dengan kata lain, kesadaran adalah produk dari suatu peradaban dan tidak mempunyai akar-akar yang hakiki dalam jiwa manusia.

Dalam penyelidikan dan analisis psikologisnya dari berbagai fenomena, Freud mencari akar-akar seksual dan tidak memberi perhatian kepada faktor-faktor batin yang merupakan sumber perbuatan baik dan buruk.

Tidak pernah ada masyarakat di dunia yang mungkin meman-dang ketidakjujuran, kelaliman dan pelanggaran janji sebagai sesuatu yang baik dan terhormat, atau kejujuran, keadilan dan kesetiaan sebagai buruk dan tak pantas, atau yang memandang sisi kesejahteraan dan kebahagiaannya terletak pada kejahatan dan keburukan moral.

Teori Freud akan dapat diterapkan apabila manusia telah belajar untuk membedakan antara baik dan buruk melalui pengalaman. Tetapi, kebajikan dan kejelekan yang telah dikenal oleh semua manusia di muka bumi, yang beradab dan liar, dan bahkan orang-orang yang tidak mengenal ajaran para nabi dan pembaru, sama sekali tak dapat dikatakan sebagai produk larangan sosial dan impuls-impuls atau desakan yang tertekan.

Penyangkalan Freud terhadap watak hakiki kesadaran—dalam pengertian yang dipahami oleh etika—dan degradasi wujud manusia ke suatu kumpulan impuls-irnpuls dan naluri fisik semata-mata, tak dapat tidak menjuruskan dia ke penyangkalan total terhadap seluruh nilai moral dan spiritualitas maupun nilai dan keluhuran dorongan-dorongan suci manusia yang demikian aktif pada kedalaman jiwanya. Penyangkalan itu membuat perwujudan-nya, seperti kasih sayang, keadilan, kebaikan, dan suka menolong yang lemah dan tak berdaya, menjadi tidak berarti dan mustahil.

Atas dasar doktrin seperti itu, tak seorang pun dapat mengambil langkah ke dunia nilai spiritual dan moral tanpa menekan dorongan-dorongan dan naluri alaminya dan melewati kesenangan dengan mengandalkan daya kemauannya. Malah, menurut paham itu, semua kekangan batin adalah sepenuhnya produk kekuatan eksternal dari pemaksaan sosial.

Kalau kesadaran dipandang sebagai suatu produk dari kekuatan-kekuatan lingkungan eksternal, tindakan-tindakan orang yang, tanpa melihat manfaat keakuan, menyangkali diri mereka sendiri terhadap banyak kesenangan demi mencapai tujuan dan cita-cita yang lebih tinggi, dan menanggung sakit dan penderitaan demi kepentingan yang lebih luhur, tetap tak akan terjelaskan oleh gagasan Freud yang tak sempuma, yang memandangnya sebagai suatu kelicikan dari bawah-sadar sebagai kompensasi atas keinginan-keinginan yang tertekan. Keagungan penyerahan kepada kepada tuntunan kesadaran akan selalu merupakan suatu misteri yang sulit bagi teori sperti itu.

Para tokoh pembaru yang merupakan pelopor kemanusiaan telah menarik manusia ke dunia kesucian manusiawi. Orang pun tidak menyerah kepada para pemimpin itu seperti menaati para tiran dan orang kuat. Manusia mengambil jalan keutamaan dan pendidikan dengan sukarela dan atas kehendak dan kecintaannya kepada keluhuran, dan ia menahan diri dari melaksanakan sebagian dorongan hawa nafsunya tanpa mengkonfrontasi suatu kompleks jiwanya. Adalah dengan semangat dan gairah sukarela maka ia menyambut rasa manusiawinya yang luhur dan melakukan perbuatan baik yang tidak dipaksakan kepadanya oleh adat, agama dan masyarakat.

Ada fakta-fakta yang menunjukkan bahwa realitas batin jiwa tidak terbuat dari prinsip gelap pencari kepelesiran semata-mata untuk memenuhi hawa nafsu rendah, melainkan ada pula berdasar dalam dirinya dorongan untuk kebaikan tertinggi. Ada suatu prinsip di dalam dirinya yang merupakan sumber independen dari tindakan-tindakan dan perilaku bajiknya. Kesadaran itulah yang mengingatkan dia bahwa segala sesuatu dalam kehidupan tak dapat dicari untuk tujuan keakuan, dan kehidupan bukanlah semata-mata pemuasan hawa nafsu.

Banyak orang di dunia yang memandang kehidupan yang kosong dari kesadaran sebagai suatu penghinaan dan pelecehan terhadap kehormatan pribadi mereka sebagai manusia. Mereka bersedia meninggalkan kehidupan dan merangkul maut, tetapi tidak sedia melanggar hati nurani mereka. Bilamana mereka melakukan perbuatan baik dengan mengikuti dorongan batinnya, mereka mempunyai perasaan yang demikian mendalam tentang nilai dan keindahannya sehingga mereka tidak mau menukarnya dengan seisi dunia.

Sekiranya fondasi kepribadian manusia merupakan prinsip subjektif dari karakter kekanak-kanakan di mana perburuan kesenangan dan pengelakan dari kesukaran yang merupakan satu-satunya fungsi yang diperhitungkan, pengetahuan dan perindus-trian yang dicapai manusia tidak akan sampai pada tahap kemajuan dan perkembangan seperti sekarang.

Wilayah dan Peran Kesadaran

Kesadaran hati nurani jarang membuat kekeliruan dalam penilaian. Berbagai kekeliruan manusia dalam kehidupan sosial entah merupakan hasil kekeliruan penalaran atau indera, atau merupakan akibat hilangnya daya tangkal kesadaran terhadap desakan-desakan yang garang.

Oleh karena itu, banyak kekeliruan yang diamati dalam berbagai bidang kehidupan tidak berhubungan dengan penilaian keliru atau kelemahan kesadaran, karena daya kemampuan batin ini tidak memainkan peran di luar wilayah kegiatannya. Kesadaran menguji kesimpulan-kesimpulan dan data yang diberikan oleh penalaran dan daya inderawi, dan penilaiannya didasarkan pada hal-hal ini.

Orang yang berwatak murni dan sehat ditolak oleh kejahatan dan dosa. Walaupun demikian, di bawah pengaruh faktor-faktor tertentu, mungkin ia temoda oleh dosa dan keburukan, dan ini dapat melemparkan bayangan malu dan rasa bersalah kepada diri-nya. Tetapi, setelah pelanggaran itu dilakukan, sekali orang kembali kepada diri sendiri dan berkonsultasi dengan cahaya terluhur dalam dirinya, ia menyadari karakter buruk dari apa yang terjadi, dan suatu nyala api bergejolak dari kedalaman wujudnya. Suatu rasa bersalah dan malu yang pedih meliputi seluruh wujudnya. Ini yang dinamakan kesadaran hati nurani, yang mencela si pelanggar—bahkan setelah ia dihukum— dan menyiksanya terus-menerus dengan cambukan penyesalan.

Kesadaran bukan saja dapat merupakan penuntun yang patut diandalkan dalam perjalanan hidup, ia pun merupakan saksi yang adil dan jujur atas perilaku manusia, yang menjaga dan memak-lumkan apa yang diamatinya. Seseorang mungkin mengatakan dengan lidah sesuatu yang berlawanan dengan apa yang ada di dalam hatinya, atau ia mungkin menyembunyikan pikiran-pikiran rahasianya dengan mengendalikan gerakan lahiriahnya. Tetapi, ia tidak berkuasa membungkam suara kesadaran atau menghentikan dia dari mencelanya. Kesadaran tak dapat ditipu. Mungkin mengelabuinya melalui suatu tipuan atau trik mental atau bahkan menidurkannya untuk sementara, tetapi begitu ia terbangun dan mengkaji rekaman dosa perbuatan seseorang, ia memaklumkan dengan kejelasan yang sempurna karakter buruk dari perilaku kejinya dan memecutnya keras-keras dengan cambuk rasa salah dan penyesalan.

Tak ada yang dicintai manusia melebihi dirinya sendiri. Orang yang menderita penyiksaan rasa salah yang paling perih adalah sesungguhnya orang yang sudah ditolak dan ditinggalkan oleh dirinya sendiri. Ia merasa seakan-akan kejahatan dan dosanya adalah kobaran api yang dengan ganas membakar dirinya. Dari itu maka kesadaran adalah alat yang paling efektif untuk menjauhkan kejahatan dan dosa.

Apabila intensitas pedihnya kesadaran yang dideritanya melam-paui kekuasaan dan kemampuannya, suatu perasaan gelisah memenuhi dan menutupi seluruh rasa puas lainnya. Tekanan yang menyiksa dari kesadaran itu dalam beberapa kasus mengganggu perjalanan normal aktivitas jiwa seseorang dan menimbulkan kondisi-kondisi patologis. Kajian tentang ketegangan jiwa dalam beberapa kasus kegilaan yang telah dikaji menunjukkan bahwa ada orang yang kehilangan kewarasannya dan kemampuan akalnya akibat siksaan dan tekanan kesadaran akibat melakukan kejahatan dan dosa lalu jatuh ke dalam tungku penyesalan dan rasa bersalah.

Kadang-kadang demikian kuatnya keingingan seseorang yang tak patut sehingga orang itu hendak menipu kesadarannya dan mengatur kegiatannya. Adalah suatu ciri kesadaran yang menakjub-kan bahwa ia dapat melakukan perlawanan yang tekun terhadap dorongan-dorongan hawa nafsu yang kuat dan berjuang melawan-nya. Selama tidak terjadi kegagalan dalam perlawanannya kepada tekanan naluri, ia melaksanakan usahanya dan tidak mengabaikan kewajibannya.

Henri Baruk mengatakan,

Kesadaran hati nurani itu kuat dalam bertahan, dan sekalipun ketika cahayanya menjadi demikian suram sehingga tak kelihatan, sedikit banyaknya ia tetap waspada dan sadar. Dan bahkan di saat-saat ketika cahayanya hanya dapat dilihat dengan sulit, ia dapat, secara mendadak, mulai bercahaya dengan kecerlangan yang menyilaukan.[32]

Al-Qur’an dan Suara Alam

Sekarang banyak ilmuwan menolak pandangan Freud dan memandang kesadaran hati nurani sebagai bagian hakiki watak manusia. Para pemikir yang telah menggunakan kekuatan akal sehat dan giat berusaha untuk mengetahui manusia dan alam semesta, telah mengukuhkan fenomena bawaan dari kesadaran. Mereka terbimbing kepada keyakinan bahwa kecenderungan kepada kebajikan dan penolakan terhadap kejelekan mempunyai akar dalam wujud kita, bahwa sistem penciptaan telah menempat-kan aset ini dalam watak fitriah setiap manusia.

Di sini, bersama beberapa beberapa ayat Al-Qur’an yang relevan, kami akan mengutip pandangan beberapa pemikir dan ilmuwan Barat mengenai hal itu.

Al-Qur’an memandang kemampuan batin manusia untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, kebajikan dan kejahatan, sebagai ilham Ilahi yang tertanam dalam dirinya.

Demi jiwa serta Yang menyempurnakannya dan mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwaannya. )Q.91:7-8)

Jean Jacques Rousseau menulis,

Pandanglah setiap bangsa di dunia, bacalah setiap jilid sejarahnya; di tengah semua bentuk pemujaan yang ganjil dan kejam ini, di antara keanekaragaman adat istiadat yang mengherankan ini, Anda akan mendapatkan di mana-mana gagasan yang sama tentang baik dan buruk… Oleh karena itu pada dasar hati kita ada suatu prinsip fitriah tentang keadilan dan kebajikan, dan prinsip inilah, yang dengan itu kita menilai tindakan kita sendiri atau tindakan orang lain sebagai baik atau buruk, dan prinsip inilah yang saya namakan kesadaran atau hati nurani….

Kepentingan diri, kata mereka, mendorong setiap orang untuk menyepakati kebaikan umum. Tetapi, bagaimanakah maka orang baik menyetujui hal yang menyakiti dirinya sendiri? Apakah seserang yang menjemput kematian demi kepentingan diri? Tak diragukan, setiap manusia bertindak demi kebaikan-nya; tetapi, apabila tidak ada kebaikan moral yang harus dipertimbangkan, kepentingan diri hanya akan memungkin-kan Anda menuntut tanggung jawab atas perbuatan orang-orang jahat; mungkin Anda tidak akan berusaha berbuat lebih dari itu. Suatu falsafah yang tak mengandung tempat bagi perbuatan baik akan sangat tercela… Apbila doktrin-doktrin seperi itu berakar di kalangan kita maka suara alam, bersama dengan suara akal, akan terus memprotesnya, sehingga tak ada penganut ajaran semacam itu yang akan mengajukan alasan yang jujur bagi keberpihakannya.

Perintah hati nurani bukanlah penilaian melainkan perasaan.Walaupun seluruh gagasan kita datang dari luar, perasaan yang menimbangnya berada dalam diri kita, dan hanya dengan perasaan ini saja kita melihat kesesuaian dan ketidaksesuaian hal-hal sehubungan dengan kita sendiri, yang mengantarkan

kita mencari atau menjauhi hal-hal ini…. Mengetahui kebaikan bukanlah mencintainya; pengetahuan itu tidak fltriah dalam diri manusia, tetapi segera akalnya mengantarkannya untuk melihatnya, nuraninya mendorong dia untuk mencintainya, dan perasaan inilah yang fitriah NuranilNurani! Naluri ilahiah, suara abadi dari langit, penuntun yang meyakinkan bagi makhluk yang sesungguhnya tak tahu dan fana, namun cerdas dan bebas, hakim tentang baik dan buruk yang tak pernah keliru, membuat manusia menyerupai Tuhan! Dalam diri Anda terdapat kehebatan watak manusia dan moralitas tindakan-tindakannya; terlepas dari Anda, Nurani, saya tidak mendapatkan apa-apa dalam diri saya untuk mengangkat saya mengatasi hewan – tak ada selain hak istimewa yang menyedihkan untuk mengembara dari satu sudut ke sudut lainnya, dengan pertolongan pengertian yang tak terkekang dan akal yang tak kenal prinsip.

Syukurlah, kita telah meluputkan diri dari pertunjukan falsafat yang menakutkan itu; kita dapat menjadi manusia tanpa menjadi ilmuwan. Sekarang kita tak perlu mengerahkan kehidupan dengan mengkaji moralitas, kita telah mendapatkan penuntun yang lebih meyakinkan dan lebih murah melalui jaringan luas pemikiran manusia. Tetapi, tidaklah cukup sekadar menyadari adanya penuntun itu. Kita harus menge-nalinya dan mengikutinya. Apabila ia berbicara kepada semua hati, mengapakah maka hanya sangat sedikit yang mempedulikan suaranya? Ia berkata kepada kita dengan bahasa alam, dan segala sesuatu mengantarkan kita untuk melupakan bahasa itu. Nurani itu pemalu; ia mencintai kedamaian dan kesepian, ia bingung karena kebisingan dan jumlah; prasang-ka, dari mana ia dikatakan berasal, adalah musuhnya yang terburuk. Ia melarikan diri dari hadapan mereka atau berdiam diri, suara bising mereka menenggelamkan kata-katanya sehingga ia tak dapat beroleh pendengaran. Fanatisme berani menentang suaranya dan mengilhamkan kejahatan atas namanya. Ia takut akan perlakuan buruk; ia tidak lagi berbicara kepada kita, tidak lagi menyambut panggilan kita. Setelah diejek sekian lama, sulit untuk memanggilnya kembali sebagaimana sukar juga mengasingkannya.[33]

Friedman berkata,

Suara kesadaran bukanlah produk pendidikan atau latihan atau suatu cara lain; ia adalah bagian dari kepribadian manusia. Siapa saja yang naik ke kedudukan yang tinggi yang menonjol dalam masyarakat atau menjadi pembawa panji kemanusiaan, adalah suara kesadarannya yang menuntun dia kepada kebajikan dan ketakwaan.[34]

Psikolog Henri Baruk mengatakan,

Kesadaran hati nurani bukanlah suatu reaksi buatan melainkan suatu pelaku yang paling mendalam yang fitriah dalam watak manusia. Walaupun ada berbagai jenis usaha penekanan, manusia tak dapat membungkam atau menghapus kesadaran itu. Lagi pula, kestabilan dan pertahanan kesadaran yang luar biasa, sekalipun dalam keadaan sakit parah, gila maupun kelainan jiwa, dan kelanjutan hidupnya bahkan setelah suramnya cahaya akal, memberikan kesaksian, sebagai-mana dikatakan sebelumnya, akan kedudukannya yang nyata dan menonjol dalam jiwa manusia.

Sebagian ilmuwan bertanya-tanya apakah kesadaran itu bukan suatu produk dari pelajaran, pendidikan atau agama. Tetapi, haruslah ditunjukkan bahwa fitur-fitur asing dari kesadaran telah didapati dalam ritual-ritual agama primitif. Ungkapan rasa pesona dan kekecewaan di kalangan banyak bangsa pemuja berhala memberikan kesaksian tentang tuanya nurani yang telah ada bersama manusia sejak awal mulanya. Penolakan terhadap fakta ini sama artinya dengan kegagalan total dalam memahami jiwa manusia.[35]

Al-Qur’an memaklumkan,

Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir; dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua buah jalan (kebaikan dan kebajikan serta kejahatan dan kejekkan)? (QS. al-Balad: 8-10)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan); karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (QS. al-Insaan: 2)

Samuel Smiles menulis,

Kesadaran nurani adalah daya kemampuan khusus dari jiwa yang dapat disebut naluri keagamaan. Ia mula-mula mengung-kapkan diri ketika kita menjadi sadar akan perjuangan antara watak yang luhur dan yang rendah di dalam diri kita—tentang ruh yang memperingati melawan daging—tentang kebaikan berjuang untuk menaklukkan kejahatan…. Untuk menikmati kebebasan yang tertinggi, pikiran harus dibangunkan oleh pengetahuan. Ketika pikiran telah tercerahkan, dan kesadaran menunjukkan kekuatannya, tanggung jawab manusia ber-tambah….

Kesadaran itu permanen dan universal. Ia memberikan kepada manusia kendali diri—kemampuan untuk menolak dan melawan godaan…. Satu-satunya latihan komprehensif dalam pengendalian diri tercapai melalui pendakian kesadaran— dalam pengertian kewajiban yang dilaksanakan. Hanya kesadaran saja yang menegakkan manusia pada kakinya, membebaskan dia dari kekuasaan dan tingkah hawa nafsu. Ia menempatkan orang sehubungan dengan kepentingan-kepentingan terbaik baginya. Sumber kenikmatan yang paling benar hanya terdapat di jalan kewajiban. Kenikmatan akan datang sebagai pemanis kerja yang tak diminta, dan memah-kotai setiap pekerjaan yang tepat.

Pada pertumbuhannya yang paling penuh, kesadaran mengarahkan manusia ke mana saja yang membuatnya berba-hagia dalam pengertiannya yang tertinggi, dan menyuruhnya bersabar terhadap segala yang membuatnya tak bahagia…. Tanpa kesadaran, orang tak akan dapat mempunyai prinsip yang lebih tinggi selain kesenangan…. Suatu bangsa yang terbuat seperti itu, dengan akal dan hawa nafsu seperti yang dimiliki manusia, dan tanpa pengaruh tertinggi kesadaran untuk mengatur perbuatannya, akan segera terbuang ke dalam anarki total, dan berakhir dalam kehancuran bersama. Kekuatan akal terbesar mungkin ada tanpa sezarah pun kemuliaan. Kemudian datang dari kekuatan tertinggi dalam pikiran manusia—kesadaran, dan dari daya kemampuan yang paling tinggi, akal, dan kemampuan untuk beriman—yang dengan itu manusia mampu memahami lebih banyak daripada apa yang disuplai oleh indera…. Pelajaran terbesar yang haras dipelajari ialah bahwa manusia harus memperkuat dirinya untuk melaksanakan kewajibannya dan melakukan apa yang tepat, mencari kebahagiaan dan kedamaian batinnya dalam obyek-obyek yang tak dapat diambil dari dia. Kesadaran adalah konflik yang dengan itu kita mencapai penguasaan atas kegagalan-kegagalan kita sendiri. Kesadaran merupakan perkerjaan diam-diam dari batin manusia, yang dengan itu ia membuktikan kekuatan khususnya.[36]

Al-Qur’an menyatakan,

Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). (QS. aI-Qiyaamah: 1-2)

Dalam ayat ini jeritan penyesalan dan penyalahan batin yang timbul dari kedalaman kesadaran manusia disebut ‘jiwa yang amat menyesali’ {an-nafs al-lawwamah). Ini adalah daya kemampuan batin yang oleh para psikolog dinamakan ‘kesadaran’.

Otto Friedman menulis,

Seseorang mungkin mengerahkan waktu berjam-jam minum anggur di bar atau membuang waktunya di meja judi, atau sibuk dalam permainan…. Bagaimanapun juga, ketika ia sedang sibuk dengan selingan-selingan itu, ia mungkin mempunyai perasaan batin yang tak tenteram yang terus menyiksanya dan tidak memberinya kesempatan untuk beroleh kesenangan dari waktu selingnya itu. Suatu suara batin mencelanya karena menyia-nyiakan waktu hidupnya. Suara ini terus bergema dalam kesadarannya.

Di sisi lain, sebagai ganti keterlibatan dalam waktu selingan seperti itu, mungkin timbul pikiran bahwa akan jauh lebih baik apabila ia menyibukkan diri dengan melatih anak-anak-nya atau membenahi taman dan tanamannya. Di sinilah kesadarannya menuntun dia ke arah tindakan-tindakan yang baik yang berguna bagi dirinya sendiri dan bermanfaat bagi orang lain. Di sinilah orang terus membandingkan dirinya dengan orang lain, dan kesadarannya terus mencela dia. Makin besar dan makih tekun ketaatan seseorang kepada suara kesadaran, makin besar kekuatan kreatifnya dan kekuatan spiritualnya, dan makin besar gairah dan semangat hidupnya. Dan makin kecil perhatian sesorang kepada suara kesadaran, makin garang dia dan makin tak terkendali.[37]

Nabi Muhammad saw berkata,
Orang yang dikuasai oleh celaan diri kehilangan semua kedamaian.[38]

Seseorang mungkin kehilangan keseimbangannya di saat lalai lalu dorongan-dorongan rendah menguasainya. Sebagai akibatnya, ia menjadi nista dan menyedihkan, dan penyesalan dan rasa malunya menetap padanya selama hidupnya.

Iman Ali as berkata,

Betapa sering sesaat berleha-leha meninggalkan kesengsaraan sepanjang hidup.[39]

Masyarakat manusia di segala zaman telah mengambil manfaat dari kesadaran batin di saat-saat perlu. Para individu yang kosong dari perasaan moral, yang baginya kebajikan dan kejahatan tidak mengandung makna, dan yang melihat pengejaran kesenangan, makanan dan hawa nafsu sebagai tujuan hidup, adalah seperti keratan-keratan jerami yang dibawa banjir naluri hewani dan tidak mempunyai kredibilitas atau kedudukan dalam masyarakat, bangsa atau komunitas. Bilamana kepada seseorang dipercayakan suatu pekerjaan, hadirnya kesadaran dianggap jaminan bahwa pekerjaan itu akan dilaksanakan. Harus ada suatu ukuran yang baik tentang kepercayaan bahwa ia akan bertindak sesuai dengan kewajibannya. Tidaklah bijaksana menyerahkan suatu tugas kepada seseorang yang perilakunya mencurigakan dari sisi pandang kesadaran atau berlawanan dengan perilaku yang cermat.

Islam telah memberi perhatian khusus pada kesadaran dan mendasarkan usaha-usahanya dalam pembenahan dan perbaikan perilaku sosial dari kesadaran individu. Islam berusaha meyakinkan para individu untuk menempatkan seorang pengawas dalam batin mereka yang dapat mengekang mereka dari melakukan pelang-garan terhadap orang lain, sekalipun dalam kondisi permusuhan dan kemarahan. Al-Qur’an mengingatkan manusia dalam kata-kata berikut,

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. (QS. al-Maa’idah:8)

Sesuai dengan itu, tak seorang pun berhak menyerang orang lain atau melanggar hak-hak orang lain, dalam keadaan bagai-manapun. Hukum positif dengan sarana terbatas yang tersedia baginya untuk mengendalikan manusia dari luar untuk mencegah pelanggaran. Tetapi Islam memberikan kepentingan besar pada pemupukan dan pemeliharaan kesadaran individu. Dengan kesadaran yang berkembang, para individu sendiri melihat perlu-nya menahan diri dari tindakan-tindakan tertentu sehingga mereka dapat mencapai pembangunan spiritual dan keselamatan. Tak syak lagi, pengendalian diri jenis ini, yang dimotivasi oleh keimanan agamawi dan pengertian moral, merupakan sarana yang lebih meyakinkan, dan jalan yang lebih singkat ke tujuan.

Dalam pandangan Islam, pencapaian tujuan kehidupan yang lebih tinggi hanya mungkin melalui kerja sama dan saling cinta di antara sesama manusia. Ia mengundang manusia kepada kebajikan ini dan meminta mereka mendasarkan hubungan pada kerja sama dan kasih sayang. Dalam cahaya ajaran seperti itu, setiap orang merasa bahwa keberadaannya sebagai manusia adalah seperti lampu yang menyinari cakrawala kemanusiaan ketika ia, dengan senang dan tanpa kekangan, mengulurkan kerja sama dan kasih sayang kepada orang lain.

Imam Ja’far as-Shadiq as meriwayatkkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda,

Adalah kewajiban setiap mukmin untuk memenuhi tujuh hak saudara seimannya: 

  1. ia tak boleh lalai menunjukkan hormat dan penghargaan kepadanya; 
  2. ia harus sungguh-sungguh mencintainya dari dasar lubuk hatinya; 
  3. ia harus membagikan hartanya secara adil dengannya; 
  4. ia harus menahan diri dari menggunjingi dia dan menyebutkan hal-hal yang tak pantas di saat ketidakhadirannya; 
  5. ia harus mengunjunginya bila ia sakit; 
  6. ia harus mengurusi pengu-burannya bila ia meninggal; 
  7.  ia tak menyebutnya kecuali dengan ramah setelah matinya.[40]

Manusia mendengarkan panggilan alam dan membedakan kebajikan dari kejahatan ketika tak ada sesuatu yang mengganggu perjalanan alam. Suatu kesadaran yang terikat dan telah direbut kebebasan bergeraknya oleh rantai berat nafsu hewani, desakan-desakan mencari kekuasaan dan kedudukan tak dapat mewujud-kan karakternya yang sesungguhnya dan menjadi hakim yang terpercaya. Dengan demikian maka dalam masa krisis peperangan dan revolusi serta keadaan luar biasa, kesadaran menderita pukulan dahsyat, dan kegiatannya berhenti. Dalam keadaan seperti itu gagasan dan doktrin-doktrin yang menyeleweng timbul sebagai kekuatan dinamis yang potensial, dan penekanan pada kesadaran kolektif mengakibatkan kerugian dan kerusakan yang tak terpulihkan bagi manusia.

Ada suatu perbedaan besar antara orang yang sadar dan orang yang tak berkesadaran; perbedaan ini bahkan lebih besar daripada perbedaan yang memisahkan manusia dari makhluk lain. Apabila api dengan sifatnya, yakni membakar, membakar tubuh seorang manusia, itu adalah akibat wataknya yang hakiki. Api tak punya kesadaran bahwa yang dibakarnya adalah makhluk, manusia yang sangat merasakan siksaan pembakaran. Tetapi, apa saja yang dilakukan oleh orang yang ceroboh dilakukannya dengan pengeta-huan dan kesadaran. Kekejaman, kelaliman dan penderitaan yang ditimpakan oleh manusia kepada manusia lainnya adalah perbuatan yang dilakukan dengan sadar.

Salah satu dari hal-hal yang mengubah watak azali manusia dan melemparkan bayangan gelap pada wajah cerah yang murni adalah pengulangan dosa. Seorang penjahat keji melakukan banyak kejahatan mengerikan tanpa merasakan siksaan jiwa bagi peri-lakunya yang buruk itu. Kondisi sadistis semacam itu sangat terkecuali.

Masyarakat hanya dapat mencapai keadilan sosial bila para individu menerima suatu pelaku batin yang dapat bertindak sebagai hakim dan pengawas atas tindakan-tindakan mereka dan menyesuaikan diri dengan perintah-perintahnya. Apabila semua orang dalam suatu unit masyarakat yang sesungguhnya yang memberi makna kepada kemanusiaan mereka mempunyai etos yang sama dan identik, hal itu bukan saja menimbulkan suatu kondisi sempurna tentang kehidupan bersama, tetapi juga membuat mereka seperti bagian-bagian organisme dan mata rantai dari suatu mekanisme.

Landasan Akal dan Kesadaran

Bilamana impuls-impuls pemberontak berusaha menjungkir-kan peran akal dan kesadaran, dan menjadikan manusia tawanan hawa nafsu, iman muncul sebagai dukungan terbaik untuk dijadikan andalan. Iman adalah dukungan dan tumpuan yang paling besar bagi kesadaran dan penalaran. Dengan dukungannya, nalar dan kesadaran mendapatkan kemampuan untuk menekan naluri-naluri pemberontak dalam segala keadaan, menolak tekanan hawa nafsu yang memusuhi, dan mengatasi segala kecenderungan yang berbahaya. Seorang manusia yang diperlengkapi dengan senjata keimanan adalah orang yang dalam kata-kata Al-Qur’an, “Telah berpegang kepada buhul taliyang amat kuat”.[41]

Fungsi dari penalaran teoritis di atasnya bertumpu metafisika, pengetahuan alam dan matematika, ialah untuk melakukan penilaian mengenai realitas. Namun, penalaran praktislah yang membentuk dasar ilmu pengetahuan tentang kehidupan, dan fungsinya ialah membuat penilaian mengenai kewajiban dan tanggung jawab manusia. Jalan dan pendekatan yang dipilih manusia dalam kehidupan berhubungan dengan karakter penilaian yang dibuat oleh penalaran praktis.

Salah satu faktor penting yang memberikan kejelasan pan-dangan kepada akal ialah takwa. Klaim bahwa takwa menerangi akal dan membuka jendela kebijaksanaan di hadapan manusia adalah suatu hal yang tidak berhubungan dengan akal teoritis. Dengan sarana takwalah manusia mampu membedakan jalan hidup yang tepat dan menemukan penyakitnya sendiri serta obatnya.

Karena wilayah tindakan akal praktis sama dengan wilayah hasrat, impuls dan hawa nafsu, kegarangannya yang tak terkendali mempunyai efek yang menentukan pada akal dan pikiran praktis orang yang berfungsi membentuk konsepsi-konsepsi kewajiban yang jelas, dan yang benar atau salah. Hawa nafsu yang terkendali mengangkat kabut tebal yang mengganggu cahaya lampu akal. Dalam kata-kata Hafizh,

Kecantikan si tercinta tidak bercadar dan bertirai, tetapi
Debu di jalan harus diendapkan supaya pandangan boleh bekerja.
Dalam ajaran Islam, hasrat dan hawa nafsu dipandang sebagai bermusuhan dengan akal, karena cengkeramannya melemahkan kekuatan akal dan menetralisasi pengaruhnya.

Nabi saw berkata,
Musuh Anda yang terbesar adalah yang di antara dua pinggang Anda.[42]

Imam Ja’far as-Shadiq as berkata,
Hawa nafsu adalah musuh akal. 
Amirul Mukminin Ali as berkata,
Kebanyakan dari kegagalan akal terjadi di bawah petir keserakahan.[43]

Bilamana takwa memegang hati, ia membelenggu hasrat dan hawa nafsu, menjinakkan dan mengendalikannya. Sebagai hasilnya, akal menjadi bebas dan aktif. Ini menunjukkan ektivitas takwa dalam memperluas pandangan dan terangnya akal.

Nabi Muhammad saw menyebutkan ciri-ciri berikut ketika menggambarkan sifat-sifat orang beriman,

Di antara keutamaan menonjol orang beriman, ia tidak melanggar norma-norma keadilan karena kemarahannya pada sesorang. Ketertautannya pada seseorang tidak membuat dia menempuh jalan dosa. Ia bukan pelanggar dan tidak menindas orang lain. Ia tidak menerima kebatilan sekalipun datangnya dari seorang sahabat, dan tidak menolak hak-hak musuhnya.[44]

Manusia sepenuhnya bebas menggunakan aset-asetnya yang sangat berharga berupa akal dan kesadaran yang telah dianugerah-kan kepadanya, dan mengambil manfaat darinya. Namun, kebebas-annya yang terakhir terletak pada mengatasi beberapa dari hasrat alaminya; yakni, bilamana sebagian dari wujudnya—yaitu akal dan kesadarannya—mendominasi bagian lainnya yang berupa naluri-naluri alaminya.

Akal dan kesadaran memelihara supremasinya selama tidak ada konflik antara keduanya dan impuls-umpuls kejiwaan yang menggejolak, yang dapat dikendalikan dengan mudah oleh kedua daya kemampuan itu. Keduanya itu mempunyai kekuatan yang lebih besar daripada otoritas kepolisian lahiriah, karena perintah-perintah mereka dianggap oleh individu sebagai dinyatakan oleh dia sendiri, dan ia tak dapat memberontak melawan dirinya sendiri dengan menolak untuk mematuhinya.

Namun, suatu kesulitan besar muncul ketika dominasi akal dan kesadaran memastikan ketidakpedulian ataii penekanan salah satu dari naluri-naluri batiniah. Dalam situasi seperti itu—dalam berbagai kasus—daya tangkal akal dan kesadaran runtuh di hadapan kekuatan naluri yang ganas. Keduanya dipaksa mundur dan menyerahkan medan kepada kekuatan-kekuatan naluri yang menyerbu. Bagaimanapun keadaannya, manusia selalu terancam oleh hawa nafsunya.

Tetapi, manusia dengan iman sejati kepada Tuhan, yang keimanannya berakar mendalam pada hatinya, dan yang secara khusus menaati dan mempedulikan aspek-aspek keagamaan, memimpin hawa nafsunya yang bergejolak dengan mengandalkan keimanan. Di saat-saat berbahaya, dan dalam menghadapi panggilan hasrat yang haram, ia menolak impuls-impulsnya yang tak patut, da dengan wewenang serta kekuasaan yang sempurna, melakukan perlawanan yang tekun terhadap hawa nafsu yang memberontak.
Pemikiran Sesat dan Rasionalisme

Penyesuaian dengan perintah akal dan kesadaran, dan penye-rahan kepada tuntutan keadilan dan kesamaan, bukanlah tugas yang mudah. Karena itu banyak orang yang harus menyesuaikan diri dengan panggilan kesadaran, menyerah kepada penilaian akal sehat, dalam pertemuannya dengan kewajiban moral, keagamaan dan ilmiah dan dalam mengkonfrontasi fakta-fakta dan realitas, dan mengabaikan sebagian dari kepentingan egoistisnya, disiksa oleh penerimaan tanggung jawab dan prospek kerugian. Kecemas-an ini, yang disebabkan oleh absennya keimanan dan keberanian moral yang sesungguhnya, membuatnya menekan kesadarannya dalam kesukaran-kesukaran hidup. Sesudah itu, untuk menghindar dari tekanan kejiwaan, mereka mencari perlindungan pada pembenaran dan rasionalisasi yang timpang. Jelaslah bilamana seseorang mencari jalan pada pendekatan yang tak pantas ini beberapa kali, kegiatan akalnya menderita dan melemah. Orang itu berangsur-angsur terbiasa dengan cara akal bulus dan menjauh dari pemikiran logis yang benar. Lalu cara itu mengambil bentuk kebiasaan negatif, dan dalam perjalanan waktu kebiasaan itu muncul sebagai sifat pribadi yang langgeng.

Suatu kelompok manusia lainnya, untuk menghindar dari tanggung jawab, dan untuk menjauhkan diri dari mengakui kesalahan, mereka berusaha menggeserkan tanggung jawab atas berbagai urusan dan sekaitan dengan situasi kehidupan yang amat menentukan kepada orang lain, dengan mencari pembenaran bagi kepentingan mereka sendiri, berusaha menutup masalah itu dengan penilaian sepihak. Jenis penilaian yang tak pantas ini bukanlah akibat kelalaian dan tidak adanya perhatian pada hal-hal yang halus dari suatu masalah. Dalam prakteknya semua orang yang menyeleweng, yang karakter keji dari tindakan-tindakannya tidak diragukan, mencari berbagai pembenaran dan rasionalisasi yang tak dapat diterima, untuk menerangkan dan membenarkan tindakan mereka yang tidak manusiawi.

Dale Carnegie menulis,

Saya telah mengadakan beberapa korespondensi yang menarik dengan Warden Lawes dari Penjara Sing Sing, dan ia memaklumkan bahwa “[hanya] sedikit penjahat di Sing Sing yang memandang diri mereka sebagai orang jahat. Mereka hanyalah manusia seperti Anda dan saya. Demikianlah mereka merasionalisasi. Mereka dapat mengatakan kepada Anda mengapa mereka harus membongkar peti besi atau berlaku cepat menarik pelatuk senjatanya. Kebanyakan dari mereka berusaha dengan suatu bentuk penalaran, batil atau logis, untuk membenarkan tindakan-tindakan antisosial mereka, kepada diri mereka sendiri, yang sebagai konsekuensinya, mereka mempertahankan dengan sungguh-sungguh bahwa mereka sama sekali tidak seharusnya dipenjarakan.”

Apabila Al Capone, “Two Gun” Crowley, Dutch Schulz, orang-orang nekat di balik dinding penjara, sama sekali tidak menyalahkan diri mereka—bagaimana dengan orang-orang yang berhubungan dengan Anda dan saya?[45]

Pada awalnya setiap orang mengandung rasa bersalah jika mengabaikan tanggung jawab atau karena melanggar norma-norma moral atau sosial. Tetapi, pengulangan pelanggaran dan kesalahan semacam itu membuat orang terbiasa kepadanya. Setelah itu—dalam akhir tahap yang gawat—respon jiwanya terhadap pelanggaran itu secara tak sadar kehilangan kepekaannya, sampai terus merasa kebal dari kecemasan dan siksaan batin.

Al-Qur’an al-Karim menggambarkan makhluk celaka seperti itu, yang telah kehilangan akal dan kesadaran yang juga karena kejahatan, dan memburu keuntungan serakah dan tenggelam secara tak terpulihkan ke dalam tidur kelalaian dan lumpur kemerosotan sehingga tak ada yang dapat membuat mereka berpikir wajar lagi dan membedakan antara yang baik dan buruk, menjadi lebih tersesat dan lebih yang rendah daripada hewan.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka) Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergu-nakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang temak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. al-A’raaf: 179)

Tolok Ukur Nilai Manusiawi

Kepribadianlah yang membedakan setiap individu dengan yang lainnya, dan melaluinya kita menentukan nilai dan kedudukan sesungguhnya seorang manusia. Walaupun kenyataan bahwa semua orang mempunyai ciri umum maupun reaksi-reaksi umum yang khas bagi spesies manusia, dan demikian pula sehubungan dengan naluri-naluri sosial, namun setiap orang mempunyai sifat-sifat tertentu yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh, dan karunia-karunia khusus tertentu yang membedakan dia dari sesamanya manusia lainnya.

Kepribadian tidak terdiri dari ciri-ciri abstrak tertentu dari seseorang, melainkan dari totalitas seorang individu, yang membe-dakannya dari orang lain. Kepribadian adalah suatu kesatuan yang terdiri dari sekelompok sifat dan motif batin. Lagi pula, hanya sifat-sifat yang dipandang sebagai bagian dari kepribadiannya yang mempunyai kadar tertentu.

Prinsip-prinsip yang mengatur pertumbuhan dan perkembang-an kepribadian berlaku bagi semua. Tetapi, bilamana prinsip ini diterapkan pada dua indhddu, hasil yang diperoleh tidak sama. Bilamana kepribadian dari keduanya dibandingkan, perbedaan antara keduanya nampak jelas.

Aspek-aspek tertentu yang dapat diamati memang dapat diukur, tetapi tidaklah mudah mengukur aspek-aspek yang lebih dalam dan lebih batiniah dari kepribadian bila dilihat dari sisi moral.

Sebagian dari sifat-sifat itu memainkan peran yang lebih penting dalam struktur kepribadian dibanding dengan yang lainnya. Sifat-sifat yang berwatak moral dan etis ini lebih bermakna dari sisi pandang kepribadian. Dalam kenyataan, “karakter” sese-orang adalah kepribadiannya, bila dilihat dari sisi moral.

Dampak dari kepribadian, karakter dan kekuatannya, maupun caranya mendapatkan sifat-sifat yang membentuk pribadi, memain-kan peran yang lebih mendalam dan fundamental dalam kesejah-teraan dan kesengsaraan para individu. Karena, kebahagiaan dan kesengsaraan, lebih daripada setiap faktor luar lainnya, tergantung pada level pemikiran, akal, keutamaan spiritual dan penyebab-penyebab batiniah yang bekerja pada seseorang individu. Perbedaan status sosial dan finansial tidak mempunyai dampak yang tegas dan menentukan pada kebahagiaan seseorang.

Fondasi spiritual seseorang dan perkembangan kepribadiannya berhubungan langsung dengan ketertautannya dan penilaiannya pada berbagai hal. Secara alami ia berusaha menegakkan kesetaraan antara kepribadiannya dan obyek-obyek ke mana ia tertaut, supaya terbiasa dengannya. Kelakuan dan perangainya diselaraskan dengan apa yang dianggapnya paling berharga dan bernilai dalam kehidupan. Berbagai peringkat nilai mewakili cara berpikir dan etos. Di sini kita dapati cara mengukur nilai intrinsik setiap orang dan kriteria untuk mengukur kepribadiannya.

Orang-orang yang mendasarkan keberhasilan dan kebahagiaan mereka pada nilai-nilai materialistis—berkaitan dengan kualitas maupun kuantitas—dengan mengarahkan usaha-usaha mereka sepanjang hidup untuk mencapai tujuan-tujuan materialistis, dan sama sekali mengabaikan dan menolak nilai-nilai riil yang menjadi basis untuk mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya, pada kenyataannya menghancurkan kepribadian manusiawi mereka. Ada banyak orang yang mengerahkan seluruh hidupnya dalam perburuan nilai-nilai materialistis, tetapi tidak sudi mengabdikan sesaat waktunya untuk menemukan khazanah yang tak terkira nilainya berupa keutamaan dan kebajikan spiritual.

Para ilmuwan berbeda pendapat tentang sejauh mana masalah kepribadian berhubungan dengan psikologi sosial. Sebagian memandangnya sebagai bawaan keturunan dan faktor-faktor psikologis. Sebagian lainnya memandang kepribadian sebagai produk dari faktor-faktor sosial semata-mata. Kebenarannya terletak di antara kedua posisi ekstrem itu.

Keluarga, sekolah dan lingkungan sosial merupakan tiga faktor yang paling potensial dalam meletakkan fondasi-fondasi kepriba-dian dan menentukan karakter seseorang. Psikologi modern sangat mementingkan gejala yang kurang dipahami dari kepri-badian—sesuatu yang tidak mendapat banyak perhatian dalam psikologi lama. Tak diragukan, faktor-faktor sosial memainkan peranan penting dalam pembentukan kepribadian dan banyak dari sifat-sifat manusia dibentuk oleh lingkungan luar. Hanya sedikit orang yang dapat menangkal kekuatan dan pengaruh lingkungan mereka dan melawan arus.

Munn, dalam karya psikologinya, berkata,

Kita akan mempunyai kepribadian yang sangat berlainan apabila kita dibesarkan oleh orang Eskimo, orang Indian Sioux, atau orang Bali, atau oleh suatu kelompok kultural lain. Bukan saja kita akan berpakaian secara lain, hidup di kediaman jenis lain, makan makanan lain, menggunakan peralatan dan senjata yang lain, berbahasa dengan bahasa lain, dan mempunyai adat kebiasaan yang lain, tetapi kita pun akan mempunyai konsepsi yang berbeda tentang dunia dan tempat kita di dalamnya. Ego dan superego kita akan sangat berbeda.

Antropologi kultural telah memberikan tekanan yang tepat kepada “acuan sosial kultural” di mana kepribadian berkem-bang. Anak-anak yang dibesarkan di Amerika Serikat menda-patkan suatu jalan hidup dan kepribadian, yang mungkin sekali akan dicirikan sebagai “khas Amerika”. Tetapi, bahkan dalam acuan kulturalnya sendiri, aspek-aspek kepribadian dapat berubah, tergantung pada pertanyaan apakah kita dibesarkan di Utara atau di Selatan, di Timur atau di Barat, apakah kita dibesarkan di pedesaan, di kota besar atau kecil, apakah kita dibesarkan di perkampungan kumuh atau di kawasan kediaman yang terbaik, apakah terpencil, berbudaya atau tidak berbudaya, religius atau tidak religius; apakah kita bersekolah di sekolah standar, di bawah standar, atau unggulan; apakah kita mempunyai atau tidak mempunyai sahabat karib, apakah kita menyesuaikan diri atau tidak menyesuaikan diri dengan adat kebiasaan dari kultur kita, dan sebagainya.

Pengaruh-pengaruh sosio-kultural semacam itu difokuskan kepada seorang anak sejak lahimya, dan terus mempengaruhi-nya sepanjang masa hidupnya.[46]

Ada banyak kegiatan naluriah yang dapat secara umum dibentuk dan terbentuk oleh kondisi-kondisi lingkungan. Jadi, untuk perkembangan aspek kreatif dari kegiatan-kegiatan ini, perlulah mengubah dan memperbaiki sebelum segala sesuatu kondisi-kondisi yang dapat memperkuat atau melemahkan kegiatan-kegiatan hakiki ini. Juga, dari sudut pendidikan dan dari sisi pandang pengaruh pada kebiasaan, efek-efek dari setiap tindakan manusia harus dianalisis sebagaimana mestinya agar dapat mema-hami bagaimana suatu kecenderungan tertentu dapat diperkuat atau dicek.

Dari sisi pandang meletakkan fondasi-fondasi pertumbuhan emosi dan pembentukan lingkungan sosial yang patut, tahun-tahun usia kanak-kanak adalah tahun-tahun pembentukan yang paling penting. Latihan dini dilakukan melalui orangtua dan keluarga dekat lainnya. Perilaku dan pembicaraan yang benar oleh para guru mempunyai dampak yang menentukan dalam menetap-kan pola kehidupan si anak dan dalam menyutnbang bagi perkem-bangan kepribadiannya dan mekarnya kemampuan-kemampuan batinnya. Sebaliknya, metode-metode latihan yang tak pantas dan tak berprinsip merugikan perkembangan kepribadian si anak dan menekan kemampuan-kemampuan batinnya. Pohon muda yang baru keluar dari bumi dapat ditekukkan dengan mudah ke arah mana saja yang kita inginkan. Kecantikan dan kebagusan pohon masa depan tengantung pada perhatian yang kita berikan kepadanya di masa ketika ia masih muda.

Seperti itu pula, arah perkembangan kepribadian dapat ditentukan di masa dini kehidupan dan kepribadian masa depan si anak terbentuk dengan menyediakan kondisi-kondisi dan sarana yang tepat. Dari itu mungkin menggambarkan kepribadian masa depan seorang anak dan jenis reaksi-reaksi psikologisnya kepada kondisi-kondisi sulit yang mungkin ditemuinya dengan mengkaji kondisi-kondisi keluarganya dan situasi di dalamnya.

Penyebab keterbelakangan dan pertumbuhan yang lamban dalam kehidupan seseorang atau suatu masyarakat harus dicari dalam kekurangan kepribadiannya. Sekarang para spesialis yang melakukan penelitian tentang kepribadian, dalam beberapa sisi, juga memberi perhatian pada faktor-faktor yang lebih mendalam.

Ukuran kecerdasan seseorang dan kemampuannya menyelesai-kan masalah terungkap dalam situasi-situasi kritis. Orang-orang yang juga memberi perhatian pada reaksi-reaksi batinnya dalam keputusan dan kegiatan-kegiatannya mendapatkan pengertian yang lebih besar tentang keyakinan dan kebebasan diri, dan mendapatkan kepercayaan diri yang lebih besar dalam kepribadia-nnya sendiri. Sebagai hasilnya, mereka lebih efisien dan efektif daripada orang-orang yang memberikan perhatian lebih besar pada faktor-faktor lahiriah. Perhatian eksklusif pada faktor-faktor lahiriah menjuruskan orang mengabaikan perhatian pada perkembangan pikiran, akal dan pembentukan kepribadian dan memberikan nilai tambah dan kehormatan kepada pandangan sosial seseorang.

Pada saat orang-orang picik dan dangkal dalam mencari pemuasan tujuan dan hasrat yang sia-sia, berusaha memenuhinya dengan jalan berbagai jenis sarana, orang yang bertujuan lebih tinggi menjadi lebih tajam dalam usaha mencapai kesenangan spiritual dengan mengandalkan kekuatan akalnya. Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki kemampuan berpikir dan akal yang aktif, dan mengambil manfaat dari setiap kesempatan untuk memburu pikiran-pikiran yang bernilai dan luhur, adalah lebih dekat kepada kebahagiaan yang sesungguhnya di dunia ini.

Schopenhauer berkata,

Suatu temperamen yang tenang, optimisme, energi dan kekuatan adalah faktor-faktor yang paling penting yang menjadi penyebab kebahagiaan manusia.

Seorang bijaksana sekalipun dalam keadaan terkucil dapat menikmati saat-saat yang paling manis dengan sarana pikiran dan khayalannya, sedang orang jahil, tak peduli seberapa besar ia menganekaragamkan penyimpangan dan melakukan perbe-lanjaan yang besar, tak dapat membebaskan dirinya dari depresi yang menyiksa tubuh dan jiwanya. Orang yang optimis dan sabar dapat di saat-saat kemiskinan menjalani hidupnya dengan kepuasan dan ketabahan, sedang si orang rakus, sekalipun ia mempunyai seluruh kekayaan di dunia, selalu sedih dan tak puas.

Orang yang berpikiran kuat dan berakal sehat menahan diri dari kesenangan-kesenangan dangkal dan sepintas, yang untuk mencapainya manusia duniawi membunuh dirinya sendiri.

Socrates, si cendekiawan itu, pada suatu saat ketika mengamati bahan hiasan yang dipamerkan, berkata, “Betapa amat banyak hal-hal yang ada di dunia ini yang tidak diperlukan manusia.” Dari itu faktor paling penting yang efektif dalam kebahagiaan manusia adalah kepribadian.[47]

Kepribadian tidak boleh dipandang sebagai berdimensi tunggal atau diukur dengan tolok ukur atau standar tunggal. Pendekatan salah semacam itu berbahaya dan menyelewengkan kita dari fakta-fakta. Banyak orang apabila dikonfrontasi dengan ketidak-lengkapan atau cacat tertentu mengabaikan kekuatan imbalan dari dimensi-dimensi lain dari kepribadian mereka dan mengait-kan ketidaklengkapan seseorang dari dimensi-dimensinya sebagai cacatnya kepribadian secara keseluruhan. Pendapat tak berdasar seperti itu mendorong orang kepada kecemasan yang membuat orang merasa tak berdaya, suatu kondisi yang seterusnya dapat mengakibatkan kerugian yang tak terpulihkan dan bahaya yang tak dapat diperbaiki.

Banyak krisis dan banyak pertumpahan darah dalam sejarah adalah akibat prasangka merugikan yang berdasarkan anggapan yang salah tentang kepribadian, di mana suatu dimensi tunggal saja dijadikan tolok ukur satu-satunya. Suatu kebanggaan tak berdasar yang diilhami oleh prasangka semacam itu telah menyebabkan banyak peristiwa yang menyesalkan dalam perjalanan sejarah.

Banyak orang, sementara memiliki kemampuan-kemampuan besar tertentu menderita kekurangan dalam hal-hal tertentu. Ketidaksempurnaan ini menjadi halangan dalam kegiatan dan kemajuan mereka. Di saat-saat mereka mengaitkan ketidak-sempurnaan psikologis mereka kepada nasib buruk, dan dengan demikian memegang faktor-faktor lain sebagai penyebab kelemah-an mereka sendiri. Sebagai akibatnya, mereka memikul beban kelmahan ini sepanjang hidup, padahal dengan suatu ukuran dari kemauan dan usaha dapat mengatasi ketidaksempurnaan itu dan memperkuat nilai-nilai spiritual mereka.

Selama Anda terus merasionalisasi ketidaklengkapan Anda dan membiarkan pikiran-pikiran buruk menguasai nalar Anda, Anda akanmemperbesar kelemahan itu. Keberhasilan apa saja dalam hal ini bergantung langsung pada sejauh mana orang mampu mengambil keputusan serius bagi kemungkinan-kemungkinan mengembangkan diri tidak terbatas dan menjanjikan hasil yang luar biasa. Pada tahap pembentukan gagasan, poin penting ialah orang itu sebenarnya bercita-rita menjadi orang yang bagaimana. Realitas ini diungkapkan dengan kejelasan yang gamblang di saat-saat kehidupan ketika seseorang harus membuat keputusan kritis untuk memilih satu jalan di antara berbagai alternatif yang timbul dalam pikiran.

Selalu ada kontlik serius yang terjadi di antara berbagai dorongan dan naluri, yang masing-masingnya berusaha menyeret kita ke arah yang berbeda-beda. Pikiran dan renungan menyele-saikan konflik ini dan mengganti aneka ragam tujuan itu dengan satu tujuan yang terintegrasi.

Hendaklah diingat bahwa tidak ada suatu kepribadian yang selesai terbentuk dan final di balik karakter, perilaku dan kegiatan sesorang. Malah ia terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan dan mode-mode perilaku yang rumit yang berangsur-angsur menjadi saling harmonis antara satu dengan lainnya. Bilamana timbul suatu konflik baru di antara dorongan-dorongan itu, pikiran berusaha menegakkan/memapankan sejenis neraca dan keseimbangan di antaranya dan menimbulkan suatu keadaan gencatan sejata. Untuk maksud ini, itu kadang-kadang menimbulkan suatu kompromi antara berbagai dorongan dan dengan demikian mendapatkan sekurang-kurangnya keadaan damai dan kepuasan sementara. Sebagaimana mekanisme fisiologis yang secara otomatis datang beraksi untuk menegakkan suatu keseimbangan dalam tubuh apabila terjadi suatu gangguan yang paling kecil pun, pikiran juga bertindak untuk menyelesaikan permasalahan batin yang rumit dan menghindarkan bahaya yang jelas dengan menempuh jalan yang dapat dilakukannya.

Untuk mencapai neraca mental dan kedamaian mental dalam pikiran yang terganggu dan bingung, ada cara-cara tertentu yang sebagiannya logis dan memuaskan dengan sebagiannya, sedang yang lainnya tak rasional dan merugikan.

Psikolog Strecker dan kawan-kawannya mengajukan analisis sebagai berikut dalam hal ini,

Suatu cara yang efektif untuk menghaindari bahaya ialah menghadapi dan menatap konflik mental dan akibat-akibatnya dengan kecerdikan dan keberanian yang sebesar-besarnya dan mengurani intensitas konflik dan tekanan dari beberapa dari dorongan itu, dan dengan demikian menimbulkan suatu rekonsiliasi di antara mereka sehingga dapat memasuki arena kesadaran tanpa menyebabkan gangguan. Tetapi, sering kita tak dapat memperoleh suatu penyelesaian ideal untuk menyelesaikan konflik mental ini, dan kita terpaksa untuk menempuh jalan dalam bentuk sarana seperti introversion, extroversion, dan penipuan diri.

Kadang-kadang konflik mental tetap tak diketaj\hui dan tak jelas, atau tidak mendapat perhatian orang. Dalam hal ini, konflik-konflik itu menimbulkan suatu jenis perilaku yang sama sekali tidak berselaras dengan kepribadian sesorang dan orang yang bersangkutan tidak mempunyai pengetahuan tentang ketidakharmonisan ini. Sebagai hasilnya, kepriba-dian dan persepsi dirinya terpecah ke dalam dua arus, yang tak selaras antara satu sama lainnya, yang membuat orang itu nampak seperti bermuka dua dan ganjil dalam pandangan yang lain-lain.

Pikiran, rencana dan dorongan-dorongan selalu dalam keadaan kontlik dan tidak stabil dalam pikiran manusia. Orang-orang yang mempunyai kepribadian terpecah secara pribadi bertindak secara tak masuk akal. Para politikus yang selalu berteriak dan berpura-pura membela kelas pekerja termasuk ke dalam kelompok ini. “Kita harus mengangkat kesulitan-kesulitan kaum pekerja,” seru mereka, tetapi begitu mereka berhasil, mereka mengambil tindakan-tindakan yang yang membuat kehidupan para pekerja seribu kali lebih suram dan lebih sulit. Ke dalam kelompok ini termasuk semua orang yang mempunyai dua jalan berpikir yang berbeda dan dua kepribadian yang saling berkonflik.[48]
Peran Mendasar Keruhanian dalam Pendidikan

Peran vital pendidikan sebagai faktor supreme bagi kekuatan dan ketegaran masyarakat telah diakui oleh semua mazhab pemikiran. Tidak mungkin mengabaikan perannya yang mendasar dalam kesejahteraan individu manusia. Namun, yang teramat penting ialah makna sesungguhnya dari ‘pendidikan’ maupun prinsip-prinsip dan tolok ukur pendidikan yang diakui sebagai standar untuk menilai keparibadian intelektual dan spiritual dan diterapkan untuk membimbing manusia menuju kehidupan bahagia dan bebas.

Karena manusia terbuat dari dua konstituen berupa ruh dan tubuh, kita memerlukan prinsip pendidikan yang dapat menye-laraskan dorongan-dorongan tubuh dan ruhani. Prinsip ini dapat didasarkan pada agama atau pada apa yang merupakan peroduk manusia. Bila kita bandingkan keduanya, kita lihat dengan jelas karakter utama dan otentik dari prinsip pendidikan yang didasarkan pada agama. Karena, motif religius innate dalam watak manusia yang terdapat dalam dirinya sebelum ia menjadi korban berbagai jenis kebutaan. Apabila tak ada faktor eksternal yang mengganggu perjalanan kecenderungan religius yang fitriah ini di masa dini kehidupan sinarnya menyoroti hati dan kesadaran manusia. Sebagai akibatnya, ia membuat dirinya sesuai dengan dorongan batin ini, an dengan kesadaran, dan dengan makin meningkatnya kekuatan yang tersembunyi ini ia menjadi lebih menyesuaikan diri dengan dikte-diktenya.

Di sisi lain, para filosof, dengan berbagai persepsi mereka tentang fakta-fakta tak dapat mencapai kesepakatan pendapat mengenai pendidikan dan penghalusan spiritual. Dan sekalipun dianggap bahwa ketidaksepakatan semacam itu dapat dicapai, itu tak dapat, sebagai prinsip, itu tak dapat dijadikan sarana untuk mendidik massa manusia yang tak dapat memahami bahasan-bahasan filosofis. Karena, kekuatan restraint moral harus muncul dari kedalaman ruh manusia supaya dapat memenuhi tuntutan dorongan batin; apabila tidak demikian maka resep-resep falsafah etika, karena merupakan produk buatan manusia, tidak mampu menembus realitas tersembunyi yang terletak pada inti wujud manusia, dan dengan demikian tidak sempurna untuk mendidik pada individu dan mengantarkan mereka kepada kehidupan bahagia lahir batin. Bahkan bagi para individu yang mau menaati-nya, peraturan buatan manusia ini akan menjadi beban yang menjemukan. Dari itu, atas basis ini, kita harus mengakui keunggulan prinsip keagamaan—yang berakar pada kedalaman wujud batin dan kesadaran manusia, dan merupakan realitas abadi yang terletak pada pusat watak fitriahnya—atas semua metode lain yang telah disarankan dalam bidang pendidikan, dan mengambil-nya supaya usaha manusia dapat mencapai tujuan-tujuan yang diletakkannya.

Melalui pengakuan kemenonjolan prinsip inilah maka manusia mendapatkan suatu keimanan yang yakin dalam kewajibannya yang sejati sebelum ia jatuh ke dalam tawanan materialisme. Sebagai akibatnya ia menjadi sangat terikat kepadanya, dan semua jiwa manusia yang paling luhur dalam sejarah telah menemukan kesenangan akibat dari menyesuaikan diri dengan perintah-perintahnya dan mengikutinya dengan pengabdian.

Singkatnya, jalan inilah yang telah ditunjukkan oleh para nabi dan kitab-kitab sud yang diwahyukan, yang memungkinkan watak manusia mengalir pada salurannya yang sebenarnya dan memuas-kan semua aspek wujud manusiawinya. Tujuannya tak lain dari-pada membimbing watak manusia kepada tujuannya berupa kebahagiaan abadi. Dari itu, apabila prinsip utama ini dijadikan basis pendidikan, semua individu akan mampu maju di jalan perkambangan dan kesempurnaan dalam cahayanya dan tetap aman dari setiap jenis peyimpangan.

Pandangan sepintas kepada orang yang menjalani kehidupan mekanistis—suatu fenomena dari era penyelewengan ini— mengungkapkan fakta bahwa walaupun ada kemajuan dalam bidang pengetahuan dan banyak terobosan yang dilakukan dalam pengetahuan alam fisik dan pengungkapari rahasia-rahasianya, sayangnya ia telah mengalami kemunduran dan kemerosotan mengenai pengetahuan tentang dirinya sendiri. Bukan hanya itu, ia telah gagal menolong dunianya—yang merupakan satu-satunya pemeliharaan dan perkembangannya—dari kemusnahan dan kebinasaan; malah, aneka ragam pengetahuannya sendiri telah menjadi sarana kehancuran dan kekacauannya. Lagi pula, ruhani manusia sendiri telah menjadi mangsa kejahilan yang mendalam di dalam lembah suatu peradaban khayali.

Dunia Barat telah membuat manusia menjadi sarana dari tujuan-tujuan industrialisasinya, dan telah mengambil apa yang merupakan sarana sebagai tujuan itu sendiri. Sebagai akibatnya, ia telah menciptakan suatu masyarakat yang aneh berdasarkan prinsip konflik di atas taraf individu atau konflik di antara golongan-golongan sosial. Tak ada dari kedua jenis masyarakat ini yang berharga bagi manusia. Manusia tak akan dapat mencapai kemanusiaannya yang sebenarnya tanpa menyelesaikan kontradiksi antara wujudnya sendiri dan peradaban.

Eric Fromm menulis,

Perasaan terkucil dan tak berdayanya manusia modern ditingkatkan lebih jauh oleh karakter yang semua diambil oleh hubungan manusiawinya. Hubungan kongkret dari satu individu dengan yang lainnya telah kehilangan karakternya yang langsung dan manusiawi dan telah mengambil semangat manipulasi dan instrumentalitas. Dalam semua hubungan sosial dan pribadi, hukum-hukum pasarlah yang mengatur. Jelaslah bahwa hubungan antara para pesaing harus didasarkan pada ketidakpedulian di antara sesama manusia….

Bukan hanya hanya hubungan ekonomi, melainkan juga hubungan pribadi antar manusia, yang mempunyai watak keterasingan ini; sebagai ganti hubungan antar manusia, mereka mengambil karakter hubungan antara benda-benda. Tetapi, barangkali contoh yang paling penting dan paling membinasakan dari semangat instrumentalitas dan pengasing-an ini ialah hubungan individu dengan dirinya sendiri. Manusia tidak hanya menjual barang tetapi juga menjual dirinya sendiri dan merasa dirinya sebagai barang. Pekerja manual menjual tenaga fisiknya; pengusaha, dokter, pegawai, menjual ‘kepribadian’ mereka. Mereka harus mempunyai ‘kepribadian’ apabila mereka hendak menjual produk atau jasa mereka. Kepribadian itu harus menyenangkan, tetapi selain pemiliknya harus memenuhi sejumlah persyaratan lainnya, ia harus mempunyai tenaga, inisiatif, ini dan itu atau lainnya, sebagai yang mungkin dituntut oleh kedudukannya. Tentang komoditi mana pun lainnya, pasarlah yang memutuskan harga dari sifat-sifat manusia ini, ya bahkan keberadaan/kehidup-annya. Apabila diperlukan sifat-sifat yang ditawarkan seseorang, ia tak punya apa-apa, sama sebagaimana suatu komoditi yang tak dapat dijual karena tidak berharga walaupun dalam hal nilai pakainya. Jadi, maka kepercayaan diri, ‘rasa diri’, hanyalah suatu indikasi dari apa yang dipikirkan orang lain tentang pribadi itu; bukan dia yang yakin akan nilainya tanpa peduli akan popularitas dan keberhasilannya di pasar.[49]

>Manusia Bergerak Ke Arah Kesempurnaan 3 – KESADARAN

>

Kemampuan Akal
Akal adalah salah satu karunia Tuhan sebagai berkat kepada manusia. Tuhan berkata dalam Al-Qur’anul Karim,
Katakanlah, Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (supaya kamu bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya). [Tetapi] amat sedikit kamu bersyukur. ” (QS. al-Mulk: 23)

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata,
Akal adalah milik manusia yang paling berharga, karena ia menyimpan kehormatan setelah ia dihina, mengangkatnya apabila ia jatuh, membimbingnya apabila ia tersesat, dan meluruskan bicaranya apabila ia bicara.[27]

Dalam ajaran Islam, akal dipandang sebagai ‘nabi’ dari batin manusia, dan membimbingnya dan sebagai ayat (‘bukti’) Tuhan. Imam Musa al-Kazhim as berkata,

Tuhan telah menunjuk dua jenis bimbingan kepada manusia. Yang satu lahiriah dan nyata, yang lainnya di dalam dan tersembunyi. Bukti yang nyata adalah para nabi, rasul dan para imam suci. Bukti yang tersembunyi adalah akal.[28]

Karena kemampuan akal manusia tidak sama tingkatan dan berbeda dalam derajatnya, pada Hari Pengadilan setiap orang akan dituntut tanggung jawabnya sesuai dengan kemampuan akalnya. Imam Baqir as berkata,

Di Hari Pengadilan Tuhan akan memeriksa rekaman peri-laku makhluk-makhluk-Nya (dengan kekerasan) yang sebanding dengan kemampuan akalnya di dunia.[29]

Di zaman ini manusia sangat terpukau oleh capaian akal yang menakjubkan berupa temuan-temuan ilmiah, dengan menganggap-nya sebagai tujuan akhir kehidupan. Keterpukauan ini telah memberikan pukulan yang hampir tak dapat dipercaya pada peran akal dan tempatnya dalam kehidupan manusia. Hal itu telah menyebabkan manusia melupakan dan mengabaikan kekuatan dan daya kemampuan yang berhubungan langsung dengan adikodrati dan Sumber kehidupan. Sekiranya orang yang terpesona itu melihat cakrawala yang jauh dan lebih luas ke panorama adi-kodrati, ia akan tidak mau berhenti pada manifestasi-manifestasi akal yang memukau. Islam sepenuhnya mengenal nilai dan kemam-puan akal yang sesungguhnya serta luasnya bidang kegiatannya. Atas dasar pengetahuan itulah maka Islam memberikan demikian banyak kepedulian pada latihan dan pertumbuhan akal, agar ia dapat memandang realitas kehidupan dengan kepedulian yang penuh pikiran. Al-Qur’an meminta akal supaya tidak berpegang pada apa pun yang tidak terbukti dengan pasti dan tanpa keraguan. Ia meminta akal supaya tidak menerima sesuatu sebelum ada bukti yang jelas dan pasti untuk membenarkan penerimaan seperti itu.

Dan janganlah kamu mengikuti apayangkamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. al-Israa':36)

Peringatan gamblang ini menekankan perluanya penyelidikan seperlunya sebelum menerima sesuatu sebagai kebenaran. Demi-kian pula, Al-Qur’an menunjukkan watak menyeleweng dari orang-orang yang tidak mendasarkan kepercayaan mereka pada kepastian dan hanya mengikuti dugaan dan sangka-sangka mereka. Al-Qur’an berkata tentang mereka,

Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran. (QS. an-Najm: 28)

Berdasarkan itu, dengan mengambil pendekatan yang kokoh berdasarkan penalaran yang tak tergoyahkan, ia menghancurkan fondasi intelektual dari peniruan membuta dan dugaan-dugaan. Ia memperingatkan para pengikut buta yang tanpa selidik meniru keyakinan dan kepercayaan nenek moyang. Al-Qur’an berkata tentang mereka,

Mereka hanya mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tidak berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.(QS. an-Najm: 28)

Karena itu, dengan mengambil pendekatan yang kokoh berdasarkan penalaran yang tak tergoyahkan, Islam membongkar fondasi peniruan dan dugaan membuta. Islam memperingatkan para pengikut buta yang meniru keyakinan dan kepercayaan nenek moyang mereka bahwa pendekatan mereka hanyalah kebodohan semata-mata.

Mereka mengatakan, “Tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari [perbuatan] nenek moyang kami. (QS. al-Baqarah: 170)

Seruan ini dimaksudkan untuk mengembangkan pikiran kritis dan meletakkan kembali akal pada perannya yang sebenarnya dengan menolak mengikuti dugaan dan persangkaan. Dengan ini Islam hendak membiasakan akal untuk penyelidikan yang ber-disiplin dan kritis pada bidang tindakannya, sehingga dengan demikian ia dapat mengatur berbagai daya kemampuan dan menertibkan gagasan-gagasan dan konsepss-konsepsi ke bawah dominionnya. Jenis pemikiran yang dituntut Islam bukanlah jenis abstrak yang tersisih dari realitas-realitas kongkret yang mengambil bentuk spekulasi filosofls. Dengan memanggil perhatian kepada tanda-tanda (ayat) penciptaan Islam berusaha membangunkan akal supaya manusia dapat menggunakan kemampuan kesadarannya untuk merenungkan secara mendalam Keagungan dan Kebijaksana-an Tuhan yang terwujud dalam sistem penciptaan. Itulah pemikiran yang bebas dari fantasi, bebas dan reseptif terhadap realitas, bukan yang hilang dalam keliaran gelapnya fantasi. Itu pemikiran yang menghubungkan manusia, dengan pikiran dan pengertiannya, kepada Ruh Ilahi yang melingkupi seluruh dunia wujud, dan ini adalah keutamaan tertinggi akal.

Spinoza, menulis,
Yang tertinggi yang dapat dipahami akal adalah Tuhan, yakni Wujud Mutlak yang tak terbatas dan yang tanpa Dia tak akan ada apa pun dan tak ada yang dapat dipikirkan, dan oleh karena itu apa yang sangat menguntungkan bagi pikiran, atau yang merupakan kebaikan tertinggi bagi pikiran, adalah pengetahuan tentang Tuhan. Lagi, pikiran hanya bertindak sejauh ia mengerti dan hanya sejauh ia dapat dikatakan secara mutlak sebagai bertindak sesuai dengan kebajikan. Oleh karena itu, memahami adalah kebajikan mutlak pikiran. Tetapi hal tertinggi yang dapat dimengerti pikiran ialah Tuhan (sebagai-mana telah kami tunjukkan), dan oleh karena itu kebajikan pikiran yang tertinggi ialah memahami atau mengenal Tuhan.[30]

Maksud terakhir dari pikiran dan penyelidikan Islam Islam ialah mengobati hati manusia dan meletakkan fondasi kehidupan pada kebenaran dan keadilan. Ketika seseorang sampai kepada suatu kesimpulan tertentu melalui pemikiran dan menyadari implikasi-implikasinya secara mendalam, ia menerapkannya pada tindakan dan kehidupan. Sekali keyakinan dinamis itu memberi-tahukan kepada akal, perilaku dan daya tanggapnya, ia siap melakukan perjuangan sengit melawan setiap hal yang tak pantas yang berkompromi dengan nilai manusia yang sesungguhnya.

Walaupun akal adalah penuntun terbaik dan sumber penge-nalan yang terbesar, ia kehilangan cerlangnya sebagai akibat tirai hasrat dan hawa nafsu yang menabiri akal dan menghalangi cahayanya. Maka akal pun kehilangan kemampuan bimbingannya. Al-Qur’an merujuk peran menyesatkan dari hasrat dan hawa nafsu dengan kata-kata-kata berikut.

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). (QS. al-Qashash: 50)

Tetapi orang-orang yang lalim mengikuti hawa najsunya tanpa ilmu pengetahuan. (QS. ar-Ruum: 29)
Andaikata kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini. (QS. al-Mu’minuun: 71)
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya… ? (QS. al-Jaatsiyah: 23)

Tiada ragu, mengatasi dan mengendalikan hawa nafsu dan dorongan-dorongan negatif adalah tugas yang sangat sulit. Hanya dengan—usaha dan latihan yang sungguh-sungguh orang dapat mengekang hawa nafsu pemberontak dan menundukkannya kembali kepada pertimbangan akal. Ini cara mengatasi tirani hawa nafsu dan mengambil manfaat darinya secara tepat dan patut. Nabi saw pada suatu ketika berkata kepada sekelompok mujahid dari suatu pertempuran,

‘Selamat datang bagi mereka yang menunaikan jihad kecil dan yang masih akan melakukan jihad besar.’ Beliau ditanyai, ‘Ya Rasul Allah, apakah jihad besar itu?’ Beliau menjawab, ‘Itulah jihad melawan hawa nafsu.’[31]

Orang yang mendapat berkat dan kedekatan dengan Tuhan adalah orang yang waspada terhadap dorongan-dorongan hawa nafsu yang garang dan berbahaya dan yang tidak mengizinkan motif-motif hawa nafsu menguasai akalnya dan memalingkannya kepada hal-hal yang haram dan menyimpang.

Dan adapun arang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa najsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. (QS. an-Nazi’aat; 40-41)

Apakah Kesadaran Produk Terlarang yang Dibatinkan?
Suatu alat pelunak lainnya terhadap naluri dan impuls jiwa manusia ialah kesadaran moral. Sejak awal kemunculan manusia di muka bumi hingga hari ini, abad-abad panjang telah berlalu, dan selama itu manusia cenderung kepada kebaikan dan membenci kejahatan. Manusia selalu mendengar suara moral batin memanggil dari dalam yang disebut “kesadaran” atau “hati nurani”. Kehidupan rasionalnya sepanjang zaman berada di samping kehidupan kesadaran

Bilamana manusia dapat membedakan antara duri dan bunga, menjauhi duri dan menikmati bunga, ketika ia dapat membedakan antara yang kotor dengan yang bersih, tentulah ia tidak mencapur-adukkan kebajikan dan kejahatan. Watak mendasar dari kesadaran merupakan salah satu fenomena penciptaan yang paling menarik.

Manusia, dalam keadaan imbang, tertarik kepada kejujuran dan keadilan, dan menolak kecurangan dan kelaliman. Sebenarnya, keyakinan moral lebih tegas daripada keyakinan rasional, yang mempunyai nilai yang pasti untuk menentukan fakta-fakta. Karena, pikiran sangat menyadari bahwa pengetahuan tentang obyek-obyek lahiriah yang ditangkapnya, yang membawa stempel keyakinan yang diletakkan padanya oleh akal, mengenai realitas yang terpisah dan di luar pikiran, sedang kepastian yang diciptakan oleh kesadaran hati nurani berada di atas jenis kepastian menurut persepsi dan pengamatan. Dalam hal keyakinan moral, obyek itu terasa sebagai bagian dari subyek.

Sebagian psikoanalis, seperti Freud dan para pengikutnya, menyangkal bahwa kesadaran moral itu adalah bawaan dalam diri manusia. Mereka percaya bahwa keinginan-keinginan yang tertekan dan larangan-larangan sosial yang tersimpan dalam pikiran bawah-sadar membentuk apa yang dinamakan ‘kesadaran’. Dengan kata lain, kesadaran adalah produk dari suatu peradaban dan tidak mempunyai akar-akar yang hakiki dalam jiwa manusia.

Dalam penyelidikan dan analisis psikologisnya dari berbagai fenomena, Freud mencari akar-akar seksual dan tidak memberi perhatian kepada faktor-faktor batin yang merupakan sumber perbuatan baik dan buruk.

Tidak pernah ada masyarakat di dunia yang mungkin meman-dang ketidakjujuran, kelaliman dan pelanggaran janji sebagai sesuatu yang baik dan terhormat, atau kejujuran, keadilan dan kesetiaan sebagai buruk dan tak pantas, atau yang memandang sisi kesejahteraan dan kebahagiaannya terletak pada kejahatan dan keburukan moral.

Teori Freud akan dapat diterapkan apabila manusia telah belajar untuk membedakan antara baik dan buruk melalui pengalaman. Tetapi, kebajikan dan kejelekan yang telah dikenal oleh semua manusia di muka bumi, yang beradab dan liar, dan bahkan orang-orang yang tidak mengenal ajaran para nabi dan pembaru, sama sekali tak dapat dikatakan sebagai produk larangan sosial dan impuls-impuls atau desakan yang tertekan.

Penyangkalan Freud terhadap watak hakiki kesadaran—dalam pengertian yang dipahami oleh etika—dan degradasi wujud manusia ke suatu kumpulan impuls-irnpuls dan naluri fisik semata-mata, tak dapat tidak menjuruskan dia ke penyangkalan total terhadap seluruh nilai moral dan spiritualitas maupun nilai dan keluhuran dorongan-dorongan suci manusia yang demikian aktif pada kedalaman jiwanya. Penyangkalan itu membuat perwujudan-nya, seperti kasih sayang, keadilan, kebaikan, dan suka menolong yang lemah dan tak berdaya, menjadi tidak berarti dan mustahil.

Atas dasar doktrin seperti itu, tak seorang pun dapat mengambil langkah ke dunia nilai spiritual dan moral tanpa menekan dorongan-dorongan dan naluri alaminya dan melewati kesenangan dengan mengandalkan daya kemauannya. Malah, menurut paham itu, semua kekangan batin adalah sepenuhnya produk kekuatan eksternal dari pemaksaan sosial.

Kalau kesadaran dipandang sebagai suatu produk dari kekuatan-kekuatan lingkungan eksternal, tindakan-tindakan orang yang, tanpa melihat manfaat keakuan, menyangkali diri mereka sendiri terhadap banyak kesenangan demi mencapai tujuan dan cita-cita yang lebih tinggi, dan menanggung sakit dan penderitaan demi kepentingan yang lebih luhur, tetap tak akan terjelaskan oleh gagasan Freud yang tak sempuma, yang memandangnya sebagai suatu kelicikan dari bawah-sadar sebagai kompensasi atas keinginan-keinginan yang tertekan. Keagungan penyerahan kepada kepada tuntunan kesadaran akan selalu merupakan suatu misteri yang sulit bagi teori sperti itu.

Para tokoh pembaru yang merupakan pelopor kemanusiaan telah menarik manusia ke dunia kesucian manusiawi. Orang pun tidak menyerah kepada para pemimpin itu seperti menaati para tiran dan orang kuat. Manusia mengambil jalan keutamaan dan pendidikan dengan sukarela dan atas kehendak dan kecintaannya kepada keluhuran, dan ia menahan diri dari melaksanakan sebagian dorongan hawa nafsunya tanpa mengkonfrontasi suatu kompleks jiwanya. Adalah dengan semangat dan gairah sukarela maka ia menyambut rasa manusiawinya yang luhur dan melakukan perbuatan baik yang tidak dipaksakan kepadanya oleh adat, agama dan masyarakat.

Ada fakta-fakta yang menunjukkan bahwa realitas batin jiwa tidak terbuat dari prinsip gelap pencari kepelesiran semata-mata untuk memenuhi hawa nafsu rendah, melainkan ada pula berdasar dalam dirinya dorongan untuk kebaikan tertinggi. Ada suatu prinsip di dalam dirinya yang merupakan sumber independen dari tindakan-tindakan dan perilaku bajiknya. Kesadaran itulah yang mengingatkan dia bahwa segala sesuatu dalam kehidupan tak dapat dicari untuk tujuan keakuan, dan kehidupan bukanlah semata-mata pemuasan hawa nafsu.

Banyak orang di dunia yang memandang kehidupan yang kosong dari kesadaran sebagai suatu penghinaan dan pelecehan terhadap kehormatan pribadi mereka sebagai manusia. Mereka bersedia meninggalkan kehidupan dan merangkul maut, tetapi tidak sedia melanggar hati nurani mereka. Bilamana mereka melakukan perbuatan baik dengan mengikuti dorongan batinnya, mereka mempunyai perasaan yang demikian mendalam tentang nilai dan keindahannya sehingga mereka tidak mau menukarnya dengan seisi dunia.

Sekiranya fondasi kepribadian manusia merupakan prinsip subjektif dari karakter kekanak-kanakan di mana perburuan kesenangan dan pengelakan dari kesukaran yang merupakan satu-satunya fungsi yang diperhitungkan, pengetahuan dan perindus-trian yang dicapai manusia tidak akan sampai pada tahap kemajuan dan perkembangan seperti sekarang.

Wilayah dan Peran Kesadaran

Kesadaran hati nurani jarang membuat kekeliruan dalam penilaian. Berbagai kekeliruan manusia dalam kehidupan sosial entah merupakan hasil kekeliruan penalaran atau indera, atau merupakan akibat hilangnya daya tangkal kesadaran terhadap desakan-desakan yang garang.

Oleh karena itu, banyak kekeliruan yang diamati dalam berbagai bidang kehidupan tidak berhubungan dengan penilaian keliru atau kelemahan kesadaran, karena daya kemampuan batin ini tidak memainkan peran di luar wilayah kegiatannya. Kesadaran menguji kesimpulan-kesimpulan dan data yang diberikan oleh penalaran dan daya inderawi, dan penilaiannya didasarkan pada hal-hal ini.

Orang yang berwatak murni dan sehat ditolak oleh kejahatan dan dosa. Walaupun demikian, di bawah pengaruh faktor-faktor tertentu, mungkin ia temoda oleh dosa dan keburukan, dan ini dapat melemparkan bayangan malu dan rasa bersalah kepada diri-nya. Tetapi, setelah pelanggaran itu dilakukan, sekali orang kembali kepada diri sendiri dan berkonsultasi dengan cahaya terluhur dalam dirinya, ia menyadari karakter buruk dari apa yang terjadi, dan suatu nyala api bergejolak dari kedalaman wujudnya. Suatu rasa bersalah dan malu yang pedih meliputi seluruh wujudnya. Ini yang dinamakan kesadaran hati nurani, yang mencela si pelanggar—bahkan setelah ia dihukum— dan menyiksanya terus-menerus dengan cambukan penyesalan.

Kesadaran bukan saja dapat merupakan penuntun yang patut diandalkan dalam perjalanan hidup, ia pun merupakan saksi yang adil dan jujur atas perilaku manusia, yang menjaga dan memak-lumkan apa yang diamatinya. Seseorang mungkin mengatakan dengan lidah sesuatu yang berlawanan dengan apa yang ada di dalam hatinya, atau ia mungkin menyembunyikan pikiran-pikiran rahasianya dengan mengendalikan gerakan lahiriahnya. Tetapi, ia tidak berkuasa membungkam suara kesadaran atau menghentikan dia dari mencelanya. Kesadaran tak dapat ditipu. Mungkin mengelabuinya melalui suatu tipuan atau trik mental atau bahkan menidurkannya untuk sementara, tetapi begitu ia terbangun dan mengkaji rekaman dosa perbuatan seseorang, ia memaklumkan dengan kejelasan yang sempurna karakter buruk dari perilaku kejinya dan memecutnya keras-keras dengan cambuk rasa salah dan penyesalan.

Tak ada yang dicintai manusia melebihi dirinya sendiri. Orang yang menderita penyiksaan rasa salah yang paling perih adalah sesungguhnya orang yang sudah ditolak dan ditinggalkan oleh dirinya sendiri. Ia merasa seakan-akan kejahatan dan dosanya adalah kobaran api yang dengan ganas membakar dirinya. Dari itu maka kesadaran adalah alat yang paling efektif untuk menjauhkan kejahatan dan dosa.

Apabila intensitas pedihnya kesadaran yang dideritanya melam-paui kekuasaan dan kemampuannya, suatu perasaan gelisah memenuhi dan menutupi seluruh rasa puas lainnya. Tekanan yang menyiksa dari kesadaran itu dalam beberapa kasus mengganggu perjalanan normal aktivitas jiwa seseorang dan menimbulkan kondisi-kondisi patologis. Kajian tentang ketegangan jiwa dalam beberapa kasus kegilaan yang telah dikaji menunjukkan bahwa ada orang yang kehilangan kewarasannya dan kemampuan akalnya akibat siksaan dan tekanan kesadaran akibat melakukan kejahatan dan dosa lalu jatuh ke dalam tungku penyesalan dan rasa bersalah.

Kadang-kadang demikian kuatnya keingingan seseorang yang tak patut sehingga orang itu hendak menipu kesadarannya dan mengatur kegiatannya. Adalah suatu ciri kesadaran yang menakjub-kan bahwa ia dapat melakukan perlawanan yang tekun terhadap dorongan-dorongan hawa nafsu yang kuat dan berjuang melawan-nya. Selama tidak terjadi kegagalan dalam perlawanannya kepada tekanan naluri, ia melaksanakan usahanya dan tidak mengabaikan kewajibannya.

Henri Baruk mengatakan,

Kesadaran hati nurani itu kuat dalam bertahan, dan sekalipun ketika cahayanya menjadi demikian suram sehingga tak kelihatan, sedikit banyaknya ia tetap waspada dan sadar. Dan bahkan di saat-saat ketika cahayanya hanya dapat dilihat dengan sulit, ia dapat, secara mendadak, mulai bercahaya dengan kecerlangan yang menyilaukan.[32]

Al-Qur’an dan Suara Alam

Sekarang banyak ilmuwan menolak pandangan Freud dan memandang kesadaran hati nurani sebagai bagian hakiki watak manusia. Para pemikir yang telah menggunakan kekuatan akal sehat dan giat berusaha untuk mengetahui manusia dan alam semesta, telah mengukuhkan fenomena bawaan dari kesadaran. Mereka terbimbing kepada keyakinan bahwa kecenderungan kepada kebajikan dan penolakan terhadap kejelekan mempunyai akar dalam wujud kita, bahwa sistem penciptaan telah menempat-kan aset ini dalam watak fitriah setiap manusia.

Di sini, bersama beberapa beberapa ayat Al-Qur’an yang relevan, kami akan mengutip pandangan beberapa pemikir dan ilmuwan Barat mengenai hal itu.

Al-Qur’an memandang kemampuan batin manusia untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, kebajikan dan kejahatan, sebagai ilham Ilahi yang tertanam dalam dirinya.

Demi jiwa serta Yang menyempurnakannya dan mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwaannya. )Q.91:7-8)

Jean Jacques Rousseau menulis,

Pandanglah setiap bangsa di dunia, bacalah setiap jilid sejarahnya; di tengah semua bentuk pemujaan yang ganjil dan kejam ini, di antara keanekaragaman adat istiadat yang mengherankan ini, Anda akan mendapatkan di mana-mana gagasan yang sama tentang baik dan buruk… Oleh karena itu pada dasar hati kita ada suatu prinsip fitriah tentang keadilan dan kebajikan, dan prinsip inilah, yang dengan itu kita menilai tindakan kita sendiri atau tindakan orang lain sebagai baik atau buruk, dan prinsip inilah yang saya namakan kesadaran atau hati nurani….

Kepentingan diri, kata mereka, mendorong setiap orang untuk menyepakati kebaikan umum. Tetapi, bagaimanakah maka orang baik menyetujui hal yang menyakiti dirinya sendiri? Apakah seserang yang menjemput kematian demi kepentingan diri? Tak diragukan, setiap manusia bertindak demi kebaikan-nya; tetapi, apabila tidak ada kebaikan moral yang harus dipertimbangkan, kepentingan diri hanya akan memungkin-kan Anda menuntut tanggung jawab atas perbuatan orang-orang jahat; mungkin Anda tidak akan berusaha berbuat lebih dari itu. Suatu falsafah yang tak mengandung tempat bagi perbuatan baik akan sangat tercela… Apbila doktrin-doktrin seperi itu berakar di kalangan kita maka suara alam, bersama dengan suara akal, akan terus memprotesnya, sehingga tak ada penganut ajaran semacam itu yang akan mengajukan alasan yang jujur bagi keberpihakannya.

Perintah hati nurani bukanlah penilaian melainkan perasaan.Walaupun seluruh gagasan kita datang dari luar, perasaan yang menimbangnya berada dalam diri kita, dan hanya dengan perasaan ini saja kita melihat kesesuaian dan ketidaksesuaian hal-hal sehubungan dengan kita sendiri, yang mengantarkan

kita mencari atau menjauhi hal-hal ini…. Mengetahui kebaikan bukanlah mencintainya; pengetahuan itu tidak fltriah dalam diri manusia, tetapi segera akalnya mengantarkannya untuk melihatnya, nuraninya mendorong dia untuk mencintainya, dan perasaan inilah yang fitriah NuranilNurani! Naluri ilahiah, suara abadi dari langit, penuntun yang meyakinkan bagi makhluk yang sesungguhnya tak tahu dan fana, namun cerdas dan bebas, hakim tentang baik dan buruk yang tak pernah keliru, membuat manusia menyerupai Tuhan! Dalam diri Anda terdapat kehebatan watak manusia dan moralitas tindakan-tindakannya; terlepas dari Anda, Nurani, saya tidak mendapatkan apa-apa dalam diri saya untuk mengangkat saya mengatasi hewan – tak ada selain hak istimewa yang menyedihkan untuk mengembara dari satu sudut ke sudut lainnya, dengan pertolongan pengertian yang tak terkekang dan akal yang tak kenal prinsip.

Syukurlah, kita telah meluputkan diri dari pertunjukan falsafat yang menakutkan itu; kita dapat menjadi manusia tanpa menjadi ilmuwan. Sekarang kita tak perlu mengerahkan kehidupan dengan mengkaji moralitas, kita telah mendapatkan penuntun yang lebih meyakinkan dan lebih murah melalui jaringan luas pemikiran manusia. Tetapi, tidaklah cukup sekadar menyadari adanya penuntun itu. Kita harus menge-nalinya dan mengikutinya. Apabila ia berbicara kepada semua hati, mengapakah maka hanya sangat sedikit yang mempedulikan suaranya? Ia berkata kepada kita dengan bahasa alam, dan segala sesuatu mengantarkan kita untuk melupakan bahasa itu. Nurani itu pemalu; ia mencintai kedamaian dan kesepian, ia bingung karena kebisingan dan jumlah; prasang-ka, dari mana ia dikatakan berasal, adalah musuhnya yang terburuk. Ia melarikan diri dari hadapan mereka atau berdiam diri, suara bising mereka menenggelamkan kata-katanya sehingga ia tak dapat beroleh pendengaran. Fanatisme berani menentang suaranya dan mengilhamkan kejahatan atas namanya. Ia takut akan perlakuan buruk; ia tidak lagi berbicara kepada kita, tidak lagi menyambut panggilan kita. Setelah diejek sekian lama, sulit untuk memanggilnya kembali sebagaimana sukar juga mengasingkannya.[33]

Friedman berkata,

Suara kesadaran bukanlah produk pendidikan atau latihan atau suatu cara lain; ia adalah bagian dari kepribadian manusia. Siapa saja yang naik ke kedudukan yang tinggi yang menonjol dalam masyarakat atau menjadi pembawa panji kemanusiaan, adalah suara kesadarannya yang menuntun dia kepada kebajikan dan ketakwaan.[34]

Psikolog Henri Baruk mengatakan,

Kesadaran hati nurani bukanlah suatu reaksi buatan melainkan suatu pelaku yang paling mendalam yang fitriah dalam watak manusia. Walaupun ada berbagai jenis usaha penekanan, manusia tak dapat membungkam atau menghapus kesadaran itu. Lagi pula, kestabilan dan pertahanan kesadaran yang luar biasa, sekalipun dalam keadaan sakit parah, gila maupun kelainan jiwa, dan kelanjutan hidupnya bahkan setelah suramnya cahaya akal, memberikan kesaksian, sebagai-mana dikatakan sebelumnya, akan kedudukannya yang nyata dan menonjol dalam jiwa manusia.

Sebagian ilmuwan bertanya-tanya apakah kesadaran itu bukan suatu produk dari pelajaran, pendidikan atau agama. Tetapi, haruslah ditunjukkan bahwa fitur-fitur asing dari kesadaran telah didapati dalam ritual-ritual agama primitif. Ungkapan rasa pesona dan kekecewaan di kalangan banyak bangsa pemuja berhala memberikan kesaksian tentang tuanya nurani yang telah ada bersama manusia sejak awal mulanya. Penolakan terhadap fakta ini sama artinya dengan kegagalan total dalam memahami jiwa manusia.[35]

Al-Qur’an memaklumkan,

Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir; dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua buah jalan (kebaikan dan kebajikan serta kejahatan dan kejekkan)? (QS. al-Balad: 8-10)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan); karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (QS. al-Insaan: 2)

Samuel Smiles menulis,

Kesadaran nurani adalah daya kemampuan khusus dari jiwa yang dapat disebut naluri keagamaan. Ia mula-mula mengung-kapkan diri ketika kita menjadi sadar akan perjuangan antara watak yang luhur dan yang rendah di dalam diri kita—tentang ruh yang memperingati melawan daging—tentang kebaikan berjuang untuk menaklukkan kejahatan…. Untuk menikmati kebebasan yang tertinggi, pikiran harus dibangunkan oleh pengetahuan. Ketika pikiran telah tercerahkan, dan kesadaran menunjukkan kekuatannya, tanggung jawab manusia ber-tambah….

Kesadaran itu permanen dan universal. Ia memberikan kepada manusia kendali diri—kemampuan untuk menolak dan melawan godaan…. Satu-satunya latihan komprehensif dalam pengendalian diri tercapai melalui pendakian kesadaran— dalam pengertian kewajiban yang dilaksanakan. Hanya kesadaran saja yang menegakkan manusia pada kakinya, membebaskan dia dari kekuasaan dan tingkah hawa nafsu. Ia menempatkan orang sehubungan dengan kepentingan-kepentingan terbaik baginya. Sumber kenikmatan yang paling benar hanya terdapat di jalan kewajiban. Kenikmatan akan datang sebagai pemanis kerja yang tak diminta, dan memah-kotai setiap pekerjaan yang tepat.

Pada pertumbuhannya yang paling penuh, kesadaran mengarahkan manusia ke mana saja yang membuatnya berba-hagia dalam pengertiannya yang tertinggi, dan menyuruhnya bersabar terhadap segala yang membuatnya tak bahagia…. Tanpa kesadaran, orang tak akan dapat mempunyai prinsip yang lebih tinggi selain kesenangan…. Suatu bangsa yang terbuat seperti itu, dengan akal dan hawa nafsu seperti yang dimiliki manusia, dan tanpa pengaruh tertinggi kesadaran untuk mengatur perbuatannya, akan segera terbuang ke dalam anarki total, dan berakhir dalam kehancuran bersama. Kekuatan akal terbesar mungkin ada tanpa sezarah pun kemuliaan. Kemudian datang dari kekuatan tertinggi dalam pikiran manusia—kesadaran, dan dari daya kemampuan yang paling tinggi, akal, dan kemampuan untuk beriman—yang dengan itu manusia mampu memahami lebih banyak daripada apa yang disuplai oleh indera…. Pelajaran terbesar yang haras dipelajari ialah bahwa manusia harus memperkuat dirinya untuk melaksanakan kewajibannya dan melakukan apa yang tepat, mencari kebahagiaan dan kedamaian batinnya dalam obyek-obyek yang tak dapat diambil dari dia. Kesadaran adalah konflik yang dengan itu kita mencapai penguasaan atas kegagalan-kegagalan kita sendiri. Kesadaran merupakan perkerjaan diam-diam dari batin manusia, yang dengan itu ia membuktikan kekuatan khususnya.[36]

Al-Qur’an menyatakan,

Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). (QS. aI-Qiyaamah: 1-2)

Dalam ayat ini jeritan penyesalan dan penyalahan batin yang timbul dari kedalaman kesadaran manusia disebut ‘jiwa yang amat menyesali’ {an-nafs al-lawwamah). Ini adalah daya kemampuan batin yang oleh para psikolog dinamakan ‘kesadaran’.

Otto Friedman menulis,

Seseorang mungkin mengerahkan waktu berjam-jam minum anggur di bar atau membuang waktunya di meja judi, atau sibuk dalam permainan…. Bagaimanapun juga, ketika ia sedang sibuk dengan selingan-selingan itu, ia mungkin mempunyai perasaan batin yang tak tenteram yang terus menyiksanya dan tidak memberinya kesempatan untuk beroleh kesenangan dari waktu selingnya itu. Suatu suara batin mencelanya karena menyia-nyiakan waktu hidupnya. Suara ini terus bergema dalam kesadarannya.

Di sisi lain, sebagai ganti keterlibatan dalam waktu selingan seperti itu, mungkin timbul pikiran bahwa akan jauh lebih baik apabila ia menyibukkan diri dengan melatih anak-anak-nya atau membenahi taman dan tanamannya. Di sinilah kesadarannya menuntun dia ke arah tindakan-tindakan yang baik yang berguna bagi dirinya sendiri dan bermanfaat bagi orang lain. Di sinilah orang terus membandingkan dirinya dengan orang lain, dan kesadarannya terus mencela dia. Makin besar dan makih tekun ketaatan seseorang kepada suara kesadaran, makin besar kekuatan kreatifnya dan kekuatan spiritualnya, dan makin besar gairah dan semangat hidupnya. Dan makin kecil perhatian sesorang kepada suara kesadaran, makin garang dia dan makin tak terkendali.[37]

Nabi Muhammad saw berkata,
Orang yang dikuasai oleh celaan diri kehilangan semua kedamaian.[38]

Seseorang mungkin kehilangan keseimbangannya di saat lalai lalu dorongan-dorongan rendah menguasainya. Sebagai akibatnya, ia menjadi nista dan menyedihkan, dan penyesalan dan rasa malunya menetap padanya selama hidupnya.

Iman Ali as berkata,

Betapa sering sesaat berleha-leha meninggalkan kesengsaraan sepanjang hidup.[39]

Masyarakat manusia di segala zaman telah mengambil manfaat dari kesadaran batin di saat-saat perlu. Para individu yang kosong dari perasaan moral, yang baginya kebajikan dan kejahatan tidak mengandung makna, dan yang melihat pengejaran kesenangan, makanan dan hawa nafsu sebagai tujuan hidup, adalah seperti keratan-keratan jerami yang dibawa banjir naluri hewani dan tidak mempunyai kredibilitas atau kedudukan dalam masyarakat, bangsa atau komunitas. Bilamana kepada seseorang dipercayakan suatu pekerjaan, hadirnya kesadaran dianggap jaminan bahwa pekerjaan itu akan dilaksanakan. Harus ada suatu ukuran yang baik tentang kepercayaan bahwa ia akan bertindak sesuai dengan kewajibannya. Tidaklah bijaksana menyerahkan suatu tugas kepada seseorang yang perilakunya mencurigakan dari sisi pandang kesadaran atau berlawanan dengan perilaku yang cermat.

Islam telah memberi perhatian khusus pada kesadaran dan mendasarkan usaha-usahanya dalam pembenahan dan perbaikan perilaku sosial dari kesadaran individu. Islam berusaha meyakinkan para individu untuk menempatkan seorang pengawas dalam batin mereka yang dapat mengekang mereka dari melakukan pelang-garan terhadap orang lain, sekalipun dalam kondisi permusuhan dan kemarahan. Al-Qur’an mengingatkan manusia dalam kata-kata berikut,

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. (QS. al-Maa’idah:8)

Sesuai dengan itu, tak seorang pun berhak menyerang orang lain atau melanggar hak-hak orang lain, dalam keadaan bagai-manapun. Hukum positif dengan sarana terbatas yang tersedia baginya untuk mengendalikan manusia dari luar untuk mencegah pelanggaran. Tetapi Islam memberikan kepentingan besar pada pemupukan dan pemeliharaan kesadaran individu. Dengan kesadaran yang berkembang, para individu sendiri melihat perlu-nya menahan diri dari tindakan-tindakan tertentu sehingga mereka dapat mencapai pembangunan spiritual dan keselamatan. Tak syak lagi, pengendalian diri jenis ini, yang dimotivasi oleh keimanan agamawi dan pengertian moral, merupakan sarana yang lebih meyakinkan, dan jalan yang lebih singkat ke tujuan.

Dalam pandangan Islam, pencapaian tujuan kehidupan yang lebih tinggi hanya mungkin melalui kerja sama dan saling cinta di antara sesama manusia. Ia mengundang manusia kepada kebajikan ini dan meminta mereka mendasarkan hubungan pada kerja sama dan kasih sayang. Dalam cahaya ajaran seperti itu, setiap orang merasa bahwa keberadaannya sebagai manusia adalah seperti lampu yang menyinari cakrawala kemanusiaan ketika ia, dengan senang dan tanpa kekangan, mengulurkan kerja sama dan kasih sayang kepada orang lain.

Imam Ja’far as-Shadiq as meriwayatkkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda,

Adalah kewajiban setiap mukmin untuk memenuhi tujuh hak saudara seimannya: 

  1. ia tak boleh lalai menunjukkan hormat dan penghargaan kepadanya; 
  2. ia harus sungguh-sungguh mencintainya dari dasar lubuk hatinya; 
  3. ia harus membagikan hartanya secara adil dengannya; 
  4. ia harus menahan diri dari menggunjingi dia dan menyebutkan hal-hal yang tak pantas di saat ketidakhadirannya; 
  5. ia harus mengunjunginya bila ia sakit; 
  6. ia harus mengurusi pengu-burannya bila ia meninggal; 
  7.  ia tak menyebutnya kecuali dengan ramah setelah matinya.[40]

Manusia mendengarkan panggilan alam dan membedakan kebajikan dari kejahatan ketika tak ada sesuatu yang mengganggu perjalanan alam. Suatu kesadaran yang terikat dan telah direbut kebebasan bergeraknya oleh rantai berat nafsu hewani, desakan-desakan mencari kekuasaan dan kedudukan tak dapat mewujud-kan karakternya yang sesungguhnya dan menjadi hakim yang terpercaya. Dengan demikian maka dalam masa krisis peperangan dan revolusi serta keadaan luar biasa, kesadaran menderita pukulan dahsyat, dan kegiatannya berhenti. Dalam keadaan seperti itu gagasan dan doktrin-doktrin yang menyeleweng timbul sebagai kekuatan dinamis yang potensial, dan penekanan pada kesadaran kolektif mengakibatkan kerugian dan kerusakan yang tak terpulihkan bagi manusia.

Ada suatu perbedaan besar antara orang yang sadar dan orang yang tak berkesadaran; perbedaan ini bahkan lebih besar daripada perbedaan yang memisahkan manusia dari makhluk lain. Apabila api dengan sifatnya, yakni membakar, membakar tubuh seorang manusia, itu adalah akibat wataknya yang hakiki. Api tak punya kesadaran bahwa yang dibakarnya adalah makhluk, manusia yang sangat merasakan siksaan pembakaran. Tetapi, apa saja yang dilakukan oleh orang yang ceroboh dilakukannya dengan pengeta-huan dan kesadaran. Kekejaman, kelaliman dan penderitaan yang ditimpakan oleh manusia kepada manusia lainnya adalah perbuatan yang dilakukan dengan sadar.

Salah satu dari hal-hal yang mengubah watak azali manusia dan melemparkan bayangan gelap pada wajah cerah yang murni adalah pengulangan dosa. Seorang penjahat keji melakukan banyak kejahatan mengerikan tanpa merasakan siksaan jiwa bagi peri-lakunya yang buruk itu. Kondisi sadistis semacam itu sangat terkecuali.

Masyarakat hanya dapat mencapai keadilan sosial bila para individu menerima suatu pelaku batin yang dapat bertindak sebagai hakim dan pengawas atas tindakan-tindakan mereka dan menyesuaikan diri dengan perintah-perintahnya. Apabila semua orang dalam suatu unit masyarakat yang sesungguhnya yang memberi makna kepada kemanusiaan mereka mempunyai etos yang sama dan identik, hal itu bukan saja menimbulkan suatu kondisi sempurna tentang kehidupan bersama, tetapi juga membuat mereka seperti bagian-bagian organisme dan mata rantai dari suatu mekanisme.

Landasan Akal dan Kesadaran

Bilamana impuls-impuls pemberontak berusaha menjungkir-kan peran akal dan kesadaran, dan menjadikan manusia tawanan hawa nafsu, iman muncul sebagai dukungan terbaik untuk dijadikan andalan. Iman adalah dukungan dan tumpuan yang paling besar bagi kesadaran dan penalaran. Dengan dukungannya, nalar dan kesadaran mendapatkan kemampuan untuk menekan naluri-naluri pemberontak dalam segala keadaan, menolak tekanan hawa nafsu yang memusuhi, dan mengatasi segala kecenderungan yang berbahaya. Seorang manusia yang diperlengkapi dengan senjata keimanan adalah orang yang dalam kata-kata Al-Qur’an, “Telah berpegang kepada buhul taliyang amat kuat”.[41]

Fungsi dari penalaran teoritis di atasnya bertumpu metafisika, pengetahuan alam dan matematika, ialah untuk melakukan penilaian mengenai realitas. Namun, penalaran praktislah yang membentuk dasar ilmu pengetahuan tentang kehidupan, dan fungsinya ialah membuat penilaian mengenai kewajiban dan tanggung jawab manusia. Jalan dan pendekatan yang dipilih manusia dalam kehidupan berhubungan dengan karakter penilaian yang dibuat oleh penalaran praktis.

Salah satu faktor penting yang memberikan kejelasan pan-dangan kepada akal ialah takwa. Klaim bahwa takwa menerangi akal dan membuka jendela kebijaksanaan di hadapan manusia adalah suatu hal yang tidak berhubungan dengan akal teoritis. Dengan sarana takwalah manusia mampu membedakan jalan hidup yang tepat dan menemukan penyakitnya sendiri serta obatnya.

Karena wilayah tindakan akal praktis sama dengan wilayah hasrat, impuls dan hawa nafsu, kegarangannya yang tak terkendali mempunyai efek yang menentukan pada akal dan pikiran praktis orang yang berfungsi membentuk konsepsi-konsepsi kewajiban yang jelas, dan yang benar atau salah. Hawa nafsu yang terkendali mengangkat kabut tebal yang mengganggu cahaya lampu akal. Dalam kata-kata Hafizh,

Kecantikan si tercinta tidak bercadar dan bertirai, tetapi
Debu di jalan harus diendapkan supaya pandangan boleh bekerja.
Dalam ajaran Islam, hasrat dan hawa nafsu dipandang sebagai bermusuhan dengan akal, karena cengkeramannya melemahkan kekuatan akal dan menetralisasi pengaruhnya.

Nabi saw berkata,
Musuh Anda yang terbesar adalah yang di antara dua pinggang Anda.[42]

Imam Ja’far as-Shadiq as berkata,
Hawa nafsu adalah musuh akal. 
Amirul Mukminin Ali as berkata,
Kebanyakan dari kegagalan akal terjadi di bawah petir keserakahan.[43]

Bilamana takwa memegang hati, ia membelenggu hasrat dan hawa nafsu, menjinakkan dan mengendalikannya. Sebagai hasilnya, akal menjadi bebas dan aktif. Ini menunjukkan ektivitas takwa dalam memperluas pandangan dan terangnya akal.

Nabi Muhammad saw menyebutkan ciri-ciri berikut ketika menggambarkan sifat-sifat orang beriman,

Di antara keutamaan menonjol orang beriman, ia tidak melanggar norma-norma keadilan karena kemarahannya pada sesorang. Ketertautannya pada seseorang tidak membuat dia menempuh jalan dosa. Ia bukan pelanggar dan tidak menindas orang lain. Ia tidak menerima kebatilan sekalipun datangnya dari seorang sahabat, dan tidak menolak hak-hak musuhnya.[44]

Manusia sepenuhnya bebas menggunakan aset-asetnya yang sangat berharga berupa akal dan kesadaran yang telah dianugerah-kan kepadanya, dan mengambil manfaat darinya. Namun, kebebas-annya yang terakhir terletak pada mengatasi beberapa dari hasrat alaminya; yakni, bilamana sebagian dari wujudnya—yaitu akal dan kesadarannya—mendominasi bagian lainnya yang berupa naluri-naluri alaminya.

Akal dan kesadaran memelihara supremasinya selama tidak ada konflik antara keduanya dan impuls-umpuls kejiwaan yang menggejolak, yang dapat dikendalikan dengan mudah oleh kedua daya kemampuan itu. Keduanya itu mempunyai kekuatan yang lebih besar daripada otoritas kepolisian lahiriah, karena perintah-perintah mereka dianggap oleh individu sebagai dinyatakan oleh dia sendiri, dan ia tak dapat memberontak melawan dirinya sendiri dengan menolak untuk mematuhinya.

Namun, suatu kesulitan besar muncul ketika dominasi akal dan kesadaran memastikan ketidakpedulian ataii penekanan salah satu dari naluri-naluri batiniah. Dalam situasi seperti itu—dalam berbagai kasus—daya tangkal akal dan kesadaran runtuh di hadapan kekuatan naluri yang ganas. Keduanya dipaksa mundur dan menyerahkan medan kepada kekuatan-kekuatan naluri yang menyerbu. Bagaimanapun keadaannya, manusia selalu terancam oleh hawa nafsunya.

Tetapi, manusia dengan iman sejati kepada Tuhan, yang keimanannya berakar mendalam pada hatinya, dan yang secara khusus menaati dan mempedulikan aspek-aspek keagamaan, memimpin hawa nafsunya yang bergejolak dengan mengandalkan keimanan. Di saat-saat berbahaya, dan dalam menghadapi panggilan hasrat yang haram, ia menolak impuls-impulsnya yang tak patut, da dengan wewenang serta kekuasaan yang sempurna, melakukan perlawanan yang tekun terhadap hawa nafsu yang memberontak.
Pemikiran Sesat dan Rasionalisme

Penyesuaian dengan perintah akal dan kesadaran, dan penye-rahan kepada tuntutan keadilan dan kesamaan, bukanlah tugas yang mudah. Karena itu banyak orang yang harus menyesuaikan diri dengan panggilan kesadaran, menyerah kepada penilaian akal sehat, dalam pertemuannya dengan kewajiban moral, keagamaan dan ilmiah dan dalam mengkonfrontasi fakta-fakta dan realitas, dan mengabaikan sebagian dari kepentingan egoistisnya, disiksa oleh penerimaan tanggung jawab dan prospek kerugian. Kecemas-an ini, yang disebabkan oleh absennya keimanan dan keberanian moral yang sesungguhnya, membuatnya menekan kesadarannya dalam kesukaran-kesukaran hidup. Sesudah itu, untuk menghindar dari tekanan kejiwaan, mereka mencari perlindungan pada pembenaran dan rasionalisasi yang timpang. Jelaslah bilamana seseorang mencari jalan pada pendekatan yang tak pantas ini beberapa kali, kegiatan akalnya menderita dan melemah. Orang itu berangsur-angsur terbiasa dengan cara akal bulus dan menjauh dari pemikiran logis yang benar. Lalu cara itu mengambil bentuk kebiasaan negatif, dan dalam perjalanan waktu kebiasaan itu muncul sebagai sifat pribadi yang langgeng.

Suatu kelompok manusia lainnya, untuk menghindar dari tanggung jawab, dan untuk menjauhkan diri dari mengakui kesalahan, mereka berusaha menggeserkan tanggung jawab atas berbagai urusan dan sekaitan dengan situasi kehidupan yang amat menentukan kepada orang lain, dengan mencari pembenaran bagi kepentingan mereka sendiri, berusaha menutup masalah itu dengan penilaian sepihak. Jenis penilaian yang tak pantas ini bukanlah akibat kelalaian dan tidak adanya perhatian pada hal-hal yang halus dari suatu masalah. Dalam prakteknya semua orang yang menyeleweng, yang karakter keji dari tindakan-tindakannya tidak diragukan, mencari berbagai pembenaran dan rasionalisasi yang tak dapat diterima, untuk menerangkan dan membenarkan tindakan mereka yang tidak manusiawi.

Dale Carnegie menulis,

Saya telah mengadakan beberapa korespondensi yang menarik dengan Warden Lawes dari Penjara Sing Sing, dan ia memaklumkan bahwa “[hanya] sedikit penjahat di Sing Sing yang memandang diri mereka sebagai orang jahat. Mereka hanyalah manusia seperti Anda dan saya. Demikianlah mereka merasionalisasi. Mereka dapat mengatakan kepada Anda mengapa mereka harus membongkar peti besi atau berlaku cepat menarik pelatuk senjatanya. Kebanyakan dari mereka berusaha dengan suatu bentuk penalaran, batil atau logis, untuk membenarkan tindakan-tindakan antisosial mereka, kepada diri mereka sendiri, yang sebagai konsekuensinya, mereka mempertahankan dengan sungguh-sungguh bahwa mereka sama sekali tidak seharusnya dipenjarakan.”

Apabila Al Capone, “Two Gun” Crowley, Dutch Schulz, orang-orang nekat di balik dinding penjara, sama sekali tidak menyalahkan diri mereka—bagaimana dengan orang-orang yang berhubungan dengan Anda dan saya?[45]

Pada awalnya setiap orang mengandung rasa bersalah jika mengabaikan tanggung jawab atau karena melanggar norma-norma moral atau sosial. Tetapi, pengulangan pelanggaran dan kesalahan semacam itu membuat orang terbiasa kepadanya. Setelah itu—dalam akhir tahap yang gawat—respon jiwanya terhadap pelanggaran itu secara tak sadar kehilangan kepekaannya, sampai terus merasa kebal dari kecemasan dan siksaan batin.

Al-Qur’an al-Karim menggambarkan makhluk celaka seperti itu, yang telah kehilangan akal dan kesadaran yang juga karena kejahatan, dan memburu keuntungan serakah dan tenggelam secara tak terpulihkan ke dalam tidur kelalaian dan lumpur kemerosotan sehingga tak ada yang dapat membuat mereka berpikir wajar lagi dan membedakan antara yang baik dan buruk, menjadi lebih tersesat dan lebih yang rendah daripada hewan.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka) Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergu-nakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang temak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. al-A’raaf: 179)

Tolok Ukur Nilai Manusiawi

Kepribadianlah yang membedakan setiap individu dengan yang lainnya, dan melaluinya kita menentukan nilai dan kedudukan sesungguhnya seorang manusia. Walaupun kenyataan bahwa semua orang mempunyai ciri umum maupun reaksi-reaksi umum yang khas bagi spesies manusia, dan demikian pula sehubungan dengan naluri-naluri sosial, namun setiap orang mempunyai sifat-sifat tertentu yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh, dan karunia-karunia khusus tertentu yang membedakan dia dari sesamanya manusia lainnya.

Kepribadian tidak terdiri dari ciri-ciri abstrak tertentu dari seseorang, melainkan dari totalitas seorang individu, yang membe-dakannya dari orang lain. Kepribadian adalah suatu kesatuan yang terdiri dari sekelompok sifat dan motif batin. Lagi pula, hanya sifat-sifat yang dipandang sebagai bagian dari kepribadiannya yang mempunyai kadar tertentu.

Prinsip-prinsip yang mengatur pertumbuhan dan perkembang-an kepribadian berlaku bagi semua. Tetapi, bilamana prinsip ini diterapkan pada dua indhddu, hasil yang diperoleh tidak sama. Bilamana kepribadian dari keduanya dibandingkan, perbedaan antara keduanya nampak jelas.

Aspek-aspek tertentu yang dapat diamati memang dapat diukur, tetapi tidaklah mudah mengukur aspek-aspek yang lebih dalam dan lebih batiniah dari kepribadian bila dilihat dari sisi moral.

Sebagian dari sifat-sifat itu memainkan peran yang lebih penting dalam struktur kepribadian dibanding dengan yang lainnya. Sifat-sifat yang berwatak moral dan etis ini lebih bermakna dari sisi pandang kepribadian. Dalam kenyataan, “karakter” sese-orang adalah kepribadiannya, bila dilihat dari sisi moral.

Dampak dari kepribadian, karakter dan kekuatannya, maupun caranya mendapatkan sifat-sifat yang membentuk pribadi, memain-kan peran yang lebih mendalam dan fundamental dalam kesejah-teraan dan kesengsaraan para individu. Karena, kebahagiaan dan kesengsaraan, lebih daripada setiap faktor luar lainnya, tergantung pada level pemikiran, akal, keutamaan spiritual dan penyebab-penyebab batiniah yang bekerja pada seseorang individu. Perbedaan status sosial dan finansial tidak mempunyai dampak yang tegas dan menentukan pada kebahagiaan seseorang.

Fondasi spiritual seseorang dan perkembangan kepribadiannya berhubungan langsung dengan ketertautannya dan penilaiannya pada berbagai hal. Secara alami ia berusaha menegakkan kesetaraan antara kepribadiannya dan obyek-obyek ke mana ia tertaut, supaya terbiasa dengannya. Kelakuan dan perangainya diselaraskan dengan apa yang dianggapnya paling berharga dan bernilai dalam kehidupan. Berbagai peringkat nilai mewakili cara berpikir dan etos. Di sini kita dapati cara mengukur nilai intrinsik setiap orang dan kriteria untuk mengukur kepribadiannya.

Orang-orang yang mendasarkan keberhasilan dan kebahagiaan mereka pada nilai-nilai materialistis—berkaitan dengan kualitas maupun kuantitas—dengan mengarahkan usaha-usaha mereka sepanjang hidup untuk mencapai tujuan-tujuan materialistis, dan sama sekali mengabaikan dan menolak nilai-nilai riil yang menjadi basis untuk mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya, pada kenyataannya menghancurkan kepribadian manusiawi mereka. Ada banyak orang yang mengerahkan seluruh hidupnya dalam perburuan nilai-nilai materialistis, tetapi tidak sudi mengabdikan sesaat waktunya untuk menemukan khazanah yang tak terkira nilainya berupa keutamaan dan kebajikan spiritual.

Para ilmuwan berbeda pendapat tentang sejauh mana masalah kepribadian berhubungan dengan psikologi sosial. Sebagian memandangnya sebagai bawaan keturunan dan faktor-faktor psikologis. Sebagian lainnya memandang kepribadian sebagai produk dari faktor-faktor sosial semata-mata. Kebenarannya terletak di antara kedua posisi ekstrem itu.

Keluarga, sekolah dan lingkungan sosial merupakan tiga faktor yang paling potensial dalam meletakkan fondasi-fondasi kepriba-dian dan menentukan karakter seseorang. Psikologi modern sangat mementingkan gejala yang kurang dipahami dari kepri-badian—sesuatu yang tidak mendapat banyak perhatian dalam psikologi lama. Tak diragukan, faktor-faktor sosial memainkan peranan penting dalam pembentukan kepribadian dan banyak dari sifat-sifat manusia dibentuk oleh lingkungan luar. Hanya sedikit orang yang dapat menangkal kekuatan dan pengaruh lingkungan mereka dan melawan arus.

Munn, dalam karya psikologinya, berkata,

Kita akan mempunyai kepribadian yang sangat berlainan apabila kita dibesarkan oleh orang Eskimo, orang Indian Sioux, atau orang Bali, atau oleh suatu kelompok kultural lain. Bukan saja kita akan berpakaian secara lain, hidup di kediaman jenis lain, makan makanan lain, menggunakan peralatan dan senjata yang lain, berbahasa dengan bahasa lain, dan mempunyai adat kebiasaan yang lain, tetapi kita pun akan mempunyai konsepsi yang berbeda tentang dunia dan tempat kita di dalamnya. Ego dan superego kita akan sangat berbeda.

Antropologi kultural telah memberikan tekanan yang tepat kepada “acuan sosial kultural” di mana kepribadian berkem-bang. Anak-anak yang dibesarkan di Amerika Serikat menda-patkan suatu jalan hidup dan kepribadian, yang mungkin sekali akan dicirikan sebagai “khas Amerika”. Tetapi, bahkan dalam acuan kulturalnya sendiri, aspek-aspek kepribadian dapat berubah, tergantung pada pertanyaan apakah kita dibesarkan di Utara atau di Selatan, di Timur atau di Barat, apakah kita dibesarkan di pedesaan, di kota besar atau kecil, apakah kita dibesarkan di perkampungan kumuh atau di kawasan kediaman yang terbaik, apakah terpencil, berbudaya atau tidak berbudaya, religius atau tidak religius; apakah kita bersekolah di sekolah standar, di bawah standar, atau unggulan; apakah kita mempunyai atau tidak mempunyai sahabat karib, apakah kita menyesuaikan diri atau tidak menyesuaikan diri dengan adat kebiasaan dari kultur kita, dan sebagainya.

Pengaruh-pengaruh sosio-kultural semacam itu difokuskan kepada seorang anak sejak lahimya, dan terus mempengaruhi-nya sepanjang masa hidupnya.[46]

Ada banyak kegiatan naluriah yang dapat secara umum dibentuk dan terbentuk oleh kondisi-kondisi lingkungan. Jadi, untuk perkembangan aspek kreatif dari kegiatan-kegiatan ini, perlulah mengubah dan memperbaiki sebelum segala sesuatu kondisi-kondisi yang dapat memperkuat atau melemahkan kegiatan-kegiatan hakiki ini. Juga, dari sudut pendidikan dan dari sisi pandang pengaruh pada kebiasaan, efek-efek dari setiap tindakan manusia harus dianalisis sebagaimana mestinya agar dapat mema-hami bagaimana suatu kecenderungan tertentu dapat diperkuat atau dicek.

Dari sisi pandang meletakkan fondasi-fondasi pertumbuhan emosi dan pembentukan lingkungan sosial yang patut, tahun-tahun usia kanak-kanak adalah tahun-tahun pembentukan yang paling penting. Latihan dini dilakukan melalui orangtua dan keluarga dekat lainnya. Perilaku dan pembicaraan yang benar oleh para guru mempunyai dampak yang menentukan dalam menetap-kan pola kehidupan si anak dan dalam menyutnbang bagi perkem-bangan kepribadiannya dan mekarnya kemampuan-kemampuan batinnya. Sebaliknya, metode-metode latihan yang tak pantas dan tak berprinsip merugikan perkembangan kepribadian si anak dan menekan kemampuan-kemampuan batinnya. Pohon muda yang baru keluar dari bumi dapat ditekukkan dengan mudah ke arah mana saja yang kita inginkan. Kecantikan dan kebagusan pohon masa depan tengantung pada perhatian yang kita berikan kepadanya di masa ketika ia masih muda.

Seperti itu pula, arah perkembangan kepribadian dapat ditentukan di masa dini kehidupan dan kepribadian masa depan si anak terbentuk dengan menyediakan kondisi-kondisi dan sarana yang tepat. Dari itu mungkin menggambarkan kepribadian masa depan seorang anak dan jenis reaksi-reaksi psikologisnya kepada kondisi-kondisi sulit yang mungkin ditemuinya dengan mengkaji kondisi-kondisi keluarganya dan situasi di dalamnya.

Penyebab keterbelakangan dan pertumbuhan yang lamban dalam kehidupan seseorang atau suatu masyarakat harus dicari dalam kekurangan kepribadiannya. Sekarang para spesialis yang melakukan penelitian tentang kepribadian, dalam beberapa sisi, juga memberi perhatian pada faktor-faktor yang lebih mendalam.

Ukuran kecerdasan seseorang dan kemampuannya menyelesai-kan masalah terungkap dalam situasi-situasi kritis. Orang-orang yang juga memberi perhatian pada reaksi-reaksi batinnya dalam keputusan dan kegiatan-kegiatannya mendapatkan pengertian yang lebih besar tentang keyakinan dan kebebasan diri, dan mendapatkan kepercayaan diri yang lebih besar dalam kepribadia-nnya sendiri. Sebagai hasilnya, mereka lebih efisien dan efektif daripada orang-orang yang memberikan perhatian lebih besar pada faktor-faktor lahiriah. Perhatian eksklusif pada faktor-faktor lahiriah menjuruskan orang mengabaikan perhatian pada perkembangan pikiran, akal dan pembentukan kepribadian dan memberikan nilai tambah dan kehormatan kepada pandangan sosial seseorang.

Pada saat orang-orang picik dan dangkal dalam mencari pemuasan tujuan dan hasrat yang sia-sia, berusaha memenuhinya dengan jalan berbagai jenis sarana, orang yang bertujuan lebih tinggi menjadi lebih tajam dalam usaha mencapai kesenangan spiritual dengan mengandalkan kekuatan akalnya. Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki kemampuan berpikir dan akal yang aktif, dan mengambil manfaat dari setiap kesempatan untuk memburu pikiran-pikiran yang bernilai dan luhur, adalah lebih dekat kepada kebahagiaan yang sesungguhnya di dunia ini.

Schopenhauer berkata,

Suatu temperamen yang tenang, optimisme, energi dan kekuatan adalah faktor-faktor yang paling penting yang menjadi penyebab kebahagiaan manusia.

Seorang bijaksana sekalipun dalam keadaan terkucil dapat menikmati saat-saat yang paling manis dengan sarana pikiran dan khayalannya, sedang orang jahil, tak peduli seberapa besar ia menganekaragamkan penyimpangan dan melakukan perbe-lanjaan yang besar, tak dapat membebaskan dirinya dari depresi yang menyiksa tubuh dan jiwanya. Orang yang optimis dan sabar dapat di saat-saat kemiskinan menjalani hidupnya dengan kepuasan dan ketabahan, sedang si orang rakus, sekalipun ia mempunyai seluruh kekayaan di dunia, selalu sedih dan tak puas.

Orang yang berpikiran kuat dan berakal sehat menahan diri dari kesenangan-kesenangan dangkal dan sepintas, yang untuk mencapainya manusia duniawi membunuh dirinya sendiri.

Socrates, si cendekiawan itu, pada suatu saat ketika mengamati bahan hiasan yang dipamerkan, berkata, “Betapa amat banyak hal-hal yang ada di dunia ini yang tidak diperlukan manusia.” Dari itu faktor paling penting yang efektif dalam kebahagiaan manusia adalah kepribadian.[47]

Kepribadian tidak boleh dipandang sebagai berdimensi tunggal atau diukur dengan tolok ukur atau standar tunggal. Pendekatan salah semacam itu berbahaya dan menyelewengkan kita dari fakta-fakta. Banyak orang apabila dikonfrontasi dengan ketidak-lengkapan atau cacat tertentu mengabaikan kekuatan imbalan dari dimensi-dimensi lain dari kepribadian mereka dan mengait-kan ketidaklengkapan seseorang dari dimensi-dimensinya sebagai cacatnya kepribadian secara keseluruhan. Pendapat tak berdasar seperti itu mendorong orang kepada kecemasan yang membuat orang merasa tak berdaya, suatu kondisi yang seterusnya dapat mengakibatkan kerugian yang tak terpulihkan dan bahaya yang tak dapat diperbaiki.

Banyak krisis dan banyak pertumpahan darah dalam sejarah adalah akibat prasangka merugikan yang berdasarkan anggapan yang salah tentang kepribadian, di mana suatu dimensi tunggal saja dijadikan tolok ukur satu-satunya. Suatu kebanggaan tak berdasar yang diilhami oleh prasangka semacam itu telah menyebabkan banyak peristiwa yang menyesalkan dalam perjalanan sejarah.

Banyak orang, sementara memiliki kemampuan-kemampuan besar tertentu menderita kekurangan dalam hal-hal tertentu. Ketidaksempurnaan ini menjadi halangan dalam kegiatan dan kemajuan mereka. Di saat-saat mereka mengaitkan ketidak-sempurnaan psikologis mereka kepada nasib buruk, dan dengan demikian memegang faktor-faktor lain sebagai penyebab kelemah-an mereka sendiri. Sebagai akibatnya, mereka memikul beban kelmahan ini sepanjang hidup, padahal dengan suatu ukuran dari kemauan dan usaha dapat mengatasi ketidaksempurnaan itu dan memperkuat nilai-nilai spiritual mereka.

Selama Anda terus merasionalisasi ketidaklengkapan Anda dan membiarkan pikiran-pikiran buruk menguasai nalar Anda, Anda akanmemperbesar kelemahan itu. Keberhasilan apa saja dalam hal ini bergantung langsung pada sejauh mana orang mampu mengambil keputusan serius bagi kemungkinan-kemungkinan mengembangkan diri tidak terbatas dan menjanjikan hasil yang luar biasa. Pada tahap pembentukan gagasan, poin penting ialah orang itu sebenarnya bercita-rita menjadi orang yang bagaimana. Realitas ini diungkapkan dengan kejelasan yang gamblang di saat-saat kehidupan ketika seseorang harus membuat keputusan kritis untuk memilih satu jalan di antara berbagai alternatif yang timbul dalam pikiran.

Selalu ada kontlik serius yang terjadi di antara berbagai dorongan dan naluri, yang masing-masingnya berusaha menyeret kita ke arah yang berbeda-beda. Pikiran dan renungan menyele-saikan konflik ini dan mengganti aneka ragam tujuan itu dengan satu tujuan yang terintegrasi.

Hendaklah diingat bahwa tidak ada suatu kepribadian yang selesai terbentuk dan final di balik karakter, perilaku dan kegiatan sesorang. Malah ia terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan dan mode-mode perilaku yang rumit yang berangsur-angsur menjadi saling harmonis antara satu dengan lainnya. Bilamana timbul suatu konflik baru di antara dorongan-dorongan itu, pikiran berusaha menegakkan/memapankan sejenis neraca dan keseimbangan di antaranya dan menimbulkan suatu keadaan gencatan sejata. Untuk maksud ini, itu kadang-kadang menimbulkan suatu kompromi antara berbagai dorongan dan dengan demikian mendapatkan sekurang-kurangnya keadaan damai dan kepuasan sementara. Sebagaimana mekanisme fisiologis yang secara otomatis datang beraksi untuk menegakkan suatu keseimbangan dalam tubuh apabila terjadi suatu gangguan yang paling kecil pun, pikiran juga bertindak untuk menyelesaikan permasalahan batin yang rumit dan menghindarkan bahaya yang jelas dengan menempuh jalan yang dapat dilakukannya.

Untuk mencapai neraca mental dan kedamaian mental dalam pikiran yang terganggu dan bingung, ada cara-cara tertentu yang sebagiannya logis dan memuaskan dengan sebagiannya, sedang yang lainnya tak rasional dan merugikan.

Psikolog Strecker dan kawan-kawannya mengajukan analisis sebagai berikut dalam hal ini,

Suatu cara yang efektif untuk menghaindari bahaya ialah menghadapi dan menatap konflik mental dan akibat-akibatnya dengan kecerdikan dan keberanian yang sebesar-besarnya dan mengurani intensitas konflik dan tekanan dari beberapa dari dorongan itu, dan dengan demikian menimbulkan suatu rekonsiliasi di antara mereka sehingga dapat memasuki arena kesadaran tanpa menyebabkan gangguan. Tetapi, sering kita tak dapat memperoleh suatu penyelesaian ideal untuk menyelesaikan konflik mental ini, dan kita terpaksa untuk menempuh jalan dalam bentuk sarana seperti introversion, extroversion, dan penipuan diri.

Kadang-kadang konflik mental tetap tak diketaj\hui dan tak jelas, atau tidak mendapat perhatian orang. Dalam hal ini, konflik-konflik itu menimbulkan suatu jenis perilaku yang sama sekali tidak berselaras dengan kepribadian sesorang dan orang yang bersangkutan tidak mempunyai pengetahuan tentang ketidakharmonisan ini. Sebagai hasilnya, kepriba-dian dan persepsi dirinya terpecah ke dalam dua arus, yang tak selaras antara satu sama lainnya, yang membuat orang itu nampak seperti bermuka dua dan ganjil dalam pandangan yang lain-lain.

Pikiran, rencana dan dorongan-dorongan selalu dalam keadaan kontlik dan tidak stabil dalam pikiran manusia. Orang-orang yang mempunyai kepribadian terpecah secara pribadi bertindak secara tak masuk akal. Para politikus yang selalu berteriak dan berpura-pura membela kelas pekerja termasuk ke dalam kelompok ini. “Kita harus mengangkat kesulitan-kesulitan kaum pekerja,” seru mereka, tetapi begitu mereka berhasil, mereka mengambil tindakan-tindakan yang yang membuat kehidupan para pekerja seribu kali lebih suram dan lebih sulit. Ke dalam kelompok ini termasuk semua orang yang mempunyai dua jalan berpikir yang berbeda dan dua kepribadian yang saling berkonflik.[48]
Peran Mendasar Keruhanian dalam Pendidikan

Peran vital pendidikan sebagai faktor supreme bagi kekuatan dan ketegaran masyarakat telah diakui oleh semua mazhab pemikiran. Tidak mungkin mengabaikan perannya yang mendasar dalam kesejahteraan individu manusia. Namun, yang teramat penting ialah makna sesungguhnya dari ‘pendidikan’ maupun prinsip-prinsip dan tolok ukur pendidikan yang diakui sebagai standar untuk menilai keparibadian intelektual dan spiritual dan diterapkan untuk membimbing manusia menuju kehidupan bahagia dan bebas.

Karena manusia terbuat dari dua konstituen berupa ruh dan tubuh, kita memerlukan prinsip pendidikan yang dapat menye-laraskan dorongan-dorongan tubuh dan ruhani. Prinsip ini dapat didasarkan pada agama atau pada apa yang merupakan peroduk manusia. Bila kita bandingkan keduanya, kita lihat dengan jelas karakter utama dan otentik dari prinsip pendidikan yang didasarkan pada agama. Karena, motif religius innate dalam watak manusia yang terdapat dalam dirinya sebelum ia menjadi korban berbagai jenis kebutaan. Apabila tak ada faktor eksternal yang mengganggu perjalanan kecenderungan religius yang fitriah ini di masa dini kehidupan sinarnya menyoroti hati dan kesadaran manusia. Sebagai akibatnya, ia membuat dirinya sesuai dengan dorongan batin ini, an dengan kesadaran, dan dengan makin meningkatnya kekuatan yang tersembunyi ini ia menjadi lebih menyesuaikan diri dengan dikte-diktenya.

Di sisi lain, para filosof, dengan berbagai persepsi mereka tentang fakta-fakta tak dapat mencapai kesepakatan pendapat mengenai pendidikan dan penghalusan spiritual. Dan sekalipun dianggap bahwa ketidaksepakatan semacam itu dapat dicapai, itu tak dapat, sebagai prinsip, itu tak dapat dijadikan sarana untuk mendidik massa manusia yang tak dapat memahami bahasan-bahasan filosofis. Karena, kekuatan restraint moral harus muncul dari kedalaman ruh manusia supaya dapat memenuhi tuntutan dorongan batin; apabila tidak demikian maka resep-resep falsafah etika, karena merupakan produk buatan manusia, tidak mampu menembus realitas tersembunyi yang terletak pada inti wujud manusia, dan dengan demikian tidak sempurna untuk mendidik pada individu dan mengantarkan mereka kepada kehidupan bahagia lahir batin. Bahkan bagi para individu yang mau menaati-nya, peraturan buatan manusia ini akan menjadi beban yang menjemukan. Dari itu, atas basis ini, kita harus mengakui keunggulan prinsip keagamaan—yang berakar pada kedalaman wujud batin dan kesadaran manusia, dan merupakan realitas abadi yang terletak pada pusat watak fitriahnya—atas semua metode lain yang telah disarankan dalam bidang pendidikan, dan mengambil-nya supaya usaha manusia dapat mencapai tujuan-tujuan yang diletakkannya.

Melalui pengakuan kemenonjolan prinsip inilah maka manusia mendapatkan suatu keimanan yang yakin dalam kewajibannya yang sejati sebelum ia jatuh ke dalam tawanan materialisme. Sebagai akibatnya ia menjadi sangat terikat kepadanya, dan semua jiwa manusia yang paling luhur dalam sejarah telah menemukan kesenangan akibat dari menyesuaikan diri dengan perintah-perintahnya dan mengikutinya dengan pengabdian.

Singkatnya, jalan inilah yang telah ditunjukkan oleh para nabi dan kitab-kitab sud yang diwahyukan, yang memungkinkan watak manusia mengalir pada salurannya yang sebenarnya dan memuas-kan semua aspek wujud manusiawinya. Tujuannya tak lain dari-pada membimbing watak manusia kepada tujuannya berupa kebahagiaan abadi. Dari itu, apabila prinsip utama ini dijadikan basis pendidikan, semua individu akan mampu maju di jalan perkambangan dan kesempurnaan dalam cahayanya dan tetap aman dari setiap jenis peyimpangan.

Pandangan sepintas kepada orang yang menjalani kehidupan mekanistis—suatu fenomena dari era penyelewengan ini— mengungkapkan fakta bahwa walaupun ada kemajuan dalam bidang pengetahuan dan banyak terobosan yang dilakukan dalam pengetahuan alam fisik dan pengungkapari rahasia-rahasianya, sayangnya ia telah mengalami kemunduran dan kemerosotan mengenai pengetahuan tentang dirinya sendiri. Bukan hanya itu, ia telah gagal menolong dunianya—yang merupakan satu-satunya pemeliharaan dan perkembangannya—dari kemusnahan dan kebinasaan; malah, aneka ragam pengetahuannya sendiri telah menjadi sarana kehancuran dan kekacauannya. Lagi pula, ruhani manusia sendiri telah menjadi mangsa kejahilan yang mendalam di dalam lembah suatu peradaban khayali.

Dunia Barat telah membuat manusia menjadi sarana dari tujuan-tujuan industrialisasinya, dan telah mengambil apa yang merupakan sarana sebagai tujuan itu sendiri. Sebagai akibatnya, ia telah menciptakan suatu masyarakat yang aneh berdasarkan prinsip konflik di atas taraf individu atau konflik di antara golongan-golongan sosial. Tak ada dari kedua jenis masyarakat ini yang berharga bagi manusia. Manusia tak akan dapat mencapai kemanusiaannya yang sebenarnya tanpa menyelesaikan kontradiksi antara wujudnya sendiri dan peradaban.

Eric Fromm menulis,

Perasaan terkucil dan tak berdayanya manusia modern ditingkatkan lebih jauh oleh karakter yang semua diambil oleh hubungan manusiawinya. Hubungan kongkret dari satu individu dengan yang lainnya telah kehilangan karakternya yang langsung dan manusiawi dan telah mengambil semangat manipulasi dan instrumentalitas. Dalam semua hubungan sosial dan pribadi, hukum-hukum pasarlah yang mengatur. Jelaslah bahwa hubungan antara para pesaing harus didasarkan pada ketidakpedulian di antara sesama manusia….

Bukan hanya hanya hubungan ekonomi, melainkan juga hubungan pribadi antar manusia, yang mempunyai watak keterasingan ini; sebagai ganti hubungan antar manusia, mereka mengambil karakter hubungan antara benda-benda. Tetapi, barangkali contoh yang paling penting dan paling membinasakan dari semangat instrumentalitas dan pengasing-an ini ialah hubungan individu dengan dirinya sendiri. Manusia tidak hanya menjual barang tetapi juga menjual dirinya sendiri dan merasa dirinya sebagai barang. Pekerja manual menjual tenaga fisiknya; pengusaha, dokter, pegawai, menjual ‘kepribadian’ mereka. Mereka harus mempunyai ‘kepribadian’ apabila mereka hendak menjual produk atau jasa mereka. Kepribadian itu harus menyenangkan, tetapi selain pemiliknya harus memenuhi sejumlah persyaratan lainnya, ia harus mempunyai tenaga, inisiatif, ini dan itu atau lainnya, sebagai yang mungkin dituntut oleh kedudukannya. Tentang komoditi mana pun lainnya, pasarlah yang memutuskan harga dari sifat-sifat manusia ini, ya bahkan keberadaan/kehidup-annya. Apabila diperlukan sifat-sifat yang ditawarkan seseorang, ia tak punya apa-apa, sama sebagaimana suatu komoditi yang tak dapat dijual karena tidak berharga walaupun dalam hal nilai pakainya. Jadi, maka kepercayaan diri, ‘rasa diri’, hanyalah suatu indikasi dari apa yang dipikirkan orang lain tentang pribadi itu; bukan dia yang yakin akan nilainya tanpa peduli akan popularitas dan keberhasilannya di pasar.[49]

Manusia Bergerak Ke Arah Kesempurnaan 2

Tugas Manusia yang Paling Berharga
Yang paling penting dan yang paling berharga dari kewajiban manusia ialah pendidikan. Manusia menemukan nilai pendidikan sejak awal mula fajar keberadaannya. Untuk alasan yang sama ia meletakkan prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan tertentu yang sesuai bagi perkembangan lingkungan manusiawinya dan sebanding dengan persepsinya tentang kewajiban-kewajiban dan misinya dalam kehidupan, walaupun tujuan ini kadang-kadang benar dan kadang-kadang keliru.

Kita menyaksikan dengan jelas perubahan-perubahan yang mencengangkan yang timbul dalam perjalanan sejarah manusia oleh berbagai aliran pemikiran yang sama sekali mengubah wajah kehidupan. Kajian tentang realitas-realitas dunia menyampaikan kita kepada kesimpulan bahwa manusia tidak diciptakan jahat dan syaitani menurut wataknya. Apabila kita menerima bahwa manusia menurut bawaannya jahat, semua usaha untuk mendidiknya akan sia-sia, dan usaha semua nabi dan para pendidik dunia sia-sia saja. Sekiranya kejahatan, pembunuhan, dan kehancuran adalah watak bawaan penghuni Jazirah Arabia, mungkinkah Nabi saw menimbulkan revolusi menyeluruh seperti itu dalam ruhani para individu Arab dan mengubah watak mereka yang hakiki?

Benarlah bahwa manusia dikonfrontasi oleh kekuatan-kekuatan fisik yang mendorongnya pada tahap-tahap pertama kehidupannya. Sejak ia membuka matanya ke dunia ini, daya kemampuannya terwujud secara berangsur-angsur satu demi satu, dan dengan demikianlah ia memulai kegiatannya. Namun, pada saat yang sama, di samping kemampuan fisik, ia memiliki kapasitas dan potensi amat besar untuk perkembangan dan pertumbuhan spiritual. Ada kapasitas-kapasitas dan aspirasi yang lebih luhur daripada kebutuhan-kebutuhan yang laten dalam dirinya; dan energinya—sementara digunakan—dapat mengambil berbagai bentuk dan mengalir pada berbagai jalur, walaupun fase perkembangan spiritual pada umumnya baru dimulai sesudah fase pertumbuhan fisik.

Tetapi bagaimanapun, suatu proses yang alami dan spirasi-aspirasi manusia yang lebih tinggi mampu mengambil alih dan menggunakan energi-energinya yang lain untuk kepentingannya sendiri. Namun, untuk tujuan ini ia memerlukan bantuan, kepedulian dan bimbingan eksternal yang efektif. Karena tanpa bantuan itu aspirasi-aspirasi ini mungkin menderita penyimpangan atau misorientasi.

Tentu saja, bantuan eksternal seperti itu bukan sesuatu yang tak alami atau dipaksakan melainkan suatu bagian dari watak manusia. Hal itu serupa dengan menolong seorang anak belajar bicara walaupun ia mempunyai kemampuan alami untuk bicara sejak saat kelahirannya. Prinsip perkembangan manusia dan takdir manusia sebagai makhluk yang paling mulia digambarkan dalam Al-Qur’an dalam kata-kata berikut ini.

Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. (QS. al-Insyiqaaq: 6)

Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu). (QS. an-Najm: 42)
Manusia, dalam rangka penerbangannya di cakrawala-cakrawala wujud menuju yang tak terbatas, harus menarik inspirasi dari ajaran para nabi, yang merupakan program pendidikan yang sejati dan menyeluruh. Ini perlu untuk melepaskan energi ilahi yang laten dalam dirinya dan yang diperlukannya supaya mampu mencapai tujuan akhir dari perkembangan, sukses dan kebebasannya.

Gustav Le Bon menulis,
Setelah usaha yang tak kenal lelah, falsafah menyadari bahwa ia tak dapat mencapai yang adikodrati. Dari itu kita terpaksa harus mengikuti resep para dokter ruhani yang mempunyai wawasan dalam hal-hal rumit tentang jiwa manusia dan dapat dipercayai untuk merawat perkembangan ruhaninya. Para dokter ruhani ini adalah nabi-nabi utusan Tuhan dan orang-orang suci yang mengusulkan resep-resep bagi kesejahteraan manusia, yang diterima dari sumber wahyu dan ilham, dan bertujuan untuk mencapai disiplin batin, yang dengan sarananya mereka dapat menolong dia mencapai kesempurnaan yang patut baginya.[7]

Al-Qur’an merujuk kedua aspek watak itu ketika menggambar-kan watak manusia. Ia menunjukkan bahwa apabila manusia gagal mendapatkan latihan mendasar, dorongan yang membadai dalam dirinya akan maju melemahkan kekuatan-kekuatan nalar dan kesadaran, dan menundukkan impuls-impuls lain di dalam jiwa, menggunakannya untuk maksud dan tujuannya sendiri. Oleh karena itu orang tak boleh mengabaikan kemampuannya untuk mengambil berbagai warna dan keperluan untuk membimbingnya pada arah yang pasti.

Imam Ali bin Abi Thalib as berkata,
Makhluk yang dianugerahi kemampuan aqliah memerlukan pendidikan, sebagaimana lahan pertanian memerlukan hujan.[8]

Apabila prinsip-prinsip pendidikan tidak didasarkan pada faktor-faktor yang mengatur, dan energi manusia dibiarkan dalam kebebasan liar, tidak diurus dan tidak disalurkan maka energi manusia itu akan selalu tunduk kepada kebutuhan-kebutuhan primer manusia. Itulah sebabnya maka watak dan perilaku manusia selalu memerlukan pendidikan formatif melalui pujian dan ganjaran serta teguran dan hukuman.

Al-Qur’an mengatakan,
Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. asy-Syams: 9-10)

Konsep tentang hukuman itu sendiri didasarkan pada kemam-puan fitriah manusia untuk membedakan antara baik dan buruk, dan pembebasan dari tanggung jawab mensyaratkan adanya uzur fisik atau mental dalam diri seseorang. Titik pandang yang dianut oleh sebagian trend pikiran modern yang membebaskan si penjahat dari tanggung jawab sebagai korban keburukan sosial atau pendidikan yang dekaden dan memandang si individu, walaupun ia mempunyai kemampuan fitriyah untuk membedakan, sebagai makhluk negatif yang tak berdaya, tak dapat dipandang sebagai kebenaran ilmiah. Tentu saja tak seorang pun dapat menyangkali peran besar pendidikan dan latihan atau mengabaikan tanggung jawab besar yang dipikul oleh masyarakat dan lingkungan; karena berbagai faktor itu berhubungan dengan pelaksanaan kejahatan ikut bertanggung jawab atasnya. Tetapi bagaimanapun, itu tidak berarti bahwa si penjahat tidak harus bertanggung jawab atasnya.

Tak diragukan bahwa sekelompok pelanggar terdiri dari orang-orang yang dapat diperbaiki melalui sedikit bimbingan dan peng-arahan. Mereka adalah korban penyakit spiritual, dan kejahatan mereka adalah produk dari kelainan jiwa tertentu yang tidak berakar mendalam. Atau, hal itu adalah akibat pergaulan dengan orang-orang jahat dan amoral. Orang-orang berpenyakit semacam ini harus dikenali dan diperlakukan sedini mungkin.

Pada umumnya kekerasan reaksi dan intensitas kampanye melawan kejahatan tak dapat dengan sendirinya mencabut akar-akar perilaku jahat. Hukuman yang dijatuhkan kepada si penjahat demi menyelamatkan kesejahteraan masyarakat dan individu diperlukan, karena sanksi-sanksi terhadapnya adalah hasil dan produk yang alami dari pemeliharaan keadilan dan ketertiban dalam masyarakat serta keamaanan hidup masyarakat. Namun, hukuman saja tidak cukup, dan yang lebih penting ialah pendidikan kembali para penjahat supaya pendekatan mereka yang tak sehat kepada kehidupan dapat diubah melalui pelajaran yang berhasil baik, dan supaya semangat mereka yang melawan hukum dan agresif tidak menjangkiti orang lain dalam masyarakat.

Adakah Penjahat Bawaan?
Sekarang teori Lombroso dan para pengikutnya yang memper-cayai adanya penjahat bawaan telah ditolak para pakar di bidang itu. Sementara bekerja pada ketentaraan Itali, Lombrono melihat bahwa pembuatan tato sangat umum di kalangan penjahat. Dari situ ia menyimpulkan bahwa para penjahat mempunyai tingkat kepekaan jiwa yang lebih rendah daripada orang normal, dan bahwa kurangnya kepekaan moral mereka adalah pula akibat kurangnya kepekaan fisik itu. Di kemudian hari, sementara mengurai otak seorang perampok ia memperhatikan bahwa dalam segi-segi tertentu otak penjahat itu menyerupai otak hewan mamalia yang lebih rendah. Pengamatan itu merupakan penda-huluan teori tentang penampilan karakter yang merupakan warisan. Lombroso memandang ciri-ciri khas tertentu sebagai petunjuk temperamen seorang penjahat, yang sebagian darinya adalah: rambut keriting, mata juling, dagu menonjol ke depan, alis yang melengkung, kepala yang besar atau kecil secara abnormal, tulang pipi yang menonjol, kuping yang besar, tidak proporsionalnya ukuran tengkorak dan wajah, dan jidat yang memanjang ke belakang. Bila beberapa dari ciri-ciri ini terdapat pada seseorang, dapatlah ditegaskan dengan pasti watak kriminalnya, demikian menurut keyakinannya. Ia menamakan ciri-ciri khas ini “tanda-tanda dekadensi”.

Ilmuwan Prancis, Dr. Alexis Carrel, mengatakan,
Penjahat bawaan temuan Lombroso tidak ada. Tetapi ada orang-orang yang berbawaan cacat yang menjadi penjahat. Dalam realitas, banyak penjahat adalah orang normal. Mereka sering lebih pandai daripada polisi dan hakim. Para sosiolog dan pekerja sosial tidak menemukannya dalam survei mereka di penjara. Para gangster yang bajingan, pahlawan film dan surat kabar, kadang-kadang menunjukkan kegiatan normal dan bahkan kegiatan-kegiatan mental yang emosional dan aestetis. Tetapi rasa moral mereka tidak berkembang. Ketidak-harmonisan dalam dunia kesadaran ini adalah suatu fenomena yang khas di masa kita. Kita telah berhasil memberikan kesehatan organik kepada para penduduk kota modern. Tetapi walaupun sejumlah besar uang telah dibiayakan bagi pendidikan, kita gagal mengembangkan secara utuh kegiatan intelektual dan moral mereka. Bahkan di kalangan penduduk elit, kesadaran sering kekurangan keharmonisan dan kekuatan. Fungsi-fungsi mendasar itu berserakan, kualitasnya buruk, intensitasnya rendah. Sebagian darinya mungkin sangat kurang.

Orang-orang yang paling berbahagia dan bermanfaat adalah orang-orang yang utuh keseluruhannya dalam kegiatan intelek-tual, moral dan organik. Kualitas kegiatan-kegiatan itu, dan keseimbangannya, memberikan kepada tipe orang semacam itu keunggulannya atas yang lain-lainnya. Intensitasnya menentukan tingkat sosial seseorang individu. Itu membuat dia menjadi pedagang atau direktur bank, seorang dokter sederhana atau profesor yang termasyhur, kepala desa atau presiden Amerika Serikat. Perkembangan manusia yang sempurna haruslah menjadi tujuan usaha kita. Hanya dengan para individu yang berkembang sempurna seperti itu dapat dibangun suatu peradaban yang sesungguhnya.[9]

Seorang psikolog masa kini menulis,
Sekarang telah ditegaskan dengan pasti secara ilmiah maupun filosofis, dan lepas dari segala keraguan, bahwa tak ada manusia ‘jahat'; hanya ada manusia sakit. Kesadaran tentang hal ini demikian pentingnya sehingga dapat dikatakan tanpa melebih-lebihkan bahwa tak ada temuan di dunia sejak munculnya manusia hingga masa kini, dan tak akan pernah ada, suatu dampak yang sama pada kesejahteraan manusia. Yakni, ketika orang benar-benar menyadari kenyataan ini dan organisasi masyarakat serta lembaga-lembaga pengaturannya didasarkan pada kebenaran yang mapan ini, bagian besar dari penderitaan manusia, kehancuran, permusuhan, konflik dan hukuman manusia akan berkurang. Mengapa? Karena, bilamana setiap orang mengetahui, misalnya, bahwa kekikiran, cemburu, takut, kelicikan, prasangka, kecurangan, kelaliman, dan ratusan kejahatan seperti itu adalah akibat logis dari penyakit spiritual yang rentan terhadap perawatan tepat sebagaimana demam, sakit tenggorokan, diare dan sebagainya, akan menghasilkan dua hal yang sangat penting dan bermanfaat. Pertama, orang-orang yang sakit itu, yang sekarang dianggap ‘jahat’, akan mengusahakan perawatan dengan harapan penuh dan menjadi sehat dan menjadi manusia yang baik. Kedua, orang tidak akan memandang mereka dengan permusuhan dan rasa benci sebagai orang-orang ‘jahat’, melainkan sebagai orang sakityang patut mendapatkan simpati. Dan jelaslah bahwa ada suatu perbedaan besar antara kedua pandangan itu dan akibat-akibatnya.

Inilah prinsip yang sekarang diterapkan di kebanyakan sekolah di negara-negara beradab, dan bahkan di penjara-penjara, dan pendekatan ini secara berangsur-angsur mulai digunakan dengan hasil yang sangat bermanfaat. Adalah kewajiban para penulis humanis untuk berusaha sekuat-kuatnya menyiarkan kebenaran yang teramat bermanfaat ini supaya semua masyarakat sedunia beroleh manfaat darinya.[10]

Teori falsafah dan ilmiah ini, yang penemuannya telah diatributkan kepada dunia sains modern, telah bersejarah empat belas abad dalam nas-nas agama Islam. Al-Qur’an al-Karim merujuk kaum munafik sebagai orang berpenyakit dengki dan bermuka dua:

Ada penyakit dalam hati mereka. (QS. al-Baqarah: 10)

Sebagian moralis dan penganut agama-agama tertentu meman-dang watak fitriah manusia itu jahat dan berdosa.

John Dewey menulis,
Berikan kepada anjing nama buruk lalu gantunglah dia.”  Watak manusia adalah anjing dari para moralis profesional, dan akibat-akibatnya sesuai dengan peribahasa itu. Watak manusia telah dipandang dengan curiga, dengan rasa takut, dengan pandangan masam, kadang-kadang dengan gairah bagi kemungkinan-kemungkinannya tetapi hanya bilamana ditempatkan dalam kontras dengan aktualitas-aktualitasnya. Ia telah nampak berkecenderungan jahat sedemikian rupa sehingga urusan moralitas adalah memangkas dan memotong-nya; atau, dianggap lebih baik apabila ia dapat digantikan oleh sesuatu lainnya. Moralitas akan dianggap sangat berlebihan apabila tidak karena kelemahan bawaan, yang mendekati imoralitas, dari watak manusia. Beberapa penulis dengan konsepsi yang lebih ramah mengatributkan penghitaman itu kepada para teolog yang berpikir untuk menghormati yang ilahi dengan meremehkan yang manusiawi. Para teolog telah mengambil pandangan yang lebih suram tentang manusia ketimbang para ateis dan sekularis. Tetapi penjelasan ini tidak membawa kita jauh. Karena, bagaimanapun para teolog itu sendiri adalah manusia, dan mereka tidak akan berpengaruh apabila para manusia tidak menyambut mereka.[11]

Watak Manusia yang Suci dan Tak Berdosa

Nabi Muhammad saw berkata,
Setiap bayi dilahirkan dalam fitrah. Itu berarti bahwa manusia dilahirkan dalam watak yang murni dan tak berdosa. Orangtuanyalah yang membesarkannya sebagai orang Kristian atau Yahudi. Keyakinan agama orangtua serta cara berpikir mereka mempengaruhi pikiran si anak yang mudah menerima kesan.[12]

Imam Ali as berkata kepada putranya,
Hati yang muda adalah seperti tanah perawan yang meneri-ma setiap jenis benih yang ditaburkan padanya. Putraku, saya mengambil kesempatan yang diberikan oleh masa kanak-kanak saya untuk mendidik Anda, sebelum hati Anda yang mudah menerima kesan akan menjadi keras dan sebelum berbagai hal menempati pikiran Anda.[13]

Terlepas dari kenyataan bahwa manusia sama sekali tidak dilahirkan dengan kecenderungan jahat, ada suatu kekuatan yang laten dalam struktur batin setiap manusia yang menariknya kepada kebaikan. Kekuatan ini membuatnya kembali kepada keadaan aslinya bilamana ia berpisah dari orientasinya yang benar. Dalam idiom para filosof, bilamana suatu watak tertentu tunduk kepada sesuatu yang di luar dan merupakan kekuatan dari luar maka muncul suatu kecenderungan untuk kembali kepada keadaan aslinya.

Sejak zaman purba sekelompok filosof telah merasakan bahwa penalaran teoritis mewakili daya kemampuan jiwa manusia, walaupun kemampuannya untuk memahami terbatas dan kepastian dari keefektifan praktisnya tidak terlalu besar. Nalar teoritis tidak cukup dalam beberapa hal, seperti dalam menyampaikan penilaian yang adil, celaan kepada penjahat dan pendosa, dan resep dari suatu program yang dapat menjamin kebahagiaan manusia. Dari itu harus ada suatu kekuatan independen dalam diri manusia untuk membimbing dia kepada berbagai kebajikan, dan memban-tunya untuk berkorban dan mencari kesempurnaan dan yang menerangkan perilaku moralnya.

Al-Qur’an menegaskan bahwa kecenderungan kepada keimanan dan penolakan dari dosa dan kedurhakaan terdapat dalam watak manusia. Tuhan bukan saja menempatkan keimanan pada Sumber Penciptaan dalam watak manusia dan menganugerahinya kemam-puan untuk mengenal Tuhan, tetapi juga telah menciptakan suatu gaya tarik alami kepada kebajikan dan penolakan terhadap kejahatan, dosa dan kedurhakaan, sehingga jiwa secara tak sadar tertarik kepada kebajikan manusiawi.

…tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan… (QS. al-Hujuraat: 7)

Menurut pujangga besar Hafizh Syirazi (Iran), Cinta antara engkau dan aku ini, kubawa dari sana, bukan (baru) mengembangkannya di sini.

Bertrand Russel menulis,
Menurut gagasan lama, ialah bahwa kebajikan bergantung pada kemauan: kita dianggap penuh dengan hawa nafsu buruk yang kita kendalikan dengan daya kemauan yang abstrak.

Dianggap mustahil mencabut hasrat-hasrat hawa nafsu buruk: yang dapat kita lakukan hanyalah mengendalikannya. Situasi itu tepat ibarat penjahat dan polisi. Tak ada orang membayang-kan bahwa mungkin ada suatu masyarakat tanpa penjahat; paling-paling yang dapat dilakukan ialah mempunyai pasukan polisi yang demikian efisien sehingga kebanyakan manusia takut melakukan kejahatan, dan sedikit yang terkecuali itu akan ditangkap dan dihukum. Para kriminolog psikolog modern tidak puas dengan pandangan ini; mereka percaya bahwa dorongan kepada kejahatan, dalam kebanyakan kasus, dapat dicegah agar tidak berkembang, dengan pendidikan yang pantas. Dan apa yang berlaku bagi masyarakat berlaku pula bagi para individu.[14]

Emerson menulis,
Yang sederhana bukannya naik memasuki suatu kebajikan tertentu melainkan wilayah semua kebajikan. Mereka berada dalam semangat yang mengandung kesemuanya. Jiwa menuntut kesucian, tetapi kesucian bukanlah (jiwa) itu; ia menuntut keadilan, tetapi keadilan bukanlah dia; ia memerlukan kedermawanan, tetapi itu agak lebih baik; sehingga ada semacam penurunan dan penampungan yang terasa bilamana kita meninggalkan bicara tentang watak moral untuk mendorong suatu kebajikan yang dianjurkannya. Bagi si anak yang dilahir-kan dengan baik itu, semua kebajikan adalah alami, dan tidak diperoleh dengan susah payah. Bicaralah kepada hatinya, maka orang itu akan mendadak menjadi bajik.[15]

Oleh karena itu, menurut Islam maupun para pemikir realistis di dunia masa kini, manusia datang ke dunia dengan watak ruhani yang murni dan sehat sesuai dengan hukum keturunan. Kehadiran dosa dan kerusakan dalam dirinya adalah kebetulan dan datang dari luar ke wataknya yang asli. Adalah pelanggaran terhadap watak asli, atau penyimpangan dan kemunduran dari naluri yang bukan saja menjurus kepada timbulnya penyakit spiritual tetapi menghalangi arus alami dari ruhani melalui berbagai macam kompleks. Bila tidak demikian, ia mempunyai kemampuan untuk maju ke arah kesempurnaan dengan langkah-langkah cepat sesuai dengan gerak hatinya yang sejati.

Tentu saja pengaruh lingkungan tidak sama terhadap berbagai otak dengan berbagai susunan sarafnya, sama sebagaimana ling-kungan tidak mempunyai efek yang sama pada pertumbuhan berbagai tanaman dan tumbuhan. Setiap indwidu hidup dengan susunan sarafnya sendiri, yang diwarisinya sesuai dengan hukum warisan. Tak ada dua individu di dunia ini yang mempunyai struktur saraf yang identik; saraf-saraf manusia menunjukkan perbedaan dari sisi pandang fisiologis individu dan keserasian jasmani. Dari itu, sebagaimana suatu lingkungan khusus mem-pengaruhi setiap benih dan tanaman secara spesifik, demikian pula efek lingkungan pada saraf otak setiap orang secara spesifik, dalam pengertian bahwa kehidupan dalam suatu lingkungan tertentu membawa efek khusus pada setiap individu dan menghasilkan kepribadian khusus yang tak dapat dibandingkan dengan kepribadian individu lain. Bahkan dua anak dari orangtua yang sama, yang semestinya menunjukkan ciri-ciri khas tertentu yang sama karena warisan dan lingkungan yang sama, menunjukkan perbedaan yang mencengangkan dari sisi pandang sifat-sifat pribadi. Seruan para nabi didasarkan kepada watak bawaan manusia kepada tauhid (monoteisme) dan watak moral fitriahnya. Prindip-prinsip moral ini, bersama dengan akal pikiran, merupakan basis dasar pendidikan. Peran besar para nabi, yang mereka usahakan melalui misi dan ajaran mereka, ialah membangun kapasitas-kapasitas bawaan manusia yang tersembunyi dalam wataknya. Cahaya batin yang alami dapat menjadi redup karena kondisi-kondisi tertentu, keadaan dan berbagai faktor yang berkaitan dengan wujud manusia, tetapi watak sesungguhnya itu tak pernah terhapus. Fondasi-fondasi dari watak ini tetap aman dan stabil walaupun ada segala kesulitan dan halangan yang timbul dalam perjalanannya sepanjang sejarah. Pada akhirnya, penyim-pangan dari jalan alam tidak berhubungan dengan fitrah dan realitas manusia.

Dapatnya kita melakukan latihan, dan disiplin diri dengan mengandalkan watak manusiawi adalah suatu prinsip yang teramat sangat berarti. Tetapi kita pun tak boleh melupakan bahwa hawa nafsu yang garang dengan kekuatan destruktifnya dapat melemah-kan watak kita, dan apabila kita gagal menyalurkannya secara wajar dan menggunakannya secara imbang dan tak mampu mengendali-kan kelebih-lebihannya, kekuatan-kekuatan alami kita akan dilemahkan dan kita akan gagal memanfaatkan potensi yang diberikan oleh alam. Penciptaan keseimbangan hawa nafsu dan perilaku tergantung pada pengenalan tentang titik sedangnya, pada latihan, dan pada konstannya usaha dan pengorbanan.

Dalam hal ini Aristoteles berkata,
Jadi, bahwa kebajikan moral adalah suatu titik tengah, dalam pengertian suatu suatu titik tengah antara dua keburukan, yang satu adalah kelebih-lebihan, yang lainnya kekurangan, dan karakternya ialah membidik titik sasaran di antara keduanya. Maka menjadi baik bukanlah pekerjaan mudah. Karena, dalam setiap hal tidaklah mudah untuk mendapatkan titik tengahnya. Misalnya, mendapatkan titik tengah suatu bundaran tidaklah mudah bagi setiap orang, kecuali bagi yang mengetahui. Demikian pula, setiap orang dapat marah—itu mudah—atau mengeluarkan uang, tetapi memberikan kepada orang yang tepat, pada ukuran yang tepat, pada saat yang tepat, dengan motif yang tepat, tidak setiap orang dapat melakukannya, dan tidak mudah; karena itu maka kebaikan adalah langka, terpuji dan mulia.

Maka, orang yang membidik kepada yang tengah harus pertama-tama harus melepaskan diri dari apa yang lebih berten-tangan dengannya, seperti dinasihatkan Calypso, “Selamatkan dulu kapal itu dari ombak dan gelombang.”

Dari antara eksrem-ekstrem itu, yang satu lebih besar mudaratnya, yang lainnya agak kurang. Karena membidik sasaran itu amat sukar maka sebagai kedua terbaik, kita harus mengambil yang paling sedikit keburukannya.

Tetapi, kita pun harus mempertimbangkan hal-hal ke arah mana kita sendiri mudah terbawa, karena sebagian dari kita cenderung kepada sesuatu, sebagian lagi kepada yang lain, dan ini akan dapat dikenali dari kegembiraan dan kepahitan yang kita rasakan. Kita harus menyeret diri kita menjauh ke ujung yang berlawanan, karena kita akan masuk ke dalam keadaan antara dengan menarik diri jauh-jauh dari kekeliruan, sebagaimana dilakukan orang dalam meluruskan tongkat yang bengkok.

Sekarang apabila segala sesuatu merupakan tekanan atau kesenangan, kita harus menjaga diri terhadapnya, karena kita tidak menilainya secara tak memihak. Maka perasaan kita tentang tekanan haruslah seperti perasaan orang tua-tua terhadap Helen, dan dalam segala keadaan mengulangi ucapan mereka, karena apabila kita abaikan perasaan senang yang sedemikian itu, kurang kemungkinan kita untuk tersesat. Maka dengan melakukan inilah (singkatnya) kita akan paling mampu membidik titik tengah itu.[16]

Latihan dan pertumbuhan spiritual harus menjadi tujuan tertinggi dalam kehidupan kita. Adalah kewajiban kita untuk membuka jendela hati dan pikiran kita untuk membiarkan masuknya kebajikan, kesalehan, cinta dan belas kasihan. Ini akan mencerahkan dan membersihkan hati kita, dan Pencipta Yang Mahaesa akan meridhai kita.

Kebanyakan manusia terkait dalam segala macam usaha dan mengamalkan penyangkalan diri agar mendapatkan sarana dan kesenangan hidup material dan terus bekerja keras hingga mati. Untuk tujuan ini mereka bahkan menyangkali diri sendiri terhadap kesenangan-kesenangan yang mereka cari dan yang mereka bayangkan sebagai sarana kebahagiaan itu. Mereka seharusnya mengetahui bahwa mereka telah tersesat dan telah meninggalkan jalan kebahagiaan dan keberhasilan yang sesung-guhnya. Orang tak dapat meraih kehidupan damai, bebas dari kecemasan, dengan mengejar kesenangan dan kegembiraan sesaat, atau dengan mengumpul sejumlah besar harta. Program semacam itu tidak memelihara atau mengembangkan kehidupan. Sebaliknya, itu segera mengeringkan sumber-sumber vital kehidupan dan menghancurkannya.

Orang yang mencari kebahagiaan dengan memburu kese-nangan tak akan mendapat apa-apa selain kecemasan dan keresah-an. Apabila kita gagal mengendalikan hawa nafsu pendurhaka dan kecenderungan kekanak-kanakan dalam diri kita, yang terus-menerus mengangkat kepalanya, dengan sarana akal dan kebijakan, hawa nafsu buruk itu akan menguasai kesadaran kita dan memperbudak kita. Semakin kita berhasil menaklukkan hawa nafsu dan hasrat-hasrat kita, makin dekat kita bergerak ke arah kebahagiaan. Singkatnya, semua kesengsaraan, penderitaan ketidakberdayaan kita, segala sesuatu yang mengabuti cakrawala kehidupan, adalah produk dari dominasi hawa nafsu atas diri kita.

Kebebasan dan Kendali
Dalam semua kasus semacam itu, pertanyaannya bukanlah harus memilih antara kebebasan dan perbudakan, melainkan antara dua jenis perbudakan. Dengan kata lain, bukannya kita harus menimbang-nimbang kebebasan terhadap perbudakan melainkan memilih antara dua jenis kebebasan. Manusia bebas memilih antara kebebasan yang manusiawi dan kebebasan yang hewani. Ikatan atau kekangan yang dapat ditcrapkan pada manusia adalah kebebasan keyakinan, moralitas dan kebajikan manusia. Ikatan yang khas bagi hewan adalah naluri dan dorongan yang tak terkendali. Orang yang menyerah kepada hasrat hawa nafsunya dan mengikutinya dengan taat tanpa mempedulikan akibatnya adalah orang yang telah memutuskan segala kendali manusiawi dan membebaskan dirinya dari ikatan agama, moralitas dan kemanusiaan. Ia orang yang telah gagal menolak godaan hawa nafsu dan melawan tekanan naluri. Pembebeasan dari segala sesuatu demi pemenuhan dorongan naluri bukanlah kebebasan yang sesungguhnya, karena dalam keadaan semacam itu manusia secara tidak sadar menafikan wujudnya sendiri. Maka nasib dan tujuan terakhirnya adalah kemerosotan dan kehancuran yang tak terelakkan.

Namun, manusia yang telah mengikat perjanjian dengan Tuhan dan tidak hendak melanggarnya dalam kehidupannya adalah orang yang bertekad menggunakan energi dan kemam-puannya pada jalan yang telah ditentukannya. Makin besar kekuatan keyakinannya, makin kuat ia dalam berpegang pada perjanjian itu. Ia mempunyai rasa kebebasan yang sesungguhnya dalam pertarungannya melawan tirani hawa nafsu. Yakni, ia bebas dari penindasan hawa nafsu dan melawan paksaannya. Ketika seseorang memutuskan untuk melakukan usaha terhormat demi mencapai kebebasan dan menjadi suatu kekuatan aktif dalam dunia wujud, dan untuk melakukan pendakian ke kedudukan mulia yang patut baginya, ia tidak mau menerima logika apa pun yang melanggar kemanusiaannya yang sejati.

Bagian besar dari ajaran agama berkaitan dengan pengendalian dan moderasi hawa nafsu dan perkembangan dorongan-dorongan yang lebih tinggi, karena kekuatan apakah selain keimanan yang dapat mengendalikan naluri-naluri vital dan menjaga manusia dari penelewengan melalui kekuatan spiritualnya?

Rasa tanggung jawab batin adalah amat pendng untuk mencegah gangguan terhadap ketertiban masyarakat dan penyebaran kejahatan, dan memelihara masyarakat dari bencana agresi dan pelanggaran hukum. Imanlah yang merupakan sumber dari rasa tanggung jawab batin dan yang mempunyai kekuatan untuk mengendalikan perilaku, watak dan pemikiran manusia. Penciptaan keimanan kepada Tuhan di kalangan manusia, yang dianjurkan Islam sebagai basis pendidikan maupun basis reformasi sosial ekonomi dan sebagai sarana untuk mencegah kejahatan dan pelanggaran. Untuk itu Islam telah mengambil pula metode yang terbaik. Di satu sisi ia mengulurkan janji ganjaran tertinggi bagi yang berkebajikan, dan di sisi lain ia mengancam dengan hukuman yang paling berat terhadap orang yang menyerah kepada perilaku antimoral di bawah pengaruh hawa nafsu pendurhaka. Pendekatan itu mengakibatkan manusia maju dengan penuh gairah menuju kebajikan moral, dan takut akan hukuman membuat dia meng-elakkan keburukan dengan penuh tekad.

Kebiasaan serta Peran Konstruktif dan Destruktifnya
Aspek positif dan negatif dari kebiasaan memainkan peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia, maupun kerusakan dan kemerosotannya. Suatu kajian sejarah dapat mengungkapkan bahwa adatistiadat (yang pada hakikatnya terdiri dari kebiasan-kebiasaan kolektif) merupakan suatu faktor yang efektif dan penting dalam menentukan nasib umat manusia. Kekuatan sabar dan ketekunan spiritual dalam menghadapi kesulitan, kesukaran dan bencana, suatu resistensi alami terhadap aspek-aspek negatif peristiwa-peristiwa, dan kemampuan untuk mengatasi efek-efeknya, adalah hasil dari aspek-aspek positif warisan sosial.

Namun, keburukan yang timbul dari aspek-aspek negatif adat dan kebiasaan sangat luas, dan kehancurannya tak terpulihkan. Demikianlah, sebagaimana warisan memainkan peranan penting dalam membuat bencana dan aspek negatifnya menjadi tertang-gungkan, ia pun merupakan faktor yang kuat dari sisi pandang penghancurqan dampak positif dan bermanfaat dari kebenaran-kebenaran yang tak terbantah, pada ruhani manusia.

Adat kebiasaan warisan negatif menjadi penghalang di jalan pemahaman atas nilai sesungguhnya dari berbagai prinsip dan hukum mengenai dunia wujud dan ruhani, maupun pemahaman terhadap banyak gagasan yang bermanfaat dan mencerahkan. Adat kebiasaan negatif tidak mengizinkan manusia melihat kenyataan dengan pandangan yang jelas dan mengetahui maknanya. Untuk memahaminya, tidaklah perlu mengutip sejarah permasalahan ilmu pengetahuan yang halus dan mendalam. Bagian besar dari fenomena alam yang menakjubkan dan paling bermakna tetap tak diketahui selama berabad-abad karena pengenalan secara kebiasaan dengan karakter lahiriah dari hukum-hukum alam. Sangat sering terjadi bahwa sesaat renungan dan perhatian yang bertentangan dengan jalan adat istiadat ternyata sangat membawa hasil dalam membukajalan kemajuan bagi manusia.

Bahkan pengetahuan pun mungkin menghadapi halangan dan hadangan spiritual dan kehilangan nilainya, dan karenanya menjadi sama dengan kejahilan dari sisi pandang keefektifan. Hal itu disebabkan karena kebiasaan negatif menyebabkan distorsi dalam karakter dan menjadi hambatan di jalan keberhasilan pengetahuan pada level tindakan. Banyak orang terpelajar yang sama sekali terbelit dalam kebiasaan misterius yang dalam kehidupan tak mampu menerapkan pengetahuan dan pengertian mereka dalam karakter maupun perilakunya atau untuk memper-baiki karakter dan perilaku orang lain. Karena, dalam beberapa hal mereka tidak mempunyai cukup kekuatan untuk menghen-tikan serangkaian peristiwa yang mereka yakini sebagai merugikan dan merusak. Kebutaan dan kelalaian ini adalah akibat dari kebiasaan intelektual yang menghasilkan resistensi kepada nalar dan pengetahuan dan mengancam pertumbuhan spiritual manusia.

Banyak pakar di kalangan para dokter yang memiliki penge-tahuan spesialisasi yang menonjol, tetapi yang pengetahuannya tidak berhasil membuat suatu kontribusi spiritual dan, pada tingkat amal perbuatan, tidak efektif dalam memperbaiki perilakunya dalam praktek. Dalam pandangan Islam, keutamaan tidak terbatas pada pengetahuan. Pengetahuan adalah sarana untuk memahami dan merupakan salah satu sarana yang hakiki bagi pertumbuhan spiritual. Tetapi, kecuali untuk memperkenalkan perbedaan pada tahap pemahaman sendiri tidak mampu melakukan fungsi spiritual yang aktif dan efektif.

Al-Qur’an mengecam orang terpelajar yang hampa karakter dalam kata-kata berikut,
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. al-Jumu’ah: 2-3)

Tekanan Islam pada pikiran dan renungan dalam segala situasi mengungkapkan pentingnya pemikiran dalam menjauhkan kemungkinan bahaya adat kebiasaan negatif dan dalam mem-bangun kekuatan perlawanan terhadap kebiasaan-kebiasaan keji, dan perlawanan terhadapnya. Pemikiran dan pembentukan gagasan yang bertujuan melawan kekuatan segala jenis kebiasaan jahil adalah kegiatan dan perjuangan yang bersemangat dan merupakan faktor penting yang memperkuat daya kemauan.

Berbagai jenis penyimpangan adalah sebenarnya akibat dari kegagalan untuk berpikir sehat dan logis. Secara mendasar, adalah karena kelalaian dan ketidakpedulian dalam berpikir maka banyak orang menyimpang dari jalan raya petunjuk untuk mengambil jalanjalan yang menyeleweng. Dari sini kita menyadari mengapa Islam memilih berpikir dan merenung sebagai tingkat peribadatan yang paling tinggi, yang lebih mengutamakan sesaat pemikiran yang sejati ketimbang tujuh puluh tahun peribadatan.

Hal itu adalah karena jenis pemikiran ini pada dasarnya menjadi penyebab bagi penghapusan kejahilan. Ia menyingkirkan tabir yang menyembunyikan kebenaran dan realitas dari ruhani manusia dan memberikan kedalaman dan keteguhan iman, dan dengan demikian tidak meninggalkan ruang bagi hojatan paham-paham sesat, adat kebiasan yang salah dan pengaruh negatif yang mungkin memasuki inti wujud manusia.

Ketika manusia sampai pada suatu fakta dan kebenaran mutlak sebagai hasil pemikiran dan renungan, ia mendapatkan suatu kekuatan kemauan yang merupakan hasil pemikiran sejati, bukan sesuatu yang didasarkan pada khayalan tak beralasan. Kemauan yang diperkuat ini memungkinkan dia mengendalikan perilakunya sendiri.

Berpikir mengubah nalar yang tak aktif menjadi nalar aktif dengan lahirnya gagasan-gagasan dan pikiran yang efektif yang mungkin sangat potensial.

Perangai moral yang baik dan buruk berakar di dalam batin manusia sebagai akibat latihan dan pengulangan. Walaupun semua itu adalah karakter yang diperoleh, pengaruhnya sama kuat dan menjangkau jauh sebagaimana sifat-sifat batin dan alami. Bilamana dibentuk oleh kebiasaan menjadi sifat dan perilaku yang stabil, dengan bekerja seperti naluri, sifat dan perilaku itu menimbulkan refleksi-refleksi batin yang dengan kuat mengarahkan perilaku manusia.

Imam Hasan al-‘Askari berkata,
Meninggalkan kebiasaan adalah seperti suatu keajaiban.[17]

Munn, dalam buku psikologinya menulis,
Dalam suatu pembahasan sebelumnya kami telah merujuk kenyataan bahwa sebagian motif yang berkembang sehubungan dengan kebutuhan psikologis nampak berfungsi tanpa kaitan semacam itu di kalangan kehidupan dewasa. Mengutip Allport lagi, ikatan yang tinggal dalam kehidupan dewasa adalah “historis, bukan fungsional”. Konsep ini juga telah diterapkan pula oleh Allport dan lain-lainnya pada membandelnya kebiasaan sekalipun motif-motif yang pada asalnya mendorong perbuatan itu tidak lagi bekerja. Nampaknya, ada saat-saatnya, bahwa kebiasaan itu sendiri telah mendapatkan status dorongan. Beberapa contoh yang mungkin diberikan tentang otonomi fungsional adalah membandelnya perilaku seksual setelah menopause, ketika kemungkinan pembuahan tidak ada lagi, membandelnya kegiatan bekerja setelah seseorang mengumpul-kan kekayaan dan mencapai kedudukan terhormat, dan dapat hidup untuk makan ketimbang hanya makan untuk hidup.

Dalam kebanyakan contoh dari otonomi fungsional yang nampak ada kemungkinan bahwa motif-motif baru telah menggantikan motif aslinya dan kebiasaan itu pada realitasnya bukanlah bekerja tanpa motivasi dari luar….

Dalam kasus-kasus otonomi fungsional… kebiasaan itu dibebaskan setidak-tidaknya dari motivasi aslinya. Kekuatan kebiasaan, di sisi lain, adalah membandelnya suatu cara khusus untuk memuaskan suatu motif tertentu. Misalnya, apabila seseorang secara teratur memuaskan rasa laparnya dengan memakan makanan yang dipersiapkan menurut suatu cara, seringkali ia menolak untuk memakan makanan yang diper-siapkan dengan cara lain.

Dengan kata lain, kebiasaan memaksa kita “menjadi roda”. Fenomena ini sering dirujuk sebagai “paksaan kebiasaan” seakan-akan begitu kebiasaan itu terbentuk, bertindak seperti dorongan yang memaksa kita meneruskan cara-cara menurut kebiasaan ketimbang mengambil cara baru untuk memuaskan motif kita.

William James mungkin agak membesar-besarkan sifat permanen dari cara kebiasaan perilaku kita, kareaa orang sering mengubah prasangka mereka, dan clalam masa peperangan atau keadaan darurat lain, orang mengubah cara hidup mereka. Namun, biasanya ada perlawanan yang kuat terhadap perubahan. Barangsiapa ingin mengubah perilaku seorang dewasa ia harus mempertimbangkan kecenderimgannya untuk mempertahankan kebiasaan yang telah terbentuk, sekalipun kebiasaan-kebiasaan itu telah kehilangan mode atau berbahaya.[18]

Pendekatan Islam
Kebiasaan adalah suatu karunia yang memberkati alam insani dan mengarahkan sebagian yang bermakna dari usaha manusia dalam bidang baru dan inovatif. Namun, walau ada peranan besarnya, bila tidak disertai kesadaran ia mungkin mengambil bentuk kecenderungan mengicuh dan menyelewengkan, yang menghasilkan kerusakan dan penyelewengan ruhani.

Ketika Islam muncul di cakrawala Arabia Jahiliah, tempat itu didominasi oleh berbagai adat kebiasaan yang merugikan yang masing-masingnya saja sudah cukup untuk menghancurkan suatu bangsa.

Di masa kelam, ketika kesadaran dan nurani manusia digelap-kan oleh adat kebiasaan keji dan menyimpang, Islam, dengan lompatan besar, yang merupakan fenomena yang tak dikenal hingga masa itu, menggoncang masyarakat itu dari keadaan tidur dan kelalaiannya dengan menyeru manusia meninggalkan adat kebiasaan serta praktek-praktek yang tak masuk akal.

Suatu masyarakat yang tenggelam dalam berbagai adat takhayul dan keji membebaskan diri dari belenggu praktek-praktek salah dan tak masuk akal melalui ajaran Nabi Muhammad saw. Walaupun ia telah berkembang di suatu lingkungan yang kosong dari setiap pengaruh edukatif atau fomatif, ia segera meninggalkan seluruh adat kebiasaan dan cara-cara para leluhurnya lalu memulai suatu kehidupan baru yang bebas dari dominasi adat kebiasaan menyeleweng dan yang mengulurkan janji kebahagiaan dan kesenangan. Metode dari pendiri Islam itu dalam membebaskan manusia dari ikatan-ikatan lingkungan sosial yang telah melumpuh-kan kepekaannya lahir batin, menggantung daya rasionalnya dan menghalangi jalan pertumbuhannya; singkatnya, dengan menyingkirkan banyak tirai spiritual yang mengaburkan pandangan. Beliau meminta perhatian manusia kepada realitas-realitas yang nyata dan dapat diamati, terutama dengan mengandalkan daya nalar dan pikiran mereka, mendorong mereka meneruskan proses pemikiran yang terhenti dengan pertolongan argumentasi dan bukti-bukti. Dengan jalan ini mereka dapat melihat realitas dan kebenaran-kebenaran rasional, dan mengungkapkan fakta-fakta.

Pada akhirnya, dengan sarana lompatan besar sejarah, masya-rakat itu mampu membebaskan diri dari kehinaan adat kebiasaan takhayul yang keji, dan manusia dibebaskan dari kejahilan dan kesesatan yang jelas.

Di masa kegelapan itu tak ada kekuatan yang dapat menghadapi adat kebiasaan yang merusak, memutuskan cengkeraman takhayul, membuka pandangan baru di balik tembok-tembok adat kebiasaan yang ada, dan menghubungkan akal manusia dengan wawasan dan realitas.

Islam mengambil suatu strategi khusus sebelum membangun masyarakat bahagia yang akan menghancurkan kekuatan adat istiadat. Ini meliputi kebiasan-kebiasaan yang berhubungan dengan pikiran dan kepercayaan maupun hal-hal yang berhubungan dengan perangai dan perilaku. Kebiasan-kebiasaan yang relatif lebih merugikan dan berbahaya—seperti syirik—diserang pertama-tama dan dihapus dengan pukulan menentukan. Kebiasan-kebiasan sosial yang buruk lainnya, yang mencengekeram pada pikiran rakyat dan terkait dengan kondisi perekonomian—seperti perbudakan, lintah darat, minuman keras—dilakukan dengan pendekatan lebih lembut secara berangsur-angsur. Dalam hal ini, Islam mengambil strategi langkah demi langkah. Akibatnya, masyarakat menjadi terlatih secara berangsur-angsur dalam pengendalian diri, dan lahan pun terbuka sepenuhnya untuk penyucian dan pendidikan ruhani, dan inilah pendekatan yang paling berhasil bagi para individu dan masyarakat.

Alexis Carrel menulis,
Pertama-tama kita harus menyingkirkan rintangan di jalan pertumbuhan ruhani. Sebelum kita bergerak maju di jalan pendidikan, kita harus membuang adat-adat dan keburukan-keburukan yang melumpuhkan pertumbuhan ruhani. Tetapi, apa yang harus kita lakukan setelah rintangan-rintangan itu disingkirkan? Sesudah itu kita harus memulai perkembangan ruhani sesuai dengan kecenderungan hidup yang sejati.

Manusia mempunyai kelebihan yang mencengangkan sehingga ia dapat, apabila ia mau, membentuk tubuh dan jiwanya dengan pertolongan kesadarannya. Namun, tugas semacam itu menuntut taktik khusus.

Orang dapat belajar mengendalikan diri sebagaimana ia dapat belajar mengemudikan pesawat terbang. Hanya orang-orang yang berkuasa atas dirinya sendiri yang dapat melakukan latihan ini. Orang harus terpelajar atau cerdas untuk mendapat-kan pertumbuhan fisik. Yang diperlukan hanyalah kehendaknya yang sungguh-sungguh. Tak diragukan bahwa tak seorang pun dapat melakukan tugas itu sendirian; setiap orang memerlukan tuntunan dan nasihat pada suatu saat dalam hidupnya. Tetapi, dalam mengembangkan dan mengatur kegiatan intelektual dan emosional, yang merupakan hakikat kepribadian, orang tak dapat memanfaatkan pertolongan orang lain.

Prinsip pertama bukanlah perkembangan daya rasional melainkan pembangunan infrastruktur emosionalnya di mana faktor-faktor fisik lainnya didasarkan. Perlunya perilaku yang lebih baik tidaklah kurang kurang daripada bagi indera penglihatan dan pendengaran.[19]

Ali as berkata,
Pada permulaan, capailah pengendalian diri melalui pemantangan dari dosa dan kejelekan. Kemudian akan mudah bagi Anda membiasakan diri Anda pada ketaatan dan peribadatan kepada Tuhan, Raihlah pengendalian atas diri Anda dengan meninggalkan kebiasan-kebiasan (buruk), dan perangilah hawa nafsu Anda sehingga tunduk kepada kehendak kemauan Anda.[21]

Islam memanfaatkan kekuatan kebiasaan sebagai suatu sarana yang efektif bagi latihan ruhani manusia dan bagi penerapan program penciptaan kebahagiaannya. Begitu ia menciptakan ikatan yang hidup antara Tuhan dan hati manusia, dan menabur-kan di dalamnya benih kebajikan dan keutamaan manusia, ia mengubahnya menjadi kebiasaan. Semua kebiasaan keagamaan bersumber dari kerinduan batin dan inti dari jiwa manusia. Lalu kerinduan batin ini diubah menjadi perilaku dan praktek spesifik dengan sisi dan ciri-ciri yang dibataskan dengan jelas. Secara berangsur-angsur ia mengambil bentuk kebiasaan yang sadar berdasarkan kesadaran penuh. Pada saat yang sama perubahan dan transformasi itu menyelamatkan manusia dari latihan yang tak tertanggungkan dan sangat melelahkan.

Masa Kanak-kanak dan Kebiasaan
Anjuran Islam mengenai pembiasaan anak-anak secara berangsur-angsur dengan kewajiban agama dan kebajikan yang lebih tinggi, dan mengekang mereka dari perilaku dosa, merupakan sarana yang amat kuat untuk menciptakan fondasi keimanan dan takwa yang kukuh dan stabil dalam kepribadian ruhaninya. Penerapan program pendidikan semacam itu ke ukuran yang cukup besar akan menetralisasi efek-efek lingkungan di tahun-tahun kemudian.

Nabi saw berkata,
Biasakanlah anak-anak Anda salat ketika mereka mencapai usia tujuh tahun.[22]

Imam Zainal ‘Abidin as-Sajjad as ketika menasihati anak-anaknya, berkata,
Janganlah berdusta dalam urusan besar maupun kecil, dalam senda gurau maupun percakapan serius, karena bilamana seseorang berdusta dalam soal-soal sepele maka ia akan terdorong untuk berdusta dalam urusan besar pula.[23]

Imam as-Shadiq as biasa mengatakan,
Berikanlah pendidikan agama kepada anak-anak Anda sedini mungkin dan sebelum lawan-lawan Anda mendahului Anda menanamkan gagasan-gagasan yang salah dan palsu dalam pikiran mereka.[24]

Bertrand Russel mengatakan,
Setiap kebiasaan buruk yang diperoleh adalah suatu rintangan bagi kebiasan yang lebih baik, itulah sebabnya maka sangat penting pembentukan pertama kebiasaan di usia dini kanak-kanak. Apabila kebiasan-kebiasaan pertama itu baik, kesulitan yang tak berkesudahan di kemudian hari dapat dicegah. Lagi pula, kebiasaan yang diperoleh sangat dini akan terasa di kehidupan nanti sebagai naluri; kebiasaan-kebiasan itu mempunyai cengkeraman yang sama kuat. Kebiasan-kebiasan baru yang bertentangan, yang diperoleh kemudian, tak dapat memperoleh kekuatan yang sama; karena alasan ini juga maka kebiasan-kebiasaan pertama harus menjadi keprihatinan yang sungguh-sungguh.

Keutamaan Manusia yang Paling Khas
Ada banyak dorongan yang berakar pada watak manusia yang masing-masingnya memainkan peranan penting dalam kesejahtera-an dan perkembangannya. Kekuatan terbesar yang menggerakkan roda kehidupan dan memotivasi para indhddu berasal dari dorongan yang bersumber di dalam dirinya.

Selama hayat dikandung badan, manusia tak berhenti berhasrat, dan api hawa nafsu terus menyala di dalam hatinya. Seluruh kesulitan yang berkelanjutan dan sakit yang dipikul dan ditanggungnya, adalah demi memuaskan hasrat-hasrat hatinya. Segera setelah satu hasrat hawa nafsunya dipenuhi, yang lainnya muncul dalam hatinya, mendorong tubuhnya untuk bertindak dan berusaha, dan memaksa dia memulai kegiatan dan usaha baru.

Manusia tak dapat menemukan jalan kebahagiaan semata-mata melalui bimbingan alami. Di sisi lain, hewan menempuh jalan perkembangannya melalui tuntunan bawa dengan mengandalkan naluri, yang dengan pertolongannya hewan mengatur dan mendi-siplinkan kehidupannya. Nalurilah yang menetapkan fungsi-fungsi setiap spesies hewan sesuai dengan hukum-hukumnya; mereka tidak memerlukan pendidikan dan latihan untuk mengetahui bagaimana mengatur kehidupannya. Namun, bagi manusia, naluri tidak mampu mengambil peran pengaturan itu dan melindungi dia dari penyimpangan dan kehancuran. Akal dan pikiranlah, tuntunan manusia yang terutama, yang membedakan dia dari hewan dalam menunjukkan kepadanya jalan kehidupan. Melalui akal dan pikiran manusialah dapat mengenali jalan kebahagia-annya dan mengarahkan usaha-usahanya ke tujuan itu, hingga ia mencapai tujuan tertinggi yang patut baginya.

Kafilah umat manusia maju dengan bimbingan akal dan pikiran dan dengan pertolongan nalarlah manusia menyelesaikan masalah-masalah kehidupannya, menaklukkan medan baru setiap hari dalam perjuangannya menghadapi permasalahan yang disodorkan alam. Di medan peperangan besar di dalam ruhani manusia selalu berlangsung suatu pertempuran alot antara akal dan naluri. Kedua kekuatan itu terlibat dalam pertempuran sengit di mana masing-masingnya berusaha menaklukkan yang lainnya. Supaya kita dapat mengambil manfaat dari kekuatan-kekuatan batin kita dan tetap aman dari kerugiannya, kita harus menakluk-kan naluri ke bawah dominasi akal, ke mana semua dorongan, impuls dan motif kita harus menyerah dalam ketaatan penuh. Akallah yang merupakan aset kita yang paling berharga yang mengungkapkan kepada kita bahaya-bahaya sesungguhnya yang kita hadapi dan memberikan kepada kita tatanan dan disiplin kepada kehidupan dengan mengajari kita jalan yang benar tentang penggunaan kekuatan batin kita.

Tentu saja, intensitas hawa nafsu tidak sama pada berbagai tahap kehidupan dan karakter, dan konfigurasi dari dorongan dan motif kita berubah-ubah menurut usia, kondisi dan keadaan.

Sebagaimana mungkin bagi manusia untuk meletakkan dasar-dasar kesejahteraannya pada basis akal dan kemauan tanpa mem-biarkan bahaya musuh internal mndominasi jiwanya, mungkin pula ia ditaklukkan oleh kekuatan dorongan-dorongan pemberontak dan pada akhirnya tenggelam di kancah gelap kerusakan dan kebusukan yang mengerikan. Dari itu apabila ia tertarik pada kesejahteraannya sendiri, ia harus membangun suatu perisai yang kukuh untuk melindungi jiwanya dari kejelekan dorongan-dorongan yang mengelabui, dan merencanakan jalannya sejak awal mula. Ia harus mengetahui ke mana akhir lorong yang ditempuh-nya sehingga dengan memberikan suatu sistem kepada pikiran-pikirannya ia dapat menjalani musim semi kehidupan dalam naungan kebajikan dan takwa; karena tanpa pengorbanan dan ketabahan, yang hakiki bagi kehidupan, tidaklah mungkin menja-lani kehidupan yang suci dan terhormat.

Orang yang memberikan kepedulian khusus pada prinsip-prinsip kebajikan manusia dari awal kehidupan rasionalnya akan terbiasa menjauhkan keburukan, dan mengembangkan kemam-puan spiritualnya sebaik-baiknya. Baginya kelanjutan dari kebijakan-nya pada tahap-tahap kehidupannya yang lebih dewasa akan lebih mudah. Setelah melewati dengan selamat medan-medan masa muda, bahaya penyelewengan akan berkurang, dan orang itu akan menjadi agak kebal dari pengaruh kerusakan.

Suatu kebebasan mutlak sekaitan dengan pemenuhan hasrat batin, selain meninggalkan kejahatan dan efek-efek yang tidak diinginkan padajiwa dan kepribadian individu, juga melemahkan fondasi-fondasi keamanan sosial sendiri. Dari itu, untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan pribadi, maupun untuk melindungi ketertiban masyarakat, perlulah kita mengabaikan sebagian dari hasrat hawa nafsu kita.

Alexis Carrel berkata,
Kita belum belajar untuk menyerah kepada hukum kehidupan sebagaimana kita menyerah kepada hukum alam tentang fisika dan gravitasi. Ada suatu konflik tragis antara kebebasan manusia dan hukum-hukum alam di mana manusia modern menjadi mangsanya, karena manusia menghendaki otonomi mutlak. Meskipun demikian, ia tak dapat memanfaat-kan kemerdekaannya melampaui batas-batas yang diperkenankan tanpa bahaya.

Kebebasan, seperti dinamit, adalah suatu sarana efektif tetapi berbahaya yang cara penggunaannya harus dipelajari. Untunglah, orang yang dapat memanfaatkannya adalah yang memiliki akal dan kemauan. Sesuai dengan itu, penyerahan kepada hukum alam ini melibatkan pembatasan kebebasan kehendak. Mustahil hidup tanpa tata tertib batin.

Konflik antara kebebasan manusia dan akibat-akibat dari hukum alam memestikan pendidikan disiplin diri. Supaya kita dapat menyelamatkan diri dan keturunan kita dari bencana kekacauan, kita harus melawan banyak keinginan, harapan dan hasrat kita. Keserasian dengan tatanan alam semesta tidak akan mungkin tercapai tanpa pengorbanan, dan pengorbanan adalah suatu hukum kehidupan. Adalah dengan menahan diri dari memenuhi sebagian hasrat maka kesehatan dan kekuatan kita dapat diamankan. Kebesaran, keindahan dan kesucian tak akan ada tanpa pengorbanan.

Setiap orang harus berkorban, karena berkorban adalah salah satu kebutuhan hidup. Kebutuhan itu muncul sejak masa ketika naluri menyerah kepada pikiran bebas pada diri nenek moyang kita. Setiap waktu manusia menggunakan kekebasan total, ia melanggar hukum-hukum alam dan menghadapi hukuman berat.[26]

Manusia Bergerak Ke Arah Kesempurnaan 1

Setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini, dalam lingkungan individual atau sosial apa pun, menginginkan kesempurnaannya sendiri sesuai dengan watak dan akal bawaannya. Ia menanggung segala macam penderitaan dan kesukaran demi harapannya akan masa depan yang lebih cerah. Titik tolaknya adalah kekurangan, dan gerakannya diarahkan kepada kesempurnaan. Ia tumbuh dan berkembang dengan setiap langkah maju di jalan kesempurnaan. Akal dan ruhani manusia memberikan suatu kedalaman, kekuatan dan kecepatan yang sedemikian rupa kepada gerakannya menuju kesempurnaan, sehingga tidak ada batas waktu atasnya kecuali kekekalan itu sendiri.

Cinta yang fitriah bagi kesempurnaan adalah kuat dalam diri manusia, dan hal itu pun terdapat pada hewan. Mereka mengatasi setiap rintangan yang mereka temui di jalannya, mengelakkan segala sesuatu yang mereka anggap merugikan, dan maju ke arah tujuan-tujuan nalurinya. Dapatlah dikatakan bahwa semua fenomena yang ada di alam, dari zarah atom yang teramat kecil sampai ke dunia galaksi yang dahsyat, semua adalah bagian dari kafilah ini.

Seorang ilmuwan berkata,

Tanaman gandum telah diberi suatu gerakan yang memung-kinkan dia memberikan hasil yang lebih besar, dan mawar merah diberi suatu gerakan yang memberikan kepadanya keindahan dan keharuman. Manusia juga mempunyai suatu gerakan yang dengan itu ia maju di jalan kebijaksanaan dan cinta. Maka apabila kita mengamati suatu penyakit tertentu yang mempengaruhi pertumbuhan gandum atau keindahan dan aroma mawar, atau kemurnian jiwa seorang manusia, kita tidak boleh mengaitkannya pada gerakan itu sendiri melainkan pada suatu penyebab yang berlawanan yang timbul dalam kerangka gerakan.

Sekarang kita dapat memahami sampai sejauh mana kata ‘maksud‘ membantu kita berpikir secara wajar. Kata itu membuat kita mengerti bahwa alam semesta, di mana kita termasuk sebagai suatu anggota kecil, adalah bermoral dan sadar, bahwa kita tidak hidup dalam suatu kosmos yang gelap dan serampangan, bahwa tentulah ada suatu penggerak di balik semua gerakan ini, dan bahwa ada suatu kesadaran dan akal besar di balik semuanya. Itu cukup untuk meyakinkan kita bahwa hidup adalah sesuatu yang besar dan mulia, dan di sinilah kita dapat—setidak-tidaknya—mempersiapkan diri kita untuk bekerjasama dengan ruh kesadaran dunia, dengan mengetahui bahwa menentangnya akan merugikan kehidupan kita.

Perkembangan fisik manusia terletak di luar kemauannya, sedang perkembangan ruhaninya mengikuti kemauan. Karena itu maka tidaklah pantas bagi manusia untuk menyimpang dari jalur umum evolusi alam semesta dan tertinggal dari sistem kemajuan kosmos. Jelaslah bahwa perkembangan dan kesempumaan batin adalah imaterial. Eksperimen dan kajian tentang fisika mengantarkannya untuk mengadakan temuan-temuan yang berwatak material, tetapi ia tak pernah akan dapat menempatkan dirinya di jalan kesempumaan dan mencapai puncak pendakian spiritual dengan sarana metode-metode fisika itu.

Supaya sebatang pohon dapat mewujudkan potensi penuh dari pertumbuhannya, ia harus terbebas dari rintangan-rintangan bagi pertumbuhannya, seperti gulma dan batu-batuan, dan beroleh hal-hal bermanfaat seperti air, sinar matahari dan udara, yang hakiki bagi pertumbuhannya. Manusia pun, dalam proses pengembangan berbagai dimensi dari wujudnya (tubuh, ruhani, dan akal) harus memperlengkapi dirinya dengan faktor-faktor yang potensial yang menyumbang bagi pendakiannya ke arah kekekalan dan keabadian.

Yakni, ia harus menggunakannya sebagai sarana yang menolong dia mencapai tujuannya dan memerangi faktor-faktor yang mengganggu gerakannya ke arah tujuan itu.

Manusia harus mengatur dimensi-dimensi wujudnya dalam berbagai arah sedemikian rupa sehingga memungkinkan dia memenuhi semua tuntutan dan kebutuhan material dan spiritual-nya, dan hidup secara pantas dengan mendasarkan hidupnya pada suatu rencana yang disusun dengan tepat dan akurat. Ia harus membangun suatu masyarakat yang tertib yang bebas dari konflik, kelaliman, agresi, kejahilan dan dosa, di mana manusia dapat mencapai kesucian, cahaya dan keluhuran aqliah, dan mencapai puncak-puncak tinggi kemanusiaan.

Wujud manusia adalah suatu kumpulan gejolak dari berbagai dorongan. Dorongan-dorongan ini dalam keadaannya yang alami dan berimbang tidaklah sia-sia atau merugikan, bahkan setiap bagian darinya memainkan peranan vital dalam bangunan spiritual manusia. Namun, pemuasan yang tak terkendali dan tak terkekang dari dorongan-dorongan ini bertentangan dengan perkembangan. Apabila dorongan-dorongan ini dibiarkan bebas tak terkendali dalam diri manusia, ia akan menjadi budak dari dorongan-dorongan dan hawa nafsunya yang buas dan primordial. Dengan jatuh dari puncak ketinggian ia akan tenggelam ke payau kemerosotan dan kehancuran. Seekor binatang mengikuti dan tunduk kepada dorongan-dorongan hawa nafsunya, tetapi manusia setia kepada kepentingan dan taat kepada akalnya. Ia mempunyai kekuatan untuk melawan kecenderungan-kecenderungannya yang merugikan, dan mengukuhkan kecenderungan-kecenderungannya yang bermanfaat dan menguntungkan. Karena, sebagaimana naluri fisik muncul dari watak manusia, demikian pula impuls-impulsnya yang positif, ramah dan pencari kebenaran berasal dari dalam wujudnya, menimbulkan kekuatan spiritual yang melimpah, besar bak raksasa, yang dapat melahirkan kesucian, kehormatan, kekuasaan dan kesalehan.

Penyucian Diri sebagai Sarana Perkembangan
Tak diragukan, bahwa apabila seseorang hendak mengikuti prinsip yang pasti dalam kehidupan yang berwatak religius atau bukan ia harus mengambil pendekatan yang terdefmisi dengan baik. Untuk mengambil suatu pendekatan yang terdefinisi dengan baik, amatlah penting memilih satu tujuan tunggal dan bergerak ke arah yang tunggal.

Oleh karena itu orang harus mengelakkan keterlibatan-keterlibatan yang mungkin sesuai dengan hasratnya yang sesaat tetapi bertentangan dengan prinsip-prinsip dan tujuan hidupnya. Dari itu pengendalian dan pendisiplinan diri adalah hakiki yang penting dalam kehidupan setiap orang yang hendak menjalani kehidupan manusiawi yang rasional. Manusia adalah makhluk yang dilengkapi dengan kekuatan aqliah dan mempunyai hasrat dan hawa nafsu yang tak terbatas. Apabila ia tak mengenal kendali dalam kehidupan, ia dapat menjadi binatang buas yang menyebabkan kehancuran besar.

Kesempurnaaan dan kebesaran manusia tidak bergantung pada masalah fisik, yang hanya dapat mempengaruhinya pada bidang jasadi. Kemajuan ilmiah tidak menimbulkan perbaikan pada seluruh aspek manusia. Kesempurnaan manusia yang sesungguhnya terletak pada pembebasan dirinya dari ikatan hawa nafsu yang khayali dan kesenangan jasadi dalam gerak maju di jalan kemanusiaan dengan mendidik daya rasanya, mendisiplinkan dirinya dan mengenal gagasan-gagasan yang lebih tinggi serta cakrawala yang lebih luas.

Gagasan tentang suatu kebaikan tertinggi berakar mendalam pada ruhani manusia; apabila tidak demikian maka manusia tidak akan menjadi pencarinya di masa kanak-kanaknya dan tidak pula ia akan mampu terbang di cakrawalanya yang luas. Sinar dari nilai-nilai luhur demikian menarik sehingga manusia jatuh cinta kepadanya dengan sukarela dan mengejarnya atas kehendak sendiri. Ada suatu hasrat untuk memperoleh kekuatan dari kedalaman batin seseorang yang diikuti oleh usaha untuk mendapatkannya. Semua ini adalah indikasi dari kenyataan bahwa cinta pada kesempurnaan berakar mendalam pada ruhani manusia dan mengungkapkan dirinya begitu timbul suatu kesempatan yang sesuai.

Otot-otot menjadi kuat sebagai akibat latihan. Demikian juga halnya bagi kemampuan ruhani, yang menjadi kuat akibat latihan dan usaha sungguh-sungguh, dengan perbedaan bahwa tenaga fisik manusia terbatas; kekuatan serta kemampuannya dibatasi oleh kemampuan saraf dan sel-sel tubuh. Namun, keajaia\ban-keajaiban yang diungkapkan oleh sejarah umat manusia merupakan manifestasi dari kekuatan jiwa yang telah dibebaskan, yang pertumbuhannya adalah akibat pembebasan berangsur-angsur dari batas-batas dan rintangan material. Cakrawala pengetahuan diri dan kesadaran diri hanya meluas bilamana disadari bahwa ruhani manusia adalah suatu karya utama agung dari penciptaan.

Ia mengungkapkan dirinya dalam pertunjukan kekuatannya, dalam dinamismenya, dominasinya atas hal-hal material, dan terutama dalam kapasitasnya untuk mengangkat manusia dari kedalaman titik kerendahan kelemahan dan ketidaksempurnaannya kepada ketinggian persatuan dengan Ilahi.

Tentu saja, sebagaimana tubuh dipaksa untuk mengalami sejumlah kesukaran tertentu untuk memenuhi fungsinya yang vital, begitu pula ruhani harus berusaha dengan pahit getirnya dalam rangka pengembangan moral. Semua konsep dan prinsip yang berbagai ragam dalam bidang pembangunan karakter berkisar di seputar poros jiwa atau ruhani. Ruhanilah yang mampu memperbaiki dan berdisiplin. Ruhanilah yang mampu mencapai keluhuran dan mendapatkan sifat-sifat manusiawi dan kecemerlangan yang lebih tinggi, yang mencintai kesempurnaan ruhani. Dan akhimya, ruhanilah yang membangkitkan serangkaian hukum etika bagi manusia, yang tidak dimiliki dan tidak dicapai hewan.

Dr. Alexis Carrel, ilmuwan Prancis, mengatakan,
Kita harus membiasakan diri untuk membedakan antara baik dan buruk dengan usaha yang sama sebagaimana kita membedakan cahaya dan kegelapan, dan antara kebisingan dan kebungkaman, kemudian menetapkan diri kita untuk mengelakkan keburukan dan merangkul kebajikan. Namun, pemantangan dari keburukan memerlukan kesehatan tubuh dan jiwa. Pertumbuhan yang bertujuan dari tubuh dan jiwa tidaklah mungkin tanpa bantuan penyucian diri.

Bagi orang-orang yang mencari pendidikan ruhani, tak ada jenis keistimewaan yang diperkenankan. Tatanan batin selalu mempunyai aturannya sendiri. Keadaan fisiologis dan psikologis merupakan basis hakiki kepribadian, seperti papan loncatan dari mana jiwa dapat melakukan penerbangannya.

Jalan pembinaan itu terarah ke atas, dan para musafir kebanyakan terpeleset ke dalam payau-payau atau jatuh ke jurang di tengah perjalanan, atau tertinggal di belakang di sisi taman-taman tepi kali lalu tertidur dengan nyenyak tanpa berkesudahan, dalam kebahagiaan atau penderitaan, dalam keberlimpahan atau kemiskinan, sehat atau sakit. Tetapi bagaimanapun juga, orang harus berusaha dan bangkit berdiri di atas kakinya sendiri setiap kali ia terjatuh, dan sedikit demi sedikit, mendapatkan semangat, keimanan dan kemauan untuk bercita-cita serta semangat saling bantu, kemampuan untuk mencintai, dan pada akhirnya mencapai keselamatan.[3]

Ada suatu kekosongan dari keseimbangan, tatanan dan neraca yang tepat di dunia sekarang ini antara individu dan masyarakat dan antara tubuh dan ruh. Ketika manusia mengizinkan keistimewaan manusiawinya untuk tetap terlena dan menekan aspek-aspek yang halus, vital, dan kritis dari wujudnya sendiri, yang merupakan bagian yang perlu dari kedudukannya yang khas sebagai khalifah Tuhan di panggung dunia, ketika ia menolak martabat manusiawinya walaupun ia dicipta sebagai manusia, mencemooh watak karunia Tuhannya dan akhirnya memprogramkan hidupnya atas dasar hedonisme dan perburuan hawa nafsu, yang sampai ke tahap penyangkalan terhadap wujudnya sendiri. Bilamana hal itu terjadi, tak terelakkan bahwa watak pemberian Tuhan itu akan menyebab-kan kerusakan parah karena pemikirannya yang tak berprinsip dan perilakunya yang tolol, dan menimpakan pembalasan dendam yang akan menghancurkannya.

Sekarang ini umat manusia sedang membayar kompensasi berat atas perilakunya dalam urusan perdamaian, kebahagiaan dan ciri-ciri khas manusiawi yang hakiki. Efek dari kelainan dan salah perilaku ini muncul dalam bentuk berbagai jenis kejahatan dan penyelewengan. Dalam masyarakat masa kini barangkali tak ada menit berlalu tanpa perbuatan keji dan kejahatan seperti perzinaan, pemerkosaan, pencurian dan sebagainya. Ini salah satu masalah besar bangsa-bangsa di dunia sekarang dan harus dipandang sebagai suatu krisis manusia terbesar dalam dimensi mendunia (global—peny.). Jumlah pengeluaran tahunan yang dibelanjakan untuk mencegah kejahatan, atau tentang pencarian, pelaksanaan pengadilan dan hukuman bagi para penjahat, sungguh mencengangkan.

Salah satu faktor penyebab merajalelanya sikap tak berperasaan dalam hubungan antar manusia, penyebaran kekejaman, dan semakin meningkatnya kekebalan moral hari demi hari di masyarakat Barat, terletak pada jalan berpikir sebagian guru dan filosof. Nietzsche, filosof Jerman terkenal, mendasarkan falsafahnya pada sikap tak menaruh belas kasihan dan keunggulan rasial, yang menjadi motif di balik pertumpahan darah keji, peperangan yang menghancurkan di abad kedua puluh. Beginilah logika filosof Barat itu, Belas kasihan melawan emosi perangsang yang meninggikan vitalitas kita; belas kasihan mengandung efek memuramkan. Kita kehilangan kekuatan bilamana kita merasa kasihan…

Sangat umum, belas kasihan menyilang hukum perkembangan, yang merupakan hukum seleksi. Ia memelihara apa yang telah matang untuk kehancuran, ia membela orang-orang yang hak warisnya telah dicabut dan dikutuk oleh hidup, dan dengan berlimpah-limpah kegagalan dari segala macam yang dihidup-hidupkannya, ia memberikan aspek suram dan meragukan kepada kehidupan….

Belas kasihan adalah praktek nihilisme. Diulangi: naluri yang depresif dan menular itu membangkitkan naluri-naluri yang bertujuan mempertahankan hidup dan peningkatan nilai-nilainya. Itu melipatgandakan kemelaratan dan mengawet-kan segala yang menyengsarakan, dan dengan demikian ia merupakan instrumen pertama dari laju kemerosotan.[4] Suatu moralitas altruis—moralitas di mana kepentingan diri menjadi lesu—tetap merupakan suatu tanda buruk dalam segala keadaan. Ini berlaku bagi individu; ini berlaku bagi bangsa-bangsa. Yang terbaik berkurang ketika kepentingan diri mulai menuran. Secara naluri memilih apa yang merugikan bagi diri sendiri, merasa tertarik oleh motif-motif yang “tidak berkepen-tingan”; itulah tepatnya formula dari kemerosotan… Zaman-zaman yang kuat, kultur yang mulia, memandang belas kasihan, “cinta-tetangga” dan ketiadaan cinta diri dan peyakinan diri sebagai sesuatu yang patut dihina…[5]

Kesenangan sensual, hawa nafsu untuk kekuasaan, keakuan: ketiganya hingga kini telah paling dikutuk dan dipandang yang terburuk dan paling tak adil—ketiga hal ini akan saya pertimbangkan dengan baik secara manusiawi.[6]

Penyebab Kejahatan
Penyebab kejahatan maupun karakter para penjahat perlu dikaji untuk melihat apakah mereka memang begitu menurut watak dan kelahirannya. Apakah mereka yang dicemari oleh berbagai kebejatan moral dan kejahatan memang dilahirkan dengan kecenderungan itu ataukah kejahatan mereka berasal dari suatu penyakit spiritual? Apabila ya, bagaimanakah penyakit itu dapat diperlakukan!

Sebagian pakar dalam bidang itu percaya bahwa sekelompok penjahat pada dasarnya memang dilahirkan dalam keadaan jahat. Orang-orang jenis ini bahkan mempunyai karakteristik abnormal lahiriah tertentu yang membedakan mereka dari orang lain. Mereka, konon, adalah para penjahat menurut wataknya. Lombroso, kriminolog terkenal asal Itali, adalah pembela yang kuat teori ini. Teorinya mendapat banyak pengikut dan diterima dengan perhatian besar oleh para penulis sezamannya.

Tak diragukan bahwa manusia adalah makhluk yang dapat menerima pendidikan moral. Ia melaksanakan sebagian dari tindakannya atas kehendak bebasnya sendiri; dan dengan kehendaknya sendiri ia menahan diri dari melakukan hal-hal tertentu. Makhluk semacam itu tentulah harus dianugerahi kehendak bebas; bila tidak demikian maka sia-sia menasihati dan mengajari makhluk yang tindakannya sama sekali telah ditentukan, yang tidak mempunyai kemauan sendiri dan tak mempunyai kendali atas dirinya sendiri. Para pemikir yang kompeten memandang manusia bebas dalam tindakannya, dan bertanggung jawab atasnya.

Para guru moralitas dan etika mendasarkan ajaran moral mereka dan usaha pendidikan mereka yang dimaksudkan untuk membawa kesejahteraan bagi manusia atas pendekatan yang sama, yakni berdasarkan resep yang terdiri dari perintah dan larangan, dan meminta mereka mempelajari hal-hal tertentu serta menahan diri dari perbuatan-perbuatan tertentu untuk mencapai kesejahteraan pribadinya.

Apabila seseorang mempelajari keadaan anak-anak nakal di lembaga-lembaga pemasyarakatan, penjara dan rumah sakit jiwa, akan kedapatan bahwa mereka itu dibesarkan dalam keluarga yang moralnya tercemar atau terlantar dan tidak mempunyai pengalaman pribadi tentang kelurusan moral dan kesucian.

Seperti kelompok hewan yang tidak merasa terkendali dalam melakukan kejahatan atau pelanggaran apa pun, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang membuka matanya dalam keluarga yang tidak mempunyai kehangatan emosi dan kebajikan moral, dan tercemar kebejatan, atau mereka itu telah hidup dalam lingkungan sosial yang jorok. Keluarga dan faktor-faktor sosiallah yang menyebabkan mereka memilih kejahatan dan keburukan ketimbang kebaikan dan kesucian.

Etika and Pertumbuhan Spirtual
Sayid Mujtaba Musawi Lari
http://www.musavilari.org/html/20/book/04/index.htm

>Manusia Bergerak Ke Arah Kesempurnaan 2

>

Tugas Manusia yang Paling Berharga
Yang paling penting dan yang paling berharga dari kewajiban manusia ialah pendidikan. Manusia menemukan nilai pendidikan sejak awal mula fajar keberadaannya. Untuk alasan yang sama ia meletakkan prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan tertentu yang sesuai bagi perkembangan lingkungan manusiawinya dan sebanding dengan persepsinya tentang kewajiban-kewajiban dan misinya dalam kehidupan, walaupun tujuan ini kadang-kadang benar dan kadang-kadang keliru.

Kita menyaksikan dengan jelas perubahan-perubahan yang mencengangkan yang timbul dalam perjalanan sejarah manusia oleh berbagai aliran pemikiran yang sama sekali mengubah wajah kehidupan. Kajian tentang realitas-realitas dunia menyampaikan kita kepada kesimpulan bahwa manusia tidak diciptakan jahat dan syaitani menurut wataknya. Apabila kita menerima bahwa manusia menurut bawaannya jahat, semua usaha untuk mendidiknya akan sia-sia, dan usaha semua nabi dan para pendidik dunia sia-sia saja. Sekiranya kejahatan, pembunuhan, dan kehancuran adalah watak bawaan penghuni Jazirah Arabia, mungkinkah Nabi saw menimbulkan revolusi menyeluruh seperti itu dalam ruhani para individu Arab dan mengubah watak mereka yang hakiki?

Benarlah bahwa manusia dikonfrontasi oleh kekuatan-kekuatan fisik yang mendorongnya pada tahap-tahap pertama kehidupannya. Sejak ia membuka matanya ke dunia ini, daya kemampuannya terwujud secara berangsur-angsur satu demi satu, dan dengan demikianlah ia memulai kegiatannya. Namun, pada saat yang sama, di samping kemampuan fisik, ia memiliki kapasitas dan potensi amat besar untuk perkembangan dan pertumbuhan spiritual. Ada kapasitas-kapasitas dan aspirasi yang lebih luhur daripada kebutuhan-kebutuhan yang laten dalam dirinya; dan energinya—sementara digunakan—dapat mengambil berbagai bentuk dan mengalir pada berbagai jalur, walaupun fase perkembangan spiritual pada umumnya baru dimulai sesudah fase pertumbuhan fisik.

Tetapi bagaimanapun, suatu proses yang alami dan spirasi-aspirasi manusia yang lebih tinggi mampu mengambil alih dan menggunakan energi-energinya yang lain untuk kepentingannya sendiri. Namun, untuk tujuan ini ia memerlukan bantuan, kepedulian dan bimbingan eksternal yang efektif. Karena tanpa bantuan itu aspirasi-aspirasi ini mungkin menderita penyimpangan atau misorientasi.

Tentu saja, bantuan eksternal seperti itu bukan sesuatu yang tak alami atau dipaksakan melainkan suatu bagian dari watak manusia. Hal itu serupa dengan menolong seorang anak belajar bicara walaupun ia mempunyai kemampuan alami untuk bicara sejak saat kelahirannya. Prinsip perkembangan manusia dan takdir manusia sebagai makhluk yang paling mulia digambarkan dalam Al-Qur’an dalam kata-kata berikut ini.

Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. (QS. al-Insyiqaaq: 6)

Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu). (QS. an-Najm: 42)
Manusia, dalam rangka penerbangannya di cakrawala-cakrawala wujud menuju yang tak terbatas, harus menarik inspirasi dari ajaran para nabi, yang merupakan program pendidikan yang sejati dan menyeluruh. Ini perlu untuk melepaskan energi ilahi yang laten dalam dirinya dan yang diperlukannya supaya mampu mencapai tujuan akhir dari perkembangan, sukses dan kebebasannya.

Gustav Le Bon menulis,
Setelah usaha yang tak kenal lelah, falsafah menyadari bahwa ia tak dapat mencapai yang adikodrati. Dari itu kita terpaksa harus mengikuti resep para dokter ruhani yang mempunyai wawasan dalam hal-hal rumit tentang jiwa manusia dan dapat dipercayai untuk merawat perkembangan ruhaninya. Para dokter ruhani ini adalah nabi-nabi utusan Tuhan dan orang-orang suci yang mengusulkan resep-resep bagi kesejahteraan manusia, yang diterima dari sumber wahyu dan ilham, dan bertujuan untuk mencapai disiplin batin, yang dengan sarananya mereka dapat menolong dia mencapai kesempurnaan yang patut baginya.[7]

Al-Qur’an merujuk kedua aspek watak itu ketika menggambar-kan watak manusia. Ia menunjukkan bahwa apabila manusia gagal mendapatkan latihan mendasar, dorongan yang membadai dalam dirinya akan maju melemahkan kekuatan-kekuatan nalar dan kesadaran, dan menundukkan impuls-impuls lain di dalam jiwa, menggunakannya untuk maksud dan tujuannya sendiri. Oleh karena itu orang tak boleh mengabaikan kemampuannya untuk mengambil berbagai warna dan keperluan untuk membimbingnya pada arah yang pasti.

Imam Ali bin Abi Thalib as berkata,
Makhluk yang dianugerahi kemampuan aqliah memerlukan pendidikan, sebagaimana lahan pertanian memerlukan hujan.[8]

Apabila prinsip-prinsip pendidikan tidak didasarkan pada faktor-faktor yang mengatur, dan energi manusia dibiarkan dalam kebebasan liar, tidak diurus dan tidak disalurkan maka energi manusia itu akan selalu tunduk kepada kebutuhan-kebutuhan primer manusia. Itulah sebabnya maka watak dan perilaku manusia selalu memerlukan pendidikan formatif melalui pujian dan ganjaran serta teguran dan hukuman.

Al-Qur’an mengatakan,
Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. asy-Syams: 9-10)

Konsep tentang hukuman itu sendiri didasarkan pada kemam-puan fitriah manusia untuk membedakan antara baik dan buruk, dan pembebasan dari tanggung jawab mensyaratkan adanya uzur fisik atau mental dalam diri seseorang. Titik pandang yang dianut oleh sebagian trend pikiran modern yang membebaskan si penjahat dari tanggung jawab sebagai korban keburukan sosial atau pendidikan yang dekaden dan memandang si individu, walaupun ia mempunyai kemampuan fitriyah untuk membedakan, sebagai makhluk negatif yang tak berdaya, tak dapat dipandang sebagai kebenaran ilmiah. Tentu saja tak seorang pun dapat menyangkali peran besar pendidikan dan latihan atau mengabaikan tanggung jawab besar yang dipikul oleh masyarakat dan lingkungan; karena berbagai faktor itu berhubungan dengan pelaksanaan kejahatan ikut bertanggung jawab atasnya. Tetapi bagaimanapun, itu tidak berarti bahwa si penjahat tidak harus bertanggung jawab atasnya.

Tak diragukan bahwa sekelompok pelanggar terdiri dari orang-orang yang dapat diperbaiki melalui sedikit bimbingan dan peng-arahan. Mereka adalah korban penyakit spiritual, dan kejahatan mereka adalah produk dari kelainan jiwa tertentu yang tidak berakar mendalam. Atau, hal itu adalah akibat pergaulan dengan orang-orang jahat dan amoral. Orang-orang berpenyakit semacam ini harus dikenali dan diperlakukan sedini mungkin.

Pada umumnya kekerasan reaksi dan intensitas kampanye melawan kejahatan tak dapat dengan sendirinya mencabut akar-akar perilaku jahat. Hukuman yang dijatuhkan kepada si penjahat demi menyelamatkan kesejahteraan masyarakat dan individu diperlukan, karena sanksi-sanksi terhadapnya adalah hasil dan produk yang alami dari pemeliharaan keadilan dan ketertiban dalam masyarakat serta keamaanan hidup masyarakat. Namun, hukuman saja tidak cukup, dan yang lebih penting ialah pendidikan kembali para penjahat supaya pendekatan mereka yang tak sehat kepada kehidupan dapat diubah melalui pelajaran yang berhasil baik, dan supaya semangat mereka yang melawan hukum dan agresif tidak menjangkiti orang lain dalam masyarakat.

Adakah Penjahat Bawaan?
Sekarang teori Lombroso dan para pengikutnya yang memper-cayai adanya penjahat bawaan telah ditolak para pakar di bidang itu. Sementara bekerja pada ketentaraan Itali, Lombrono melihat bahwa pembuatan tato sangat umum di kalangan penjahat. Dari situ ia menyimpulkan bahwa para penjahat mempunyai tingkat kepekaan jiwa yang lebih rendah daripada orang normal, dan bahwa kurangnya kepekaan moral mereka adalah pula akibat kurangnya kepekaan fisik itu. Di kemudian hari, sementara mengurai otak seorang perampok ia memperhatikan bahwa dalam segi-segi tertentu otak penjahat itu menyerupai otak hewan mamalia yang lebih rendah. Pengamatan itu merupakan penda-huluan teori tentang penampilan karakter yang merupakan warisan. Lombroso memandang ciri-ciri khas tertentu sebagai petunjuk temperamen seorang penjahat, yang sebagian darinya adalah: rambut keriting, mata juling, dagu menonjol ke depan, alis yang melengkung, kepala yang besar atau kecil secara abnormal, tulang pipi yang menonjol, kuping yang besar, tidak proporsionalnya ukuran tengkorak dan wajah, dan jidat yang memanjang ke belakang. Bila beberapa dari ciri-ciri ini terdapat pada seseorang, dapatlah ditegaskan dengan pasti watak kriminalnya, demikian menurut keyakinannya. Ia menamakan ciri-ciri khas ini “tanda-tanda dekadensi”.

Ilmuwan Prancis, Dr. Alexis Carrel, mengatakan,
Penjahat bawaan temuan Lombroso tidak ada. Tetapi ada orang-orang yang berbawaan cacat yang menjadi penjahat. Dalam realitas, banyak penjahat adalah orang normal. Mereka sering lebih pandai daripada polisi dan hakim. Para sosiolog dan pekerja sosial tidak menemukannya dalam survei mereka di penjara. Para gangster yang bajingan, pahlawan film dan surat kabar, kadang-kadang menunjukkan kegiatan normal dan bahkan kegiatan-kegiatan mental yang emosional dan aestetis. Tetapi rasa moral mereka tidak berkembang. Ketidak-harmonisan dalam dunia kesadaran ini adalah suatu fenomena yang khas di masa kita. Kita telah berhasil memberikan kesehatan organik kepada para penduduk kota modern. Tetapi walaupun sejumlah besar uang telah dibiayakan bagi pendidikan, kita gagal mengembangkan secara utuh kegiatan intelektual dan moral mereka. Bahkan di kalangan penduduk elit, kesadaran sering kekurangan keharmonisan dan kekuatan. Fungsi-fungsi mendasar itu berserakan, kualitasnya buruk, intensitasnya rendah. Sebagian darinya mungkin sangat kurang.

Orang-orang yang paling berbahagia dan bermanfaat adalah orang-orang yang utuh keseluruhannya dalam kegiatan intelek-tual, moral dan organik. Kualitas kegiatan-kegiatan itu, dan keseimbangannya, memberikan kepada tipe orang semacam itu keunggulannya atas yang lain-lainnya. Intensitasnya menentukan tingkat sosial seseorang individu. Itu membuat dia menjadi pedagang atau direktur bank, seorang dokter sederhana atau profesor yang termasyhur, kepala desa atau presiden Amerika Serikat. Perkembangan manusia yang sempurna haruslah menjadi tujuan usaha kita. Hanya dengan para individu yang berkembang sempurna seperti itu dapat dibangun suatu peradaban yang sesungguhnya.[9]

Seorang psikolog masa kini menulis,
Sekarang telah ditegaskan dengan pasti secara ilmiah maupun filosofis, dan lepas dari segala keraguan, bahwa tak ada manusia ‘jahat'; hanya ada manusia sakit. Kesadaran tentang hal ini demikian pentingnya sehingga dapat dikatakan tanpa melebih-lebihkan bahwa tak ada temuan di dunia sejak munculnya manusia hingga masa kini, dan tak akan pernah ada, suatu dampak yang sama pada kesejahteraan manusia. Yakni, ketika orang benar-benar menyadari kenyataan ini dan organisasi masyarakat serta lembaga-lembaga pengaturannya didasarkan pada kebenaran yang mapan ini, bagian besar dari penderitaan manusia, kehancuran, permusuhan, konflik dan hukuman manusia akan berkurang. Mengapa? Karena, bilamana setiap orang mengetahui, misalnya, bahwa kekikiran, cemburu, takut, kelicikan, prasangka, kecurangan, kelaliman, dan ratusan kejahatan seperti itu adalah akibat logis dari penyakit spiritual yang rentan terhadap perawatan tepat sebagaimana demam, sakit tenggorokan, diare dan sebagainya, akan menghasilkan dua hal yang sangat penting dan bermanfaat. Pertama, orang-orang yang sakit itu, yang sekarang dianggap ‘jahat’, akan mengusahakan perawatan dengan harapan penuh dan menjadi sehat dan menjadi manusia yang baik. Kedua, orang tidak akan memandang mereka dengan permusuhan dan rasa benci sebagai orang-orang ‘jahat’, melainkan sebagai orang sakityang patut mendapatkan simpati. Dan jelaslah bahwa ada suatu perbedaan besar antara kedua pandangan itu dan akibat-akibatnya.

Inilah prinsip yang sekarang diterapkan di kebanyakan sekolah di negara-negara beradab, dan bahkan di penjara-penjara, dan pendekatan ini secara berangsur-angsur mulai digunakan dengan hasil yang sangat bermanfaat. Adalah kewajiban para penulis humanis untuk berusaha sekuat-kuatnya menyiarkan kebenaran yang teramat bermanfaat ini supaya semua masyarakat sedunia beroleh manfaat darinya.[10]

Teori falsafah dan ilmiah ini, yang penemuannya telah diatributkan kepada dunia sains modern, telah bersejarah empat belas abad dalam nas-nas agama Islam. Al-Qur’an al-Karim merujuk kaum munafik sebagai orang berpenyakit dengki dan bermuka dua:

Ada penyakit dalam hati mereka. (QS. al-Baqarah: 10)

Sebagian moralis dan penganut agama-agama tertentu meman-dang watak fitriah manusia itu jahat dan berdosa.

John Dewey menulis,
Berikan kepada anjing nama buruk lalu gantunglah dia.”  Watak manusia adalah anjing dari para moralis profesional, dan akibat-akibatnya sesuai dengan peribahasa itu. Watak manusia telah dipandang dengan curiga, dengan rasa takut, dengan pandangan masam, kadang-kadang dengan gairah bagi kemungkinan-kemungkinannya tetapi hanya bilamana ditempatkan dalam kontras dengan aktualitas-aktualitasnya. Ia telah nampak berkecenderungan jahat sedemikian rupa sehingga urusan moralitas adalah memangkas dan memotong-nya; atau, dianggap lebih baik apabila ia dapat digantikan oleh sesuatu lainnya. Moralitas akan dianggap sangat berlebihan apabila tidak karena kelemahan bawaan, yang mendekati imoralitas, dari watak manusia. Beberapa penulis dengan konsepsi yang lebih ramah mengatributkan penghitaman itu kepada para teolog yang berpikir untuk menghormati yang ilahi dengan meremehkan yang manusiawi. Para teolog telah mengambil pandangan yang lebih suram tentang manusia ketimbang para ateis dan sekularis. Tetapi penjelasan ini tidak membawa kita jauh. Karena, bagaimanapun para teolog itu sendiri adalah manusia, dan mereka tidak akan berpengaruh apabila para manusia tidak menyambut mereka.[11]

Watak Manusia yang Suci dan Tak Berdosa

Nabi Muhammad saw berkata,
Setiap bayi dilahirkan dalam fitrah. Itu berarti bahwa manusia dilahirkan dalam watak yang murni dan tak berdosa. Orangtuanyalah yang membesarkannya sebagai orang Kristian atau Yahudi. Keyakinan agama orangtua serta cara berpikir mereka mempengaruhi pikiran si anak yang mudah menerima kesan.[12]

Imam Ali as berkata kepada putranya,
Hati yang muda adalah seperti tanah perawan yang meneri-ma setiap jenis benih yang ditaburkan padanya. Putraku, saya mengambil kesempatan yang diberikan oleh masa kanak-kanak saya untuk mendidik Anda, sebelum hati Anda yang mudah menerima kesan akan menjadi keras dan sebelum berbagai hal menempati pikiran Anda.[13]

Terlepas dari kenyataan bahwa manusia sama sekali tidak dilahirkan dengan kecenderungan jahat, ada suatu kekuatan yang laten dalam struktur batin setiap manusia yang menariknya kepada kebaikan. Kekuatan ini membuatnya kembali kepada keadaan aslinya bilamana ia berpisah dari orientasinya yang benar. Dalam idiom para filosof, bilamana suatu watak tertentu tunduk kepada sesuatu yang di luar dan merupakan kekuatan dari luar maka muncul suatu kecenderungan untuk kembali kepada keadaan aslinya.

Sejak zaman purba sekelompok filosof telah merasakan bahwa penalaran teoritis mewakili daya kemampuan jiwa manusia, walaupun kemampuannya untuk memahami terbatas dan kepastian dari keefektifan praktisnya tidak terlalu besar. Nalar teoritis tidak cukup dalam beberapa hal, seperti dalam menyampaikan penilaian yang adil, celaan kepada penjahat dan pendosa, dan resep dari suatu program yang dapat menjamin kebahagiaan manusia. Dari itu harus ada suatu kekuatan independen dalam diri manusia untuk membimbing dia kepada berbagai kebajikan, dan memban-tunya untuk berkorban dan mencari kesempurnaan dan yang menerangkan perilaku moralnya.

Al-Qur’an menegaskan bahwa kecenderungan kepada keimanan dan penolakan dari dosa dan kedurhakaan terdapat dalam watak manusia. Tuhan bukan saja menempatkan keimanan pada Sumber Penciptaan dalam watak manusia dan menganugerahinya kemam-puan untuk mengenal Tuhan, tetapi juga telah menciptakan suatu gaya tarik alami kepada kebajikan dan penolakan terhadap kejahatan, dosa dan kedurhakaan, sehingga jiwa secara tak sadar tertarik kepada kebajikan manusiawi.

…tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan… (QS. al-Hujuraat: 7)

Menurut pujangga besar Hafizh Syirazi (Iran), Cinta antara engkau dan aku ini, kubawa dari sana, bukan (baru) mengembangkannya di sini.

Bertrand Russel menulis,
Menurut gagasan lama, ialah bahwa kebajikan bergantung pada kemauan: kita dianggap penuh dengan hawa nafsu buruk yang kita kendalikan dengan daya kemauan yang abstrak.

Dianggap mustahil mencabut hasrat-hasrat hawa nafsu buruk: yang dapat kita lakukan hanyalah mengendalikannya. Situasi itu tepat ibarat penjahat dan polisi. Tak ada orang membayang-kan bahwa mungkin ada suatu masyarakat tanpa penjahat; paling-paling yang dapat dilakukan ialah mempunyai pasukan polisi yang demikian efisien sehingga kebanyakan manusia takut melakukan kejahatan, dan sedikit yang terkecuali itu akan ditangkap dan dihukum. Para kriminolog psikolog modern tidak puas dengan pandangan ini; mereka percaya bahwa dorongan kepada kejahatan, dalam kebanyakan kasus, dapat dicegah agar tidak berkembang, dengan pendidikan yang pantas. Dan apa yang berlaku bagi masyarakat berlaku pula bagi para individu.[14]

Emerson menulis,
Yang sederhana bukannya naik memasuki suatu kebajikan tertentu melainkan wilayah semua kebajikan. Mereka berada dalam semangat yang mengandung kesemuanya. Jiwa menuntut kesucian, tetapi kesucian bukanlah (jiwa) itu; ia menuntut keadilan, tetapi keadilan bukanlah dia; ia memerlukan kedermawanan, tetapi itu agak lebih baik; sehingga ada semacam penurunan dan penampungan yang terasa bilamana kita meninggalkan bicara tentang watak moral untuk mendorong suatu kebajikan yang dianjurkannya. Bagi si anak yang dilahir-kan dengan baik itu, semua kebajikan adalah alami, dan tidak diperoleh dengan susah payah. Bicaralah kepada hatinya, maka orang itu akan mendadak menjadi bajik.[15]

Oleh karena itu, menurut Islam maupun para pemikir realistis di dunia masa kini, manusia datang ke dunia dengan watak ruhani yang murni dan sehat sesuai dengan hukum keturunan. Kehadiran dosa dan kerusakan dalam dirinya adalah kebetulan dan datang dari luar ke wataknya yang asli. Adalah pelanggaran terhadap watak asli, atau penyimpangan dan kemunduran dari naluri yang bukan saja menjurus kepada timbulnya penyakit spiritual tetapi menghalangi arus alami dari ruhani melalui berbagai macam kompleks. Bila tidak demikian, ia mempunyai kemampuan untuk maju ke arah kesempurnaan dengan langkah-langkah cepat sesuai dengan gerak hatinya yang sejati.

Tentu saja pengaruh lingkungan tidak sama terhadap berbagai otak dengan berbagai susunan sarafnya, sama sebagaimana ling-kungan tidak mempunyai efek yang sama pada pertumbuhan berbagai tanaman dan tumbuhan. Setiap indwidu hidup dengan susunan sarafnya sendiri, yang diwarisinya sesuai dengan hukum warisan. Tak ada dua individu di dunia ini yang mempunyai struktur saraf yang identik; saraf-saraf manusia menunjukkan perbedaan dari sisi pandang fisiologis individu dan keserasian jasmani. Dari itu, sebagaimana suatu lingkungan khusus mem-pengaruhi setiap benih dan tanaman secara spesifik, demikian pula efek lingkungan pada saraf otak setiap orang secara spesifik, dalam pengertian bahwa kehidupan dalam suatu lingkungan tertentu membawa efek khusus pada setiap individu dan menghasilkan kepribadian khusus yang tak dapat dibandingkan dengan kepribadian individu lain. Bahkan dua anak dari orangtua yang sama, yang semestinya menunjukkan ciri-ciri khas tertentu yang sama karena warisan dan lingkungan yang sama, menunjukkan perbedaan yang mencengangkan dari sisi pandang sifat-sifat pribadi. Seruan para nabi didasarkan kepada watak bawaan manusia kepada tauhid (monoteisme) dan watak moral fitriahnya. Prindip-prinsip moral ini, bersama dengan akal pikiran, merupakan basis dasar pendidikan. Peran besar para nabi, yang mereka usahakan melalui misi dan ajaran mereka, ialah membangun kapasitas-kapasitas bawaan manusia yang tersembunyi dalam wataknya. Cahaya batin yang alami dapat menjadi redup karena kondisi-kondisi tertentu, keadaan dan berbagai faktor yang berkaitan dengan wujud manusia, tetapi watak sesungguhnya itu tak pernah terhapus. Fondasi-fondasi dari watak ini tetap aman dan stabil walaupun ada segala kesulitan dan halangan yang timbul dalam perjalanannya sepanjang sejarah. Pada akhirnya, penyim-pangan dari jalan alam tidak berhubungan dengan fitrah dan realitas manusia.

Dapatnya kita melakukan latihan, dan disiplin diri dengan mengandalkan watak manusiawi adalah suatu prinsip yang teramat sangat berarti. Tetapi kita pun tak boleh melupakan bahwa hawa nafsu yang garang dengan kekuatan destruktifnya dapat melemah-kan watak kita, dan apabila kita gagal menyalurkannya secara wajar dan menggunakannya secara imbang dan tak mampu mengendali-kan kelebih-lebihannya, kekuatan-kekuatan alami kita akan dilemahkan dan kita akan gagal memanfaatkan potensi yang diberikan oleh alam. Penciptaan keseimbangan hawa nafsu dan perilaku tergantung pada pengenalan tentang titik sedangnya, pada latihan, dan pada konstannya usaha dan pengorbanan.

Dalam hal ini Aristoteles berkata,
Jadi, bahwa kebajikan moral adalah suatu titik tengah, dalam pengertian suatu suatu titik tengah antara dua keburukan, yang satu adalah kelebih-lebihan, yang lainnya kekurangan, dan karakternya ialah membidik titik sasaran di antara keduanya. Maka menjadi baik bukanlah pekerjaan mudah. Karena, dalam setiap hal tidaklah mudah untuk mendapatkan titik tengahnya. Misalnya, mendapatkan titik tengah suatu bundaran tidaklah mudah bagi setiap orang, kecuali bagi yang mengetahui. Demikian pula, setiap orang dapat marah—itu mudah—atau mengeluarkan uang, tetapi memberikan kepada orang yang tepat, pada ukuran yang tepat, pada saat yang tepat, dengan motif yang tepat, tidak setiap orang dapat melakukannya, dan tidak mudah; karena itu maka kebaikan adalah langka, terpuji dan mulia.

Maka, orang yang membidik kepada yang tengah harus pertama-tama harus melepaskan diri dari apa yang lebih berten-tangan dengannya, seperti dinasihatkan Calypso, “Selamatkan dulu kapal itu dari ombak dan gelombang.”

Dari antara eksrem-ekstrem itu, yang satu lebih besar mudaratnya, yang lainnya agak kurang. Karena membidik sasaran itu amat sukar maka sebagai kedua terbaik, kita harus mengambil yang paling sedikit keburukannya.

Tetapi, kita pun harus mempertimbangkan hal-hal ke arah mana kita sendiri mudah terbawa, karena sebagian dari kita cenderung kepada sesuatu, sebagian lagi kepada yang lain, dan ini akan dapat dikenali dari kegembiraan dan kepahitan yang kita rasakan. Kita harus menyeret diri kita menjauh ke ujung yang berlawanan, karena kita akan masuk ke dalam keadaan antara dengan menarik diri jauh-jauh dari kekeliruan, sebagaimana dilakukan orang dalam meluruskan tongkat yang bengkok.

Sekarang apabila segala sesuatu merupakan tekanan atau kesenangan, kita harus menjaga diri terhadapnya, karena kita tidak menilainya secara tak memihak. Maka perasaan kita tentang tekanan haruslah seperti perasaan orang tua-tua terhadap Helen, dan dalam segala keadaan mengulangi ucapan mereka, karena apabila kita abaikan perasaan senang yang sedemikian itu, kurang kemungkinan kita untuk tersesat. Maka dengan melakukan inilah (singkatnya) kita akan paling mampu membidik titik tengah itu.[16]

Latihan dan pertumbuhan spiritual harus menjadi tujuan tertinggi dalam kehidupan kita. Adalah kewajiban kita untuk membuka jendela hati dan pikiran kita untuk membiarkan masuknya kebajikan, kesalehan, cinta dan belas kasihan. Ini akan mencerahkan dan membersihkan hati kita, dan Pencipta Yang Mahaesa akan meridhai kita.

Kebanyakan manusia terkait dalam segala macam usaha dan mengamalkan penyangkalan diri agar mendapatkan sarana dan kesenangan hidup material dan terus bekerja keras hingga mati. Untuk tujuan ini mereka bahkan menyangkali diri sendiri terhadap kesenangan-kesenangan yang mereka cari dan yang mereka bayangkan sebagai sarana kebahagiaan itu. Mereka seharusnya mengetahui bahwa mereka telah tersesat dan telah meninggalkan jalan kebahagiaan dan keberhasilan yang sesung-guhnya. Orang tak dapat meraih kehidupan damai, bebas dari kecemasan, dengan mengejar kesenangan dan kegembiraan sesaat, atau dengan mengumpul sejumlah besar harta. Program semacam itu tidak memelihara atau mengembangkan kehidupan. Sebaliknya, itu segera mengeringkan sumber-sumber vital kehidupan dan menghancurkannya.

Orang yang mencari kebahagiaan dengan memburu kese-nangan tak akan mendapat apa-apa selain kecemasan dan keresah-an. Apabila kita gagal mengendalikan hawa nafsu pendurhaka dan kecenderungan kekanak-kanakan dalam diri kita, yang terus-menerus mengangkat kepalanya, dengan sarana akal dan kebijakan, hawa nafsu buruk itu akan menguasai kesadaran kita dan memperbudak kita. Semakin kita berhasil menaklukkan hawa nafsu dan hasrat-hasrat kita, makin dekat kita bergerak ke arah kebahagiaan. Singkatnya, semua kesengsaraan, penderitaan ketidakberdayaan kita, segala sesuatu yang mengabuti cakrawala kehidupan, adalah produk dari dominasi hawa nafsu atas diri kita.

Kebebasan dan Kendali
Dalam semua kasus semacam itu, pertanyaannya bukanlah harus memilih antara kebebasan dan perbudakan, melainkan antara dua jenis perbudakan. Dengan kata lain, bukannya kita harus menimbang-nimbang kebebasan terhadap perbudakan melainkan memilih antara dua jenis kebebasan. Manusia bebas memilih antara kebebasan yang manusiawi dan kebebasan yang hewani. Ikatan atau kekangan yang dapat ditcrapkan pada manusia adalah kebebasan keyakinan, moralitas dan kebajikan manusia. Ikatan yang khas bagi hewan adalah naluri dan dorongan yang tak terkendali. Orang yang menyerah kepada hasrat hawa nafsunya dan mengikutinya dengan taat tanpa mempedulikan akibatnya adalah orang yang telah memutuskan segala kendali manusiawi dan membebaskan dirinya dari ikatan agama, moralitas dan kemanusiaan. Ia orang yang telah gagal menolak godaan hawa nafsu dan melawan tekanan naluri. Pembebeasan dari segala sesuatu demi pemenuhan dorongan naluri bukanlah kebebasan yang sesungguhnya, karena dalam keadaan semacam itu manusia secara tidak sadar menafikan wujudnya sendiri. Maka nasib dan tujuan terakhirnya adalah kemerosotan dan kehancuran yang tak terelakkan.

Namun, manusia yang telah mengikat perjanjian dengan Tuhan dan tidak hendak melanggarnya dalam kehidupannya adalah orang yang bertekad menggunakan energi dan kemam-puannya pada jalan yang telah ditentukannya. Makin besar kekuatan keyakinannya, makin kuat ia dalam berpegang pada perjanjian itu. Ia mempunyai rasa kebebasan yang sesungguhnya dalam pertarungannya melawan tirani hawa nafsu. Yakni, ia bebas dari penindasan hawa nafsu dan melawan paksaannya. Ketika seseorang memutuskan untuk melakukan usaha terhormat demi mencapai kebebasan dan menjadi suatu kekuatan aktif dalam dunia wujud, dan untuk melakukan pendakian ke kedudukan mulia yang patut baginya, ia tidak mau menerima logika apa pun yang melanggar kemanusiaannya yang sejati.

Bagian besar dari ajaran agama berkaitan dengan pengendalian dan moderasi hawa nafsu dan perkembangan dorongan-dorongan yang lebih tinggi, karena kekuatan apakah selain keimanan yang dapat mengendalikan naluri-naluri vital dan menjaga manusia dari penelewengan melalui kekuatan spiritualnya?

Rasa tanggung jawab batin adalah amat pendng untuk mencegah gangguan terhadap ketertiban masyarakat dan penyebaran kejahatan, dan memelihara masyarakat dari bencana agresi dan pelanggaran hukum. Imanlah yang merupakan sumber dari rasa tanggung jawab batin dan yang mempunyai kekuatan untuk mengendalikan perilaku, watak dan pemikiran manusia. Penciptaan keimanan kepada Tuhan di kalangan manusia, yang dianjurkan Islam sebagai basis pendidikan maupun basis reformasi sosial ekonomi dan sebagai sarana untuk mencegah kejahatan dan pelanggaran. Untuk itu Islam telah mengambil pula metode yang terbaik. Di satu sisi ia mengulurkan janji ganjaran tertinggi bagi yang berkebajikan, dan di sisi lain ia mengancam dengan hukuman yang paling berat terhadap orang yang menyerah kepada perilaku antimoral di bawah pengaruh hawa nafsu pendurhaka. Pendekatan itu mengakibatkan manusia maju dengan penuh gairah menuju kebajikan moral, dan takut akan hukuman membuat dia meng-elakkan keburukan dengan penuh tekad.

Kebiasaan serta Peran Konstruktif dan Destruktifnya
Aspek positif dan negatif dari kebiasaan memainkan peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia, maupun kerusakan dan kemerosotannya. Suatu kajian sejarah dapat mengungkapkan bahwa adatistiadat (yang pada hakikatnya terdiri dari kebiasan-kebiasaan kolektif) merupakan suatu faktor yang efektif dan penting dalam menentukan nasib umat manusia. Kekuatan sabar dan ketekunan spiritual dalam menghadapi kesulitan, kesukaran dan bencana, suatu resistensi alami terhadap aspek-aspek negatif peristiwa-peristiwa, dan kemampuan untuk mengatasi efek-efeknya, adalah hasil dari aspek-aspek positif warisan sosial.

Namun, keburukan yang timbul dari aspek-aspek negatif adat dan kebiasaan sangat luas, dan kehancurannya tak terpulihkan. Demikianlah, sebagaimana warisan memainkan peranan penting dalam membuat bencana dan aspek negatifnya menjadi tertang-gungkan, ia pun merupakan faktor yang kuat dari sisi pandang penghancurqan dampak positif dan bermanfaat dari kebenaran-kebenaran yang tak terbantah, pada ruhani manusia.

Adat kebiasaan warisan negatif menjadi penghalang di jalan pemahaman atas nilai sesungguhnya dari berbagai prinsip dan hukum mengenai dunia wujud dan ruhani, maupun pemahaman terhadap banyak gagasan yang bermanfaat dan mencerahkan. Adat kebiasaan negatif tidak mengizinkan manusia melihat kenyataan dengan pandangan yang jelas dan mengetahui maknanya. Untuk memahaminya, tidaklah perlu mengutip sejarah permasalahan ilmu pengetahuan yang halus dan mendalam. Bagian besar dari fenomena alam yang menakjubkan dan paling bermakna tetap tak diketahui selama berabad-abad karena pengenalan secara kebiasaan dengan karakter lahiriah dari hukum-hukum alam. Sangat sering terjadi bahwa sesaat renungan dan perhatian yang bertentangan dengan jalan adat istiadat ternyata sangat membawa hasil dalam membukajalan kemajuan bagi manusia.

Bahkan pengetahuan pun mungkin menghadapi halangan dan hadangan spiritual dan kehilangan nilainya, dan karenanya menjadi sama dengan kejahilan dari sisi pandang keefektifan. Hal itu disebabkan karena kebiasaan negatif menyebabkan distorsi dalam karakter dan menjadi hambatan di jalan keberhasilan pengetahuan pada level tindakan. Banyak orang terpelajar yang sama sekali terbelit dalam kebiasaan misterius yang dalam kehidupan tak mampu menerapkan pengetahuan dan pengertian mereka dalam karakter maupun perilakunya atau untuk memper-baiki karakter dan perilaku orang lain. Karena, dalam beberapa hal mereka tidak mempunyai cukup kekuatan untuk menghen-tikan serangkaian peristiwa yang mereka yakini sebagai merugikan dan merusak. Kebutaan dan kelalaian ini adalah akibat dari kebiasaan intelektual yang menghasilkan resistensi kepada nalar dan pengetahuan dan mengancam pertumbuhan spiritual manusia.

Banyak pakar di kalangan para dokter yang memiliki penge-tahuan spesialisasi yang menonjol, tetapi yang pengetahuannya tidak berhasil membuat suatu kontribusi spiritual dan, pada tingkat amal perbuatan, tidak efektif dalam memperbaiki perilakunya dalam praktek. Dalam pandangan Islam, keutamaan tidak terbatas pada pengetahuan. Pengetahuan adalah sarana untuk memahami dan merupakan salah satu sarana yang hakiki bagi pertumbuhan spiritual. Tetapi, kecuali untuk memperkenalkan perbedaan pada tahap pemahaman sendiri tidak mampu melakukan fungsi spiritual yang aktif dan efektif.

Al-Qur’an mengecam orang terpelajar yang hampa karakter dalam kata-kata berikut,
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. al-Jumu’ah: 2-3)

Tekanan Islam pada pikiran dan renungan dalam segala situasi mengungkapkan pentingnya pemikiran dalam menjauhkan kemungkinan bahaya adat kebiasaan negatif dan dalam mem-bangun kekuatan perlawanan terhadap kebiasaan-kebiasaan keji, dan perlawanan terhadapnya. Pemikiran dan pembentukan gagasan yang bertujuan melawan kekuatan segala jenis kebiasaan jahil adalah kegiatan dan perjuangan yang bersemangat dan merupakan faktor penting yang memperkuat daya kemauan.

Berbagai jenis penyimpangan adalah sebenarnya akibat dari kegagalan untuk berpikir sehat dan logis. Secara mendasar, adalah karena kelalaian dan ketidakpedulian dalam berpikir maka banyak orang menyimpang dari jalan raya petunjuk untuk mengambil jalanjalan yang menyeleweng. Dari sini kita menyadari mengapa Islam memilih berpikir dan merenung sebagai tingkat peribadatan yang paling tinggi, yang lebih mengutamakan sesaat pemikiran yang sejati ketimbang tujuh puluh tahun peribadatan.

Hal itu adalah karena jenis pemikiran ini pada dasarnya menjadi penyebab bagi penghapusan kejahilan. Ia menyingkirkan tabir yang menyembunyikan kebenaran dan realitas dari ruhani manusia dan memberikan kedalaman dan keteguhan iman, dan dengan demikian tidak meninggalkan ruang bagi hojatan paham-paham sesat, adat kebiasan yang salah dan pengaruh negatif yang mungkin memasuki inti wujud manusia.

Ketika manusia sampai pada suatu fakta dan kebenaran mutlak sebagai hasil pemikiran dan renungan, ia mendapatkan suatu kekuatan kemauan yang merupakan hasil pemikiran sejati, bukan sesuatu yang didasarkan pada khayalan tak beralasan. Kemauan yang diperkuat ini memungkinkan dia mengendalikan perilakunya sendiri.

Berpikir mengubah nalar yang tak aktif menjadi nalar aktif dengan lahirnya gagasan-gagasan dan pikiran yang efektif yang mungkin sangat potensial.

Perangai moral yang baik dan buruk berakar di dalam batin manusia sebagai akibat latihan dan pengulangan. Walaupun semua itu adalah karakter yang diperoleh, pengaruhnya sama kuat dan menjangkau jauh sebagaimana sifat-sifat batin dan alami. Bilamana dibentuk oleh kebiasaan menjadi sifat dan perilaku yang stabil, dengan bekerja seperti naluri, sifat dan perilaku itu menimbulkan refleksi-refleksi batin yang dengan kuat mengarahkan perilaku manusia.

Imam Hasan al-‘Askari berkata,
Meninggalkan kebiasaan adalah seperti suatu keajaiban.[17]

Munn, dalam buku psikologinya menulis,
Dalam suatu pembahasan sebelumnya kami telah merujuk kenyataan bahwa sebagian motif yang berkembang sehubungan dengan kebutuhan psikologis nampak berfungsi tanpa kaitan semacam itu di kalangan kehidupan dewasa. Mengutip Allport lagi, ikatan yang tinggal dalam kehidupan dewasa adalah “historis, bukan fungsional”. Konsep ini juga telah diterapkan pula oleh Allport dan lain-lainnya pada membandelnya kebiasaan sekalipun motif-motif yang pada asalnya mendorong perbuatan itu tidak lagi bekerja. Nampaknya, ada saat-saatnya, bahwa kebiasaan itu sendiri telah mendapatkan status dorongan. Beberapa contoh yang mungkin diberikan tentang otonomi fungsional adalah membandelnya perilaku seksual setelah menopause, ketika kemungkinan pembuahan tidak ada lagi, membandelnya kegiatan bekerja setelah seseorang mengumpul-kan kekayaan dan mencapai kedudukan terhormat, dan dapat hidup untuk makan ketimbang hanya makan untuk hidup.

Dalam kebanyakan contoh dari otonomi fungsional yang nampak ada kemungkinan bahwa motif-motif baru telah menggantikan motif aslinya dan kebiasaan itu pada realitasnya bukanlah bekerja tanpa motivasi dari luar….

Dalam kasus-kasus otonomi fungsional… kebiasaan itu dibebaskan setidak-tidaknya dari motivasi aslinya. Kekuatan kebiasaan, di sisi lain, adalah membandelnya suatu cara khusus untuk memuaskan suatu motif tertentu. Misalnya, apabila seseorang secara teratur memuaskan rasa laparnya dengan memakan makanan yang dipersiapkan menurut suatu cara, seringkali ia menolak untuk memakan makanan yang diper-siapkan dengan cara lain.

Dengan kata lain, kebiasaan memaksa kita “menjadi roda”. Fenomena ini sering dirujuk sebagai “paksaan kebiasaan” seakan-akan begitu kebiasaan itu terbentuk, bertindak seperti dorongan yang memaksa kita meneruskan cara-cara menurut kebiasaan ketimbang mengambil cara baru untuk memuaskan motif kita.

William James mungkin agak membesar-besarkan sifat permanen dari cara kebiasaan perilaku kita, kareaa orang sering mengubah prasangka mereka, dan clalam masa peperangan atau keadaan darurat lain, orang mengubah cara hidup mereka. Namun, biasanya ada perlawanan yang kuat terhadap perubahan. Barangsiapa ingin mengubah perilaku seorang dewasa ia harus mempertimbangkan kecenderimgannya untuk mempertahankan kebiasaan yang telah terbentuk, sekalipun kebiasaan-kebiasaan itu telah kehilangan mode atau berbahaya.[18]

Pendekatan Islam
Kebiasaan adalah suatu karunia yang memberkati alam insani dan mengarahkan sebagian yang bermakna dari usaha manusia dalam bidang baru dan inovatif. Namun, walau ada peranan besarnya, bila tidak disertai kesadaran ia mungkin mengambil bentuk kecenderungan mengicuh dan menyelewengkan, yang menghasilkan kerusakan dan penyelewengan ruhani.

Ketika Islam muncul di cakrawala Arabia Jahiliah, tempat itu didominasi oleh berbagai adat kebiasaan yang merugikan yang masing-masingnya saja sudah cukup untuk menghancurkan suatu bangsa.

Di masa kelam, ketika kesadaran dan nurani manusia digelap-kan oleh adat kebiasaan keji dan menyimpang, Islam, dengan lompatan besar, yang merupakan fenomena yang tak dikenal hingga masa itu, menggoncang masyarakat itu dari keadaan tidur dan kelalaiannya dengan menyeru manusia meninggalkan adat kebiasaan serta praktek-praktek yang tak masuk akal.

Suatu masyarakat yang tenggelam dalam berbagai adat takhayul dan keji membebaskan diri dari belenggu praktek-praktek salah dan tak masuk akal melalui ajaran Nabi Muhammad saw. Walaupun ia telah berkembang di suatu lingkungan yang kosong dari setiap pengaruh edukatif atau fomatif, ia segera meninggalkan seluruh adat kebiasaan dan cara-cara para leluhurnya lalu memulai suatu kehidupan baru yang bebas dari dominasi adat kebiasaan menyeleweng dan yang mengulurkan janji kebahagiaan dan kesenangan. Metode dari pendiri Islam itu dalam membebaskan manusia dari ikatan-ikatan lingkungan sosial yang telah melumpuh-kan kepekaannya lahir batin, menggantung daya rasionalnya dan menghalangi jalan pertumbuhannya; singkatnya, dengan menyingkirkan banyak tirai spiritual yang mengaburkan pandangan. Beliau meminta perhatian manusia kepada realitas-realitas yang nyata dan dapat diamati, terutama dengan mengandalkan daya nalar dan pikiran mereka, mendorong mereka meneruskan proses pemikiran yang terhenti dengan pertolongan argumentasi dan bukti-bukti. Dengan jalan ini mereka dapat melihat realitas dan kebenaran-kebenaran rasional, dan mengungkapkan fakta-fakta.

Pada akhirnya, dengan sarana lompatan besar sejarah, masya-rakat itu mampu membebaskan diri dari kehinaan adat kebiasaan takhayul yang keji, dan manusia dibebaskan dari kejahilan dan kesesatan yang jelas.

Di masa kegelapan itu tak ada kekuatan yang dapat menghadapi adat kebiasaan yang merusak, memutuskan cengkeraman takhayul, membuka pandangan baru di balik tembok-tembok adat kebiasaan yang ada, dan menghubungkan akal manusia dengan wawasan dan realitas.

Islam mengambil suatu strategi khusus sebelum membangun masyarakat bahagia yang akan menghancurkan kekuatan adat istiadat. Ini meliputi kebiasan-kebiasaan yang berhubungan dengan pikiran dan kepercayaan maupun hal-hal yang berhubungan dengan perangai dan perilaku. Kebiasan-kebiasaan yang relatif lebih merugikan dan berbahaya—seperti syirik—diserang pertama-tama dan dihapus dengan pukulan menentukan. Kebiasan-kebiasan sosial yang buruk lainnya, yang mencengekeram pada pikiran rakyat dan terkait dengan kondisi perekonomian—seperti perbudakan, lintah darat, minuman keras—dilakukan dengan pendekatan lebih lembut secara berangsur-angsur. Dalam hal ini, Islam mengambil strategi langkah demi langkah. Akibatnya, masyarakat menjadi terlatih secara berangsur-angsur dalam pengendalian diri, dan lahan pun terbuka sepenuhnya untuk penyucian dan pendidikan ruhani, dan inilah pendekatan yang paling berhasil bagi para individu dan masyarakat.

Alexis Carrel menulis,
Pertama-tama kita harus menyingkirkan rintangan di jalan pertumbuhan ruhani. Sebelum kita bergerak maju di jalan pendidikan, kita harus membuang adat-adat dan keburukan-keburukan yang melumpuhkan pertumbuhan ruhani. Tetapi, apa yang harus kita lakukan setelah rintangan-rintangan itu disingkirkan? Sesudah itu kita harus memulai perkembangan ruhani sesuai dengan kecenderungan hidup yang sejati.

Manusia mempunyai kelebihan yang mencengangkan sehingga ia dapat, apabila ia mau, membentuk tubuh dan jiwanya dengan pertolongan kesadarannya. Namun, tugas semacam itu menuntut taktik khusus.

Orang dapat belajar mengendalikan diri sebagaimana ia dapat belajar mengemudikan pesawat terbang. Hanya orang-orang yang berkuasa atas dirinya sendiri yang dapat melakukan latihan ini. Orang harus terpelajar atau cerdas untuk mendapat-kan pertumbuhan fisik. Yang diperlukan hanyalah kehendaknya yang sungguh-sungguh. Tak diragukan bahwa tak seorang pun dapat melakukan tugas itu sendirian; setiap orang memerlukan tuntunan dan nasihat pada suatu saat dalam hidupnya. Tetapi, dalam mengembangkan dan mengatur kegiatan intelektual dan emosional, yang merupakan hakikat kepribadian, orang tak dapat memanfaatkan pertolongan orang lain.

Prinsip pertama bukanlah perkembangan daya rasional melainkan pembangunan infrastruktur emosionalnya di mana faktor-faktor fisik lainnya didasarkan. Perlunya perilaku yang lebih baik tidaklah kurang kurang daripada bagi indera penglihatan dan pendengaran.[19]

Ali as berkata,
Pada permulaan, capailah pengendalian diri melalui pemantangan dari dosa dan kejelekan. Kemudian akan mudah bagi Anda membiasakan diri Anda pada ketaatan dan peribadatan kepada Tuhan, Raihlah pengendalian atas diri Anda dengan meninggalkan kebiasan-kebiasan (buruk), dan perangilah hawa nafsu Anda sehingga tunduk kepada kehendak kemauan Anda.[21]

Islam memanfaatkan kekuatan kebiasaan sebagai suatu sarana yang efektif bagi latihan ruhani manusia dan bagi penerapan program penciptaan kebahagiaannya. Begitu ia menciptakan ikatan yang hidup antara Tuhan dan hati manusia, dan menabur-kan di dalamnya benih kebajikan dan keutamaan manusia, ia mengubahnya menjadi kebiasaan. Semua kebiasaan keagamaan bersumber dari kerinduan batin dan inti dari jiwa manusia. Lalu kerinduan batin ini diubah menjadi perilaku dan praktek spesifik dengan sisi dan ciri-ciri yang dibataskan dengan jelas. Secara berangsur-angsur ia mengambil bentuk kebiasaan yang sadar berdasarkan kesadaran penuh. Pada saat yang sama perubahan dan transformasi itu menyelamatkan manusia dari latihan yang tak tertanggungkan dan sangat melelahkan.

Masa Kanak-kanak dan Kebiasaan
Anjuran Islam mengenai pembiasaan anak-anak secara berangsur-angsur dengan kewajiban agama dan kebajikan yang lebih tinggi, dan mengekang mereka dari perilaku dosa, merupakan sarana yang amat kuat untuk menciptakan fondasi keimanan dan takwa yang kukuh dan stabil dalam kepribadian ruhaninya. Penerapan program pendidikan semacam itu ke ukuran yang cukup besar akan menetralisasi efek-efek lingkungan di tahun-tahun kemudian.

Nabi saw berkata,
Biasakanlah anak-anak Anda salat ketika mereka mencapai usia tujuh tahun.[22]

Imam Zainal ‘Abidin as-Sajjad as ketika menasihati anak-anaknya, berkata,
Janganlah berdusta dalam urusan besar maupun kecil, dalam senda gurau maupun percakapan serius, karena bilamana seseorang berdusta dalam soal-soal sepele maka ia akan terdorong untuk berdusta dalam urusan besar pula.[23]

Imam as-Shadiq as biasa mengatakan,
Berikanlah pendidikan agama kepada anak-anak Anda sedini mungkin dan sebelum lawan-lawan Anda mendahului Anda menanamkan gagasan-gagasan yang salah dan palsu dalam pikiran mereka.[24]

Bertrand Russel mengatakan,
Setiap kebiasaan buruk yang diperoleh adalah suatu rintangan bagi kebiasan yang lebih baik, itulah sebabnya maka sangat penting pembentukan pertama kebiasaan di usia dini kanak-kanak. Apabila kebiasan-kebiasaan pertama itu baik, kesulitan yang tak berkesudahan di kemudian hari dapat dicegah. Lagi pula, kebiasaan yang diperoleh sangat dini akan terasa di kehidupan nanti sebagai naluri; kebiasaan-kebiasan itu mempunyai cengkeraman yang sama kuat. Kebiasan-kebiasan baru yang bertentangan, yang diperoleh kemudian, tak dapat memperoleh kekuatan yang sama; karena alasan ini juga maka kebiasan-kebiasaan pertama harus menjadi keprihatinan yang sungguh-sungguh.

Keutamaan Manusia yang Paling Khas
Ada banyak dorongan yang berakar pada watak manusia yang masing-masingnya memainkan peranan penting dalam kesejahtera-an dan perkembangannya. Kekuatan terbesar yang menggerakkan roda kehidupan dan memotivasi para indhddu berasal dari dorongan yang bersumber di dalam dirinya.

Selama hayat dikandung badan, manusia tak berhenti berhasrat, dan api hawa nafsu terus menyala di dalam hatinya. Seluruh kesulitan yang berkelanjutan dan sakit yang dipikul dan ditanggungnya, adalah demi memuaskan hasrat-hasrat hatinya. Segera setelah satu hasrat hawa nafsunya dipenuhi, yang lainnya muncul dalam hatinya, mendorong tubuhnya untuk bertindak dan berusaha, dan memaksa dia memulai kegiatan dan usaha baru.

Manusia tak dapat menemukan jalan kebahagiaan semata-mata melalui bimbingan alami. Di sisi lain, hewan menempuh jalan perkembangannya melalui tuntunan bawa dengan mengandalkan naluri, yang dengan pertolongannya hewan mengatur dan mendi-siplinkan kehidupannya. Nalurilah yang menetapkan fungsi-fungsi setiap spesies hewan sesuai dengan hukum-hukumnya; mereka tidak memerlukan pendidikan dan latihan untuk mengetahui bagaimana mengatur kehidupannya. Namun, bagi manusia, naluri tidak mampu mengambil peran pengaturan itu dan melindungi dia dari penyimpangan dan kehancuran. Akal dan pikiranlah, tuntunan manusia yang terutama, yang membedakan dia dari hewan dalam menunjukkan kepadanya jalan kehidupan. Melalui akal dan pikiran manusialah dapat mengenali jalan kebahagia-annya dan mengarahkan usaha-usahanya ke tujuan itu, hingga ia mencapai tujuan tertinggi yang patut baginya.

Kafilah umat manusia maju dengan bimbingan akal dan pikiran dan dengan pertolongan nalarlah manusia menyelesaikan masalah-masalah kehidupannya, menaklukkan medan baru setiap hari dalam perjuangannya menghadapi permasalahan yang disodorkan alam. Di medan peperangan besar di dalam ruhani manusia selalu berlangsung suatu pertempuran alot antara akal dan naluri. Kedua kekuatan itu terlibat dalam pertempuran sengit di mana masing-masingnya berusaha menaklukkan yang lainnya. Supaya kita dapat mengambil manfaat dari kekuatan-kekuatan batin kita dan tetap aman dari kerugiannya, kita harus menakluk-kan naluri ke bawah dominasi akal, ke mana semua dorongan, impuls dan motif kita harus menyerah dalam ketaatan penuh. Akallah yang merupakan aset kita yang paling berharga yang mengungkapkan kepada kita bahaya-bahaya sesungguhnya yang kita hadapi dan memberikan kepada kita tatanan dan disiplin kepada kehidupan dengan mengajari kita jalan yang benar tentang penggunaan kekuatan batin kita.

Tentu saja, intensitas hawa nafsu tidak sama pada berbagai tahap kehidupan dan karakter, dan konfigurasi dari dorongan dan motif kita berubah-ubah menurut usia, kondisi dan keadaan.

Sebagaimana mungkin bagi manusia untuk meletakkan dasar-dasar kesejahteraannya pada basis akal dan kemauan tanpa mem-biarkan bahaya musuh internal mndominasi jiwanya, mungkin pula ia ditaklukkan oleh kekuatan dorongan-dorongan pemberontak dan pada akhirnya tenggelam di kancah gelap kerusakan dan kebusukan yang mengerikan. Dari itu apabila ia tertarik pada kesejahteraannya sendiri, ia harus membangun suatu perisai yang kukuh untuk melindungi jiwanya dari kejelekan dorongan-dorongan yang mengelabui, dan merencanakan jalannya sejak awal mula. Ia harus mengetahui ke mana akhir lorong yang ditempuh-nya sehingga dengan memberikan suatu sistem kepada pikiran-pikirannya ia dapat menjalani musim semi kehidupan dalam naungan kebajikan dan takwa; karena tanpa pengorbanan dan ketabahan, yang hakiki bagi kehidupan, tidaklah mungkin menja-lani kehidupan yang suci dan terhormat.

Orang yang memberikan kepedulian khusus pada prinsip-prinsip kebajikan manusia dari awal kehidupan rasionalnya akan terbiasa menjauhkan keburukan, dan mengembangkan kemam-puan spiritualnya sebaik-baiknya. Baginya kelanjutan dari kebijakan-nya pada tahap-tahap kehidupannya yang lebih dewasa akan lebih mudah. Setelah melewati dengan selamat medan-medan masa muda, bahaya penyelewengan akan berkurang, dan orang itu akan menjadi agak kebal dari pengaruh kerusakan.

Suatu kebebasan mutlak sekaitan dengan pemenuhan hasrat batin, selain meninggalkan kejahatan dan efek-efek yang tidak diinginkan padajiwa dan kepribadian individu, juga melemahkan fondasi-fondasi keamanan sosial sendiri. Dari itu, untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan pribadi, maupun untuk melindungi ketertiban masyarakat, perlulah kita mengabaikan sebagian dari hasrat hawa nafsu kita.

Alexis Carrel berkata,
Kita belum belajar untuk menyerah kepada hukum kehidupan sebagaimana kita menyerah kepada hukum alam tentang fisika dan gravitasi. Ada suatu konflik tragis antara kebebasan manusia dan hukum-hukum alam di mana manusia modern menjadi mangsanya, karena manusia menghendaki otonomi mutlak. Meskipun demikian, ia tak dapat memanfaat-kan kemerdekaannya melampaui batas-batas yang diperkenankan tanpa bahaya.

Kebebasan, seperti dinamit, adalah suatu sarana efektif tetapi berbahaya yang cara penggunaannya harus dipelajari. Untunglah, orang yang dapat memanfaatkannya adalah yang memiliki akal dan kemauan. Sesuai dengan itu, penyerahan kepada hukum alam ini melibatkan pembatasan kebebasan kehendak. Mustahil hidup tanpa tata tertib batin.

Konflik antara kebebasan manusia dan akibat-akibat dari hukum alam memestikan pendidikan disiplin diri. Supaya kita dapat menyelamatkan diri dan keturunan kita dari bencana kekacauan, kita harus melawan banyak keinginan, harapan dan hasrat kita. Keserasian dengan tatanan alam semesta tidak akan mungkin tercapai tanpa pengorbanan, dan pengorbanan adalah suatu hukum kehidupan. Adalah dengan menahan diri dari memenuhi sebagian hasrat maka kesehatan dan kekuatan kita dapat diamankan. Kebesaran, keindahan dan kesucian tak akan ada tanpa pengorbanan.

Setiap orang harus berkorban, karena berkorban adalah salah satu kebutuhan hidup. Kebutuhan itu muncul sejak masa ketika naluri menyerah kepada pikiran bebas pada diri nenek moyang kita. Setiap waktu manusia menggunakan kekebasan total, ia melanggar hukum-hukum alam dan menghadapi hukuman berat.[26]

>Manusia Bergerak Ke Arah Kesempurnaan 1

>

Setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini, dalam lingkungan individual atau sosial apa pun, menginginkan kesempurnaannya sendiri sesuai dengan watak dan akal bawaannya. Ia menanggung segala macam penderitaan dan kesukaran demi harapannya akan masa depan yang lebih cerah. Titik tolaknya adalah kekurangan, dan gerakannya diarahkan kepada kesempurnaan. Ia tumbuh dan berkembang dengan setiap langkah maju di jalan kesempurnaan. Akal dan ruhani manusia memberikan suatu kedalaman, kekuatan dan kecepatan yang sedemikian rupa kepada gerakannya menuju kesempurnaan, sehingga tidak ada batas waktu atasnya kecuali kekekalan itu sendiri.

Cinta yang fitriah bagi kesempurnaan adalah kuat dalam diri manusia, dan hal itu pun terdapat pada hewan. Mereka mengatasi setiap rintangan yang mereka temui di jalannya, mengelakkan segala sesuatu yang mereka anggap merugikan, dan maju ke arah tujuan-tujuan nalurinya. Dapatlah dikatakan bahwa semua fenomena yang ada di alam, dari zarah atom yang teramat kecil sampai ke dunia galaksi yang dahsyat, semua adalah bagian dari kafilah ini.

Seorang ilmuwan berkata,

Tanaman gandum telah diberi suatu gerakan yang memung-kinkan dia memberikan hasil yang lebih besar, dan mawar merah diberi suatu gerakan yang memberikan kepadanya keindahan dan keharuman. Manusia juga mempunyai suatu gerakan yang dengan itu ia maju di jalan kebijaksanaan dan cinta. Maka apabila kita mengamati suatu penyakit tertentu yang mempengaruhi pertumbuhan gandum atau keindahan dan aroma mawar, atau kemurnian jiwa seorang manusia, kita tidak boleh mengaitkannya pada gerakan itu sendiri melainkan pada suatu penyebab yang berlawanan yang timbul dalam kerangka gerakan.

Sekarang kita dapat memahami sampai sejauh mana kata ‘maksud‘ membantu kita berpikir secara wajar. Kata itu membuat kita mengerti bahwa alam semesta, di mana kita termasuk sebagai suatu anggota kecil, adalah bermoral dan sadar, bahwa kita tidak hidup dalam suatu kosmos yang gelap dan serampangan, bahwa tentulah ada suatu penggerak di balik semua gerakan ini, dan bahwa ada suatu kesadaran dan akal besar di balik semuanya. Itu cukup untuk meyakinkan kita bahwa hidup adalah sesuatu yang besar dan mulia, dan di sinilah kita dapat—setidak-tidaknya—mempersiapkan diri kita untuk bekerjasama dengan ruh kesadaran dunia, dengan mengetahui bahwa menentangnya akan merugikan kehidupan kita.

Perkembangan fisik manusia terletak di luar kemauannya, sedang perkembangan ruhaninya mengikuti kemauan. Karena itu maka tidaklah pantas bagi manusia untuk menyimpang dari jalur umum evolusi alam semesta dan tertinggal dari sistem kemajuan kosmos. Jelaslah bahwa perkembangan dan kesempumaan batin adalah imaterial. Eksperimen dan kajian tentang fisika mengantarkannya untuk mengadakan temuan-temuan yang berwatak material, tetapi ia tak pernah akan dapat menempatkan dirinya di jalan kesempumaan dan mencapai puncak pendakian spiritual dengan sarana metode-metode fisika itu.

Supaya sebatang pohon dapat mewujudkan potensi penuh dari pertumbuhannya, ia harus terbebas dari rintangan-rintangan bagi pertumbuhannya, seperti gulma dan batu-batuan, dan beroleh hal-hal bermanfaat seperti air, sinar matahari dan udara, yang hakiki bagi pertumbuhannya. Manusia pun, dalam proses pengembangan berbagai dimensi dari wujudnya (tubuh, ruhani, dan akal) harus memperlengkapi dirinya dengan faktor-faktor yang potensial yang menyumbang bagi pendakiannya ke arah kekekalan dan keabadian.

Yakni, ia harus menggunakannya sebagai sarana yang menolong dia mencapai tujuannya dan memerangi faktor-faktor yang mengganggu gerakannya ke arah tujuan itu.

Manusia harus mengatur dimensi-dimensi wujudnya dalam berbagai arah sedemikian rupa sehingga memungkinkan dia memenuhi semua tuntutan dan kebutuhan material dan spiritual-nya, dan hidup secara pantas dengan mendasarkan hidupnya pada suatu rencana yang disusun dengan tepat dan akurat. Ia harus membangun suatu masyarakat yang tertib yang bebas dari konflik, kelaliman, agresi, kejahilan dan dosa, di mana manusia dapat mencapai kesucian, cahaya dan keluhuran aqliah, dan mencapai puncak-puncak tinggi kemanusiaan.

Wujud manusia adalah suatu kumpulan gejolak dari berbagai dorongan. Dorongan-dorongan ini dalam keadaannya yang alami dan berimbang tidaklah sia-sia atau merugikan, bahkan setiap bagian darinya memainkan peranan vital dalam bangunan spiritual manusia. Namun, pemuasan yang tak terkendali dan tak terkekang dari dorongan-dorongan ini bertentangan dengan perkembangan. Apabila dorongan-dorongan ini dibiarkan bebas tak terkendali dalam diri manusia, ia akan menjadi budak dari dorongan-dorongan dan hawa nafsunya yang buas dan primordial. Dengan jatuh dari puncak ketinggian ia akan tenggelam ke payau kemerosotan dan kehancuran. Seekor binatang mengikuti dan tunduk kepada dorongan-dorongan hawa nafsunya, tetapi manusia setia kepada kepentingan dan taat kepada akalnya. Ia mempunyai kekuatan untuk melawan kecenderungan-kecenderungannya yang merugikan, dan mengukuhkan kecenderungan-kecenderungannya yang bermanfaat dan menguntungkan. Karena, sebagaimana naluri fisik muncul dari watak manusia, demikian pula impuls-impulsnya yang positif, ramah dan pencari kebenaran berasal dari dalam wujudnya, menimbulkan kekuatan spiritual yang melimpah, besar bak raksasa, yang dapat melahirkan kesucian, kehormatan, kekuasaan dan kesalehan.

Penyucian Diri sebagai Sarana Perkembangan
Tak diragukan, bahwa apabila seseorang hendak mengikuti prinsip yang pasti dalam kehidupan yang berwatak religius atau bukan ia harus mengambil pendekatan yang terdefmisi dengan baik. Untuk mengambil suatu pendekatan yang terdefinisi dengan baik, amatlah penting memilih satu tujuan tunggal dan bergerak ke arah yang tunggal.

Oleh karena itu orang harus mengelakkan keterlibatan-keterlibatan yang mungkin sesuai dengan hasratnya yang sesaat tetapi bertentangan dengan prinsip-prinsip dan tujuan hidupnya. Dari itu pengendalian dan pendisiplinan diri adalah hakiki yang penting dalam kehidupan setiap orang yang hendak menjalani kehidupan manusiawi yang rasional. Manusia adalah makhluk yang dilengkapi dengan kekuatan aqliah dan mempunyai hasrat dan hawa nafsu yang tak terbatas. Apabila ia tak mengenal kendali dalam kehidupan, ia dapat menjadi binatang buas yang menyebabkan kehancuran besar.

Kesempurnaaan dan kebesaran manusia tidak bergantung pada masalah fisik, yang hanya dapat mempengaruhinya pada bidang jasadi. Kemajuan ilmiah tidak menimbulkan perbaikan pada seluruh aspek manusia. Kesempurnaan manusia yang sesungguhnya terletak pada pembebasan dirinya dari ikatan hawa nafsu yang khayali dan kesenangan jasadi dalam gerak maju di jalan kemanusiaan dengan mendidik daya rasanya, mendisiplinkan dirinya dan mengenal gagasan-gagasan yang lebih tinggi serta cakrawala yang lebih luas.

Gagasan tentang suatu kebaikan tertinggi berakar mendalam pada ruhani manusia; apabila tidak demikian maka manusia tidak akan menjadi pencarinya di masa kanak-kanaknya dan tidak pula ia akan mampu terbang di cakrawalanya yang luas. Sinar dari nilai-nilai luhur demikian menarik sehingga manusia jatuh cinta kepadanya dengan sukarela dan mengejarnya atas kehendak sendiri. Ada suatu hasrat untuk memperoleh kekuatan dari kedalaman batin seseorang yang diikuti oleh usaha untuk mendapatkannya. Semua ini adalah indikasi dari kenyataan bahwa cinta pada kesempurnaan berakar mendalam pada ruhani manusia dan mengungkapkan dirinya begitu timbul suatu kesempatan yang sesuai.

Otot-otot menjadi kuat sebagai akibat latihan. Demikian juga halnya bagi kemampuan ruhani, yang menjadi kuat akibat latihan dan usaha sungguh-sungguh, dengan perbedaan bahwa tenaga fisik manusia terbatas; kekuatan serta kemampuannya dibatasi oleh kemampuan saraf dan sel-sel tubuh. Namun, keajaia\ban-keajaiban yang diungkapkan oleh sejarah umat manusia merupakan manifestasi dari kekuatan jiwa yang telah dibebaskan, yang pertumbuhannya adalah akibat pembebasan berangsur-angsur dari batas-batas dan rintangan material. Cakrawala pengetahuan diri dan kesadaran diri hanya meluas bilamana disadari bahwa ruhani manusia adalah suatu karya utama agung dari penciptaan.

Ia mengungkapkan dirinya dalam pertunjukan kekuatannya, dalam dinamismenya, dominasinya atas hal-hal material, dan terutama dalam kapasitasnya untuk mengangkat manusia dari kedalaman titik kerendahan kelemahan dan ketidaksempurnaannya kepada ketinggian persatuan dengan Ilahi.

Tentu saja, sebagaimana tubuh dipaksa untuk mengalami sejumlah kesukaran tertentu untuk memenuhi fungsinya yang vital, begitu pula ruhani harus berusaha dengan pahit getirnya dalam rangka pengembangan moral. Semua konsep dan prinsip yang berbagai ragam dalam bidang pembangunan karakter berkisar di seputar poros jiwa atau ruhani. Ruhanilah yang mampu memperbaiki dan berdisiplin. Ruhanilah yang mampu mencapai keluhuran dan mendapatkan sifat-sifat manusiawi dan kecemerlangan yang lebih tinggi, yang mencintai kesempurnaan ruhani. Dan akhimya, ruhanilah yang membangkitkan serangkaian hukum etika bagi manusia, yang tidak dimiliki dan tidak dicapai hewan.

Dr. Alexis Carrel, ilmuwan Prancis, mengatakan,
Kita harus membiasakan diri untuk membedakan antara baik dan buruk dengan usaha yang sama sebagaimana kita membedakan cahaya dan kegelapan, dan antara kebisingan dan kebungkaman, kemudian menetapkan diri kita untuk mengelakkan keburukan dan merangkul kebajikan. Namun, pemantangan dari keburukan memerlukan kesehatan tubuh dan jiwa. Pertumbuhan yang bertujuan dari tubuh dan jiwa tidaklah mungkin tanpa bantuan penyucian diri.

Bagi orang-orang yang mencari pendidikan ruhani, tak ada jenis keistimewaan yang diperkenankan. Tatanan batin selalu mempunyai aturannya sendiri. Keadaan fisiologis dan psikologis merupakan basis hakiki kepribadian, seperti papan loncatan dari mana jiwa dapat melakukan penerbangannya.

Jalan pembinaan itu terarah ke atas, dan para musafir kebanyakan terpeleset ke dalam payau-payau atau jatuh ke jurang di tengah perjalanan, atau tertinggal di belakang di sisi taman-taman tepi kali lalu tertidur dengan nyenyak tanpa berkesudahan, dalam kebahagiaan atau penderitaan, dalam keberlimpahan atau kemiskinan, sehat atau sakit. Tetapi bagaimanapun juga, orang harus berusaha dan bangkit berdiri di atas kakinya sendiri setiap kali ia terjatuh, dan sedikit demi sedikit, mendapatkan semangat, keimanan dan kemauan untuk bercita-cita serta semangat saling bantu, kemampuan untuk mencintai, dan pada akhirnya mencapai keselamatan.[3]

Ada suatu kekosongan dari keseimbangan, tatanan dan neraca yang tepat di dunia sekarang ini antara individu dan masyarakat dan antara tubuh dan ruh. Ketika manusia mengizinkan keistimewaan manusiawinya untuk tetap terlena dan menekan aspek-aspek yang halus, vital, dan kritis dari wujudnya sendiri, yang merupakan bagian yang perlu dari kedudukannya yang khas sebagai khalifah Tuhan di panggung dunia, ketika ia menolak martabat manusiawinya walaupun ia dicipta sebagai manusia, mencemooh watak karunia Tuhannya dan akhirnya memprogramkan hidupnya atas dasar hedonisme dan perburuan hawa nafsu, yang sampai ke tahap penyangkalan terhadap wujudnya sendiri. Bilamana hal itu terjadi, tak terelakkan bahwa watak pemberian Tuhan itu akan menyebab-kan kerusakan parah karena pemikirannya yang tak berprinsip dan perilakunya yang tolol, dan menimpakan pembalasan dendam yang akan menghancurkannya.

Sekarang ini umat manusia sedang membayar kompensasi berat atas perilakunya dalam urusan perdamaian, kebahagiaan dan ciri-ciri khas manusiawi yang hakiki. Efek dari kelainan dan salah perilaku ini muncul dalam bentuk berbagai jenis kejahatan dan penyelewengan. Dalam masyarakat masa kini barangkali tak ada menit berlalu tanpa perbuatan keji dan kejahatan seperti perzinaan, pemerkosaan, pencurian dan sebagainya. Ini salah satu masalah besar bangsa-bangsa di dunia sekarang dan harus dipandang sebagai suatu krisis manusia terbesar dalam dimensi mendunia (global—peny.). Jumlah pengeluaran tahunan yang dibelanjakan untuk mencegah kejahatan, atau tentang pencarian, pelaksanaan pengadilan dan hukuman bagi para penjahat, sungguh mencengangkan.

Salah satu faktor penyebab merajalelanya sikap tak berperasaan dalam hubungan antar manusia, penyebaran kekejaman, dan semakin meningkatnya kekebalan moral hari demi hari di masyarakat Barat, terletak pada jalan berpikir sebagian guru dan filosof. Nietzsche, filosof Jerman terkenal, mendasarkan falsafahnya pada sikap tak menaruh belas kasihan dan keunggulan rasial, yang menjadi motif di balik pertumpahan darah keji, peperangan yang menghancurkan di abad kedua puluh. Beginilah logika filosof Barat itu, Belas kasihan melawan emosi perangsang yang meninggikan vitalitas kita; belas kasihan mengandung efek memuramkan. Kita kehilangan kekuatan bilamana kita merasa kasihan…

Sangat umum, belas kasihan menyilang hukum perkembangan, yang merupakan hukum seleksi. Ia memelihara apa yang telah matang untuk kehancuran, ia membela orang-orang yang hak warisnya telah dicabut dan dikutuk oleh hidup, dan dengan berlimpah-limpah kegagalan dari segala macam yang dihidup-hidupkannya, ia memberikan aspek suram dan meragukan kepada kehidupan….

Belas kasihan adalah praktek nihilisme. Diulangi: naluri yang depresif dan menular itu membangkitkan naluri-naluri yang bertujuan mempertahankan hidup dan peningkatan nilai-nilainya. Itu melipatgandakan kemelaratan dan mengawet-kan segala yang menyengsarakan, dan dengan demikian ia merupakan instrumen pertama dari laju kemerosotan.[4] Suatu moralitas altruis—moralitas di mana kepentingan diri menjadi lesu—tetap merupakan suatu tanda buruk dalam segala keadaan. Ini berlaku bagi individu; ini berlaku bagi bangsa-bangsa. Yang terbaik berkurang ketika kepentingan diri mulai menuran. Secara naluri memilih apa yang merugikan bagi diri sendiri, merasa tertarik oleh motif-motif yang “tidak berkepen-tingan”; itulah tepatnya formula dari kemerosotan… Zaman-zaman yang kuat, kultur yang mulia, memandang belas kasihan, “cinta-tetangga” dan ketiadaan cinta diri dan peyakinan diri sebagai sesuatu yang patut dihina…[5]

Kesenangan sensual, hawa nafsu untuk kekuasaan, keakuan: ketiganya hingga kini telah paling dikutuk dan dipandang yang terburuk dan paling tak adil—ketiga hal ini akan saya pertimbangkan dengan baik secara manusiawi.[6]

Penyebab Kejahatan
Penyebab kejahatan maupun karakter para penjahat perlu dikaji untuk melihat apakah mereka memang begitu menurut watak dan kelahirannya. Apakah mereka yang dicemari oleh berbagai kebejatan moral dan kejahatan memang dilahirkan dengan kecenderungan itu ataukah kejahatan mereka berasal dari suatu penyakit spiritual? Apabila ya, bagaimanakah penyakit itu dapat diperlakukan!

Sebagian pakar dalam bidang itu percaya bahwa sekelompok penjahat pada dasarnya memang dilahirkan dalam keadaan jahat. Orang-orang jenis ini bahkan mempunyai karakteristik abnormal lahiriah tertentu yang membedakan mereka dari orang lain. Mereka, konon, adalah para penjahat menurut wataknya. Lombroso, kriminolog terkenal asal Itali, adalah pembela yang kuat teori ini. Teorinya mendapat banyak pengikut dan diterima dengan perhatian besar oleh para penulis sezamannya.

Tak diragukan bahwa manusia adalah makhluk yang dapat menerima pendidikan moral. Ia melaksanakan sebagian dari tindakannya atas kehendak bebasnya sendiri; dan dengan kehendaknya sendiri ia menahan diri dari melakukan hal-hal tertentu. Makhluk semacam itu tentulah harus dianugerahi kehendak bebas; bila tidak demikian maka sia-sia menasihati dan mengajari makhluk yang tindakannya sama sekali telah ditentukan, yang tidak mempunyai kemauan sendiri dan tak mempunyai kendali atas dirinya sendiri. Para pemikir yang kompeten memandang manusia bebas dalam tindakannya, dan bertanggung jawab atasnya.

Para guru moralitas dan etika mendasarkan ajaran moral mereka dan usaha pendidikan mereka yang dimaksudkan untuk membawa kesejahteraan bagi manusia atas pendekatan yang sama, yakni berdasarkan resep yang terdiri dari perintah dan larangan, dan meminta mereka mempelajari hal-hal tertentu serta menahan diri dari perbuatan-perbuatan tertentu untuk mencapai kesejahteraan pribadinya.

Apabila seseorang mempelajari keadaan anak-anak nakal di lembaga-lembaga pemasyarakatan, penjara dan rumah sakit jiwa, akan kedapatan bahwa mereka itu dibesarkan dalam keluarga yang moralnya tercemar atau terlantar dan tidak mempunyai pengalaman pribadi tentang kelurusan moral dan kesucian.

Seperti kelompok hewan yang tidak merasa terkendali dalam melakukan kejahatan atau pelanggaran apa pun, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang membuka matanya dalam keluarga yang tidak mempunyai kehangatan emosi dan kebajikan moral, dan tercemar kebejatan, atau mereka itu telah hidup dalam lingkungan sosial yang jorok. Keluarga dan faktor-faktor sosiallah yang menyebabkan mereka memilih kejahatan dan keburukan ketimbang kebaikan dan kesucian.

Etika and Pertumbuhan Spirtual
Sayid Mujtaba Musawi Lari
http://www.musavilari.org/html/20/book/04/index.htm

Kebangkitan INTI NAQS

Reiki NAQS adalah sebuah revolusi di bidang spiritualitas yang dapat membantu meningkatkan spiritualitas seseorang dengan cara yang mudah dan cepat. Karena energi spiritual yang diberikan adalah bukan hasil karya cipta manusia, namun merupakan sebuah Energi Ilahiah yang berasal dari Sumbernya langsung yaitu Tuhan itu sendiri.

Bola Energi Alam Semesta

Energi ini merupakan energi asal mula dan sumber kejadian makhluk hidup dan alam semesta. Di awal penciptaan alam semesta, Tuhan menciptakan sebuah Bola Energi Awal yang di sebut Telur Jagad (ANTIGA) dan ada yang menyebutnya dengan Nur Muhammad. Bola Energi ini kemudian memancar dalam sebuah spektrum cahaya (Energi) yang mempunyai getaran dan frekwensi yang berlapis-lapis. Dan terciptalah Alam Semesta dengan tingkat spektrum energi yang bertingkat ( 7 lapis langit dan 7 lapis bumi). Dan lapisan yang terluar (Kulit/Residu) atau paling bawah dari spektrum energi ini adalah Dunia Fisik (Alam Materi) tempat kita berada saat ini.

Nur Muhammad adalah Inti Energi alam semesta, baik alam makrokosmos maupun alam mikrokosmos. Inti dari sel dan atom, yang keberadaannya masih belum bisa dideteksi oleh tekhnologi modern. Sehingga masih tergolong dimensi alam ghaib, karena baru diketahui secara metafisik.

Walaupun asal kejadian kita adalah dari Energi Awal ini, tidak serta merta kita bisa merasakan keberadaan tingkat tertinggi dari Hirarki Spektrum Energi ini. Karena sedemikian kuatnya lapisan mantel hijab duniawi kita yang diakibatkan oleh tertutupnya kesadaran kita.

Kesadaran manusia sejak lahir telah terbiasa dengan alam materi, nalurinya telah mengajarkannya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisiknya. Inilah kesadaran primitive manusia. Kesadaran untuk menyadari adanya kekuatan yang lebih tinggi dan lebih besar dari dirinya diperoleh ketika dia telah dewasa.

Filosofi Alif Laam Miim ( الم )

Perlu digaris bawahi bahwa, Filosofi ini adalah sekedar tafsiran menurut bahasa kami, Arti yang sebenarnya hanya Tuhanlah yang Maha Tahu.

Simbol ini adalah landasan filosofi dari Reiki NAQS. Menggambambarkan anatomi struktur alam semesta dan hubungan antara manusia, alam semesta dan Tuhan. Alif melambangkan eksistensi Tuhan. Dan lingkaran bulat mim, melambangkan inti semesta atau Nur Muhammad. Inti ini mempunyai dua sayap, yaitu ke atas menjangkau langit. Dan ke bawah menjangkau bumi.

Lam adalah sayap mim yg menjangkau ke langit. Mim tanpa lam maka hanya bersifat duniawi. Namun ketika lam ditempelkan dg mim, maka mim bisa menjangkau langit. Lam adalah simbol pemusnahan sifat material semesta yg terungkap dalam kalimah la ilaha ilallah dan la haula wala quwwata illa billah.

Dalam literatur lain dijelaskan juga bahwa "Alif" adalah Allah, "Lam" adalah JibriL dan "Mim" adalah Muhammad.Atau "Alif" misalnya dari kata Allah, "Lâm" dari kata "Lathif", "Mîm" dari "Majid"(www.mail-archive.com/gorontalomaju2020@yahoogroups.com/msg05376.html)

MAKNA LAM 

Hakikat Penghambaan
Bila Nur Muhammad adalah inti orbit dari Dzat Materi maka Nur Allah adalah inti orbit dari Nur Muhammad. Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau ~ “ Nur Illahi beriring dengan Nur Muhammad, yang diberikan-Nya pada orang-orang yang dikehendakiNya”

Hakikat penghambaan adalah tetapnya manusia di dalam garis edar orbit yang sebenarnya. Yaitu berpusat kepada inti orbitnya. Sebagaimana partikel atom yamg mengorbit pada inti atom, ketidakpatuhan terhadap hukum ini menyebabkan kehancuran dan terurainya susunan partikel sel. Orang yang mengingkari (kafir) terhadap realitas ini maka dia tidak lebih daripada berusaha untuk mempersulit dirinya sendiri dan terjebak pada suatu perbuatan yang sia-sia.

Hakikat Kepasrahan
( لاَ ) Lam Alif dalam kalimah La Ilaha Illallah dan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh. Menunjukkan adanya huruf Alif yang mensifati huruf Lam, ini artinya bahwa daya kepasrahan manusia tak akan ada artinya bila tanpa petunjuk dan hidayah dari Tuhan. Semua tekhnik dan metode buatan manusia yang ditujukan untuk mememperoleh keadaan pasrah dan berserah diri (Rileksasi dan Meditasi) tidak akan membawa hasil yang maksimal, bila tanpa adanya campur tangan Tuhan di dalamnya.

Laa adalah nafiyah lil jins (Meniadakan keberadaan semua jenis kata benda yang datang setelahnya). Misalnya perkataan orang Arab “Laa rojula fid dari” (Tidak ada laki-laki dalam rumah) yaitu menafikan (meniadakan) semua jenis laki-laki di dalam rumah. Sehingga laa dalam kalimat tauhid ini bermakna penafian semua jenis penyembahan dan peribadahan yang haq dari siapapun juga kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (Ustâdz Hammâd Abû Mu’âwiyah @www.scribd.com/doc/12771717/Makna-Sebenarnya-Dari-Kalimat-Tauhid-La-Ilaha-Illallah)

 Filosofi Alif Lam Ro' الَر

Risalah ( الَر )
Tanpa adanya pertolongan dari Tuhan, maka mustahil manusia dapat menemukan kembali jalan untuk kembali. Oleh karena itulah Tuhan menurunkan para nabi dan Rasul sebagai penyampai risalah petunjuk bagi umat manusia. Untuk memberikan peringatan, mengingatkan kembali kepada manusia tentang hakikat jati dirinya.

Tanpa adanya Risalah petunjuk Tuhan maka manusia akan berada di tempat kegelapan, mereka akan tetap di alam primitive mereka. Sedangkan Nuraninya menuntut dia untuk mencari jawab atas Kekuatan Rahasia dibalik alam semesta.  Maka merekapun mencari-cari di sekitarnya apa yang patut mereka jadikan sesembahan, maka terjadilah animisme dan dinamisme, penyembahan terhadap roh dan benda mati.

Ro' mengandung makna Risalah dan Rasulullah (Utusan Allah, Sang Pembawa Risalah).
Tuhan kita memiliki nama Ar Rasyid atau Allah Yang Maha Tepat Tindakan-Nya. Kata ar-rasyid tersusun dari huruf ra', syin, dan dal, yang makna dasarnya adalah ketepatan dan lurusnya jalan. Dari makna ini lahirlah kata rusyd atau manusia yang sempurna akal dan jiwanya. Dengan kesempurnaan ini, ia mampu bertindak dan bersikap secara tepat. Susunan huruf ini melahirkan pula kata mursyid yang artinya memberikan bimbingan atau petunjuk dengan cara tepat. Jadi ada yang disebut mursyid, maka ia adalah orang yang tepat untuk menunjukkan ke jalan yang tepat dengan cara yang tepat pula.

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. ( QS. Ibrahim 14:1 )

Energi Ilahiah Nuurun 'Ala Nuurin

Sekarang apa yang dibawa oleh Sang Pembawa Risalah..?

1. Cahaya & Kitab
“Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya dan kitab yang menerangkan”. (QS. Al-Maaidah, ayat 15)

 Tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. (QS-Asy Syuura 42; 52)

Bagi yang tidak mendalami konsep energi metafisika, maka cahaya ini di artikan sekedar sebagai sebuah petunjuk atau Hidayah yang datang dari Tuhan. Namun bagi kami para ilmuwan Metafisika, tidaklah berpandangan demikian.  Cahaya yang dimaksud itu adalah sebuah energi Ilahiah yang Sumber Cahayanya berasal dari Cahaya Abadi yaitu Nur Allah. Kesimpulannya, Tuhan menurunkan dua jenis kitab. Yaitu kitab yang tidak berhuruf dan kitab yang berhuruf. Kitab yang tidak berhuruf itulah Cahaya Ilahiah Nuurun 'ala Nuurin.

Cahaya Ilahiah inilah yang menjadi sarana bagin seorang manusia  untuk mendapatkan akses kembali kepada inti dirinya yaitu Nur Muhammad. Menjadi jembatan penghubung antara lapisan terluar dari Spektrum Energi dengan Inti Energi.Cahaya Ilahiah ini adalah sebuah energi murni, di dalamnya terkandung semua kualitas terbaik dari 99 jenis Cahaya Alam semesta.Cahaya Ilahiah ini jugalah yang mempunyai kemampuan untuk memurnikan tubuh manusia. Oleh karena itulah energi ini sangat tepat digunakan untuk kultivasi energi.

2. Cahaya Al-Furqon
Dalam terjemahan Al-Qur’an bahasa Indonesia, Al-Furqan diartikan sebagai pembeda; yang membedakan antara hak dan batil. Pada beberapa buku tafsir dijelaskan bahwa Al-Furqan ini merupakan sifat yang mempunyai potensi atau kemampuan membedakan sesuatu secara terperinci sehingga ia dapat mengungkapkan dengan jelas rahasia yang tersembunyi di balik sesuatu itu. Kalau boleh dikatakan, dia bukan saja mampu membedakan hal yang sudah jelas, misalnya antara hitam dengan putih, tetapi dia mampu membedakan yang mirip atau samar bagi kita, karena semuanya sudah terungkap dengan jelas dan terperinci sehingga tidak ada satu pun yang tertinggal dan terabaikan.

Untuk mendapatkan makna yang hakiki dari suatu kitab suci tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan nalar dan intelektual saja, tetapi lebih dari itu, ia memerlukan perenungan yang sangat dalam. Perenungan itu tidak bisa dilampaui manusia biasa, sekalipun ia seorang professor. Manusia yang mampu melampaui perenungan itu adalah orang-orang yang memiliki maqam yang sudah melampaui batas ambang tertentu. Sampai ke tingkat para Nabi yang memiliki nilai-nilai kesucian spiritual yang sangat tinggi. Merekalah yang bisa menembus alam tempat para malaikat berkumpul sambil bersujud dan bertasbih memuji kebesaran Penciptanya.

Dengan nilai spiritual inilah, kemampuan mengungkapkan rahasia-rahasia kitab suci yang kita sebut Al-Furqan ini dapat dicapai. Al-Qur’an mengungkapkannya dalam surat Al-Baqarah ayat 53

Dan ketika Kami (Allah) berikan kepada Musa Al-Kitab dan Al-Furqan, semoga kamu mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah ayat 53)
Telah kami (Allah) berikan kepada Musa dan Harun Al-Furqan. (QS. Al-Anbiya: 48).

Kita mengetahui bahwa kitab yang diberikan kepada Nabi Musa as adalah kitab taurat. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kepada Nabi Musa pun diberikan senjata Al-Furqan untuk mengungkapkan isi Taurat tersebut secara benar dan dapat kita buktikan dengan melihat akhir ayat ini yang diakhiri dengan kata semoga kamu dapat petunjuk. Hal ini menunjukkan bahwa seorang Nabi atau Rasul memerlukan senjata Al-Furqan untuk mengungkapkan risalahnya (yaitu kitab suci) secara benar dan hakiki

Ayat yang lebih spesifik lagi berkenaan dengan Nabi Muhammad Saw, yaitu dalam ayat:

Dia (Allah) turunkan kepada engkau (Muhammad Saw) Al-Kitab (Al-Qur’an) dengan haq yang membenarkan apa yang terdahulu dan Dia menurunkan Taurat dan Injil sebelumnya sebagai petunjuk bagi manusia dan Dia menurunkan Al-Furqan. (QS. Ali Imran: 3-4).

Dengan bergabungnya ketiga nilai ini (Nabi, Kitab Suci, dan Al-Furqan), maka sempurnalah nilai suatu kenabian. Ketiga nilai ini, kalau mau diperumpamakan, boleh jadi ia merupakan “jembatan” atau transmitter antara alam manusia dengan alam malakut; alam dunia dengan alam gaib. Sesungguhnya apabila umat manusia ingin diantarkan untuk mencapai kesempurnaan ibadahnya, maka jembatan inilah yang akan membawa dengan selamat dalam perjalan kembali menuju Allah SWT.

Dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa Al-Furqan merupakan kata kunci dalam pengungkapan semua ini. Dapat dikatakan dengan senjata Al-Furqan ini, siapapun dapat mengungkapkan segala rahasia apapun yang terkandung dalam risalah terakhir ini, baik yang terkandung dalam Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah Saw itu sendiri.

Dengan kebijaksanaan Allah SWT dan keadilan-Nya, walaupun tidak ada lagi pengutusan seorang Rasul, Allah tetap menurunkan Al-Furqan ini sampai hari kiamat kepada orang-orang yang dikehendaki. Artinya, tidak sembarang orang mendapatkan keistimewaan ini. Hanya orang-orang tertentu yang maqamnya sudah mencapai tingkat para nabilah yang mampu. Orang-orang ini dikenal dalam Islam dengan manusia-manusia sica atau wali-wali Allah yang disebut dengan manusia “takwa” sebagaimana yang dinyatakan Al-Qur’an: Sesungguhnya wali-wali Allah tidaklah mereka itu merasa takut dan tidak pula mereka itu bersedih, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka itu bertakwa. (QS. Yunus: 62-63).

Manusia takwa inilah yang berhak mendapatkan keistimewaan menerima Al-Furqan. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an:  Hai orang yang beriman, jikalau kamu bertakwa kepada Allah, (Dia) akan menjadikan untuk kamu Al-Furqan. (QS. Al-Anfa: 29).

Tradisi Attunement
Di dalam praktek Spiritualisme Islam, Attunement atau penyelarasan getaran energi pribadi dengan Getaran Energi Ilahiah disebut dengan Tawajjuh. Yang dilakukan secara rutin seminggu sekali atau seminggu dua kali. Atau minimal 40 hari sekali. Jadi attunement tidak hanya dilakukan di saat pertama kali mengikuti Majelis Dzikir. Tradisi ini di dalam REIKI NAQS dilakukan dengan cara komunikasi jarak jauh via telfon atau bersilaturahmi langsung denngan pengasuh.

Perkembangan reiki dewasa ini sebenarnya telah jauh menyimpang dari konsep aslinya. Reiki sebenarnya adalah tradisi olah spiritual dari kaum Budhis Tibet. Dan attunement atau penyelarasan energi spiritual aslinya di sebut sebagai reiju, yang artinya "menerima energi/spirit".  Reiju ini dilakukan oleh seorang Master atau siswa senior terhadap siswa yunior setelah menyelesaikan sebuah sesi latihan olah spiritual. Jadi REIJU tidak diberikan sekali seumur hidup, tetapi diberikan setiap selesai berlatih.

Sedangkan tradisi reiki modern memberikan Attunement hanya ketika terjadi kenaikan tingkat dan di saat pertama kali mengikuti reiki. Yang bila di hitung tidak lebih dari 3 kali. Kesalahan yang lain adalah, reiki modern lebih menitik beratkan pada praktek healing dan bukan pada praktek meditasinya itu sendiri.

Dari hal di atas, maka kualitas vibrasi getaran dari para praktisi reiki yang ada menjadi patut dipertanyakan. Benarkah itu sebuah energi Ilahiah ataukah hanya sekedar energi tenaga dalam saja..?

BIBIT CAHAYA IMAN
Di saat pertama kali siswa NAQS memperoleh attunement, bibit cahaya Ilahiah telah ditanamkan di dalam Qalbunya. Dan menjadi tugas siswa yang bersangkutan untuk merawat dengan baik bibit tersebut sehingga dapat tumbuh dan bertunas.

Ketika getaran Energi Ilahiah sudah mulai bisa ditangkap oleh kesadarannya, maka kejadian inilah yang disebut kelahiran  NAQS awal atau bibitnya telah bertunas. Namun intensitas getarannya masih lemah serta terkadang masih timbul tenggelam. Oleh karena itu siswa harus semakin rajin untuk melatih meditasi  dzikirnya sehingga getarannya semakin meningkat intensitasnya serta dapat terjaga selama 24 jam penuh.

Namun bagi siswa yang masih juga belum terlahir NAQS awalnya, tidaklah perlu bersedih hati dan berputus asa. Namun bersikaplah ikhlas menerima keadaan itu, serta serahkan sepenuhynya hal itu kepada Tuhan. Serta sering-seringlah berkomunikasi dengan pengasuh.

Lambatnya kelahiran NAQS AWAL itu biasanya disebabkan oleh adanya suatu penyakit di dalam diri, sehingga energi Ilahiah lebih fokus untuk menyembuhkan kesehatan dari siswa. Energi Ilahiah adalah sebuah energi murni yang bersifat belum terpolarisasi. Sehingga ketika dia masuk ke dalam tubuh, maka dia akan menyesuaikan diri dengan kondisi tubuh serta menyeimbangkan kondisi kesehatan siswa secara holistik lahir dan batin.

SISTEM KULTIVASI
Inti dari Reiki NAQS adalah membangun sistem kultivasi di dalam diri manusia, yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan dirinya lahir bathin serta meningkatkan derajat spiritualitasnya. Oleh karena itu fokus dari REIKI NAQS adalah pada upaya latihan kultivasinya. Sedangkan untuk aplikasi penyembuhan bagi dirinya sendiri baru dapat di lakukan setelah NAQS awal telah muncul. Sedangkan penyembuhan untuk orang lain baru boleh dilakukan ketika telah berlatih Meditasi Kultivasi 1.

Secara keseluruhan, waktu yang dibutuhakan untuk menyelesaikan PELATIHAN REIKI NAQS adalah sekitar 3 minggu s/d 1 bulan. Yang untuk selanjutnya siswa dapat melanjutkan latihannya secara mandiri.

Reiki Tingkat Master saat ini belum dibuka. Karena energi kultivasi bukanlah energi tenaga dalam atau energi natural yang lainnya. Hanya siswa yang telah teruji kualifikasinya saja yang dapat mengikuti latihan tingkat master. Lagipula Reiki NAQS tidak menjadikan tingkatan sebagai sebuah tujuan. Namun berbuat dan berkarya yang terbaik bagi umat manusia demi terwujudnya sebuah dunia yang penuh Cinta Kasih dan perdamaian. Dan itu harus dimulai dari diri kita sendiri mulai saat ini juga.

Langkah untuk menumbuhkan Kedamaian Diri :
1. Memaafkan diri sendiri dan orang lain.
2. Ikhlas menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya.
3. Mengembalikan semua urusan kepadaNya.
4. Pasrah sepenuhnya kepadaNya untuk perbaikan dari situasi dan keadaan yang dialami.
5. Bersabar dalam menjalani proses pemulihan diri.
6. Bersyukur untuk setiap kemajuan yang di alami, walaupun cuma sedikit.

"Bila perlu berusahalah tersenyum dalam menghadapi situasi sesulit apa pun. Ada saat-saat di mana kita harus pasrah dan tertawa. Humor dalam hidup ini sangat penting. Jangan lupa bahwa hal-hal sederhana ini dapat membantu Anda mempertahankan perspektif," kata Dale Carnegie, pendiri Dale Carnegie & Associates.

Baca selengkapnya »

>Kebangkitan INTI NAQS

>

Reiki NAQS adalah sebuah revolusi di bidang spiritualitas yang dapat membantu meningkatkan spiritualitas seseorang dengan cara yang mudah dan cepat. Karena energi spiritual yang diberikan adalah bukan hasil karya cipta manusia, namun merupakan sebuah Energi Ilahiah yang berasal dari Sumbernya langsung yaitu Tuhan itu sendiri.

Bola Energi Alam Semesta

Energi ini merupakan energi asal mula dan sumber kejadian makhluk hidup dan alam semesta. Di awal penciptaan alam semesta, Tuhan menciptakan sebuah Bola Energi Awal yang di sebut Telur Jagad (ANTIGA) dan ada yang menyebutnya dengan Nur Muhammad. Bola Energi ini kemudian memancar dalam sebuah spektrum cahaya (Energi) yang mempunyai getaran dan frekwensi yang berlapis-lapis. Dan terciptalah Alam Semesta dengan tingkat spektrum energi yang bertingkat ( 7 lapis langit dan 7 lapis bumi). Dan lapisan yang terluar (Kulit/Residu) atau paling bawah dari spektrum energi ini adalah Dunia Fisik (Alam Materi) tempat kita berada saat ini.

Nur Muhammad adalah Inti Energi alam semesta, baik alam makrokosmos maupun alam mikrokosmos. Inti dari sel dan atom, yang keberadaannya masih belum bisa dideteksi oleh tekhnologi modern. Sehingga masih tergolong dimensi alam ghaib, karena baru diketahui secara metafisik.

Walaupun asal kejadian kita adalah dari Energi Awal ini, tidak serta merta kita bisa merasakan keberadaan tingkat tertinggi dari Hirarki Spektrum Energi ini. Karena sedemikian kuatnya lapisan mantel hijab duniawi kita yang diakibatkan oleh tertutupnya kesadaran kita.

Kesadaran manusia sejak lahir telah terbiasa dengan alam materi, nalurinya telah mengajarkannya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisiknya. Inilah kesadaran primitive manusia. Kesadaran untuk menyadari adanya kekuatan yang lebih tinggi dan lebih besar dari dirinya diperoleh ketika dia telah dewasa.

Filosofi Alif Laam Miim ( الم )

Perlu digaris bawahi bahwa, Filosofi ini adalah sekedar tafsiran menurut bahasa kami, Arti yang sebenarnya hanya Tuhanlah yang Maha Tahu.

Simbol ini adalah landasan filosofi dari Reiki NAQS. Menggambambarkan anatomi struktur alam semesta dan hubungan antara manusia, alam semesta dan Tuhan. Alif melambangkan eksistensi Tuhan. Dan lingkaran bulat mim, melambangkan inti semesta atau Nur Muhammad. Inti ini mempunyai dua sayap, yaitu ke atas menjangkau langit. Dan ke bawah menjangkau bumi.

Lam adalah sayap mim yg menjangkau ke langit. Mim tanpa lam maka hanya bersifat duniawi. Namun ketika lam ditempelkan dg mim, maka mim bisa menjangkau langit. Lam adalah simbol pemusnahan sifat material semesta yg terungkap dalam kalimah la ilaha ilallah dan la haula wala quwwata illa billah.

Dalam literatur lain dijelaskan juga bahwa “Alif” adalah Allah, “Lam” adalah JibriL dan “Mim” adalah Muhammad.Atau “Alif” misalnya dari kata Allah, “Lâm” dari kata “Lathif”, “Mîm” dari “Majid”(www.mail-archive.com/gorontalomaju2020@yahoogroups.com/msg05376.html)

MAKNA LAM 

Hakikat Penghambaan
Bila Nur Muhammad adalah inti orbit dari Dzat Materi maka Nur Allah adalah inti orbit dari Nur Muhammad. Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau ~ “ Nur Illahi beriring dengan Nur Muhammad, yang diberikan-Nya pada orang-orang yang dikehendakiNya”

Hakikat penghambaan adalah tetapnya manusia di dalam garis edar orbit yang sebenarnya. Yaitu berpusat kepada inti orbitnya. Sebagaimana partikel atom yamg mengorbit pada inti atom, ketidakpatuhan terhadap hukum ini menyebabkan kehancuran dan terurainya susunan partikel sel. Orang yang mengingkari (kafir) terhadap realitas ini maka dia tidak lebih daripada berusaha untuk mempersulit dirinya sendiri dan terjebak pada suatu perbuatan yang sia-sia.

Hakikat Kepasrahan
( لاَ ) Lam Alif dalam kalimah La Ilaha Illallah dan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh. Menunjukkan adanya huruf Alif yang mensifati huruf Lam, ini artinya bahwa daya kepasrahan manusia tak akan ada artinya bila tanpa petunjuk dan hidayah dari Tuhan. Semua tekhnik dan metode buatan manusia yang ditujukan untuk mememperoleh keadaan pasrah dan berserah diri (Rileksasi dan Meditasi) tidak akan membawa hasil yang maksimal, bila tanpa adanya campur tangan Tuhan di dalamnya.

Laa adalah nafiyah lil jins (Meniadakan keberadaan semua jenis kata benda yang datang setelahnya). Misalnya perkataan orang Arab “Laa rojula fid dari” (Tidak ada laki-laki dalam rumah) yaitu menafikan (meniadakan) semua jenis laki-laki di dalam rumah. Sehingga laa dalam kalimat tauhid ini bermakna penafian semua jenis penyembahan dan peribadahan yang haq dari siapapun juga kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (Ustâdz Hammâd Abû Mu’âwiyah @www.scribd.com/doc/12771717/Makna-Sebenarnya-Dari-Kalimat-Tauhid-La-Ilaha-Illallah)

 Filosofi Alif Lam Ro’ الَر

Risalah ( الَر )
Tanpa adanya pertolongan dari Tuhan, maka mustahil manusia dapat menemukan kembali jalan untuk kembali. Oleh karena itulah Tuhan menurunkan para nabi dan Rasul sebagai penyampai risalah petunjuk bagi umat manusia. Untuk memberikan peringatan, mengingatkan kembali kepada manusia tentang hakikat jati dirinya.

Tanpa adanya Risalah petunjuk Tuhan maka manusia akan berada di tempat kegelapan, mereka akan tetap di alam primitive mereka. Sedangkan Nuraninya menuntut dia untuk mencari jawab atas Kekuatan Rahasia dibalik alam semesta.  Maka merekapun mencari-cari di sekitarnya apa yang patut mereka jadikan sesembahan, maka terjadilah animisme dan dinamisme, penyembahan terhadap roh dan benda mati.

Ro’ mengandung makna Risalah dan Rasulullah (Utusan Allah, Sang Pembawa Risalah).
Tuhan kita memiliki nama Ar Rasyid atau Allah Yang Maha Tepat Tindakan-Nya. Kata ar-rasyid tersusun dari huruf ra’, syin, dan dal, yang makna dasarnya adalah ketepatan dan lurusnya jalan. Dari makna ini lahirlah kata rusyd atau manusia yang sempurna akal dan jiwanya. Dengan kesempurnaan ini, ia mampu bertindak dan bersikap secara tepat. Susunan huruf ini melahirkan pula kata mursyid yang artinya memberikan bimbingan atau petunjuk dengan cara tepat. Jadi ada yang disebut mursyid, maka ia adalah orang yang tepat untuk menunjukkan ke jalan yang tepat dengan cara yang tepat pula.

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. ( QS. Ibrahim 14:1 )

Energi Ilahiah Nuurun ‘Ala Nuurin

Sekarang apa yang dibawa oleh Sang Pembawa Risalah..?

1. Cahaya & Kitab
“Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya dan kitab yang menerangkan”. (QS. Al-Maaidah, ayat 15)

 Tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. (QS-Asy Syuura 42; 52)

Bagi yang tidak mendalami konsep energi metafisika, maka cahaya ini di artikan sekedar sebagai sebuah petunjuk atau Hidayah yang datang dari Tuhan. Namun bagi kami para ilmuwan Metafisika, tidaklah berpandangan demikian.  Cahaya yang dimaksud itu adalah sebuah energi Ilahiah yang Sumber Cahayanya berasal dari Cahaya Abadi yaitu Nur Allah. Kesimpulannya, Tuhan menurunkan dua jenis kitab. Yaitu kitab yang tidak berhuruf dan kitab yang berhuruf. Kitab yang tidak berhuruf itulah Cahaya Ilahiah Nuurun ‘ala Nuurin.

Cahaya Ilahiah inilah yang menjadi sarana bagin seorang manusia  untuk mendapatkan akses kembali kepada inti dirinya yaitu Nur Muhammad. Menjadi jembatan penghubung antara lapisan terluar dari Spektrum Energi dengan Inti Energi.Cahaya Ilahiah ini adalah sebuah energi murni, di dalamnya terkandung semua kualitas terbaik dari 99 jenis Cahaya Alam semesta.Cahaya Ilahiah ini jugalah yang mempunyai kemampuan untuk memurnikan tubuh manusia. Oleh karena itulah energi ini sangat tepat digunakan untuk kultivasi energi.

2. Cahaya Al-Furqon
Dalam terjemahan Al-Qur’an bahasa Indonesia, Al-Furqan diartikan sebagai pembeda; yang membedakan antara hak dan batil. Pada beberapa buku tafsir dijelaskan bahwa Al-Furqan ini merupakan sifat yang mempunyai potensi atau kemampuan membedakan sesuatu secara terperinci sehingga ia dapat mengungkapkan dengan jelas rahasia yang tersembunyi di balik sesuatu itu. Kalau boleh dikatakan, dia bukan saja mampu membedakan hal yang sudah jelas, misalnya antara hitam dengan putih, tetapi dia mampu membedakan yang mirip atau samar bagi kita, karena semuanya sudah terungkap dengan jelas dan terperinci sehingga tidak ada satu pun yang tertinggal dan terabaikan.

Untuk mendapatkan makna yang hakiki dari suatu kitab suci tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan nalar dan intelektual saja, tetapi lebih dari itu, ia memerlukan perenungan yang sangat dalam. Perenungan itu tidak bisa dilampaui manusia biasa, sekalipun ia seorang professor. Manusia yang mampu melampaui perenungan itu adalah orang-orang yang memiliki maqam yang sudah melampaui batas ambang tertentu. Sampai ke tingkat para Nabi yang memiliki nilai-nilai kesucian spiritual yang sangat tinggi. Merekalah yang bisa menembus alam tempat para malaikat berkumpul sambil bersujud dan bertasbih memuji kebesaran Penciptanya.

Dengan nilai spiritual inilah, kemampuan mengungkapkan rahasia-rahasia kitab suci yang kita sebut Al-Furqan ini dapat dicapai. Al-Qur’an mengungkapkannya dalam surat Al-Baqarah ayat 53

Dan ketika Kami (Allah) berikan kepada Musa Al-Kitab dan Al-Furqan, semoga kamu mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah ayat 53)
Telah kami (Allah) berikan kepada Musa dan Harun Al-Furqan. (QS. Al-Anbiya: 48).

Kita mengetahui bahwa kitab yang diberikan kepada Nabi Musa as adalah kitab taurat. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kepada Nabi Musa pun diberikan senjata Al-Furqan untuk mengungkapkan isi Taurat tersebut secara benar dan dapat kita buktikan dengan melihat akhir ayat ini yang diakhiri dengan kata semoga kamu dapat petunjuk. Hal ini menunjukkan bahwa seorang Nabi atau Rasul memerlukan senjata Al-Furqan untuk mengungkapkan risalahnya (yaitu kitab suci) secara benar dan hakiki

Ayat yang lebih spesifik lagi berkenaan dengan Nabi Muhammad Saw, yaitu dalam ayat:

Dia (Allah) turunkan kepada engkau (Muhammad Saw) Al-Kitab (Al-Qur’an) dengan haq yang membenarkan apa yang terdahulu dan Dia menurunkan Taurat dan Injil sebelumnya sebagai petunjuk bagi manusia dan Dia menurunkan Al-Furqan. (QS. Ali Imran: 3-4).

Dengan bergabungnya ketiga nilai ini (Nabi, Kitab Suci, dan Al-Furqan), maka sempurnalah nilai suatu kenabian. Ketiga nilai ini, kalau mau diperumpamakan, boleh jadi ia merupakan “jembatan” atau transmitter antara alam manusia dengan alam malakut; alam dunia dengan alam gaib. Sesungguhnya apabila umat manusia ingin diantarkan untuk mencapai kesempurnaan ibadahnya, maka jembatan inilah yang akan membawa dengan selamat dalam perjalan kembali menuju Allah SWT.

Dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa Al-Furqan merupakan kata kunci dalam pengungkapan semua ini. Dapat dikatakan dengan senjata Al-Furqan ini, siapapun dapat mengungkapkan segala rahasia apapun yang terkandung dalam risalah terakhir ini, baik yang terkandung dalam Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah Saw itu sendiri.

Dengan kebijaksanaan Allah SWT dan keadilan-Nya, walaupun tidak ada lagi pengutusan seorang Rasul, Allah tetap menurunkan Al-Furqan ini sampai hari kiamat kepada orang-orang yang dikehendaki. Artinya, tidak sembarang orang mendapatkan keistimewaan ini. Hanya orang-orang tertentu yang maqamnya sudah mencapai tingkat para nabilah yang mampu. Orang-orang ini dikenal dalam Islam dengan manusia-manusia sica atau wali-wali Allah yang disebut dengan manusia “takwa” sebagaimana yang dinyatakan Al-Qur’an: Sesungguhnya wali-wali Allah tidaklah mereka itu merasa takut dan tidak pula mereka itu bersedih, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka itu bertakwa. (QS. Yunus: 62-63).

Manusia takwa inilah yang berhak mendapatkan keistimewaan menerima Al-Furqan. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an:  Hai orang yang beriman, jikalau kamu bertakwa kepada Allah, (Dia) akan menjadikan untuk kamu Al-Furqan. (QS. Al-Anfa: 29).

Tradisi Attunement
Di dalam praktek Spiritualisme Islam, Attunement atau penyelarasan getaran energi pribadi dengan Getaran Energi Ilahiah disebut dengan Tawajjuh. Yang dilakukan secara rutin seminggu sekali atau seminggu dua kali. Atau minimal 40 hari sekali. Jadi attunement tidak hanya dilakukan di saat pertama kali mengikuti Majelis Dzikir. Tradisi ini di dalam REIKI NAQS dilakukan dengan cara komunikasi jarak jauh via telfon atau bersilaturahmi langsung denngan pengasuh.

Perkembangan reiki dewasa ini sebenarnya telah jauh menyimpang dari konsep aslinya. Reiki sebenarnya adalah tradisi olah spiritual dari kaum Budhis Tibet. Dan attunement atau penyelarasan energi spiritual aslinya di sebut sebagai reiju, yang artinya “menerima energi/spirit”.  Reiju ini dilakukan oleh seorang Master atau siswa senior terhadap siswa yunior setelah menyelesaikan sebuah sesi latihan olah spiritual. Jadi REIJU tidak diberikan sekali seumur hidup, tetapi diberikan setiap selesai berlatih.

Sedangkan tradisi reiki modern memberikan Attunement hanya ketika terjadi kenaikan tingkat dan di saat pertama kali mengikuti reiki. Yang bila di hitung tidak lebih dari 3 kali. Kesalahan yang lain adalah, reiki modern lebih menitik beratkan pada praktek healing dan bukan pada praktek meditasinya itu sendiri.

Dari hal di atas, maka kualitas vibrasi getaran dari para praktisi reiki yang ada menjadi patut dipertanyakan. Benarkah itu sebuah energi Ilahiah ataukah hanya sekedar energi tenaga dalam saja..?

BIBIT CAHAYA IMAN
Di saat pertama kali siswa NAQS memperoleh attunement, bibit cahaya Ilahiah telah ditanamkan di dalam Qalbunya. Dan menjadi tugas siswa yang bersangkutan untuk merawat dengan baik bibit tersebut sehingga dapat tumbuh dan bertunas.

Ketika getaran Energi Ilahiah sudah mulai bisa ditangkap oleh kesadarannya, maka kejadian inilah yang disebut kelahiran  NAQS awal atau bibitnya telah bertunas. Namun intensitas getarannya masih lemah serta terkadang masih timbul tenggelam. Oleh karena itu siswa harus semakin rajin untuk melatih meditasi  dzikirnya sehingga getarannya semakin meningkat intensitasnya serta dapat terjaga selama 24 jam penuh.

Namun bagi siswa yang masih juga belum terlahir NAQS awalnya, tidaklah perlu bersedih hati dan berputus asa. Namun bersikaplah ikhlas menerima keadaan itu, serta serahkan sepenuhynya hal itu kepada Tuhan. Serta sering-seringlah berkomunikasi dengan pengasuh.

Lambatnya kelahiran NAQS AWAL itu biasanya disebabkan oleh adanya suatu penyakit di dalam diri, sehingga energi Ilahiah lebih fokus untuk menyembuhkan kesehatan dari siswa. Energi Ilahiah adalah sebuah energi murni yang bersifat belum terpolarisasi. Sehingga ketika dia masuk ke dalam tubuh, maka dia akan menyesuaikan diri dengan kondisi tubuh serta menyeimbangkan kondisi kesehatan siswa secara holistik lahir dan batin.

SISTEM KULTIVASI
Inti dari Reiki NAQS adalah membangun sistem kultivasi di dalam diri manusia, yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan dirinya lahir bathin serta meningkatkan derajat spiritualitasnya. Oleh karena itu fokus dari REIKI NAQS adalah pada upaya latihan kultivasinya. Sedangkan untuk aplikasi penyembuhan bagi dirinya sendiri baru dapat di lakukan setelah NAQS awal telah muncul. Sedangkan penyembuhan untuk orang lain baru boleh dilakukan ketika telah berlatih Meditasi Kultivasi 1.

Secara keseluruhan, waktu yang dibutuhakan untuk menyelesaikan PELATIHAN REIKI NAQS adalah sekitar 3 minggu s/d 1 bulan. Yang untuk selanjutnya siswa dapat melanjutkan latihannya secara mandiri.

Reiki Tingkat Master saat ini belum dibuka. Karena energi kultivasi bukanlah energi tenaga dalam atau energi natural yang lainnya. Hanya siswa yang telah teruji kualifikasinya saja yang dapat mengikuti latihan tingkat master. Lagipula Reiki NAQS tidak menjadikan tingkatan sebagai sebuah tujuan. Namun berbuat dan berkarya yang terbaik bagi umat manusia demi terwujudnya sebuah dunia yang penuh Cinta Kasih dan perdamaian. Dan itu harus dimulai dari diri kita sendiri mulai saat ini juga.

Langkah untuk menumbuhkan Kedamaian Diri :
1. Memaafkan diri sendiri dan orang lain.
2. Ikhlas menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya.
3. Mengembalikan semua urusan kepadaNya.
4. Pasrah sepenuhnya kepadaNya untuk perbaikan dari situasi dan keadaan yang dialami.
5. Bersabar dalam menjalani proses pemulihan diri.
6. Bersyukur untuk setiap kemajuan yang di alami, walaupun cuma sedikit.

“Bila perlu berusahalah tersenyum dalam menghadapi situasi sesulit apa pun. Ada saat-saat di mana kita harus pasrah dan tertawa. Humor dalam hidup ini sangat penting. Jangan lupa bahwa hal-hal sederhana ini dapat membantu Anda mempertahankan perspektif,” kata Dale Carnegie, pendiri Dale Carnegie & Associates.

LAMPIRAN :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الل
(La Ilaha Illallah)
Tidak ada Tuhan selain Allah

Makna La Ilaha Illallah adalah Tiada Sesembahan yang berhak untuk Disembah/diibadahi selain Allah atau dengan kata lain Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah.

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
(lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh)
~ TIDAK ADA DAYA DAN UPAYA KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLAH ~

Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal:
(1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka,
(2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku,
(3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku,
(4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah),
(5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit,
(6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan
(7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.

Mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kalimat lâ haulâ wa lâ quwwata illâ billâh?

Jawabannya, agar kita melepaskan diri kita dari segala apa yang kita merasa mampu untuk melakukannya, dan kita serahkan semua urusan kepada Allah. Sesungguhnya yang dapat menolong dalam semua aktivitas kita hanyalah Allah Ta’ala, dan ini adalah makna ucapan kita setiap kali melakukan shalat,

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”. [al-Fâtihah/1:5].

Dan kalimat ini, adalah makna dari doa yang sering kita ucapkan dalam akhir shalat kita:

اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

“Ya Allah, tolonglah aku agar dapat berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu” [1].

Pada hakikatnya seorang hamba tidak memiliki daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Seorang penuntut ilmu tidak akan mungkin duduk di majlis ilmu, melainkan dengan pertolongan Allah. Seorang guru tidak akan mungkin dapat mengajarkan ilmu yang bermanfaat, melainkan dengan pertolongan Allah. Begitupun seorang pegawai, tidak mungkin dapat bekerja melainkan dengan pertolongan Allah.

Seorang hamba tidak boleh sombong dan merasa bahwa dirinya mampu untuk melakukan segala sesuatu. Seorang hamba seharusnya menyadari bahwa segala apa yang dilakukannya semata-mata karena pertolongan Allah. Sebab, jika Allah tidak menolong maka tidak mungkin dia melakukan segala sesuatu. Artinya, dengan mengucapkan kalimat ini, seorang hamba berarti telah menunjukkan kelemahan, ketidakmampuan dirinya, dan menunjukkan bahwa ia adalah orang yang sangat membutuhkan pertolongan Allah.

Semasa peristiwa Israk Mikraj, kepada Rasulullah S.A.W., Nabi Ibrahim A.S. bersabda, “Engkau akan berjumpa dengan Allah pada malam ini. Umatmu adalah akhir umat dan terlalu dha’if, maka berdoalah untuk umatmu. Suruhlah umatmu menanam tanaman syurga iaitu LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH.

Bahkan Allah jugalah yang memperjalankan Rasulullah s.a.w. pada malam itu. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan daripadaNYa.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah diberkahi sekelilingnya oleh Allah agar Kami perhatikan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Al Isra:1).

[1]. Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1522), an-Nasâ`i (III/53), Ahmad (V/245), dan al-Hakim (I/173, III/273) beliau menshahîhkannya, dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.